Tepat 14 hari kemudian setelah Baekhyun pindah...
Hari-hari dijalankan Chanyeol seperti biasa. Ya, Tanpa Baekhyun dan membolos di ruang band. Seperti hari-harinya sebelum dia menjadi lebih dekat dengan namja yang memiliki nama Byun Baekhyun itu.
Ya, Kyungsoo dan Chanyeol masih belum berhasil menemukan cara untuk menghubungi Baekhyun. Chanyeol benar-benar frustasi. Dia sudah coba mengunjungi rumah Baekhyun. Tapi, nampaknya, seisi rumah Baekhyun tutup mulut akan hal itu. Chanyeol juga sempat bertemu Baekbeom. Tapi yang terjadi adalah,
'Hyung... Baekbeom hyung? Benar?'
'Ne?'
Chanyeol memanggil namja yang baru saja keluar dari gerbang rumah Baekhyun. Ya, setelah 2 minggu Baekhyun menghilang tanpa kabar, Chanyeol akhirnya memutuskan untuk memantau rumah Baekhyun 24 jam hari itu. Sampai akhirnya, dia tidak sengaja melihat seorang namja yang wajahnya sedikit mirip dengan Baekhyun yang dia sangka sebagai kakaknya.
'Anda Byun Baekbeom kan?'
'Ya, anda siapa? Dari seragammu, kau dari JM SHS ya?'
'Ne...'
'Ada keperluan apa ya?'
Sebenarnya, Baekbeom sudah curiga bila namja yang sedang berdiri didepannya ini adalah teman Baekhyun. Bagaimana tidak, Chanyeol jelas-jelas memakai seragam sekolah yang sama seperti yang biasanya Baekhyun pakai. Dan yang lebih parahnya, Baekbeom tahu suara ini. Suara ini adalah suara namja yang waktu itu meminta ijin padanya agara Baekhyun bisa menginap tepat 1 hari sebelum Baekhyun diasingkan waktu itu. Eh? Diasingkan? Ya, Itulah istilah yang Baekbeom gunakan.
'Aku teman Baekhyun... sudah sekitar 2 minggu Baekhyun tidak masuk sekolah. Apa dia sakit?'
'Huh? Kupikir kau sudah tahu? Dia sudah pindah sejak 2 minggu yang lalu itu.'
Baekbeom menjawab dengan santai. Eh? Kenapa? Ya, Baekbeom tidak begitu peduli perihal ini. Dia juga tidak mau begitu ikut campur dengan kehidupan percintaan adiknya itu. Dia hanya lebih suka memikirkan kehidupannya yang sudah damai sekarang. Melanjutkan bisnis ayahnya, menikah, dan hidup dengan damai. Seperti yang Tn Byun inginkan.
'Jadi berita itu benar?'
'Iya, kau pikir itu candaan?'
'Tapi, itu terlalu mendadak...'
'Cukup, aku sibuk, aku ingin pergi...'
Ya, Baekbeom memang sibuk. Dia harus segera pergi ke kantor, dia akan ada meeting sekitar 2 jam lagi. Walaupun kantornya dekat, dia harus mempersiapkan presentasinya dengan baik. Walaupun dia pewaris perusahaan, dia juga harus tampil maksimal untuk menunjukkan keseriusannya bekerja di bidang ini.
'Maaf, boleh aku bertanya 1 hal lagi?'
Ya, Chanyeol benar-benar frustasi. Selain bertanya kepada Baekbeom yang kebetulan dia temui ini, dia harus bertanya kepada siapa lagi? Mungkin, satu-satunya yang bisa memberikan informasi kepadanya akan Baekhyun hanya dia satu-satunya. Dan kemungkinan untuk bertemu dan menemui Baekbeom lagi adalah kesempatan yang bisa dibilang sangat langka.
'Iya?'
'Baekhyun, bagaimana cara aku menghubunginya?'
'Huh? Kau ingin menghubunginya? Hahaha... jangan bercanda. Aku rasa dia juga frustasi berada disana, seperti di hutan, tanpa komunikasi, tanpa udara luar. Bila ingin menghirup udara luar, dia harus bersama seseorang yang selalu menjaganya.'
