BZZT!
"Halo, ibu?" Jimin sedang dalam perjalanan pulang, dia baru saja masuk dan duduk pojok bis saat ibunya menelepon.
"Hey, kau bersama Taehyung sekarang?" ibunya bertanya
Jimin mengerutkan kening,"Taehyung? Tidak." ia melihat jam di pergelangan tangannya,"bukannya dia sedang pergi ke Busan?"
"Benarkah?" ibunya bertanya,"Jinah benar-benar tidak tahu kemana anak itu selama 2 hari ini." jawab ibunya, menyebut nama ibu Taehyung
"Biar aku coba cari."
"Kalau kau bertemu dengannya, langsung seret dia pulang. Aku dan Kim harus memberinya pelajaran."
Jimin memutus sambungan, lalu menelepon Taehyung. Tapi hasilnya nihil, Taehyung tak mengangkat panggilannya. Jimin mendadak panik sendiri. Kali ini kebodohan apa lagi yang coba Taehyung lakukan.
Sudah sebulan terakhir ini, Jimin jarang menghubungi Taehyung. Dia pikir karena sekarang Taehyung sedang dalam masa kasmaran, jadi dia lebih fokus pada calon kekasihnya. Yah, meski Jimin juga sebenarnya tidak tahu bagaimana kabar hubungan sahabatnya itu dengan Jungkook. Dia pikir, Taehyung akan memberitahunya sendiri saat waktunya tepat.
Sekarang Jimin tak tahu harus mencari Taehyung kemana. Terakhir yang dia tahu, klub fotografi mengadakan perjalanan tiga hari dua malam ke Busan untuk memotret. Tidak mungkin Jimin pergi menyusul Taehyung kesana. Itu pun jika Taehyung benar ikut pergi kesana.
Hah, Jimin pusing.
CTAK!
Ia menjentikkan jari, lalu mengetikkan nama Jungkook dan meneleponnya. Siapa tahu junior-nya itu tahu dimana keberadaan Taehyung.
"Halo, Jungkook-a?" Jimin berujar saat tersambung
"Iya, sunbae. Ada apa?"
"Kau bersama Taehyung sekarang?" Jimin bertanya to the point
"Huh? Oh, iya. Dia baru pergi untuk membeli makan. Memangnya kenapa?"
Jimin menghela napas, menahan kesal,"Kalian ada dimana sekarang?"
"Di Busan." Jawab Jungkook,"Taehyung sunbae mengajakku ikut acara klub fotografi."
"Oke. Akan kuhubungi lagi nanti. Dan bilang pada si idiot itu untuk meneleponku saat dia kembali."
"Tentu sunbae."
Jimin meremas ponselnya, kini dia harus kembali repot mengurusi bayi besar yang satu ini. Padahal dia pikir Taehyung akan lebih dewasa setelah jatuh cinta. Ternyata tidak ada bedanya.
Begitu turun di halte pemberhentiannya, Jimin bergegas pulang. Dia bertemu ibunya dan bibi Kim di ruang tamu. Wajah bibi Kim terlihat cemas. Keduanya berdiri berhadapan dengan Jimin.
"Dimana Taehyung?" tanya bibi Kim
"Busan. Bersama klub fotografinya." Jawab Jimin
"Anak itu benar-benar!" bibi Kim mendadak marah,"sudah kularang pergi, dia tetap nekat."
Jimin mengerutkan kening,"Kenapa dilarang, bi?"
"Klub itu berisi anak-anak dari keluarga yang tidak jelas. Aku tidak mau Taehyung terpengaruh kebiasaan buruk mereka. Apalagi dengan seorang laki-laki bernama Jeon Jungkook itu. Taehyung selalu membicarakannya setiap saat."
Jimin makin tidak mengerti,"Bagian mananya yang salah dari berteman dengan Jungkook? Lalu kurasa klub fotografi berisi anak-anak baik."
Bibi Kim mendengus,"Taehyung bilang dia menyukai si Jungkook itu! Bibi tidak suka. Dan aku juga pernah memergoki Jungkook membawa rokok saat bertamu kerumah. Bagaimana mungkin aku membiarkan Taehyung berdekatan dengan orang seperti itu?"
