LET IT GO

.

.

.

.

.

YOONIMIN, SLIGHT VMIN

.

.

.

.

.

Chapter 7

.

.

.

.

.

Sorry for typos, enjoy!

.

.

.

.

.

Jimin menyampirkan tas hitam besar miliknya di pundak, lalu menerawang, mengingat kembali apakah semua kebutuhannya sudah berada dalam tas. Ia tersenyum saat mengingat semuanya telah masuk kedalam. Jimin menghampiri ibunya di kamar, lalu mencium pipinya dan pamit pergi.

"Hey, Manggaetteok!"

Jimin menahan napas, sorenya yang sempurna baru saja hancur saat alien ini muncul dengan celana hitam pendek dan kaos putih polosnya, dari dalam rumah. Jelas sekali Taehyung baru bangun.

"Main game semalaman lagi, Kim Taehyung?" Jimin menerka

Taehyung mengangguk pelan, matanya masih setengah terpejam,"Kau mau kemana?" ia menunjuk tas besar yang Jimin bawa

"Hanya mendaki gunung."

"Kau tidak mengajakku?"

Jimin menghela napas,"Berkali kali aku mengajakmu, alien bodoh." Jimin menahan suaranya,"siapa yang berkata jika dia takut ketinggian, dan percaya akan ada Bigfoot di gunung nanti? Astaga, apa kau tahu Bigfoot ada di benua apa?"

Oke, yang terakhir itu tidak Jimin rencanakan untuk terucap.

Taehyung menatap polos Jimin,"Bukankah sama saja?" ia menggaruk kepala, tak mengerti

Jimin mengepalkan tangan, ingin sekali rasanya dia memukul kepala Taehyung. Setidaknya dengan begitu, dia berharap kepalanya bisa lebih berfungsi. Ah, tapi benar juga, Taehyung sudah menggadaikan otaknya sejak dulu. Percuma juga Jimin memukulnya, tak akan ada yang terjadi.

"Sekarang lebih baik kau tidur, aku tahu kau masih mengantuk." Jimin pasrah

Taehyung tersenyum lebar,"Jangan sampai tertangkap Bigfoot, kue berasku!" ujarnya, sebelum melarikan diri kembali kedalam rumah.

Ya, terserah.

Jimin meletakkan tas gunungnya di kursi belakang mobil, lalu mengendarai mobil menuju apartemen Yoongi. Sial! Fakta jika dirinya hanya akan menghabiskan waktu berdua dengan Min Yoongi membuat wajah Jimin kembali panas. Akan seberapa canggung situasinya nanti? Karena setelah dipikir, dirinya tak pernah berbicara banyak dengan Yoongi. Yah, selain kejadian di atap rumah sakit waktu itu. Tapi kali ini konteksnya berbeda.

TIN! TIN!

Jimin membunyikan klakson, mencoba menarik perhatian Yoongi yang telah menunggunya didepan lobi. Baguslah, Jimin jadi tak perlu repot mencari tempat parkir.

Yoongi menyadari kemunculan mobil Jimin, lantas menghampirinya. Ia membuka pintu mobil, dan duduk disebelah Jimin.

Jimin tersenyum, kemudian mengerutkan kening,"Hanya itu yang kau bawa?" tanyanya, netranya menatap lurus pada ransel lusuh yang biasa Yoongi pakai kuliah

Yoongi mengangguk,"Memangnya sebanyak apa barang yang kubutuhkan?" Yoongi bertanya, polos

Jimin menghela napas,"Ya, kurasa kau ada benarnya juga."

Jimin kembali menjalankan mobil menuju gunung terdekat dari Seoul, gunung Dobong. Ia memarkir mobil ditempat yang kosong.

"Kita...benar-benar harus naik kesana?" Yoongi bertanya, ketika melihat jalur awal pendakian yang semuanya tangga

Jimin tersenyum, lalu mengangguk,"Pasti akan sangat menyenangkan."

"Aku tidak mengerti kenapa orang-orang suka kegiatan ini." Yoongi menggumam, tapi cukup keras untuk bisa Jimin dengar

Jimin mendengus,"Sudahlah, aku yakin kau akan menyukainya nanti." Ia mencoba meyakinkan.

