LET IT GO
.
.
.
.
.
YOONIMIN, SLIGHT VMIN
.
.
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
.
.
Jimin membanting kepala keatas meja. Ia menghela napas, memikirkan bagaimana nilai ujian semesternya kali ini. Ujian baru saja selesai, dan dirinya tidak percaya diri dengan hasil yang akan didapatkannya. Terima kasih pada Taehyung dan semua masalah yang dibawanya, meski sebenarnya Jimin sudah malas memikirkan masalah alien itu.
"Hey, Jim. Kenapa?" tanya Jeonghan
Jimin mengangkat kepalanya, ia menatap Jeonghan,"Kurasa nilaiku akan turun semester ini."
Jeonghan terkekeh,"Kupikir masalah yang penting. Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lebih baik kita beri makan otakmu sekarang, kasihan dia dipaksa bekerja terus."
Jimin menghela napas, ia berdiri lalu menyampirkan tas dibahu, kemudian mengikuti Jeonghan keluar kelas.
"Hey, kawan!" Mingyu memanggil dari ujung lorong, ia berlari menghampiri keduanya
"Wah, lihat siapa yang selesai ujian pertama kali." Sindir Jeonghan,"kau seyakin itu bisa lulus, ya, Kim Mingyu."
Mingyu tersenyum lebar,"Wonwoo mengajariku semua hal, kau tahu. Aku tidak akan meragukannya." ujarnya bangga, ia lalu melirik kearah Jimin yang tampak lesu,"Hey, kau kenapa?"
"Ah, anak ini khawatir nilainya turun." Jeonghan yang menjawab
"Seorang Park Jimin mengalami penurunan nilai?" Mingyu berujar, sedikit sarkas,"paling banyak kau turun 2 poin, kawan." ia mencoba menyemangati
Jimin tersenyum tipis,"Kau benar juga."
"Kutebak pikiranmu teralihkan karena masalah Taehyung, kan." Jeonghan mendadak menjadi cenayang
"Ya, begitulah." Jimin menghela napas untuk yang kesekian kali
"Oh, iya juga. Bagaimana perkembangan masalahnya? Sudah selesai?" tanya Mingyu
"Alien idiot itu justru membuatnya makin rumit." Jimin mendengus kesal,"dia mempertaruhkan hubungannya dengan Jungkook jika tidak bisa lulus dengan nilai sempurna."
Jeonghan dan Mingyu mengeluarkan ekspresi kaget yang sama
"Jimin-a, kau yakin Taehyung masih memiliki otak di rongga kepalanya?" Jeonghan jadi ikut kesal
"Aku jadi kasihan dengan Jungkook." Mingyu ikut berkomentar
"Ah!" Jimin berteriak kesal,"Sudahlah! Bisa gila aku memikirkan masalah alien itu." ia melanjutkan, lalu menatap dua teman didepannya,"Bagaimana kalau kita pergi ke kafe didepan universitas? Aku traktir."
Wajah Jeonghan dan Mingyu berubah senang, keduanya menggandeng masing-masing tangan Jimin, lalu membawanya ke mobil milik Jeonghan.
Kafe sedikit ramai begitu mereka sampai, Jeonghan masih mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya, jadi Jimin dan Mingyu yang lebih dulu masuk untuk mencari tempar duduk dan memesan.
"Mingyu-ya, kau cari tempat sana. Biar aku yang pesan. Kau mau apa?" tanya Jimin
Mingyu tampak berpikir,"Hmm," ia menggumam,"Aku mau Caramel Frappuchino." Jawabnya
Jimin mengangguk, lalu masuk kedalam antrian. Tak lama, Jeonghan muncul. Ia berkata jika ingin Espresso dan Cheesecake untuk hari ini, lalu bergabung bersama Mingyu di meja.
"Selamat siang. Ada yang bisa kubantu?" seorang wanita penjaga kasir menyapa
Jimin tersenyum,"Ya. Aku ingin Espresso, Caramel Frappuchino, dan Latte Macchiato. Masing masing satu. Juga satu Cheesecake dan Croissant." Jimin memesan
Penjaga kasir menulis pesanan Jimin,"Ada lagi?"
Jimin menggeleng,"Itu saja."
