LET IT GO

.

.

.

.

.

YOONIMIN, SLIGHT VMIN

.

.

.

.

.

Chapter 6

.

.

.

.

.

Sorry for typos, enjoy!

.

.

.

.

.

Jimin memang berencana untuk kembali menjenguk Jihoon hari ini, bersama Jeonghan. Bukan bersama dua makhluk aneh yang saat ini sedang berbisik-bisik tepat didepan matanya seolah dirinya hanya patung. Jimin menghela napas, dirinya bisa mati muda jika harus berurusan dengan dua makhluk aneh bin ajaib ini terus.

TING!

Pintu lift terbuka, dan Jimin tak menyisakan detik lebih lama untuk beranjak dari sudut lift, meninggalkan pasangan yang masih sibuk 'bercengkerama' didalam lift. Ia berbelok menuju lorong sebelah kanan, dan berhenti di depan pintu kamar nomor 312. Jimin menarik napas sebelum menggeser pintu kamar rawat itu.

SREKK!

"Mau apa kau kemari?"

Jimin menahan napas, harusnya dia tahu dia akan mendapat perlakuan seperti ini.

Ia mengeluarkan senyumannya, sebisa mungkin berusaha sabar menghadapi sikap dingin Min Yoongi.

"Aku datang ingin menemui Jihoon, bukan dirimu." Ujarnya, dengan nada yang luar biasa tenang, lalu mendekati ranjang Jihoon, tepat di seberang Yoongi.

"Hai, Jihoon-a." Jimin menyapa

Jihoon tersenyum,"Kau kemari lagi, hyung? Kupikir kau ingin berlibur akhir pekan ini."

Jimin tertawa pelan,"Mana mungkin aku bersantai-santai sementara adikku terbaring di rumah sakit seperti ini."

"'Ck,"

Decakan Yoongi membuat Jimin dan Jihoon menatap kearahnya. Telapak tangan Jimin mengepal di balik ranjang.

"Adik?" Yoongi berujar,"jangan membuatku tertawa."

Jimin menahan diri untuk tidak membuat keributan, ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya,

"Yoongi-ssi," panggilnya, menarik perhatian Yoongi,"kapan kau membantu Jihoon keluar dari masalahnya?"

Yoongi mengerutkan kening,"Maksudmu?"

"Saat Jihoon dipukuli karena mempertahankan tugasnya, apa kau yang menolongnya? Ah, aku yakin Jihoon bahkan tak berani mengatakan kejadian itu padamu." Jimin tertawa remeh

"Hyung!" Jihoon mendadak panik, ia melirik takut kearah Yoongi, sambil memegang lengan Jimin, memintanya untuk berhenti

"Atau saat ini, detik ini, dia terbaring di rumah sakit," Jimin mengabaikan cengkeraman erat Jihoon di lengannya, dan kembali melanjutkan,"apa kau pernah bertanya padanya apa yang terjadi? Apa kau pernah, untuk sekali saja dalam hidupmu, memikirkan perasaan Jihoon?"

Ruangan mendadak hening. Bahkan Taehyung dan Jungkook yang baru membuka pintu harus kembali menutupnya dari luar karena tak ingin mengganggu pembicaraan tiga orang didalam.

Jimin menatap Yoongi, menunggu jawaban,

"Ya?" Jimin mendesak Yoongi,"kau tak pernah bertanya apa yang dia inginkan dan kau secara sepihak berkata jika semua yang kau lakukan adalah untuk melindunginya." Ia mengeluarkan semua kata-kata yang selama ini terpendam di benaknya,"Aku anak tunggal, tapi aku tahu membantu orang tanpa persetujuannya, apalagi menyatakan diri sebagai kakaknya, itu hal yang salah."

Yoongi menatap kosong seprai dihadapannya, untuk sesaat, dia tampak sedang mencerna kata-kata Jimin barusan. Pandangannya kemudian dia arahkan pada Jihoon,

"Jihoon-a,"

Tubuh Jihoon menegang saat Yoongi memanggil namanya

"Apa itu benar?" Yoongi bertanya,"apa kau tidak suka aku melindungimu dengan cara seperti ini?"

