"Ehh?"
"Hai, Byun Baekhyun.."
Baekhyun cukup terkejut melihat namja yang datang ke apartemen Chanyeol ini. Bahkan belum ada 4 jam sejak dia bertemu dengan namja yang sedang berdiri didepannya itu.
"Kenapa kau kesini?"
"Kau sudah tahukan? Aku sahabat Chanyeol waktu kecil."
"Lalu?"
"Aku ingin mengobrol sebentar dengannya."
"Ahh... Begitu, masuklah."
Baekhyun membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Dongjoo masuk. Sedangkan Baekhyun? Dia memakai sepatunya dan bersiap keluar. Kenapa? Ya, Baekhyun ingin memberikan Chanyeol waktu pribadi dengan Dongjoo. Baekhyun sangat tahu jelas bagaimana rasanya sudah lama tidak bertemu dengan sahabat lama. Jadi Baekhyun akan mencari angin sebentar sambil menunggu Chanyeol selesai mengobrol dengan Dongjoo.
"Loh? Kau mau kemana?"
"Aku akan mencari angin sebentar. Kau mengobrol saja dengan Chanyeol didalam. Dia sedang memasak makan malam."
Baekhyun menutup pintu berjalan keluar dari apartemen Chanyeol. Sementara itu, Chanyeol yang merasa Baekhyun sudah agak lama menerima tamu akhirnya menghentikan acara memasaknya sebentar dan nenuju ke pintu depan.
"Baek... Siapa yang da-"
Chanyeol membulatkan matanya besar melihat Dongjoo sedang melepas sepatunya. Chanyeol sangat tidak menyangka bahwa Dongjoo akan seniat itu datang ke apartemennya. Dia pikir Dongjoo hanya bercanda. Sebenarnya ada apa sih dengan sahabat masa kecilnya ini?
"Ohh... Chan..."
"Untuk apa kau kesini?"
Chanyeol nampak menatap tajam Dongjoo dan bertanya dengan nada ketus. Dan wajahnya nampak kesal. Entah kenapa dia tidak bisa melihat namja mungil kesayangannya dimanapun.
"Dimana Baekhyun?"
Chanyeol sudah bertanya lagi bahkan sebelum Dongjoo berhasil menjawab pertanyaan darinya sebelumnya. Yah, Chanyeol yang sekarang notabenenya berstatus sebagai pacar Baekhyun pasti mengkhawatirkan pacarnya yang sudah tidak terlihat dimanapun itu.
"Baekhyun pergi mencari angin sebentar dan aku hanya ingin bicara sebentar denganmu."
"Aku tidak ingin bicara denganmu."
"Ayolah, ini penting. Ini tentang Hyewon."
Gerak Chanyeol yang melanjutkan masaknya terhenti. Dia terdiam sebentar ditempatnya kemudian mematikan kompor yang sedari tadi menyala itu. Akhirnya dia menuju kulkas mengeluarkan 1 botol besar jus jeruk dan menuangkannya ke 2 gelas.
"Duduklah."
Chanyeol akhirnya memutuskan untuk mendengarkan penjelasan dari Dongjoo. Dia meletakkan kedua gelas berisi jus jeruk itu diatas meja ruang tengah. 1 untuknya dan 1 untuk Dongjoo. Yah, walaupun dia sedang tidak mood meladeni Dongjoo, dia tetap harus menjalankan manner kepada tamu yang diajarkan oleh orang tuanya sejak dia kecil.
"Ehmm... Begini Chan... Bagaimana ya..."
"Hyewon kenapa?"
"Aku sudah bilang kan dia akan kembali ke Korea bulan depan."
"Ya..."
"Tidak bisakah kau dan Hyewon kembali seperti dulu?"
"Apa maksudmu?"
Sebenarnya Chanyeol sangat peka sekali akan maksud dari Dongjoo yang memintanya dan Hyewon kembali seperti dulu. Tapi Chanyeol masih terkejut dan bisa belum menerima permintaan dari Dongjoo. Untuk memastikan, dia bertanya sekali lagi.
"Kembali seperti dulu? Maksudmu apa?"
"Hmm... Maksudku, aku sahabatmu dan kau pria yang menyukai Hyewon, bagaimana?"
"Kau gila? Aku sudah punya pacar. Dia Byun Baekhyun, jelas aku sudah mengenalkannya padamu tadi."
"Bukankah ini sama Chan? Dulu kau meminta tolong padaku dan aku membantumu. Kali ini aku meminta padamu, tidak bisakah?"
Chanyeol cukup frustasi sekarang. Dia mengacak-acak rambutnya kasar. Dia sama sekali tidak menyangka kalau meminta tolong pada Dongjoo akan menjadi hutangnya. Yah, Chanyeol yang saat dulu masih sekolah dasar itu sangat tidak menyangka akan hal ini.
"Hhh..." Chanyeol hanya bisa menghela napas panjang.
"Kau masih punya 1 bulan Chan..."
"Aku rasa aku benar-benar tidak bisa..."
"Ayolah... Hyewon sangat ingin bertemu denganmu."
"Kenapa?"
"Entahlah... Kau tahu wanita... Mereka rumit..."
"Intinya saja, aku tidak butuh basa-basi..."
