"Kau itu..."
"Sudah gay sejak dulu..."

Baekhyun menatap Kyungsoo bingung. Dia tidak mengerti maksud Kyungsoo. Gay sejak dulu? Tapi kan Baekhyun masih tertarik dengan dada besar wanita? Bagaimana bisa dia gay?

"Eii... Jangan bercanda Kyungsoo-ya... Aku masih tertarik dengan dada wanita hahaha..."
"Memangnya kau kira aku tidak tetarik dengan dada wanita?" Kyungsoo menunjukkan isi galeri handphonenya yang terkunci. Banyak sekali foto wanita yang (membuat nafsu meningkat?) Membuat Baekhyun menelan ludahnya.

"Rasa nafsu dan ingin karena cinta itu beda Baekk... Kau memang nafsu terhadap wanita berdada besar, tapi dengan siapa kau ingin melakukan hal itu? Wanitakah? Atau Pria? Tidak peduli jenis kelaminnya, pasti kau ingin melakukannya hanya dengan orang yang kau sayangi dan kau cintai, kecuali kau seorang brengsek yang memasuki sembarang orang." Kyungsoo menjelaskan.

Baekhyun menggeleng kepalnya tidak percaya atas apa yang Kyungsoo katakan barusan. Apakah Kyungsoo yang berada dihadapannya ini benar Kyungsoo yang dulu sering dihajar oleh senior karena tatapan tajamnya? Yang jelas, Kyungsoo yang sekarang benar-benar berbeda dengan Kyungsoo yang dulu. Lebih dewasa? Ahh tidak, dia tidak jadi lebih dewasa, tapi topik yang dibahaslah yang berbau dewasa.

"Tunggu..tunggu..tunggu..."
"Ngomong-ngomong, kenapa kita jadi membahas..."
"hmm... sex...?"

Baekhyun mengucapkan 1 kata yang memiliki 3 huruf itu ragu-ragu. Pasalnya Baekhyun benar-benar sensitif akan hal berbau sex. Kenapa? Ya, Baekhyun adalah anak hasil karya ayah dan ibunya. Sedikit cerita tentang keluarga Baekhyun. Ayah dan ibu Baekhyun, menikah setelah Baekhyun lahir. Ya, setelah Baekhyun berumur 2 tahun. Yang Baekhyun tahu, dulu ibunya adalah partner sex ayahnya. Ketika mereka melahirkan anak kedua, mereka baru sadar bahwa kedua orang tuanya itu melakukan sex berdasarkan cinta. Bagaimana dengan Baekbeom? Kenapa tidak menikah setelah Baekbeom lahir?

Ibunya kabur. Singkatnya, ibu Baekhyun melarikan diri dari tuan Byun saat tahu bahwa dia hamil anak pertamanya yaitu Baekbeom. Selama 5 tahun, ibu Baekhyun menjadi single parent. Tapi saat Baekbeom berumur 6 tahun, ibunya tidak sengaja bertemu tuan Byun lagi. Sebenarnya saat itu tuan Byun sama sekali tidak tahu apapun mengenai status Baekbeom sebagai anaknya. Sebelum Baekhyun hadir di dunia, nyonya Byun selalu bilang bahwa Baekbeom itu keponakannya yang yatim piatu. Tetapi setelah nyonya Byun hamil anak kedua, yaitu Baekhyun, hasil dari kegiatan untuk memuaskan nafsu tuan Byun, Nyonya Byun memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa Baekbeom adalah anak dari tuan Byun juga. Tuan Byun yang merasa bertanggung jawab akhirnya menikahi nyonya Byun setelah Baekhyun hadir di dunia.

"Hey, sebentar lagi kita berumur 19, bukankah hal normal untuk membahas sex?" Tanya Kyungsoo polos.
"Hmm.. memang normal... tapi... bukankah sex lebih baik dibahas saat bersama dengan wanita. Lagipula, Kyungsoo-ya, aku penasaran... Kau itu..."
"Kau... pihak yang dimasuki? Atau yang memasuki?"

Baekhyun bertanya dengan ragu-ragu. Dia tahu pertanyaan ini sedikit sensitif? Ahh tidak, sangat sensitif. Tapi Baekhyun merasa dia berhak tahu? Bukan berhak, tapi Baekhyun benar-benar sangat penasaran dengan hubungan sesama jenis. pasalnya semua film porno yang pernah dia tonton adalah adegan pria dan wanita bukan pira dengan pria.

"Kenapa jadi membahas diriku?!" Wajah Kyungsoo memerah.
"Kau pasti pihak yang dimasuki kan, aku sudah tahu."

