"Haruskah aku jadi gay saja?"
Pria bermata bulat yang sedang berbicara dengannya semakin membulatkan matanya lagi. Kyungsoo mengerjapkan matanya berkali-kali, dia tidak percaya akan pertanyaan yang barusan Baekhyun keluarkan dari mulutnya sendiri. Kyungsoo memundurkan tubuhnya 1 langkah dari Baekhyun.
"Kenapa? Ide buruk?"
"Kau tidak mungkin... Suka padaku kan?... Baek...? Bagaimanapun juga aku tidak bisa Baek... Aku sudah bersama dengan Kai.."
"Kau bercanda hah? Untuk apa aku menyukaimu!"
Baekhyun meninju perut Kyungsoo pelan. Dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir Kyungsoo. Memangnya bila Baekhyun jadi gay, lalu target pertamanya Kyungsoo? Tidak mungkin. Baekhyun tidak ingin kehilangan sahabat satu-satunya bila mereka menjadi pasangan dan berpisah.
"Lalu? Siapa?"
"Hmm... Aku merasa nyaman dengan seorang pria..."
"Kau juga nyaman denganku kan? Mungkin kau salah mengartikan perasaanmu? Bukankah kau baru patah hati karna Yeri? Kau kan straight..."
"Tolong jangan sebut Yeri lagi. Dan, memangnya kalau aku straight, aku tidak bisa berubah jadi gay?"
Sebenarnya Baekhyun bertanya cukup serius. Dia menatap Kyungsoo dalam-dalam dan meraih kedua tangannya. Jujur, Baekhyun benar-benar butuh jawaban atas perasaannya sekarang. Dia sangat bingung mengartikan perasaan nyaman ini.
"Hmm... bisa sih... tapi... agak aneh melihatmu menjadi gay."
"Kenapa?"
"Entahlah, karena kau tadinya straight."
"Kau gay sejak lahir?"
"Bisa dibilang begitu, aku tidak pernah memiliki perasaan terhadap perempuan."
"Hmm... Kyungsoo, mau menginap di rumahku hari ini?"
Wajah Kyungsoo memerah mendengar pertanyaan Baekhyun barusan. Untuk seorang gay seperti Kyungsoo, pertanyaan Baekhyun itu sangat sensitif baginya. Menginap di rumah pria, mungkin Kai bisa menghajar Baekhyun bila dia tahu. Apalagi bila ditambah fakta sahabatnya ini yang tadinya straight berubah menjadi gay. Kai pasti akan menghajar Baekhyun habis-habisan.
"Bagaimana ya, sepertinya Kai tidak akan mengijinkanku..."
"Hm... telpon dia dan tanya."
"Hah? Kau yakin?"
"Ya."
Kyungsoo mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Kai yang sedang dalam perjalanan ke Busan. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, baru nada sambung pertama, telepon yang tadinya hanya terdengar nada sambung langsung berubah menjadi suara pria berkulit tan diseberang sana.
Kai: "Haloo, Kyungsoo-ya... ada apa?"
Kyungsoo: "Ohh Jongin-ahh... bolehkah hari ini aku menginap?"
Kai: "Dimana?"
Kyungsoo: "Rumah Baekhyun."
Terdengar keheningan dari suara diseberang sana. Pria yang dihubungi itu tidak menjawab Kyungsoo. Kyungsoopun menoleh ke Baekhyun dengan wajah panik. Dan memberi isyarat tanda silang dengan kedua tangannya. Melihat gerak-gerik Kyungsoo, Baekhyun dengan sigap langsung merebut handphone Kyungsoo yang masih tersambung dengan Kai.
Baekhyun: "Hei! Kim Jongin!
Kai: "Siapa yang mengijinkanmu memanggil nama asliku hah?!"
Baekhyun: "Biarkan Kyungsoo menginap dirumahku, kami hanya sahabat, bodoh.."
Kai: "Aku tetap tidak percaya..."
Baekhyun: "Aku sudah jadi gay dan aku tidak tertarik dengan sipendek bermata bulat ini."
