"Hnnn..." Baekhyun seketika membeku ditempatnya tidak berani menoleh menghadap kepada kehadiran aura hangat seseorang yang sudah berdiri dibelakangnya.

"Byun Baekhyun"

"..."

"Kau tidak mau mengembalikan jas ku?"

"Ehh?" Baekhyun menoleh menatap pria yang lebih tinggi darinya itu

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Chanyeol. Dia kira Chanyeol akan menangkap basah dirinya yang membatalkan janji temu. Tapi, mengembalikan jas? Baekhyun sama sekali tidak menyangka akan hal itu. Dia kira, Chanyeol akan memarahinya karena Baekhyun menghindarinya.

"Jas?"
"Jasku, sudah kau cuci belum?"

Ahh benar, Baekhyun waktu itu membawa pulang jas Chanyeol untuk dicuci. Itu semua karena dia tertidur berselimutkan jas Chanyeol dan Baekhyun sendirilah yang menawarkan diri untuk mencucikan jas milik namja tinggi didepannya ini. Baekhyun sama sekali tidak ingat akan hal itu. Dia ingat betul bahwa jas Chanyeol sudah dicuci olehnya, tapi dia sama sekali tidak ingat untuk mengembalikannya. Jas Chanyeol masih terlipat rapi di salah satu bagian lemari pakaiannya.

Kenapa Baekhyun yang mencuci? Yah, walaupun pembantu rumah tangga bertebaran di rumah Baekhyun, Baekhyun tidak suka barang yang dipakainya dan benda pribadinya disentuh oleh orang lain. Baekhyun suka menggunakan barang orang lain, kadang dia tidak masalah bila barangnya digunakan oleh orang lain. Tapi, itu tergantung siapa pemakainya. Jadi, Baekhyun mencampur pakaiannya dan pakaian Chanyeol bersama agar dia tidak usah susah payah mencuci 2 kali. Yah, walaupun dia mencuci menggunakan mesin cuci, bukan tangan. Tapi, paling tidak, seorang Byun Baekhyun yang bisa menyuruh pembantu rumah tangga malah turun tangan sendiri.

"A... Aku lupa..." Baekhyun gugup dan gelagapan. Dia sama sekali tidak ingat akan hal itu.
"Jujur, kau sudah mencuci jasku atau belum?"
"Sudahh... tapi aku lupa untuk mengembalikannya, aku ingat jasmu sudah terlipat rapi kok."
"Hhh... sebegitu inginnya kah kau memiliki jasku?"
"Hah?"
"Aku tidak mau tahu, kembalikan jasku hari ini."

Baekhyun membulatkan bola matanya besar mendengar pernyataan Chanyeol barusan. Dia merasa bahwa perkataan Chanyeol itu mutlak. Bukan mutlak sih, tapi lebih tepatnya, Chanyeol sangat berhak menyuruhnya mengembalikan jasnya hari ini juga. Kenapa? Ya, siapa yang tidak kesal, jas Chanyeol tidak dikembalikan selama 2 minggu. 2 minggu adalah waktu yang sangat cukup untuk mencuci, mengeringkan, memakai dan kemudian mencucinya lagi, mengeringkan, dan memakainya lagi.

"Tapi... aku tidak membawanya..."
"Hmm... begini saja, kau ikut aku ke apartemenku. Suruh orang mengantar jasku ke apartemenku. Sambil menunggu, kita bermain nintendo, bagaimana?
"Kau ada nintendo?!" Mata Baekhyun berbinar.
"Ya..." Chanyeol memiringkan kepalanya menatap Baekhyun bingung karena seketika Baekhyun jadi semangat.
"Baiklah aku akan menyuruh Kyungsoo mengambil jasmu dan mengantarnya ke apartemenmu. Tapi, kita bermain nintento, oke?"
"Bukankah, itu seperti yang aku bilang tadi?"
"Jadi kita kesana naik apa?"
"Ikuti aku, aku membawa mobil."