Yoongi menghela napas pasrah, lalu mulai menaiki anak tangga. Diikuti Jimin dibelakang, yang agak kesulitan berjalan karena tas yang dibawanya terlalu besar. Mungkin ada benarnya dia membawa tas lebih kecil, seperti Yoongi.

Hampir dua jam mereka mendaki, puncak tinggal beberapa meter didepan. Dan kaki Jimin serasa ingin lepas dari persendiannya. Ditambah punggung yang sakit karena membawa beban tas yang terlalu berat. Astaga, siapa yang sangka mendaki bisa selelah ini. Tahu begitu Jimin tidak akan terlalu percaya diri mencoba.

"Jimin-ssi." Yoongi memanggil, dia yang sudah beberapa anak tangga didepan, kembali turun menghampiri Jimin,"kau tidak apa-apa?"

Jimin mengangkat kepala, menatap dari dekat wajah Yoongi yang jelas terlihat khawatir, dia mengulas senyum lembut,

"Aku tidak apa-apa." Ujarnya, disela napas yang putus-putus,"hanya...kelelahan."

Yoongi menghela napas, ia melihat kesekitar, mencari tempat yang dirasa cocok untuk beristirahat. Namun nihil, tak ada tempat yang cocok. Tentu saja, puncak hanya tinggal seratus meter didepan, untuk apa meletakkan tempat beristirahat disini?

Sret!

"Eh, apa yang kau lakukan?" Jimin berujar, terkejut saat Yoongi tiba-tiba mengambil tas besarnya dan menukarnya dengan tas miliknya. Jimin menatap Yoongi tak mengerti

"Kau bilang kau kelelahan." Yoongi memberi penjelasan,"biar kubawa tasmu, puncak sedikit lagi."

Yoongi tak membiarkan jimin memprotes, dan kembali menaiki tangga menuju puncak. Jimin yang melihat perilaku aneh Yoongi yang tiba-tiba lembut seperti tadi mengerutkan kening. Apa Yoongi baru saja kerasukan arwah gunung?

Ah, pikirkan itu nanti saja. Sekarang yang Jimin butuhkan adalah air, dan tempat untuk berbaring. Tak ada waktu untuk memikirkan arwah gunung atau makhluk astral apapun itu. Peringatan Taehyung tak akan membuatnya takut.

Jimin tersenyum ketika melihat paviliun dengan air mancur disisinya berada didepan mata. Lelah yang sejak tadi menyulitkannya seolah hilang ketika wajahnya bisa menyentuh air segar pegunungan. Jimin tersenyum senang, dan merebahkan tubuh di lantai kayu paviliun, dengan wajah masih meneteskan air. Ia memejamkan mata.

"Keringkan wajahmu, angin gunung bisa membuatmu demam." Yoongi mengingatkan, yang hanya dibalas dehaman rendah oleh Jimin. Dia masih mau mengistirahatkan tubuhnya yang nyaris remuk. Ini pertama dan terakhir kali Jimin mencoba mendaki gunung.

Yoongi masih fokus memandangi langit jingga kemerahan didepannya, matahari sebentar lagi terbenam, dengan sedikit awan kelabu mengiringi, oh mungkin malam nanti akan turun hujan. Mereka harus segera turun dari sini.

"Nak," Yoongi menoleh ketika seseorang memanggilnya, satu grup wanita paruh baya berpakaian khas pendaki tersenyum kearahnya, Yoongi balas tersenyum,"kau mungkin ingin segera membawa kekasihmu itu turun. Sebentar lagi hujan, dan jalur pendakian akan terlalu licin untuk dituruni setelah hujan."

Sebagian ibu-ibu yang lain mengiyakan,"Apalagi saat malam tiba." salah satunya menambahkan

Yoongi tersenyum,"Terima kasih untuk informasinya." ia menunduk hormat

Tunggu dulu. Apa mereka baru saja mengatakan jika Jimin dan dirinya adalah sepasang kekasih?

Dirinya menoleh kearah Jimin yang masih berbaring disebelahnya,"Hey, Park Jimin-ssi." panggilnya, tak ada respon

Yoongi menghela napas, haruskah dia tertidur disaat seperti ini? Apa Jimin berencana menginap disini?

Ya, mungkin Yoongi juga akan beristirahat sebentar. Menutup mata selama beberapa menit tak akan menjadi masalah, kan.