"H-hyung, b-bukan...bukan begitu,"Jihoon tergagap, ia menatap panik kearah Yoongi,"aku tidak-"

"Hahh..."helaan napas Yoongi membuat kalimat Jihoon tertahan, ia menatap Jihoon dengan tatapan terluka,"maaf, ya. Karena tidak bisa menjadi kakak yang baik."

"Hyung..."Jihoon merasa ingin menangis sekarang

"Aku...butuh udara." Yoongi berujar datar, sebelum beranjak pergi meninggalkan ruangan. Ia menatap datar Taehyung dan Jungkook yang ternyata menguping diluar entah sejak kapan.

"Jimin hyung, bagaimana ini?" Jihoon bertanya, raut wajahnya terlihat panik

Jimin mengerutkan dahi, tampak berpikir apa yang seharusnya dia lakukan. Ia lalu memegang bahu Jihoon, lalu tersenyum,

"Biar aku bicara dengannya."

Jihoon mengangguk, sebelum mengijinkan Jimin pergi menyusul Yoongi.

"Ya, kau lihat Yoongi pergi kemana?" Jimin bertanya pada Taehyung dan Jungkook di ambang pintu

Keduanya serempak menunduk kearah tangga darurat, Jimin tersenyum tipis, lalu berlari mengejar Yoongi.

"Jadi...kita pulang sekarang?" Taehyung menatap Jungkook

TAK!

Jungkook menjitak kepala Taehyung,"Kita kesini untuk menjenguk Lee Jihoon, alien bodoh!" serunya, kesal

"Oh, benar juga."

.

.

.

Jimin bisa melihat bayangan seseorang naik keatas atap rumah sakit. Ia mengatur napasnya sejenak, lalu kembali berlari menaiki tangga menuju pintu atap.

CKLEK!

Kosong. Tak ada siapa-siapa begitu Jimin sampai keatas. Kemana Yoongi pergi?

"Kenapa menyusulku?"

Jimin berjengit kaget, nyaris terjatuh ketika melihat Yoongi bersender disebelah pintu atap.

"Astaga! Kau mengagetkanku!" Jimin menyeru, kesal

Yoongi menatapnya datar, tanpa ekspresi. Jimin menghela napas, ia menatap langsung mata Yoongi,

"Aku datang untuk minta maaf."

"Apa hobimu meminta maaf, Jimin-ssi?" Yoongi berujar, sarkas

Jimin menghela napas,"Ya, aku memiliki masalah mengendalikan mulut." Jimin membalas tak kalah sarkas

Yoongi berkedip beberapa kali, lalu berjalan menuju tembok pembatas atap. Ia menyenderkan tubuh pada pinggiran tembok, memandangi pemandangan kota Seoul dalam diam. Jimin ikut bersender disebelahnya, tak tahu lagi harus berkata apa.

"Menurutmu aku mengekang Jihoon?" Yoongi membuka mulut, berbicara

Jimin menoleh, menatap sisi wajah Yoongi yang terlihat sempurna,"Ya." ia menjawab tanpa ragu

Yoongi terkekeh, lalu menunduk,"Kupikir aku sudah melakukan yang terbaik. Ternyata aku justru menambah penderitaan Jihoon."

"Kau pasti tahu keadaan keluargaku," Yoongi tiba-tiba bercerita,"dan aku yang pantas disalahkan untuk semua itu."

Jimin memiringkan kepala, tak mengerti.

"Jika saja aku tidak mencoba menguping pembicaraan ibu dan ayah hari itu, tentang ibu yang sudah tidak bisa mengandung lagi, dan memaksanya membuatkan adik untukku," Yoongi menyalahkan dirinya sendiri,"jika saja aku tidak meminta ayah membawa Jihoon untuk menjadi adikku karena ibu tidak bisa memberikan adik."

Tes...

Sebutir kristal bening terjatuh dari mata Yoongi, diikuti isakan pelan si rambut cokelat.

"...semua ini tidak akan terjadi." Yoongi menyelesaikan kalimatnya, disela isakan

Jimin menatap iba laki-laki didepannya, ternyata Yoongi selama ini memendam rasa bersalah pada dirinya sendiri. Astaga, kenapa masalahnya jadi serumit ini?

"Yoongi-ssi," Jimin memanggil pelan, tak ada repon dari sang pemilik nama, dirinya masih sibuk menyesali semua perbuatannya

Jimin menghela napas, tangannya terkepal erat sebelum,

Sret!