Yah, Chanyeol sangat ingin pembicaraan ini segera berakhir. Dia ingin segera keluar dari apartemennya sendiri dan pergi mencari Baekhyun. Dia sangat yakin, Baekhyun yang tidak tahan dingin itu pasti sedang sangat kedinginan diluar sana.
"Aku ingin kau bersama Hyewon. Dia menyukaimu."
Chanyeol merasa beban 1 ton terjatuh pada pundaknya sekarang. Dia benar-benar tidak bisa menebak bila Hyewon benar-benar akan menyukainya. Tapi, bagaimana bisa? Dia pikir dia tidak akan pernah bertemu Hyewon lagi. Dia pikir Dongjoo hanya akan memintanya untuk mengobrol dengan Hyewon sebentar saat Hyewon kembali ke Korea. Dia tidak tahu bila permintaan Dongjoo akan seberat ini..
"Aku tidak bisa. Aku menyukai Baekhyun."
"Ayolah Chanyeol... Eohh? Kumohon. Paling tidak, jadi pacarnya seminggu lalu tinggalkan dia."
"Aku tidak suka mempermainkan perasaan orang."
"Kumohon Chanyeolahh..."
"Sekali tidak, tetaplah tidak."
"Lalu, bagaimana dengan hutangmu padaku? Kau tidak ingin melunasinya?"
Chanyeol benar-benar tidak tahu harus apa sekarang. Dia tahu kewajibannya untuk melunasi hutangnya pada Dongjoo. Tapi, dia juga tidak ingin mengecewakan namja mungil yang sudah dicintai dan disayanginya.
"Hhh..."
"Bagaimana? Kau mau kan? Ahh tidak... Kau harus mau bagaimanapun itu." Dongjoo semakin mendesak Chanyeol.
Chanyeol bangun dari posisi duduknya. Dia mengehela napas panjang. Dia kembali menuju dapur dan memakai celemeknya untuk melanjutkan masakkannya yang mulai mendingin.
"Kau tidak ingin menjawab?"
"Hmm... Aku akan melanjutkan masakkanku."
"Lalu? Aku harus menunggu sampai kapan?"
"Keluar lah dari apartemenku dan jangan datang lagi kesini."
"Kau benar-benar akan serakah seperti ini Chan? Kau sudah berubah..." Dongjoo nampak kecewa akan keputusan Chanyeol.
"Hhh..." Chanyeol mengehela napas berat.
"Baiklah, aku akan memikirkannya." Chanyeol akhirnya memberikan jawaban.
"Bukan iya tapi memikirkannya? Sudah kubilang, kau harus melakukannya."
"Jawabanku itu, dan itu mutlak, bila kau tidak suka dengan jawabanku maka keluar dari sini sekarang dan jangan temui aku lagi." Chanyeol benar-benar nampak marah sekarang.
Well, Dongjoo tidak pernah melihat Chanyeol semarah ini. Seumur-umur dia bersahabat dengan Chanyeol, dia sama sekali belum pernah melihat Chanyeol marah. Dan ini adalah pertama kalinya dia melihat Chanyeol marah. Walaupun dia belum marah besar. Tapi, hanya marah seperti ini saja, nampak seperti monster akan keluar dari tubuh Chanyeol.
"Eohh... Baiklah, aku akan pergi sekarang... Ingat, kau akan memikirkannya. Aku akan mengirimimu jadwal penerbangan Hyewon. Sampai bertemu di bandara 1 bulan lagi. Ingat itu Chan."
Dongjoo nampak tidak mau meladeni Chanyeol yang marah dan buru-buru pergi dari apartemennya. Chanyeol nampak tenang menyelesaikan masakkan makan malamnya untuk Baekhyun. Dia melepas celemeknya dikenakannya lalu memakai jaket dan mengambil 1 jaket lagi digenggamannya.
Ya, sekarang Chanyeol keluar dari apartemennya dan pergi mencari-cari Baekhyun yang sudah pergi sekitar 45 menit yang lalu dan belum kembali. Chanyeol juga tidak bisa menghubungi Baekhyun. Pasalnya, Baekhyun tidak membawa ponselnya dan keluar dari apartemennya dengan memakai kaos dan celana pendek serta sandal sebagai alas kaki. Chanyeol sangat tahu betapa kedinginannya Baekhyun pasti sekarang.
Dari jauh, Chanyeol dapat melihat seorang namja mungil terduduk dikursi taman dan menggosok-gosokkan kedua tangannya. Entah kenapa sekarang Chanyeol tersenyum dan menghela napas lega. Dia segera menghampiri namja mungil yang sedan duduk sendirian itu dan meletakkan jaket yang sedari tadi digenggamnya di tubuh namja itu.
"Ohh? Chanyeol?"
"Kau kedinginan Baek? Ayo masuk, makanan sudah siap."
"Eohh... Baekhyun tersenyum.
Chanyeol meraih tangan Baekhyun yang dingin itu dan menggenggamnya erat. Mereka berjalan bersama kembali masuk ke apartemen Chanyeol.
.
.
.
"Meet Strangers"
"Wahh... Enak Yeol... Aku kekenyangan sekarang." Baekhyun mengelus-elus perutnya yang membuncit itu.
"Syukurlah kalau enak..." Chanyeol tersenyum sambil menikmati makanan di piringnya yang belum habis.
