Kembali ke Baekhyun yang masih membutuhkan saran terhadap hubungannya dengan Yeri. Dia masih menunggu Chanyeol menjawab pertanyaannya. Baekhyun masih tidak tahu dan bingung, apa yang harus dia katakan bila dia bertemu Yeri besok di sekolah.

pcy-nim: Temui dia untuk terakhir kalinya, kalau kau tidak mau bicara 4 mata, kau akan terlihat pengecut.

Baekhyun belum membalas pesan dari username pcy-nim itu. Dia masih memikirkan saran dari pcy. Otaknya berkata ingin menjalankan semuanya sesuai yang pcy sarankan. Tapi hatinya masih terlalu lemah untuk menerima semuanya. 3 tahun yang dia jalankan dengan Yeri berakhir begitu saja.

Pcy-nim: Hey, kenapa hanya dibaca saja?
Baconee: Maaf, aku masih memikirkan saranmu.
Pcy-nim: Apalagi yang perlu dipertimbangkan, kubilang temui dan bicara baik baik dengannya. Setelah itu, kau akan terasa bebas.

Baekhyun menatap handphonennya datar. Dia masih memikirkan perkataan pcy-nim. Haruskah dia menghubungi Yeri dan melakukan seperti apa yang pcy-nim katakan, atau dia menuruti kata hatinya untuk menghindari Yeri saja. Baekhyun labil.

Pcy-nim: aku mengirimkan permintaan pertemanan ke akun "Meet Strangers" mu, terimalah.

Baekhyun membuka home akun aplikasi Meet Strangers dan melihat notifikasi permintaan pertemanan disana. Tapi, bukannya mengklik terima, Baekhyun malah keluar dari aplikasi itu, mengabaikan notifikasi yang masih muncul di halaman utama akunnya.

Baconee: apa yang terjadi kalau aku tidak mau bicara padanya.
Pcy-nim: Kau akan menyesal... Selamanya.

Membaca balasan dari pcy, Baekhyun meletakkan handphonenya, tanda tidak berminat untuk menyentuh handphonenya lagi. Dia memilih untuk segera tidur dari pada berlarut dalam masalah ini dan malah terlambat untuk sekolah besok.

.

.

.

"Meet Strangers"

Paginya, Baekhyun bangun lebih awal, dia mandi sarapan dan bersiap untuk berangkat. Tapi bukan berangkat ke sekolah, melainkan rumah Yeri. Baekhyun masih akan menjemput Yeri? Tidak, Baekhyun ingin menyelesaikan semuanya pagi ini didepan rumah Yeri. Dia sudah memantapkan dirinya untuk memutuskan hubungannya dengan Yeri secara baik-baik dan dewasa.

Selama perjalanan, Baekhyun hanya melamun. Di otaknya sedang bekerja untuk menyusun kata-kata yang benar agar semua baik-baik saja. Diapun merogoh sakunya mengeluarkan handphone yang tidak dia sentuh sejak malam tadi. Melihat banyaknya notifikasi dari pria yang baru saja dia kenal, dia hanya memutar bola matanya malas. Membaca satu persatu pesan dari pria yang bernama pcy itu.

Pcy-nim: jadi bagaimana? Sudah kau putuskan?
Pcy-nim: temui dia atau menghindar?
Pcy-nim: hei jawab aku!
Pcy-nim: Baconee-sshi...
Pcy-nim: ayolah, ini masih terlalu pagi untuk tidur kan?
Pcy-nim: kau benar-benar tidur?
Pcy-nim: sebelum kau tidur beritahu aku apa keputusanmu.

Today ~

Pcy-nim: Pagi Baconee...
Pcy-nim: jadi apa keputusanmu?

"Baekhyun POV"

Ada apa sih dengan pria ini. Dia memaksa sekali ingin tahu keputusanku. Kita bahkan beru berkenalan belum sampai 24 jam. Kenapa dia mencampuri urusanku sih... Tapi bodohnya, akulah yang duluan membuatnya mencampuri urusanku. Bila aku tidak sepusing itu tadi malam, aku pasti bisa mengatasi semuanya sendiri. Ditambah lagi kemarin aku bertemu orang sombong bernama Chanyeol itu. Kurasa itu adalah hari sialku. Dari semua tempat dan waktu, kenapa aku harus bertemu dia disaat seperti itu. Kenapa harus disaat aku ribut dengan Yeri. Gossip pasti akan tersebar hari ini. Dan kalau gossip itu tersebar, itu pasti ulahnya. Ulah siapa lagi? Siapa lagi yang tahu kalau aku putus dengan Yeri? Kyungsoo bahkan belum tahu mengenai hal ini.