Kai: "Apa kau bilang? Si pendek bermata bulat!"
Baekhyun memutuskan sambungan secara sepihak. Dia menoleh ke Kyungsoo sambil mengembalikan handphone Kyungsoo. Dapat terlihat wajah kesal Kyungsoo disana.
"Kyungg...ssoo?" Baekhyun dengan hati-hati memanggil Kyungsoo.
"Kalau kau kesal padanya kenapa kau harus meledekku juga?! Menyebalkan!"
"Maafkan aku... eohh... menginap dirumahku hari ini saja... aku butuh teman bercerita.."
"Bercerita saja dengan teman barumu." Kyungsoo kesal.
"Tidak bisa Kyungsoo, aku ingin bercerita tentangnya dan satu-satunya yang bisa menjadi pendengar hanya kau."
"Huh..."
.
.
.
"Meet Strangers"
Kyungsoo pada akhirnya menginap dirumah Baekhyun, yah, rumah Baekhyun yang sepi dan sangat besar ini pasti sangatlah bisa menampung Kyungsoo yang hanya 1 orang. Kamar tamu di rumah Baekhyun ada banyak, karena biasanya saudaranya dari China mengunjunginya dan keluarga ketika tahun baru. Tapi belakangan ini kedua orang tuanya sibuk entah dimana, Baekhyun sangat kesepian akhir-akhir ini. Bagaimana dengan Baekboom? Ya, hyung yang satu-satunya Baekhyun miliki pasti sedang keluar bersama pacarnya.
Yah, ukuran tubuh Kyungsoo dan Baekhyun juga tidak begitu berbeda jauh. Hanya saja Baekhyun lebih besar sedikit. Kyungsoo tidak perlu pulang ke rumah untuk mengambil baju dan bisa meminjam baju Baekhyun untuk sementara. Masalah makan juga Baekhyun bisa meminta pembantu rumah tangganya untuk membuat makanan lebih agar bisa disuguhkan kepada Kyungsoo. Karena masih sore, Kyungsoo dan Baekhyun berada di ruang tamu bermain video games, Baekhyun masih belum memutuskan untuk bercerita atau tidak.
"Ngomong-ngomong Baek..."
Kyungsoo menghentikan permainannya sebentar dan menoleh ke arah Baekhyun serius. Melihat Kyungsoo yang berhenti, Baekhyun mengambil gelas berisi air dimejanya untuk dia minum.
"Kalau kau jadi gay..."
"Kau mau jadi seme... Atau uke?"
"Uhuk..uhuk..." Baekhyun tersedak.
Bagaimana tidak, pertanyaan Kyungsoo sangat menyerang sekali. Baekhyun yang baru memasuki dunia sesama jenis mana mengerti hal seperti itu harus dipilih. Lagi pula, saat bersama Yeri kan dia menjadi seme, tidak mungkin menjadi uke.
"Haruskah aku mencoba?" Baekhyun membalas tatapan Kyungsoo.
"Coba apa? Ke-kenapa kau menatapku begitu?" Kyungsoo menjauhkan diri dari Baekhyun.
"Sudah ku bilang, aku tidak tertarik padamu. Memangnya bagaimana rasanya menjadi uke? Haruskah aku coba?"
Kyungsoo langsung menoleh kerah Baekhyun tajam. Dia menatap serius dan aneh terhadap sahabat yang sedang duduk didepannya ini. Kyungsoo merasa tidak buruk melihat Baekhyun menjadi uke, tapi, Kyungsoo sudah terbiasa melihat Baekhyun sebagai pacar pria yang baik terhadap Yeri tidak bisa membayangkan bagaimana sikap Baekhyun bila menjadi uke.
"Jangan Baek, kau tidak akan sanggup menjadi uke..."
"Waee?" Baekhyun menatap Kyungsoo bingung.
"Sakit Baekk..."
"'Hah?" Baekhyun tidak mengerti.
"Ahh.. selama ini kau belum pernah ya?"
"Apanya?"
"Sex..."
