"Kenapa aku seperti ini... Ada yang aneh.." Baekhyun memegang dada sebelah kirinya lagi dengan tangan kanannya.
"Kenapa?"
"Kau pernah merasakan ini sebelumnya kan?"
"Byun Baekhyun?"
Baekhyun menoleh ke kanan. Dan nampak Chanyeol sudah berdiri di samping Baekhyun. Baekhyun membeku di tempatnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ahh tidak, bukan berhenti. Tapi sangat cepat hingga dia tidak tahu jantung itu berdetak atau tidak. Bila Baekhyun bisa, dia ingin lari sekarang.
"Aahh..."
1 kata yang bisa Baekhyun ucapkan. Chanyeol hanya menatap Baekhyun bingung. Dia memiringkan kepalanya menatap Baekhyun dan mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau selalu seperti itu sih?" Chanyeol menatap namja yang berdiri di depannya.
"Hah?" Baekhyun bingung.
"Selalu menghindar..."
"Ehh? Aku?" Baekhyun menunjuk dirinya sendiri.
"Sebenarnya kau ini kenapa sih?" Chanyeol mengerutkan dahinya.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kau tidak ingat padaku?"
"Nah... Itu yang sangat ingin kutanyakan... Kenapa bisa aku tidak ingat padamu?"
"Kenapa dari tadi kita hanya saling bertanya sih?" Chanyeol bertanya dengan nada ketus.
"Karena diotakku ini banyak sekali pertanyaan. Kenapa kau selalu muncul disekitarku, kenapa kau mengikutiku, kenapa aku tidak ingat padamu sama sekali, kenapa kau bisa menjadi pacarku, kenapa jantungku bisa berdebar barusan?" Baekhyun bicara dengan satu tarikan napas.
"Hhh..."
Chanyeol hanya bisa menghela napas panjang. Baekhyun terlalu melontarkan banyak pertanyaan yang bahkan lebih sulit dari soal matematika ujian akhir.
"Kau tau kau adalah pacarku?"
"Eohh..."
"Bukankah kau tidak ingat padaku?"
"Dari Jongin..."
"Ahh... Kau bisa ingat Jongin?"
"Tentu saja bisa... Jelas-jelas dia pacar Kyungsoo, Kyungsoo kan sahabatku..."
"Lalu, bagaimana dengan Sehun? Kau ingat dia?"
Eh? Kenapa Chanyeol tiba-tiba menanyakan Sehun? Yah, Baekhyun kan sudah lama tidak betemu Sehun. Bukankah aneh bila Baekhyun bisa mengenali Sehun yang baru dia temui lagi hari ini tapi dia tidak mengingat Chanyeol yang sudah menjadi pacarnya?
"Tentu saja... Luhan kan sering menceritakan perihal Sehun padaku dan Kyungsoo."
"Kau bisa ingat Sehun kenapa kau tidak bisa mengingatku..."
"Kan sudah kubilang berkali-kali, aku juga tidak tahu kenapa aku tidak ingat padamu."
"Lalu, bagaimana dengan ini?"
Chanyeol memajukan tubuhnya selangkah lebih dekat. Diapun meraih dagu Baekhyun dengan tangan kanannya dan kemudian melumat bibir merah milik namja yang lebih pendek yang berdiri di depannya itu. Baekhyun yang awalnya terkejut kemudian menutup matanya dan mengikuti permainan Chanyeol. Hingga akhirnya tiba-tiba, Baekhyun membuka matanya lebar-lebar dan mengerutkan keningnya. Dia langsung mendorong Chanyeol agar menjauh darinya.
"Ahh..."
Baekhyun memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan nampak merintih kesakitan. Chanyeol berdiri membeku di hadapannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah Chanyeol telah melakukan kesalahan?
"Baek, kau kenapa?" Chanyeol hanya bisa menatap Baekhyun tanpa berani menyentuhnya.
"Kepalaku sakit…" Baekhyun memukul kepalanya dengan tangannya.
"Hei, sadarlah, jangan pukul kepalamu seperti itu, bukankah akan terasa semakin sakit?" Chanyeol menahan kedua tangan Baekhyun.
Baekhyun berusaha sekuat tenaga melepaskan genggaman Chanyeol dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Chanyeol sudah tidak kuat melihat Baekhyun tersiksa seperti ini. Akhirnya diapun segera menarik Baekhyun dan membawanya ke rumah sakit.