"Totalnya tiga puluh ribu won."
Jimin memberikan kartu debitnya pada kasir, lalu duduk bersama teman-temannya setelah selesai membayar.
"Ini pesanan kalian." Seorang pelayan mengantarkan pesanan.
Jimin menyesap minumannya pelan, lalu menggigit Croissant pesanannya. Ia menatap keluar jendela tanpa minat. Jeonghan yang melihatnya menendang kaki Mingyu, memberikan sinyal jika teman mereka yang satu ini sedang tidak dalam kondisi yang baik.
"Hey, Jimin-a." Panggil Mingyu, Jimin menoleh
"Ada klub baru di Gangnam. Dan kebetulan aku mengenal pemiliknya, kau ingin kesana?" tawarnya
Jimin mengerutkan kening,"Malam ini?"
Mingyu mengangguk,"Atau kalau kau ingin malam lain, tinggal beritahu aku saja."
"Ya, aku penasaran dengan klub itu." Jeonghan menambahi.
Jimin terpekur,"Boleh juga." ia tersenyum
"Nice!" Mingyu berseru senang,
DRRT!
Ponsel Jimin mendadak bergetar diatas meja, nama Lee Jihoon tertera dilayar.
"Halo?" Jimin mengangkat
"Sunbae-nim!" seru Jihoon diseberang sambungan,"kau tidak makan siang? Aku tidak melihatmu di kantin."
Sial! Jimin lupa jika dia punya janji dengan Jihoon hari ini.
"A-ah, aku sedang membeli kopi diluar. Aku kesana sebentar lagi." Jimin berujar, panik
"Kalau begitu, sekalian bertemu di ruang musik gedung seni saja, sunbae." Jihoon memberi usul
"Oke!" Jimin yang panik, mengiyakan ajakan itu dalam sekali napas. Ia memutus sambungan, kemudian meminta pada pelayan agar kopi dan Croissant miliknya dibungkus.
"Kenapa?" Jeonghan bertanya, ia menyuap potongan Cheesecake terahirnya kedalam mulut
"Aku lupa ada janji hari ini." Jawabnya
"Dengan siapa? Taehyun?" kini Mingyu yang bertanya
Jimin menggeleng,"Lee Jihoon. Dia meminta bantuanku."
"Lee Jihoon?" Jeonghan mengulang,"sejak kapan kau jadi dekat dengannya?"
"Sejak Mingyu memberikan nomorku padanya dan kakaknya Min Yoongi itu menolongku agar tidak jadi gelandangan di Busan." Jimin berujar sarkas, masih sedikit kesal karena Mingyu dengan seenaknya memberikan nomor ponselnya pada orang yang tak dikenalnya
"Hey!" Mingyu menyeru, protes,"harusnya kau berterima kasih karenaku."
"Ya, terima kasih karena membuatku jantungan melihat laki-laki pucat berpakaian serba hitam yang mengetuk jendela mobilku pukul dua pagi." Jimin kembali mengejek
Jeonghan menghela napas,"Kalian berdua, diamlah."
Jimin mendengus kesal, ia melihat pelayan membawa bungkusan miliknya, lalu mengambilnya dan langsung pergi.
"Jadi, kita tetap ke klub malam ini?" Mingyu menatap Jeonghan
"Tch,"Jeonghan berdecih,"kadang aku penasaran dimana kau meletakkan isi kepalamu, Kim Mingyu." Hinanya, lalu ikut pergi meninggalkan Mingyu
.
.
.
.
.
"Halo? Lee Jihoon-ssi." Jimin berujar, saat panggilan dijawab,"Ya, aku sudah ada didepan gedung seni. Kelasnya dimana?"
"Lantai 3, ruang 302."
"Oke."
Jimin menekan tombol naik lift, lalu pergi ke ruangan yang dimaksud Jihoon dalam telepon.
"Halo, sunbae-nim." Jihoon menyapa, kelewat bersemangat,"terima kasih sudah mau repot datang dan membantuku hari ini."
Jimin tersenyum,"Tidak masalah." Jawabnya enteng,"jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"
Jihoon mengutak-atik komputer didepannya, tak lama alunan musik up-beat memenuhi ruangan. Jimin mendengarkan dengan seksama.
