Chanyeol: "Tentu saja dia spesial..."

Chanyeol: "Karena dia pacarku."

Tn Park: "Apa?!"

Eh? Ayah Chanyeol terkejut? Tentu saja. Selama ini yang Tn Park tahu, cinta Chanyeol bertepuk sebelah tangan terhadap sahabat masa kecilnya Hyewon. Darimana Tn Park tahu? Jelas saja dari sekretarisnya. Sekretarisnya selalu mengikuti perkembangan Chanyeol sejak kecil hingga sekarang. Bahkan mengenai Chanyeol yang menyukai Hyewon sekretarinya ketahui melalui Dongjoo.

Chanyeol: "eohh appa... Ada apa?"
Tn Park: "kau benar-benar serius berpacaran dengannya? Bukankah kau menyukai Hyewon?"
Chanyeol: "Hah? Hyewon? Darimana appa tahu? Tapi itu tidak penting, aku sudah tidak menyukainya.
Tn Park: "Jadi sekarang kau bersama Byun?"
Chanyeol: "Eohh... Apakah itu mengganggumu appa? Bila aku menyukai sesama jenis?"

Chanyeol bertanya ragu-ragu. Jelas, selama ini di keluarga Park belum pernah ada hubungan percintaan sesama jenis. Chanyeollah yang pertama menjalaninya. Bagaimana dengan kakaknya Chanyeol? Park Yoora? Huh, hubungan percintaan sangat tidak penting bagi kakak satu-satunya itu. Park Yoora sedang sangat fokus dengan karirnya di dunia broadcasting.

Tn Park: "Ahh... Appa tidak masalah dengan siapa kau berpacaran. Intinya jaga pasanganmu dan hubunganmu baik-baik. Hubungan kalian tidak ada masalahkan? Apa ayahnya tahu kau berhubungan dengannya?"
Chanyeol: "Yah... Ayahnya tahu, dan itulah masalahnya.."
Tn Park: "Kenapa? Byun tidak mengijinkan hubungan sesama jenis?"
Chanyeol: "Hmm… aku juga tidak tahu, tapi dia sudah punya calon tunangan."
Tn Park: " Calon tunangan? Siapa? Apakah appa kenal?"
Chanyeol: "Hyewon…"
Tn Park: "Mwo?!"

Well, bagaimana Tn Park tidak terkejut. Hyewon, Tn Park sangat tahu kalau keluarga Hyewon lumayan berpengaruh di dunia bisnis. Ahh tidak, tapi benar-benar berpengaruh. Yah, sekarang Tn Park mengerti kenapa Tn Byun berniat menjodohkan anaknya dengan Hyewon.

Chanyeol: "Kenapa?"
Tn Park: "Hmm… bisnis ya?"/
Chanyeol: "Iyaa, Baekhyun bilang begitu…"
Tn Park: "Kalau begitu, semoga beruntung Chanyeol-ahh…"
Chanyeol: "Appa?! Kau membiarkanku dicampakkan begitu saja?"

Yah, dengan Chanyeol yang sudah bercerita panjang lebar kepada ayahnya ini. Dia pikir ayahnya akan membantunya menyelesaikan masalahnya dengan Baekhyun. Tapi, nampaknya Tn Park sama sekali tidak berminat untuk mencampuri urusan kehidupan percintaan Chanyeol.

Tn Park: "Urusan percintaanmu, kau uruslah sendiri.."
Chanyeol: "Hhh… appa… apakah kau mengenal kenalan dokter psikolog?"
Tn Park: "Ada apa? Ka stress karena hal itu? Hahaha…"
Chanyeol: "Bukan… Baekhyun lupa ingatan ayah… tapi yang dia lupakan hanya diriku… kami sudah mengunjungi dokter di rumah sakit. Dan dokter itu berspekulasi kalau Baekhyun mendapatkan hipnoterapi dari ahli psikologi…"
Tn Park: "Dia lupa ingatan? Hanya dirimu?"
Chanyeol: "Eohh…"
Tn Park: "Kenapa tidak kau tanyakan pada Suho?"

Suho? Yah, Suho adalah sepupu Chanyeol. Kim Junmyeon. Sudah bergelar professor. Dia sudah menjadi dokter psikolog terkenal di Korea. Mendalami pendidikan di luar negri dan lulus di umur yang sangat muda. Ya, Kim Junmyeon yang sekarang lebih dikenal sebagai Dokter Suho di rumah sakit yang dia miliki sendiri. Yaitu Rumah Sakit Koko yang sudah memiliki banyak cabang di Korea bahkan hingga ke luar negri.