Ia membalik tubuh Yoongi, mencengkeram kedua bahunya erat, membuatnya menghadap kearah dirinya. Sebelah tangannya ia bawa untuk mengangkat dagu si pucat, menatap lembut sepasang hazel yang kini berlinang air mata.

"Ini bukan salahmu." Ia berkata lembut,"Sama sekali bukan salahmu."

Yoongi menatap Jimin tak mengerti, kenapa Jimin jadi begitu baik dengannya? Setelah semua yang telah dilakukannya untuk membuat Jimin menjauhinya, kenapa orang ini masih tetap berada didekatnya? Orang ini aneh.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri," Jimin melanjutkan,"Jihoon tidak membencimu, itu satu hal yang harus selalu kau ingat."

"T-tapi, aku yang-"

"Kau menyelamatkannya!" Jimin memotong racauan Yoongi,"ku menyelamatkan hidupnya, Min Yoongi." Jimin kembali menegaskan,"Jika kau tidak mengangkatnya menjadi adikmu, mungkin dia sudah mati bertahun-tahun yang lalu."

Pupil mata Yoongi membesar, tak menyadari semua itu selama ini.

"Kau kakak yang baik, Yoongi-ssi." Jimin tersenyum diakhir kalimat

Kalimat terakhir Jimin membuat Yoongi merasa aneh. Seperti ada sesuatu di perutnya, perasaan apa ini?

Senyuman di wajah Jimin semakin lebar ketika melihat wajah pucat Yoongi mengeluarkan rona merah.

Yoongi mendorong tubuh Jimin menjauh, malu dengan penampilannya. Ia mengusap kasar sisa air matanya, lalu memandang ke arah Seoul, menghindari tatapan Jimin.

"Jadi, merasa lebih baik?"

Yoongi mengangguk kaku, masih malu ketika mengingat kembali dirinya baru saja menangis didepan Jimin. Kenapa juga dia tadi terbasa suasana seperti itu?

Jimin mengerutkan kening, apa Yoongi baru saja mengabaikannya? Yah, Yoongi memang selalu mengabaikannya. Tapi setelah kejadian tadi, Jimin pikir Yoongi sudah mau terbuka dengannya.

Tapi kenapa juga Jimin harus kesal? Sebenarnya ada apa dengan dirinya?

"Hey," Tangan Jimin terangkat, ingin menyentuh bahu Yoongi, tapi sang pemilik bahu justru bergeser menjauh. Jimin makin bingung dengan perubahan Yoongi yang terlalu tiba-tiba ini.

"Oh, maaf." Jimin menurunkan tangan,"kupikir kita memiliki sesuatu tadi. Harusnya aku tidak melewati batas, ya." Ia tersenyum miris, lalu kembali menatap Yoongi,"sepertinya kau butuh waktu untuk berpikir. Aku akan kembali ke kamar Jihoon."

GREP!

Jimin baru saja berbalik badan, ketika tangannya ditahan oleh Yoongi. Ia menatap Yoongi, bingung.

"Tetap disini." Yoongi berujar datar

"O-oke." Jimin tergagap, meski bingung dengan sikap Yoongi, dia mengikuti permintaannya dan kembali menyenderkan tubuh ke tembok pembatas atap. Menatap tanpa minat pemandangan didepannya.

.

.

.


.

.

.

Setelah kejadian di atap rumah sakit minggu lalu, sikap Yoongi yang dari awal sudah aneh, semakin menjadi aneh. Jimin merasa jika Yoongi menghindarinya, bukan mengabaikannya seperti biasa.

"Hyung, kau dan Yoongi hyung membicarakan apa minggu lalu?" Jihoon tiba-tiba bertanya, keduanya sedang bersantai di rumah Jimin saat ini. Permintaan sang ibu, karena Jimin jarang menceritakan orang lain selain Taehyung dan Jungkook, menurutnya Jimin harus memiliki lebih banyak teman lagi.

"Eh,"Jimin menoleh, menatap Jihoon,"memangnya kenapa?"