"Bagaimana menurutmu, sunbae?" tanya Jihoon saat lagu selesai diputar
"Bagus." Jimin memulai,"kau membuatnya sebagai lagu dance?"
Jihoon mengangguk,"Kudengar kau pandai menari. Jadi aku ingin mendengar pendapatmu sebagai dancer."
Jimin mengangguk mengerti,"Kalau kau ingin menari dengan lagu ini, gerakan kira-kira begini."
Jimin menggerakkan tubuhnya sesuai dengan musik yang didengarnya. Jihoon bertepuk tangan saat Jimin selesai menari.
"Wah, sunbae-nim. Kau benar-benar hebat!" Jihoon mengacungkan dua ibu jarinya, hingga membuat Jimin tersenyum malu
"Aku yakin kau akan dapat nilai bagus dengan lagu itu." Jimin menyemangati
"Terima kasih," Jihoon berujar,"oh, ya. Selama di Busan kemarin, tak ada hal yang kurang nyaman bagimu, kan?" Jihoon mengganti topik
Jimin mendadak teringat perkataan ibu Min Yoongi saat itu. Dia penasaran, tapi tak tahu bagaimana harus bertanya. Mana mungkin dia menanyakan apakah Jihoon anak pungut atau tidak didepan wajahnya. Jimin belum gila.
"Ibu pasti mengatakan kalau aku anak buangan, kan." Jihoon berujar, Jimin menegang ditempat, ia menatap Jihoon yang tatapannya kini kosong kedepan, "Maaf, sunbae-nim. Harus mendengar kalimat tidak pantas dari ibu." ia melanjutkan
"T-tidak,"Jimin tergagap,"bukan begitu!" ia panik sendiri, lalu menghela napas, frustasi
Jihoon tersenyum tipis, ia menatap Jimin,"Tidak apa-apa, sunbae. Aku mengerti." Ia berujar,"lagipula apa yang ibu katakan tidak sepenuhnya salah. Aku memang anak yang dibuang."
Jimin mendekati Jihoon, lalu duduk disebelahnya.
"Dulu," Jihoon memulai,"aku hanya anak yatim yang tinggal di pinggir pantai. Sampai suatu hari, Yoongi hyung dan ayahnya datang dan menyelamatkanku dari preman yang sering memukuliku karena tidak bisa memberikan mereka uang." ia bercerita,"tapi ibu tidak suka dengan keputusan ayah. Dia membenciku sebanyak itu, dan aku tahu aku pantas dibenci. Saat ayah pergi bekerja, ibu selalu mengambil kesempatan untuk memarahi dan memukuliku dengan sapu. Tapi Yoongi hyung selalu melindungiku, dia yang membelaku saat ibu marah."
Jimin makin merasa tidak enak,"Jihoon-ssi!" ia menginterupsi,"tak perlu kau lanjutkan jika kau tidak nyaman."
Jihoon tersenyum tipis,"Ah, aku membuatmu tidak nyaman, ya. Maaf, sunbae."
Jimin menghela napas,"Kau terlalu banyak minta maaf, Jihoon-ssi."
"Sunbae, kau bisa memanggilku dengan santai. Tidak perlu formal seperti itu." Jihoon berujar, yang dibalas pukulan pelan Jimin di lengannya
"Kau menyuruhku santai tapi kau masih menggunakan kata 'sunbae' tiap kali memanggilku." Jimin bergurau
"A-ah, kalau begitu, boleh aku memanggilmu Jimin hyung?" tanya Jihoon, wajahnya memerah malu
Jimin tersenyum lebar,"Tentu saja, Jihoon-a!" ia merangkul erat tubuh Jihoon
Jihoon ikut tersenyum,"Terima kasih, hyung."
"Jimin-a!"
Jimin menoleh kebelakang, dan mendapati Taehyung melambai kearahnya dengan senyum lebarnya yang aneh. Sahabatnya itu berlari melintasi lautan mahasiswa yang baru selesai dengan kelas pagi mereka, menghampiri Jimin di ujung lorong.
"Tidak biasanya kau bangun sepagi ini." Jimin pertama kali bicara
Taehyung, masih mempertahankan senyumnya, merangkul sang sahabat,"Ayo! Kutraktir kau makan!"