.

.

.


.

.

.

Jimin membuka mata perlahan. Berapa lama dia tertidur? Ah, tapi dirasa dari tubuhnya yang masih sakit, sepertinya belum lama.

BRSHH!

Matanya membuka cepat, dan menyadari jika hujan deras telah mengguyur. Bagaimana dia bisa pulang sekarang?

Jimin menghela napas, lalu melirik kesebelah, dan tersadar jika Yoongi ikut terlelap disebelahnya sejak tadi. Ia lalu melihat sekitar, tak ada siapa-siapa. Langit juga sudah gelap. Hanya penerangan dari lampu paviliun yang menjadi cahaya keduanya saat ini.

"Yoongi-ssi, Yoongi-ssi." Jimin mengguncang tubuh Yoongi, mencoba membangunkannya

Yoongi melenguh pelan, sebelum membuka mata. Ia terdiam selama beberapa saat, sebelum tersentak kaget dan duduk berhadapan dengan Jimin. Keduanya saling melempar tatapan, sebelum Yoongi menjadi yang pertama memutuskan kontak mata dengan mendesis.

"Harusnya aku tidak ikut tidur." Gerutunya

"Hey, tidak perlu menyalahkan dirimu seperti itu,"Jimin berusaha menenangkan,"tak ada yang tahu jika malam ini akan hujan."

"Ada yang memberitahuku tadi, menyuruhku membangunkanmu karena sebentar lagi akan hujan." Yoongi mengusak kepala kasar

Jimin tak tahu harus berkata apa lagi. Dia mengeluarkan helaan napas, lalu menekuk lutut dan memeluknya, sambil memandangi air hujan yang terus turun. Hujan seperti ini setidaknya akan berlangsung cepat.

"Yah,"Jimin membuka suara,"kurasa ini artinya kita harus bermalam disini."

Yoongi menatap Jimin, tak mengerti. Bisa-bisanya dia bersikap tenang disaat penuh masalah seperti ini.

Jimin menarik tas besarnya, dan terlihat sedang mencari sesuatu. Banyak barang yang dikeluarkannya dari dalam sana. Yoongi hanya diam memperhatikan.

"Untung saja aku membawa persiapan." Jimin berujar, ia tersenyum kearah Yoongi,"malam ini kita masih bisa makan!" ujarnya, bersemangat

Jimin menyusun kompor portabel diantara dirinya dan Yoongi, lalu mengisi panci kecil dengan air dan memanaskannya diatas kompor. Ia membuka dua bungkus ramen yang dibawanya, diikuti dua telur yang ikut masuk kedalam panci. Jimin tersenyum puas melihat hasil kerjanya.

"Jadi ini yang membuat tasmu sangat berat?" Yoongi mengomentari

Jimin mengangguk,"Ini pertama kalinya aku mendaki gunung, jadi aku mencaritahu apa-apa saja yang dibutuhkan untuk pergi. Tapi ternyata kegiatan ini tak semudah yang dibayangkan."

Yoongi berdecak,"Hal seperti ini yang membuatmu bahagia?"

Jimin terdiam untuk sesaat,"Aku suka mencoba hal baru." Dia menjawab,"kau tak suka pengalaman baru, Yoongi-ssi?"

"Aku tak suka perubahan." Yoongi menjawab singkat

Tak ada yang bicara lagi hingga ramen matang. Keduanya sibuk dengan makanannya masing-masing, hingga tak sadar jika hujan telah reda. Jimin menjadi yang pertama menyadarinya.

"Oh, hujannya sudah reda." Ia berseru, Yoongi ikut menoleh keluar paviliun, melihat kini tinggal rintik kecil air yang turun,"kita bisa kembali!" Jimin berujar, senang

Yoongi menggeleng,"Tidak."Ujarnya, membuat Jimin menatap bingung kearahnya,"jalur terlalu licin setelah hujan. Apalagi sekarang sudah malam, akan sulit melihat jalanan yang menurun. Tidak aman."

Jimin baru akan menyuarakan protes, saat sadar jika ucapan Yoongi ada benarnya. Ia menurunkan bahu, lesu. Untuk beberapa saat tadi, dia sempat percaya jika malam ini dia bisa tidur di ranjangnya dirumah.