Chanyeol akhirnya menghabiskan makanannya. Dia mencuci semua piring dan Baekhyun sedang duduk disofa sambil menonton tv. Entah kenapa Chanyeol jadi terasa seperti budak Baekhyun? Chanyeol mengambil 2 buah gelas dan diisinya dengan susu coklat di 1 gelas dan susu strawberry digelas lainnya. Untuk siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun.
Chanyeol meletakkan kedua gelas itu diatas meja ruang tengah. Baekhyun dengan sigap mengambilnya dan langsung meminumnya hingga habis.
"Ahh..."
"Kau langsung menghabiskannya?"
"Kenapa?"
"Padahal aku ingin kau menghabiskannya perlahan..."
"Sudah habis, kecuali kau mau isi lagi." Baekhyun menunjuk gelas kosongnya itu.
Chanyeol hanya menggeleng kepalanya pelan melihat tingkah Baekhyun.
"Baek..."
"Emm?" Baekhyun hanya bergumam mendengar panggilan Chanyeol sambil memegang remote tv untuk mencari channel yang bagus untuk ditonton.
"Dengarkan aku." Chanyeol nampak serius.
Baekhyun akhirnya dengan terpaksa mematikan tv dan duduk menatap Chanyeol. Entah kenapa Baekhyun merasa tidak enak. Dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi bila Chanyeol membuat suasana seserius ini. Dan dia sangat tidak suka suasana ini.
"Apapun yang terjadi nanti, aku ingin kau tetap percaya padaku."
"Aku akan tetap percaya padamu kok, jadi masalahmu apa?"
"Masalahnya bukan sekarang, tapi nantiii... Intinya tetaplah percaya padaku."
"Hhh... Iya, aku akan tetap percaya padamu."
"Baguslah Baek..."
Chanyeol akhirnya bisa lega sekarang. Entah kenapa dia khawatir Baekhyun akan merasa dikhianati bila Chanyeol pergi bersama wanita lain. Ya, Chanyeol sudah memutuskan untuk menepati janji Dongjoo agar menemaninya menjemput Hyewon bulan depan. Bagaimana dengan permintaan Dongjoo agar Chanyeol menyukai Hyewon lagi? Chanyeol masih memikirkannya. Jadi ada kemungkinan Hyewon dan Chanyeol kembali bersama? Entahlah, hanya Chanyeol yang tahu akan itu.
"Ehmm... Chanyeol, ini sudah malam, boleh aku pulang?"
"Ehh? Kenapa?"
"Tidak... Aku khawatir hyungku akan mencariku."
"Dia mencarimu?"
"Tidak sih..."
"Boleh aku minta kontaknya?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin meminta ijin padanya agar kau menginap lagi disini malam ini."
"Ehh?"
Wajah Baekhyun memerah mendengar perkataan Chanyeol barusan. Yah, menginap. Entah kenapa Baekhyun sangat sensitif akan kata itu. Apa karena kejadian tadi pagi?
"Ahh tidak usah... Hyung-ku juga tidak begitu peduli aku berada dirumah atau tidak."
"Tidak apa-apa, kemarikan ponselmu." Chanyeol mengadahkan telapak tangan kanannya didepan Baekhyun agar Baekhyun segera memberikan ponselnya.
Baekhyun akhirnya merogoh saku kanan celananya dan mengeluarkan ponselnya dari sana. Dia menyalakan layar ponselnya dan mencari menu kontak. Kemudian dia memberikan ponselnya pada Chanyeol.
"Kau benar-benar ingin menelpon hyungku?"
"Eohh... Kenapa?"
"Tidak... Hanya aneh saja..."
"Kau ini bicara apa sih?"
Chanyeol kemudian menekan tombol hijau berbentuk telepon disamping nama yang bertuliskan "Hyung yang bawel" pada ponsel Baekhyun.
Titt...titt... Nada sambung dapat terdengar pada ponsel Baekhyun yang chanyeol genggam didepan telinga kanannya. Tak lama, nada sambung itu berubah menjadi suara seorang pria diseberang sana yang tidak lain seorang kakak dari Byun Baekhyun.
Baekbeom: "Kenapa?!"
Chanyeol: "Ohh hyung-nim?"
Baekbeom: "Siapa ini?"
Yah, Baekbeom sangat tahu suara Baekhyun seperti apa. Suara seorang Byun Baekhyun tidak seberat itu. Dia sudah hapal suara adiknya yang sering teriak-teriak itu. Entah kenapa sekarang Baekbeom jadi sedikit khawatir. Bagaimana tidak? Bagaimanapun juga, Baekbeom adalah kakak dari Baekhyun dan sekarang ponsel Baekhyun berada digenggaman orang lain. Baekbeom tahu Baekhyun tidak sembarangan meminjamkan barang pribadinya pada orang lain.
Chanyeol: "Ahh... Annyeonghasaeyo~ Aku Park Chanyeol"
Baekbeom: "aku tidak butuh perkenalanmu. Dimana pemilik handphone ini?"
Entah kenapa, sekarang Baekbeom seperti menjalankan tugasnya seperti benar-benar seorang kakak yang harus menjaga adiknya. Ya, Baekbeom juga tahu Baekhyun tidak pulang semalam. Jadi, dia pasti sangat khawatir sekarang.
Chanyeol: "Ahh... Baekhyun? Dia ada disebelahku."