Kyungsoo berjalan menuju kursi yang tadi didudukkinya dengan wajah memerah. Entah kenapa memikirkan hal masuk-memasukki membuatnya merasa panas. Apalagi hari ini dia tidak bertemu dengan Jongin karena ada urusan di Busan.

"Jadi, apa alasannya menurutmu aku ini gay?"
"Mudah saja, dulu kau selalu bilang menyukaiku dan ingin menikahiku dan kau tidak ada perasaan cinta terhadap wanita. Jujur saja, bila kau dimasukki oleh pria kau mau kan?" Kyungsoo tersenyum nakal.

Baekhyun memikirkan lagi kalimat per kalimat yang barusan Kyungsoo keluarkan dari mulutnya. Dia merasa bahwa yang Kyungsoo katakan ada benarnya juga, tapi tidak sepenuhnya benar. Sejak kapan Baekhyun ingin menikahi Kyungsoo?!

"Tunggu... aku memang pernah bilang aku menyukaimu waktu kecil, maklumkanlah anak SD kelas 2 saat itu. Tapi, kapan aku pernah bilang ingin menikahimu?! Barusan kau mengarang cerita eohh!" Baekhyun melempar bantal dari kasurnya kearah Kyungsoo tapi Kyungsoo berhasil menangkap bantal itu.
"Ibumu bilang, aku harus menikahimu saar dewasa nanti, dia bilang kau sangat menyukaiku hingga ingin menikah denganku."
"Itukan kata ibuku! Aku hanya menyukaimu tapi tidak ingin menikahimu bodoh."
"Bodoh? Bila kau mengucapkan itu lagi, aku akan keluar dari kamar ini dan tidak ingin mendengar inti ceritamu."
"Maaf, Kyungsoo... eohh.." Baekhyun beranjak dari kasurnya dan menatap Kyungsoo yang mengalihkan mukanya dari wajah Baekhyun yang memelas.

Kyungsoo menghela napas panjang. Dia melempar kembali bantal yang sedari tadi dipeluknya kembali ke ranjang Baekhyun.

"Jadi, kau menyukai pria?"
"Bukan suka... kau ingin membaca pesanku dengan pria tidak dikenal itu? Lagipula ini semua karena dirimu, kau harus bertanggung jawab, dia tidak mengirimiku pesan lagi hingga sekarang."
"Siapa? Pcy-nim ini? Kenapa aku yang bertanggung jawab? Tentu saja dia yang harus bertanggung jawab!" Kyungsoo membaca seluruh isi pesan Baekhyun dengan pcy-nim.
"Karena kau yang menyuruhku mendownload aplikasi jelek itu."
"Begini Baekk... kau kesal dia tidak mengirimu pesan lagi sejak dia mengajakmu untuk kencan?"
"Yaa... bisa dibilang begitu."

Kyungsoo berpikir sebentar, mencoba merangkai kata-kata yang mudah dicerna Baekhyun. Singkat, jelas, dan padat. Karena Baekhyun lebih suka langsung to the point.

"Kurasa kau menyukainya."
"Hah?" Baekhyun bingung.
"Kubilang kau menyukainya, pria itu... sebagai gay."
"Eii... tidak mungkin kan."
"Kau senang kan dia mengajakmu kencan? Kau suka kesal disaat dia tidak mengirimu pesan lagi, itu namanya kau rindu padanya." Kyungsoo layaknya konsultan jodoh saat ini.
"Tunggu, kau tahu, kau bilang bila kita suka? Jantung kita berdegup kencang?"
"Yah, bisa dibilang begitu."

Baekhyun menelan ludahnya kasar. Dia tidak tahu harus mengungkapkan cerita dan rahasia ini atau tidak. Tapi dia mulai khawatir akan perasaannya. Baekhyun memikirkan kejadian yang dialaminya kemarin sore. Jantungnya berdegup kencang saat hal itu terjadi. Apakah itu perasaan yang sama yang seperti Kyungsoo maksud. Tapi Baekhyun merasa ada yang salah.

"Kau tahu... kemarin, namja tertampan di sekolah mengantarku pulang."
"Namja tertampan?"
"Ya..."
"Tidak mungkin Chanyeol kan?!"
"Iyaaa...!"
"CHANYEOL! Hell! Bagaimana bisa?! Kau membual ya sekarang."
"Tidak! Aku bilang, Chanyeol benar-benar mengantarku dengan mobil sport hitamnya, hingga depan rumahku ini! Kemarin sore!"
"Heol... dengan mobil sport hitam kesayangannya..."
"Kenapa?"
"Dia menyukaimu?"
"Hah?" Baekhyun bingung.
"Dia kan gay."