.

.

Baekhyun akhirnya tiba didepan rumah Yeri. Seketika dia terkejut dan bola matanya membesar. Ya, dia melihat pria yang bernama Taeyong itu berada didepan rumah Yeri dengan motor sportnya. Memang dia terlihat 10x lebih gagah dari Baekhyun yang hanya bisa mengantar jemput Yeri setiap hari. Tapi Baekhyun tidak terima. Baekhyun masih memastikan bahwa dia 10x lebih tampan dari pria yang bernama Taeyong itu.

Baekhyun merapikan rambutnya didalam mobil. Dia menunggu hingga Yeri keluar dari rumah. Dia juga memperhatikan gerak-gerik Taeyong. Seketika dia baru saja tersadar dan menyadari sesuatu yang aneh.

"Baekhyun POV"

Tunggu! Dia membawa motor. Lalu kenapa kemarin dia naik bus? Aku baru saja menyadari sesuatu yang aneh disini. Kalau dipikir-pikir, aku juga pernah melihat pria bernama Taeyong itu memakai seragam sekolah 2 bulan lalu saat aku kencan dengan Yeri disebuah bioskop. Tapi aku kira dia hanya pengunjung biasa yang berasal dari sekolah yang sama denganku. Tapi setelah kupikir-pikir... Ya! Dia membuntuti Yeri selama ini! Bodohnya aku baru menyadarinya sekarang! Bila dia selalu membawa motor kesekolah, untuk apa dia susah payah naik bus kemarin, apalagi alasannya kalau bukan membuntuti Yeri! Apakah Yeri tidak sadar? Oke, aku selesai. Aku muak dengan semua ini. Aku harap masalah ini selesai pagi ini.

.

.

Yeri keluar dari pintu gerbang rumahnya. Awalnya dia menyapa Taeyong terlebih dahulu. Dia menghampiri Taeyong. Sampai akhirnya dia menyadari sebuah mobil hitam yang terlihat tidak asing terparkir diseberang rumahnya. Diapun akhirnya menyuruh Taeyong menunggu dan dengan sendirinya berinisiatif menghampiri mobil itu dan masuk kedalam mobil kemudian duduk dikursi penumpang.

"Kau menyadarinya ternyata."
"Aku sudah hapal bentuk, warna, dan plat serta aura mobilmu."
"Hahaha..."
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

Baekhyun terdiam sebentar. Dia kembali memutar otak dan mencoba mengingat semua kalimat yang harusnya dia ucapkan saat sudah berkesempatan bertemu dengan Yeri dan menyelesaikan semuanya. Tapi bodohnya, semua ingatan itu tertutup oleh rasa gugup dan pada akhirnya Baekhyun melupakan semua kalimat yang sudah disusun secara rapi itu.

"Hmm..."

Baekhyun bergumam. Dia tidak bisa berpikir dan tidak tahu harus berkata apa. Dia akhirnya mengambil napas dalam-dalam dan mencoba membuangnya perlahan. Jujur, Baekhyun merasa, mengucapkan kata perpisahan lebih sulit dari mengucapkan selamat datang.

"Ada apa? Aku bisa terlambat, cepatlah"
"Hmm... Aku ingin meluruskan semuanya, jadi hubungan kita sudah berakhir tadi malam. Dan aku minta maaf jika perlakuanku padamu selama ini membuatmu tidak menyukaiku lagi. Aku juga minta maaf bila aku kadang ngambek dan tidak mau bicara padamu, tapi aku hanya bercanda dan..."
"Cukup oppa... Aku tahu kalau kau hanya bercanda dan perlakuanmu padaku sebenarnya tidak membuatku membencimu."
"Syukurlah kalau begitu... Kalau begitu, ini perpisahan yang sebenarnya kan... Hahaha.." (Baekhyun tertawa canggung)
"Boleh aku bilang sesuatu padamu oppa?"
"Tentu."
"Kau mau tahu alasan aku memulai hubungan dengan Taeyong padahal kita tidak ada masalah dan kemarin hari jadi kita yang ke 3 tahun?"

