"Chanyeol?"

"Dongjoo?"

Chanyeol cukup terkejut melihat teman masa kecilnya yang sudah lama tidak ditemuinya. Sekitar, 7 tahun? Ya, sudah selama itu Chanyeol tidak bertemu dan berbalas kabar dengan Dongjoo sejak Chanyeol berangkat ke Jepang. Terakhir kalinya mereka bertemu adalah saat Dongjoo mengantar Chanyeol ke bandara. Dan perpisahan mereka juga tidak begitu baik. Ya, seperti yang kalian tahu, wanita yang bisa dibilang cinta pertama Chanyeol itu menyukai teman Chanyeol sendiri yaitu Dongjoo lah orangnya.

"Ohh... benar Chanyeol? Chanyeolahh..." Dongjoo langsung memeluk Chanyeol erat.

Chanyeol terpaku berdiri tanpa membalas pelukkan dari Dongjoo. Entah kenapa dia hanya ingin saja tidak membalasnya. Apakah perasaan sakit hati itu masih membekas pada dirinya? Padahal Chanyeol sudah memberikan hatinya pada Baekhyun. Apakah Chanyeol hanya main-main saja dengan Baekhyun?

"Eohh..."
"Kau mau beli hotteok?"
"Ya, seperti yang kau lihat."
"Wahh... sudah lama sekali kita tidak bertemu... 7 tahun kah? Sejak terakhir kau berangkat ke Jepang."
"Mmm..." Chanyeol hanya mengangguk.
"Mau bicara sebentar? Sudah lama kita tidak bertemu. Kau disini sendiri?"
"Tidak, aku bersama pacarku."
"Ehh? Kau sudah punya pacar?"
"Ya, memangnya kau belum?"
"Yah, aku sedang tidak begitu tertarik dengan masalah percintaan. Lagipula sebentar lagi kita naik tingkat 3 dan harus mempersiapkan ujian."
"Mmm..."

Jujur, sebenarnya sekarang Chanyeol sangat penasaran dengan kabar Dongjoo. Ahh tidak, bukan kabar Dongjoo saja. Tapi kabar mantan cinta pertamanya yang dulu dia relakan kepada Dongjoo. Chanyeol ingin sekali bertanya. Tapi rasanya bibirnya tidak bergerak sesuai dengan kemauannya.

"Ada apa?" Dongjoo menatap Chanyeol bingung dengan kedua tangannya masih berada di lengan Chanyeol.
"Tidak..."
"Kenapa? Kau ingin menanyakan kabar Hyewon?"

"Hyewon pergi. Dia ke Amerika tepat 1 bulan setelah kau pergi ke Jepang."
"Hubunganmu dengannya?" Chanyeol menatap Dongjoo dengan penasaran.
"Kami masih berhubungan hingga sekarang. Tapi hanya sebagai teman. Kau ingin kontaknya?"
"Kalian tidak berpacaran?"
"Hmm... kami berpacaran setelah kau menyuruhku, aku benar-benar mengajaknya berkencan. Tapi maaf Chanyeolahh... aku tidak bisa menjaganya."
"Wae?" Wajah Chanyeol berubah serius.
"Dia selalu bersedih sejak sebulan setelah kau pergi ke Jepang. Aku selalu mencoba membujuknya untuk menyusulmu ke Jepang saat liburan tapi dia menolak. Dia terlalu merasa bersalah denganmu. Dan akhirnya dia pergi ke Amerika dan sampai sekarang dia masih menempuh ilmu disana."
"Dia baik-baik saja disana?"
"Eohh... kadang dia juga bertanya apakah aku sudah bisa menghu-"
"Chanyeol!"

.

.

.

"Meet Strangers"

Namja mungil yang sudah lama menunggu itu akhirnya terpaksa bangun dari tempat duduknya karena bosan menunggu pacarnya yang mengantri hotteok untuknya. Dia akhirnya menyusul dan melihat pacarnya itu sedang bicara dengan seorang pria yang tidak dia kenal yang tingginya tidak berbeda jauh dengan pacarnya. Baekhyun yang terlihat penasaran langsung menghampiri Chanyeol dan memanggilnya.

