LET IT GO

.

.

.

.

.

YOONIMIN, SLIGHT VMIN

.

.

.

.

.

Chapter 5

.

.

.

.

.

Sorry for typos, enjoy!

.

.

.

.

.

Jimin tersenyum melihat layar ponselnya, menampilkan boomerang Jungkook dan Taehyung sedang tersenyum, lengkap dengan banyak stiker menggelikan, yang Jimin yakin ulah Taehyung. Sepertinya kedua makhluk aneh itu sudah berbaikan. Dan saat melihat ke caption, senyum Jimin semakin lebar saat mengetahui jika keduanya akan menghabiskan waktu berdua di rumah Jungkook selama akhir pekan, lengkap dengan ijin dari bibi Kim, dan jaminan ponsel aktif selama dua hari kedepan, sehingga mereka mudah dihubungi.

Jimin tak ingat kapan terakhir kali akhir pekannya lengang seperti ini. Biasanya akan selalu ada Taehyung yang merecokinya, meminta bantuan dengan masalah apapun yang dialaminya. Atau Jeonghan, si gila pesta yang selalu menyeretnya ke klub baru yang Jimin bahkan tak pernah tahu ada setiap minggunya.

Dan sekarang, kedua makhluk pengganggu itu sedang sibuk dengan dunianya masing-masing. Taehyung dengan kencannya, dan Jeonghan menghadiri acara menginap klub vokal. Seingat Jimin, baru minggu lalu Jeonghan menghadiri acara mendaki gunung Seorak klub pecinta alam. Entah berapa banyak kegiatan mahasiswa yang Jeonghan ikuti.

"Jimin hyung!"

Jimin sedang melamun, memikirkan kegiatan apa yang sebaiknya dia lakukan akhir pekan ini, saat seseorang memanggilnya

"Oh, halo Jihoon-a." Jimin menyapa

Jihoon tersenyum,"Kelasmu baru selesai, hyung?"

Jimin mengangguk,"Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?"

"Aku mencarimu."

"Ada apa?"

Wajah Jihoon terlihat tidak nyaman, seperti ragu ingin mengatakan sesuatu,"Aku...ingin mengajakmu jalan-jalan."

"Benarkah?"

Jihoon mengangguk kaku,"Akhir minggu ini, Haechan mengadakan pesta dua hari satu malam di vila-nya di Apgujeong. Aku hanya ingin tahu apa kau ingin ikut atau tidak?"

Jimin mengerutkan dahi, pesta? Akhir minggu? Terdengar seperti deskripsi kegiatan rutin Yoon Jeonghan. Tapi minggu ini dia bilang akan ada acara klub

"Lee Jihoon, ada yang kau sembunyikan dariku?" Mata Jimin memicing tajam, curiga

Wajah Jihoon berubah panik, ia menghindari kontak mata yang Jimin buat, sebelum akhirnya menghela napas

"Itu acara klub vokal." Jihoon mengaku,"aku berbohong pada Yoongi hyung jika kau yang mengajakku, karena dia pasti membunuhku jika sampai tahu aku mengikuti acara klub. Maaf berbohong."

Jimin menghela napas, ia menepuk bahu Jihoon,"Kau sangat ingin ikut acara ini?"

Jihoon mengangguk mantap,di matanya terlihat sekali keinginan yang kuat untuk mengikuti acara ini.

"Oke,"Jimin memutuskan,"bilang aku mengadakan pesta sepanjang akhir pekan, terserah padamu."

"Benarkah?" wajah Jihoon terlihat bersinar, saking senangnya,"terima kasih, hyung!" ia memeluk Jimin erat, refleks karena terlalu bahagia, tapi segera dilepasnya setelah sadar

Jimin tersenyum,"Kabari aku setiap beberapa jam. Berjaga-jaga jika si Min Yoongi itu menanyakan kabarmu padaku."

Jihoon mengangguk patuh,"Siap!" serunya lantang

Jimin tertawa pelan,"Kau ingin makan siang? Aku lapar."

"Ayo makan! Kali ini aku yang traktir karena kau sudah mau membantuku."

Jimin tertawa, lalu merangkul bahu Jihoon dan berjalan bersama menuju kantin universitas.


Sudah lama Jimin tidak menikmati pagi harinya dengan tenang tanpa gangguan. Dia bangun seperti biasa, menyapa ibunya yang sedang memasak sarapan di dapur dengan senyuman, dan duduk disebelah sang ayah yang sedang membaca koran pagi.

