LET IT GO
.
.
.
.
.
YOONIMIN, SLIGHT VMIN
.
.
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
.
.
Sorry for typos, enjoy!
.
.
.
.
.
"Min Yoongi!"
Jimin berlari menghampiri Yoongi yang baru saja keluar dari gedung kelasnya. Ia tersenyum saat berhadapan dengan Yoongi.
"Jadi, sudah mau memaafkanku?" Jimin bertanya, untuk yang kesejuta kali, seminggu terakhir ini.
Yoongi menatap datar Jimin didepannya, kemudian berlalu begitu saja.
Jimin menahan diri untuk menghela napas, lalu mengejar Yoongi dan mensejajarkan langkah. Dia hanya diam mengikuti kemana Yoongi melangkah.
Sudah seminggu ini Jimin meneror kehidupan Yoongi. Menghampirinya setiap saat -Yoongi yakin Jihoon yang memberitahukan jadwalnya pada Jimin- dan selalu mengucapkan kalimat minta maaf. Dan hanya itu yang dilakukannya, hingga Yoongi meninggalkannya di halte, setiap harinya.
Bukan Jimin namanya jika dia mudah menyerah. Meski ditolak berjuta kali pun, dirinya akan tetap semangat meraih targetnya. Yang kali ini adalah untuk Yoongi menerima permintaan maafnya.
"Yoongi-ssi!" Jimin kembali memanggil,"kau serius akan mengabaikanku terus?" ia bertanya,"aku tidak akan berhenti mengikutimu sampai kau memaafkanku, kau tahu."
Yoongi tak merespon, membuat Jimin menghembuskan napas pelan. Sedikit tak percaya dengan kemampuan orang ini mengabaikan gangguan semenyebalkan ini. Karena jika Jimin ada di posisi Yoongi, dia pasti akan langsung memaafkan siapapun yang meminta maaf. Diikuti terus menerus bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan. Siapa yang suka memiliki stalker?
"Oh, Jimin hyung! Yoongi hyung!" Jihoon muncul dari tikungan, ia menghampiri kedua seniornya itu
"Oh, halo Jihoon-a." Jimin tersenyum, ia melambaikan tangan
Jihoon tersenyum,"Kulihat kalian selalu berdua akhir-akhir ini. Ada apa?"
"Ah," Jimin mendadak malu mendapat pertanyaan seperti itu, padahal dirinya sendiri yang memutuskan untuk mengikuti Yoongi kemanapun dia pergi, ia menggaruk belakang kepalanya,"Hyung-mu ini menolak untuk bicara padaku. Jadi aku terus mengajaknya bicara."
"Oh, begitu." Jihoon mengangguk paham,"Yoongi hyung memang irit bicara, sih."
"Kalau begitu, hyung-deul. Aku pergi ke klub dulu." Jihoon membungkuk hormat
"Ya, Lee Jihoon!" Yoongi menghentikan langkah Jihoon yang belum sampai dua meter menjauh. Keduanya saling menatap,"pulang. Hari ini tidak ada kegiatan klub untukmu."
"Hyung!" Jihoon memprotes,"kenapa lagi?"
"Pokoknya pulang! Jangan membantah!" Yoongi kembali memberi perintah
Jimin mengerutkan kening,"Kau ini kenapa? Apa hobimu memang membuat kesal orang?"
Yoongi mendelik kearah Jimin, yang juga dibalas dengan tatapan tajam yang sama oleh Jimin.
"A-ah, Jimin hyung." Jihoon mencoba melerai keduanya, menghindari kemungkinan perkelahian,"tidak apa-apa. Aku pulang saja."
"Mana bisa begitu!" Jimin berkata, kesal, ia beralih menatap Jihoon,"aku tahu orang ini hanya mencoba melindungimu. Tapi tidak bisa jika sudah seperti ini. Dia mengekang kegiatanmu."
"Siapa yang mengekang?" akhirnya, setelah seminggu diabaikan, Yoongi mau bicara padanya,"memangnya kau tahu apa?"
"Aku memang tidak tahu apa-apa." Jimin membalas,"tapi aku tahu jika kau melarang Jihoon untuk melakukan apa yang dia suka tanpa alasan yang jelas, itu namanya mengekang."
Jimin mendadak ingat dengan Taehyung. Bagaimana kabar sahabat aliennya itu bersama Jungkook? Ah, sepertinya Jimin harus menghubungi dia setelah konfrontasi ini berakhir.
Yoongi tak menjawab, hanya menatap tajam Jimin selama beberapa detik, sebelum menarik Jihoon pergi.
.
.
.
.
.