Yup, mobil yang dimaksud adalah mobil sport hitam kesayangan Chanyeol. Sudah kedua kalinya Baekhyun memasuki dan menjadi penumpang di mobil ini. Baekhyun mencoba menghubungi Kyungsoo. Kenapa Baekhyun meminta Kyungsoo yang mengantar? Karena jas Chanyeol berada di dalam lemari pakaian Baekhyun dan Baekhyun tidak suka barangnya disentuh oleh orang tidak dikenal.

.

.

.

"Meet Strangers"

~ On Call ~

Kyungsoo: Ya?
Baekhyun: Kyungsoo-ya... tolong aku kali ini saja.
Kyungsoo: KAU BAHKAN MENGABAIKAN PESANKU DAN TELEPONKU, SEKARANG KAU MENGHUBUNGIKU HANYA UNTUK MINTA TOLONG?! HUH! TIDAK BISA KUPERCAYA!

.

.

.

Suara keras Kyungsoo terdengar hingga ke telinga Chanyeol. Pria yang sedang bertelpon dengan Baekhyun itu berteriak sangat keras, bahkan Baekhyun merasa telinganya sakit sekarang. Dia sedikit menjauh kan ponselnya dari telinganya. Tapi, apa boleh buat, demi keselamatan dirinya, mau tidak mau dia harus meminta bantuan dari Kyungsoo.

Baekhyun: Maaf Kyungsoo, situasinya sedang buruk tadi
Kyungsoo: Apa yang ingin kau minta dariku memangnya?
Baekhyun: Bisakah kau ke rumahku? Masuk ke kamarku dan ambil jas yang memiliki bordiran nama Park Chanyeol di dalam lemari pakaianku.
Kyungsoo: Hei Baek, kau membual ya? Bila itu lemari pakaianmu, maka bordiran namanya harusnya Byun Baekhyun, bukan Park Chanyeol.
Baekhyun: aku tidak membual, kubilang ambil saja jas itu dan bawakan ke alamat yang akan kuberitahu lewat SMS.
Kyungsoo: Kau menyukai Chanyeol?

Ya, walaupun tidak menggunakan mode pengeras suara, suara Kyungsoo dapat terdengar jelas oleh telinga Chanyeol. Chanyeol jelas-jelas mendengar bahwa Kyungsoo bertanya kepada Baekhyun apakah dia menyukainya. Chanyeol menoleh ke Baekhyun dengan wajah datar dan Baekhyun juga menoleh ke Chanyeol dengan raut wajah yang sulit diartikan. Bisa dibilang raut wajahnya, tidak enak?

"Kau menyukaiku?" Pria yang sedang memegang setir kemudi itu memotong pembicaraan pria disampingnya yang berkomunikasi lewat ponsel.
"Hah?" Baekhyun tidak tahu harus merespon apa
"Aku bertanya padamu, kau menyukaiku?" Tanyanya lagi.
"..."

.

.

.

Kyungsoo: Baek, kau bersama siapa?

Baekhyun terdiam tak menjawab pertanyaan Chanyeol. Dia malah melanjutkan komunikasinya dengan Kyungsoo yang belum terselesaikan.

Baekhyun: Ada... seseorang, kau bawakan saja ke alamatnya kukirim nanti.

Tut...tut...tut... Baekhyun memutuskan panggilan secara sepihak. Kyungsoo bahkan belum menyutujui permintaan Baekhyun. Tapi, Baekhyun tahu Kyungsoo. Kyungsoo pasti akan mengabulkan permintaan Baekhyun apapun yang terjadi. Yah, karena Kyungsoo masih merasa bersalah kepada Baekhyun karena tidak bercerita apa-apa selama ini.

"Kau tenang saja, dia akan membawakan jasmu."
"Ya, aku sudah dengar, tapi kau masih belum menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan apa?"
"Aku mengulang ini untuk ketiga kalinya, aku tanya, kau menyukaiku?"

Jujur, Baekhyun sangat benci berada di dalam suasana seperti ini. Dipaksa untuk menjawab pertanyaan yang sangat tidak ingin dia jawab. Rasanya dia ingin kabur melompat dari mobil ini sekarang.

"Kenapa kau menghindariku?"
"Hah?" Baekhyun bingung.
"Setelah tahu bahwa itu diriku kau menghindar..."
"Apanya?"
"Pcy-nim... kubilang, itu diriku."
"..."