"Hari ini tenang sekali. Kemana si tetangga sebelah itu?" ayahnya bertanya, dengan mata masih tetap terpaku pada berita yang sedang dibacanya

"Taehyung menginap di rumah kekasihnya akhir pekan ini." Jimin tak bisa menyembunyikan senyuman, untuk pertama kalinya, dia bisa bebas.

"Dan kau?" sang ayah menurunkan korannya, menatap Jimin

Jimin mengerutkan dahi,"Aku?"

"Berapa umurmu sekarang? 23?" sang ayah bertanya,"kau tidak pernah dekat dengan siapapun."

Ah, Jimin mengerti kemana arah pembicaraan sang ayah. Ia tersenyum kecil,"Belum ada yang menarik perhatianku."

"Benarkah?" ibunya datang membawa sarapan, lalu duduk diseberang Jimin, setelah menata makanan,"tapi kudengar dari Kim, kau sedang sibuk mengejar seseorang beberapa hari terakhir ini."

Wajah Jimin mendadak merona, ia menunduk,"Tidak." Lirihnya, malu

"Benarkah? Siapa dia?" sang ayah ikut tertarik

"Kalau tidak salah nama keluarganya Min. Aku lupa lengkapnya." Sang ibu membalas

"Oh, ayolah!" Jimin berujar kesal,"bisa kita tidak membahas hal itu?"

Ibunya tersenyum,"Kenapa malu begitu?" ia menggoda Jimin,"sudahlah, ayo makan dulu."

Kim Taehyung sialan! Kenapa juga dia harus bercerita tentang kejadian itu pada ibunya. Alien itu benar-benar! Jimin membuat catatan dalam hati untuk membalasnya nanti.

Matahari mulai meninggi saat Jimin keluar dari kamar setelah membersihkan diri, Jimin mengambil kunci mobil dari laci meja. Ia berbalik menatap sang ayah yang sedang menonton televisi

"Aku pergi ke Itaewon." Ujarnya

"Oh, hati-hati." sang ayah merespon

Jimin membungkuk hormat, lalu pergi. Ia menyalakan mobil, lalu melesat menuju Itaewon. Tak ada alasan khusus kenapa dia ingin kesana, hanya sedang ingin melihat suasana akhir pekan yang selalu ramai disana. Mungkin berbelanja beberapa pakaian untuknya sendiri. Hari ini, Jimin berniat menghabiskan waktu sendiri, hitung-hitung refreshing.

TING!

Ponselnya berbunyi, Jimin mengambil benda pipih itu dari saku celananya. Sebuah pesan masuk dari Lee Jihoon.

"Hyung! Aku sampai di vila Haechan. Tempat ini luar biasa luas! Rencananya setelah ini kami akan makan siang, lalu karaoke. Lalu malam harinya berpesta. Kau tahu Haechan menyewa DJ untuk pesta nanti malam? Ini gila! Kau yakin tidak mau kemari? Ada Jeonghan sunbae juga disini."

Jimin tersenyum membaca pesan bersemangat Jihoon. Ia menepi untuk membalas pesan Jihoon,

"Aku ingin menghabiskan waktu sendiri hari ini. Bersenang-senanglah disana."

Jimin memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celana, lalu meneruskan perjalanan menuju Itaewon. Ia memarkirkan mobil di tempat parkir, tak jauh dari pusat perbelanjaan, lalu berbaur bersama ratusan manusia lain di Itaewon.

Jalan-jalan seorang diri seperti ini menyenangkan juga, batin Jimin. Dia bisa pergi kemanapun tanpa harus repot meminta persetujuan teman yang diajaknya. Dia harus lebih sering pergi sendiri seperti ini.

Dari kejauhan, Jimin bisa melihat kerumunan orang bersorak. Sepertinya ada pertunjukkan jalanan, biasa terjadi di pusat budaya seperti Itaewon. Jimin mendekat, mencoba melihat apa yang sedang dipertunjukkan.

Senyumnya terbit ketika melihat battle dance yang menjadi pusat perhatian. Diam-diam dia ikut menggerakkan kaki, mengikuti hentakan musik, sambil terus menyaksikan pertunjukkan.

PROKK! PROKK!

Penampilan berakhir dengan selesainya lagu. Para penari yang masih setengah kelelahan itu tersenyum, lalu membungkuk hormat pada penonton yang sejak tadi menonton pertunjukkan mereka.