"Ohh... Baekhyunah.. kenapa?"
"Ooo... Baekhyun?!" Dongjoo menatap Baekhyun membulatkan matanya.
"Ohh... maaf, anda siapa?" Baekhyun terlihat bingung melihat pria itu menyebut namanya.
"Kau tidak ingat aku? Kita sekelas saat kelas 2 SMP."
"Maaf... tapi, sepertinya... aku tidak ingat.." Baekhyun menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal.
"Hmm... ya, itu bisa saja... karena kau adalah anak pemilik sekolah. Aku sudah pasti mengenalmu.
"Emm... tolong tidak usah membawa urusan pemilik sekolah. Aku risih mendengarnya."
"Ohh... baiklah. Kau masih bersama Hyewon?"

Chanyeol menatap Dongjoo tajam. Entah kenapa Chanyeol menjadi sensitif mendengar nama mantan pacar Baekhyun itu. Apakah Chanyeol semburu? Tapi Chanyeol sudah yakin sepenuhnya bahwa Baekhyun sudah sepenuhnya melupakan Hyewon.

"Tidak, aku sudah putus."
"Heol... pasangan sempurna seperti kalian tidak bisa berpisah seperti itu saja. Ngomong-ngomong, kalian berdua saling kenal?"

Entah kenapa Chanyeol mulai kesal melihat Dongjoo yang berkomunikasi cukup akrab dengan Baekhyun. Apakah karena temannya seketika jadi akrab dengan pacarnya? Atau dia masih kesal karena Dongjoo membuatnya merelakan Hyewon?

"Ohh.." Baekhyun menjawab singkat.
"Kami berdua berpacaran." Chanyeol menatap Dongjoo serius.
"Hah?! Kau tidak bercanda kan Chan? Kau masih sehat kan?" Dongjoo nampak sedikit bingung dengan perkataan Chanyeol barusan.
"Ya, aku masih sehat. Aku sangat sehat. Baekhyun adalah pacarku. Dan aku sudah menjadi gay."
"Kau benar-benar manjadi gay?!" Dongjoo benar-benar terkejut.

Sebenarnya Chanyeol sudah bisa memperkirakan reaksi ini akan terlihat setelah dia mengaku bahwa dia gay didepan Dongjoo. Terserah Dongjoo mau menganggapnya jijik atau apa. Dia tidak peduli. Yang penting dia ingin segera pergi berdua saja dengan Baekhyun dan mengakhiri pertemuan canggung ini.

"Emm... Dongjoo, aku ada urusan, aku akan menghubungimu bila kita bertemu lagi."
"Ehh?"

Chanyeol langsung meraih tangan Baekhyun dan pergi menjauh dari sana meninggalkan Dongjoo. Dongjoo hanya menatap mereka yang semakin pergi menjauh dengan heran. Baekhyun yang ditarik oleh Chanyeol hanya bisa pasrah. Entah kenapa Chanyeol sangat ingin membawa Baekhyun jauh dari Dongjoo.

"Chanyeol, kenapa buru-buru?" Baekhyun berhenti agar Chanyeol berhenti setengah berlari.
"Tidak apa-apa, aku hanya lapar. Ayo makan direstoran."
"Hotteoknya?"
"Akan kubelikan lain kali. Oke?
"Hmm... baiklah." Baekhyun mengangguk mengerti."

Chanyeol akhirnya membawa Baekhyun ke sebuah restoran yang menjual makanan China. Entah kenapa, Chanyeol sebenarnya tidak begitu lapar. Dia hanya memasukki restoran yang berada disana dengan asal, berharap Dongjoo kehilangan jejaknya. Kedua namja itu duduk berhadap-hadappan sambil menunggu jjajangmyeon yang sudah dipesan oleh mereka.

"Kau mengenal pria tadi?"
"Yah, dia temanku waktu sekolah dasar."
"Ahh..." Baekhyun hanya mengangguk.
"Dia tampaknya mengenalmu, tapi kenapa kau tidak mengenalnya."
"Ya, kau pasti sudah tahu akan jawabannya tadi. Aku anak pemilik sekolah. Dan aku benci status itu. Kau juga pasti semakin mengingatku setelah masa orientasi karena aku anak pemilik sekolah." Jelas Baekhyun.