Chanyeol: "Eii… ayah tahu kan aku tidak pernah akur dengannya…"
Tn Park: "Ayah pikir, satu-satunya cara adalah bertanya pada Suho… ayah akan mengirim kontaknya nanti, itu satu-satunya cara yang bisa ayah lakukan."
Chanyeol: "Tidak ada cara lain? Suho hyung dan aku sudah tidak pernah bicara sejak aku pindah waktu itu. Nampaknya juga dia tidak suka padaku karena aku tidak pernah mendengarkannya."
Tn Park: "Coba hubungi dia, kau kan sudah dewasa… bicaralah baik-baik."
Chanyeol: "Eohh… baiklah appa, terima kasih…"

Akhirnya sambungan dan pembicaraan antara Park ayah dan anak berakhir setelah sekitar 30 menit. Baekhyun bahkan sudah tertidur di sofa setelah makan pancake karena menunggu Chanyeol yang terlalu lama mengobrol dengan ayahnya.

Chanyeolpun memindahkan tubuh Baekhyun ke kamar tamu dan menyelimutinya kemudian mencium kening Baekhyun. Diapun duduk dan menatap wajah Baekhyun lekat-lekat cukup lama.

"Haruskah aku menghubungi Suho hyung?"

Chanyeol mengeluarkan ponselnya yang baru saja bergetar. Bisa dipastikan getaran itu berasal dari notifikasi pesan dari ayahnya yang mengirimkan kontak Suho. Alhasil Chanyeolpun langsung menghubungi Suho.

Suho: "Ne.. Dengan Dokter Suho.."
Chanyeol: "Hyung…"
Suho: "Siapa ya?"
Chanyeol: "Chanyeol…"
Suho: "Chanyeol?... siapa Chanyeol… hmm… Chan..yeol…"

Yah, Suho sudah sangat lama sekali tidak bertemu Chanyeol. Bahkan bisa dibilang wajah Chanyeol sudah samar-samar di otaknya. Apakah ini karena Suho terlalu banyak belajar? Intinya Suho belum bisa ingat dengan sepupunya yang bernama Chanyeol ini.

Chanyeol: "Sepupumu… Park Chanyeol…"
Suho: "Ahh… Chanyeol, yang masih SD?"
Chanyeol: "Aku sudah SMA hyung…"
Suho: "Ohh… ada apa? Bukankah kau tidak suka padaku? Hahaha…"
Chanyeol: "Hyung… lupakanlah masalah itu eohh… maklumi aku yang masih kecil…"
Suho: "Yaaa…. Ada apa? Aku sibuk…"
Chanyeol: "Bisakah kita bertemu? Aku ingin bercerita…"
Suho: "Hah? Bercerita?!"

Bagaimana Suho tidak terkejut. Sepupunya yang sudah lama tidak menghubunginya itu tiba-tiba datang dan ingin bertemu untuk bercerita. Mereka bahkan sudah hampir tidak berkomunikasi sekitar 7 tahun? Yah, intinya mereka sama sekali tidak akrab. Suho juga sibuk, permintaan Chanyeol sungguh tidak masuk akal baginya.

Chanyeol: "Eohh… Apakah hyung ada waktu?"
Suho: "Kau pikir aku pengangguran?"
Chanyeol: "Bukan hyung… aku akan membayarmu… ini penting.."
Suho: "Kau ingin bercerita apa sampai membayarku?"
Chanyeol: "Intinya luangkan waktu untukku, oke? Besok sore…"
Suho: "Hhh… Akan kukabari nanti, aku harus mengecek jadwalku."
Chanyeol: "Eohh… hyung… terima kasih, kabari aku nanti."
Suho: "Yaaa…."

Chanyeolpun akhirnya memutus sambungannya dengan sepupu yang sudah lama tidak dihubunginya itu. Yah, demi Baekhyun, Chanyeol harus mencoba segala cara. Dia tidak mau Baekhyun terus seperti ini, kehilangan ingatan dan tidak jelas.

"Sebenarnya siapa yang membuatmu jadi seperti ini.."

Chanyeol bicara menatap Baekhyun yang tertidur. Chanyeolpun merogoh kantong celana Baekhyun dan mengambil ponselnya. Dia membuka social media dan akun chatting milik Baekhyun. Well, tidak ada yang aneh. Pengirim pesan terakhir Kyungsoo. Itu sudah pasti. Lalu ada Hyewon, kemudian, Unknown? Siapa ini? Chanyeol memencet ruang chatting itu dan membaca beberapa isi pembicaraan Baekhyun.