"Yoongi hyung jadi sering melamun." Jihoon menjawab,"dia memang tidak banyak bicara, tapi pasti ada saja yang dikerjakannya, menulis lirik, bermain piano. Tapi setelah kembali dari atap itu, dia jadi lebih banyak melamun dengan tatapan kosong."

Jimin terdiam,"Aku...tidak tahu." jawabnya,"akhir-akhir ini dia juga menghindariku."

DRRT!

Ponsel Jimin tiba-tiba berbunyi, panggilan masuk dari Hoshi. Jimin mengangkatnya,

"Halo, Hoshi-ya."

Tanpa Jimin sadari, Jihoon menatap kearahnya dengan tatapan terkejut.

"Jimin hyung, kau ada dimana sekarang?" Hoshi bertanya diseberang sambungan, dirinya seperti sedang berada di tempat ramai, karena sekitarnya terdengar berisik

"Aku dirumah." Jawab Jimin,"ada apa?"

"Kau ada waktu malam ini? Lee Chan mengundang anak-anak Diamond melihat penampilan DJ perdananya di klub."

"Benarkah?" Jimin memastikan, ia melirik Jihoon yang tampak penasaran dengan pembicaraannya,"boleh aku membawa temanku?"

"Oh, tentu." Hoshi menjawab tanpa curiga, yang lalu membuat Jimin tersenyum misterius.

"Oke, kirimkan aku alamatnya. Aku akan kesana malam ini."

"Tentu, hyung."

Pip!

Sambungan terputus, Jimin meletakkan ponselnya dilantai. Ia menatap Jihoon, sambil tetap tersenyum

"Jihoon-a, kita ke klub malam ini." Ajak Jimin

"Klub?" Jihoon mengerutkan dahi,"hyung, aku tak yakin Yoongi hyung akan mengijinkan."

"Urusan itu biar aku yang tangani." Jimin memberi pengertian

Jihoon hanya mengangguk menyetujui.

BRAKK!

"Manggaetteok! Aku datang!"

Jimin benar-benar akan membunuh alien ini!

"Manggaetteok?" Jungkook bertanya, bingung. Sementara Taehyung hanya mengangguk polos,

"Ya, kue beras. Kau tahu wajahnya itu sangat mirip kue-"

BUGH!

Kalimat Taehyung teredam lemparan bantal dari Jimin.

"Berani melanjutkan kalimat, mati kau, Kim Taehyung." Jimin mengancam, wajahnya merah padam, menahan emosi

Jungkook dan Jihoon mati-matian menahan tawa. This is pure gold! batin keduanya.

"Mau apa kau kesini?" Jimin mengalihkan topik.

"Ah, benar juga." Taehyung teringat,"aku sedang ingin minum malam ini. Kau mau ikut?"

"Kau yang traktir?" Jimin bertanya, memastikan

"Tentu saja!" Taehyung berujar, bangga

Jimin tiba-tiba terpikirkan sebuah ide. Ia berdiri, lalu menarik Jungkook keluar bersamanya.

Jimin tersenyum, sementara Jungkook menatapnya bingung.

"Jungkook-a, kau mau membantuku?" Jimin bertanya

"Membantu apa, hyung?" tanya Jungkook

"Ada seseorang yang kurasa menyukai Jihoon." Jimin memulai,"dan orang itu mengundangku ke klub malam ini. Aku ingin membantunya."

Jungkook menatap Jimin, tak mengerti.

Jimin menghela napas, apa efek samping terlalu lama bergaul dengan Taehyung membuat fungsi otak Jungkook ikut menurun? Tapi Jimin tak pernah mengalami penurunan fungsi otak seumur hidup menjadi teman Taehyung. Ah, mungkin dirinya sudah kebal.

"Jeon Jungkook, hoobae-ku tersayang,"Jimin mencoba sabar, lama-lama bicara dengan Jungkook sama sulitnya dengan bicara bersama Taehyung,"aku ingin membantu Jihoon mencari kekasih."

"Oh," Jungkook berujar paham, ia tersenyum,"oke, akan kubantu."

Jimin menepuk bahu Jungkook,"Terima kasih, kook-a."

Keduanya kembali kedalam kamar, dimana Taehyung dan Jihoon sedang terlibat pembicaraan serius tentang warna mana yang lebih terang, biru dongker atau hijau navy. Sudahlah, Jimin tidak peduli lagi. Sepertinya hanya dia yang tidak terkontaminasi keidiotan seorang Kim Taehyung. Bahkan jenius seperti Jihoon pun ikut-ikutan idiot.