Jujur, bila Baekhyun bisa, dia ingin mati ditempat itu sekrang juga. Suasana ini sangat mencekiknya. Dia diinterogasi dan diberi banyak pernyataan serta pertanyaan. Entah kenapa dia merasa bibir atas dan bibir bawahnya menempel erat, tidak bisa terbuka. Bila terbukapun, dia merasa pita suaranya rusak. Dia tidak bisa mengeluarkan suara apapun.

"Kenapa? Kau kecewa?" Raut wajah Chanyeol berubah sedikit mmm... sedih?
"Tidakk... Bukan itu maksudku... Tapi bagaimana bisa pria yang begitu baik hati di pesan itu adalah dirimu?! Kau! Iya! Park Chanyeol! Pria yang sombong dan dingin!"

Chanyeol tersenyum kecil mendengar penjelasan Baekhyun yang bisa terbilang sedikit panjang. Dia tidak mengira bahwa selama ini Baekhyun menganggapnya sebagai pria dingin dan sombong. Dia kira Baekhyun selama ini menghindarinya karena status Baekhyun sebagai anak pemilik sekolah yang tidak ingin dekat dengan siapapun.

"Hahaha..." Chanyeol tertawa.
"Kenapa?" Baekhyun bertanya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Memangnya sudah berapa lama kau mengenalku?"
"Hah?"
"Kau bahkan bilang baru mengenalku selama 2 hari waktu itu."
"Hei, itu kenyataan kan?"
"Kau tidak ingat, pria yang pertama kali berkenalan denganmu saat masa orientasi siswa? Kau tahu, saat itu kau sangat kesepian dan aku mengajakmu berteman."
"Hah? Kapan?"

Baekhyun memutar otaknya berkali-kali mendengar pernyataan Chanyeol barusan. Jujur, dia sama sekali tidak ingat akan masa orientasi siswanya. Dia pikir, masa orientasi itu sangatlah tidak penting. Lagipula teman yang didapat saat masa orientasi juga hanya pertemanan sementara. Yah, menurut Baekhyun, setelah masa orientasi kau berpisah kelas dengan teman yang baru kau kenal dan kau tidak berhubungan lagi. Jadi, apa gunanya mengingatnya.

Tapi, berbeda dengan Chanyeol. Chanyeol berpikir, masa awal masuk sekolah menengah adalah dimana masa kau mencari jati diri dan tentu saja teman yang akan menemanimu hingga lulus nanti. Ternyata, jalan pikir Chanyeol dan Baekhyun sangat bertolak belakang.

"Hhh..."
"Pria culun, berkacamata, yang waktu itu kau ajak ikut club band..."
"PARK CHANYEOL!"
"Ya, aku tahu itu namaku, kau tidak perlu menyebutnya lagi."
"Kau! Anak tinggi culun yang waktu itu berkenalan denganku! AHHH! AKU BARU INGAT! NAMANYA PARK CHANYEOL!"
"Hhhh..." Chanyeol hanya menghela napas sambil menyetir mobilnya.
"Aku pikir anak culun dan tinggi itu sudah pindah sekolah! Ternyata itu KAU?!"
"Iya... kubilang ya Byun Baekhyun, tolong jangan sebut lagi tinggi dan culun."
"Pfftttt..." Baekhyun menahan tawanya.
"Kau tertawa?!"
"Tidakkk... pfftt..."

Jujur, Chanyeol cukup kesal melihat Baekhyun yang tertawa akan fakta yang baru saja terkuak. Chanyeol sebenarnya sama sekali tidak ingin membahas ini, tapi, demi selangkah lebih dekat dengan Baekhyun, apa boleh buat. Semua harus dilakukan Chanyeol agar bisa meraih hati namja cantik ini.

"Hmm..."
"..." Baekhyun menoleh kearah Chanyeol yang menghela napas.
"Jadi, sesuai yang kutanya di pesan seminggu yang lalu, kau mau berkencan denganku?"

