"Annyeong... Namaku Kris. Aku lulusan psikologi. Mulai sekarang, aku yang akan menjadi guru homescholingmu Byun Baekhyun."
Ya, itulah yang terjadi tepat pada 1 bulan yang lalu, guru homescholing Baekhyun akhirnya datang dan memperkenalkan dirinya pada Baekhyun. Disanalah semua masalah dimulai.
"Ne?"
"Aku guru homescholingmu. Walaupun guru, kau bisa tetap memanggilku dengan sebutan Hyung... Ahh ngomong-ngomong, aku berasal dari China dan aku dipanggil khusus oleh ayahmu untuk mengajarmu."
"Ahh... Begitu, baiklah..."
Baekhyun mengangguk mengerti sambil menatap namja tinggi dan tampan yang berada di depannya ini. Ya menurut Baekhyun Kris memang jauh lebih tampan dari Chanyeol. Tapi hati Baekhyun tetap pada Chanyeol seorang.
"Panggil aku Kris Hyung saja oke? Kau sudah sarapan?"
"Ahh... Belum... Aku tidak bisa memasak, jadii..."
"Kalau begitu, kita sarapan dulu baru mulai belajar, oke?"
"Ne."
Baekhyun menjawab dengan semangat. Ya, bagaimana tidak? Baekhyun sangat lapar sekarang. Dan makan makanan selain ramyun merupakan sesuatu bagaikan peti harta karun baginya sekarang. Dia benar-benar tidak bisa memasak dan Kris yang menawarkan diri untuk membuatkannya sarapan adalah hal yang sangat dia butuhkan saat ini. Perut Baekhyun sudah tidak bisa diajak berkompromi ngomong-ngomong.
"Kau ingin omorice? Atau Nasi goreng?"
"Hmm... Omorice saja... Kris seonsaengnim sudah makan juga?"
"Panggil aku Kris hyung. Aku juga belum makan, jadi aku akan sekalian membuatnya."
"Ahh... Baiklah... Hyung? Terima kasih.."
Baekhyun bagaikan bertemu malaikat penyelamatnya. Dia akhirnya memakan makanan lain selain ramyun. Padahal sejak dulu dia sangat ingin makan ramyun disaat mendesak. Tapi setelah mengalami kejadian seperti ini, dia menjadi sadar betapa bersyukurnya dia memiliki pembantu rumah tangga di rumahnya.
"Kau tidak bisa memasak?" Kris mencoba membuka topik pembicaraan.
"Ne? Aku tidak bisa memasak..." Baekhyun duduk di ruang makan sambil menggoyang-goyangkan kakinya dan menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu kemarin? Kau makan apa?"
"Ne? Ehmm.. Ramyun..."
"Makan malam?"
"Ramyun..."
"Kemarin kau hanya makan ramyun?!"
Ya, Kris menghentikan acara memasaknya sebentar dan menatap Baekhyun heran. Bagaimana bisa seharian kemarin Baekhyun hanya mengisi perutnya dengan mie instan. Itukan tidak sehat. Bukan hanya tidak sehat, tapi, memangnya kenyang hanya makan ramyun?
"Ya... Aku hanya bisa memasak ramyun..."
"Hmm..."
"Kenapa hyung?"
"Begini... aku kan juga membawa bekal setiap harinya. Tapi bila kau tidak bisa memasak, bagaimana bila aku memasak makanan disini juga supaya kita makan bersama. Jadi, aku tidak usah memasak 2 kali."
"Bolehkan? Apakah tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak..."
"Ahh... kalau begitu terima kasih hyung.."
"Eohh..."
Kris melanjutkan acara memasaknya. Tidak butuh waktu lama, 2 piring omorice buatan Kris telah jadi. Ya, Baekhyun yang lapar karena hanya makan ramyun kemarin menghabiskan omorice itu dengan cepat.
"Kau masih lapar?" Tanya Kris heran melihat Baekhyun makan dengan cepat.
"Tidak... ini cukup untuk sarapan. Terima kasih..."
"Eohh... kalau kau butuh sesuatu lagi, kau bisa bilang padaku. Setelah aku selesai makan, sesi belajar kita akan dimulai, oke? Jadi kau punya waktu untuk bersiap sekitar 10 menit lagi."