.

.

.

Mobil Jimin terhenti di depan apartemen Jihoon dan Yoongi. Dia berniat menemui Yoongi terlebih dahulu, menyelesaikan urusan perijinan pergi Jihoon yang hampir sama sulitnya dengan ijin melewati batas zona demiliterisasi.

"Kalian tunggu sebentar." Jimin membuka sabuk pengaman, lalu keluar dari mobil.

Dia berjalan menuju lobi apartemen, dan tersenyum ketika melihat Yoongi sudah menunggunya didekat lift. Langkahnya terhenti beberapa meter didepan, matanya terpaku, tak ada yang berbeda dari penampilan Yoongi. Hanya saja...

Kenapa Jimin merasa Yoongi semakin tampan? Apa ini?

Jimin menggelengkan kepala, dengan cepat menghilangkan bayangan itu, lalu menghampiri Yoongi.

"Hey, Yoongi-ssi." Jimin memanggil, menarik perhatian Yoongi,"aku mau mengajak Jihoon minum malam ini." Ujarnya langsung pada tujuan

Yoongi membuka mulut, hendak protes, tapi ditahannya karena teringat kejadian lalu, dia menatap mata Jimin,

"Kau yakin tidak akan terjadi apa-apa dengannya?" Yoongi bertanya, hati-hati

Jimin mengangguk,"Kali ini akan kupastikan Jihoon tak terkena lecet sedikitpun."

Masih ada sedikit keraguan dalam tatapan Yoongi padanya, Jimin dengan cepat memikirkan sebuah ide. Dan, satu ide benar terlintas dikepalanya.

"Kau ingin ikut juga?" Ajak Jimin,"tapi janji tidak akan mengganggunya."

Yoongi terdiam, berpikir apa yang sebaiknya dia lakukan,"Oke," dia memutuskan,"aku ikut."

Jimin tersenyum. Keduanya berjalan bersama menuju mobil, dan Taehyung harus rela duduk di kursi paling belakang, karena tempatnya diambil alih oleh Yoongi. Mobil berjalan menembus keramaian jalan, menuju sebuah klub dengan antrian yang cukup panjang.

"Hyung, kau yakin kita bisa masuk?" Jihoon bertanya, ketika melihat panjangnya antrian untuk masuk kedalam

Jimin untuk sesaat, tampak ragu. Tapi netranya menangkap sosok yang dia kenal berdiri didepan pintu, menunggunya.

"Tenang saja,"Jimin berujar yakin,"aku punya koneksi."

Setelah memarkirkan mobil, Jimin dan yang lain menghampiri pintu depan klub. Jimin menghampiri Hoshi yang telah menunggunya diluar.

"Yo, Hoshi!" Jimin berseru, memanggil temannya

"Hyu-" Kalimatnya terhenti ketika melihat Jihoon berjalan dibelakang Jimin, dia mendadak salah tingkah

"Hei, bro!" Jimin merangkul tubuh Hoshi, sambil melirik singkat kearah Jihoon. Jelas sekali terlihat jika keduanya terkejut.

"Kenalkan, ini temanku Kim Taehyung dan Jeon Jungkook," Jimin mengenalkan,"dan ini Min Yoongi, kakak Jihoon. Kau sudah mengenalnya, kan?"

Hoshi mengangguk kaku,"A-ayo masuk." ia mengajak semuanya kedalam.

Klub telah penuh dengan orang-orang saat mereka masuk. Hoshi menggiring Jimin dan teman-temannya ke sudut tempat Diamond berkumpul. Setelah basa-basi perkenalan terlewati, para anggota yang lain menyebar, meninggalkan Hoshi, Jimin, dan Jihoon. Taehyung dan Jungkook menghilang entah kemana saat Yugyeom baru saja ingin berkenalan.

"Yoongi-ssi, temani aku mengambil minum." Jimin bereaksi cepat dengan mendorong tubuh Yoongi menjauh, meninggalkan Jihoon dan Hoshi berdua. Semoga saja rencananya berhasil.

Jimin menarik Yoongi duduk di bar, ia memesan segelas Whiskey untuk dirinya sendiri.