'Ne?'
'Boleh aku Tanya satu hal lagi? Dimana dia berada sekarang?
'Huh, kesempatan untuk bertanya tentang 1 hal terakhir itu sudah kau gunakan tadi. Kau tidak bisa menggunakannya lagi. Aku tidak bisa memberitahumu dia berada dimana. Kau tidak menggunakan kesempatanmu untuk hal itu dan malah bertanya hal yang sia-sia.'
'Ehhmm... baiklah, maaf mengganggu, terima kasih.'
Kenapa Baekbeom tegas seperti itu? Ya, itu sekedar untuk menyadari Chanyeol. Bahwa hidup itu tidak seperti alur cerita drama Korea yang bisa dia mainkan naskahnya. Baekbeom ingin Chanyeol tahu bahwa hidup itu harus ada perjuangan.
'Ahh iya, mumpung moodku sedang baik...'
'Ne?'
'Baekhyun... lebih baik kau segera melupakannya...'
'Ne?!'
Chanyeol benar-benar tidak paham akan maksud Baekbeom mengatakan pernyataan barusan. Melupakan Baekhyun? Kenapa? Apakah Baekhyun tidak akan pernah terlihat lagi? Sebenarnya ada apa sih dengan Baekhyun?
'Kalau kau tidak mau melupakannya terserahmu. Intinya, kau akan menyesal.'
'Ne? Wae?' Chanyeol mengerutkan keningnya tanda bingung.
'Intinya, dengarkan saja saranku. Terserah kau ingin mengindahkannya atau tidak. Bila kau pada akhirnya bertemu dengan Baekhyun lagi, kau pasti akan benar-benar merasa marah dan ingin menamparnya, hahahha... Kau tahu? Aku pernah merasakannya sekali, jadi dia harus merasakannya juga, hahahha... sudah ya, aku sudah terlambat.' Baekbeom segera masuk ke mobilnya dan berangkat pergi dari sana.
Apakah hal ini lucu? Pembicaraan yang begitu serius ini? Kenapa dia malah tertawa? Lalu kenapa Chanyeol harus menampar Baekhyun bila dia bertemu dengannya lagi? Apakah karena berita pertunangan itu? Tapi kan pertunangan bisa dibatalkan. Lalu, masalahnya apa? Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Baekbeom hingga Chanyeol akhirnya harus memutuskan untuk menyakiti namja mungil yang disayanginya bagai emas itu?
.
.
.
"Meet Strangers"
Disinilah mereka semua berada, kantin. Ya, mereka berkumpul. Chanyeol, Sehun, Jongin, dan dimana ada Jongin, pasti ada Kyungsoo juga disana. Dan faktanya, memang Kyungsoolah satu-satunya orang yang kemungkinan bisa mendapatkan kabar mendadak mengenai perkembangan keberadaan Baekhyun. Sudah 28 hari Baekhyun tidak ada kabar.
Clue yang mereka tahu hanyalah, Gyeonggi-do. Gyeonggi-do sangatlah besar. Tidak mungkin Chanyeol mengetuk setiap pintu rumah dan apartemen serta hotel disana untuk mencari Baekhyun. Chanyeol tidak sebodoh itu. Yah, walaupun sebenarnya Chanyeol sempat berpikir untuk melakukan hal gila itu. Bila dia melakukan itu, bisa-bisa 1 tahun lagi dia baru berhasil menemukan Baekhyun.
"Masih belum ada perkembangan?" Chanyeol selalu menanyakan kalimat ini bila bertemu Kyungsoo
"Yah, kau tahu..."
"Aku benar-benar gila sekarang" Chanyeol mengacak-acak rambutnya tak karuan.
"Sudahlah Chanyeol... lupakan dia, masih banyak wanita..." Sehun mulai memanas-manasi.