Sepanjang jalan, Jimin memikirkan perubahan aneh Kim Taehyung. Tak biasanya dia bersikap terlalu bahagia seperti ini. Yah, Jimin tahu jika dia punya sahabat seorang alien yang sering bersikap aneh. Tapi ini pertama kalinya Jimin melihat Taehyung seperti ini.
Jadi, saat Taehyung membeli makanan secara berlebihan, Jimin tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya
"Kau kenapa?"
Taehyung makin tersenyum, Jimin mulai takut
"Ibu merestui hubunganku dengan Jungkook!" Taehyung berteriak, hingga berdiri, seisi kantin memperhatikan keduanya, Jimin mendadak menyesal bertanya
"Idiot!" Serunya,"cepat duduk!"
Taehyung mengikuti perintah Jimin dan kembali duduk manis dihadapan sahabatnya, masih dengan senyum yang makin lama makin mengerikan, atau setidaknya begitu menurut Jimin.
"Dan berhenti tersenyum seperti itu. Kau terlihat seperti Joker!"
Taehyung mendengus,"Kau mengganggu kebahagianku, Park Jimin."
"Jadi, bagaimana kau bisa meyakinkan bibi Kim?" Jimin mengganti topik bahasan, ia mengambil bibimbap yang Taehyung bawa
Taehyung kembali tersenyum,"Aku mogok makan."
Jimin tersedak Kimchi,"Kau APA?" ia memekik kaget
"Sst!" Taehyung meletakkan telunjuknya didepan mulut, menyuruh Jimin diam,"jangan berteriak."
"Kau gila, Kim Taehyung?" Jimin, lagi-lagi mengabaikan Taehyung, kemudian mendorong mangkuk bibimbap yang baru sedikit dimakannya kearah Taehyung, "Cepat makan ini!" ia memerintah
Taehyung menerima mangkuk bibimbap pemberian Jimin, lalu melahapnya.
"Aku mogok makan selama beberapa hari dirumah. Mengurung diri, dan berteriak tidak akan keluar sampai ibu menyetujui hubunganku dengan Jungkook." Taehyung kembali melanjutkan ceritanya.
Jimin menghela napas. Sebenarnya berapa umur Taehyung? Perilakunya persis seperti anak yang sedang merajuk pada ibunya karena tidak dibelikan mainan. Ah, sudahlah. Jimin juga harusnya sadar jika usia mental Taehyung terhenti di angka 8.
"Lalu, bibi Kim mengikutinya?"
Taehyung mengangguk,"Dia bahkan membatalkan perkataanku yang harus lulus dengan nilai sempurna." ia berujar bangga
Jimin mendelik kesal kearah Taehyung,"Dan sekarang, apa yang akan kau lakukan?"
"Menikmati hubunganku dengan Jungkook?" Taehyung meretoris
Jimin mengangguk pasrah,"Ya, ya. Nikmati kebebasanmu, Kim Taehyung."
"Eh, lalu bagaimana denganmu?" Taehyung tiba-tiba mengganti topik, Jimin mengerutkan dahi, tak mengerti,"Maksudmu?" ia balas bertanya
"Kapan kau mencari kekasih?" Taehyung memperjelas pertanyaannya,"kau selalu bilang jika akan dapat kekasih lebih dulu karena kau lebih dewasa. Tapi lihat sekarang."
Jimin berdecih,"Astaga, kukira apa." ia menggelengkan kepala,"Kim Taehyung tersayang, menemukan cinta tidak semudah membalik telapak tangan. Kau tahu sesulit apa itu, kan."
Taehyung menatap Jimin dengan tatapan polosnya, sambil tetap mengunyah makanannya,"Jadi, kapan kau mendapat kekasih?" ia mengulang
Jimin menghela napas,"Nanti, kalau aku ingin." ia menjawab asal.
"Jimin hyung!"
Jimin menoleh, Jihoon tersenyum kearahnya. Ia menghampiri meja Jimin, diikuti Min Yoongi dibelakangnya.
"Oh, halo Jihoon-a." Jimin balas menyapa,"bagaimana tugasmu?"