"Kau, jujur, kau terlalu baik oppa.. Kau memberikan segalanya untukku. Hubungan kita sangat berjalan mulu. Tapi karena itu aku merasa aku tidak bisa berkembang dan mengembangkan perasaanku padamu. Setiap konflik, selalu oppa yang mengalah. Padahal aku sadar bahwa aku yang salah. Aku menunggu oppa menjadi lebih tegas, tapi oppa tetap saja oppa yang selalu mengalah dan memberikan semua yang terbaik untukku. Dan itulah yang membuatku mulai merasa bosan dan merasa tidak bisa lagi bersamamu, aku tidak mau membohongi mu dan perasaanku. Karena itulah, aku sebenarnya tahu oppa membuntutiku kemarin, tapi aku ingin menyelesaikan semuanya. Aku juga tahu oppa pasti akan menemuiku dan membicarakan semuanya dan mengakhiri semuanya dengan baik."
"Boleh aku bertanya?"
"Ya."
"Apa kau masih menyukaiku?"
"Aku masih menyukaimu oppa, tapi aku ingin mengakhiri hubungan kita. Aku harap kau menemukan orang yang lebih baik dariku."
"Baiklah, aku mengerti. Perpisahan ini... Aku harap bisa membuatmu menjadi lebih bahagia dan lebih baik."
"Tentu. Kurasa pembicaraan kita berakhir disini. Jaga dirimu baik-baik oppa, kuharap kau bisa menemukan yang lebih baik dariku."

Yeri keluar dari mobil Baekhyun dan menaiki motor Taeyong untuk berangkat kesekolah. Sementara Baekhyun masih terdiam menunduk di kursi penumpang belakang mobil hitamnya. Dia sebisa mungkin menahan tangisnya. Bagaimana dia bisa begitu lemah. Airmatanya menetes membasahi celananya. Diapun mengusap air matanya dengan kedua tangannya sendiri. Setelah merasa dirinya lebih baik. Diapun menyuruh supirnya mengantarnya kesekolah. Walaupun Baekhyun tahu, dia pasti akan membolos lagi.

.

.

Sama seperti kemarin, Baekhyun membolos lagi. Perbedaannya adalah, bolos kali ini, dia tidak mengabari kepada sabahatnya Kyungsoo bahwa dia akan bolos. Alhasil, Kyungsoo menghubunginya terus menerus. Baekhyun sengaja mengaktifkan mode getar pada handphonenya dan meletakkan handphonenya diatas meja yang agak sedikit jauh darinya agar tidurnya tidak terganggu oleh Kyungsoo yang sudah pasti terus berusaha menghubunginya.

Ya, Baekhyun tidur, disofa nyaman dengan ruang kedap suara. Dimana lagi kalau bukan di studio band. Pagi itu, dia lagsung mengambil kunci studio band dan menguncinya kembali agar tidak ada yang masuk kedalam sana. Diapun tiduran disofa yang ada di ruangan mengscroll layar handphonenya hingga akhirnya dia mengantuk dan tidur.
Sudah 3 jam Baekhyun tertidur disana.

Tepat waktu istirahat, Suara kunci terdengar dari luar ruang band. Suara kunci? Tentu saja, bukan hanya Baekhyun yang memiliki akses memasuki ruang band. Tetapi, pengurus ruang band juga memiliki akses untuk keluar masuk ruangan tersebut. Baekhyun memiliki akses khusus karena dia adalah anak pemilik sekolah.

Suara kunci terdengar semakin keras, Nampak orang diluar itu sedang berusaha mencocokkan dan memutar kunci yang benar. Hingga akhirnya gagang pintu bergerak kebawah, dan cahaya mulai masuk dari luar. Pria tampan berbadan tinggi itu masuk kedalam ruangan tanpa mengetahui bahwa ada seoang namja mungil yang sedang tertidur pulas disofa. Namja tinggi itu tersentak terkejut melihat Baekhyun yang tertidur pulas disofa.

"Baek-hyun...? Apa yang dia lakukan disini? Apa dia tidak kepanasan? Panas sekali disini."