Baekbeom: "Kau kenal Baekhyun? Kau siapa?"
Chanyeol: "Ehmm... Sebenarnya aku ingin memperkenalkan diriku tadi. Aku Park Chanyeol, pacar Baekhyun.
Baekbeom: "..."
Entah kenapa suara dari seberang sana terasa hening. Ya, Baekbeom sedang berpikir sekarang. Dia yakin sekali bahwa yang sedang bicara dengannya ini adalah seorang pria. Tidak mungkin kan Baekhyun berpacaran dengan seorang pria? Ehh? Kenapa tidak mungkin?
"Hyung-ku bilang apa?" Baekhyun sangat penasaran akan balasan reaksi dari hyung satu-satunya itu.
Chanyeol hanya melakukan beberapa gerakan dengan menyilangkan kedua tangannya tanda hyungnya belum memberikan reaksi dan meletakkan jari telunjuk kirinya didepan mulutnya tanda agar Baekhyun diam.
Chanyeol: "Hyung?"
Baekbeom: "Tunggu... Tunggu..."
Chanyeol: "Nee..."
Baekbeom: "Kau namja kan? Ahh... Tidak-tidak... Baekhyun sedang mengerjaiku ya? Kau saudara Yeri?"
Chanyeol: "Ehmm... Yeri dan Baekhyun sudah putus, dan aku adalah Pacar Baekhyun sekarang."
Baekbeom: "Bisa kau berikan ponselnya ke Baekhyun?"
Well, Baekbeom sangat terkejut sekarang. Dia benar-benar tidak menyangka adiknya benar-benar memacari seorang pria. Dia pikir hubungan adiknya dan Yeri akan berlangsung terus hingga mereka menikah punya anak dan hidup bahagia seperti di dongeng-dongeng. Tapi nampaknya tidak.
"Kakakmu ingin bicara..."
"Kenapa? Dia tidak setuju?"
"Entahlah, dia ingin bicara padamu." Chanyeol menyodorkan ponsel Baekhyun ke telinga Baekhyun.
Baekhyun dengan sigap menggenggam ponselnya dan bicara.
Baekhyun: "Wae hyung?"
Baekbeom: "Kau masih bertanya kenapa?! Kau gila?! Kau jadi gay sekarang?!
Baekhyun: "Eohh... Aku putus dengan Yeri dan jadi gay sekarang. Kenapa?"
Yah, Baekhyun nampak membela diri sekarang. Baekhyun sangat tahu, dari nada bicara hyungnya itu, Baekbeom pasti sangat tidak setuju dengan keputusan Baekhyun untuk memacari seorang Park Chanyeol ini.
Baekbeom: "Aku tidak masalah kau mau gay atau transgender atau apapun itu. Tapi, bagaimana bila eomma dan appa tahu?"
Well, Baekhyun tidak memikirkan jauh sampai kesana. Ya, Baekhyun baru ingat, cepat atau lambat, dia pasti harus mengenalkan Chanyeol kepada kedua orang tuanya. Dan itu cukup, ehmm, menakutkan? Baekhyun takut mengenalkan Chanyeol kepada ayahnya. Ya, ayahnya gila bisnis dan uang. Baekhyun tahu Chanyeol kaya, tapi, dia tidak tahu jelas latar belakang keluarga Chanyeol seperti apa. Dan yang lebih parahnya lagi gay. Baekhyun tidak tahu apakah ayahnya menghalalkan hubungan sesama jenis atau tidak.
Baekhyun: "Tentu saja mereka tidak boleh tahu, aku akan menyembunyikan hal ini rapat-rapat."
Baekbeom: "Sekretaris Wang mengirim pesan padaku, Besok appa dan eomma akan kembali ke Seoul."
Baekhyun: "MWO?! KENAPA?!"
Yah, Baekhyun sedikit berteriak karena terkejut. Dia tidak menyangka ayahnya dan ibunya akan kembali kerumah besok. Sudah 3 bulan Baekhyun tidak bertemu dengan wajah kedua orang tuanya itu. Keduanya sibuk mengurus urusan masing-masing.
Baekbeom: "Pasti dia ingin mengurus masalah putusmu dengan Yeri. Aku juga terkejut mereka tiba-tiba pulang besok. Tapi mendengar kabar kau putus dengan Yeri aku jadi tahu alasan mereka pulang."
Yah, Baekhyun sudah mengenalkan Yeri kepada kedua orang tuanya saat mereka masih awal pacaran. Dan tebak? Ayah Baekhyun setuju dengan hubungan mereka. Ehh? Kenapa? Ayah Yeri dan ayah Baekhyun memiliki hubungan kerja sama bisnis. Ya, Tuan Byun sangat tergila-gila dengan bisnis. Apapun itu harus disangkut pautkan dengan bisnisnya.
Baekhyun: "Jam berapa mereka sampai di Seoul?"
Baekbeom: "Entahlah, sekretaris Wang hanya bilang besok mereka akan pulang ke rumah. Dia tidak bilang jam pastinya. Tapi harusnya tidak pagi sih, karena urusan percintaanmu pasti tidak terlalu penting.
Baekhyun: "Terserahmu saja... Intinya, malam ini aku menginap dirumah Chanyeol ya."
Baekbeom: "mwo?! Kau tidak pulang lagi?"