"Karena hari ini hari spesial untuk kelompok underground kami, bagaimana jika salah satu dari kalian ikut adu menari disini? Siapapun yang kalah harus membelikan Pizza bagi pemenang." Seorang diantara mereka bicara

Jimin tertarik, sangat. Tapi menari didepan umum seperti ini selalu membuat dirinya tegang. Ah, mungkin tidak hari ini.

"Kau!" orang yang tadi bicara tiba-tiba menunjuk Jimin

Jimin membulatkan mata,"Aku?" dia menunjuk dirinya sendiri, masih terlihat terkejut

Orang itu tersenyum, lalu mengangguk,"Kuperhatikan kau selalu mengikuti beat musik dengan antusias. Bagaimana, tertarik mencoba?"

Jimin menggerakkan tangan cepat, menolak tawaran menggiurkan itu,"Aku tidak pandai menari."

"Oh, ayolah." Orang itu menarik tangan Jimin ketengah lingkaran,"tidak ada orang yang tidak bisa menari. Kita bersenang-senang disini, ingat?"

Jimin menggaruk tengkuknya saat musik mulai menyala kembali, orang yang tadi menariknya mulai menarik lebih dulu, membuat gerakan provokasi yang sedikit banyak membuat Jimin bersemangat. Ah, peduli setan dengan tanggapan orang. Dia akan menari sesuka hatinya hari ini.

Di pergantian antar chorus, Jimin mulai bergerak. Menggerakkan semua anggota tubuhnya mengikuti alunan musik upbeat yang dimainkan DJ. Ia tersenyum diakhir gerakan, seolah mengejek lawan dance-nya. Dadanya naik turun, kelelahan.

PROKK! PROKK!

Penonton bertepuk tangan kencang saat pertunjukkan selesai. Jimin tersenyum, kemudian menjulukan tangan kearah lawannya.

"Tarianmu bagus." Jimin memuji

Lawannya tersenyum, lalu balas menjabat tangan Jimin,"Kau bergerak sehalus itu dan bilang tidak bisa menari? Jangan terlalu merendah, kawan."

"Namaku Jimin, Park Jimin." Jimin memperkenalkan diri

"Hoshi, Kwon." Lawannya berujar,"kurasa sudah jelas siapa yang menang disini. Ayo, semuanya kutraktir Pizza!"

Sorakan terdengar dari anggota tim underground yang lain, semua terlihat senang mendapat traktiran. Dan Jimin tak memiliki alasan untuk menolak ajakan seperti ini. Selalu menyenangkan memiliki teman baru.

Peralatan dibereskan, selusin anggota Diamond, nama grup underground Hoshi, berarak bersama menuju restoran pizza terdekat. Disaat semua sibuk memilih pizza dan makanan lain yang mereka inginkan, Jimin justru sibuk mengutak-atik ponselnya. Dia penasaran, apa yang sedang Jihoon dan klub-nya lakukan. Entah kenapa, perasaannya tidak enak.

"Hey, kau tidak apa-apa?" pertanyaan Hoshi membuat lamunan Jimin buyar

Jimin mengalihkan pandangan dari ponselnya, lantas menatap Hoshi diseberang meja,"Oh, tidak apa-apa." Jimin menjawab,"hanya sedikit khawatir dengan adikku. Itu saja."

"Kau punya adik?" Hoshi tiba-tiba tertarik

"Ya," Jimin mengangguk,"junior di universitas, Lee Jihoon."

Wajah Hoshi mendadak memerah ketika Jimin menyebutkan nama Lee Jihoon. Reaksi anehnya itu menimbulkan rasa penasaran di benak Jimin. Dia merasa jika Hoshi mungkin mengenal Jihoon.

"Kau mengenal Jihoon, kan?" Jimin memastikan

Tubuh Hoshi terlihat sedikit tersentak,"B-begitulah." Gagapnya

Jimin tersenyum, ia baru akan bicara lagi saat pesanan pizza mereka datang. Oke, pertanyaan tentang Jihoon akan Jimin tahan untuk sementara. Setidaknya sampai mereka selesai makan.

Begitu 9 loyang pizza habis tak bersisa diatas meja, kelompok itu tak langsung pulang. Menurut Hoshi, sudah menjadi kebiasaan Diamond untuk mengoreksi setiap pertunjukkan mereka di hari yang sama dengan pertunjukkan, sebagai bentuk pengembangan diri. Dan tidak menutup kemungkinan akan muncul beberapa kalimat makian, yang sama sekali tak membuat satu anggota pun tersinggung, meski sebenarnya hal itu cukup mengejutkan bagi Jimin, sebagai orang luar. Mendengar kalimat kasar keluar begitu mudahnya, seolah kata-kata itu tak berarti apa-apa.