Well, Baekhyun tidak sepenuhnya salah. Selain mengenal saat masa orientasi, Chanyeol yang tadinya sudah melupakan Baekhyun mulai teringat lagi akan teman selama 3 jamnya itu karena sahabatnya Oh Sehun.

.

.

.

"Flashback Masa Orientasi Siswa Hari Pertama"

Pagi itu, pagi yang cukup cerah. Baekhyun terbangun dari tidurnya karena suara nada dering telepon masuk dari ponselnya. Ya, Kang Yeri, pacarnya yang sudah berpacaran dengannya selama sekitar 1 tahun itu menelponnya untuk membangunkannya. Baekhyun tidak bisa tidur semalam. Dia terus melakukan voice call dengan Yeri. Dan dia juga tahu Yeri selalu bangun pagi. Jadi dia meminta pada pacarnya itu untuk menelponnya pagi-pagi agar dia terbangun.

Ya, amanah itu benar-benar dilaksanakan. Baekhyun terbangun karena nada deringnya dan langsung meraih ponselnya kemudian menekan tombol berwana hijau untuk menerima telepon. Dia sudah tahu Yerilah yang menelponnya sesuai dengan permintaannya.

Yeri: "Oppa... sudah bangun? Hari ini hari pertamamu."
Baekhyun: "Ohh... aku sedang mengumpulkan tenagaku."
Yeri: "Ingat oppa... jangan sampai mereka tahu kau itu siapa."

Baekhyun mengerti sekali apa yang dimaksud Yeri barusan. Ya, status Baekhyun sebagai anak pemilik sekolah. Tidak boleh ada yang tahu. Dia tidak ingin diperlakukan spesial. Dan perlakuan spesial itulah yang membuatnya sulit berteman. Padahal Baekhyun adalah orang yang ceria dan banyak bicara.

Baekhyun: "Ohh Yeri-ah... terima kasih sudah membangunkanku. Sudah ya, aku ingin mandi."
Yeri: "Oke oppa. hwating!"

Sambungan telepon diputus. Baekhyun segera bangun dari tempat tidur kemudian menuju kamar mandi untuk bersiap. Seragam barunya sudah tergantung di pintu lemarinya. Siap digunakan. Dia sangat antusias akan hari pertamanya di sekolah menengah atas.

.

.

.

Baekhyun telah sampai disekolah. Dia turun dari mobil hitamnya. Dia berjalan masuk kedalam gedung mencari dimana hall untuk masa orientasi akan diadakan. Saat berjalan sambil menatap ponselnya. Seorang namja berlari dari belakang menyusulnya kemudian langsung merangkul pundaknya.

"Baek!"

Baekhyun cukup terkejut. Dia menoleh kekanan. Namja bermata bulat itu merangkulnya. Teman yang berpisah dengannya 3 tahun lalu karena namja bermata bulat itu harus pindah sekolah dengan alasan keluarga. Dia tidak menyangka akan bertemu sahabat masa kecilnya lagi di sekolah yang sama.

"Kyungsoo!"
"Ohh... ini aku." Kyungsoo tersenyum lebar.
"Kau tidak bilang ingin sekolah disini?!"
"Aku ingin memberi kejutan."

Well, kejutan yang sangat tidak dibutuhkan. Dia sebenarnya juga tidak peduli Kyungsoo satu sekolah dengannya atau tidak. Karena dia sangat ingin memiliki teman sekarang. Dia tidak ingin merasa terasingkan seperti saat di sekolah menengah pertama dulu. Itu sangat menyiksanya.

"Ohh..."
"Kenapa reaksimu hanya begitu saja? Kau kecewa aku kembali ke sekolah yang sama denganmu?"
"Hah? Tidak... Biasa saja."
"Huh... Baek, kau masuk kelompok berapa?"
"Aku? 7, kenapa?"
"Wah, aku kelompok 4... Kita tidak sekelompok."
"Ya..."