Baekhhyun: "eohh.."
Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap datar wajah Chanyeol.
Baekbeom: "Terserah... Intinya aku sudah memperingatkanmu eomma dan appa akan pulang besok."
Baekhyun: "Ne..ne.. Byun Baekbeom-sshi..."
Baekhyun secara sepihak memutuskan sambungan teleponnya. Dia sangat malas bicara dengan hyung satu-satunya itu. Kenapa Baekhyun tidak takut akan kabar ayahnya yang kembali ke Seoul besok? Ya, jawabannya sangat simple, Baekhyun yakin ayahnya dan ibunya akan sampai Minggu sore. Ehh? Kenapa? Entahlah, yang Baekhyun tahu, ayah dan ibunya selalu sampai sore hari di rumah bila pulang dari luar kota.
"Apa katanya?" Chanyeol penasaran.
"Aku menginap."
"Dia mengijinkanmu?"
"Aku mengijinkan diriku sendiri."
"Ehh? Bagaimana bisa begitu?" Chanyeol nampak terkejut dengan jawaban Baekhyun barusan.
"Ini tubuhku, aku yang mengaturnya."
Entah kenapa nada bicara Baekhyun terdengar sangat badmood sekarang. Chanyeol ingin bertanya lebih banyak, tapi rasanya dia harus mengurungkan niat bertanyanya untuk sekarang. Melihat wajah Baekhyun sedang tidak enak untuk membahas apa yang dia bicarakan bersama hyungnya ditelepon.
"Kau ingin mandi?"
"Ehh?"
Jujur, Baekhyun sedikit terkejut dengan pertanyaan Chanyeol. Padahal tidak ada yang salah dengan pertanyaannya. Ini sudah malam, dan memang sudah seharusnya mereka mandi kan?
"Ehmm... Kau tidak mungkin mengajakku mandi bersamakan?" Baekhyun bertanya hati-hati dengan wajah sedikit memerah.
"Ohh? Mandi bersama? Tidak Baek... aku hanya bertanya kau mau mandi atau tidak, bila tidak, aku akan mandi dulu."
"Ahhh... itu maksudmu... kau mandi dulu saja..." Baekhyun merasa lega sekarang.
"Kenapa? Kau ingin mandi bersama?" Chanyeol tersenyum nakal melihat Baekhyun yang polos ini memiliki pikiran liar.
"Ehh? Tidak... aku hanya salah paham, lupakan..." Baekhyun mencoba menghindar dari Chanyeol.
"Kenapa?"
"..."
Chanyeol mulai menjelajahi tubuh Baekhyun yang menggeliat gelisah kemudian meraih tangan kanan Baekhyun dengan tangan kirinya.
"Kau merindukan ini?"
Chanyeol menggerakkan tangan Baekhyun, menggesek-gesekkan telapak tangan Baekhyun di bagian selatan tubuh Chanyeol sendiri. Ya, Penisnya yang masih terbungkus celana jeans biru panjang berbahan tebal itu. Baekhyun membulatkan matanya besar dan tubuh Baekhyun merinding sekarang, bulu kuduknya berdiri.
"Ahhh... Chanyeol... Hentikan..."
Baekhyun menutup matanya, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman erat Chanyeol. Dia sama sekali tidak ingin melihat benda besar yang dimiliki Chanyeol itu! Tapi pergerakkan Baekhyun itu semakin membuat Chanyeol memegang erat tangan Baekhyun dan memainkan telapak tangan Baekhyun dengan menggesek dan menekan-nekan tangannya di daerah sekitar selangkangannya yang sudah sedikit menggembung itu.
"'Chanyeol! Aku sedang tidak ingin bermain solo malam ini!"
Entah kerasukkan setan darimana, Baekhyun barusan meneriaki Chanyeol. Chanyeol menghentikan permainannya terhadap telapak tangan Baekhyun sebentar kemudian tersenyum akan teriakan Baekhyun yang bilang dia tidak mau bermain solo. Well, Chanyeol yakin sekarang, Baekhyun akan ikut menegang dan nafsu bila Chanyeol terus memainkan tangan Baekhyun pada selangkangannya. Sekarang Chanyeol bisa mengukur seberapa liar isi otak pacar namja mungilnya ini.
"Kau tidak harus bermain solo... ada aku disini... kita bisa bermain ganda." Dan dengan bodohnya Chanyeol malah menanggapi teriakan Baekhyun barusan.
"MWO?!"
Baekhyun benar-benar terkejut sekarang. Dia tidak menyangka Chanyeol akan menjawab teriakkannya seperti itu. Dia pikir Chanyeol akan langsung berhenti dan minta maaf. Tapi, rasanya itu tidak mempan.
"Kau tidak mau bertanggung jawab akan ini? Tanganmu yang membuatnya jadi begini?"
Ya, Chanyeol mengarahkan telapak tangan Baekhyun dan membantu telapak tangan itu menggenggam benda yang tadinya lunak dan sekarang telah mengeras dan dan panjang itu. Ya, Chanyeol membuat Baekhyun menggenggam penisnya sendiri. Baekhyun seketika membulatkan matanya semakin besar dan menatap tangannya yang sedang menggenggam penis yang masih terbungkus jeans tebal milik namja tinggi yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa aku?! Kau yang memainkan tanganku hingga dia jadi seperti itu!" Baekhyun menunjuk penis Chanyeol dengan tangan kirinya.