Bagaikan disambar petir. Demi Dewa Neptunus, darimana Kyungsoo tahu bahwa Chanyeol adalah seorang gay? Baekhyun saja terkejut mendengar rahasia namja tertampan di sekolahnya itu seorang penyuka sesama jenis. Tapi Kyungsoo menyebutnya dengan santainya. Dan apa Kyungsoo bilang? Dia menyukai Baekhyun? Well, Chanyeol memang tampan, tapi Baekhyun masih menganggap Chanyeol itu pria sombong yang menyebalkan.

"Kau tahu dia gay?!" Baekhyun memberikan penekanan pada pernyataannya.
"Tentu, Sehun, Jongin, Chanyeol, mereka gay."
"heoll..."
"Kenapa? Terkejut? Awalnya juga aku terkejut saat diberitahu oleh Jongin, tapi aku sudah biasa saja sekarang. Jadi kau diantar Chanyeol?"
"Well, siapa yang tidak terkejut, dan saat mengantarku kemarin, Chanyeol sebenarnya sudah menyatakan bahwa dia gay."
"Dia bilang padamu?"
"Emmm..." Baekhyun mengangguk.

Kyungsoo bangun dari kursi yang didudukinya kemudian berjalan kearah Baekhyun. Kyungsoo meletakkan kedua telapak tangannya diatas bahu Baekhyun.

"Baekhyun-aa... kurasa... Chanyeol... menyukaimu."
"Dan, kuberitahu satu rahasiaku karena kau sudah bercerita… Aku… pihak yang dimasuki…" Wajah Kyungsoo memerah meninggalkan Baekhyun di kamarnya.

.

.

.

"Meet Strangers"

Baekhyun berjalan di sepanjang koridor sekolahnya. Kedua tangannya dimasukkan kedalam kantong celananya. Dia berjalan menunduk kebawah. Dia sedang tidak ingin ditatap siapapun. Semua murid di satu sekolah sedang menggossipkan kabar Baekhyun yang masuk kedalam mobil Chanyeol dan kabar Baekhyun yang putus dengan wanita tercantik disekolah. Seketika perkataan Kyungsoo tadi malam terngiang-ngiang di kepalanya.

~ Baekhyun-aa... kurasa... Chanyeol... menyukaimu. ~
~ Dia tidak biasanya membawa sembarang orang bersamanya... kuharap kau bisa menerima fakta ini ~
~ Aku… pihak yang dimasuki… ~

"Aishh... aku tidak peduli..."

Baekhyun berjalan dengan langkah lebih cepat sambil menepuk kedua telinganya dengan kedua telapak tangan mungilnya. Wajahnya nampak bingung? Kesal? Aneh? Tidak bisa dideskripsikan. Yang pasti, Baekhyun sangat pusing sekarang. Dan lokasi tujuannya saat sedang pusing? Yap, ruang studio band. Entah kenapa, Baekhyun selalu merasa nyaman berada disana. Hatinya terasa tenang dan damai.

Kyungsoo masih di kelas, menunggu kehadiran Baekhyun. Kursi Baekhyun nampak kosong disana. Kenapa Kyungsoo dan Baekhyun tidak berangkat bersama? Tentu saja karena Baekhyun tidak bangun sepagi Kyungsoo. Tadi pagi, Kyungsoo sudah menggedor-gedor pintu kamar Baekhyun. Tapi Baekhyun tak kunjung memberikan jawaban, akhirnya Kyungsoo seorang murid disiplin yang tak pernah bolos dan tak pernah telat itu mau tidak mau meninggalkan Baekhyun.

.

.

.

Baekhyun masih tiduran disofa yang dengan setia berada di ruang band itu. Dia masih bermain handphone, mengscroll timeline akun sosial medianya. Yah, sejauh ini hal paling menyebalkan yang dia lihat adalah update-an terbaru Yeri bersama Taeyong. Apakah ini yang namanya cemburu?

Tsk..tsk... Suara berisik terdengar dari ruang band. Baekhyun sedikit terkejut mendengar suara seseorang yang sedang mencoba membuka ruang band? Baekhyun tidak tahu siapa itu, tapi instingnya berkata bahwa yang sedang mencoba membuka ruangan itu adalah seseorang yang menyelimutinya dengan jas 2 hari yang lalu. Ya, Park Chanyeol. Baekhyun sama sekali tidak ada niat untuk bangkit dari posisi tidurnya. Diapun akhirnya menutup mata berpura-pura tidur dan meletakkan kedua tangan serta handphone yang sedari tadi digenggamnya dengan tangan kanannya diatas dadanya.