Baekhyun sebenarnya sedang malas menanggapi Kyungsoo. Apakah Baekhyun kesal karena Kyungsoo tidak bilang akan masuk ke sekolah yang sama? Tapi bukankah Baekhyun tidak peduli?

"Baek... Kau masih dengan Yeri?"
"Ya." Jawab Baekhyun singkat.
"Kau kenapa sih? Jawabanmu dari tadi pendek sekali. Kau kesal padaku?"
"Tidak..."
"Lalu kenapa? Apa karena aku gay?"
"..."

Baekhyun terdiam sebentar mencerna pertanyaan Kyungsoo. Sebenarnya Baekhyun tidak mempermasalahkan hubungan sesama jenis temannya ini. Tapi entah kenapa dia hanya merasa tidak enak saja. Apa karena di Korea ini hubungan sesama jenis masih tabu dan Baekhyun takut dibenci bila berteman dengan Kyungsoo yang gay? Atau karena memang Baekhyun pribadi sendiri yang sedang tidak mood untuk bicara?

"Baek... Kau tidak membenciku karena aku gay kan?"
"Tidak..."
"Lalu kenapa?"
"Aku sedang tidak mood untuk bicara."

Baekhyun aneh. Mood dia tiba-tiba berubah. Kenapa? Apa ada yang salah? Ya, Baekhyun baru saja melihat beberapa mantan teman satu sekolahnya pada saat sekolah menengah pertama. Dia sudah siap bila temannya itu akan membocorkan statusnya sebagai anak pemilik sekolah.

"Kenapa? Masalahmu yang jadi anak pemilik sekolah lagi?"

Kyungsoo menebak dengan sangat tepat. Kyungsoo sudah tahu kalau Baekhyun tidak mau bila semua orang tahu bila dia anak pemilik sekolah. Dia pasti akan diperlakukan spesial. Semua orang pasti tidak ada yang berani menyentuhnya. Menyentuh dalam artian berbuat masalah dengannya. Padahal Baekhyun ingin bersekolah seperti anak SMA biasanya. Bolos sekolah bersama, pergi ke karaoke bersama teman serta melakukan hal gila lainnya yang hanya bisa dilakukan saat SMA.

Tapi, rasanya, Baekhyun sudah tahu, kalau itu tidak akan bisa. Bila tahu begini, kenapa Baekhyun tidak bersekolah disekolah lain saja, yang bukan milik ayahnya? Jawabannya sangat mudah. Ayahnyalah yang mendaftarkan Baekhyun ke sekolahnya sendiri. Dan perintah ayah Baekhyun itu mutlak adanya. Ya, sebenarnya seharusnya Baekhyun dan ibunya serta kakaknya bersyukur karena Tn Byun mau mengakui mereka. Bila tidak, mungkin Baekhyun sedang berkerja entah dimana sekarang dan tidak akan pernah bisa memakai seragam.

"Baek... Masalah kau anak pemilik sekolah atau bukan, itu hanyalah presepsimu sendiri. Sebenarnya, bila kau bisa beradaptasi, mereka pasti ingin bertemanmu tanpa mempedulikan statusmu."

Yah, Baekhyun tahu itu. Dia sangat mengerti maksud dari beradaptasi itu. Dia sudah pernah mencobanya bahkan sempat akrab dengan beberapa orang. Tapi dia ditusuk dari belakang. Sampai dia mendengar orang-orang itu hanya berteman dengannya karena statusnya.

'Hei, kau masih berteman dengan Byun?
'Eohh...'
'Tidak bosan?'
'Mau bagaimana lagi. Dia selalu mendekat padaku dan bila aku menjauhinya, aku takut akan ada masalah dengan nilaiku'
'Tapi bukankah itu diluar aturan sekolah?'
'Kau tidak tahu? Waktu Baekhyun masih sekolah dasar. Dia tidak sengaja menabrak senior. Senior itu mendorongnya hingga terjatuh. Dan kau tahu apa yang terjadi?'
'Kenapa? Skors? Kan Baekhyun pasti minta maaf, kita tahu betul Baekhyun itu orang seperti apa. Memang senior yang salah kan mendorong orang yang sudah minta maaf?'
'Huh... Skors? Itu tidak berlaku untuk seorang Byun. Kau tahu? Senior itu langsung dikeluarkan dan tidak diterima disekolah manapun di Seoul.'
'Hah?! Apakah kekuasaan ayah Baekhyun sebesar itu?'
'Entahlah, hanya saja, jangan bermain dan berbuat masalah dengannya.'