"Kenapa? Kau masih belum mau menjadi gay? Apakah kau jijik dengan gay?"
"Aku tidak jijik dengan gay. Tapi aku masih memikirkannya. Aku mempertimbangkan hatiku dan aku harus menjawabnya dengan matang. Aku tidak mau hubungan hanya untuk bermain-main."
"Memangnya aku main-main?"
"Mungkin? Bagaimana bisa seorang pria menyukai orang yang bahkan belum pernah ditemuinya?"
"hei Baek, kau pasti tidak akan menyangkanya... Aku sudah tahu kau itu Baconee dari seminggu yang lalu."

Baekhyun terdiam ditempat duduknya. Kesal? Kecewa? Marah? Semua perasaannya bercampur aduk. Dia tidak tahu harus bilang apa dan dia rasanya ingin bersembunyi dan kabur dari Chanyeol. Dia malu. Wajahnya pasti sangat memerah sekarang. Dia kira, selama mereka sama-sama tidak mengetahui identitas satu sama lain. Tapi ternyata semua yang dia pikir itu bertolak belakang dengan kenyataan.

"..."
"Ada apa?"
"Jadi, selama ini hanya aku sepihak yang tidak tahu lawan bicaraku siapa?"
"Hmm... bisa dibilang begitu."
"..."

Baekhyun benar-benar kesal sekarang. Dia serasa seperti dikhianati? Entah kenapa rasanya dia tidak ingin bersama pria yang sudah menipunya ini. Dia muak dengan pria yang duduk disebelahnya ini.

"Bisa kau turunkan aku dari mobilmu ini? Aku akan tetap mengantarkan jasmu dengan selamat. Tapi aku tidak ingin bersamamu."
"Kenapa? Bila kau merasa terkhianati aku minta maaf."
"Aku merasa seperti orang bodoh sekarang."

Chanyeol meminggirkan mobilnya dan berhenti sebentar. Dia melepas sabuk pengamannya dan duduk menghadap kearah namja yang duduk disampingnya. Dia bisa melihat wajah namja itu tengah memerah dengan mata yang berkaca-kaca. Hei, mereka bahkan belum berpacaran tapi pihak yang diajak berkencan sudah hampir menangis, apa yang akan terjadi bila mereka benar berkencan?

Jujur, sekarang Chanyeol tidak tahu harus berbuat apa. Dia serasa terjatuh dari puncak gunung tertinggi melihat namja yang disukainya ini hampir menangis. Chanyeol awalnya membeberkan hal itu hanya untuk bercanda. Tapi, nampaknya selera candaan Chanyeol dan Baekhyun sedikit berbeda.

"Aku minta maaf Baekhyunaa... ohh?"
"Kau sudah menipuku." Baekhyun semakin menundukkan kepalanya dan wajahnya tidak terlihat."
"Baek..."

Chanyeol meraih kedua tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat erat. Jujur, Chanyeol sangat panik sekarang. Raut wajah Chanyeol sangat sulit diartikan. Panik? Terkejut? Merasa bersalah? Hanya Chanyeol sendiri yang mengerti bagaimana perasaannya sekarang. Baekhyun perlahan-lahan melepaskan genggaman tangan Chanyeol dan mengusap kedua matanya. Nampak sedikit jejak basah dari air matanya di kulit tangannya.

"Hehehe..."
"Ehh?"

Baekhyun tertawa?

"Kau kenapa Baek?"
"Hahaha! Karena kau sudah menipuku, gantian aku yang menipumu! Hahahaha..." Baekhyun tertawa lebar.
"..."

Oke, Chanyeol sedikit kesal. Dia tidak mengira bahwa dia akan sebodoh dan semudah ini ditipu oleh seorang Baekhyun. Ya, walaupun Chanyeol sudah cukup lega sekarang karena namja yang duduk disampingnya ini hanya bercanda tadi. Chanyeol merubah posisi duduknya kembali menghadap depan dan memasang sabuk pengamannya. Dia melanjutkan perjalanan kembali.

"Kenapa? Kau kan sudah menipuku tadi... Aku hanya membalas menipumu... Kenapa kau hanya diam saja."
"Hentikan Baek, aku harus fokus menyetir."
"Maaf bila kau tidak suka candaanku." Baekhyun menunduk kembali.