"Bagus, hyung!" Jihoon berujar semangat,"berkat masukan dari hyung, aku dapat nilai tertinggi di kelas."
Jimin tersenyum,"Baguslah, aku senang mendengarnya."
"Oh, ya. Jihoon-a." Jimin teringat,"ini temanku sejak dalam kandungan, Kim Taehyung." Jimin memperkenalkan
Jihoon tersenyum, lalu sedikit menundukkan kepala,"Annyeonghaseyo, Lee Jihoon imnida."
Taehyung balas tersenyum,"Tidak perlu formal begitu. Teman Jimin berarti temanku juga."
"Taehyung sunbae, ini hyung-ku, Min Yoongi." Jihoon ikut mengenalkan Min Yoongi dibelakangnya
"Hei, bagaimana jika kalian bergabung dengan kami?" Jimin menawarkan,"kami memesan banyak makanan."
"Benarkah? Terima kasih hyung!" Jihoon berujar senang.
Jihoon mengambil tempat disebelah Jimin, sementara Min Yoongi duduk tanpa suara disebelah Taehyung. Ketiganya berbincang santai, sementara Yoongi hanya bicara seperlunya.
"Hyung, kelasku sebentar lagi dimulai. Aku pergi dulu, ya. Terima kasih untuk sarapannya." Jihoon berujar cepat, lalu melesat pergi. Menyisakan tiga orang di meja kantin.
Keheningan yang canggung mendadak menerpa ketiganya.
"Terima kasih karena menjaga adikku." Yoongi akhirnya bicara
"A-ah, bukan masalah." Jimin tergagap,"aku senang berteman dengannya. Jihoon anak yang baik."
"Tapi aku akan lebih suka jika kau tidak terlalu dekat dengannya."
Dahi Jimin mengerut, tak mengerti,"Aku tak mengerti." ujarnya,"kau berterima kasih karena aku mau menjadi temannya, tapi tidak ingin aku dekat dengannya. Logika macam apa itu?"
"Tidak ada yang tahu kapan kau akan menyakiti Jihoon." Yoongi kembali bicara,"jadi sebelum itu terjadi, lebih baik kau menjauh darinya."
BRAKK!
"Jangan samakan aku dengan ibumu, Min Yoongi!" Jimin memukul meja
Oke, Jimin tak bermaksud mengatakan hal itu. Tapi perkataan Yoongi benar-benar menyulut amarahnya.
Yoongi terlihat terkejut mendengar perkataan Jimin barusan, tapi berhasil disembunyikannya dengan wajah datar tanpa ekspresi yang selalu ditunjukkannya.
SRET!
Yoongi berdiri, tatapannya tajam menatap Jimin,"Intinya,"ia berujar, pelan,"jangan pernah menyakiti Jihoon, atau kau berhadapan denganku." Ia memperingatkan sebelum pergi dari hadapan Jimin.
"Wah, pria itu menyeramkan." Taehyung berkomentar
Jimin mengeratkan kepalan tangan, menghadapi Yoongi kedepannya tidak akan mudah.
Jimin berdiri menyender pada sebatang pohon, matanya menatap lurus kearah pintu masuk gedung musik dengan cemas. Sejak pertemuannya dengan Yoongi dan Jihoon di kantin beberapa hari lalu, dirinya terus dihantui perasaan bersalah karena mengatakan kalimat menyakitkan pada Yoongi. Dia tak seharusnya mengatakan itu, semarah apapun dirinya.
Dan hari ini, setelah mengumpulkan keberanian, dia akan meminta maaf. Jimin bahkan sudah siap jika dia harus menerima pukulan dari Yoongi. Ya, dia akan minta maaf hari ini, bagaimanapun caranya.
"Jihoon-a!" Jimin berteriak memanggil Jihoon saat melihat junior-nya itu keluar dari gedung seni
"Oh, Jimin hyung." Jihoon menatap Jimin bingung,"ada apa kesini?"
"Kau tahu dimana Min Yoongi?" tanya Jimin, to the point
"Yoongi hyung?" Jihoon mengulang,"harusnya saat ini dia ada di ruang musik. Mengerjakan tugas akhirnya. Kenapa?"