Baekhyun yang saat itu mendengar pembicaraan kedua temannya saat masih sekolah dasar itu merasa sangat sakit dan terkhianati. Baekhyun tidak tahu apakah dia berhak merasa terkhianati seperti itu. Tapi, intinya, dia sangat marah, kesal dan intinya, dia sangat kecewa.

'Memangnya Baekhyun mengadu? Dia bukan orang yang seperti itu. Lagipula itu hanya kasus kecil. Mungkin senior terlalu membesarkan masalahnya.'
'Kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang Byun Baekhyun. Kita tidak tahu sikap aslinya. Intinya jangan bermain dan bermasalah dengannya.'
'Hmm... Baiklah... Aku akan berjaga-jaga.'

Mengingat percakapan kedua temannya waktu sekolah dasar itu sedikit membuat Baekhyun bernostalgia dan tersenyum kecil. Temannya berpikir terlalu jauh. Padahal Baekhyun adalah orang yang berpikir praktis dan tidak mau ambil pusing. Yah, yang berlalu biarlah berlalu. Baekhyun akan mencoba yang terbaik hari ini.

"Kyungsoo..."
"Hah?"
"Kau masih bersama Jongin yang kau ceritakan itu?"
"Ohh iya... Aku lupa memberitahumu... Jongin, dan temannya masuk ke sekolah ini juga. Aku juga ada 1 orang teman yang ingin kukenalkan padamu. Tapi sepertinya dia belum datang."
"Siapa?"
"Ada, dia namja, dan dia juga gay."

Well, Baekhyun tidak mempermasalahkan nau namja itu gay atau straight. Intinya, Baekhyun sangat ingin mendapatkan teman selain Kyungsoo. Dia sudah bosan melihat Kyungsoo sejak kecil. Dia ingin melihat wajah baru.

"Dia belum datang?"
"Harusnya sih dia sampai sebentar lagi." Kyungsoo melihat Jam tangan dilengan kirinya.

Baekhyun dan Kyungsoo berada tepat didepan pintu masuk. Mereka menunggu namja yang Kyungsoo maksud. Namja cantik bertubuh lebih tinggi dari mereka yang memeliki kebangsaan Cina itu menghampiri mereka.

"Kyungsoo..."
"Ohh hyung..." Jawab Kyungsoo.
"Annyeong hasaeyo." Baekhyun menunduk memberi sapa saat mendengar Kyungsoo memanggil namja tersebut dengan sebutan hyung.
"Ahh, kau Baekhyun kan? Yang selalu diceritakan Kyungsoo. Santai saja, aku seangkatan dengan kalian. Hanya saja aku hanya 2 tahun lebih tua karena telat sekolah dan cuti. Panggil aku Luhan Hyung.
"Ahh... Baik Luhan hyung." Baekhyun masih bersikap sopan.

Ketiga namja itu berjalan masuk kegedung dan menuju ke hall dimana masa orientasi siswa akan diadakan. Jujur, Baekhyun memang berada diatas standar pada grafik ketampanannya. Ya, walaupun grafik kencantikannya juga diatas standar dari wanita biasa. Semua siswi baru disana sering mencuri pandang ke arah Baekhyun. Ya, mereka mencuri pandang dengan polosnya seperti malu malu kucing. Entah kapan Baekhyun terakhir kali merasakan hal itu. Yang pasti dia cukup senang dan menikmati reaksi itu sebelum mereka semua menjauhinya.