Cahaya matahari dari luar masuk kedalam ruangan yang gelap itu. Pria bertubuh tinggi itu masuk dan meletakkan tasnya disembarang tempat di dekat keyboard yang dengan setia terpampang disamping sofa yang Baekhyun tiduri. Chanyeol menoleh kearah Baekhyun yang sedang tidur kemudian menghela napas panjang.

"Hhh... lagi? Apakah dia tiap hari kerjanya hanya tidur?"

Baekhyun yang mendengar perkataan Chanyeol mengutuk Chanyeol dengan kata-kata kasar didalam hatinya.

"Baekhyun POV"

Kau sendiri juga kesini tiap hari bodoh! Kau bolos kelas juga, apa berbedanya denganku. Dasar, dia pasti tidak pernah berkaca. Dia bahkan tidak tahu bahwa dia tampan. Park Chanyeol, perlukah kubelikan kau kaca?

.

.

"Author POV"

"Apakah dia ada masalah lagi sehingga dia tidur disini?" Chanyeol bergumam menatap Baekhyun yang menutup mata dan memampangkan wajah polosnya saat tidur.

Baekhyun berpikir. Otaknya bekerja sangat keras sekarang. Dari mana Chanyeol tahu bahwa bila dia ada masalah tujuannya adalah ruang band? Baekhyun bahkan tidak pernah bicara dengannya? Ahh bicara pernah. Tapi hanya kata sapaan dasar, tidak lebih. Pembicaraan yang lebih mendalam adalah topik mengenai Chanyeol yang gay. Lalu, dari mana Chanyeol tahu? Kyungsoo kah? Tapi Kyungsoo tidak suka membeberkan rahasia sahabatnya sendiri ke orang lain, bahkan Jongin yang notabenenya adalah pacarnya sekalipun.

"Dia tertidur dengan handphone yang berada diatas dadanya? Hmmm..." Chanyeol meraih handphone Baekhyun yang berada di genggaman lemas tangan kanannya, kemudian meletakkan handphone Baekhyun di meja tak jauh dari sofa yang ditiduri Baekhyun.
"Kalau kau tidur seperti tadi, kau bisa terkena radiasi."

Chanyeol duduk di kursi yang setia berada di depan komputer, duduk menghadap sofa yang ditiduri Baekhyun. Dia meraih remote AC yang letaknya tak jauh dari dirinya. Ketika akan menekan tombol berwarna orange untuk menyalakan AC, jari jempol kanannya terhenti sebentar.

"Tunggu... Kalau aku menyalakan AC, dia akan kedinginan kan?" Gumam Chanyeol.

Chanyeol kemudian melepaskan jas yang setia dikenakannya tadi dan menyelimuti Baekhyun dengan jas miliknya. Jujur, saat ini Baekhyun tidak dapat bernapas rasanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bisa-bisa jantungnya melompat dari dada kirinya. Dia tidak tenang. Beberapa kali dia menggeliat merubah posisi tidurnya agar lebih nyaman. Tapi tetap saja, di posisi seperti apapun, Chanyeol duduk menghadap ke arah dirinya.

"Haruskah aku mengiriminya pesan? Sudah terlalu lama aku tidak menghubunginya..." Chanyeol mengeluarkan handphonenya dari saku kanan celananya.

Dia mengetik beberapa kata dengan kedua jari jempolnya. Menatap layar handphone serius dan tersenyum kecil beberapa kali selama mengirim pesan itu. Entah apa yang Chanyeol kirim. Pastinya, sekarang dia sedang mengirim pesan kepada orang yang sudah agak lama tidak bertukar pesan dengannya.

Drrtt... drrrtttt... Handphone Baekhyun bergetar.

"Hmm... Melihatnya benar-benar tertidur pulas disini, sepertinya dia memang sedang ada masalah." Chanyeol tersenyum kecil.

Baekhyun masih dalam kondisi berpura-pura tidurnya. Dia sadar handphonenya bergetar tanda pesan masuk. Tapi, siapa yang peduli dengan pesan masuk itu disaat seperti ini. Bila dia bertingkah aneh sedikit, Chanyeol pasti akan menyadari bahwa dia hanya berpura-pura tidur.