Jimin mengaduk pelan minumannya tanpa minat. Memori adu mulutnya dengan Yoongi siang tadi masih terekam jelas di benaknya. Bagaimana bisa dia yang awalnya hanya berniat untuk minta maaf kini makin memperkeruh suasana. Jimin merasa dia sangat bodoh tadi. Kalau begini, hilang sudah kesempatannya mendapatkan maaf Yoongi.
Lagipula, kenapa dia bisa harus berurusan dengan dua kasus yang sama dan memusingkan seperti ini. Yah, mungkin masalah Taehyung dengan ibunya sudah selesai, tapi masalahnya dengan Yoongi tak kunjung menemui titik terang. Apalagi Jimin tak mengenal Yoongi sebaik dia mengenal bibi Kim.
Ah, Jimin hampir lupa dia berniat menelepon Taehyung tadi. Diraihnya ponsel dari saku celana, lalu menghubungi nomor Taehyung.
"Halo, Jimin-a!" Suara Taehyung sayup-sayup terdengar diantara latar belakang musik yang berisik
Jimin menjauhkan ponselnya sedikit,"Kau sedang di klub?" ia bertanya
"Iya! Ada apa?" Taehyung berseru
Jimin menghela napas,"Tidak ada. Hanya ingin tahu apakah kau masih bernapas atau tidak." Jawabnya santai,"bagaimana Jungkook?"
"Jungkook?" Taehyung meretoris,"dia ada disini. Ingin bicara dengannya?"
"Tentu."
"Halo, sunbae." Kini suara Jungkook yang terdengar
"Jungkook-a. Kau kuat juga bersama Taehyung." Jimin memulai percakapan dengan menghina sahabatnya,"kupikir kau akan menyerah setelah tahu sifat mengerikan Kim Taehyung."
Jungkook terdengar tertawa di seberang sambungan,"Dia lucu, sunbae."
Jimin butuh wastafel, dia ingin muntah.
"Ya, ya. Tentu saja." Ujarnya, sedikit lega karena Taehyung sepertinya baik-baik saja. Tanpa sadar, ia menghela napas, saat tiba-tiba teringat Jihoon yang tidak baik-baik saja dengan kakak otoriter seperti Yoongi.
Jimin bisa mendengar Jungkook berbicara dengan seseorang ditengah berisiknya klub
"Sunbae, kau mengenal Yoon Jeonghan? Dia ingin bicara denganmu. Haruskah kuberikan ponselnya?"
"Jeonghan? Oh, tentu." Jimin menjawab
"Hey, Jim! Kau tidak kemari, kawan? Semuanya sedang berkumpul."
"Ah, kurasa aku harus lewat hari ini." Jimin menghela napas pelan
"Jim, kau baik-baik saja?" Jeonghan bertanya
"Eh, aku?" Jimin tak mengerti,"aku kenapa?"
"Aku mendengarmu menghela napas barusan. Kau baik-baik saja?"
Wah, ternyata Jeonghan peka. Yah, sepertinya tidak apa-apa jika dia bercerita pada Jeonghan.
"Aku adu mulut dengan Min Yoongi siang tadi." Jimin memulai
"Min Yoongi? Kenapa bisa?"
"Karena menurutku dia otoriter. Dan aku tidak suka orang yang sok berkuasa seperti itu."
"Aku tak mengerti."
Jimin menghela napas,"Sudah seminggu ini aku mengikutinya karena ingin minta maaf. Lalu siang tadi aku bertemu Lee Jihoon saat mengikutinya, adik tiri Yoongi. Saat Jihoon pamit akan pergi ke kegiatan klub, Yoongi melarangnya tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba saja aku marah."
"Lee Jihoon?" Jeonghan meretoris,"maksudmu Lee Jihoon dari departemen musik?"
"Ya," Jawab Jimin,"kau mengenalnya?"
"Ya. Dia anggota klub paduan suara universitas. Sama denganku."
Jimin terkekeh,"Sebenarnya berapa banyak klub yang kau ikuti?"
"Aku multitalent, kau tahu." Jeonghan membalas,"tapi sepertinya aku tahu kenapa Min Yoongi bersikap seperti itu."
"Benarkah?" Jimin mendadak tertarik dengan apa yang akan Jeonghan sampaikan
"Ya, aku tahu." Jeonghan memastikan,"ingat lomba bernyanyi di festival kita semester lalu?"
"Iya, kalau tidak salah, pemenangnya Kim Donghyuk, kan?"
"Oh, tentu saja dia menang. Jika saja Jihoon tidak disabotase waktu itu, mungkin yang membawa piala bukan Haechan." Jeonghan menyebutkan nama panggung Donghyuk
"Sabotase bagaimana?"