Kyungsoo dan Luhan hanya sebagai bumbu saja disana. Ya, mereka memang mengakui Baekhyun tampan. Tapi Baekhyun berada dibawah rata-rata untuk target gay mereka. Tidak mungkin kan mereka gay sama-sama uke. Dari tingkah Baekhyun, kaum gay sudah bisa menebak bila Baekhyun menjadi seorang gay, dia sudah pasti menjadi uke. Itu yang dipikirkan Kyungsoo dan Luhan sekarang.

.

.

.

Sesampainnya di hall, 3 namja tinggi dan tampan sedang berdiri didepa pintu masuk. Ya, Chanyeol, Kai, dan Sehun. Sedang apa mereka berdiri di depan pintu? Kenapa tidak masuk? Apalagi alasannya kalau bukan menunggu pacar mereka datang. Hanya pacar Kai dan Sehun sih, karena Chanyeol single.

"Ohh Kyungiieee..." Kai langsung menghampiri Kyungsoo dan membantu membawa tas gendong Kyungsoo.
"Ohh... Kalian sudah lama disini?"
"Tidak juga, tapi sepertinya Chanyeol kesal menunggu..."
"Ahh... hahaha..."
"Tenanglah, sudah biasa." Kai hanya mengangguk kecil.
"Kyungsoo, Luhan mana?" Pria berkulit putih itu bertanya keberadaan pacarnya.

Ya, Oh Sehun. Pria yang berkulit putih, tampan, dan tinggi itu. Dia adalah milik Luhan. Walaupun hubungan mereka sangat ditentang oleh kedua orang tua mereka. Mereka tetap melanjutkan hubungan tanpa sepengetahuan keluarga.

"Dia sedang berada di toilet dengan Baekhyun." Jawab Kyungsoo.
"Baekhyun?"
"Ahh... Aku belum memberitahu, dia temanku waktu kecil hingga sekarang, dia bersekolah disini juga."
"Ahh begitu..."

Dari arah berlawanan, Baekhyun dan Luhan berjalan ke arah mereka. Luhan langsung menghampiri pria yang bernama Oh Sehun itu. Lalu bagaimana dengan Baekhyun? Dia seperti terasingkan disana. Dia belum mengenal Kai dan kawan-kawan. Dia hanya mengenal Jongin sebatas cerita dari Kyungsoo selama mereka masih berkomunikasi lewat chatting.

"Ahh iya, ini temanku.. Byun Baekhyun." Kyungsoo reflek setelah menoleh melihat wajah Baekhyun benar-benar badmood.
"Ohh... Annyeong Baekhyun. Kau sering kudengar oleh Kyungsoo." Kai menyapanya.
"Ohh... Annyeong"
"Aku Oh Sehun. Dan ini Chanyeol." Sehun menunjuk Chanyeol.

Chanyeol hanya tersenyum tipis mengangguk setelah mendengar Oh Sehun memperkenalkan namanya juga. Baekhyun hanya mengangguk menatap mereka. Yah, suasananya benar-benar canggung.

"Baekhyun, kau kelompok berapa? Mungkin kita bisa 1 kelompok?" Tanya Sehun.
"Ahh... aku kelompok 4..."
"Ohh kelompok 4? Kita berbeda, tapi Chanyeol, kau kelompok 4 juga kan?" Sehun menatap Chanyeol.
"Eoh.." Chanyeol hanya mengangguk dengan wajah datar.
"Kalau begitu, kau bersama Chanyeol saja, kami berbeda kelompok dengan kalian. Kita bisa bertemu lagi nanti setelah acara selesai."
"Sampai bertemu nanti Baek.." Kyungsoo berjalan menjauh bersama Kai
"Eohh..."

Chanyeol dan Baekhyun hanya mengangguk mengerti. Sehun dan Kai serta Kyungsoo dan Luhan pergi meninggalkan mereka. Chanyeol dan Baekhyun saling berkontak mata. Entah kenapa suasananya sangat Canggung.

"Namamu Byun Baekhyun kan..." Chanyeol mencoba membuka topik pembicaraan.
"Eohh... Chanyeol ya?"
"Iya.."

Jujur, Baekhyun benar-benar sadar bahwa namja tinggi yang sedang berdiri didepannya itu benar-benar tampan dan seluruh mata para wanita tertuju padanya. Baekhyun sebenarnya agak risih dengan suasana seperti ini. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian.