Chanyeol, ya, pria tampan dan tinggi yang memasuki ruang band itu adalah Chanyeol. Chanyeol merupakan pemegang kunci ruang band. Dia memiliki akses untuk membuka dan menutup ruang band saat ada kegiatan pada jadwalnya. Diapun menyalakan AC kemudian duduk tepat didepan Keyboard dan mulai menyalakan seperangkat alat band lainnya.

"Haruskah kubangunkan dia? Dia pasti terganggu bila aku bermain musik disini… Haruskah aku bermain lagu melo saja agar tidurnya makin nyenyak? Tapi… apa hubungannya dengan diriku tidurnya nyaman atau tidak."

Pada akhirnya Chanyeol mematikan semua perangkat alat band yang baru saja dia nyalakan. Dia batal bermain musik karena suara itu pasti akan mengganggu Baekhyun yang tidur. Chanyeol bosan. Diapun akhirnya mengeluarkan handphonenya dari sakunya dan membuka inbox pesan.

"Pria ini kenapa suka sekali sih hanya membaca. Paling tidak balas 1 huruf juga tidak masalah."

Ya, pria yang memiliki username pcy61 ini sedang membahas pria yang diberi nama Baconee olehnya. Akhirnya diapun mencoba mengirim pesan lagi kepada pria yang diberi nama Baconee itu. Sesaat Chanyeol menekan tombol enter, handphone Baekhyun bergetar dan layarnya memunculkan notifikasi pesan masuk. Awalnya, Chanyeol hanya mengira itu hanya suara pesan masuk dari temannya di handphone Baekhyun. Diapun mengirim pesan lagi kepada pria yang diberi nama Baconee itu.

Pcy-nim: Hey…
Pcy-nim: Kenapa tidak membalas?
Pcy-nim: Kau sudah memutuskan kan?

"Ohh… suara apa ini? Suara getaran handphone, tapi darimana?"

Chanyeol menoleh kesegala arah dan menemukan sumber getaran dari handphone yang diletakkan di meja yang tidak jauh darinya. Chanyeol mendekat menuju meja tempat handphone Baekhyun diletakkan.

"Eii… tidak mungkin kan ketika aku mengirim pesan padanya, handphone ini bergetar disaat yang sama."

Chanyeol mencoba menekan tombol berbentuk telepon kemudian memilih nama Baconee pada smartphonenya. Menunggu nada sambung sebentar, kemudian seperti yang dia kira, handphone Baekhyun bergetar dan yang mengejutkan, layarnya menunjukkan kontak pria yang diberi nama pcy-nim, percis seperti yang Chanyeol tahu, yang menyebutnya pcy-nim hanyalah pria yang dia ketahui sebagai Baconee.

Chanyeol sedikit terkejut kemudian membalik handphone Baekhyun dan mengakhiri sambungan telepon kepada Baconee yang sengaja dia buat. senyum kecil terlintas di bibir Chanyeol. Dia menghela napasnya kemudian mencoba membalikkan badannya membereskan alat band diruang itu dan mendengar gumaman dari namja mungil yang tertidur pulas itu.

"Uhh... dingin..."

Namja mungil itu meringkukkan badannya agar tidak kedinginan. Dia bergerak-gerak dalam tidurnya untuk mengambil posisi yang paling nyaman. Chanyeol yang mendengar gumaman Baekhyun mematikan AC yang dia nyalakan, kemudian melepas jas seragamnya dan menyelimuti Baekhyun dengan jasnya. kemudian dia menatap wajah Baekhyun yang tertidur pulas.

"Jadi kau adalah pria labil yang bernama Baconee itu... kurasa melihatmu membolos, tidak semangat dan malah tidur disini, aku sudah tahu jawabannya."

Chanyeol tersenyum kecil. setelah selesai membereskan peralatan band, Chanyeol keluar dari ruang band dan tak lupa mengunci pintu ruang Band seperti sedia kala sebelum dia masuk kedalam ruangan itu.

.

.

Sekitar sore hari, akhirnya Baekhyun terbangun dari tidur nyenyaknya. Wajahnya terlihat sangat berat, mungkin efek hatinya yang kelelahan menghadapi semua ini, fisiknya jadi lelah? Baekhyun terbangun menyeka liurnya yang sudah kering di sekitar bibirnya. Dia membangkitkan badannya dan tidak sengaja menjatuhkan jas yang sedari tadi menyelimutinya itu. Diapun menengok ke lantai dan mengambil jas itu.