Jimin mendadak ingat dirinya yang sering menghina Taehyung didepan umum. Ah, jadi seperti ini rasanya menjadi pihak yang tak terbiasa mendengar hinaan ditempat umum. Jimin harus mengurangi sifat buruknya itu. Dia hanya akan menghina Taehyung saat tak ada orang. Tapi jangan harap dirinya bisa menghilangkan sikap sarkasnya tiap kali berhadapan dengan alien aneh itu. Mustahil baginya.

Obrolan berlanjut hingga malam menjemput, Jimin tak sadar ikut menjadi bagian kelompok barunya ini, membicarakan berbagai hal tentang menari, yang kebetulan sejalan dengan pemikirannya. Hingga akhirnya,

"Hey, Jimin." Hoshi mengalihkan pembicaraan, membuat semua mata tertuju padanya,"bagaimana jika kau bergabung dengan Diamond? Aku yakin semua orang disini setuju. Iya, kan?" Hoshi bertanya, yang direspon anggukan kepala dari para anggota lain

"Aku bergabung dengan kalian?" Jimin mengulang,"aku tidak tahu." Jawabnya pelan

"Oh, ayolah. Pasti akan seru jika kau bergabung." Di ujung meja, Kim Yugyeom berujar

"Iya, lagipula jadwal latihan kami fleksibel, tidak akan mengganggu kuliahmu." Lisa menambahkan

Jimin berpikir sejenak, sepertinya tak masalah dia ikut kelompok baru. Tak ada salahnya menambah pengalaman baru, kan.

"Baiklah." Ia memutuskan,"aku ikut!" jawabnya, lalu tersenyum

Seruan senang anggota yang lain memenuhi restoran, mereka sampai harus mendapat teguran dari pelayan restoran karena mengganggu kenyamanan pelanggan yang lain. Jadi, mereka memutuskan untuk pindah ke tempat lain, mungkin minum-minum, untuk merayakan bergabungnya Jimin dalam Diamond.

DRRT! DRRT!

Ponsel Jimin mendadak bergetar, ia meraih benda pipih itu dari dalam saku celananya, lalu mengerutkan dahi melihat nama 'Yoon' tertera pada layar. Untuk apa Jeonghan meneleponku?, batinnya.

Ia mengangkat panggilan itu.

"Park Jimin!" teriakan melengking Jeonghan menjadi yang pertama menghampiri telinga Jimin, membuatnya harus menjauhkan ponselnya beberapa senti dari telinga

"Ada apa?" Jimin berujar, sedikit kesal

"Ke rumah sakit sekarang! Penting!" Jeonghan menolak menurunkan intonasi suaranya, sepertinya dia sedang panik

"Tenang dulu, tarik napas." Jimin memerintahkan, ia bisa mendengar Jeonghan mengikuti perintahnya,"katakan apa yang terjadi?"

"Jihoon!" Jeonghan berujar, menurunkan sedikit teriakannya,"Jihoon kecelakaan!"


Jimin berlari secepat yang dia bisa menuju ruang gawat darurat. Begitu mengetahui Jihoon kecelakaan, dirinya seolah lupa jika sedang berkumpul bersama grup barunya dan langsung melesat pergi ke rumah sakit. Hanya satu yang ada di pikirannya saat ini, keselamatan Jihoon.

"Jeonghan-ah!" serunya, saat melihat Jeonghan yang tampak pucat berdiri didepan ruang gawat darurat, ia menghampiri temannya itu,"ada apa?"

Jeonghan menatap Jimin takut, ia menggigit jari tangannya, tanda jika dirinya benar-benar ketakutan.

"B-bagaimana ini, Jimin-a?" Jeonghan berujar, takut,"bagaimana jika Jihoon tidak bisa bangun lagi?" racaunya

Jimin mencengkeram kedua bahu Jeonghan kuat,"Sadarlah! Katakan apa yang terjadi!" tuntutnya, mulai ikut panik

"K-kami hanya keluar sebentar membeli minum." Jeonghan memulai,"l-lalu...lalu orang itu datang...a-aku tidak bisa menahannya-" kalimatnya terputus saat tungkainya tak lagi bisa menahan berat tubuhnya, dan terduduk di lantai rumah sakit, Jeonghan mulai menangis

"Maafkan aku, Jimin-a!" racaunya,"aku tidak...hiks...bermaksud menyakiti Jihoon."