Drrttt... drrrtttt... drrrttt...drrtt... handphone Baekhyun bergetar tanpa henti menandakan bahwa ada telepon masuk. Chanyeol berjalan kearah handphone Baekhyun kemudian melihat nama penelpon yang terpampang di layar.

"Kyungja? Wanita? Pria? Siapa dia?"

"Hhh..." Chanyeol menghela napas.
"hei..." Chanyeol menendang sofa yang ditiduri Baekhyun, tapi Baekhyun sama sekali tidak berniat untuk membuka matanya.
"Hentikan acara berpura-pura tidurmu, aktingmu buruk tahu… Ini ada telepon masuk, kau tidak mau mengangkatnya?"

Seketika mata Baekhyun terbuka lebar dan dia bangun terduduk. Dia sama sekali tidak peduli akan Kyungsoo yang diberi nama Kyungja di kontaknya itu menelponnya. Tapi yang dia pikirkan sekarang adalah, bagaimana Chanyeol bisa tahu bahwa Baekhyun hanya berpura-pura tidur. Baekhyun melamun sebentar dengan tatapan kosong.

"Hei... kau tidak mau mengangkatnya?" Chanyeol mengarahkan layar handphone Baekhyun yang masih bergetar kedepan wajah Baekhyun.
"Huh..." Baekhyun mengambil handphonenya dari tangan Chanyeol dan mereject panggilan dari Kyungsoo.

Chanyeol kembali duduk dikursinya, bedanya, kali ini dia duduk tidak menghadap Baekhyun, tapi menghadap ke komputer yang sedang menyala. Di komputer terpampang aplikasi untuk membuat lagu disana. Chanyeol dengan lincahnya menggunakan aplikasi tersebut dan Baekhyun hanya bisa melihat Chanyeol yang fokus membuat lagu dari balik punggungnya.

"Ohh... Dia mengirim pesan..." Baekhyun bergumam pelan ketika sadar bahwa di ponselnya terdapat pesan masuk dari pria yang ditunggu-tunggu, ya, pcy-nim.

~message~

pcy-nim: Maaf baru bisa menghubungimu, ponselku rusak dan aku baru membeli ponsel baru. Jadi, beberapa hari kemarin aku belum bisa menghubungimu.
pcy-nim: Ohh iya, mengenai ajakkan berkencan kemarin...
pcy-nim: Aku ingin kita bertemu secara langsung hari jumat sore seperti yang sudah kubilang kemarin.
pcy-nim: tempatnya bisa kita tentukan nanti...
pcy-nim: Tapi bila kau ingin bilang bahwa kau tidak ingin jadi gay, kau bisa bilang sekarang.
pcy-nim: Bila kemungkinan kau ingin menjadi gay, atau kau masih mempertimbangkannya, jawablah ajakkan kencanku hari jumat saat kita bertemu nanti.
pcy-nim: Jawab aku setelah kau melihat diriku.

Wajah Baekhyun memerah membaca pesan yang dikirim oleh pria bernama pcy-nim itu. Jantungnya berdegup kencang membaca pesannya. Dia merasa hatinya ingin berteriak. Kenapa berteriak? Hati Baekhyun ingin berteriak kegirangan. Rasanya dia ingin menuju keatap tertinggi gedung yang ada dan berteriak disana. Entah kenapa dia merasa sangat senang. moodnya terkumpul kembali. Hingga dia tidak sadar, suara tertawanya yang sudah sangat ingin dia sembunyikan terdengar oleh namja yang duduk diseberangnya. Namja tinggi itu diam-diam tersenyum mendengar suara kasak-kusuk dibelakangnya. Chanyeol tahu, Baekhyun pasti merasa sangat senang sekarang, Chanyeol merasa berhasil menyenangkan hati Baekhyun sekarang.

"Hei... kenapa tertawa sendiri?" Chanyeol menoleh kearah Baekhyun dan bertanya dengan wajah datar.

Baekhyun yang sadar Chanyeol mengajaknya bicara langsung menatap Chanyeol tajam. Seketika dia ingat, didepannya terduduk seorang namja sombong yang tidak dia sukai. Kehadiran Chanyeol membuat mood Baekhyun turun. Baekhyun akhirnya bangun dari sofa dan mengambil tasnya untuk segera bergegas keluar dari ruang band.

"Kau ingin keluar?" Tanya Chanyeol
"Ya, kenapa?"
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau keluar?"
"Aku hanya sedang ingin sendiri."
"Byun, kau selalu menjawab seperti itu, makanya kau tidak memiliki teman."