Jimin menghela napas,"Aku rasa Jungkook bukan anak nakal. Aku bisa jamin itu." belanya
"Sudah, sudah."Lerai ibu Jimin,"kenapa jadi kalian yang bertengkar? Yang penting kita sudah tahu dimana Taehyung. Tinggal menunggunya pulang, kan."
"Tidak!" tolak bibi Kim,"Aku akan menjemputnya langsung sekarang!"
Jimin mendadak panik, bisa kacau jika bibi Kim sampai benar pergi ke Busan. Taehyung bisa jadi bahan lelucon satu universitas selamanya.
"Jangan!" sergah Jimin,"biar aku saja yang pergi."
Bibi Kim menghela napas,"Pastikan kau membawanya pulang sebelum tengah hari besok, Jimin-a. Banyak yang ingin kukatakan padanya."
Jimin mengangguk, lalu menatap ibunya,"Bu, boleh aku membawa mobil?"
Ibunya mengangguk,"Hati-hati."
Jimin mengambil kunci mobil di laci meja, lalu mengambil jaket dan melempar asal tasnya keatas sofa ruang tamu. Setelah berpamitan dengan ibunya dan bibi Kim, Jimin tancap gas menuju Busan.
Ah, Kim Taehyung membuatnya gila.
Berjam-jam duduk didalam mobil tanpa berganti posisi membuat badan Jimin sakit. Jadi begitu sampai di Busan, dia menepi sebentar untuk membeli minum dan meregangkan otot. Ia terkejut ketika melihat jam telah menunjuk angka sepuluh malam saat melihat kearah jam diatas kasir minimarket.
DRRT!
Ponselnya bergetar, lengkap dengan nama 'Idiot Tae' menghiasi layar panggilan masuk. Jimin menarik napas dalam, bersiap mengeluarkan semua makian yang sejak beberapa jam terakhir tertahan di tenggorokan.
"YAK-"
"Tolong jangan berteriak!" Taehyung memotong ucapan Jimin
"Dasar alien idiot gila! Kau tahu seberapa repotnya aku harus menenangkan dua wanita paruh baya dirumah agar tidak menyusulmu ke Busan malam ini juga? Kau menjual otakmu kemana, Kim Taehyung?" Jimin tak lagi meninggikan suara, tapi tetap mengeluarkan seluruh makiannya
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Taehyung
Jimin menghela napas,"Kau dimana sekarang?"
"Kau tahu aku di Busan."
Jimin mengerang, kembali kesal,"Siput gila juga tahu kau ada di Busan sekarang." Ia mengumpat,"tepatnya dimana? Aku kesana."
"Aku di Chicago Hotel, Oryuk-do. Tunggu, kau ada di-"
Jimin memutus sambungan sebelum Taehyung selesai dengan kalimatnya. Ia mengirim pesan pada Jungkook untuk mengirim nomor kamar dan tetap menjaga Taehyung disebelahnya hingga dia sampai disana.
.
.
.
BRAK!
Jimin membuka pintu kamar dengan kasar, menargetkan tatapannya pada tokoh utama kejadian malam ini dan mencengkeram kerah pakaiannya. Nyaris memukuli Taehyung, jika saja Jungkook tidak melerai keduanya.
Keduanya berakhir duduk berseberangan diatas kasur, dengan Jungkook berdiri diantara keduanya. Berjaga jaga siapa tahu emosi Jimin kembali naik dan ingin memukul Taehyung lagi.
"Sebelum aku menyeretmu kembali, ada yang ingin kau katakan?" Jimin berujar datar
"Aku selalu mengikuti perkataan ibu, sampai hari ini." Taehyung ikut berbicara dengan nada datar
Jungkook mulai sesak dengan situasi tegang ini
"Dan alasan kenapa kau tidak mengikutinya hari ini?" Jimin kembali bertanya
"Karena alasannya tidak jelas!" Taehyung meninggikan suara,"ibu bilang jika Jungkook dan klub fotografi bukanlah pengaruh baik untukku. Tapi apa yang dia tahu? Dia tidak pernah memberikanku kesempatan untuk bicara."
Jimin menghela napas, kemudian menatap Jungkook,"Bibi Kim bilang dia menemukan rokok saat kau berkunjung. Kau merokok, Jungkook-a?"