Jimin menghela napas, lalu membantu Jeonghan duduk di bangku tunggu rumah sakit. Ia mencoba menenangkan diri, tak ada gunanya panik disaat seperti ini.

CLIK!

Pintu ruang gawat darurat terbuka, seorang suster menghampiri keduanya

"Siapa penjamin tuan Lee Jihoon?" ia bertanya

"Aku kakaknya." Jimin berujar, tanpa pikir panjang

Suster itu tersenyum,"Anda bisa masuk menemui pasien sekarang."

Jimin mengikuti suster kedalam ruang gawat darurat, diikuti Jeonghan dengan wajah menatap lantai beberapa langkah dibelakangnya.

Brankar disudut ruangan ditiduri seseorang yang sangat Jimin kenal, ia bergegas menghampiri Jihoon, menatapnya cemas.

"Jihoon-a, kau kenapa?" ujarnya, panik

Diluar dugaan, Jihoon tersenyum,"Aku tidak apa-apa, hyung. Hanya luka gores, bukan masalah besar."

Jimin menghela napas berat,"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Aku dan Jeonghan sunbae pergi ke minimarket untuk membeli bir dan cemilan, karena persediaan di vila habis. Tiba-tiba kami dihadang beberapa orang dijalan, mereka mau merampok kami. Aku dan Jeonghan sunbae sempat melawan, tapi aku terkena sial dan tergores pisau salah satu dari mereka." Jihoon menjelaskan, kemudian menunjukkan perban baru dengan sedikit bercak merah di perutnya.

Jimin bergidik ngeri melihatnya,"Kau mendapat jahitan?"

Jihoon mengangguk,"Hanya 5 jahitan. Lukanya juga tidak dalam." ia menjawab,"Tapi hyung, sepertinya bukan aku yang harus kukhawatirkan saat ini."

"Maksudmu?" Jimin mengerutkan dahi, tak mengerti

"Ada orang lain yang-Astaga!"

BUGH!

BRUKK!

Jimin tak siap saat tubuhnya dibalik paksa dan dihadiahi pukulan keras di wajah sebelah kirinya, jadi wajar jika dirinya jatuh, diikuti teriakan kaget para suster yang menyaksikan kejadian cepat barusan.

"AKU MEMPERCAYAKAN ADIKKU PADAMU BUKAN UNTUK KAU BUAT TERLUKA, BAJINGAN!"

Jimin butuh waktu selama beberapa detik untuk sepenuhnya menyadari apa yang baru saja terjadi. Tatapan marah Min Yoongi yang entah kapan datang, rahangnya yang terasa sakit, dan seruan Jihoon.

Jimin berdiri, berhadapan langsung dengan Yoongi yang wajahnya masih memerah saking marahnya

"Kau pikir aku ingin ini terjadi?" Jimin berujar pelan, intonasi suaranya penuh penekanan, menahan emosi

"Kau pikir aku ingin Jihoon berada dirumah sakit seperti ini?" Suaranya meninggi

Situasi keduanya makin tegang, Jeonghan memberanikan diri maju dan melerai keduanya. Sambil berkata jika perkelahian mereka hanya akan membuat Jihoon semakin sakit. Kalimat itu kemudian diambil kesempatan oleh Jihoon dengan berpura-pura sakit. Keduanya spontan berhenti saling melempar tatapan seolah ingin membunuh satu sama lain.

Jimin mengalah dan memilih untuk keluar dari ruang gawat darurat, dan duduk di luar instalasi. Matanya terpejam, terlihat sangat kelelahan. Jeonghan menghampiri perlahan, dan duduk disebelah Jimin.

"Maaf." Jeonghan berujar lirih

Jimin tertawa pelan, masih dengan mata terpejam,"Kau tidak terdengar seperti dirimu, payah dan ketakutan seperti ini."

"Aku serius!" Jeonghan berujar kesal,"aku benar-benar menyesal mengajaknya. Jika saja aku tak mengajaknya, mungkin yang akan berbaring disana aku, bukan dia."

"Aku tak mengerti letak positifnya, Yoon Jeonghan-ssi." Jimin membuka mata, menatap datar teman satu fakultasnya itu

Jeonghan menghela napas,"Setidaknya jika aku yang berada disana, hubunganmu dengan Min Yoongi yang sudah kau usahakan sejauh ini tidak akan rusak dan kembali ke titik nol."

Jimin terkekeh,"Memangnya sudah sejauh apa hubunganku dengan Min Yoongi? Kau meracau, Jeonghan-a."