"Ne, aku sudah siap belajar."
.
.
.
"Meet Strangers"
Entah kenapa, bisa dibilang baru kali ini Baekhyun bersemangat belajar. Bagaimana tidak, gurunya bahkan sudah memasakkannya sarapan. Bila Baekhyun belajar dengan setengah hati, Baekhyun takut akan mengecewakan hati gurunya itu.
Baekhyun duduk disofa sambil menonton acara tv yang tidak ditontonnya. Ya, Baekhyun hanya tidak suka saja suara hening memenuhi rumahnya itu. Hingga akhirnya keheningan itu pecah karena sebuah dari pertanyaan Kris.
"Ohh iya, kudengar kau gay?"
"Ne?!" Baekhyun tersentak terkejut.
"Ayahmu yang bilang..."
"Ahh... itu... iya... apa itu menjijikkan? Aku minta maaf..."
"Ahh... Tidak, tidak menjijikkan... aku tidak masalah dengan penyuka sesama jenis.."
Eh? Kris tidak masalah? Bagaimana bisa? Ya, ngomong-ngomong Kris juga seorang gay. Dia sudah memiliki pacar di China. Tapi entah kenapa, ketika pertama kali melihat Baekhyun, Dia berbinar. Dia tidak pernah melihat ada namja secantik ini.
"Ahh... begitu..."
"Kudengar, kau juga sudah punya pacar?"
"Ne? Ahh... Iya... Darimana kau tahu?"
"Ahh.. Karena aku yang akan jadi gurumu hingga kau lulus, aku harus tahu semua latar belakang hidupmu... Kudengar namanya Park Chanyeol kan?"
"Ehmm... Iya.." Jawab Baekhyun malu-malu.
Park Chanyeol. Kris sangat tahu siapa pemilik nama itu. Namja pewaris perusahaan terbesar kedua di Korea. Bagaimana Kris tahu? Ya, perusahaan milik Park. Ayah Kris bekerja disana. Lebih tepatnya Tn. Wu adalah bawahan Tn Park. Kris kenal Chanyeol? Tentu saja tidak. Kris hanya tahu tentang Chanyeol dari ayahnya dan Kris tidak ingin berurusan dengan Chaebol.
Tapi, kali ini masalah lain. Baekhyun. Seorang chaebol. Kenapa Kris mau berurusan dengan Baekhyun yang Chaebol itu? Bukan karena uang. Tapi Kris tertarik dengan Baekhyun. Ya, siapa yang tidak tertarik dengan namja cantik ini.
"Hmm... Baekhyun..."
"Ne?"
"Sebelum aku mulai mengajarmu, boleh aku bertanya?" Kris selesai mencuci piring dan berjalan mendekat ke arah Baekhyun.
"Uhmm... Tentu saja.."
"Bagaimana kalau kau putus dengan Chanyeol dan memacariku?"
"Baekhyun POV"
Tunggu... Aku tidak salah dengar kan? Dia bilang dia ingin aku putus dengan Chanyeol dan memacariku. Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Ini baru 1 jam sejak aku melihatnya. Memang sih dia tampan uhmm... Bisa dibilang lebih tampan dari Chanyeol... Tapi tetap saja. Bagaimana bisa aku mengkhianati Chanyeol. Aku bahkan baru jadi dengan Chanyeol 2 hari yang lalu.
.
.
"Author POV"
Baekhyun tidak mau menjawab pertanyaan Kris barusan. Ya, lebih tepatnya dia tidak bisa. Dia tidak mau berurusan lagi akan hal ini. Dia hanya ingin belajar dengan guru homescholing dengan damai sesuai permintaan ayahnya.
"Bagaimana? Kenapa diam saja?"
"Ne? Maaf... Aku tidak bisa..."
"Kenapa?"
"Uhmm..."
"Chanyeol?"
Kris duduk disebelah Baekhyun dan menggenggam kedua tangan Baekhyun. Baekhyun dengan sigap menepis tangan Kris itu dan menunduk tanda tak berani menatap namja yang duduk disampingnya itu.
"Tatap aku..."
Kris memaksa Baekhyun untuk menatapnya. Baekhyun akhirnya menolehkan wajahnya dan berkontak mata dengan mata Kris. Baekhyun menatap mata Kris lekat-lekat hingga akhirnya...