"Klub vokal sudah ramai berbulan bulan sebelum festival dimulai, semua sibuk mempersiapkan kemampuan bernyanyi mereka. Dan diantara semua anggota, aku, Jihoon, dan Haechan yang memiliki vokal paling bagus. Jadi pelatih mengajukan kami bertiga untuk bernyanyi bersama sebagai grup." Jeonghan memulai, "Semua tahu suara tenor Jihoon yang paling bagus, jadi dia mendapat bagian itu. Tapi sepertinya Haechan tidak suka, dia ingin mendapat bagian tenor juga."
"Jadi Kim Donghyuk itu yang menyabotase Jihoon?"
"Tidak ada yang tahu pasti." Jeonghan menyangkal,"tapi yang jelas, seminggu sebelum festival, Jihoon mengalami infeksi pada tenggorokannya. Katanya karena terlalu banyak makan makanan panas, tenggorokannya terbakar. Karena itu pelatih membatalkan trio kami, dan hanya mengajukan Haechan dan aku untuk tampil."
"Lalu Min Yoongi itu mengamuk di ruang klub setelah tahu apa yang menimpa Jihoon." Ia melanjutkan,"dia nyaris memukuli Haechan jika saja tidak dilerai oleh yang lain, dan juga karena tidak punya bukti jika memang Haechan yang melakukannya."
Jimin mengerti sekarang
"Jadi begitu. Terima kasih sudah memberitahuku, Jeonghan-a."
"Tentu, Jim." Jeonghan membalas,"ini, Jungkook sepertinya mulai cemas karena ponsel Taehyung kumonopoli."
Jimin tertawa pelan, lalu suara diseberang berganti kembali dengan suara Jungkook.
"Halo, sunbae." Sapa Jungkook
"Jungkook-a, jangan lupa seret alien itu pulang sebelum jam 12 malam. Bibi Kim masih belum sepenuhnya percaya pada anak itu."
"Jam 12? Tapi Tae bilang dia bebas semalaman." Jungkook balik bertanya
Jimin menghela napas,"Coba saja kau bawa dia pulang diatas jam 12. Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada kalian berdua jika itu sampai terjadi."
"O-oke, sunbae. Akan kupastikan Tae pulang sebelum tengah malam."
"Terima kasih karena mengurangi bebanku, Jungkook-a."
"Tidak perlu sungkan, sunbae."
"Hey, mulai sekarang panggil aku hyung saja. Bagaimana pun, kau kekasih Taehyung, kan."
"Oke, hyung."
Jimin memutus sambungan, ia mengeluarkan napas panjang. Kemudian menyesap kopi dingin dalam gelas.
Min Yoongi, Lee Jihoon. Kenapa hidup kalian harus serumit ini.
Kembali pada rutinitas barunya, Jimin sedang mengobrol dengan beberapa anak departemen musik yang dikenalnya karena terlalu sering berkeliaran disekitar gedung departemen musik. Mereka sedikit banyak memberitahu Jimin tentang sifat Yoongi yang selalu dingin pada semua orang, bahkan Jihoon sekalipun.
"Jimin-a, kau benar-benar harus mendengar Yoongi memaafkanmu?" Kim Jaehwan bertanya
Jimin tersenyum tipis,"Aneh, ya. Melihatku terus berada disini."
Jaehwan mendadak salah tingkah,"Bu-bukan begitu." ia menggerakkan tangan, membentuk gestur tidak,"tapi manusia satu itu memang terkenal tidak memiliki ekspresi. Apalagi emosi."
Tatapan Jimin mendadak kosong,"Menurutmu aku harus berhenti?"
"Menurutku kau harus berhenti buang-buang waktu." sebuah suara menginterupsi pembicaraan keduanya, Jimin menoleh dan terkejut melihat Taehyung yang entah sejak kapan berada dibelakangnya.
"Kim Taehyung?" Jimin berujar,"apa yang kau lakukan disini?"
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?" Taehyung balas bertanya
"Jangan balas bertanya padaku, Taehyung-a. Kau tahu aku tidak suka." Jimin memperingatkan
Taehyung menghela napas,"Kita sudah lama tidak bertemu, dan saat aku berniat mengajakmu makan siang bersama, kau malah berada disini. Jeonghan dan Mingyu menceritakan semuanya, dan menurutku kau menggelikan!" Taehyung mengakhiri kalimatnya dengan nada sedikit lebih tinggi
Jimin tak mengerti dimana letak kesalahannya. Alien ini kenapa?
"Tae, kau sedang berkelahi dengan Jungkook?" Jimin bertanya, wajahnya tersirat bingung
Taehyung mendengus,"Tidak!" jawabnya
Jelas sekali mereka sedang berkelahi.
Jimin menghela napas,"Oke, kita bicara ditempat lain saja." ujarnya, lalu menoleh karah Jaehwan,"Aku pergi dulu, ya."