Ya, itulah yang biasa Sehun lakukan. Tidak ada Luhan, dia bosan. Dia sangat butuh hiburan. Dan memanas-manasi Chanyeol itu adalah sebuah hiburan baginya. Entah kenapa dia sangat suka Chanyeol yang marah tertahan. Eh? Marah tertahan? Kenapa? Ya, Chanyeol kesal dan ingin marah dengan namja albino itu. Kenapa tidak marah saja? Kenapa ya? Karena Chanyeol tidak bisa. Sehun mengucapkan itu berdasarkan fakta. Dan Chanyeol tidak bisa mengelak karena fakta itu. Chanyeol tidak suka terbawa oleh emosinya sendiri.
"Diam kau Oh Sehun... kau sendiri urus hidupmu."
"Aku hanya tinggal menunggunya, kau sendiri?"
"Tidak jauh beda denganmu."
"Hahahah..."
"Sudahlah kalian, kenapa percintaan kalian rumit sekali sih" Yah, Kai tanpa dosa malah membuat suasana semakin panas.
"Diam Jongin!"
"Waee... aku bahkan baru mulai buka mulut..."
"Kau membuatku semakin kesal."
Ya, Chanyeol benar-benar sangat kesal. Diapun berjalan pergi dari kantin meninggalkan minuman yang masih tersisa setengah yang dipesannya tadi. Kemana Chanyeol pergi? Kelas? Hei, tidak mungkin. Chanyeol akan bolos. Dia akan pergi ke atap sekolah. Eh? Atap? Kenapa? Bukankah biasanya ruang band? Entahlah, alasannya, hanya Chanyeol yang tahu.
.
.
.
Whusss, angin berhembus kencang diatap sekolah yang berlantai 4 itu. Chanyeol berdiri menatap keseluruh bangunan disekitar sekolahnya yang bisa dijangkau matanya. Memangnya dengan berada di atap sekolah dan melihat sekelili Chanyeol bisa bertemu Baekhyun? Tentu saja tidak. Chanyeol hanya suka saja melihat dari sudut pandang atap sekolah ini. Ya, tempat inilah yang membuatnya pertama kali tertarik pada namja yang memiliki nama Byun Baekhyun itu.
Eh? Atap sekolah? Tertarik dengan Baekhyun? Pertama kali? Bagaimana bisa? Kenapa?
.
.
.
"Flashback sebelum masa orientasi siswa dimulai"
Pagi itu Baekhyun telah sampai disekolah dengan pakaian rapi untuk memulai masa orientasi siswa hari pertamanya. Dan Chanyeol? Dia masih merapikan penampilannya. Ya, namja itu sangat ingin terlihat seperti pelajar tulen.
"Bagaimana? Sudah culun?" Tanya Chanyeol.
"Hmm... kacamatamu agak miring..." Sehun membenarkan posisi kacamata Chanyeol.
"Begini?" Chanyeol berdiri tegap dengan mata membulat besar kemudian tersenyum layaknya seorang idiot.
"Hmm... senyummu, itu membuatmu terlihat bodoh." Jongin mulai mengeluarkan pendapat.
Plakk... Chanyeol memukul kepala Jongin.
"Bodoh... aku tidak butuh pendapatmu.."
"Waee..." Jongin mengusap bagian kepalanya yang dipukul oleh Chanyeol.
Chanyeol melihat penampilannya melalui kamera depan ponselnya. Dengan kacamata besar, kemeja yang dikancing hingga teraras, senyum orang idiot, yah, penampilan seperti inilah yang diharapkan Chanyeol.
"Sudah bagus?" Chanyeol masih ragu akan penampilannya.
"Hmm... ahh rambutmu... sini..."
Sehun membetulkan rambut Chanyeol yang tadinya naik keatas hingga sekarang kening Chanyeol seluruhnya tertutup poni. Yah, poni Chanyeol yang model turun kebawah itu membuat Chanyeol 10x lebih mirip idiot daripada anak culun.
"Begini pas... penampilanmu..."
"Benarkan?"
Chanyeol kembali menyalakan kamera depan ponselnya dan melihat ponselnya. Dia terkejut setengah mati melihat penampilannya yang sekarang.
"Wuahh... Oh Sehun, sebaiknya setelah lulus, kau membuka salon saja, hahaha..."
"Huhh... aku tidak tertarik..."
