Selama Baekhyun tak lagi di asrama, Chanyeol merasa ada sesuatu yang hilang darinya. Mungkin jika ini terjadi dulu, Chanyeol akan senang karena Baekhyun pergi. Tapi tidak untuk kali ini.

Waktu telah berbeda. Entah waktu yang berbeda atau memang perasaan Chanyeol yang berubah.

Hampir setiap hari Chanyeol memikirkan Baekhyun yang berada di rumah.

'Dia sedang apa sekarang?'

'Apakah dia kesepian?'

Ya, itulah yang selalu di pikiran seorang Park Chanyeol.

Baekhyun terlihat keluar dari kamarnya atau lebih tepat kamar Chanyeol. Ya, selama dirinya disini, Yoora memberikan kamar Chanyeol untuknya.

"Eoh? Kau sudah bangun Baek?" Yoora baru saja selesai menyiapkan sarapan.

"Nde! Mmm...nuna mau kemana? Sepertinya terlihat rapih. Bahkan ini weekend."

"Ada acara pernikahan temanku. Apakah tidak masalah jika ku tinggal? Mungkin malam aku akan pulang."

"Gwaenchana. Hadirilah acara pernikahan teman nuna."

"Gurae, mandilah dan segera makan."

"Nde!"

"Aku pergi. Annyeong..." Yoora pergi meninggalkan Baekhyun.

Namja mungil ini merasa jika dirinya memiliki kakak perempuan yang sangat menyayanginya. Ia pun segera melangkah menuju kamar mandi.

Krek~

Dari dalam kamar mandi, Baekhyun mendengar sesuatu di dalam rumah ini. Dengan rasa takut, ia segera menyelesaikan mandinya, lalu mengenakan bathrobe untuk keluar dari kamar mandi.

Perlahan Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan sebuah tongkat kasti yang ia dapatkan dari dapur. Entah milik siapa.

Tidak ada siapapun yang ia temukan di dalam rumah ini. Namun ia mendengar sesuatu dari kamar Chanyeol. Baekhyun segera mendekati pintun kamar.

Tepat di depan pintu, Baekhyun berdiri menunggu seseorang yang keluar dari kamar itu. Tangannya masih memegang tongkat kasti untuk berjaga-jaga jika orang yang masuk ini pencuri.

Klek~

"Yak--Yeol?"

Tongkat kasti itu menggantung di udara saat Baekhyun menahan diri untuk tidak memukul orang yang di anggapnya pencuri.

Ya, Park Chanyeol.

Namja tinggi itu bernafas lega saat Baekhyun tak jadi memukulnya.

"Aisshh...ku pikir pencuri!" Gerutu Baekhyun melepaskan tongkat kasti itu.

"Ah jebal, tidak lagi pukulan untukku." Chanyeol memegang dadanya yang berdegup cepat karena takut.

"B-bagaimana bisa kau kesini?"

"Aku diam-diam pergi dari asrama. Lagi pula ini weekend tidak ada pelatihan." Chanyeol melangkah menuju sofa dan duduk dengan santai.

"Ada apa kau kesini?"

"Wae? Ini rumahku."

Baekhyun tak bisa lagi membalasnya karena memang benar jika ini adalah rumah Chanyeol.

"Kemarilah..." Chanyeol meminta Baekhyun mendekatinya.

Namja mungil itu pun menuruti permintaan Chanyeol. Perlahan ia melangkah menuju sofa.

"Wae?" Baekhyun sudah berada tepat di hadapan Chanyeol.

Grep!

Tubuh Baekhyun mematung ketika Chanyeol memeluknya secara tiba-tiba. Namja itu mendekap pinggang Baekhyun yang masih berdiri, lalu menenggelamkan wajahnya pada perut itu.

"Biarkan seperti ini beberapa menit." Pinta Chanyeol terus mengusak wajahnya di bagian perut Baekhyun.

Dapat Baekhyun rasakan dekapan Chanyeol yang cukup erat. Ia pun membiarkan posisi mereka seperti ini.

Tangannya mencoba meraih surai Chanyeol, lalu mengusapnya perlahan.

'Kau merindukanku? Tapi kau tidak bisa mengatakannya bukan?' Batin Baekhyun.