"Apa itu barusan?" Yoongi bertanya

Jimin menoleh kearah Yoongi,"Kau benar-benar tak sadar, Yoongi-ssi?" Jimin berujar, sedikit terkejut

Yoongi menggeleng, membuat Jimin menghela napas

"Apa kau tidak lihat tingkah adikmu saat berdekatan dengan Hoshi tadi?" Jimin mencoba menjelaskan,"saling mencuri pandang, gerakan kaku yang aneh, kau tidak menyadari itu semua?"

Yoongi masih menatap Jimin dengan tatapan tak mengerti. Astaga, kenapa semua orang didekatnya aneh seperti ini. Apa dia melakukan kesalah besar di kehidupan sebelumnya? Jimin merasa dirinya dikutuk.

"Mereka jelas saling menyukai, Min Yoongi-ku tersayang!" Jimin menutup rapat mulutnya, dia bersumpah tak bermaksud mengatakannya. Tapi kebiasaannya tiap bicara dengan Taehyung tiba-tiba saja keluar. Ya, dia menyalahkan Taehyung untuk kesalahan ini.

Jimin memesan segelas Whiskey, mencoba meredam rasa malunya. Lalu segelas lagi, dan yang lain, terus hingga beberapa gelas kosong berserakan didepan mejanya. Yoongi yang sejak tadi juga berusaha menghindari kontak langsung dengan Jimin, baru sadar jika orang disebelahnya ini sudah setengah mabuk. Ia menghela napas,

"Jimin-ssi?" Yoongi memanggil, menggoyang pelan tubuh Jimin, tak ada respon darinya.

"Hehe..."Jimin tiba-tiba tertawa pelan, ia mengangkat kepalanya, menatap Yoongi dengan mata setengah terpejam dan wajah merah karena mabuk,"halo~" suaranya mendayu, ia tersenyum menggelikan, kemudian menjatuhkan kepala diatas meja.

"Kau..hik...kau terlihat tampan...hehehe...hik!" Jimin berujar, disela cegukan, masih mempertahankan senyuman anehnya, matanya telah sepenuhnya terpejam kali ini.

Yoongi menatap Jimin selama sepersekian detik, lalu berdiri. Ia membopong Jimin keluar dari bar, keduanya bertemu dengan Taehyung dan Jungkook didekat toilet, ia berkata jika akan membawa Jimin ke mobil karena sudah terlalu mabuk.

"Mana kunci mobilmu?" Yoongi bertanya

Dengan sisa kesadarannya, Jimin merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana, dan memberikannya pada Yoongi.

CKLEK!

"Ugh,"Jimin mengerang pelan ketika Yoongi mendudukkannya di kursi depan, tepat disebelah kursi pengemudi.

Yoongi menghela napas, kenapa juga dia harus mau repot mengurusi orang mabuk seperti ini? Setelah Busan, ini kedua kalinya Yoongi mengendarai mobil Jimin.

BRRM!

Yoongi memacu mobil meninggalkan daerah klub. Dia berniat membawa Jimin pulang. Sepenuhnya lupa jika tujuan awalnya ikut adalah untuk mengawasi Jihoon.

TOK! TOK!

"Ya,astaga!" Ibu Jimin berseru ketika melihat anaknya pulang dalam keadaan mabuk, ia membuka lebar pintu, membiarkan Yoongi membawa Jimin masuk. Dia mengarahkan agar Yoongi membawa Jimin masuk kekamar.

BRUKK!

Yoongi mengatur napas, ternyata Jimin berat juga. Ia menatap wajah lelap Jimin yang sedang tidur, cukup lama hingga suara ibu Jimin menginterupsi.

"Maaf membuatmu repot,"bibi Park berujar,

Yoongi tersenyum,"Tidak apa-apa, bi." Ujarnya santai

"Kau teman Jimin? Ini pertama kali aku melihatmu."

Yoongi mengangguk, ia membungkuk hormat,"Min Yoongi imnida."