.
.
.
"Meet Strangers"
"Byun Baekhyun-sshi?" Tanya dokter tersebut.
"Ne?"
"Nampaknya ada sedikit kerusakan di otak anda, bila anda lihat. Dibagian ini, seperti ada struktur otak yang Nampak aneh…"
"Iya?"
"Mungkin ini yang menyebabkan kepala anda terasa sakit."
"Tapi, bagaimana bisa? Apa karena terbentur?" Chanyeol khawatir.
"Nampaknya ini tindakan disengaja…"
"Disengaja?" Baekhyun bingung.
"Apakah anda pernah mengikuti sesi hipnoterapi sebelumnya?"
"Ne? Hipnoterapi?"
"Hmm… hipnoterapi, terapi yang dilakukan dengan hipnotis.. saya rasa anda pernah mendapatkan sesi ini entah darimana, dan anda tidak mengingatnya. Dan yang parahnya adalah, saya rasa anda melakukan hipnoterapi lebih dari sekali."
"Ne?!" Baekhyun Nampak terkejut.
Ya, memang Baekhyun melakukan hipnoterapi. Tapi, sesi itu ikut hilang bersama dengan ingatannya yang hilang. Jadi, Baekhyun tidak tahu menahu mengenai hal itu. Yang ia tahu adalah, dia tidak bisa mengingat Chanyeol dan entah karena alasan apa, dia merasakan sakit dikepalanya.
"Anda wali dari Baekhyun?" Tanya dokter itu pada Chanyeol.
"Saya?"
"Ya?"
"Saya temannya…"
"Hmm… dimana kedua orang tuamu?"
"Mereka keluar negri…" Jawab Baekhyun bingung.
"Apakah mereka tahu mengenai hal ini?"
"Nampaknya tidak…"
Dokter tersebut juga ikut bingung. Pasalnya dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Baekhyun karena tidak ada wali maupun kedua orang tua Baekhyun disana. Yang ada hanyalah seorang Park Chanyeol yang mengaku hanya sebagai teman Baekhyun.
"Hmm… begini saja, untuk sekarang karena tidak ada wali dan orang tua, nama saya dokter Zhang Yixing. Kalian bisa memanggilku dokter Zhang. Ini kartu namaku, bila kepalamu merasakan sakit lagi, kau bisa datang kesini lagi dan bertemu denganku karena aku akan mengkonsultasikan masalah ini dengan beberapa kawan dokterku. Dan bila kau bisa, usahakan datang bersama wali atau orang tuamu. Oke?"
"Tapi… nampaknya itu sulit… kedua orang tuaku… mereka juga tidak akan peduli…"
"Bagimana dengan wali?"
"Hmm… aku juga tidak punya wali, Baekbeom hyung juga tidak akn peduli dengan masalahku. Bagaimana kalua kau saja?" Baekhyun menoleh kearah Chanyeol.
"Aku?!" Chanyeol terkejut dan menunjuk dirinya sendiri.
"Eohh… kau bilang kita pacarankan?"
"Tunggu-tunggu… kalian pacaran?!" Dokter Zhang Nampak terkejut.
"Ne? Ahh.. teman-temanku bilang seperti itu. Mereka bilang aku dan pria ini berpacaran. Tapi anehnya, aku tidak mengenal pria ini sama sekali."
Dokter Zhang Nampak memutar kursinya dan berbalik membuka laci yang berada dibelakang kursinya. Dia nampak mencari-cari kertas kemudian dia kembali mengahadap kedua namja yang duduk didepannya dan mengambil sebuah bolpoin.
"Jadi, kau ingat hal lain, tapi kau tidak ingat pria ini. Dan kau bilang pria ini adalah pacarmu?"
"Ya, semua orang bilang kalua aku dan dia berpacaran. Bahkan sahabatku sendiri juga terkejut saat tahu aku tidak mengenal namja ini."
"Apa benar kalian berpacaran Chanyeol-sshi?"
"Ahh… iyaa…." Jawab Chanyeol ragu-ragu.
"Tunggu, apakah kau pernah bertemu ahli hipnoterapi atau dokter sejenis… ahh tidak, minimal psikolog? Ahli psikologi?"
"Psikologi?"