Baekhyun membulatkan matanya lebar-lebar setelah mendengar jawaban Kyungsoo barusan. Bagaimana tidak, pertanyaannya begitu... sensitif? Memang mereka sesama pria, tapi bila kedua pria berada di 1 atap bersama dan kondisinya sangat sepi dan hening begini, bukankah aneh?
"Kau tidak salah kan Kyungsoo? Kau sakit?"
"Kau belum pernah kan dengan Yeri?" Kyungsoo menatap Baekhyun serius.
"Tentu saja tidak bodoh... memangnya aku segila apa menghamili anak orang."
"Bila tidak keluar di dalam kan tidak hamil..." Jawab Kyungsoo polos.
"Auhh..."
Baekhyun Frustasi akan pembicaraannya dengan Kyungsoo. Kenapa arah pembicaraan mereka jadi mengarah kesini. Baekhyun tidak mengerti. Yah, Baekhyun yang sudah berpacaran 3 tahun ini bahkan tidak pernah mencium Yeri. Eh? Tidak pernah? Kenapa? Selama ini Baekhyun memang menyayangi dan menyukai Yeri. Tapi suka ya suka, sayang ya sayang, semua rasa tertarik itu hanya sebatas perasaan Baekhyun menganggap Yeri seperti orang yang ingin dia lindungi. Teman? Adik perempuan? Mungkin kata adik perempuan lebih tepat untuk mendiskripsikannya.
"Iya kan... kau bahkan belum pernah menciumnya, kau dan Yeri hanya sebatas berpelukkan, hubungan kalian paling jauh hanya sampai disana."
"Diam kau Kyungsoo... memangnya kau dan Kai sudah sampai mana, hah?!" Baekhyun kesal.
"Aku tidak bisa membicarakannya kami sudah sampai mana, yang pasti hubungan kami sangat dalam." Wajah Kyungsoo memerah.
Baekhyun tidak percaya akan apa yang dikatakan Kyungsoo barusan. Dia melihat wajah Kyungsoo memerah saat membahas ini, Baekhyun merasa panas. Baekhyun mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas padahal ruangan tersebut ber-AC.
"Tidak bisa kupercaya, jangan bilang padaku kalian sudah... masuk... memasuki?"
Mereka sudah cukup dewasakan membahas ini? Baekhyun menanyakan kepada Kyungsoo perlahan-lahan dan dia juga merasa jijik mengucapkan kata masuk memasuki. Apalagi sesama Pria, Baekhyun tidak bisa membayangkannya. Jelas, Baekhyun kan straight. Bagaimana bisa dia membayangkan hubungan sex antar pria.
"Huhh..." Kyungsoo hanya menghela napas.
"Kyungsoo-yaa... jawab aku..."
"Kalau iya, memangnya kenapa?"
Serasa naik jet coaster yang sudah tiba di puncak tertinggi dan dihempas kebawah secara tiba-tiba. Baekhyun menganga mendengar jawaban Kyungsoo. Apalagi dia menjawab dengan santainya. Baekhyun sama sekali tidak percaya akan sahabat satu-satunya ini sudah ternoda. Walaupun dia tidak mungkin hamil sih, tapi, hubungan seperti itu terlalu intim menurut Baekhyun. Bukannya tidak ada hasrat akan sex, tapi Baekhyun hanya tidak ingin?
"Hhh..."
Baekhyun hanya bisa menghela napasnya. Dia meletakkan Joystick yang sedari tadi dia genggam saat bermain video games kemudian bagun dari sofa yang didudukinya. Dia berjalan melalui Kyungsoo kemudian menepuk Pundak Kyungsoo pelan.
"Kutunggu dikamar ya, ceritakan semuanya sahabat..." Senyum Baekhyun palsu dan terpaksa.
Kyungsoo hanya bisa menelan ludahnya kasar. Dia siap dihujat oleh sahabat kecilnya ini. Semua rahasianya akan terbongkar hari ini. Dia tidak menyangka, hari ini adalah harinya mereka akan bertukar cerita lagi. Terakhir mereka melakukan hal seperti ini sepertinya kurang lebih, 5 tahun yang lalu?