Jeonghan mengerutkan dahi,"Kupikir kau menyukainya." Jeonghan berujar,"lalu kenapa kau terus mengejarnya selama ini jika tidak menyukainya?"

"Bukannya sudah kubilang kalau itu hanya untuk meminta permintaan maafnya."

"Oh, kupikir itu hanya alasan karena kau malu."

Jimin menghela napas. Baru tadi pagi orangtuanya menggosipi dirinya jika Jimin menyukai Yoongi, sekarang giliran Jeonghan mengira dirinya menyukai Yoongi. Sebenarnya ada apa dengan semua prasangka ini? Apa orang-orang disekitarnya mengira dirinya seputus asa itu mencari pasangan.

Jimin berdiri, lalu menatap Jeonghan.

"Ayo, aku antar kau pulang." Jimin mengajak Jeonghan

"Pulang?" Jeonghan mengulang,"bagaimana dengan Jihoon?"

"Tak ada yang bisa kau lakukan disini. Jihoon sudah baik-baik saja, dan bersama kakaknya. Jadi sebaiknya kita pulang, dan kembali lagi besok untuk menjenguknya."

Jeonghan terdiam, kemudian mengangguk.

Beruntung rumah Jeonghan satu arah dengan rumahnya, jadi Jimin tak perlu repot putar balik ditengah jalanan macet, tipikal malam minggu yang selalu membuat Jimin kesal setengah mati tiap kali diseret Jeonghan ke salah satu klub baru yang ditemukannya.

CRINGG!

Jimin melempar asal kunci mobilnya keatas meja televisi, kemudian meempar tubuh keatas sofa ruang tamu. Ia menghela napas, hari ini pun dirinya tak bisa bersantai seperti orang normal.

"Oh, kau sudah pulang."

Jimin berbalik, sedikit terkejut melihat Taehyung dengan kaos putih polos dan celana pendek hitam berjalan menghampirinya sambil mengunyah cemilan, yang Jimin yakin dicurinya dari lemari cemilan miliknya.

"Bukannya kau sedang bersama Jungkook sekarang?" Jimin bertanya, tak mengerti

"Halo, Jimin hyung." Jungkook muncul dari dapur, mengenakan pakaian santai seperti Taehyung, ia tersenyum kearah Jimin

"Kenapa kalian berdua ada dirumahku?" Jimin semakin tidak mengerti

Taehyung duduk disebelah Jimin, masih dengan mulut penuh makanan, ia menatap sahabatnya dengan tatapan lucu khas miliknya,"Kakak Jungkook mengundang teman-temannya menginap juga. Jadi kami mengalah dan pergi."

"Oke, aku bisa paham bagian itu," Jimin memotong,"tapi kenapa dirumahku? Demi Tuhan, rumah kita bersebelahan, Kim Taehyung."

Taehyung tersenyum lebar,"Ibu tidak membolehkanku menyimpan jajanan seperti ini karena takut gigiku berlubang. Jadi aku dan Jungkook akan menginap disini dan menghabiskan makanan simpananmu tanpa berisik." Taehyung tersenyum tanpa dosa,"bibi Park sudah memberi ijin. Dia dan paman pergi bersama ibuku, entah kemana. Jadi, katanya kau yang bertanggung jawab atas rumah ini sampai mereka kembali." Ia kembali menjelaskan

Jimin menahan napas. Bencana macam apa lagi ini? Belum cukup masalahnya dengan Yoongi di rumah sakit, tak sampai satu jam yang lalu, kini dirinya harus mengurus dua anak balita dengan kemampuan merusak setara Kraken? Oh ayolah! Bagaimana bisa orangtuanya dan bibi Kim tega melakukan ini padanya?

"Terserahlah." Jimin menyerah,"hancurkan rumah ini dan isinya, aku tidak peduli."

Jimin menyeret diri masuk kedalam kamar. Ia berbaring diatas ranjang, menatap kosong langit-langit kamar. Ini bahkan baru hari sabtu, dan sudah banyak kejadian menimpanya, lebih dari biasanya. Jimin tak yakin dia bisa selamat menghadapi hari minggu dan bersikap normal di hari senin.

CKLEK!

"Ya, manggaetteok." Taehyung masuk tanpa mengetuk dan langsung mengejek Jimin, berharap mendapat atensinya

Tapi diluar perkiraan, Jimin tak merespon apa-apa. Biasanya, Jimin akan melemparinya dengan benda apapun yang ada didekatnya saat Taehyung memanggilnya manggaetteok.