"Yah, itu minimal, kau pernah menemui orang seperti itu?"
"Lulusan psikologi termasuk? Guru homeschoolingku, dia lulusan psikologi."
"Guru homeschooling?"
"Ya, aku sempat pindah sekolah dan homeschooling sebulan."
"Tunggu, guru homeschoolingmu lulusan psikologi. Bukankah itu aneh?"
"Aneh dimana?"
Yah, aneh dimana? Tentu saja Baekhyun tidak tahu. Karena itu semua urusan ayahnya. Ayahnyalah yang mengurus semuanya. Dia hanya melakukan apapun yang disuruh. Baekhyun juga tidak terlalu peduli guru homeschoolingnya itu siapa. Yang pasti saat berkenalan dengan Kris dulu. Baekhyun merasa nyaman dan senang bisa berteman dengan orang seperti Kris.
"Guru homeschooling bukankah seharusnya sarjana pendidikan guru?"
"Eh? Benarkah?"
"Siapa nama gurumu?"
"Kris?"
"Orang barat?"
"Tidak, dia Asia, nampaknya China, karena kemarin dia bilang dia akan kembali ke China."
"Kau memiliki kontaknya?"
"Kontaknya?"
Seketika terlintas di otak Baekhyun bahwa dia telah melempar kertas yang diberikan Kris kesembarang arah. Dan nampaknya kertas itu setelah Baekhyun pikir, tidak mungkin Kris menulis angka sembarangan. Ya, itu pasti nomor teleponnya di China.
"Umm… nampaknya aku sudah membuangnya…"
"Ne?" Dokter Zhang Nampak terkejut.
"Waktu itu aku kesal padanya dan saat dia memberikan kontaknya kepadaku, nampaknya aku membuangnya."
"Hmm… Kris ya, di China, aku akan mencoba bertanya pada kawan dokterku akankah ada yang mengenalnya. Semoga saja aka nada berita baik. Nampaknya kau melaksanakan hipnoterapi dengannya. Bila sudah ada berita baik, aku akan menghubungi kalian, Baekhyun-sshi, Chanyeol-sshi. Bisakah kalian memberikan kontak kalian yang bisa kuhubungi?"
Keduanya, Baekhyun dan Chanyeol menuliskan nomor ponsel mereka di sebuah buku kecil seperti notes yang diberikan oleh dokter Zhang. Merekapun mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan dokter Zhang dan menuju ke kasir untuk membayar biaya pengobatan. Setelah itu merekapun berdebat di mobil selama perjalan pulang.
"Sebenarnya kau ini mengalami apa saja selama sebulan?" Tanya Chanyeol.
"Aku? Homeschooling… hanya itu saja…"
"Benarkah? Ceritakan padaku secara detail. Alasan ayahmu memindahkanmu, kenapa kau tiba-tiba akan bertunangan?"
"Aku juga tidak tahu, kalau tidak salah, nampaknya aku membuat masalah disekolah. Masalah tunangan, itu semua bisnis. Bagaimana denganmu? Kau tidak mencariku? Katanya kau pacarku?"
"Byun Baekhyun, kau tahu, aku sudah mencarimu, tapi seluruh anggota keluargamu tidak ada yang bisa membantuku, dan satu-satunya clue adalah Baekbeom hyung memberi tahu kau akan ke bandara hari itu dan ternyata kau akan menjemput Hyewon yang merupakan sahabatku dan calon tunanganmu."
"Sahabatmu? Kau yakin? Bukankah dia cinta pertamamu?"
"Eh?"
Seketika Chanyeol yang dari tadi bicara serius menunjukkan raut wajah bingung. Tunggu, darimana Baekhyun tahu? Eh? Baekhyun cemburukah? Tapi kenapa? Apakah walaupun otaknya lupa akan Chanyeol tapi hatinya tetap merasakan hal sama.
"Kubilang, bukankah dia cinta pertamamu, kenapa kau malah bilang dia hanya sahabatmu?"
"Hah? Karena dia memang sahabatku, tunggu, kenapa kau sensitive akan hal itu?"
"Bukankah kita pacaran?"
"…"
Chanyeol meminggirkan mobilnya sebentar. Dia terdiam tidak bisa berkata-kata. Ya, dia bingung akan hal ini sekarang. Mereka memang berpacaran dan belum pernah sepakat untuk mengakhiri hubungan. Tapi, Baekhyun kan tidak bisa ingat akan Chanyeol, apakah hubungan seperti itu bisa dilanjutkan?