Klek... Suara perpaduan antara jari jempol dan jari tengah tangan Kanan Kris membuat Baekhyun terlelap dalam sekejap. Ya, baru saja Kris melakukan Hipnosis terhadap Baekhyun. Eh? Hipnotis? Bagaimana bisa? Ya, Kris lulusan psikologi dan dia mendalami Hypnoterapi. Dan juga, alasan Tn Byun secara langsung memilih Kris sebagai guru homescholing Baekhyun sebenarnya karena Kris ahli hypnoterapi.
"Maaf Byun... Tapi ini adalah tugasku. Aku sudah dibayar untuk hal ini..."
Kris menatap Baekhyun yang terlelap tak berdaya itu. Kris berjalan menuju tas yang dibawanya saat datang kesini. Dia mengambil beberapa buku. Buku tentang hipnosis, buku mengenai data Baekhyun yang telah didata lengkap oleh Tn Byun. Ya, demi kelancaran ini, Kris membutuhkan data lengkap tentang Baekhyun.
"Byun Baekhyun... Mulai sekarang dengar perkataanku dan ulangi dalam hati berkali-kali..."
Kris mengucapkan itu dengan pelan sambil memposisikan tubuh Baekhyun hingga benar-benar rileks. Kris memutarkan lagu relaksasi agar hipnoterapi ini dapat berjalan lancar.
"Byun Baekhyun... Kau adalah seorang Gay... Penyuka sesama jenis. Tapi, kau belum sepenuhnya menjadi gay. Kau memiliki pacar bernama Park Chanyeol. Ingat itu baik-baik. Dia tinggi dan lumayan tampan. Dulu dia satu sekolah denganmu. Kalian sangat akur hingga suatu hari, kalian bertengkar hebat. Chanyeol menyakitimu..."
"Eughh..."
Baekhyun sedikit mengerang di alam bawah sadarnya. Melihat pergerakkan Baekhyun itu, Kris menaikkan sebelah alisnya heran menatap Baekhyun. Sebenarnya Kris tidak tega melakukan hal ini terhadap orang yang sama sekali tidak membutuhkan hipnoterapi. Sebenarnya Hipnoterapi hanya diperuntukkan untuk orang yang memiliki traumu berat dalam hidupnya. Tapi kali ini Kris membuat orang memiliki trauma berat dalam hidupnya.
"Park Chanyeol... Namja itu memberikanmu pengalaman terberat dan paling menyakitkan yang pernah ada selama kau hidup. Dia menyakitimu dan meninggalkanmu begitu saja. Dia mengkhianatimu. Byun Baekhyun, kau sudah sangat kecewa berat padanya..."
Kris terdiam sebentar. Dia melihat air mata terjatuh dari mata kanan Baekhyun. Apakah ini tandanya hipnosisnya berhasil? Apakah Baekhyun semudah ini untuk dimanfaatkan?
"Kau tidak ingin melihat Chanyeol. Melihatnya dan bahkan mendengar atau menyebut nama Park Chanyeol akan membuatmu mengingat trauma berat itu. Sekarang ingat-ingat dan bayangkan trauma beratmu bersamanya."
Kris berjalan menuju dapur sebentar untuk mengambil segelas air putih. Ya, untuk Baekhyun. Sebentar lagi sesi hipnoterapi akan segera selesai. Baekhyun pasti akan mengalami sedikit depresi di awal setelah proses ini selesai. Karena dia melewatkan beberapa kejadian yang sama sekali tidak dia alami tetapi terus terbayang di kepalanya.
Kris meletakkan gelas diatas meja ruang tamu. Dia menatap Baekhyun bingung. Sedikit terkejut? Ya, bagaimana tidak. Well, Kris tidak menyebutkan secara jelas bagaimana cara Baekhyun disakiti oleh Chanyeol dan menyerahkan semua imajinasi adegan sakit itu kepada Baekhyun sendiri. Dan Kris juga tidak menyangka bila adegan yang menyakitkan bagi Baekhyun itu adalah... Uhmm... Adegan vulgar? Ya, Kris membeku berdiri menatap Baekhyun yang sedikit berkeringat dan kening yang mengerut serta Gundukkan yang terlihat menggembung di sekitar selangkangan Baekhyun?