Seketika Baekhyun memikirkan perkataan Chanyeol barusan. Jujur, pernyataan Chanyeol ada benarnya, tapi, memang apa pedulinya bila Baekhyun tidak punya teman? Apa benar kata pcy-nim waktu itu bahwa Chanyeol kesepian dan hanya ingin mendapatkan Baekhyun menjadi salah satu temannya. Tapi, apa untungnya? Dekat dengan anak pemilik sekolah? Heol... status anak pemilik sekolah itu bisa-bisa malah membuat Chanyeol kehilangan teman.

"Memangnya apa pedulimu bila aku tidak punya teman?" Baekhyun bertanya ketus.
"Hmm... kau mau berteman denganku?"
"Hah?" Baekhyun bingung mendengar pertanyaan Chanyeol.
"Kenapa kau selalu seperti itu? Apa telingamu bermasalah hingga aku harus mengulang pertanyaanku? Kubilang, kau mau menjadi temanku tidak?" Tanya Chanyeol lagi
"..."

Hening di ruang itu terlalu lama menurut Chanyeol. Baekhyun tak kunjung menjawab ajakkan pertemanannya. Chanyeol akhirnya memutar bola matanya malas dan membereskan ruang band tersebut. Bola mata Baekhyun mengikuti pergerakkan namja yang sedang membereskan ruangan tersebut. Chanyeolpun akhirnya mengambil tasnya yang diletakkan disebelah keyboard tadi dan berjalan kearah Baekhyun kemudian menyentil kening Baekhyun pelan.

Tukk... Suara pertemuan antara jari Chanyeol dan kening Baekhyun.

"Sudahlah, terlalu lama menunggu jawabanmu. Keheninganmu aku anggap kita berteman. Kau boleh menggunakan ruangan ini."

Chanyeol mengambil jas yang berada diatas paha Baekhyun dan beranjak pergi dari ruang band. Ya, Chanyeol tidak mau membolos lagi. Bila dia bolos lagi, ayahnya pasti akan menghubunginya dan menceramahinya. Paling tidak, terlambat lebih baik daripada bolos, itu yang selalu ayahnya katakan. Yah, ayah Chanyeol tidak ada di Korea, lebih tepatnya, Chanyeol tinggal sendiri di Korea, di apartemen yang dimiliki oleh ayahnya sendiri jadi, mereka berkomunikasi melalui telepon dan kadang bila ayahnya benar-benar sudah marah, Tuan Park akan menyuruh sekretarisnya mendatangi Chanyeol jauh-jauh di Korea hanya untuk menceramahinya.

Baekhyun masih berada di ruang band berkutat dengan handphonenya. Dia masih membaca pesan dari pcy-nim berulang kali. Entah kenapa dia tidak bosan-bosan membaca pesan tersebut. Dia masih tersenyum membaca pesan itu. Padahal isinya hanyalah permintaan maaf. Sepertinya Baekhyun mulai gila.

.

.

.

Hari yang ditunggu-tunggupun tiba, yah sudah 1 minggu Baekhyun menjalani sekolah seperti biasa, tidak membolos, mendengarkan guru dengan baik dan mengikuti club band. Baekhyun tidak ingin membolos lagi. Dia muak membolos karena, setiap dia membolos, dia selalu berakhir bertemu dengan Chanyeol. Belakangan ini dia sedang mencari ruangan kosong yang hanya bisa dimasuki olehnya seorang. Tapi Baekhyun masih belum bisa menemukan ruangan yang senyaman ruang band

Hari ini, hari Jumat. Hari apa itu? Tentu saja, hari dimana Baekhyun dan pria yang diberi nama pcy-nim itu janji bertemu dan membahas ajakkan kencan dari pria itu. Jujur, Baekhyun cukup gugup. Beberapa hari ini, pertukaran pesan mereka sebatas pertanyaan dan jawaban singkat. Yah, mereka bahkan saling tidak mengetahu nama masing-masing. Mereka juga tidak saling mengetahui identitas orang yang sedang berkirim pesan dengannya. Mau bercerita tentang kehidupan masing-masing juga sangat tidak mungkin. Belakangan ini banyak penipuan yang mengaku mengatas namakan keluarga yang berawal dari cerita tentang keluarga. Baekhyun berhati-hati belakangan ini.

.

.

.

Baekhyun berjalan menuju taman yang terletak dibelakang sekolah. Walaupun sekolahnya bisa dibilang sekolah biasa yang tidak termasuk sekolah elit. Tapi, fasilitas disekolah milik ayahnya ini sangat wow. Taman dibelakang sekolahnya langsung menghadap kearah danau buatan. Sangat nyaman duduk dibawah pohon ditaman itu sambil menikmati makan siang dan mendengar suara air di danau dan juga tentu melihat ikan yang berenang disana membuat hati terasa damai.