Chanyeol masih focus membenarkan poninya. Dia berjalan sebentar kepinggir dan melihat kebawah gedung sekolah. Lebih tepatnya ke arah lapangan dimana para siswa yang baru datang berlalu lalang. Entah kenapa, dia suka melihat pemandangan itu.
Hingga akhirnya ketika dia menengok kebawah melihat satu-persatu siswa yang baru datang itu, dia tidak sengaja melakukan kontak mata dengan satu orang. Ya, namja itu, Byun Baekhyun. Namja itu menengok keatas tanpa sebab dan Chanyeol merasa dia langsung berkontak mata dengan namja itu.
Glupp... Chanyeol menelan ludahnya kasar. Dia menunggu respon apa yang dilakukan oleh namja itu ketika melihat siswa culun sedang berada diatap sekolah. Ya, biasanya di drama-drama, lokasi siswa culun berada adalah perpustakaan bukan atap sekolah. Biasanya, bila siswa culun berada di atap sekolah, kemungkinannya hanya 2, dia sedang dibully atau dia ingin bunuh diri.
.
.
"Baekhyun, sedang apa kau?" Kyungsoo menatap Baekhyun yang melamun menghadap langit.
"Huhh... kurasa hari-hariku akan dimulai jadi lebih berat..."
"Kenapa lagi? Masalah anak pemilik sekolah?"
"Yah, kau tahu..."
"Tunggu, ada sesuatu di bawah jas bagian lengan kananmu."
"Hah?"
Baekhyun yang daritadi menatap ke arah atas itu mengangkat tangan kanannya lurus keatas. Ya, Chanyeol yang bodoh itu mengira Baekhyun telah melakukan kontak mata dengannya dan menyapanya. Padahal Baekhyun hanya sedang melamun dan mengangkat tangannya untuk membersihkan noda di jasnya.
"Ehh? Dia menatapku?"
"Dia melambaikan tangan padaku?"
"Ehh? Dia menyapaku barusan?"
"Aku tidak salah lihat kan?"
"Kau bicara apa sih Chanyeol?"
"Hah? Namja itu, dia melambaikan tangan padaku barusan..."
Chanyeol menunjuk nunjuk kebawah sambal menyuruh Sehun ikut melihatnya. Dan sayangnya, ketika Sehun berada disana untuk melihat namja yang ditunjuk Chanyeol, namja itu sudah lenyap entah kemana.
"Siapa? Kau menunjuk siapa sih?"
"Kau lama bodoh! Dia sudah hilang."
Chanyeol memukul belakang kepala Sehun pelan.
"Ahhh... Jongin, mana pacarmu? Lama sekali.."
Eh? Chanyeol tidak melihat Kyungsoo? Padahal jelas sekali Chanyeol tadi melihat Baekhyun kan? Dan Baekhyun berjalan bersama Kyungsoo. Bagaimana bisa Chanyeol tidak menyadari kehadiran Kyungsoo disamping Baekhyun? Untuk sekedar informasi, Chanyeol memiliki masalah mengenai pandangan jarak jauh. Dia sudah mendaftar untuk melasik matanya 4 hari lagi. Bukankah Chanyeol pakai kacamata? Harusnya kan terlihat jelas? Kacamata yang Chanyeol gunakan itu kacamata berlensa normal. Dia hanya menggunakannya agar kesan culunnya semakin mendominasi.
"Dia sudah dibawah, ayo turun." Jongin mengambil ranselnya.
"Luhan juga sudah sampai."
"Ahh... lama sekali sih mereka daritadi."
Ya, Chanyeol benci menunggu. Bisa dibilang, Chanyeol itu tergolong namja yang tidak sabaran. Dia ingin semuanya serba instan dan ketika dia menginginkan sesuatu, dia ingin sesuatu itu harus ada tepat ketika dia menginginkannya.
.
.
.
"Kyungg…" Kai langsung menuju kearah Kyungsoo.
"Dimana Luhan?"