"Kau tidak suka terjebak disini bersamaku, ya." Suara pelan Yoongi membuat kesadaran Jimin kembali, ia menatap Yoongi panik,

"B-bukan begitu!" Ujarnya, entah kenapa panik melihat wajah sedih Yoongi

Yoongi tersenyum miris, menghindari tatapan Jimin,"Tidak apa-apa. Bukan salahmu."

Jimin mengerang kesal, tak tahu lagi harus menghadapi Yoongi dengan cara apa. Selama ini dia selalu mengandalkan logikanya tiap kali bertindak. Karena perasaannya tak pernah membawa hasil positif, dan berakibat tidak enak padanya. Tapi untuk kali ini, Jimin sudah tidak peduli lagi.

"Min Yoongi!" Jimin berteriak, terdengar sangat keras, hingga beberapa burung keluar dari balik pepohonan, dia menatap marah kearah Yoongi yang masih membulatkan matanya karena terkejut.

"Berapa kali harus kukatakan, berhenti menyalahkan dirimu sendiri untuk semua yang terjadi!" Serunya, masih dipenuhi amarah, "menurutmu aku tidak suka berada disini bersamamu?" ia melanjutkan,"kau salah! Aku senang disini! Aku suka berada disini!"

Yoongi mengerjap, apa yang baru Jimin katakan? Dia tak salah dengar, kan?

Grep!

Jimin membulatkan mata saat tubuhnya medadak ditarik kedalam pelukan Yoongi. Pelukannya terasa hangat dan nyaman, emosinya perlahan mereda. Jimin mengatur napasnya menjadi lebih tenang.

"Maaf." Yoongi berbisik pelan, tepat disebelah telinga Jimin, suara beratnya membuat leher Jimin merinding

Jimin mendorong tubuh Yoongi menjauh, wajahnya mengeluarkan ekspresi tidak suka,"Sudah kukatakan jika kau tid-hmph!"

Kalimatnya terhenti ketika Yoongi kembali menariknya mendekat. Kali ini bukan untuk memeluknya,

Tapi untuk menempelkan bibirnya dengan milik Jimin.

Otak Jimin mendadak berhenti bekerja. Apa ini? Kenapa bisa begini? Sebenarnya ada apa ini? Jutaan pertanyaan berputar dikepala Jimin, dan tak ada satupun yang bisa dijawabnya.

Di sisi lain, Yoongi juga sebenarnya terkejut dengan tindakannya sendiri. Instingnya mengambil alih logikanya yang saat ini tak bekerja dengan semestinya.

"Hah..." Yoongi menjadi yang pertama mendapatkan kesadarannya kembali, ia menjauhkan sedikit wajahnya, masih dalam jangkauan untuk merasakan hembusan napas hangat Jimin,"maaf." ujarnya pelan

TAK!

"Ouch!" Yoongi memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh Jimin, ia meringis pelan

"Perlu berapa kali kukatakan sampai kau mengerti, Min Yoongi-ssi?" Ia mendengus kesal,"apa hobimu menyalahkan diri sendiri?"

Yoongi mengerutkan dahi, tak mengerti. Jadi Jimin memukulnya bukan karena dia menciumnya barusan, tapi karena dia meminta maaf?

Jimin bergeser menjauh, ia mencoba sibuk dengan barang-barang didalam tasnya. Dia tak tahu harus bicara apa lagi. Kejadian tadi membuat suasana diantara keduanya jadi canggung.

DARR!

"Huwaa!"

Jimin berjengit kaget mendengar teriakan Yoongi. Orang ini takut petir?

"Hahahaha!" Jimin tak bisa menahan tawanya saat melihat wajah pucat Yoongi,"astaga...haha...kau takut petir?" ia bertanya, disela tawa

Sementara Yoongi hanya menatap Jimin datar. Perasaan antara malu dan kesal bercampur dalam benaknya, dia tak tahu apakah harus menendang tubuh Jimin agar berhenti menertawakannya, atau melarikan diri ditengah hujan saking malunya.

Hingga beberapa menit selanjutnya, hanya suara Jimin disela hujan yang terdengar. Yoongi meringsut mundur hingga duduk di sudut paviliun, lengkap dengan kedua lengan memeluk lutut.