Melihat dan merasakan suasana aura namja disampingnya tiba-tiba berubah, Chanyeol melepaskan tangan kanannya dari kemudi dan menggenggam tangan namja kecil yang duduk disampingnya itu.

Baekhyun cukup terkejut atas perlakuan Chanyeol barusan. Ya, tangan hangat itu menyentuh tangannya yang cukup dingin? Ya, Baekhyun sensitif terhadap dingin. Tangan Chanyeol bergerak meraih jari jemari Baekhyun hingga jemarinya dan jemari dingin Baekhyun terikat satu sama lain.

"Tanganmu dingin Baek?"
"Yahh... Aku sedikit sensitif terhadap udara dingin."
"Hmm... Jadi, kau masih ingin diturunkan ditengah jalan? Kalau iya, aku akan memberhentikan mobilku dan kau bisa turun." Chanyeol mulai menyalakan penghangat di mobilnya.
"Hah? Kau setega itu?!"

Chanyeol benar-benar menghentikan mobilnya dipinggi jalan. Jujur, saat ini Baekhyun benar-benar tidak tahu harus berkata apa mengenai tingkah Chanyeol. Chanyeol melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil menuju pintu kursi penumpang disampingnya. Dia membukakan pintu untuk Baekhyun.

"Kau tidak mau turun?"
"Tidak! Aku hanya bercanda tadi, maafkan aku, aku tidak benar-benar bermaksud untuk turun..." Baekhyun berkata sedikit panik.
"Ahh... bukan itu maksudku, ayo turun dan makan cup ramyun sebentar sambil menunggu mobilku menghangat. Tubuhmu dingin..."

Wajah Baekhyun memerah. Dia sangat malu sekarang. Dia mengira bahwa Chanyeol akan benar-benar menurunkannya dari mobil karena permintaannya. Well, Baekhyun memang sedikit lapar sekarang. Tapi dia tidak menyangka bahwa Chanyeol akan mengajaknya turun untuk makan cup ramyun.

Baekhyun terlalu lama diam ditempat. Chanyeol memasukkan setengah tubuhnya kedalam mobil melalui pintu penumpang yang Baekhyun duduki. Dia mencoba mencari pengunci sabuk pengaman untuk segera membuka sabuk pengaman Baekhyun. Akhirnya sabuk pengaman Baekhyun terlepas.

Deg...deg... Jantung Baekhyun berdegup cukup keras dan kencang. Yup, Chanyeol yang sudah berhasil melepaskan sabuk pengaman Baekhyun itu wajahnya tepat berada didepan wajah Baekhyun. Jarak wajah mereka hanya terpaut 5 centi. Jujur, saat ini Baekhyun sangat bisa menghirup wangi shampoo yang digunakan oleh Chanyeol untuk mencuci rambutnya dan bau parfum yang digunakan oleh Chanyeol pada pakaiannya. Yup, bau yang sangat khas. Sama seperti bau jas yang Baekhyun gunakan untuk tidur 1 minggu yang lalu.

Chanyeol mengeluarkan tubuhnya dari mobil. Dia mengerutkan dahinya dan menaikkan sebelah alisnya menatap Baekhyun bingung. Pasalnya, Baekhyun sama sekali tidak bergerak, bahkan setelah sabuk pengamannya dilepas oleh Chanyeol. Apa ada yang salah?

"Kau tidak mau turun?"
"Hmm?" Baekhyun bergumam menoleh menatap Chanyeol.
"Kalau kau ingin tetap berada dimobil, aku akan turun membawakan cup ramyunnya untukmu. Kau suka pedas?"
"Ahh... aku tidak suka pedas, dan aku akan turun." Baekhyun segera turun dari mobil.

Chanyeol hanya tersenyum melihat punggung Baekhyun yang berjalan lebih dulu darinya menuju mini market terdekat. Chanyeol menutup pintu mobil sportnya dan mengikuti Baekhyun dengan melangkah lebih cepat agar menyusul Baekhyun dan berjalan disampingnya.

"Kau tidak suka pedas? Aku juga tidak suka pedas... selera kita sama hahaha... kau mau yang mana?"