"Kita berpacarankan? Atau itu dulu? Apakah kita sudah sempat mengakhiri hubungan itu?"
"Tidak, ya, kita memang berpacaran dan status kita tetap sama. Pacaran!"
"Lalu, kenapa kau tidak bisa jujur dihadapanku?"
"Hah? Mengenai apa?"
"Hyewon kan cinta pertamamu…"
"Tunggu, biar kupertegas, sebenarnya kau ini hilang ingatan atau tidak sih?"
Ya, Chanyeol semakin bingung. Baekhyun yang sekarang berada di hadapannya benar-benar seperti Baekhyun yang dulu menjadi pacarnya dan menunjukkan sikap cemburu. Ataukah memang tubuh Baekhyun masih mengingat bahwa dia adalah pacar Chanyeol?
"Aku hilang ingatan… ahhh aku pusing…" Baekhyun mengacak-acak rambutnya frustasi.
Chanyeol juga ikut frustasi melihatnya. Diapun menghela napasnya panjang dan akhirnya memeluk Baekhyun agar Baekhyun tenang. Napas Baekhyun sudah nampak lebih teratur sekarang.
"Tunggu… hhff… hfff.." Baekhyun nampak mempertajam indra penciumannya.
"Bau ini…" Baekhyun menarik jas yang dikenakan Chanyeol.
"Aku seperti mengenalnya… hhffffffff…" Baekhyun menarik napas panjang sambal mencium bau jas Chanyeol.
"Kau sedang apa?" Chanyeol bingung melihat tingkah Baekhyun yang menarik jasnya dan memeluknya semakin erat.
Chanyeolpun akhirnya berusaha melepas pelukan Baekhyun dan melepaskan jas yang dikenakannya. Diapun memberikan jasnya kepada baekhyun agar Baekhyun bisa lebih leluasa mencium aroma jasnya.
"Ada apa dengan jas itu?" Chanyeol menatap Baekhyun lekat-lekat.
"Bau ini… aku kenal…"
"Itu bau jasku.."
"Ya, aku sangat familiar dengan bau ini…"
"Hmm…"
Chanyeol bergumam sebentar dan akhirnya kembali melajukan mobilnya. Kemana mereka akan pergi? Tentu saja apartemen Chanyeol. Chanyeol tidak mungkin melepaskan namja mungil yang sudah sebulan hilang dari radarnya ini.
"Kita kemana?" Tanya Baekhyun.
Jelas Baekhyun bingung karena dia dibawa pergi menuju jalan yang kurang dia ketahui. Walaupun masih di daerah Gangnam, tapi Baekhyun tidak tahu alamat selain di rumahnya, ya bisa dibilang karena Baekhyun anak rumahan juga. Dia lebih suka menghabiskan waktunya bermain game dirumah.
"Apartemenku."
"Hah? Kau tidak mengantarku pulang?"
"Untuk apa?"
"Jelas-jelas kan aku sakit tadi…"
"Baekhyun, berhentilah manja oke?"
"Tunggu, kita pacarankan?"
"Ya."
"Dengan sikap seperti ini… jangan bilang, aku ini… pihak dominan?"
"Hahh?!"
Yah, Chanyeol cukup terkejut akan perkataan Baekhyun barusan. Apakah otak Baekhyun rusak? Kenapa setiap mereka bersama Baekhyun selalu membahas hal ini.
"Hei, jangan bercanda… sejak kapan kau pihak dominan. Jelas-jelas aku selalu mengurusmu."
"Tapi kau manja seperti wanita…"
"Heoll… Kau tahu, kau lebih manja bahkan dibandingkan dengan wanita…"
"Benarkah?" Baekhyun terkejut.
Yah, Baekhyun benar-benar tidak tahu bagaimana rasanya saat itu. Saat dia berpacaran dengan Chanyeol dan saat dia diperlakukan seperti seorang wanita oleh Chanyeol. Dia ingin merasakannya tapi dia sudah lupa bagaimana rasanya.
"Tapi kan biasanya aku memperlakukan orang dengan lembut bukan diminta diperlakukan lembut…"
"Terserah…" Chanyeol mulai lelah.