Taehyung mendekat, dan duduk di pinggir ranjang Jimin. Jungkook datang tak lama setelahnya, bingung dengan atmosfer aneh yang ruang ini miliki. Dirinya bergabung dengan duduk di lantai, bergantian menatap Taehyung dan Jimin.

"Kau sedang ada masalah, kan." Taehyung menebak,"ingin bercerita?"

Jimin menghela napas, ia merubah posisi cepat menjadi duduk, lalu mengusak kepalanya kasar, ditambah helaan napas keras.

Wajahnya mengerut,"Aku tidak percaya ini!" serunya, dan mulai bercerita semua yang dialaminya seharian ini. Taehyung dan Jungkook mendengarkan tanpa menyela.

Biasanya Jimin yang akan menjadi sasaran kekesalan Taehyung. Tapi kini keadaan berbalik, Jimin yang meracau mengeluarkan semua kekesalannya dihadapan Taehyung dan Jungkook.

"Aku lelah!" Jimin mengakhiri cerita, menggeleng frustasi sementara kedua orang didepannya diam, tak tahu harus memberi respon apa

"Uh, hyung." Jungkook mencoba bersuara,"instingku mungkin salah, tapi kurasa semua itu terjadi karena sebuah alasan."

Jimin menatap Jungkook, menunggu kelanjutkan kalimat

"Pernah dengar kalimat, jangan terlalu membenci musuhmu, nanti kau jatuh cinta?"

Jimin mengerutkan dahi,"Apa itu?"

CTAK!

Taehyung menjentikkan jari,"Aku tahu!" serunya,"Tinkerbell, kan?"

Jungkook tersenyum,"Benar!"

Jimin makin tidak mengerti. Sebenarnya obrolan macam apa ini?

"Bisa tolong bicara dengan bahasa yang kumengerti?" Jimin berujar

"Begini, Chim-chim,"Taehyung akan mendapat pukulan dikepala setelah ini,"ada seorang peri bernama Tinkerbell yang selalu berkelahi dengan peri lain bernama Terence. Mereka selalu adu mulut tiap kali bertemu, seluruh Neverland mengetahui hal itu. Tapi lama-kelamaan, Tinkerbell menyadari sesuatu. Jika orang yang selalu ada disaat dirinya sendiri dan butuh ditemani adalah Terence. Jadi dia mencoba berbaikan dengan Terence."

"Dan akhirnya mereka jatuh cinta!" Jungkook menyela dengan berseru senang

"Tidak, mereka tidak jatuh cinta." Taehyung menyanggah, tak setuju

"Oh, ayolah. Disney tidak mungkin menyiarkan secara eksplisit karena kartun ini tontonan anak-anak." Jungkook tak mau kalah

"Lalu bagaimana dengan kisah putri yang lain? Kau masih mau bilang jika adegan percintaan itu tidak eksplisit?"

Jimin tak percaya ini. Bisa-bisanya dia terbawa obrolan ini. Menyesal dirinya mempercayai omongan kedua makhluk ini sebelumnya. Hilang sudah sedikit kepercayaannya yang tersisa. Memang tidak baik mempercayai alien dan balita seperti mereka.

TAK! TAK!

Jimin memberikan masing-masing sebuah jitakan di kepala

"Pergi, sebelum kubuat kalian menangis." Jimin mengancam

Keduanya tak menyisakan sedetik lebih lama kesempatan kabur mereka dan langsung menghilang dibalik pintu kamar dalam hitungan detik. Jimin menghela napas, lalu membanting tubuh kembali ke ranjang.

Tinkerbell...Terence...


Jimin bangun dari tidurnya dengan perasaan kesal yang sama seperti kemarin. Ia melirik jam lalu menghela napas saat mengetahui dirinya tidur hingga siang. Ah, sudahlah. Lebih baik sekarang dirinya bangun dan mempersiapkan diri dengan bencana apapun yang Taehyung dan Jungkook perbuat selama dirinya tidur.

"Selamat pagi, Jimin-a!" Taehyung menyapa, apron pink milik sang ibu membalut tubuhnya, lengkap dengan spatula di tangan

Jimin mengerutkan kening,"Sejak kapan alien sepertimu bisa memasak?"

"Aku?" Taehyung menunjuk diri sendiri menggunakan spatula,"aku hanya membantu Jungkook. Tenang saja, Jungkook pandai memasak, aku pernah mencobanya."