Chanyeol menunjuk ke berbagai macam rasa, jenis, dan merk cup ramyun yang ada di mini market tersebut. Dia menunggu Baekhyun memilih cup ramyun yang dia inginkan.

"Hmm... aku ini saja." Baekhyun menunjuk ke salah satu Cup ramyun yang berada di sebelah kiri rak tingkat 3.

Chanyeol dengan sigap mengambil cup ramyun pilihan Baekhyun. Ya, 2 cup yang dia ambil. 1 cup dia ambil untuk Baekhyun dan 1 nya lagi untuk dirinya sendiri. Dia mengikuti selera Baekhyun. Segera menuju ke rak air mineral dan membeli 2 botol air mineral. Dia bahkan membayar sepasang cup ramyun dan sepasang air mineral itu.

Chanyeol berjalan kearah dimana Baekhyun sedang duduk dan bermain ponselnya. Dia memberikan air mineral tersebut kepada Baekhyun dan bahkan membukakan tutup botolnya untuk Baekhyun. Kemudian dia membuat 2 cup ramyun tersebut sekaligus bersamaan.

3 menit menunggu, ramyun sudah matang. Chanyeol mengambil 2 cup ramyun tersebut dari oven dan memberikan 1 cupnya untuk Baekhyun. Baekhyun hanya bisa menatap Chanyeol keheranan.

"Kenapa kau tidak menyuruhku membuatnya sendiri?"
"Hah? Tidak apa-apa, aku juga sekalian membuat punyaku."

Kedua namja itu menikmati cup ramyun mereka. Walaupun sekarang bukan musim yang cocok untuk menikmati cup ramyun panas. Tapi, ramyun tetaplah ramyun. Makanan yang sangat pantas dinikmati disaat seperti apapun. Chanyeol menghabiskan ramyunnya terlebih dahulu. Yah, sebenarnya Chanyeol juga cukup lapar. Sekarang sudah hampir jam 5 sore, dan terakhir dia makan sekitar jam 11. Chanyeol masih setia menunggu Baekhyun menghabiskan ramyunnya.

Slurrppp... penghabisan ramyun Baekhyun. Baekhyun berjalan terlebih dahulu menuju mobil Chanyeol dan Chanyeol masih setia mengikutinya dari belakang. Chanyeol membukakan pintu untuk Baekhyun. Dan sebelum menutup pintu kursi penumpang itu Chanyeol berpikir dan menatap Baekhyun sebentar.

"Mmmm..."
"Ada apa?" Baekhyun menatap Chanyeol datar.
"Kau mau kopi? Cola? Coklat hangat? Jus?"
"Hah?"
"Pilih!"
"Hmm... Cola?" Baekhyun menjawab tanpa mengerti maksud pertanyaan Chanyeol.

Chanyeol segera menutup pintu penumpang dan kembali masuk ke mini market. Apa maksud pertanyaan Chanyeol? Ya, Chanyeol membeli cola. Lebih tepatnya 2 kaleng cola, seperti yang Baekhyun jawab. Chanyeol keluar dari minimarket dan memasukki mobilnya, kemudian menyodorkan 1 kaleng cola pada Baekhyun.

"Untukku?" Baekhyun memiringkan kepalanya menatap Chanyeol heran.

Jujur, Baekhyun sangat heran akan tingkah Chanyeol. Apakah Chanyeol yang ngambek tingkahnya seperti ini? Memberikan segala kebaikan? Bila benar, ini akan sangat baik bagi Baekhyun dan akan sangat menyenangkan bila Chanyeol ngambek. Tapi, masalahnya, perilaku baiknya ini sangat aneh dan sangat membuat Baekhyun merasa tidak enak.

"Chanyeol... kenapa melakukan semua itu?"
"Hnn?" Chanyeol menoleh sebentar kemudian menghadap jalan lagi focus mengemudi.
"Kau... memberiku ramyun, menghangatkan mobil, membelikanku cola..."
"Hhh... kau yang menginginkannya."
"Tapi bila kau tidak memberikannya kan tidak apa-apa..."
"Benarkah? Kau tidak akan meminta turun dari mobil lagi?"
"Hah?! Aku sudah bilang, aku kan hanya bercanda!"
"Pelankan suaramu Baek, aku tidak suka diteriaki. Karena aku tidak mau balas berteriak kepada orang yang kusuka."
"..."