Tepat sebelum dia benar-benar sampai ditaman. Dia melihat sosok pria tinggi sedang berdiri melihat danau. Baekhyun dengan otak lambatnya? Mempertaruhkan handphonenya, dia yakin bahwa pria tinggi yang sedang berdiri itu adalah pria yang disangka-sangka sebagai pcy-nim.

.

.

.

"1 hari sebelumnya" ~

Baekhyun menghempaskan badannya sendiri ke ranjang kesayangannya. Tidak lupa, dia menggenggam handphonenya di tangan kanannya. Beberapa hari ini, Baekhyun sama sekali tidak bisa lepas dari ponselnya. Kenapa? Karena dia selalu menunggu balasan dari pria yang diberi nama pcy-nim itu. Dia menunggu balasan dan selalu membalas dengan cepat. Baekhyun sangat tidak suka membiarkan pesan orang hanya terbaca saja.

Drrttt... drrrttt... Handphone Baekhyun bergetar.

Baekhyun mengangkat tangan kanannya keatas dan menyalakan layar ponselnya. Terpampang notifikasi dari pria yang dia tunggu-tunggu di layar ponselnya.

pcy-nim: Jadi, besok ingin bertemu dimana?
Baconee: Kita sama-sama di Gangnam kan? didaerah Gangnam saja.
pcy-nim: Kau bersekolah dimana?
Baconee: SMA JM...
pcy-nim: Hmm...
Baconee: Kenapa?
pcy-nim: Aku juga bersekolah disana.
Baconee: BENARKAH?!

Jujur, mengenai Baekhyun yang bersekolah di SMA JM itu hanya Baekhyun sepihak yang terkejut. Yah, Chanyeol sudah tahu bahwa faktanya pria yang diberi nama Baconee itu adalah Baekhyun. Dan Chanyeol tidak masalah akan hal itu. Menurut Chanyeol, Baekhyun itu lucu, dia polos. Chanyeol kadang tersenyum sendiri mengingat kelakuan Baekhyun di ruang band saat bersamanya. Sayangnya, setelah ajakkan pertemanannya minggu lalu, Baekhyun tidak pernah datang ke ruang band lagi untuk bolos. Dan Chanyeol juga tahu bahwa Baekhyun tidak pernah bolos lagi sejak saat itu. Chanyeol tahu dari mana? Tentu saja dari Jongin yang mendapat informasi dari Kyungsoo.

Sementara itu, Baekhyun masih membeku membaca pesan dari pcy-nim yang menyatakan bahwa mereka selama ini berilmu di sekolah yang sama. Ya, sekolah milik ayahnya. Baekhyun sudah menyiapkan hati dan pikirannya. Seketika wajahnya terlihat murung. Dia tahu bahwa hubungan ini tidak akan berhasil. Yah, Baekhyun mengkhawatirkan statusnya lagi sebagai anak pemilik sekolah.

pcy-nim: Yahh... karena kita satu sekolah... ingin bertemu di taman saja? Dibelakang sekolah? Dekat danau, sepulang sekolah.
Baconee: Kau yakin?
pcy-nim: Ada apa? Kau ada masalah?

Nice Shoot...

Entah kenapa inilah yang dia suka dari pria yang bernama pcy-nim ini. Pria ini sangat peka. Pria ini sangat sadar akan keadaan. Ketika Baekhyun merasa ada masalah atau apapun yang membuat dirinya tidak tenang, pria yang bernama pcy-nim yang lebih tepatnya Chanyeol ini sangat tahu timing untuk membuat Baekhyun merasa nyaman.

Baconee: Kurasa, kau akan menyesal ketika melihatku.
pcy-nim: Kenapa? ada yang salah dengan dirimu? Aku tidak akan menyesal, 100% yakin. :)

Tentu saja pcy-nim tidak akan menyesal, pria yang notabenenya adalah Chanyeol itu sudah tahu bahwa namja yang sedang berkomunikasi dengannya ini adalah Baekhyun. Dia sudah tahu rupa, sikap dan tingkah Baekhyun. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi olehnya. Tapi, bagaimana dengan Baekhyun?

Baconee: Baiklah, sampai bertemu besok.