Jimin yang menyadari keadaan Yoongi cepat-cepat meredakan tawanya, dan kembali membongkar isi tasnya. Ia mengeluarkan beberapa bungkus coklat bubuk, dan sebotol air. Ia membuat dua gelas coklat panas, kemudian menghampiri Yoongi di sudut.

"Ini,"ujarnya, ia menjulurkan segelas coklat panas kearah Yoongi,"ibuku bilang, glukosa bisa membuatmu tenang." lanjutnya

Yoongi mengambil gelas pemberian Jimin, lalu menyesapnya pelan,"Terima kasih." ucapnya, pelan

Jimin tersenyum, lalu duduk disebelah Yoongi, ia menyesap minumannya sambil memandangi sisa gerimis setelah hujan.

Yoongi mencuri pandang kearah Jimin sebanyak yang dia bisa. Ragu apakah dia akan membahas ciuman tadi atau tidak. Aneh, dia terus berpikir jika setidaknya mereka harus bicara dan meluruskan keadaan. Tapi Yoongi tak tahu bagaimana memulai percakapan ini.

"Kau bisa berhenti melihatku seperti itu, Yoongi-ssi." Jimin tiba-tiba berkata, ia menoleh kearah Yoongi yang tampak panik karena ketahuan,"ada yang ingin kau katakan?" tanyanya

"Ah, itu..um..." Yoongi tergagap, ia melihat kearah lain, berusaha menghindari tatapan Jimin,"uh...aku...tadi...kita..." kalimatnya putus-putus

Jimin yang melihat tingkah gugup Yoongi kembali tertawa, menurutnya sikap Yoongi yang baru pertama kali dilihatnya ini lucu.

"Aku tidak masalah dengan ciuman tadi." Jimin akhirnya menjadi yag pertama mengangkat topik,"itu kan, yang ingin kau bicarakan." ia menerka

Yoongi mengangguk kaku,"Ah, i-iya." Jawabnya,"kau...baik-baik saja?"

Jimin tersenyum,"Memangnya aku bisa mati karena menciummu, Yoongi-ssi?"

"T-tidak juga." Yoongi menunduk, wajahnya mendadak menghangat

Jimin masih memandangi Yoongi yang sedang menunduk, rongga dada sebelah kirinya mendadak bekerja lebih keras dari biasanya. Ia membulatkan mata, menyadari apa yang baru saja dialaminya.

"Yoongi-ssi." Jimin memanggil, ia menarik tas besarnya, mengeluarkan sebuah selimut lebar, entah bagaimana caranya Jimin bisa membuat kompor, panci, dan selimut sebesar itu muat didalam tasnya

"Ya?" Yoongi menjawab, masih dengan kepala menatap lantai kayu paviliun

"Aku mau tidur,"Jimin memberitahu,"kita harus berbagi selimut, karena aku hanya membawa satu. Kalau kau mau." Tawarnya

Yoongi mengangguk,"Tidurlah lebih dulu." ujarnya

"O-oke." Jimin membentangkan selimutnya, lalu berbaring. Berharap semoga dengan tiur, detak jantungnya bisa kembali normal.

.

.

.


.


.

.

.

Jimin terbangun karena suara berisik disekitarnya, ia membuka mata, kemudian melihat sekitar. Matahari telah berada diatas kepala, lengkap dengan awan putih yang tersebar dilangit.

Ia merubah posisi menjadi duduk, lalu mengumpulkan kesadaran, banyak orang berlalu lalang disekitarnya.

Jimin menoleh kesebelahnya, menatap Yoongi yang masih tertidur lelap.

"Aigoo, kalian terjebak badai semalam, ya." Sebuah suara membuat Jimin menoleh, seorang wanita paruh baya berdiri didepannya

Jimin tersenyum tipis,"Ya, noona."

"Aish, aku sudah tua begini kenapa masih dipanggil noona." Wanita itu tersipu malu, ia merogoh sesuatu dalam tasnya,"ini, untuk sarapan kau dan temanmu." wanita itu memberikan dua gulung Kimbap.

"Terima kasih, noona." Jimin menerimanya dengan senang hati, dalam hati dia bersorak, pesonanya pada wanita belum berkurang ternyata.