Chanyeol meminggirkan mobilnya sebentar. Diapun memasukki sebuah minimarket dan mengambil 1 kaleng kopi dan 1 susu strawberry. Untuk apa? Jelas saja, untuk Baekhyun. Diapun kembali dan menyerahkan susu strawberry itu pada Baekhyun.
"Untukku?" Baekhyun meraih susu strawberry itu.
"Eohh…"
"Kau tahu aku suka strawberry?"
"Kan sudah kubilang aku pacarmu…" Chanyeol menyalakan mesin mobilnya sambil meminum kopi miliknya.
"Ahh…"
Suasana hening di perjalanan. Ya, mereka tidak memiliki topik untuk dibicarakan. Karena Baekhyun juga tidak tahu apa-apa akan Chanyeol dan Chanyeol juga tidak tahu harus berbuat apa akan Baekhyun yang tidak mengingat dirinya. Hingga, akhirnya, mereka sampai di parkiran apartemen Chanyeol.
"Kau tinggal disini?"
"Yah, dan kau sudah pernah menginap disini."
"Aku?!"
Baekhyun nampak terkejut akan perkataan Chanyeol yang berkata bahwa Baekhyun pernah menginap di apartemennnya. Eh? Kenapa? Tentu saja karena Baekhyun sedikit tipe anti sosial dikarenakan ayahnya yang pemilik sekolah itu. Baekhyun tidak suka bersosialisasi dengan teman sekolah karena dia tahu bahwa dia akan dibicarakan dibelakang. Tapi, bagaimana bisa Baekhyun menjadi pacar Chanyeol dan bahkan menginap?
"Kau tidak percaya?"
"Mmmm…"
"Kenapa?"
"Eh?" Baekhyun bingung.
"Kenapa kau tidak percaya kalau kau pernah menginap disini tapi kau percaya kalau kau adalah pacarku…"
"Hah? Memangnya kau bukan pacarku?"
"Kau memang pacarku, tapi kenapa kau percaya?"
"Aku tidak tahu… kau selalu muncul disekitarku dan itu menggangguku…"
"Kenapaa… kau gugup? Jantungmu berdegup kencang?"
Chanyeol memajukan mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun. Jarak antara wajah mereka hanya terpaut 5cm sekarang. Chanyeol tersenyum nakal dihadapan Baekhyun. Seketika Baekhyun membeku dan menahan napasnya. Entah kenapa waktu terasa berhenti.
"Bisakah kau memundurkan wajahmu?" Tanya Baekhyun gugup.
Chanyeol akhirnya menurut dan memundurkan wajahnya. Dia membuka sabuk pengaman dan segera turun dari mobil kemudian membukakan pintu Baekhyun. Tetapi Baekhyun hanya duduk terdiam disana.
"Kau tidak mau turun?"
"Hah" baekhyun nampak terkejut.
"Kenapa melamun? Ayo turun, apartemenku banyak makanan... Kau lapar kan?"
"Ahh... Eohh... Aku akan menyusul..."
"Memangnya kau tau apartemenku yang mana?"
"Ahh... Baiklah aku turun."
Pada akhirnya Baekhyun berjalan di belakang Chanyeol. Ya, entah kenapa jantung Baekhyun tidak bisa diajak berkompromi sejak kejadian tadi. Baekhyun merasa dia baru pertama kalinya merasakan hal ini. Perasaan gugup tapi rasa gugup ini menyenangkan. Hatinya terasa berbunga-bunga.
.
.
.
"Ini…" Chanyeol memberikan sesuatu pada Baekhyun.
"Eh? Nintendo? Kau punya?" Mata Baekhyun berbinar-binar mengambil nintendo itu dari tangan Chanyeol.
"Eohh… waktu itu tujuanmu datang kesini hanya untuk memainkan ini."
"Aku? Ahh… pantas saja… kalau ada nintendo, aku tidak akan menolak."
"Se tergila-gila itunya kah kau pada nintendo?" Chanyeol menatap Baekhyun bingung.
"Tentu saja, ini keluaran terbaru, dan yang parahnya, ayahku tidak mengijinkanku membeli ini, padahal aku sudah memohon setengah mati."
"Kalau begitu untukmu saja.."
"Hah?!" Baekhyun terkejut mendengar pertanyaan Chanyeol.