"Oh, selamat pagi, hyung." Jungkook muncul dengan sepiring besar berisi Pancake, ia meletakkan Pancake itu diatas meja.

Jimin duduk dimeja makan, masih dengan tatapan curiga. Apakah ini ketenangan yang muncul sebelum badai?

Jungkook mengambilkan Pancake untuk Taehyung dan Jimin, lalu makan dengan tenang. Jimin mulai menurunkan tingkat kewaspadaannya, dan mulai menyantap sarapan buatan Jungkook. Hm, masakannya tidak buruk.

"Jimin-a, ayo pergi ke rumah sakit."

"Uhukk!" Jimin nyaris tersedak saat Taehyung tiba-tiba mengusulkan ide itu, ia meminum air miliknya dengan cepat, lalu menatap Taehyung,"rumah sakit?"

Taehyung mengangguk,"Aku dan Jungkook berdiskusi semalaman, dan kami memutuskan untuk membantumu mendekati Yoongi."

Jungkook mengangguk setuju,"Karena kau pernah membantuku mendekati Taetae." Ia menambahkan

"Sudah kubilang aku tidak suka pada Yoongi!" Jimin memprotes,"kenapa kalian sangat berambisi memasangkanku dengannya, sih?"

Taehyung memandang Jimin datar,"Dulu juga aku tidak menyukai Jungkook." Ia membuat pembelaan,"lalu lihat apa yang terjadi sekarang."

Jimin menghela napas,"Itu bisa terjadi karena Jungkook memang menyukaimu, alien idiot!" Jimin tak bisa menahan makiannya,"sementara aku dan Yoongi sama-sama saling tidak menyukai."

"Kau yakin, hyung?" kini Jungkook yang bertanya

"Sangat yakin." Jimin berujar, mantap

"Jadi kau bisa jelaskan kenapa waktu kau menyusul kami ke Busan, kau bisa menginap di rumah Yoongi? Atau saat Yoongi meminta Jihoon mengantarkan cokelat di kantin waktu itu? Atau," Jungkook menjeda kalimatnya,"saat Yoongi marah di rumah sakit dan berkata jika kau mengkhianati kepercayaannya?"

"Pertama, Yoongi menghampiriku karena Jihoon yang meminta. Kedua, cokelat itu memang sudah sepantasnya kuterima karena telah membantu adiknya, memangnya salah seseorang memberikan sesuatu sebagai bentuk balas budi? Dan ketiga, aku memang mengingkari kepercayaannya, wajar dia marah." Jimin merasa puas dengan jawabannya.

"Ya, dan menurutmu ada berapa banyak pantai di Busan sana. Kau tidak mengatakan di pantai mana, atau hotel apa kami menginap, kan." Taehyung berujar, nadanya terdengar mengejek,"kalau aku jadi Yoongi, masa bodoh dengan permintaan aneh adikku yang mintaku mencari orang asing yang sedang tertidur di pantai. Apalagi lokasinya tidak jelas. Menurutmu berapa lama dia mencarimu sampai ketemu? Di tengah malam seperti itu."

Jimin terdiam

"Dari sekian juta benda yang ada di bumi ini, kenapa harus cokelat? Bukankah lebih etis jika membalas budi dengan membelikan makanan? Atau memang Yoongi menganut budaya negara lain dimana memberikan cokelat ke orang asing dianggap normal." Jungkook meneruskan

Lagi, Jimin tak bisa berkata apa-apa

"Dan kenapa Yoongi itu harus sampai semarah itu padamu? Harusnya yang mendapat pukulan itu Jeonghan, karena dia ada disana. Lalu kenapa Yoongi harus melampiaskan kekecewaannya padamu?"

Kalimat terakhir dari Taehyung benar-benar membungkam Jimin. Sejak kapan dua makhluk dengan kecerdasan setingkat anak-anak ini melejit hingga ke level pujangga? Apa alien semalam datang kerumah dan mengutak-atik otak keduanya seperti dalam film?

"Jadi, kau akan tetap ikut dengan kami ke rumah sakit." Taehyung mengambil keputusan sepihak

Sementara Jimin tetap diam

.

.

.

.

.


TO BE CONTINUED


.

.

.

Hey! It's still weekend, right? Sorry for the very late update

I kept on getting distracted

But thanks to Min, I can finish this chapter

And I have a question, tbh.

Do you want me to end this story in the next chapter, or 2 more chapter?

Bcs Min, me, and crazehun can't decide. We argue a lot because of it

.

.

.

Love, Qiesha