"Bangunkan temanmu dan makan, lalu cepat turun dari sini." Wanita itu menasehati."

Jimin mengangguk, lalu tetap memasang wajah tersenyumnya hingga wanita itu pergi.

"Tadi itu licik, Jimin-ssi."

Jimin menoleh, menatap Yoongi yang menatapnya dalam posisi berbaring.

"Selamat pagi juga, Yoongi-ssi." Jimin tak ingin marah dipagi hari.

Yoongi merubah posisi tidurnya menjadi duduk, ia menengadahkan tangan,"Mana, bagianku?"

"Ck,"Jimin berdecak,"tadi kau bilang aku licik. Tapi kau juga mau." Ia memberikan satu Kimbap ditangannya

"Aku hanya bilang kau licik, bukan berarti aku tak ingin dapat bagian." Yoongi membuka plastik pembungkus Kimbap itu, lalu memakannya.

Jimin ikut membuka Kimbap pemberian 'noona' baik tadi, dan mulai memakannya. Tiga gigitan bersela, ia merogoh botol minum yang belum dibuka dari tasnya, dan meletakkannya diantara dirinya dan Yoongi.

Yoongi menjadi yang pertama menyelesaikan sarapannya. Ia membuka tutup botol, dan menenggak isinya.

Jimin memperhatikan gerakan Yoongi minum, dia seperti terhipnotis pada gerakan lambat Yoongi

"Uhuk!" Jimin tersedak, ia terbatuk sambil memukul dadanya, mencoba mengeluarkan isi Kimbap yang tersangkut di kerongkongannya.

"Minum ini." Yoongi memberikan botol minumnya pada Jimin, sambil mengelus punggung Jimin, mencoba membantu

Jimin menerima botol itu dengan cepat dan meminumnya rakus.

"Hah...hah..."Jimin tersengal,

Sial!

"Bisa-bisanya kau tersedak Kimbap," Yoongi mengomentari, sudut bibirnya terangkat, tak bisa menahan senyuman

Jimin masih berusaha mengatur napasnya, ia menggelengkan kepala cepat. Bisa-bisanya dia tersedak hanya karena melihat Yoongi minum. Sepertinya otaknya mulai bergeser.

"Terima kasih." Jimin berujar, lalu menghabiskan sarapannya.

Keduanya merapikan barang-barang, memasukkannya dengan rapi kedalam tas, lalu memakai sepatu dan mulai menuruni tangga jalur pendakian. Hari sudah cukup siang, dan keduanya tak ingin membuang waktu lebih lama lagi untuk segera turun.

Anak tangga yang masih lembab karena hujan semalam membuat Jimin agak kesulitan berjalan. Apalagi ditambah tasnya yang cukup berat, menambah beban yang harus dibawanya. Dia harus bisa membagi fokus antara jalan yang licin, dan beban di pundak. Salah sedikit saja,

"Huwaa!"

BRUKK!

Yap, hal yang ditakutkan Jimin sejak menuruni anak tangga pertama akhirnya terjadi. Dia salah melangkah, mengakibatkan dirinya harus rela jatuh terduduk, tepat diatas batu.

Jimin meringis pelan, memegangi pinggangnya yang nyeri akibat terjatuh.

Yoongi refleks berbalik, dan menahan diri untuk tak kembali mengejek Jimin. Ini bahkan masih pagi, dan Jimin sudah dua kali melakukan hal bodoh. Yoongi, untuk beberapa saat, sempat khawatir apakah Jimin bisa hidup hingga malam nanti.

"Sini,"

"Eh?" Jimin menengadahkan kepala, menatap bingung Yoongi yang mengulurkan tangan kearahnya, tak mengerti apa maksudnya

"Tasmu," Yoongi menjelaskan,"berikan padaku."

"Kenapa?" Jimin kembali bertanya, masih tak sepenuhnya paham dengan maksud Yoongi

"Aku tidak mau bertanggung jawab kalau kau mati terjatuh karena beban tasmu disini." Sarkasnya,"jadi berikan tasmu, dan kau bisa membawa tasku."

"Lalu bagaimana kalau kau yang jatuh?" Jimin masih bertanya

Yoongi menghela napas,"Apa aku perlu mengingatkanmu siapa yang pagi ini cukup ceroboh hingga bisa tersedak Kimbap tanpa alasan yang jelas?"