"Baekhyun... Sebenarnya adegan apa yang kau bayangkan..." Gumam Kris pelan.
.
.
"Alam Bawah Sadar Baekhyun"
Hari ini adalah hari ketiga setelah Baekhyun dan Chanyeol berpacaran. Hari itu mereka damai-damai saja, hingga akhirnya Chanyeol mulai membahas sesuatu yang tidak mengenakkan.
"Baek... Kumohon, percaya padaku..."
"Tidak... Kau jahat... Kau akan mengkhianatiku kan?" Tanya Baekhyun dengan mata berkaca-kaca.
"Baek..." Chanyeol mencoba menggenggam kedua tangan Baekhyun.
"Menjauh dariku!"
Akhirnya air mata Baekhyun menetes. Dia menepis kedua tangan Chanyeol yang meraih kedua tangannya itu. Baekhyun sudah tidak tahan. Dia ingin marah, kesal, kecewa? Semua bercampur aduk.
"Aku janji, ini tidak akan lama..."
"Pergi saja dengannya, dan jangan kembali lagi!"
"Baek... Aku hanya akan berpura-pura dengan wanita itu.. Ohh?"
"Kau bohong! Dongjoo sudah bilang wanita itu adalah cinta pertamamu, bagaimana bisa aku percaya padamu. Hatimu hanya dirimu yang tahu, aku tidak mau menunggu ketidak pastian!"
Baekhyun benar-benar sudah tidak tahan. Dia akhirnya bangkit dari sofa ruang tengah apartemen Chanyeol dan berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu Baek..."
Chanyeol mengejar Baekhyun dan meraih sebelah tangan Baekhyun. Sementara tangan Baekhyun yang lain masih mengusap air matanya yang terus mengalir deras.
Malam itu, adalah malam terberat bagi Baekhyun. Sore nya, Baekhyun menerima kabar dari Dongjoo bahwa Chanyeol akan kembali bersama cinta pertamanya dan Baekhyun harus segera melupakan Chanyeol bagaimanapun caranya. Jujur, Baekhyun membeku mendengar pernyataan Dongjoo itu. Tapi menurutnya, pernyataan Dongjoo ada benarnya. Sebelum dia mencintai Chanyeol lebih dalam, lebih baik dia segera meninggalkan Chanyeol.
"Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Semuanya sudah jelas! Biarkan aku pergi!"
Baekhyun berusaha keras melepaskan genggaman tangan Chanyeol yang begitu keras pada pergelangan tangan kirinya. Baekhyun sangat tidak berniat untuk menatap Chanyeol sekarang. Dia menangis, wajahnya memerah, matanya sembab. Baekhyun masih memikirkan wajahnya yang jelek ketika menangis? Tentu saja tidak! Dia hanya tidak ingin dikasihani oleh Chanyeol.
"Baek... Aku benar-benar..."
"Mencintaimu.."
Chanyeol dengan sigap membalik badan Baekhyun dan memeluknya. Chanyeol menundukkan kepalanya dan langsung melumat benda kenyal berwarna merah yang sangat menggoda di wajah Baekhyun. Baekhyun sendiri masih belum merespon apapun. Dia masih menutup mulutnya, menolak lumatan dari bibir namja yang berdiri didepannya.
Chanyeol yang tahu Baekhyun menolak ciuman darinya, akhirnya menggigit bibir namja mungil itu hingga akhirnya benda kenyal berwarna merah itu terbuka dengan sendirinya. Chanyeol menggiring Baekhyun menuju kamarnya sambil melumat bibir merah itu. Baekhyun yang tadinya menangis, lama kelamaan berhenti dan ikut menikmati acara lumat-melumat bibir yang dimulai oleh Chanyeol. Ya, Baekhyun mulai terbawa suasana!
"Baek... Kubilang... Aku mencintaimu..."
Chanyeol menatap Baekhyun sendu dan menyandarkan tubuh namja mungil itu di pintu kamarnya. Dia kembali melumat bibir merah itu dan mengecup setiap inci bagian wajah Baekhyun. Bibir Chanyeol mulai menjelajahi hidung dan mata Baekhyun. Chanyeol menghisap habis air mata Baekhyun yang tadinya masih tersisa di sekitar matanya.