"Bukankah mainan itu lebih bisa membuatmu tersenyum daripada kembalinya ingatanmu?"
Well, Chanyeol nampak kesal sekarang. Kenapa? Karena Baekhyun nampak tidak peduli sama sekali dengan ingatannya yang hilang. Sedangkan dengan kemunculan sebuah nintendo, perhatiannya teralihkan.
"Kau cemburu dengan sebuah nintendo? Ahahha" Baekhyun tertawa.
"Tidak."
"Eii… jangan bohong. Raut wajahmu jelas-jelas mengatakan seperti itu."
"Huh, untuk apa aku cemburu dengan sebuah game. Sudahlah, kau ingin makan apa?"
"Umm… Memangnya kau bisa masak? Kau tidak meracuniku kan?"
"Hei, untuk apa aku meracuni pacarku sendiri, memangnya aku gila?"
"Kenapa kau marah? Akukan hanya bercanda…"
Entah kenapa Baekhyun tidak suka suasana seperti ini. Dia ingin mengajak Chanyeol bercanda dan mencoba menghibur Chanyeol yang sudah terlanjur iri pada sebuah game. Tapi, nampaknya Baekhyun gagal. Nampaknya Chanyeol sudah mulai marah sekarang.
"Aku tidak marah, tapi kau kan tahu aku pacarmu, aku tidak mungkin meracunimu."
"Apakah candaanku keterlaluan?" Mood Baekhyun seketika turun.
"Baekk…"
"Sudahlah, masakkan aku apa saja…" Baekhyun hanya duduk dengan wajah murung.
"Kau marah? Aku tidak marah padamu, aku minta maaf." Chanyeol meraih kedua tangan Baekhyun.
"Aku tidak marah. Kau masak saja, aku makan apapun.."
"Hhh… Baiklah."
Yah, sebenarnya Chanyeol tahu Baekhyun kesal. Lebih tepatnya mungkin kecewa? Dia sudah tahu sikap Baekhyun. Baekhyun paling tidak suka diteriakki oleh orang. Moodnya pasti jatuh setelah Chanyeol kesal tadi. Chanyeol sendiri juga tidak tahu kenapa tidak bisa mengontrol emosinya sekarang.
Alhasil, Chanyeol memasak pancake sekarang. Yah, sebenarnya Chanyeol berencana mengajak Baekhyun ke restoran yang pernah mereka berdua kunjungi nanti malam. Dengan harapan ingatan Baekhyun bisa kembali. Tapi, nampaknya sedikit sulit. Chanyeol harus berhasil membujuk Baekhyun agar mood Baekhyun naik lagi.
"Baekhyun… sini, pancakenya sudah jadi, ayo makan."
"Pancake? Kau bisa buat pancake?" Baekhyun bangkit dari sofa dan menuju meja makan.
"Uahh… wanginya… ini saus strawberry?"
"Eohh…"
"Uaahhh… kau benar-benar bisa masak?"
"Hahaha… aku hanya bisa masak beberapa menu, karena aku tinggal sendiri.."
Yah, sebenarnya Chanyeol sangat bisa masak. Dia ingin membanggakan diri kepada Baekhyun. Tapi, karena suasananya sedang tidak memungkinkan, mungkin dia membanggakan dirinya lain kali saja.
"Umm… enak loh.. lain kali masak menu lain, aku ingin makan masakan buatanmu."
"Eohh… apapun akan kumasak untukmu."
"Terima kasih… Chanyeol" Baekhyun gugup.
"Ada apa? Apa ada masalah?"
"Tidak ada… Aku hanya ingin berterima kasih saja, kau mau mengurusku…"
"Hah?" Chanyeol bingung.
"Sudah, makan saja…" Baekhyun memotong pancakenya dan menyuapi Chanyeol.
"Umm… ngomongh-ngomonghh… Kau benar akan bertunanganh?" Chanyeol bicara sambil mengunyah pancakenya.
"Maksudmu dengan Hyewon?"
"Ya, dengan siapa lagi, memangnya calon tunanganmu banyak?"
Sebenarnya Chanyeol sangat tidak ingin membahas hal ini. Tapi demi masa depan dan kelancaran hubungan dan statusnya dengan Baekhyun, mau tidak mau dia harus mengambil topik ini untuk mengisi suasana.
"Memangnya kenapa? Kau tidak ingin aku bertunangan?" Baekhyun tersenyum.