"Kalau kau tidak disini aku tidak akan jadi seperti ini Baek..." Chanyeol menatap Baekhyun dengan wajah sendu.
"Hah?! Kau benar-benar mengajakku melakukan itu malam ini?!"
Yah, Baekhyun benar-benar terkejut sekarang. Dia benar-benar menanggapi semua perkataan dan perilaku Chanyeol dengan serius. padahal...
"Tidak... aku hanya bercanda... hahaha... aku akan menyelesaikan ini sendiri di kamar mandi... hehehe... aku mandi dulu Baek... dah..."
Chanyeol melepas genggaman tangan Baekhyun dari penisnya dan mulai memainkan penisnya sendiri. Chanyeol berjalan menuju kamarnya dan tangannya masih bergerak-gerak dibagian selangkangannya. Entah kenapa Chanyeol seperti pacar yang sudah tidak memiliki rasa malu sekarang. Dia terlalu terbuka pada Baekhyun. Ya, lagipula apa peduli Chanyeol, Baekhyun bahkan sudah menggesekkan kakinya sendiri pada penisnya. Baekhyun pasti sudah tahu paling tidak ukuran penis Chanyeol. Lagipula mereka juga sesama pria. Pasti saling mengerti akan hal itu.
"Huh? Dia hanya bercanda? Candaan macam apa itu?"
Yah, Baekhyun menoleh menghadap bagian bawah tubuhnya, ya, tepatnya selangkangannya. Penisnya sedikit bereaksi akan perilaku Chanyeol tadi. Yah, bagian selangkangan Baekhyun nampak sedikit menggembung sekarang.
"Ohh... aku mohon jangan hari ini, aku lelah..." Baekhyun mencoba menekan-nekan daerah selangkangannya berharap benda yang sudah setengah menegak itu kembali tertidur.
Baekhyun terduduk di ruang tengah sekarang. Dia menyalakan TV dan menonton drama Korea. Yah, walaupun Baekhyun tidak begitu mengikuti dunia perfilman di Korea ini. Baekhyun sangat jarang menyentuh televisi. Dia lebih suka menghabiskan waktunya bermain pc game atau nintendo serta playstation.
Sekitar 15 menit, Chanyeol keluar dari kamarnya. Aroma khas Chanyeol dapat tercium hingga kehidung Baekhyun. Ya, aroma yang sama seperti bau jas yang pernah menyelimutinya dulu. Dia sangat suka bau ini. Aromanya memabukkan. Chanyeol keluar dari kamar dengan bathrobe biru dan rambut basahnya. Dia mengacak-acak rambutnya, mengeringkannya dengan handuk rambut berwarna putih. Ya, Baekhyun merona sekarang. Dimatanya, Chanyeol terlihat sepuluh kali lebih tampan dari biasanya.
"Kau tidak mau mandi Baek?" Chanyeol masih mengeringkan rambutnya dan duduk disebelah Baekhyun.
"Ehh?"
"Kenapa kau linglung begitu? Kau memikirkan apa Baek? Masih hal tadi?" Chanyeol tersenyum nakal.
"Ahh... tidak... aku tidur saja..."
"Ayoo tidur..."
Yah, jujur, kalimat Chanyeol barusan seperti mengajak Baekhyun untuk tidur bersamanya. Sekamar? Ahh tidak, seranjang? Wajah Baekhyun benar-benar memerah sekarang. Entah kenapa kejadian tadi pagi terlintas kembali diotaknya.
"Ehh? Sekamar denganmu?"
"Hhh..." Chanyeol menghela napasnya pendek mendengar pertanyaan Baekhyun barusan.
"Iya?" Baekhyun panik sekarang.
"Kenapa kau panik Baek? Aku tidak akan memakanmu. Hari ini tidak ada Jongin dan Kyungsoo, kau bisa menggunakan kamar tamu." Chanyeol menunjuk kamar tamu yang terletak di belakang ruang Tengah.
"Ahh..." Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan menghela napas lega.
Entah kenapa Chanyeol sekarang berpikir. Sebenarnya sejauh apa pikiran liar Baekhyun? Well, Chanyeol jarang menonton film porno. Dia tidak begitu peka akan kalimat-kalimat yang bisa membuat lawan bicara sensitif akan hal itu. Haruskah Chanyeol mulai mencoba menonton beberapa film porno?
"Kenapa? Sebegitu inginnya kah kau tidur bersamaku?" Chanyeol tersenyum nakal.
"Hentikan pembicaraan ini Chanyeol, aku ingin tidur."
Ya, Baekhyun mulai lelah membicarakan masalah ini. Entah kenapa dia tidak mau membahas hal-hal yang berhubungan dengan pikiran liar. Akhirnya Baekhyun pergi kekamar tamu. Yah, kamar yang cukup kosong. Hanya ada ranjang yang terlipat rapi setelah digunakan oleh Jongin dan Kyungsoo entah untuk apa? Ya, Baekhyun tidak tahu dan tidak peduli apa yang dilakukan oleh Jongin dan Kyungsoo kemarin malam di ruangan ini.