Jungkook mendadak panik,"T-tidak sunbae! Aku tidak merokok! Saat itu aku meminjam tas hyung-ku karena tasku yang lama rusak. Aku bersumpah aku tidak merokok!"
"Tidak perlu panik, bukan kau yang salah disini." Jimin mencoba menenangkan,"tapi lain kali hati-hati. Ibu Taehyung bisa terlalu keras pada orang lain jika itu menyangkut anak semata wayangnya ini." Ia melirik Taehyung
Jimin berdiri dari tempatnya,ia menatap Taehyung dan Jungkook bergantian,"Besok pagi, kalian berdua pulang bersamaku."
Taehyung baru akan memprotes saat Jungkook membekap mulutnya, lalu mengangguk,"Oke sunbae. Kami pulang besok bersamamu."
Jimin mengangguk,"Pastikan alien ini tidak kabur sampai besok."
"Tunggu, kau tidak tidur disini bersama kami?" Jungkook bertanya
"Berlama lama disini hanya akan membuatku menghajar si otak udang ini. Aku mau mendinginkan kepala dulu diluar, kita bertemu besok setelah kalian siap."
Jungkook mengangguk mengerti, kemudian mengantar Jimin hingga ke depan pintu kamar.
.
.
.
Jimin mengemudikan mobilnya menuju pantai. Satu-satunya tempat yang bisa dipikirkannya untuk menenangkan diri. Ia memarkir mobil, lalu melepas sepatu juga kaos kaki, sebelum berjalan menikmati angin laut malam hari.
Ia duduk bersandar pada sebatang pohon, kemudian mengambil ponselnya. Pukul satu dini hari, Jimin berpikir haruskah dia tidur sebelum kembali menyetir pagi ini. Tapi dimana? Dia baru saja menolak akomodasi tidur gratis dikamar Jungkook dan Taehyung barusan. Mobil? Sepertinya hanya itu pilihan Jimin.
DRRT!
Ponselnya bergetar, panggilan video dari Kim Mingyu. Jimin terkekeh, temannya yang satu ini selalu menelepon disaat yang aneh.
"Hai, Mingyu-ya." Jimin menyapa
Terlihat wajah Mingyu dan Jeonghan, sepertinya mereka sedang berada di klub malam.
"Yo, Jimin-a!" Seru Jeonghan,"kau tidak datang ke klub malam ini?"
Jimin tertawa,"Kita baru bertemu sore tadi, kau belum lelah seharian berteriak di taman bermain?"
"Hey, tentu beda." Sahut Mingyu,"cepatlah kemari. Ada banyak orang yang ingin melihat prodigy klub dance menari."
"Aku tidak bisa malam ini." Jimin menjawab,"aku tidak berada di Seoul, jelasnya."
"Kau dimana?"
"Busan." Ujarnya singkat,"Kim Taehyung sialan itu mengacaukan malam mingguku dengan kabur dari rumah. Aku jadi harus repot mengejarnya sampai kesini."
"Wah, kalau aku jadi kau, aku tidak mau mengurusi temanku sampai seperti itu." Jeonghan berkomentar
"Coba kau merasakan diteriaki dua wanita paruh baya yang sangat berambisi menarik alien itu kembali ke Seoul. Aku tidak sejahat itu membiarkan Kim Taehyung menjadi bahan candaan satu universitas karena diseret ibunya kembali pulang dari acara klub."
"Kenapa tidak kau biarkan?" Ujar Jeonghan,"aku bisa puas menghinanya nanti."
Jimin terkekeh,"Salah aku bercerita pada kalian."
"Lalu, bagaimana kelanjutannya?" tanya Mingyu
"Yah, aku berencana membawanya kembali ke Seoul besok pagi. Sekarang mungkin aku akan tidur di pantai saja."
"Kau tidak tidur bersama Taehyung?" tanya Jeonghan
"Dan mengganggu acara kencannya dengan Jungkook? Tidak terima kasih." Jimin berujar sarkas,"anggap saja sebagai malam terakhir dia bernapas dengan normal sebelum menghadapi dua penyihir dirumah."