Netra bibi Park sedikit melebar ketika tahu laki-laki didepannya adalah Min Yoongi, orang yang sedang hangat digosipkannya bersama ibu Taehyung. Ia buru-buru mengulas senyum terbaiknya,

"Jadi kau yang bernama Min Yoongi." Bibi Park berujar

"Ya?" Yoongi tak mengerti

"Ah, tidak. Bukan apa-apa." Bibi Park mengelak,"tunggulah sebentar disini, akan kubuatkan minum. Kau pasti lelah."

"Tidak perlu, bi." Tolak Yoongi,

"Tentu saja harus!" Tatapan tajam bibi Park membuat nyali Yoongi ciut, ia kemudian mengangguk setuju. Bibi Park tersenyum, lalu meninggalkan keduanya didalam kamar.

Yoongi memilih duduk di lantai, tepat disebelah ranjang Jimin. Ia mengeluarkan ponselnya, dengan tanpa minat menggeser menu dan membuka asal aplikasi disana, hanya untuk membunuh waktu.

"Ugh,"Jimin mengerang, matanya menutup erat, ia menutup mulutnya dengan tangan, terlihat seperti ingin muntah

Yoongi yang melihatnya mendadak panik, buru-buru dia mencari benda apapun yang bisa menampung muntahan Jimin, lalu matanya menangkap tempat sampah di sudut kamar. Secepat kilat dia meraih tempat sampah putih itu, dan menadahkannya dibawah Jimin. Tepat waktu untuk Jimin memuntahkan isi perutnya. Yoongi mengeryit jijik melihat banyaknya muntahan dalam tempat sampah.

Jimin mengelap mulutnya dengan ujung selimut, terlihat menjijikkan dimata Yoongi. Matanya membelalak melihat orang yang sedari tadi memegangi tempatnya muntah adalah Yoongi.

"Yoongi-ssi?!" Serunya, kaget

Yoongi menghela napas, lalu mengembalikan tempat sampah itu pada tempatnya semula, sebelum menghampiri Jimin kembali. Ia menatap datar kearah Jimin yang masih menatapnya dengan tatapan terkejut.

"Kau sudah sadar?" Yoongi bertanya

Jimin mengangguk,"Berapa banyak aku minum?"

"Entahlah,"Yoongi berujar, tak tahu,"mungkin 4 gelas, mungkin lebih."

Jimin menghela napas, kemudian memegang kepalanya yang mendadak pening.

CKLEK!

"Oh, bangun kau rupanya." Suara bibi Park menginterupsi, ditangannya terdapat senampan minuman, dia meletakkannya di meja belajar Jimin,"ini minumannya, selamat bicara."

Kamar kembali hening begitu bibi Park menutup pintu.

Yoongi menghampiri meja belajar Jimin, mengambil gelas minumnya, juga air dan obat pereda mabuk untuk Jimin.

"Ini,"Yoongi memberikan air dan obat itu pada Jimin, yang diterima sang pemilik kamar.

"Terima kasih." Jimin berujar, ia meletakkan gelas airnya di meja nakas,"Jadi, apa aku melakukan sesuatu saat mabuk tadi?"

Yoongi menatap Jimin,"Kau tidak ingat?"

Wajah Jimin mendadak merah. Dia ingat satu hal, dan itu memalukan. Jimin berharap kejadian dia mengatakan jika Yoongi tampan itu hanya ilusinya saja,

"Kau bilang kalau aku tampan."

Siapapun tolong kubur Jimin sekarang juga! Dia benar-benar malu.

"Itu...lupakan saja."Jimin berujar pelan, hampir terdengar seperti bisikan

Yoongi tiba-tiba duduk disebelah Jimin, membuatnya berjengit kaget. Jimin spontan menoleh kearah Yoongi, yang sialnya juga sedang menatapnya.

"Kau itu aneh, Park Jimin." Yoongi memulai

Jimin berdecih, harusnya dia yang mengatakan itu.

"Kau membantu orang lain mencari kebahagiaan, tapi mengesampingkan kebahagiaanmu sendiri."

Jimin mengerutkan dahi,"Maksudmu?" tanyanya, tak mengerti

"Kau membantu Jungkook mendapatkan Taehyung, sahabat sejak kecilmu. Tanpa peduli jika kau akan kesepian kalau itu sampai terjadi." Yoongi memberi contoh,"lalu sekarang, kau membantu adikku kembali dekat dengan cinta pertamanya saat sekolah dulu." Yoongi menyelesaikan kalimat

Jimin tersenyum tipis,"Aku senang melihat orang-orang disekitarku bahagia."