Setelah merasa cukup puas, Chanyeol melepaskan Baekhyun.

"Aku ingin mengganti baju. Setelah ini mari kita makan bersama. Yoora nuna menyiapakan sarapan." Baekhyun masuk ke dalam kamar.

Ketika keduanya menuju meja makan, mereka hanya melihat sepiring makanan yang di sediakan Yoora.

"Ini bisa di bagi dua." Pikir Baekhyun.

"Tidak! Makanlah sendiri." Sanggah Chanyeol.

"Tapi--"

"Kau lebih butuh banyak makan Baek. Jadi makanlah."

Baekhyun pun mulai menyantap makanannya di hadapan Chanyeol yang terus memperhatikannya.

"Ini, makanlah satu suapan. Setidaknya kau harus mencobanya." Baekhyun mengarahkan satu suapan pada Chanyeol.

Mau tak mau, Chanyeol pun menerima suapan tersebut.

"Jika nuna tidak ada, apa yang kau lakukan seorang diri disini?" Chanyeol mulai bertanya.

"Menonton atau bermain playstation." Jawab Baekhyun setelah berhasil menghabiskan makanannya.

"Ah ya, ada playstation di kamarku bukan?"

"Ya, aku tidur di kamarmu."

"Biar ku tebak, kau pasti bermain arena balap."

"Eoh? Bagaimana kau tau?"

"Ayo bertanding denganku!" Chanyeol menarik Baekhyun menuju kamarnya untuk bermain playstation bersama.

Baekhyun terdiam memperhatikan Chanyeol yang menyambungkan playstation tersebut.

"Aku selalu menang di game ini." Bangga Chanyeol duduk di samping Baekhyun.

"Ckck aku pun memang di game ini. Terlalu mudah." Timpal Baekhyun.

Dan permainan pun di mulai. Terlihat wajah keduanya yang sangat serius bertanding pada game tersebut.

"Yak! Jangan bermain curang!" Gerutu Baekhyun tak terima jika Chanyeol bermain curang padanya.

"Ayolah...kau mengatakan game ini mudah bukan?" Chanyeol masih fous pada layar televisi itu.

Game over...

"Yeah! Lihat bukan? Kau tidak bisa mengalahkan raja playstation sepertiku ini." Chanyeol berseru membanggakan diri.

Bukan kesal, Baekhyun ikut tersenyum melihat Chanyeol sangat senang seperti itu. Bahkan untuk pertama kalinya ia melihat senyum kebahagiaan Chanyeol.

"Banggakan dirimu di arena balap nanti."

Mendengar ucapan Baekhyun, Chanyeol berhenti berseru dan kembali menoleh pada namja mungil itu.

"Kau harus perlihatkan senyum kemenanganmu nanti di hadapan banyak orang Yeol."

Entah kenapa masih ada rasa bersalah saat Chanyeol harus mendengar itu dari Baekhyun.

"Kau berharap aku juara dalam arena balap itu?"

"Apakah kau tidak menginginkannya? Pertandingan ini adalah kesempatan emas untukmu. Kau harus serius untuk pertandingan nanti Yeol."

Untuk beberapa detik Chanyeol terdiam di hadapan Baekhyun yang masih tersenyum padanya.

"Aku merindukanmu..." Satu kalimat berhasil keluar dari Chanyeol.

"Ye?" Baekhyun masih tak percaya dengan ucapan Chanyeol. Walau terdengar pelan, namun ia masih dapat mendengarnya.

Chup~

Tiba-tiba Chanyeol mendaratkan bibirnya pada bibir Baekhyun yang cukup terkejut. Keduanya terdiam saling menatap lekat.

Hingga kedua mata sipit Baekhyun terpejam saat Chanyeol mulai menyapu belahan bibirnya dengan lembut.

Chanyeol pun memejamkan matanya dan dengan hati-hati melumat bibir Baekhyun yang sudah lama tidak ia rasakan manisnya bibir itu.

Tangan Chanyeol mendekap pipi kanan Baekhyun, mengusapnya dengan lembut, dan semakin memperdalam ciuman ini.

Baekhyun merasa dirinya seperti coklat yang meleleh karena mendapat perlakuan lembut dan manis dari Chanyeol.

*TBC~