"Oke, kalau begitu selamat tidur, kawan." Mingyu berujar
Jimin mengangguk,"Nikmati malam kalian."
Jimin meletakkan ponselnya kembali kesaku celana, lalu berdiri dan berjalan kembali ke mobil.
.
.
.
TOK!TOK!
Jimin baru memejamkan mata selama beberapa menit, saat jendela kaca mobilnya diketuk seseorang. Dengan mata setengah terpejam, ia membuka jendela. Seorang laki-laki berdiri menatapnya, Jimin merasa pernah melihat orang ini sebelumnya.
"Park Jimin, geser ke kursi penumpang." Orang itu memerintah
Jimin yang masih setengah sadar, menurut saja terlebih saat orang itu menyebut namanya. Setidaknya dia bukan perampok. Jadi saat Jimin mulai mendapat kesadarannya, dia memperhatikan orang yang saat ini mengemudikan mobilnya, entah kemana.
"Berhenti menatapku seolah aku akan menculikmu." Ujar laki-laki itu.
Jimin tersadar jika dia terlalu lama memerhatikan laki-laki itu,"Maaf, aku hanya berusaha mengingat dimana pernah melihatmu."
"Kantin, saat Lee Jihoon memberikan sekotak coklat sebagai ucapan terima kasih."
Ah, Jimin ingat! Orang ini Min Yoongi, kakak Lee Jihoon.
"Ah, Min Yoongi-ssi." Jimin berujar,"kenapa kau bisa tahu aku ada disana?"
"Jihoon yang memberitahu. Dia menguping pembicaraanmu dan dua temanmu di klub. Lalu memintaku menjemputmu."
"Oh, teirma kasih." Ujar Jimin, tersenyum simpul,"kau tak harus melakukannya."
"Jika Jihoon tidak meneriakiku dipagi buta seperti ini, dan kebetulan aku tidak sedang pulang ke rumah, menurutmu aku mau berada disini ketimbang kasurku?" Ujar Yoongi sarkas
Jimin mencibir,"Ya, bagaimanapun. Terima kasih." ia tak ingin memperpanjang masalah
Mobilnya berhenti didepan sebuah rumah, Yoongi mengajaknya masuk, lalu mengeluarkan selimut dan bantal untuk Jimin gunakan sebagai alas tidur dikamarnya.
"Kau bisa pergi setelah sarapan nanti. Ibuku tidak suka ada orang yang meninggalkan rumah sebelum sarapan." Ujar Yoongi
Jimin mengangguk, lalu segera berbaring. Matanya sudah tidak kuat sepanjang perjalanan tadi terus ditahannya untuk membuka.
Jimin terbangun bersama suara berisik alarm. Berasal dari ponsel Yoongi, tapi melihat sang pemilik tak bergeming dengan suara itu, bisa dipastikan bukan Yoongi yang memasang alarm itu di ponselnya. Dan karena masih mencintai suasana pagi yang tenang, Jimin nekat mematikan alarm itu, lalu berjalan keluar.
"Oh, kau pasti teman Yoongi." Suara seorang wanita memasuki pendengarannya, Jimin menatap wanita paruh baya didepannya, lalu membungkukkan badan
"S-selamat pagi, maaf mengganggu." ujar Jimin
Wanita itu tertawa pelan,"Tidak apa apa. Baru kali ini Yoongi membawa temannya ke Busan. Ah, anak itu pasti masih tidur. Duduklah dulu, sarapan sebentar lagi selesai."
Jimin tersenyum, lalu duduk di meja makan. Tadinya berniat ingin membantu ibu Min Yoongi memasak, tapi begitu teringat kejadian terakhirnya didapur yang berakhir dengan satu tangki pemadam api habis, dia mengurungkan niatnya.
"Tunggu, biar kubangunkan Yoongi. Setelah itu kita makan bersama." Ibu Yoongi berujar, lalu melesat pergi kedalam kamar anaknya
Keduanya keluar tak lama setelahnya, Yoongi duduk dihadapan Jimin dengan mata terpejam, tapi tangan tetap memegang sendok dan sumpit. Ia menyuap nasi dalam keadaan mata tertutup.
Jimin melihat menu sarapan didepannya. Galbitang untuk sarapan terlihat tak biasa, tapi Jimin tak memikirkannya. Dia ikut menyendok kuah panas didepannya, lalu menghabiskannya.