"Lalu apa kau bahagia?"

Jimin kembali menatap netra gelap Yoongi, dan mendapati pancaran ketulusan dari tatapannya. Membuatnya terhipnotis,

"Aku..."Jimin terdiam,"tidak tahu." Ia menghela napas,"apa aku bahagia melihat Taehyung bahagia? Tentu saja. Apa aku senang membantu Jihoon dan Hoshi, tentu saja senang."Jimin berujar,"tapi apa aku bahagia untuk diriku sendiri? Kurasa aku tak pernah memikirkannya."

Yoongi menghela napas, baru kali ini dia menemui orang seperti Jimin. Yang bisa senang hanya karena sekitarnya senang.

"Hey,"Jimin memanggil, Yoongi menatap Jimin,"kau mau membantu mencari bahagiaku?"

Yoongi mengerutkan kening, tak begitu paham dengan apa yang Jimin katakan.

"Maksudmu?" Yoongi bertanya

"Yah, kau yang bertanya apa aku sudah bahagia atau belum. Dan, aku tidak tahu." Jimin menjelaskan,"jadi, ayo cari kebahagiaan bersama-sama." Ajaknya

"Caranya?" Yoongi masih tak paham

"Hm,"Jimin bergumam,"apa yang kau suka lakukan?"

Yoongi terdiam, ia berkedip beberapa kali, mencoba mencerna maksud Jimin,"Membuat lagu...?" ia berujar, ragu

Jimin menggeleng,"Aku tidak bisa ikut bersenang-senang kalau begitu." Ia menolak,"bagaimana kalau kita pergi ke pantai?"

"Jimin-ssi, kau ingat aku dari Busan, kan?"

"Ah, benar juga. Pantai pasti membuatmu bosan." Ia menghela napa, kembali dengan pikirannya,

CTAK!

"Aku tahu!" serunya, lalu menatap Yoongi bersemangat,"ayo kita mendaki gunung!"

Yoongi menatap aneh Jimin,"Kau...tahu kita ada di Seoul, kan?"

"Ck,"Jimin berdecak,"Tentu aku tahu." ujarnya, agak tersinggung,"Apa kau tidak tahu jika gunung Dobong itu ada di Seoul?"

Yoongi menggeleng, Jimin kembali menghela napas,"intinya," ia mencoba meluruskan,"kita akan mendaki gunung saat libur nasional nanti."

"Tapi," Yoongi baru akan menyuarakan protesnya,

"Oh, ayolah!" Mohon Jimin,"hanya kau orang normal yang kukenal." Ujarnya,"kita bisa mengajak Jihoon juga. Aku selalu ingin mendaki, tapi Taehyung alien itu takut ketinggian."

Yoongi menghela napas,"Baiklah,"ia pasrah,"tapi tanpa Jihoon."

Jimin menatap Yoongi, meminta penjelasan

"A-aku tak ingin dia terluka selama naik ke puncak."Ujarnya cepat, diikuti semburat merah tipis di pipinya

Jimin tersenyum,"Oke, kalau begitu kita berdua yang akan pergi!"

Jadi, Jimin akan pergi berdua saja bersama Yoongi bulan depan? Ah, masa bodoh. Jimin memutuskan jika ini saatnya dia mencari Terence-nya. Apa Jimin baru saja mengakui jika dia adalah Tinkerbell?

Sial! Jimin jadi ikut sentimental dengan karakter Disney. Tolong ingatkan Jimin untuk membuat semua DVD Disney koleksi Taehyung nanti..

.

.

.

.

.


TO BE CONTINUE


.

.

.

Hai, Min kembali!

Hari ini aku ngerasa sedikit emo, so Qiesha thought that'll be great for this chapter. Jadi aku mengikuti sarannya buat nulis apapun yang ada di pikiranku saat ini, karena feel-nya lagi ada. Aku agak ragu dengan chapter ini, apakah sesuai ekspektasi kalian atau enggak. Tapi apapun itu, kuharap kalian suka dengan chapter ini ya.

And one more information, next chap adalah chapter terakhir. But don't worry, akan ada sequel untuk cerita ini.

.

.

Regards, Min