"Ini jas siapa? Aku masih mengenakan jasku."

Baekhyun melihat ketubuhnya yang masih mengenakan jas kepunyaannya. Diapun membolak balik Jas itu mencari logo sekolah yang diatasnya terdapat nama pemilik jas tersebut.

"Park… Chan-yeol? Chanyeol? Chaannn…yeooll? Siapa?"

Baekhyun masih belum selesai mengumpulkan nyawanya setelah bangun tidur. Entah kenapa otaknya terasa kosong sekarang. Dia meletakkan lagi jas yang merupakan kepemilikkan pria bernama Park Chanyeol diatas pahanya. Dia menghela napas sebentar dan kemudian bak disambar petir, matanya langsung membulat besar dan mencari lagi nama pemilik jas itu dengan panic.

"AKU TIDAK SALAH BACA KAN?" Baekhyun mengusap dan mengerjapkan matanya berkali-kali menatap tajam bordiran nama pemilik jas itu.
"PARK CHANYEOL? DIA KESINI?!"

Baekhyun terkejut setengah mati melihat pemilik jas tersebut adalah Chanyeol. Cukup sampai disana terkejutnya. Dia baru sadar bahwa dia tadinya akan tidur sebentar,tapi dia merasa energinya terisi penuh seperti sehabis melakukan hibernasi. Diapun mengambil handphonenya untuk melihat seberapa lama dia tidur.

"SUDAH JAM 4! Aku hibernasikah? Lama sekali aku tidur... huuaammmm..."

Sudah tidur selama itupun, Baekhyun masih saja menguap. Dia duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawanya. Dia melamun, sampai akhirnya dia membulatkan matanya menjadi besar.

"Tunggu... bukankah seharusnya kegiatan band dimulai setengah jam yang lalu? Hari ini kan hari rabu..."

Baekhyun kemudian mengambil handphonenya dan menyimpan jas Chanyeol di dalam tasnya. Kemudian dia mengambil kunci yang berada disakunya untuk keluar dari ruang band. Dia berjalan menuju keluar sekolah sambil membuka handphonenya melihat beberapa notifikasi, ada notifikasi dari Kyungsoo yang sangat amat banyak sekali, notifikasi club band dan beberapa notifikasi dari pria bernama pcy-nim.

"Kyungsoo... pesan darinya pasti tidak penting, nanti malam saja mengabarinya."
"Club band... hari ini tidak ada kegiatan dikarenakan Chanyeol pengurus ruang tidak membawa kunci dan Baekhyun yang memiliki akses khusus tidak hadir."
"Pcy-nim... Misscall? Untuk apa dia menelponku?"

Baekhyun menyimpan handhonenya kedalam saku celananya. Didepan gerbang sekolah terlihat mobil sport hitam yang sudah setia menunggu didepan gerbang dan agak sedikit menghalangi jalan. Saat Baekhyun mencapai gerbang, perlahan, kaca mobil itu terbuka dan jelas sekali Chanyeol terlihat duduk dikursi pengemudi dan sedang menatap dan berkontak mata dengan Baekhyun.

"Cha-Chanyeol?"
"Masuklah."
"Kenapa?"
"Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu seperti terima kasih? Dan kau juga harus mengembalikan sesuatu padaku." Chanyeol tersenyum licik.

Baekhyun akhirnya menurut dan masuk kedalam mobil Chanyeol. Beberapa murid wanita lain hanya bisa menatap Baekhyun iri. Bagaimana tidak? Chanyeol sendiri yang menawarkan Baekhyun untuk masuk kedalam mobilnya. Dan memasuki mobil Chanyeol itu bagaikan suatu keajaiban. Karena selain Chanyeol sendiri yang membawa mobil itu, bahkan temannya tidak diperbolehkan untuk memasuki mobil sport hitam kesayangannya itu. Walaupun Chanyeol memang belum memiliki SIM, tapi status keluarganya yang bisa dibilang bisa menikmati fasilitas apapun selama ada uang membuat Chanyeol bisa berbuat sesuka hati.