.
Baekhyun berada dikamarnya, menonton beberapa acara TV yang bahkan dia belum pernah tonton. Yah, Baekhyun sangat jarang menonton TV. Biasanya hari-harinya dihabiskan diluar rumah bersama Yeri dan bila dia tidak pergi dengan Yeri, dia pasti akan melakukan video call dengan Yeri atau mencoba menulis lagu di kamarnya. Tapi entah kenapa moodnya sedang jelek, dia sama sekali tidak ada keinginan untuk menyentuh alat musik yang berada di kamarnya.
Dan juga, handphone Baekhyun sangat sepi. Biasanya dia tidak bisa terpisahkan dari handphonenya karena Yeri hampir menanyakan kabarnya setiap 30 menit. Dan juga beberapa hari ini ada pria yang dikenalnya melalui aplikasi chatting selalu menghubunginya. Tapi setelah ajakkan kencan kemarin, pria itu tak kunjung muncul.
Baekhyun mengambil handphonenya yang terletak di meja samping ranjangnya. Menyalakan layarnya yang begitu polos tanpa notifikasi dan kembali membuka pesan dengan pria yang diberi nama pcy-nim itu.
"Baekhyun POV"
Jelas-jelas pesanku sudah dibaca dari kemarin... Tapi kenapa dia tidak membalasnya? Aneh? Bukankah dia baru saja kabur dari masalah namanya? Setelah dia membuatku seperti ini, dengan seenaknya dia pergi? Huh. Haruskah ku delete namanya dari kontakku? Tenang Baekhyun, kau harus tenang. Kau tidak boleh kesal. Bila kau kesal, itu tandanya kau kalah. Tapi... bukankah sesuatu bisa terjadi padanya? Tidak biasanya dia tidak membalas seperti ini? Tunggu, tapi, apa peduliku bila sesuatu terjadi padanya? Aku bahkan tidak tahu namanya. Lupakan saja Baekhyun, pria itu hanya lewat saja di kehidupanmu.
.
.
.
"Author POV"
Benarkah pria yang diberi nama pcy-nim itu hanya lewat di kehidupan Baekhyun? Baekhyun nampak gelisah, dia tidak bisa diam sedari tadi menyala matikan layar handphonenya menunggu satu notifikasi saja dari pria itu. Baekhyun kembali membuka dan menutup pesannya dengan pcy-nim, berharap pria yang sudah membaca pesannya itu segera membalasnya, tapi sayangnya kenyataan berkata lain, pria yang diberi nama pcy-nim itu tak kunjung membalas pesannya.
.
.
.
Kyungsoo berkutat di dapur rumah Baekhyun. Dia memasak spaghetti dengan tujuan untuk meminta maaf kepada Baekhyun. Dia tidak menyangka kalau Baekhyun akan sekesal itu karena Kyungsoo tidak pernah bercerita apa-apa akan hubungannya. Demi merayu Baekhyun yang sedang kesal, mau tidak mau dia harus membuat makanan. Bila Baekhyun kesal juga Baekhyun tidak akan mau menceritakan apapun, karena moodnya benar-benar buruk.
Akhirnya, spaghetti buatan Kyungsoo jadi. Dia membawa satu piring berisi spaghetti itu menyusuri tangga menuju lantai dua yaitu kamar Baekhyun, dimana Baekhyun sedang bersantai sekarang. Sebelum masuk, Kyungsoo mengetuk pintu dulu, berjaga-jaga bila Baekhyun menolak kehadiran Kyungsoo disana. Tapi fakta berkata lain, Baekhyun beranjak dari kasur dan membukakan pintu kamarnya yang dikunci itu agar Kyungsoo masuk kedalam kamarnya.
"Spaghetti?" Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung melihat Kyungsoo membawa piring berisi spaghetti.
"Ohh... Makanlah..."
"Kau sengaja membujukku dengan makanan kan?!" Baekhyun menyipitkan matanya dan menatap Kyungsoo tajam.