"Chanyeollhh..."
"Eohh..." Chanyeol menghentikan acara mengecupnya sebentar.
"Kau tidak berbohong kan?"
"Kubilang... Aku mencintaimu Baek..."
Chanyeol kembali melumat bibir Baekhyun, menggiring namja mungil itu keatas ranjang milik Chanyeol. Ya, posisi Baekhyun dibawah, menatap Chanyeol yang berada diatasnya yang bertumpu dengan kedua tangannya. Chanyeol menjelajahi setiap inchi wajah, telinga, dan leher Baekhyun hingga meninggalkan bekas merah disekitar leher Baekhyun.
"Eughh... Yeol... Kita tidak akan melakukan itu kan?"
Yah, pertanyaan yang polos sekali dari seorang Byun Baekhyun. Disaat seperti ini, dia masih sempat bertanya? Chanyeol tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari namja mungil itu. Perlahan Chanyeol memasukkan tangannya kedalam kaos yang masih Baekhyun kenakan, menjelajahi punggung Baekhyun dan badannya hingga akhirnya memainkan benda menonjol berwarna merah muda milik Baekhyun dari balik kaos yang masih Baekhyun kenakan.
"Channghhh..."
"Kenapa? Kau menginginkannya kan?"
Yah, Chanyeol benar-benar terlihat seperti namja mesum sekarang. Dia mulai melepaskan kaos yang dari tadi dipakainya, memperlihatkan dada bidangnya. Dan melepas paksa kaos yang Baekhyun kenakan. Chanyeol menjelajahi setiap inchi tubuh Baekhyun dan menghisap puting merah muda Baekhyun dengan kasar.
"Tungguu... Chanhhh... Hentikanhhh..."
Baekhyun tidak tahan, tubuhnya melekuk keatas. Hisapan Chanyeol sangat kuat. Dan juga bagian sekitar selangkangan Baekhyun sudah tidak bisa diajak kompromi. Baru saja Baekhyun ingin menjauh dari Chanyeol, tapi mereka akan melakukan ini? Baekhyun, sebenarnya maumu apa?
Chanyeol menanggalkan celana pendek yang Baekhyun kenakan. Ya, Chanyeol sebenarnya sudah tidak tahan dari tadi. Penis Chanyeol sebenarnya sudah sepenuhnya menegak dan ingin dibebaskan. Tapi, Chanyeol mengerti akan kondisi Baekhyun. Dia harus bisa membawa Baekhyun perlahan masuk kedalam alurnya.
"Baek... Ingin melakukannya?"
"Ne?"
"Bila kau tidak mau, aku bisa menghentikannya sekarang juga..."
"Tapi..." Baekhyun ragu-ragu.
"Kenapa?"
"Aku baru saja marah padamu tadi... Tapi sekarang kita akan melakukannya?"
"Kkk..."
Chanyeol tertawa mendengar pertanyaan Baekhyun. Ya, Baekhyun masih tetaplah Baekhyun. Polos, Chanyeol suka itu.
"Kenapa? Kalau aku hentikan sekarang... Bagaimana?" Chanyeol tersenyum nakal.
"Tidakkk... Jangan..."
"Kenapa?" Tanya Chanyeol pura-pura polos.
"Kau harus bertanggung jawab!"
"Hah? Kau kan tidak hamil Baek... Kita bahkan belum melakukannya..." Chanyeol menatap Baekhyun heran.
"Bukann... Kau tahu kan... Kau sudah terlanjur membangunkannya dan kau harus kembali menidurkannya..."
Chanyeol terdiam sebentar dan menatap kebawah sebentar. Ya, dia bisa melihat gundukkan dibalik celana Baekhyun. Chanyeol tahu betul itu akibat dari penis Baekhyun yang pastinya telah ereksi dari tadi.
"Jadi? Aku harus bagaimana?" Tanya Chanyeol pura-pura bodoh.
"Kenapa bertanya...!"
"Oke, aku lanjutkan..."
Ya, malam panas itu, mereka benar-benar melakukannya. Kedua pasangan namja itu bersentuhan sepanjang malam tanpa henti hingga mereka kelelahan.
.
.