Ranjang, selimut, lemari, dan rak buku berwarna putih membuat ruangan ini tampak besar dan kosong. Ya, ruangan ini memang tidak pernah digunakan oleh Park Chanyeol. Lebih tepatnya, kemarinlah pertama kalinya ruangan ini digunakan setelah hampir 2 tahun Chanyeol tinggal di apartemen ini. Walaupun tidak pernah digunakan, Chanyeol membersihkan ruangan ini dengan rutin selama seminggu sekali. Entah apa alasannya? Apakah Chanyeol tidak suka kotor? Entahlah, Chanyeol hanya membersihkanya beserta 1 rumahnya setiap hari minggu.
Baekhyun tidak mandi. Dia terlalu lelah untuk melangkahkan kakinya menuju toilet. Dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia berpikir untuk tiduran sebentar dan membuka akun sosial medianya. Tapi, nampaknya Baekhyun bahkan terlalu lelah untuk menggenggam handphonenya. Dia tidur menyamping sambil membuka akun sosial medianya. Menggeser layar handphonenya menatap beberapa foto dari orang yang dikenalnya disana. Terutama Yeri. Yah, Baekhyun bahkan tidak lupa menekan tombol hati pada postingan Yeri. Kenapa? Baekhyun tidak ingin dianggap sebagai pria yang gagal move on. Hingga akhirnya mata Baekhyun memberat dan akhirnya tertidur dengan ponselnya yang masih menyala itu.
Chanyeol berjalan menuju kamar tamu dimana Baekhyun sedang tertidur sekarang. Dia mengetuk pintu tapi tidak ada balasan terdengar dari dalam sana. Yah, walaupun itu tempat tinggal miliknya. Tapi, mengetuk pintu adalah hal dasar untuk kesopanan terhadap orang yang sedang berada diruangan itu. Chanyeol juga tidak tahu kan Baekhyun sedang melakukan apa didalam sana? Bisa saja bermain solo? Ehh? Akhirnya Chanyeol memutuskan membuka pintu itu perlahan.
"Baek?"
Chanyeol bicara dengan nada pelan. Ya, yang terlihat dimata Chanyeol adalah Baekhyun yang sedang tiduran memunggunginya dan menggenggam ponsel dengan layar masih menyala ditangannya. Jelas sekali dengan sekilas orang akan mengira Baekhyun sedang memainkan ponselnya.
"Baekhyun?"
Merasa tidak mendapatkan jawaban, Chanyeol memanggil Baekhyun untuk kedua kalinya. Chanyeol mulai heran dan berjalan kedalam. Dia melihat Baekhyun tertidur pulas dengan layar handphone masih menyala itu hanya bisa menghela napas panjang.
"Hhh... Baek... sudah kubilang, kalau kau tidur seperti ini, kau akan radiasi."
Chanyeol akhirnya mengambil handphone Baekhyun dari genggamannya dan meletakkannya diatas meja disamping ranjang. Dia mematikan layar ponsel itu. Chanyeol dengan inisiatif membenarkan posisi tidur Baekhyun dan menyelimutinya.
"Hhh... Baterai ponselnya hanya tersisa 18%. Dia pasti akan merengek meminta charger besok pagi..."
Chanyeol berjalan keluar menuju kamarnya. Dia mengambil kabel charger sepanjang 1 meter itu dan membawanya ke kamar Baekhyun untuk mengisi baterai ponsel itu. Ya, untunglah tipe ponsel Baekhyun dan Chanyeol sama. Mereka jadi bisa berbagi kabel charger. Setelah berhasil membuat ponsel Baekhyun mengisi daya, Chanyeol berjalan mendekat ke Baekhyun dan menatap Baekhyun lekat-lekat.
"Akankah hubungan kita bisa bertahan terus? Kita hanya punya 1 bulan Baek... Kuharap kau tidak akan kecewa akan keputusanku nanti."
Apa yang dimaksud Chanyeol? Hyewon? Ya, benar, dia sedang membicarakan 1 bulan lagi dimana dia harus menemui Hyewon dan melaksanakan perjanjiannya dengan Dongjoo. Kenapa Chanyeol mau? Chanyeol masih menyimpan rasa dengan Hyewon? Hell, Chanyeol terpaksa. Jujur, dia sangat tidak ingin menemui Hyewon lagi. Dia sudah cukup sakit dan senang karena sudah bisa melupakannya. Tapi, Dongjoo mengacaukan semuanya. Chanyeol kemudian mematikan lampu di kamar itu dan kembali menuju kamarnya untuk tidur.
.
.
.
Paginya, Baekhyun terbangun karena suara getaran dari meja disamping ranjangnya. Dia melihat jam. Hell! Pukul 6 pagi?! Siapa yang menelpon Baekhyun sepagi ini?! Baekhyun mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja dan masih tercolok kabel charger itu. Dia mencabut kabel itu dan kemudian menatap sebentar layar ponselnya.
"Baekbeom hyung?! Dia gila apa menelpon jam segini?!"
Ya, Baekhyun kesal. Ini weekend, dan ini baru jam 6 pagi. Hyungnya sudah mengganggu tidur lelapnya. Baekhyunpun menggeser tombol merah tanda menolak panggilan dari kakak satu-satunya itu. Tapi, belum lama Baekhyun meletakkan ponselnya dan ingin melanjutkan acara tidurnya, ponselnya bergetar lagi. Akhirnya dengan terpaksa Baekhyun meraih ponselnya lagi dan menggeser tombol hijau bergambar telepon.