"Aku minta maaf Baekk... Aku akan menceritakan semuanya."
"Hh..."
Baekhyun hanya menghela napas dan memutar bola matanya malas. Dia mengambil piring yang sedari tadi dibawa Kyungsoo dengan kedua tangannya kepalanya ditolehkan kearah dalam kamarnya menunjukkan bahwa Kyungsoo boleh masuk.
.
Baekhyun masih menyantap spaghettinya sambil menonton acara variety yang sama sekali tidak ia resapi. Matanya menatap ke arah televisi yang menyiarkan acara itu, tapi pikirannya melayang entah kemana. Baekhyun sedang memikirkan bagaimana awalnya dia harus bercerita pada Kyungsoo. Dia tidak tau harus memulai dari mana, haruskah dimulai dari dia putus dengan Yeri? Ahh, tapi Baekhyun sama sekali tidak mau menyebut nama wanita itu lagi. Haruskah dia mulai dari aplikasi chat yang dia download? Atau Chanyeol siswa tertampan disekolah yang mengajaknya ke cafe? Baekhyun bingung. Dia nampak sedikit frustasi sekarang.
"Kyungsoo ya..."
"Ohh?"
"Bagaimana kau bisa jadi gay?"
Kyungsoo menelan ludahnya mendengar pertanyaan Baekhyun. Dia tidak menyangka bahwa Baekhyun akan bertanya to the point seperti itu. Dia kira, Baekhyun akan menanyakan pertanyaan dasar seperti kenapa kau menyukai Kai? Sepertinya Baekhyun sangat penasaran dengan hubungan sesama jenis.
"Yahh... aku menyukai pria..."
"Aku jelas tahu gay itu menyukai pria." Baekhyun memutar bola matanya malas dan meletakkan spaghettinya yang masih belum habis kemudian duduk bersila di ranjangnya menghadap ke Kyungsoo yang duduk di kursi yang letakknya tak jauh dari jendela balkon.
"Lalu maksudmu?"
"Hmm... mungkin pertanyaan yang lebih tepat... Apa tanda-tanda dirimu mulai menyukai si Jongin itu?
"Hah? tanda-tanda?"
"Hmm..." Baekhyun menatap Kyungsoo serius nampak seperti anak kecil yang akan mendengarkan penjelasan guru yang mengajar di depan kelas.
"Entahlah, ketika dia dekat denganku, jantungku berdegup kencang... ketika dia pergi atau menjauh dariku, aku sedih. Bukankah kau tahu rasanya? Kau pasti pernah merasakan hal seperti itu dengan mantan pacarmu." Kyungsoo tidak berani menyebut nama Yeri lagi.
Baekhyun berpikir sebentar. Apakah dia pernah merasakan hal itu dengan Yeri? Pernahkah? Memang pernah jantung Baekhyun berdegup tidak normal saat bersama Yeri, tapi kapan? Baekhyun tidak ingat. Apakah karena Baekhyun menganggap Yeri seperti adiknya? Baekhyun juga sedih saat berpisah dengan Yeri. Apakah itu perasaan sedih yang seperti Kyungsoo bilang? Baekhyun bahkan menangis ketika putus dengan Yeri. Tapi apakah itu benar perpisahaan terhadap orang yang dicintai? Baekhyun tidak yakin.
"Aku tidak yakin..."
"Hah?" Kyungsoo bingung.
"Kurasa, aku selama ini bingung terhadap perasaanku dengan Yeri."
"Maksudmu?"
"Aku memang mencintai Yeri."
"Lalu masalahnya apa?"
"Aku tidak tahu... Aku mencintai dia sebagai wanita... atau sebagai anggapan adik perempuan yang ingin kujaga hatinya... Aku bingung."
"Hmm.."
Akhirnya setelah tidak bercerita selama 5 tahun lamanya, kedua sahabat ini membuka hati masing-masing. Kyungsoo nampak mengerti maksud Baekhyun yang bingung akan rasa cintanya, menganggap Yeri sebagai wanita berstatus pacar yang suatu hari bisa dia nikahi di masa depan atau adik perempuan.