"Soal matematika? Besok jam 4 sore? Tugas halaman 61? Guru homeschooling Baekhyun kah?"
"Hmm… tidak ada yang aneh disini, tapi kenapa Baekhyun jadi seperti ini? Perbuatan ayahnyakah?"
"Tidak, ayahny tidak mungkin setega itu kan?"
"Tunggu, tapi kalau menurut Baekbeom hyung, sepertinya ayahnya lah yang paling memungkinkan untuk berbuat hal seperti ini…"
"Tunggu… ahhh.. hahhaah…" Chanyeol tertawa kecil.

"Apakah Chanyeol jadi gila karena tidak bisa menemukan cara untuk mengembalikan diriku? Apakah dia sudah kehabisan akal? Apakah ada hal lucu? Kenapa dia tertawa?"

Yap, itulah yang Baekhyun katakana dalam hati sekarang. Baekhyun tidak tertidur. Dia terbangun tepat saat Chanyeol menggendong tubuhnya. Dia sadar bahwa namja tinggi itu memindahkannya ke kamar tamu. Baekhyun juga mendengar seluruh pembicaraan Chanyeol dan Suho.

"Jadi itu maksudnya..."
"Sayangnya aku tidak menyesal.."
"Nampaknya Baekbeom hyung satu-satunya orang yang bisa kutanya akan hal ini sekarang."

"Huh? Baekbeom hyung? Untuk apa dia mencari hyung... Kenapa? Apa hubungannya?"

Chanyeol pada akhirnya mengembalikan ponsel Baekhyun dan meletakkannya di meja. Diapun keluar dari kamar tamu dan kembali ke kamarnya sendiri untuk berbenah.

Setelah yakin bahwa Chanyeol sudah keluar dari kamarnya, Baekhyun langsung bangkit dan meraih ponselnya yang dibuka-buka oleh Chanyeol tadi. Dia mencoba mencari aplikasi apa saja yang di cek oleh namja tinggi itu.

"Eh? Hanya aplikasi chatting?"
"Ahh.. Iya.. Dia juga membaca chattingku dengan Kris hyung.."

Ting

Suara notifikasi masuk dari ponsel Baekhyun.

"Apa ini?"
"Start chatting with your friends?"
"Aplikasi apa ini?"

Baekhyun yang penasaran dengan notifikasi itu akhirnya mengklik notifikasi itu dan terbukalah aplikasinya.

"Meet strangers?"
"Aku memakai aplikasi seperti ini? Hahaha..."
"Haruskah ku uninstall?"

Baekhyun menggeser aplikasi tersebut dengan jempol kanannya dan hampir menguninstall aplikasi tersebut hingga notifikasi lain masuk

Ting

Pcy-nim added you as a friend.

Accept or not

"Hah? Pcy-nim? Bukankah itu nama Chanyeol yang kusimpan di kontak ponselku?"
"Tunggu, ini aplikasi apa?"

Baekhyun memukul kepalanya sendiri mencoba untuk mengingat kejadian pada masa lalu. Tapi sayangnya hal itu tidak berhasil. Yang ada kepalanya sakit karena dia pukul sendiri.

"Ahh.. kepalaku… Kenapa aku memukul kepalaku sendiri… bodoh Baekhyun…"
"Memangnya dengan memukul kepala ingatanmu bisa kembali?"
"Ahh sudahlah, aku tidur saja.."

.

.

.

"Meet Strangers"

"Baek…"
"Baekhyun…"
"Sadarlah… oeyyy…"
"Kenapa kau masih mau berpacaran denganku?"
"Jelas-jelas aku sudah mencampakkanmu.."

Chanyeol mendorong Baekhyun hingga Baekhyun terjatuh.

"Aku mencintaimu yeol…"
"Tidak, jangan pernah mengucapkan kata-kata itu. Aku muak denganmu."

Chanyeol membalikkan badannya berusaha untuk pergi tapi Baekhyun malah menggenggam pergelangan kaki Chanyeol dan menangis.

"Yeol… kumohon… bila tidak ada kau, lebih baik aku mati saja.."
"BYUN BAEKHYUN! SADARLAH!"

"Oii… Baekhyun!"
"Baekkk!"
"Baekhyun!"
"Ohh… ahh… apa itu tadi…" Baekhyun bangun dari tidurnya.
"Kau mau tidur sampai berapa lama lagi?"

Yap, itu tadi hanya mimpi. Baekhyun terbangun dari tidur panjangnya dan menatap Chanyeol dengan sedikit ketakutan. Kemudian matanya berkaca-kaca dan air matanyapun jatuh ke pipi gumbalnya.