"Flashback end" ~

Yah, bukannya pria yang bernama pcy-nim itu yang menyesal. Tapi, sekarang, Baekhyun yang bersembunyi dibalik temboklah yang sedang mengutuk dirinya sendiri dan beberapa kali memukul kepalanya sendiri.

"Bodoh sekali kau Baekhyun!" Baekhyun memukul kepalanya lagi.

Baekhyun yang bersembunyi dibalik tembok itu kembali menengok kebelakang, kearah danau, dimana pria tinggi yang identitasnya adalah Chanyeol itu berdiri.

"Bagaimana bisa kau tidak menyadari bahwa pria yang selama ini berkomunikasi denganmu adalah Park Chanyeol."

.

.

.

Bagaimana Baekhyun bisa tahu bahwa namja yang sedari tadi menunggunya dipinggir danau itu adalah Park Chanyeol? Jawabannya simple. Saat Baekhyun hampir berjalan mendekat kearah pria itu, sekitar jarak 20 meter. Pria itu membalikkan badannya. Ya! Chanyeol membalikkan badan. Baekhyun segera berlari dan bersembunyi dibalik tembok.

"Tunggu...tunggu...tunggu..."
"Aku tidak salah lihat kan?!" Baekhyun mengusap matanya beberapa kali.
"Park Chanyeol?!"
"pcy-nim... Park Chanyeol... p...c...y... Park... Chan... Yeol..."
"YA! PARK CHANYEOL!"

Baekhyun mengutuk dirinya sendiri yang bicara cukup keras. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tangannya sedikit bergetar. Dia sangat terkejut saat mengetahui bahwa identitas pcy-nim itu adalah Park Chanyeol. Jujur, dia sangat tidak menduga hal ini. Dia juga tidak pernah mengira bahwa inisial pcy itu adalah singkatan dari huruf depan nama orang.

Sebenarnya, semalam, Baekhyun sudah mengkadidatkan beberapa pria yang terlihat seperti gay, yang seangkatan dengannya. Dia mendapatkan nominasi sekitar 4 orang pria, termasuk Sehun, Kai, Chanyeol, dan 1 orang lagi teman sekelasnya. Dia sudah mencoret nama Kai dan Chanyeol kemarin. Jadi dia menyiapkan hati dan pikirannya untuk bertemu Sehun atau 1 pria teman sekelasnya itu. Tapi dia tidak pernah mengira bahwa pria yang namanya telah dicoret itu lah yang telah berhasil menarik hatinya. Ya! Park Chanyeol!

.

.

.

Tangan Baekhyun bergetar mengambil handphonenya disakunya. Dia berencana untuk membatalkan janji temunya dengan pcy-nim yang merupakan namja tinggi yang sedari tadi sudah menunggunya di pinggir danau. Pasalnya, Baekhyun sama sekali tidak menyiapkan hati dan pikirannya untuk menerima ajakkan kencan dari Chanyeol. Dia pikir, bila pria ini adalah Sehun atau teman sekelasnya tidak masalah. Bagaimana dengan Kai? Eii, pria yang memiliki nama asli Kim Jongin itu kan sedang dalam masa mesra-mesranya dengan Kyungsoo.

Baconee: maaf... sepertinya aku tidak bisa bertemu denganmu... ada masalah yang muncul tiba tiba...

Drrttt... drrrrttt... Tidak lama, balasan dari pcy-nim masuk ke ponsel Baekhyun. Tangan Baekhyun bergetar mengangkat posnselnya, mencoba membaca apa isi pesan balasan dari pria itu.

pcy-nim: Baiklah aku mengerti.

"Hhh..." Baekhyun menghela napas panjang dan menyeka keringat yang ada didahinya. Jujur, barusan dia sangat panik. Dia terkejut. Dia, perasaannya bercampur aduk sekarang. Dia tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan perasaannya.

Baekhyun terlalu sibuk untuk menenangkan dirinya, sampai dia tidak sadar ada suara langkah kaki yang mendekati dirinya. Baekhyun masih sibuk menghapus keringat yang mengalir di keningnya dan mengatur napasnya.

"Untung saja dia mengerti... hhh..." Baekhyun menghela napasnya tenang.

"Kenapa? Sebegitu tidak inginnya kah kau bertemu denganku?

"Hnnn..." Baekhyun seketika membeku ditempatnya tidak berani menoleh menghadap kepada kehadiran aura hangat seseorang yang sudah berdiri dibelakangnya.

"Byun Baekhyun"

.

.

.

"Meet Strangers"

Note: Entah kenapa... aku suka part ini... HAHAHAHA... Abaikan author yang menggila ~