Baekhyun terdiam mendengar pernyataan Chanyeol barusan. Yup, Baekhyun tidak tahu harus merespon pernyataan Chanyeol barusan seperti apa. Ya, Baekhyun bukan seorang yang bodoh yang tidak mengerti perkataan Chanyeol barusan. Entah kenapa, Baekhyun merasa aneh. Dia merasa banyak ledakan kembang api dihatinya. Jantungnya berdegup cukup kencang. Perasaan senang dan perasaan yang tidak pernah dia rasakan sejak dia lahir. Apakah ini perasaan cinta yang Kyungsoo sebut sebut waktu itu?

.

.

.

Chanyeol memasuki apartemennya disusul Baekhyun yang hanya mengikutinya dari belakang. Ya, sejak Chanyeol menyatakan bahwa dia menyukai orang yang selama di mobil duduk disampingnya itu secara terang-terangan, suasana jadi sangat canggung. Satupun dari kedua namja itu tidak ada yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Baekhyun duduk disofa ruang tengah apartemen Chanyeol. Dia melihat sekeliling apartemen Chanyeol. Ruang dengan cat warna putih sofa dan meja coklat serta TV LED yang ukurannya cukup besar, membuat ruangan itu terlihat sangat simple.

"Kau ingin minum?"
"Ya..." Baekhyun hanya menjawab Chanyeol singkat.

Chanyeol berjalan menuju dapur setelah melepaskan sepatu, tas, dan kaus kakinya. Dia mengeluarkan sebotol besar jus jeruk dari dalam kulkas dan menuangkannya ke 2 buah gelas beling yang dia ambil dari rak coklat di dapurnya.

Chanyeol berjalan dan meletakkan segelas berisi jus jeruk tersebut di meja yang tepat berada didepan sofa yang sedang Baekhyun duduki. Chanyeol duduk di bagian sofa lainnya yang terpisah dengan sofa yang Baekhyun duduki. Chanyeol meneliti pergerakkan Baekhyun. Matanya bergerak sesuai dengan pergerakkan Baekhyun. Jujur, Baekhyun sangat tidak suka ditatap seperti itu. Dia merasa risih. Demi menghilangkan kecanggungan, mau tidak mau Baekhyun membuat pernyataan yang sangat menyebalkan bagi orang yang tidak memiliki perasaan padanya.

"Padahal aku lebih suka strawberry..." Baekhyun memutar pelan gelas beling berisi jus jeruk tersebut sebelum meminumnya agar bulir jeruk pada gelas itu tidak mengendap di dasar gelas.

Chanyeol yang mendengar pernyataan Baekhyun barusan, dengan sigap dia berdiri dari posisi duduk santainya dan berjalan menuju dapur lagi. Dia mengambil gelas beling yang baru dan mengeluarkan sebotol besar jus strawberry dari kulkasnya ke gelas tersebut. Ya, jus strawberry khusus untuk Baekhyun karena Baekhyun yang memintanya.

Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali melihat perilaku Chanyeol yang sangat aneh. Jujur, Chanyeol yang ini sangat menyeramkan menurutnya. Chanyeol yang sebelumnya tidak seperti ini. Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat suasana tidak seperti ini lagi. Padahal dia hanya bercanda dan bergumam sendiri bahwa dia menyukai strawberry. Yah, walaupun memang faktanya dia lebih menyukai strawberry daripada jeruk.

"Chanyeol, kau tidak harus benar-benar memberikanku jus strawberry..." Jujur, nada bicara Baekhyun barusan seperti nada, orang yang ketakutan?
"Tidak apa-apa" Chanyeol meletakkan gelas berisi jus strawberry itu disamping gelas tinggal terisi setengah jus jeruk.