Dia masih cukup tahu diri untuk membantu mencuci piring, sementara Yoongi pergi entah kemana.
"Jadi, kau teman Yoongi di universitas?" ibu Yoongi memulai percakapan
"Ah, tidak bisa dibilang teman juga. Aku kebetulan pernah membantu Lee Jihoon beberapa waktu lalu." Jimin menjawab
Ibu Yoongi berdecih,"Anak buangan sialan itu masih saja suka mencari masalah."
Jimin tiba-tiba merasa salah bicara.
"Bu, aku dan Jimin harus pergi sekarang." Yoongi datang tepat waktu dan menjauhkan Jimin dari potensi obrolan canggung yang tidak nyaman bersama ibunya.
"Oh, benarkah? Hati-hati kalau begitu." ibu Yoongi berujar.
Keduanya memakai sepatu, lalu masuk kedalam mobil. Yoongi yang menyetir, dengan alasan tak ingin terkena kecelakaan karena Jimin yang kurang tidur dan kelelahan. Mereka berhenti didepan hotel Taehyung dan Jungkook, Jimin menghubungi keduanya untuk segera turun. Kini keempatnya berada dalam perjalanan kembali ke Seoul. Dengan Jimin duduk disebelah Yoongi yang sedang menyetir, dan Taehyung masih tertidur dibahu Jungkook.
Jimin bergantian menyetir dengan Yoongi setelah sampai di Seoul. Dia menurunkan Jungkook dan Yoongi di depan universitas, lalu melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Ia melirik kearah Taehyung disebelahnya, jelas sekali terlihat jika sahabatnya ini sedang tegang dan gugup.
Jimin menghela napas,"Diam saja dan jangan membantah." ia berkata
"Huh?" Taehyung menatapnya tak mengerti
"Saat ibumu dan ibuku berceramah, jangan membantah." Jimin menjelaskan,"aku akan membantumu."
Taehyung tersenyum,"Terima kasih, Jimin-a."
Jimin baru menghentikan mobilnya didepan rumah saat pintu bagian Taehyung dibuka dari luar. Ibunya dan bibi Kim menyeret Taehyung masuk kedalam rumah dengan sebelah tangan masing-masing menarik telinganya. Jimin mengunci mobil, lalu bergegas ikut masuk kedalam rumah.
Taehyung sudah berlutut dilantai saat dia masuk, wajahnya menunduk, dan tak bergeming saat bibi Kim memukuli punggungnya sambil menangis. Jimin tak bisa melakukan apapun, setidaknya untuk saat ini.
Setelah situasi mulai tenang, keempatnya duduk bersama diruang tengah.
"Mulai besok kau benar-benar akan berada dibawah kendaliku, Kim Taehyung." Bibi Kim berujar, untuk kesekian kalinya
Taehyung masih setia menunduk, hal itu membuat Jimin sedikit banyak kasihan dengan temannya ini.
"Bu, bibi Kim." Jimin memberanikan diri bicara,"bukankah ini terlalu berlebihan?"
"Apa maksudmu, Park Jimin?" ibunya bertanya
"Yah, aku tahu Taehyung gila karena nekat pergi tanpa ijin." Ia memulai,"tapi apa ibu dan bibi Kim tidak sadar jika Taehyung melakukan itu karena kalian yang tidak percaya padanya?"
Tak ada yang bicara, jadi Jimin kembali melanjutkan,"Selama ini Taehyung dan aku selalu menuruti semua kemauan kalian. Dan aku berterima kasih karena kalian bisa mengerti dengan apa yang kami mau selama ini. Tapi kenapa kalian jadi paranoid saat Taehyung menyukai seseorang?"
Bibi Kim menghela napas,"Kupikir dia akan menyukaimu, Jimin-a." ia menjawab,"tentu saja aku marah saat dia tiba-tiba membawa seseorang yang dikenalkannya sebagai kekasih padaku. Aku merasa tidak enak padamu."
Oke, ini gila. Tapi bagaimana bisa muncul hipotesis seaneh ini? Ya, mereka berteman sepanjang hidup. Tapi bukan berarti setiap persahabatan bisa berubah jadi cinta, kan?