Jimin mendengus,"Oke, oke." Ujarnya kesal, ia melepas tas dari punggungnya, lalu memberikannya pada Yoongi

Setelah bertukar tas, keduanya kembali menuruni anak tangga. Atensi Jimin sepenuhnya terfokus pada punggung Yoongi yang terhalang tas. Astaga, apa Yoongi kuat membawanya? Jimin mendadak khawatir.

BRUKK!

Karena terlalu fokus pada pikirannya, Jimin melewatkan satu anak tangga, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh untuk kedua kalinya. Oke, mulai saat ini kegiatan mendaki gunung akan masuk kedalam blacklist kegiatan yang tak akan pernah Jimin lakukan lagi seumur hidupnya.

"Kau ini kenapa, sih?" Yoongi mulai kesal, ia mengulurkan tangan

Jimin meraih tangan Yoongi, lalu berdiri,"Maaf," hanya itu yang bisa dia ucapkan

Yoongi menghela napas, lalu kembali melanjutkan langkah. Dengan tangan Jimin masih berada dalam genggamannya.

"Uh, Yoongi-ssi." Jimin berujar ragu,"aku bisa berjalan sendiri."

"Aku tidak mau mengambil resiko kau jatuh untuk ketiga kalinya." Yoongi tetap pada pendiriannya

Sebenarnya Jimin tak memiliki alasan khusus kenapa dia ingin Yoongi melepaskan genggamannya. Bahkan jika boleh jujur, Jimin tak ingin tautan keduanya terlepas. Rasanya hangat dan nyaman, jauh dari bayangan awal Jimin jika Yoongi memiliki tubuh yang dingin seperti sifatnya. Hanya saja, jantungnya yang berdetak kencang menjadi masalah utama disini. Dengan kedua tangan terjalin, otomatis membuat jarak antara keduanya berdekatan. Jimin takut Yoongi bisa mendengar suara detak jantungnya.

Mendaki gunung sialan!

.

.

.

Dua jam berlalu, keduanya sampai di kaki gunung. Jimin duduk di bangku tak jauh dari jalur masuk pendakian, ia meluruskan kedua kakinya, kelelahan. Ia memejamkan mata.

"Jimin-ssi, kita bisa istirahat dirumah." Yoongi berujar

Jimin mengangguk,"Sebentar dulu." Balasnya, masih dengan mata tertutup

Beberapa menit berlalu tanpa suara, Jimin akhirnya membuka mata. Dan terkejut Yoongi masih berdiri membawa tasnya, orang ini tidak lelah?

"Ayo pulang." Jimin berujar, ia berjalan mendekati Yoongi, lalu melepas tas dipunggungnya. Ia membawa kedua tas itu dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.

CKLEK!

Jimin masuk ke kursi pengemudi. Dia baru akan memasang sabuk pengaman saat sadar Yoongi belum masuk kedalam mobill. Kepalanya terjulur keluar, ia menatap Yoongi yang masih berdiri di sisi mobil.

"Kau tidak masuk?" Tanyanya

"Aku saja yang mengemudi. Kakimu tidak akan kuat." Yoongi menjawab

Jimin mengerutkan kening,"Aku baik-baik saja."

"Aku tidak mau masuk rumah sakit lagi, Jimin-ssi." Yoongi bersikeras

Jimin menghela napas, lalu pindah dari kursi pengemudi ke kursi depan penumpang. Diikuti Yoongi yang masuk setelahnya.

Mobil dinyalakan, keduanya pergi dari pelataran parkir.

Tak ada yang bicara selama perjalanan pulang. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Jimin sibuk membayangkan bagaimana empuknya ranjang kamarnya jika ditiduri sesampainya dirumah. Lantai keras paviliun yang ditidurinya semalam membuat tubuh Jimin sakit.

"Jimin-ssi." Suara Yoongi membuat Jimin tersadar dari lamunannya.

Jimin menoleh kearah Yoongi, menunggu Yoongi melanjutkan kalimatnya.

"Sebenarnya...kita ini apa?"

Yoongi menepikan mobil, lalu menoleh kearah Jimin, membalas tatapan Jimin.