"Kita kemana?"
"Tentu saja rumahmu Baek..."
"Kau tahu rumahku?"
"Tentu saja tidak, arahkan jalannya."
"Ahh..."
"Kau.. tidak ingin mengembalikan sesuatu padaku?"

Baekhyun gugup. Dia bingung, seketika dia lupa apa yang harus dikembalikan. Dia berpikir agak lama. Baekhyun melamun sambil memikirkan apa yang harus dia kembalikan kepada Chanyeol dan apa yang harus dia katakan. Otaknya bekerja sangat lama. Sampai akhirnya Chanyeol menyadarkan Baekhyun dari lamunan panjangnya.

"Hei... nyawamu belum terkumpul setelah bangun tidur tadi?"
"Ahh... maaf... sudah berapa lama kau menungguku didepan sana?"
"Hmm... sekitar setengah jam?... Lupakan... kau tidak mau mengembalikan jasku?"

Ahh iya... jas... Baekhyun baru teringat bahwa jas kepemilikkan Park Chanyeollah yang harus dia kembalikan, yang dia gunakan sebagai selimut entah sejak kapan. Yang membuatnya tidur semakin nyenyak akibat bau maskulin dari pemilik jas yang menempel pada jas tersebut. Baekhyun mengeluarkan jas yang sudah tak berbentuk itu dari tas sekolahnya. Dia merasa bertanggung jawab atas ja situ.

"Apa perlu ku laundry terlebih dahulu baru kukembalikan?"

Chanyeol berpikir sejenak mengenai tawaran Baekhyun. Senyum kecil tergambar diwajahnya.

"Baiklah, kau bisa mencuci jasku kemudian mengembalikannya padaku bila sudah selesai."

Baekhyun menunduk menatap jas yang terdapat nama kepemilikan Park Chanyeol itu berada digenggamman tangannya. Suasana hening. Baekhyun tidak tahu harus berkata apa. Dia memikirkan kata apa yang cocok, maaf. Atau terima kasih. Chanyeol yang melihat raut wajah Baekhyun yang kalut dalam pikirannya sendiri akhirnya menghela napas dan mencoba memulai pembicaraan.

"Tidak usah dipikirkan... Aku tahu kau bingung antara ingin meminta maaf atau berterima kasih. Aku mengerti. Tapi aku ingin bertanya 1 hal."

Baekhyun menoleh menatap Chanyeol mendengar permintaan Chanyeol barusan. Dia sebisa mungkin menatap Chanyeol dengan serius karena itu satu-satunya usahanya agar bisa menunjukkan betapa berterima kasihnya dia kepada Chanyeol. Karena, bagaimanapun juga, Chanyeollah yang membuat kegiatan band tidak diadakan hari ini. Dan bila kegiatan band diadakan, baekhyun siap menerima kata-kata kasar dari teman seclubnya. Ya, karena Baekhyun anak pemilik sekolah dan bisa memakai ruangan sesuka hati, anak club band pasti tidak berani mengusirnya dan alhasil mereka akan membicarakan Baekhyun dari belakang.

"Kau ingin bertanya apa?"
"Kau sudah putus dengan Yeri?"

Mendengar pertanyaan Chanyeol, Baekhyun hanya memutar bola matanya malas. Dia lelah membahas hubungannya dengan Yeri. Dia ingin segera melupakan Yeri agar hatinya bisa merasa nyaman dan dia bisa menghirup napas lega.

"Kau kan sudah melihatnya kemarin."
"Bukankah itu hanya karena kau marah, kau jadi berkata seperti itu?"

Baekhyun menghembuskan nafasnya panjang. Dia benar-benar merasa bahwa Chanyeol memang ingin memperpanjang masalah ini. Mau tidak mau, Baekhyun mengikuti alur yang sudah dipimpin oleh Chanyeol.

"Aku sudah bicara baik-baik dengannya tadi pagi dan hubungan kami resmi berakhir, puas?

Chanyeol tersenyum kecil. Walaupun senyum itu kecil sekali, Baekhyun dapat melihatnya dengan sangat jelas. Diapun menyipitkan matanya dan mengerutkan dahinya.

"Kau baru saja tersenyum?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Jangan bilang padaku kau menyukai Yeri?"
"Hah?"
"Aku baru putus dengan Yeri dan kau tersenyum. Bukankah itu tanda bahwa kau senang aku putus dengan Yeri dan kau akan mengencaninya... Yah siapa yang tidak tertarik dengan yeoja tercantik disekolah ini."