"Jantungmu pernah berdegup kencang saat bersama Yeri?"
"Hmm... aku tidak ingat..."
"Coba ingat-ingat.."
"Hmm... Ahh... jantungku berdegup kencang saat itu... white day... saat aku akan menyatakan perasaanku padanya."
Kyungsoo hanya memutar bola matanya malas mendegar jawaban Baekhyun. Tentu saja semua pria pasti akan deg-degan dan gugup ketika menyatakan perasaannya. Bahkan perempuan yang hanya tinggal menjawab ya atau tidak aja pasti akan gugup. Kyungsoo tidak tahu Baekhyun ini bodoh atau apa, tapi rasa bingungnya sudah menenggelamkannya.
"Tidak ada momen lain? Yang lebih spesifik?"
"Mmm... Kurasa tidak.."
"Lalu, saat putus, kau sedih?"
"Ya... Aku bahkan menangis." Tiba-tiba Baekhyun terlihat antusias.
"Hmm... menurut pandanganku, kau tidak meliriknya sebagai wanita karena kau tertarik padanya, tapi hanya sebagai adik permpuan yang ingin kau jaga, seperti kau bilang."
"Kenapa? Kau beranggapan seperti itu? Kupikir selama ini aku mencintai Yeri."
"Cinta itu banyak jenis Baek... kau juga cinta kedua orang tuamu kan? Seperti itu maksudku."
"Ahh... Aku rasa aku mulai mengerti." Jawab Baekhyun yang bertingkah seperti anak SD yang baru mengerti pelajaran matematika setelah dijelaskan berkali-kali.
Kyungsoo yang selama hampir 2 tahunan ini bersama Baekhyun yang berstatus pacar Yeri, baru tahu bahwa perasaan Baekhyun terhadap Yeri itu ternyata rasa sayang sebagai adik? Kyungsoo tidak menyangka, selama 3 tahun Baekhyun berhubungan dengan Yeri, apakah Baekhyun tidak menyadarinya? Memang aneh sih, mereka sudah berpacaran 3 tahun, tapi mereka bahkan belum pernah sekalipun berciuman. Bila dibandingkan dengan Kyungsoo dan Kai, rasanya jumlah mereka saling bertemu bibir sudah tidak dapat dihitung. Memikirkan itu, wajah Kyungsoo memerah.
"Ada apa?" Baekhyun bingung melihat wajah Kyungsoo yang memerah.
"Hah? Tidak apa-apa... sesaat aku hanya teringat Jongin."
"Lagi? Tolong lupakan Jongin hari ini saja Kyungsoo. Tidak bisakah kau pikirkan diriku? Hari ini saja... Eohhh"
"Hmm... Baekk... jujur padaku, kau menyukaiku kan?" Kyungsoo menatap Baekhyun tajam.
Baekhyun yang ditatap tajam seperti itu hanya bisa membeku ditempatnya. Perlahan dia bangun dari posisi duduk bersilanya dan memundurkan tubuhnya sejauh mungkin hingga ke kepala kasur yang ditempatinya. Dia menyembunyikan tubuhnya dari kaki hingga pundaknya yang menyebabkan hanya kepalanya saja yang terlihat disana. Dia menatap Kyungsoo takut? Gugup? Bingung? Aneh? Dia tidak tahu.
"Kyungg... tolong jangan mendekat denganku, jaga jarak denganku minimal 2 meter."
"Hah?" Kyungsoo bingung kemudian beranjak bangun dari kursi yang didudukinya dan mendekati Baekhyun yang masih menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut.
"Kubilang jangan mendekat!" Baekhyun sedikit menekankan nada bicaranya.
Kyungsoo yang bukannya menuruti perkataan sahabatnya ini malah semakin berjalan mendekati Baekhyun. Baekhyun memasukkan kepalanya kedalam selimutnya. Dia tidak tahu harus apa, Baekhyun bingung sekarang. Kyungsoo yang sudah berada di samping tubuh Baekhyun yang terlihat bentuk meringkuk dari balik selimut kemudian menarik selimut Baekhyun hingga tubuh Baekhyun yang sedang meringkuk membelakangi Kyungsoo yang sedang berdiri terlihat. Kyungsoo memberanikan diri memeluk Baekhyun. Baekhyun membeku seketika. Matanya membulat besar.