"Dimana tepatnya?" Jimin mengabaikan pertanyaan Jihoon
"Kelas 501, di lantai 5. Eh, hyung!" Jihoon berseru saat Jimin berlari pergi begitu saja memasuki gedung seni.
.
.
.
.
.
"Hah...hah..." Jimin mengatur napas didepan pintu kelas 501, setelah napasnya kembali normal, ia membuka pintu perlahan
.
(Playing Bella's Lullaby-Classical Study Music)
.
Langkahnya terhenti mendengar permainan piano Yoongi yang indah. Untuk sesaat, dia tak memikirkan apapun, selain alunan lembut piano Yoongi yang seolah menghipnotisnya.
Dirinya bahkan tak sadar jika Yoongi sudah berhenti bermain piano dan kini menatapnya datar.
"Ada apa kemari, Jimin-ssi?"
Jimin kembali pada kesadarannya
"Ah, benar." Ia berujar, lalu menatap Yoongi,"Maaf atas perkataanku beberapa hari lalu. Aku harusnya tidak sekasar itu." Jimin meminta maaf, sambil menundukkan kepala
Tak ada balasan apapun dari Yoongi, jadi Jimin mengangkat kepalanya, meski agar ragu...
Dan dirinya sendiri.
Yoongi meninggalkannya begitu saja ditengah permintaan maafnya. Sikap macam apa itu?
"Hey! Min Yoongi-ssi!" Jimin berteriak, memanggil Yoongi. Tapi terlambat, karena Yoongi sudah masuk kedalam lift. Jimin berpikir cepat, lalu memutuskan untuk turun lewat tangga darurat.
"Hah..."Jimin mengatur napas saat sampai di lantai dasar, tapi dilihatnya Yoongi sudah berjalan menjauh dari gedung seni. Jimin mengerang kesal, lalu kembali berlari mengejar Yoongi.
"Min Yoongi-ssi!" Jimin berteriak, masa bodoh menjadi perhatian orang-orang sekitar. Fokusnya saat ini adalah bagaimana cara membuat Yoongi berhenti dan bicara padanya.
Jimin tidak tahu bicara pada orang lain, terutama Min Yoongi, bisa sesulit dan selelah ini.
Barulah saat Yoongi duduk di halte menunggu bis, Jimin berhasil mengejarnya. Ia mencengkeram bahu Yoongi kuat, lalu menunduk mengatur napas.
Jimin menatap Yoongi,"Kau...kau ini kenapa?" ia bertanya, masih sedikit terengah
"Aku benar-benar serius minta maaf." ia melanjutkan
"Lalu jika aku memaafkanmu, apa yang akan kau lakukan?" Yoongi bertanya
Pertanyaan macam apa itu?
"Kau mau aku ingin melakukan apa?" Jimin balas bertanya,"Aku hanya ingin minta maaf karena aku menyesal mengatakan hal yang tidak seharusnya kukatakan. Apa sulitnya mengatakan kau memaafkanku atau tidak."
Yoongi tidak menjawab,
Jimin mendeklarasikan Yoongi sebagai orang teraneh nomor satu yang pernah dikenalnya, menggantikan posisi Taehyung yang selama lebih dari dua dekade ini tak pernah tergoyahkan.
"Baiklah,"Jimin melepas cengkeramannya pada bahu Yoongi,"aku akan tetap minta maaf sampai kau mau memaafkanku."
CSHH!
Bis yang datang membuka pintu, Yoongi masuk kedalam. Tanpa berniat menjawab, atau bahkan sekedar menatap Jimin yang berdiri didekatnya.
Jimin menatap kepergian bis yang Yoongi naiki dengan tatapan tak percaya
.
.
.
.
.
TBC
Halo!
Gimana chapter kali ini? Membosankan, kah?
Chapter ini full aku yang nulis semua, karena Qiesha masih sibuk sama drakornya. Dia lagi nonton 30 but 17, , sama Meteor Garden 2018. Bisa dibayangkan gimana 'sibuk'-nya dia saat ini.
Anyway! Aku harap kalian puas dengan chapter ini. Oh, dan mau nanya, haruskah chapternya dibuat lebih panjang? Ini pertanyaan Qiesha, fyi
.
.
.
Regards, Min