Baekhyun meminum jus strawberry yang sudah susah payah Chanyeol ambil itu dan langsung meminumnya hingga habis. Jujur, Chanyeol cukup terkejut melihat Baekhyun menghabiskan jus strawberry tersebut dengan cepat. Yah, mungkin sebab itulah Baekhyun lebih memilik strawberry daripada jeruk.

"Chanyeol, kau aneh..."
"Hnn...?" Chanyeol menatap Baekhyun menaikkan sebelah alisnya dengan wajah bingung.
"Kau berubah sejak aku menipumu tadi..."
"Mungkin hanya perasaanmu saja."
"Ayo, tepati janjimu, sambil menunggu Kyungsoo, bermain nintendo."
"Hhh..."

Chanyeol hanya menghela napasnya panjang. Chanyeol berjalan kekamarnya mengambil perangkat game console yang diminta oleh Baekhyun. Kemudian meletakkan nintendo tersebut di meja yang terletak disamping TV yang membuat Baekhyun harus bangun berdiri dan berjalan untuk mengambil game console tersebut.

Ya, Baekhyun benar-benar membangkitkan tubuhnya dari sofa untuk mengambil perangkat game konsole tersebut. Ketika tangannya sudah menyentuh game konsole yang bernama nintendo itu, Chanyeol meraih pergelangan tangan Baekhyun.

"Jawab aku sebelum bermain."
"Memangnya kau bertanya?"
"Hmm... hari ini hari jadi kita?"
"Hah?"
"Kutanya, hari ini hari jadi kita?"

Baekhyun membeku mendengar pertanyaan Chanyeol. Dia sangat tidak menyangka bahwa Chanyeol akan menanyakan hal ini. Dia kira, setelah bermain nintendo dan mengembalikan jasnya, Baekhyun bisa pulang dengan damai. Tapi, nampaknya, fakta berkata lain.

"Tidak, kita bahkan belum berciuman dan aku bahkan belum menjawab pertanyaanmu mengenai ajakkan kencanmu."
"Jadi, kita belum jadi?"
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Jadi, kalau kita berciuman dan kau menjawab ajakkan kencanku, kita resmi berpacaran?"

Chanyeol memajukan tubuhnya selangkah lebih dekat dengan tubuh namja kecil itu. Baekhyun secara refleks memundurkan tubuhnya menjauhi tubuh Chanyeol yang mendekat. Jantung Baekhyun terasa meledak-ledak.

"Baekhyun POV"

Kenapa dia mendekat. Ahh, jantungku kenapa... apakah aku akan segera mati karena serangan jantung? Aku seharusnya menutup mulutku saja tadi. Aku ingin mengutuk mulutku yang hanya asal bicara tadi. Aku tidak mengira bahwa dia akan benar-benar serius menciumku kan? Hanya demi mendapatkan jawaban ajakkan kencan? Eii... tidak mungkin kan? Bagaimana bisa dia mencium sembarang orang yang bahkan belum tentu menerimanya? Dia hanya bercanda kan?

.

.

.

"Author POV"

Begitu banyak pertanyaan dipikiran Baekhyun sekarang. Dia tidak bisa menatap wajah namja tinggi yang berada tepat didepannya. Alhasil dia hanya menunduk melihat lantai dan jemari kakinya yang bergerak-gerak tidak bisa diam karena dia sangat gugup sekarang.

"Baekk..."

Baekhyun menoleh keatas, manik matanya langsung bertatap dengan manik mata namja tinggi didepannya. Jujur, Baekhyun saat ini melihat wajah dan mata Chanyeol, sangat mempesona. Wajah Baekhyun memerah. Rasanya dia ingin sekali menenggelamkan dirinya dibalik tembok. Entah kerasukkan dari mana, bukannya menunduk malu seperti biasanya, Baekhyun malah menutup matanya. Ehh? Baekhyun menutup matanya?

"hhh..." Chanyeol mengehela napas pendek dan tersenyum.

"Kuharap, jawabanmu Yes."

Chanyeol kemudian menundukkan kepalanya dan mencium kening namja kecil yang berdiri didepannya.

.

.

.

"Meet Strangers"

Note: Happy Valentine Guys 3 ... yang jomblo cepet dapet pasangan, yang taken langgeng terus ya ~