Ya, satu hal yang dipedulikan oleh Sehun adalah keberadaan pacarnya itu. Luhan, namja berkebangsaan China yang menimba ilmu di Korea ini. Eh? Kenapa harus susah susah sekolah di Korea? Kenapa tidak di China saja? Entahlah, Luhan hanya ingin saja memiliki status lulusan dari luar negeri.
"Luhan sedang di toilet."
"Bersama temanmu?" Tanya Kai.
"Iya… ohh itu dia…"
Seketika Kyungsoo mengucapkan kata itu, mata ketiga namja itu menatap kedua namja cantik yang sedang berjalan ke arah mereka itu. Ya, seperti ada hembusan angin kencang dan cahaya dari belakang kedua namja itu. Entah kenapa mata Jongin, Sehun, dan Chanyeol berbinar-binar. Ehh? Chanyeol juga? Yah, seperti yang kita tahu, Chanyeol gay.
"Eh? Dia Nampak seperti namja yang tadi menyapaku? Apakah itu dia? Atau bukan? Dia menarik juga…" Gumam Chanyeol.
.
.
.
"Kembali ke masa sekarang"
Chanyeol masih melihat sekitarnya. Dengan hembusan angin yang menerpa rambutnya menjadi sedikit acak-acakkan. Ya, Chanyeol tersenyum saat itu. Karena saat itu juga dia baru sadar bahwa namja yang saat itu membalas sapaannya adalah seorang Byun Baekhyun dan namja yang pertama kali membuatnya berbinar juga seorang Byun Baekhyun.
"Sebenarnya, hari itu dia menyapaku bukan sih… hahaha…"
Entah kenapa Chanyeol merasa lucu mengingat hal ini. Dia sedikit yakin Baekhyun benar-benar melakukan kontak mata dengannya. Tapi dia tidak yakin Baekhyun melambaikan tangannya untuknya atau bukan. Siapa tahu saja Baekhyun menyapa sesuatu yang tidak bisa dia lihat. Eh?
.
.
.
"Sudah hampir sebulan"
Kyungsoo masih berkirim pesan dengan Baekbeom hyung. Walaupun tidak pernah dibalas sih, hanya dibaca saja. Hanya saja, kali ini mukzijat terjadi. Baekbeom membalas pesan Kyungsoo. Ahh bukan membalas, lebih tepatnya dia memberi kabar.
Baekbeom: Baekhyun akan menjemput tunangannya di Bandara Incheon lusa. Hanya itu saja yang bisa kuberi tahu padamu.
Kyungsoo: Jam? ® * ®= Read
Kyungsoo: Hyung! ®
Kyungsoo: Jangan dibaca saja… ®
Kyungsoo: Beritahu aku lebih detail… ®
Kyungsoo: Tolong Hyung… ini sudah hamper 1 bulan…®
Kyungsoo: Eohh? ®
Baekbeom: Aku tidak tahu jam berapa, intinya lusa di Bandara Incheon, dia akan menjemput tungannya. Dan aku sarankan jangan beritahu hal ini dengan namja yang katanya pacar Baekhyun itu.
Kyungsoo: Ne? Kenapa?
Baekbeom: Aku sudah memperingatimu. Bila kau tidak mau mendengarkan saranku, itu terserahmu.
-You are Blocked by user~
"DI BLOCKED?! HEOL!"
"Wae..wae? Kenapa Kyungg?"
"Baekbeom hyung memblokir id ku…"
"Sudahlah, dia bilang apa?"
"Baekhyun akan ke Bandara Incheon lusa."
"Kenapa? Dia pindah ke luar negri?"
"Tidak… dia akan menjemput tunangannya."
"Hah?!"
"Rencana tunangannya pasti akan berjalan mulus, semulus pantat bayi. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Byun."
"Sebenarnya, ayahnya seperti apa sih…" Sehun menimpali.
"Entahlah… aku juga tidak tahu…"
Kyungsoo dengan sigap mengirim screen shot pembicaraannya dengan Baekbeom kepada Chanyeol. Ya, dia sama sekali tidak mengindahkan peringatan dari Baekbeom. Masa bodo dengan penyesalan. Dia, dan apalagi Chanyeol, pasti sangat merindukan Baekhyun. Persetan dengan penyesalan itu.