Chanyeol mengangguk menatap Baekhyun polos.
"Bagaimana yah, ayahku yang mengaturnya. Jadi atau tidaknya aku bertunangan dengan Hyewon, semua adalah keputusan ayahku…"
"Jadi kalau ayahmu membatalkan pertunangannya, kau tidak akan bertunangan dengannya kan?"
"Yah, secara teknis seperti itu. Tapi kan hatiku tidak ada yang tahu.."
"Hei Baek… jangan bercanda…"
"Aku tidak bercanda, hahaha…" Baekhyun tersenyum menatap Chanyeol.
"Kau kan gay.."
"Darimana, mantan pacarku saja perempuan. Aku saja terkejut saat Kyungsoo dan pacarnya serta temannya bilang aku pacarmu…"
"Sudahlah, lupakan. Intinya sekarang kau pacarku dan hanya aku yang boleh memilikimu."
"Kau serakah sekali… lalu hubunganku dengan Hyewon bagaimana?" Tanya Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kau membuat raut wajah seperti itu… arghhh… intinya hanya aku yang boleh memilikimu. Kau mengerti?" Chanyeol memberikan penekanan.
"Ne… ne… Park… aku mengerti.."
"Bagus kalau begitu kita harus cari cara agar pertunanganmu batal.."
"Tapi, perkataan ayahku mutlak…"
Chanyeol tidak menjawab Baekhyun tetapi malah bangun dari kursinya. Diapun mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun dan melumat bibir namja mungil di depannya yang masih kotor karena saus strawberry dari pancake yang dimakannya.
Baekhyun terkejut. Matanya membulat besar saat merasakan benda lunak milik namja di depannya menyentuh benda lunak miliknya. Pada akhirnya diapun terbawa suasana dan melumat balik bibir Chanyeol. Entah kenapa, Baekhyun yang masih belum mendapatkan feeling mengenai perasaannya pada Chanyeol ini reflek membalas ciuman dari Chanyeol. Chanyeol pun akhirnya menyelesaikan sesi lumat melumat bibir.
"Bibirmu asam manis, seperti strawberry." Chanyeol tersenyum nakal.
"Ini kan karena saus strawberry dari pancake.." Baekhyun mengelap bibirnya. Wajahnya memerah seperti tomat.
"Tidak usah dihapus, nanti kau lupa rasa bibirku seperti apa."
"Huh… terserah, aku mau minum…" Pinta Baekhyun manja.
"Umm… tunggu sebentar.."
Chanyeol pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk Baekhyun. Diapun kembali ke meja makan dan meletakkan segelas air itu diatas meja. Tak lama, suara ponselpun berdering. Ponsel siapa? Ponsel Chanyeol.
Chanyeol: "Hallo…"
Tn. Park: "Eohh, Chanyeol-ahh…"
Chanyeol: "Appa, ada apa?"
Tn. Park: "Hmm.. Appa menerima kabar dari sekretaris appa. Dia bilang dia tidak sengaja melihatmu sedang bersama namja. Dan uniknya dia bilang dia melihat namja itu sudah masuk kedalam mobilmu berkali-kali."
Chanyeol: "Ohh.. maksud appa Baekhyun."
Tn. Park: "Baekhyun? Sahabat barumu? Bagaimana dia? Sehun dan Jongin saja tidak kau ijinkan masuk mobilmu. Sespecial itukah dia?"
Chanyeol: "Eohh… yang pernah aku tanyakan pada ayah.."
Tn. Park: "Maksudmu?"
Chanyeol: "Byun Baekhyun… marganya Byun.."
Tn. Park: "Ohh? Byun yang kau maksud? Dia adalah anaknya?"
Chanyeol: "Yup.."
Tn. Park: "Tapi berasal dari marga Byun tidak berarti spesial kan? Keluarga Oh bahkan lebih berkuasa… Apa yang membuatnya berbeda dimatamu? Sekretaris appa bilang dia bahkan sudah sering main ke apartemenmu… padahal dia baru mulai melihatnya sekitar mulai dari 2 bulan lalu berkeliaran di sekitarmu.."
…
Chanyeol: "Tentu saja dia spesial…"
Chanyeol: "Karena dia pacarku."
Tn Park: "Apa?!"
.
.
.
"Meet Strangers"