"Kyungg?"
Kyungsoo melepaskan pelukan sebentarnya terhadap Baekhyun kemudian menarik lengan Baekhyun agar duduk dan wajahnya terlihat oleh Kyungsoo. Dengan susah payah, akhirnya Baekhyun terduduk dan menatap Kyungsoo.
"Bagaimana?" Tanya Kyungsoo.
"Apa?" Baekhyun kemudian menundukkan wajahnya lagi.
"Jantungmu..."
"Hah?" Baekhyun mengadahkan kepalanya lagi menatap Kyungsoo bingung.
"Aku tanya, jantungmu... dia berdegup kencang tidak?" Kyungsoo menunjuk dada sebelah kiri Baekhyun dengan jari telunjuk tangan kanannya.
Baekhyun memegang dada sebelah kirinya dengan tangan kananya. Dia beberapa kali memindahkan telapak tangannya mencoba mencari sumber detakkan disana. Hingga akhirnya, detak jantungnya terasa. Sangat normal, berdetak pelan bahkan sangat pelan. Apakah ini tandanya Baekhyun akan segera mati? Baekhyun panik menatap Kyungsoo.
"Detak jantungku sangat pelan... Apa aku akan mati?!" Baekhyun berdiri meraih kedua pundak pria bermata bulat yang berdiri dihadapannya sekarang.
"Hhh..." Kyungsoo menghela napas cukup panjang. Ahh, tidak, bisa dibilang sangat panjang.
"Baek... sepertinya kau cukup stress ya setelah putus?" Kyungsoo menekan tubuh Baekhyun dan mendudukkan Baekhyun kembali di ranjangnya.
"Sepertinya... hahaha... Kau tahu, saat kau bilang aku menyukaimu, aku mengira bahwa itu mungkin saja terjadi, ternyata setelah mengetahui detakkan jantungku, aku jadi mengerti maksudmu memelukku tadi. Hahahaa…" Baekhyun tertawa sedih?
"Ya… aku melakukan itu hanya untuk mengetesmu saja ahhaha… Oh hiya… Mau kuberi tahu sesuatu yang bisa menaikkan rasa penasaran dan moodmu?" Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya, bertanya dengan nada semangat.
"Apa?"
Baekhyun menatap Kyungsoo penasaran. Entah kenapa, dia rasanya sangat membutuhkan vitamin penyemangat saat ini. Terlalu banyak masalah yang hal mengejutkan beberapa hari ini. Mungkin sahabatnya ini bisa menenangkannya.
"Tapi aku juga tidak begitu yakin dengan hal ini..." Kyungsoo sedikit ragu.
"Apa? Beritahu saja."
"Menurut pandanganku..."
"Kenapa dengan pandanganmu? Matamu sudah membaik? Jangan tatap orang dengan tatapan seperti itu, kau tahu semua orang benci dengan tatapanmu."
"baek... jangan buat aku kesal... tolong..."
Kyungsoo menampilkan senyum palsu dan tatapan tajamnya. Baekhyun bergidik ngeri melihatnya. Kyungsoo memang memiliki pandangan yang buruk. Dia selalu menatap tajam seseorang agar bisa melihat dengan baik. Tapi tatapan tajam seperti ini rasanya bukan tatapan tajam untuk memperjelas pengelihatannya, tapi tatapan tajam bahwa dia sedikit kesal.
"Ahahah... maaf..." Baekhyun tertawa canggung.
"Oke... jadi, menurut sudut pandangku." Kyungsoo membenarkan kata-katanya agar tidak disela Baekhyun.
"Ya?" Baekhyun menaikkan sebelah alisnya menatap Kyungsoo.
"Kau itu..."
"Sudah gay sejak dulu..."
"Meet Strangers"
.
.
.