Chanyeol: Ini benar kan?
Kyungsoo: Eohh…
Chanyeol: Kebetulan sekali aku juga harus ke bandara lusa.
Eh? Chanyeol juga ke bandara? Untuk apa? Tentu saja menepati janjinya. Ingat, ini sudah 1 bulan, lusa adalah tanggal kepulangan Hyewon ke Korea. Chanyeol dan Dongjoo sudah sepakat untuk menjemput Hyewon lusa.
Kyungsoo: Kau ke bandara juga? Ada apa?
Chanyeol: Urusan pribadi.
Sampai disanalah pembicaraan mereka berakhir. Ya, Chanyeol harus mempersiapkan diri lusa. Bila dia bisa, dia akan berangkat ke bandara subuh-subuh hanya demi Baekhyun. Dia tidak ingin kehilangan jejak Baekhyun lagi. Inilah satu-satunya kesempatan agar dia bisa bertemu Baekhyun.
"2 Hari Kemudian…"
Ingat, nama calon tunanganmu Kang Hyewon. Jangan sampai mengecewakannya. Jemput dia di bandara besok. Ayah akan mengirim foto wajahnya agar kau tidak bingung. Kau harus bertemu dengannya besok. Ayah tidak ingin mendengar alasan kau kehilangan jejaknya atau apapun itu."
Ya, disinilah Baekhyun berada. Bandara Incheon. Dia duduk sambil memegang selembar kertas bertuliskan Kang Hyewon sangat besar. Sebenarnya dia cukup malu untuk memegang benda seperti ini. Tapi, demi memenuhi permintaan ayahnya, dia tidak boleh kehilangan Hyewon di bandara.
.
.
.
Kemarin~
'Kau harus ikut denganku berangkat jam 4 pagi…'
'Ehh, kenapa?'
'Intinya ikut saja.'
'Dia baru sampai jam 3 Chanyeol, kau gila ya?'
'Ada Baekhyun disana….'
'Baekhyun? Kau masih mencarinya? Kau tidak lupa dengan kesepakatan kita kan?'
Chanyeol dan Dongjoo sedang duduk di café sambal menikmati kopi. Kenapa mereka berada di kafe? Bukankah mereka harusnya menunggu Hyewon? Ya, Dongjoolah yang memaksa. Mereka sudah memutari bandara selama hampir 9 jam. Chanyeol lah yang memaksanya untuk berangkat jam 4 pagi. Padahal jadwal kepulangan mengatakan bahwa pesawat yang dinaiki Hyewon akan sampai pukul 3 sore.
Chanyeol sudah berlari kesana kemari di 1 bandara itu hanya untuk mencari Baekhyun. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk beristirahat di sebuah kafe.
Pukul 2:35, Chanyeol dan Dongjoo keluar dari kafe dan berjalan menuju gerbang kepulangan dimana Hyewon akan keluar dari sana. Hanya bermodalkan 2 wajah yang mungkin akan dikenal oleh sahabat lama itu, tanpa banner dan sejenisnya. Ya, mereka sepakat untuk tidak memakai banner karena ingin tahu apakah Hyewon masih mengingat mereka atau tidak. Yah, walaupun Dongjoo sudah memberi kabar bahwa dia dan Chanyeol akan menjemputnya.
Nampaknya, Chanyeol sudah mulai menyerah mencari keberadaan namja mungil itu. Dia menunduk lemas dan berjalan seperti orang tanpa nyawa. Ya, Chanyeol terlihat seperti orang yang hidup tanpa harapan. Hingga akhirnya dia terpaku.
Tepat pukul 2:38 siang, Chanyeol terpaku melihat namja mungil yang sudah 1 bulan dicari olehnya sedang duduk manis sambil menggoyang-goyangkan kakinya di dekat pintu kepulangan. Chanyeol membeku pada tempatnya. Dia serasa seperti melihat hantu. Ya, walaupun penampilan namja mungil itu sedikit berbeda, dengan rambut yang di cat warna coklat tua dan kacamata hitam yang berada di wajahnya. Chanyeol dapat dengan jelas sekali pemilik wajah itu. Ya, Byun Baekhyun.