Otak Jimin mendadak kosong, dia tak tahu harus menjawab apa. Dirinya juga bingung. Sikap dan perlakuan Yoongi akhir-akhir ini membuatnya bingung. Dia bisa ketus di satu waktu, dan mendadak perhatian di waktu yang lain. Apakah mereka hanya sebatas kenalan? Atau teman? Mereka sudah sedekat nadi, tapi rasanya masih sejauh matahari.

"Kau ingin kita menjadi apa?" Jimin akhirnya bicara, dengan balas melontarkan pertanyaan.

Yoongi tak menjawab, dirinya hanya diam menatap Jimin tepat dimata.

"Hhh..."Yoongi menghela napas,"kau benar-benar ingin membuatku yang mengatakannya, ya?"

Jimin menatap bingung Yoongi didepannya. Memangnya apa yang ingin Yoongi katakan?

Yoongi memejamkan mata, mengumpulkan keberanian. Ia membuka mata, lalu meraih sebelah tangan Jimin, dan menggenggamnya erat.

Wajah Jimin mendadak merona mendapat perlakuan lembut seperti ini.

"Jimin-a,"

Sial! Jimin merinding hanya dengan mendengar Yoongi memanggil namanya seperti itu.

"Aku menyukaimu."

Tanpa sadar, Jimin mengeratkan genggamannya pada tangan Yoongi.

"A-aku..."Jimin tergagap, matanya memutus kontak dengan milik Yoongi, melihat kemanapun selama bisa menghindari tatapan Yoongi

"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang." Yoongi melepas genggamannya, lalu kembali menjalankan mobil.

Jimin menggigit bibir bawahnya, tangannya berkeringat dingin dalam pangkuan, matanya bergerak acak tak tentu arah. Pikirannya mendadak linglung, apa yang harus dikatakannya?

.

.

.

"Jimin-ssi, kita sudah sampai."

"Oh?" Jimin melihat keluar, dan baru menyadari jika dirinya telah sampai didepan apartemen Yoongi.

Keduanya keluar dari mobil, dengan Jimin menjadi yang pertama membuka bagasi. Ia memberikan tas milik Yoongi tanpa berkata apa-apa.

"Kalau begitu, aku pergi dulu." Yoongi menyampirkan tas di pundak, lalu berbalik pergi.

Tidak. Ini tidak benar. Jimin tahu mereka tidak bisa berpisah seperti ini. Dia harus melakukan sesuatu.

"Y-yoongi-ssi!" Jimin berseru, ia berlari kearah Yoongi

"Ya?"

Jimin berdiri kurang dari satu meter tepat didepan Yoongi. Wajahnya merah sempurna.

"Ayo kita lakukan!" Serunya, terlampau keras

Yoongi mengerutkan kening, tak yakin dengan apa yang ingin Jimin coba katakan.

"Ayo kita kencan!" Jimin kembali melanjutkan

DEG!

Kenapa Yoongi mendadak berdebar seperti ini? Bahkan saat dirinya menyatakan perasaannya didalam mobil, dia tak setegang ini. Apa mungkin jantungnya bermaslah?

Jimin tersenyum,"Aku ingin mencobanya." ia berujar,"mungkin kau yang akan menjadi Terence-ku."

"Terence?"

Jimin ingin mengubur diri hidup-hidup detik ini juga. Bisa-bisanya dia mengatakan hal cheesy seperti itu didepan Yoongi.

"Intinya," Jimin mengalihkan pembicaraan,"aku ingin mencobanya denganmu. Jatuh cinta."

Untuk sepersekian detik, Yoongi tak tahu harus merespon apa.

"O-oke." Jawabnya, gugup

Jimin, masih mempertahankan senyumnya,"Sampai bertemu lagi, Yoongi-a." Ujarnya cepat, sebelum berbalik lalu pergi.

Oke, jadi apa ada yang bisa menjelaskan pada Yoongi apa yang sebenarnya terjadi?

.

.

.


THE END


.

.

.

.

I'm so sorry! I know I'm not the best at making cheesy stuff, tbh that was Min's forte. But apparently, he was mad and not in the mood to write anything. I tried my best, and I'm sorry if it's not good enough.

I promise the sequel will be full of fluff and cheesy stuff.

.

.

.

Love, Qiesha