Chanyeol membelalakkan matanya tidak percaya mendengar pernyataan Baekhyun barusan. Menurut Chanyeol, perkataan Baekhyun sangat tidak masuk akal. Untuk apa Chanyeol mengejar Yeri? Chanyeol itu gay. Tapi masuk akal bagi Baekhyun karena Baekhyun tidak tahu kalau Chanyeol itu gay. Bagaimanapun juga, Chanyeol tidak tahu respon Baekhyun mengenai hubungan sesama jenis. Apakah dia menyukai hubungan sesama jenis? Biasa saja? Terima terima saja? Atau merasa jijik? Chanyeol belum berani mengambil resiko.

"Huhh..."
"Benarkan? Kau menyukai Yeri? Jangan bermimpi Chanyeol, dia sudah berkencan dengan Taeyong. Tapi kalau kau mau mencoba ya silahkan... Ohh iya, lurus lagi ada perempatan belok kiri kemudian lurus hingga bertemu jalan kedua disebelah kanan, disana rumahku. Lagipula, kau cukup tampan.. Ahh tidak kau bisa dibilang namja tertampan disekolah, pasti sangat mudah bagimu untuk mendapatkan Yeri.

Chanyeol menolehkan wajahnya kepada Baekhyun sebentar. Dia tersenyum. Baru saja dia mendengar kata-kata bahwa dia tampan jelas keluar dari mulut namja pendek yang duduk disebelahnya itu. Dia merasa jantungnya mulai berdegup kencang dan dia tidak sanggup menahan rasa senangnya itu.

"Baekhyun?"
"Kenapa?"

Chanyeol memutar kemudi mobilnya kearah kanan, kemudian menginjak rem tanda bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan yaitu di depan rumah megah Baekhyun.

"Kau mau tahu rahasiaku?"
"Memangnya apa peduliku harus tahu rahasiamu. Sangat tidak penting. Pokoknya, terima kasih sudah mengantarku."

Baekhyun melepas sabuk pengamannya kemudian memegang gagang pembuka mobil dengan tangan kirinya dan membuka pintu untuk keluar dari mobil. Tapi ketika langkah kaki kanannya sudah menyentuh aspal, tangan kirinya tertahan didalam mobil. Genggaman hangat menyentuh pergelangan tangannya tanda bahwa Namja yang telah mengantarnya pulang itu menahan Baekhyun untuk keluar dari mobil.

"Kau benar-benar tidak ingin tahu rahasiaku?"

Baekhyun yang merasa tangan kanannya tertahan kembali masuk kedalam mobil untuk mendengar celotehan namja yang duduk di kursi pengemudi itu. Dia memutar bola matanya malas dan kemudian duduk menghadap namja yang telah mengantarnya pulang itu.

"Baiklah, aku akan mendengar rahasiamu. Setelah aku tahu rahasiamu, bisakah kau membiarkanku keluar dari mobil ini dan beristirahat dengan tenang dikamarku? Jujur, aku terlalu lelah untuk mendengarkan candaanmu."
"Hmm... Baiklah... Tapi 1 hal yang aku yakin, kau tidak akan bisa beristirahat sedamai itu setelah mengetahui rahasiaku."

Jujur, Baekhyun sedang merasa seperti bicara dengan anak SD yang ingin mengumbar gosip tentang dirinya sendiri. Baekhyun hanya menghela napas pendek dan menerima celotehan panjang lebar Chanyeol.

"Baiklah, jadi rahaisamu apa? Mengenai aku beristirahat dengan nyaman atau tidak, itu urusanku."
"Hmm... Baiklah, jangan kaget..."

Baekhyun memutar bola matanya entah yang sudah keberapa kalinya. Dia hanya ingin pembicaraan ini berakhir cepat dan beristirahat dengan damai di kamar tercintanya. Tapi namja yang menurutnya menyebalkan yang sedang duduk disampingnya ini menghalanginya untuk bisa beristirahat dengan nyaman.

"Iyaa... Rahasiamu apa? Cepat?!
"Aku... Aku seorang gay."

"Meet Strangers"

.

.

.