"Mau masuk kedalam saja?" Tanya Chanyeol yang peka melihat Baekhyun menoleh kanan kiri memperhatikan orang yang mencuri pandang ke arah mereka.
"Iya."

Chanyeol dan Baekhyun masuk kedalam hall besar itu. Banyak barisan yang sudah terbagi sesuai kelompok yang tertulis di papan. Chanyeol dan Baekhyun menuju kearah dimana papan bertuliskan nomor 4 terpampang. Mereka duduk berdampingan di barisan yang terbagi menjadi 3 baris itu.

"Ehmm... Baek..."
"Ya?"
"Kau kelas apa?"
"Ahh... Aku kelas 1-2. Kau?
"Hmm... Aku 1-1. Sepertinya setelah hari ini kita sulit bertemu hahaha..."
"Eohh..."

Entah kenapa Chanyeol tidak bisa mencari topik. Dia tidak suka suasana hening diantara mereka. Entah kenapa Chanyeol ingin menjadi lebih akrab dengan Baekhyun.

"Ingin menjadi temanku?" Tanya Chanyeol sambil mengajak Baekhyun bersalaman.
"Iya.." Baekhyun hanya tersenyum membalas jabatan tangan Chanyeol.
"Kau suka ikut kegiatan apa?"
"Aku? Entahlah.. Aku tidak berniat ikut kegiatan apapun."
"Suaramu kudengar bagus. Kau tidak suka bernyanyi?"

Well, menurut Baekhyun, tebakan Chanyeol sangat tepat. Baekhyun suka bernyanyi. Bahkan Baekhyun sangat percaya diri dengan suaranya sendiri. Tapi Baekhyun takut kegiatan itu akan berpengaruh karena statusnya sebagai anak pemilik sekolah. Makanya dia malas mengikuti kegiatan apapun.

"Ehmm... Aku sedikit suka bernyanyi..." Baekhyun menjawab malu-malu.
"Eii, jangan bohong. Dari pendengaranku, kau pasti sangat ahli bernyanyi. Suaramu bagus. Aku bisa bermain alat musik. Mau ikut club band?"
"Ahh club band? Mungkin akan kupikirkan dulu."
"Ikut saja. Aku akan ikut."
"Nanti akan kucoba lihat situasinya."
"Ahh baiklah."

Pembicaraan mereka terhenti disana. Suara microfone di depan panggung mulai terdengar. Ya, kepala sekolah sedang berdiri diatas panggung akan memberikan arahan kepada seluruh siswa. Suara microfone yang digunakan oleh kepala sekolah itu mendominasi hall besar yang penuh terisi oleh siswa. Hening selama beberapa menit hingga kepala sekolah akhirnya meresmikan dimulainya masa orientasi siswa. Seluruh siswa ramai bersorak dan bertepuk tangan.

"Kuharap ini jadi awal yang baik yah." Chanyeol menoleh tersenyum kepada Baekhyun sambil bertepuk tangan.
"Eohh.." Baekhyun hanya mengangguk menatap Chanyeol datar.

Pengarahan masa orientasi dilanjutkan oleh siswa selaku senior tingkat 2. Para panitia osis yang berhak melangsungkan kegiatan masa orientasi siswa ini. Senior memberika pengarahan kepada siswa baru untuk berkumpul sesuai dengan pembagian kelas mereka. Saat itulah suasana mulai berisik. Dimana siswa baru mendapat teman baru dan harus meninggalkan mereka.

Baru kenal, sedikit dekat, kemudian meninggalkan. Itulah yang terjadi pada masa orientasi siswa. Masalah akan akrab atau tidaknya setelah acara itu selesai adalah masalah nanti. Keputusan untuk menjadi lebih dekat pada teman yang baru dikenal itu ada ditangan siswa masing masing. Dan Chanyeol sudah memutuskan untuk memilih opsi yang tidak meninggalkan. Melainkan dia ingin menjadi lebih dekat.

"Baek..."

"Ya?"

"Aku tertarik padamu..."

"Hah?!"

.

.

.

"Meet Strangers"