Jimin menghela napas,"Taehyung bebas menyukai siapapun. Benar, kan?"
"Jadi kumohon, beri dia kesempatan."
.
.
.
.
.
Jimin memandangi langit-langit kamarnya tanpa minat. Berulang kali dia menghela napas, tidak percaya harus terlibat dalam situasi aneh seperti itu. Dirinya menyukai Kim Taehyung? Jimin tak pernah memikirkannya. Untuk seseorang yang selalu mandi bersama dengan alien itu sampai umur tujuh tahun, dan mengetahui semua kebiasaan menjijikkannya, Jimin tak yakin bisa menyukai anak itu.
DRRT!
Ponselnya bergetar diatas nakas. Panggilan masuk dari nomor yang tak dikenalnya
"Halo?"
"Halo? Park Jimin sunbaenim?"
"Ya? Siapa ini?"
"Maaf mengganggu hari minggumu, sunbaenim. Ini aku, Lee Jihoon."
"Ah, Lee Jihoon-ssi. Ada apa?"
"Maaf mengganggumu, sunbaenim. Aku mendapat nomormu dari Mingyu sunbaenim di bar kemarin. Hyung-ku datang, kan?"
Jimin menahan helaan napas,"Ya, dia datang. Terima kasih karena membantuku, Jihoon-ssi."
"Sunbaenim, aku mungkin terdengar kelewatan jika mengatakan ini, tapi boleh aku minta tolong padamu?"
"Ya? Minta tolong apa?"
"Bisa kita bertemu besok saat makan siang? Aku punya beberapa pertanyaan untuk tugasku."
"Oh, tentu. Tapi, kurasa aku bukan orang yang cocok untuk ditanyai masalah musik."
"Aku yakin kau bisa menjawabnya, sunbaenim. Kalau begitu, kita bertemu besok ya. Terima kasih, sunbaenim."
"Ya, sama-sama."
CKLEK!
Pintu kamarnya mendadak terbuka, Taehyung masuk dengan wajah kusut, lalu berbaring disebelahnya. Jimin melempar asal ponselnya, lalu menoleh kearah Taehyung.
"Siapa yang menelepon?" tanya Taehyung
"Hanya teman."
Taehyung menghela napas,"Menurutmu ini akan berhasil?"
"Apanya?"
"Aku terlalu marah saat berkata akan lulus dengan nilai sempurna jika ibu mengijinkanku berpacaran dengan Jungkook."
"Kau apa?!" Jimin bangkit dari posisi berbaring, ia menatap sahabatnya tak percaya.
"Aku harus bagaimana?" Taehyung merengek, kini kedua duduk berhadapan diatas ranjang.
Jimin menghela napas,"Bisa tidak, untuk sekali saja, kau menggunakan kepalamu itu untuk berpikir?" ia berujar kesal,"sekarang kau hanya punya satu pilihan. Yaitu lulus dengan nilai sempurna."
"Kau tahu aku hampir tidak bisa mengikuti pelajaran, Park Jimin!" seru Taehyung
"Lalu kenapa kau mengatakan akan lulus dengan nilai sempurna, Kim Taehyung?" Jimin menyeru, dengan nada yang sama
Taehyung menghela napas,"Hanya itu yang bisa kupikirkan saat ibu menantangku."
Jimin mengerutkan kening, kenapa dia jadi terseret masalah seperti ini.
"Terserah kau, aku muak mengurusi semua masalah ini." Ujar Jimin, ia bangkit, lalu mengambil ponsel dan kunci mobil diatas nakas.
"Hey, kau mau kemana?" tanya Taehyung
"Klub."
"Tengah hari seperti ini? Klub mana yang buka?"
Jimin menghela napas, ia berbalik menatap Taehyung,"Aku pergi kemanapun agar bisa jauh dari masalahmu, Kim Taehyung sialan." ujarnya, lalu pergi
TBC
.
.
.
I don't feel confident about this chapter :(
Do you like my writings? Sorry, I can be emo at times.
So many things happened lately and it affected my writings.
But the past is in the past, I hope y'all enjoy this chapter.
See you in the next chapter!
.
.
.
Love, Qiesha