Chanyeol segera berlari menuju ke arah namja yang sedang duduk itu. Namja mungil itu nampak memakai earphone dan bercuap-cuap tanpa suara dengan mulutnya tanda sedang mendengarkan lagu. Dongjoo yang melihat Chanyeol tiba-tiba berlari hanya bisa melihatnya keheranan. Dongjoo pergi ketempat kepulangan untuk menunggu Hyewon. Dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang Chanyeol lakukan. Menurut jadwal, bila Penerbangan Hyewon tepat waktu, dia seharusnya sampai sekitar 20 menit lagi.
Chanyeol masih terpaku berdiri dengan jarak sekitar 5 meter dari namja yang sedang asik mendengarkan lagu itu. Walaupun mereka sudah berkontak mata saat Baekhyun sadar ada orang yang berlari kearahnya, anehnya, dia tidak bergeming sama sekali.
Chanyeol yang sudah berdiri menatap Baekhyun dengan tajam itu akhirnya habis kesabarannya. Dia berjalan mendekat ke arah Baekhyun dan duduk disampingnya. Masih dengan tatapan tajam dan Baekhyun tidak mempedulikannya. Sebenarnya maumu apa Byun Baekhyun?
Chanyeol akhirnya muak. Diapun melepaskan earphone yang menyolok di telinga kanan Baekhyun. Baekhyun sontak terkejut karena earphonenya dicabut oleh seseorang.
"Maaf, kenapa anda mencabut earphone saya?"
"Ne?"
Pertanyaan Baekhyun tersebut membuat Chanyeol sontak terkejut dan membulatkan matanya besar. Apa Baekhyun bercanda? Hei, ini sudah 1 bulan, pura-pura tidak kenal bukanlah hal yang lucu. Apalagi penggunaan Bahasa formal itu. Ini sama sekali tidak lucu.
"Anda kenapa terkejut seperti itu? Ingin mendengarkan juga?"
Baekhyun mencabut earphone yang menyolok ditelinga kirinya dan memasangkannya di telinga kanan Chanyeol. Yah, sebenarnya Baekhyun bingung apa yang sedang namja tinggi disebelahnya lakukan. Wajahnya begitu pucat, sedikit berkeringat, gejala kepanikankah?
"Apakah anda sudah merasa lebih baik?"
Entah kenapa pertanyaan Baekhyun ini membuat Chanyeol semakin pucat, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Chanyeol tidak tahu, dia tidak mengerti, ahh tidak, dia tidak ingin mengerti akan candaan apa yang Baekhyun perbuat padanya barusan ini. Dia hanya ingin namanya, Park Chanyeol, keluar dari mulut namja mungil itu.
"Baekhyun…"
Air mata Chanyeol terjatuh membasahi pipinya. Baekhyun semakin panik. Dia tidak mengharapkan respon ini dari namja tinggi yang memanggilnya itu. Apakah lagu melo ini membuat gejala kepanikannya itu semakin buruk? Tapi, yang Baekhyun tahu, melodi seperti inilah yang suka didengar orang untuk menghadapi rasa panik. Ya, itulah yang Baekhyun dapatkan selama belajar dengan guru homescholingnya yang lulusan psikologi itu. Baekhyunpun akhirnya melepas earphone itu dari telinga Chanyeol dan menyimpannya.
"Anda barusan menyebut nama saya?"
"IYA!"
"Ne?"
"BYUN BAEKHYUN!"
"Ya, itu namaku…"
"BERHENTI BERCANDA?!"
Air mata Chanyeol semakin mengalir deras. Dia benar-benar tidak percaya Baekhyun akan tetap kukuh melakukan hal ini padanya. Dia sangat ingin candaan yang dilakukan Baekhyun ini berakhir.
"Baekhyun… sebut namaku… kumohon…"
"Ne?" Baekhyun terlihat bingung.
"Kubilang sebut namaku!"
"Maaf…"
"Baek…"
"Anda siapa?"
.
.
.
"Meet Strangers"
Note : Perubahan waktunya banyak banget :'v