Paginya, Baekhyun terbangun. Dengan tubuh tanpa busana dan masih terbungkus selimut. Ya, ranjang itu terlihat kotor sekarang. Banyak bekas-bekas benih cinta mereka tadi malam yang terlihat jelas. Baekhyun menoleh kekanan dan melihat bagian ranjang tersebut telah kosong dan terasa dingin. Baekhyun terbangun dan segera mengambil dan memakai pakaiannya yang berserakkan di lantai kamar.
Selesai memakai baju, Baekhyun membuka pintu kamar pelan. Matanya membulat lebar seketika terkejut melihat apa yang baru saja dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Chanyeoll..."
Baekhyun memanggil Chanyeol yang berdiri dengan seorang wanita yang sedang bertatapan dengannya di pintu masuk apartemen. Uhmm... Lebih tepatnya, Baekhyun menghentikan acara melumat bibir yang sedang Chanyeol lakukan dengan wanita yang wajahnya samar-samar itu dalam bayangan Baekhyun. Andai saja Baekhyun tidak memanggil Chanyeol, mungkin tangan Chanyeol yang sedang bermain dibalik pakaian wanita itu telah merobek habis pakaian wanita itu.
"Chanyeol... Kau..." Baekhyun membeku pada tempatnya.
"Tunggu Baekk... Ini tidak seperti yang kau lihat..."
Chanyeol mencoba berjalan kearah Baekhyun yang membeku menunduk berdiri didepan pintu kamarnya. Dia mencoba meraih kedua tangan Baekhyun.
Tes... Air mata Baekhyun benar-benar terjatuh sekarang. Baekhyun sudah tidak bisa menahan semuanya.
"Aku ingin pulang, jangan temui aku lagi!"
"Baekk, biarkan aku menjelaskannya..."
"Aku tidak mau mendengar penjelasanmu!"
"Baekhyun!"
Chanyeol baru saja berteriak terhadap Baekhyun. Baekhyun benar-benar terdiam dan menatap wajah namja tinggi itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Brukk... Chanyeol meninju tembok putih yang berada disampingnya hingga warna putih itu berubah menjadi merah ternoda oleh cairan darah yang mengalir dari tangan Chanyeol.
"Baiklah... Oke... Sekarang kau pergi! Aku membiarkanmu pergi sesuai keinginanmu! Kau puas? Dengan begini, hubungan kita selesai. Aku akan memulai kembali hubunganku bersama cinta pertamaku!"
"Yeoll..."
"Kau yang menginginkannya kan? Tenang, aku tidak akan menemuimu lagi. Semoga kau bahagia dengan pasanganmu nanti! Mungkin aku memang tidak pantas untukmu. Pergi dan jangan pernah memohon untuk kembali denganku Byun Baek Hyun!" Chanyeol marah besar
Brakk! Chanyeol masuk kedalam kamarnya, membanting pintu. Baekhyun tersentak akan apa yang barusan Chanyeol perbuat. Baekhyun lari, dia pergi sejauh mungkin hingga dia tidak bisa melihat Chanyeol. Hingga akhirnya dia pergi dan sampai di jembatan Sungai Han...
Byur... Baekhyun menceburkan dirinya sendiri.
.
.
"Ahh..."
"Hhh...hhh...hh..."
Baekhyun tersadar. Nafasnya terengah-engah. Ya, tubuh Baekhyun benar-benar berkeringat sekarang. Baekhyun berada dikamarnya. Eh? Dikamar? Bagaimana bisa? Tentu saja, Kris yang memindahkannya. Tidak mungkin dia terus membiarkan Baekhyun terlelap dengan posisi duduk di sofa. Tubuh Baekhyun bisa hancur bila seperti itu.
"Kau sudah sadar Baek?"
"Hhh... Apa yang terjadi padaku?"
"Hah?"
"Hari ini... Hari apa?"
"Selasa Baek..."
"Berarti kemarin semuanya berakhir ya..."
Wajah Baekhyun terlihat datar, tapi anehnya, air matanya mengalir deras turun ke pipi tembamnya. Baekhyun nampak menyedihkan sekarang.
"Ada apa Baek? Kau bisa menceritakannya padaku..." Kris nampak tak tega melihat Baekhyun sekarang.
"Entah kenapa... Rasanya, disini sakit..."
"Kurasa, meminta appa untuk mengasingkanku masih belum cukup..."