Jaehwan tersenyum,"Hati-hati."
Jimin membawa Taehyung duduk di bangku yang kebetulan mereka lewati, tak begitu jauh dari gedung musik.
"Jadi, masalah apa lagi yang kau buat?" Jimin bertanya
"Bukan aku!" Taehyung membantah, suaranya saat ini mengingatkan Jimin pada Taehyung yang dulu mengelak menghabiskan sekotak coklat saat sisa lelehan coklat itu masih tersisa dimulutnya.
"Oke, jadi masalahnya apa?" Jimin kadang tak percaya dengan tingkat kesabaran yang dia miliki saat harus menghadapi Taehyung.
"Kemarin saat kau meneleponku di klub, sebenarnya kau mengatakan apa pada Jungkook? Dia memaksaku pulang bahkan sebelum tengah malam. Wajar jika aku marah. Aku sudah besar, tidak perlu diatur-atur lagi."
Oke, Jimin mengerti letak permasalahannya.
"Kim Taehyung, kawanku, yang kemampuan berpikirnya semakin mendekati balita,"Jimin memegang bahu Taehyung keras,"aku yang menyuruh Jungkook menyeretmu pulang sebelum tengah malam, kau tahu."
Wajah Taehyung terlihat terkejut,"Kau?" serunya,"kenapa?"
TAK!
Jimin tak bisa menahan diri lagi untuk tidak memukul kepala Taehyung. Dia berharap dengan begitu otak alien dalam tengkorak itu bisa sedikit berfungsi sesuai batas normal manusia, meski sepertinya agak mustahil.
"Kau baru saja selesai dihukum setelah kabur dari rumah, dan sekarang berencana membuat ibumu naik pitam lagi karena pulang tengah malam? Yang benar saja!" Jimin balas berseru
Taehyung membuka mulut, hendak protes. Tapi urung dilakukannya, karena setelah dipikir lagi, ucapan Jimin benar juga. Entah apa yang akan terjadi jika Taehyung benar-benar pulang tengah malam.
"Otakmu sudah kembali dari liburan?" Jimin kembali menyindir, sepertinya sisi sarkas Jimin akan terus keluar saat dia bicara dengan Taehyung untuk kedepannya.
Taehyung menatap wajah Jimin untuk beberapa detik, lalu rautnya berubah pucat.
"Astaga Park Jimin!" Serunya, tepat diwajah Jimin,"apa yang harus kulakukan dengan Jungkook? Aku memarahinya habis-habisan kemarin."
Jimin kembali menahan diri untuk tidak meludahi wajah Taehyung, Memangnya marahmu seperti apa? Alien gila. Aku yakin Jungkook sedang tertawa lepas saat ini. Batinnya.
PLAK!
Jimin menampar pelan pipi Taehyung, memaksanya memalingkan wajah dari Jimin.
"Biar nanti aku coba bicara dengannya."
Taehyung tersenyum lebar, lalu memeluk erat tubuh Jimin. Digoyangkan tubuhnya dan Jimin kekanan dan kiri, saking senangnya. Jimin buru-buru melepas pelukan Taehyung, wajahnya menampakkan raut jijik.
"Peluk Jungkook saja sana, jangan aku!" Protes Jimin
Taehyung mengabaikan protes Jimin, masih dengan senyum kotak khas miliknya, dia tertawa
"Bisa apa aku tanpamu, Park Jimin." Ujar Taehyung
Jimin mencoba menyangkal jika dia tersentuh, tapi sepertinya rona merah di kedua pipi putihnya tak bisa berbohong.
"Kau bisa mati tanpaku." Jimin membalas dengan ejekkan, berusaha menyembunyikan rona wajahnya
"Benar juga." Taehyung malah menyetujui
"Oh, dan Kim Taehyung." Jimin dan Taehyung saling menatap
"Bisakah kau tidak melakukan apapun yang kepalamu katakan harus kau lakukan? Itu membuatku pusing."
Taehyung terdiam. Tak lama mengangguk. Sebenarnya dia tidak mengerti apa yang Jimin katakan. Tapi karena Jimin sahabat sehidup sematinya, dia menyetujui apapun yang Jimin katakan.
Di sisi lain, Jimin merasa kepalanya akan pecah karena harus terus mengurusi masalah Taehyung.
.
.
.
.
.
TBC
Halo semua! Gimana chapter ini?
Kali ini karena dalam kondisi yang kondusif, Qiesha setuju buat kolaborasi bareng di chapter ini.
Which is pretty shocking, since she's more of an individualist type of person
But, hey! It won't hurt, rite.
Oke, segitu aja dulu. See you in next chapter.
.
.
.
Regards, Min