Baekhyun: "HYUNG! INI MASIH JAM 6 PAGI!"
Baekbeom: "Eomma dan appa sudah sampai di rumah. Mereka mencarimu, aku bilang kau menginap dirumah teman dan akan segera menyuruhmu pulang."
Baekhyun: "MWO?!"
Baekhyun terkejut setengah mati. Dia benar-benar tidak menyangka eomma dan appanya akan datang sepagi itu. Baekhyun mengutuk dirinya sendiri sekarang. Dia merasa sangat bodoh tidak menghalalkan peringatan dari kakaknya kemarin. Yang Baekhyun tahu, selama ini ayah dan ibunya selalu kembali ke Seoul pada sore hari, tidak pernah sepagi ini. Apakah situasinya sangat genting?
Baekhyun dengan terburu-buru mematikan panggilannya dengan kakaknya. Dia dengan segera berlari meraih dompetnya yang tergeletak diatas meja dan segera memakai sepatunya dengan asal dan keluar dari apartemen Chanyeol. Dan bodohnya, saat di depan lift, Baekhyun baru ingat seragam dan tas sekolahnya masih tertinggal di apartemen Chanyeol. Baekhyun sendiri juga tidak tahu password pintu apartemen Chanyeol. Ahh masa bodo, intinya, Baekhyun benar-benar panik sekarang.
Dengan segera Baekhyun memanggil taksi untuk menuju ke rumahnya. Walaupun jarak rumah Baekhyun dan apartemen Chanyeol tidak begitu jauh, tapi untuk berjalan kaki bisa memakan waktu sekitar 30 menit dan berlari sekitar 15 menit, Bila dia naik taksi hanya butuh sekitar 5 menit. Siatuasi ini benar-benar genting!
Sekitar 7 menit berlalu, Baekhyun sampai didepan rumahnya. Glup~ Dia meneguk ludahnya kasar. Dia melihat mobil mewah berwarna silver sudah terparkir dihalaman rumahnya. Ya, Baekhyun tahu betul siapa pemilik mobil mewah silver itu. Ya, siapa lagi bukan tuan Byun. Satpam penjaga rumah Baekhyun dengan sigap langsung membukakan gerbang agar Baekhyun masuk ke dalam. Tidak lupa juga untuk memberi salam.
"Selamat pagi tuan, Tuan besar sudah menunggu didalam."
"Eohh... apakah dia sudah lama datang?"
"Emm... Mungkin sekitar 15 menit yang lalu tuan besar telah sampai disini."
Baekhyun rasanya benar-benar ingin bunuh diri sekarang. Apa yang akan ayahnya katakan akan dirinya bila Baekhyun tidak pulang ke rumah selama 2 hari. Yah, selama ini Baekhyun hanya pernah menginap di rumah Kyungsoo, dan ayahnya juga sudah kenal Kyungsoo. Bagaimana dengan ini? Dia belum mengenalkan Chanyeol. Yah, ayah Baekhyun bisa dibilang sangat protektif.
Baekhyun mengatur napasnya yang terengah-engah didepan pintu putih besar bergagang emas yang dingin itu. Dia menutup matanya dan menghembuskan napas berat. Akhirnya, dia memberanikan diri menekan knop pintu putih itu dan masuk kedalam.
"Baekhyun? Anakku? Kau darimana saja?"
Ya, nyonya Byunlah yang sangat khawatir terhadap anak bungsunya ini. Walaupun sibuk akan bisnisnya sendiri, nyonya Byun masih sangat sayang terhadap anaknya sendiri, terutama anak bungsunya Baekhyun.
"Aku menginap di rumah teman eomma... maaf..."
Baekhyun tersenyum kecil dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bisa melihat betapa datarnya wajah ayahnya yang terduduk disofa mewah yang berada diruang tamunya itu. Dengan berpakaian setelan kemeja putih dan jas hitam ala direktur.
"Hentikan acara menyapanya dulu, Baekhyun, duduk."
Tn Byun menunjuk sofa yang berada di arah barat lautnya. Sofa empuk berwarna coklat berbahan kulit. Entah kenapa sofa yang seharusnya terasa hangat itu jadi terasa dingin ketika Baekhyun duduk sekarang.
"Nee... appa... Ada apa ya appa ingin bertemu denganku?"
Yah, pertanyaan yang tidak asing lagi. Tuan Byung sangat tidak suka basa-basi. Dia hanya akan bertemu dengan anak-anaknya bila ada keperluan atau kepentingan dengan dirinya. Tuan Byun tidak mau repot-repot mengurusi hidup anaknya yang tidak ada hubungannya dengannya.
"Kudengar kau putus dengan Kang."
"Ne... kami putus 2 minggu yang lalu."
"Hmm..."
Tuan Byun hanya bisa bergumam sebentar mendengar jawaban Baekhyun. Baekhyun benar-benar takut dimarahi sekarang. Pasalnya, ayahnya dan ayah Yeri adalah partner bisnis yang baik. Apakah hubungannya yang kandas itu berefek terhadap bisnis ayahnya.
"Sudah kuputuskan..."
"Ne?" Baekhyun tidak mengerti.
"Kau akan segera bertunangan."
"MWOO?!"
.
.
.
"Meet Strangers"