"Hnn?" Kris nampak bingung
Ya, dalam pikiran Baekhyun, Baekhyun lah yang meminya ayahnya untuk mengasingkannya sedikit jauh dari Seoul. Karena Baekhyun mengalami trauma besar disana. Yang parahnya, Baekhyun sempat melakukan percobaan bunuh diri. Untung saja ada masyarakat yang melihat. Bila tidak, dia pasti sudah tak bernyawa sekarang.
Baekhyun menyentuh dada sebelah kirinya. Jantungnya sakit? Ahh bukan... Dia hanya membuat perumpamaan dari hatinya yang sakit. Baekhyun mengeluarkan airmatanya tanpa henti. Rasanya bila ditotal, air mata itu bisa mengisi penuh 1 gelas air.
"Tenang Baek... Bagaimana kalau hari ini kita bermain-main saja dulu, yah, pemanasan... Besok baru kita mulai belajar. Sepertinya mental dan psikis mu butuh istirahat."
"Tunggu... Hyung..."
"Ne?"
"Kau bilang, kau lulusan psikologi kan?"
"Iya?"
"Berarti, kau pasti mengerti cara mengurus trauma kan?"
"Ne?"
"Aku pernah membacanya disuatu website, jurusan psikologi, biasanya menjadi psikolog yang mengurus mental orang kan?"
"Iyaa... Lalu?"
"Bisa kau bantu aku?" Tanya Baekhyun dengan nada sedikit merintih.
"Eohh?"
"Bantu aku menghilangkan sebagian ingatanku? Bisakah? Aku tahu, kau pasti bisa..."
Well, apakah Kris ketahuan sekarang? Apakah hipnoterapinya gagal? Apakah Baekhyun tahu Kris sengaja melakukan hipnoterapi padanya dan meninggalkan bekas menyakitkan pada ingatan Baekhyun?
"Iya.." Kris menatap serius Baekhyun yang masih terus mengeluarkan air matanya itu.
"Mataku sakit... Dia terus mengeluarkan air... Dadaku juga sakit... Entah kenapa dia terasa berdenyut tak karuan. Rasanya sakit..."
"Lalu?"
"Aku ingin kau melakukannya padaku... Ingatan ini, tentang dia, namja yang kau ungkit-ungkit tadi..."
"Menghilangkannya?"
Baekhyun menatap Kris dengan mata dan wajah yang basah karena air mata. Dia mengangguk pelan.
"Ne? Kau ingin aku menghilangkan ingatanmu?!"
Kris benar-benar merasa seperti orang brengsek sekarang. Tn Byun memintanya untuk menambahkan ingatan di kepala Baekhyun dan sekarang Baekhyun meminta untuk dihilangkan ingatannya. Kris serasa memberantakkan semuanya.
"Tidak bisakah? Hipnoterapi, akuntahu itu... Bukankah lulusan psikologi mendalaminya? Mataku sakit, air mata ini tidak berhenti mengalir."
Baekhyun memohon dengan nampak sangat sembab. Wajahnya basah karena air mata. Penampilannya tidak karuan sekarang.
"Kau yakin?" Tanya Kris ragu-ragu.
Ya, konsekuensi yang harus ditanggung dan resikonya sangat besar. Kris sebenarnya sedikit tidak mau mengambil resiko dengan melakukan hal ini. Tapi Baekhyun sendirilah yang meminta.
"Aku mohon..."
"Oke baiklah Byun Baekhyun. Karena ini keinginanmu sendiri, kau akan bertanggung jawab oke? Mulai sekarang, sesi terapimu akan dimulai. Dalam terapi ini, kau akan melupakan kejadian serta orang yang bernama Park Chanyeol. Kau yakin?"
"Ne."
Jawab Baekhyun sigap. Dia rasanya sudah tidak kuat menahan rasa sakit didadanya dan air matanya yang mengalir tanpa henti. Ya, fakta tersakit. Baekhyun sendirilah yang meminta ingatannya akan Park Chanyeol dihilangkan.
"Oke, sekarang aku akan memulai sesi hipnoterapi, tutup matamu."
.
.
.
"Meet Strangers"
Note: Ku gak jago bikin enceh huhuhuh T.T Dibayangkan sendiri saja ya