"Kau kenapa?" Chanyeol memegang kedua pundak Baekhyun kemudian memeluknya.
"Tidak... Di mimpiku... Kenapa kau membenciku?"
"Aku?!"

Chanyeol cukup terkejut mendengar pertanyaan Baekhyun barusan. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang Baekhyun mimpikan saat tidur tadi. Tapi Baekhyun sudah tidur cukup lama. Ya, 15 jam. Itu waktu yang sangat lama untuk tidur dalam sehari. Apakah Baekhyun kelelahan?

"Kenapa dimimpiku kau begitu menyeramkan?" Baekhyun sudah sedikit tenang.
"Itu hanya mimpi Baek.."
"Tapi mimpi itu terasa begitu nyata."
"Baek... Percayalah padaku.." Chanyeol melepaskan pelukannya dan menatap Baekhyun lekat-lekat.

Baekhyun sudah tenang sekarang. Napasnya sudah teratur. Sebenarnya Chanyeol sangat penasaran sebenarnya apa yang Baekhyun mimpikan tentang dirinya. Membencinya? Chanyeol tidak pernah berpikir dia akan bisa membenci Baekhyun.

"Ayo sarapan… kau sudah tidur terlalu lama, kau tahu, 15 jam.."
"Mwo? Aku tidur selama itu? Heol… Ayo sarapan."

Baekhyun bangkit dari tempat tidurnya dan pergi menuju ruang makan dimana Chanyeol sudah menyiapkan roti panggang beserta terlur untuk dimakan.

"Tapi… Baekhyun-ahh… sebenarnya kau mimpi apa?" Chanyeol penasaran.
"Eohh?" Baekhyun menatap Chanyeol polos sambil mengunyah makanannya.
"Kau bilang kau mimpi buruk tentangku, memangnya aku kenapa di dalam mimpimu?"
"Umm… Dimimpiku, kau membenciku, kau berusaha untuk menjauh dariku…" Raut wajah Baekhyun seketika berubah.
"Ahh.. begitu… lupakan saja mimpi itu… lagipula bagaimana bisa aku membenci namja sepertimu Baek. Kau terlalu imut untuk dibenci… ahahhaa.." Chanyeol mencubit pipi kanan dan kiri Baekhyun.
"Eishh… sakit.." Baekhyun mengelus kedua pipinya.
"Sudah, habiskan, setelah sarapan, kau mandi, kita akan ke rumah sakit."

Yah, sebenarnya Baekhyun sudah tahu apa yang harus dia lakukan hari ini. Pasti ke rumah sakit yang dihubungi oleh Chanyeol kemarin malam. Ahh tidak, lebih tepatnya rumah sakit dimana sepupu Chanyeol berada. Ya, sepupu yang Chanyeol hubungi kemarin.

.

.

.

"Umm… Chanyeol-ahh? Kau membawa orang lain?" Tanya Suho yang menatap Baekhyun tajam dari kepala sampai kaki.
"Eohh.." Chanyeol mengangguk polos.
"Bukankah kau ingin bercerita, tapi ada orang lain?" Suho bingung.
"Dia pacarku."
"Huh?! Pacarmu? Namja?!"

Yah, Suho terkejut bukan main dengan pernyataan Chanyeol. Sejak kapan Chanyeol menjadi penyuka sesama jenis? Ya, itulah yang ada dipikiran Suho sekarang. Apakah karena alasan ini Chanyeol berusaha untuk menghubungi Suho dan ingin menceritakan semuanya dengan harapan Chanyeol kembali straight? Ya, itulah yang Suho yakini sebagai alasan Chanyeol menemuinya.

"Eohh…" Chanyeol mengangguk.
"Lalu, kenapa kau kesini? Kau ingin bercerita kau berubah jadi gay dan ingin dikembalikan menjadi straight?"
"Bukan…" Chanyeol menggeleng.
"Lalu?" Suho bingung.
"Umm… sebelumnya perkenalkan dulu, ini Baekhyun."
"Namaku Byun Baekhyun. Kudengar dari Chanyeol, anda adalah sepupunya."
"Ahh… ya, aku sepupunya."
"Umm… bisakah dia menggunakan bahasa lebih santai? Dia kan sama sepertiku hyung…"
"Umm… terserah, kau boleh bicara lebih santai. Jadi tujuan kalian datang kesini apa?"

Suho mulai menatap komputernya dan nampak menggerak-gerakkan mouse disana.

"Kau tidak mau mendengarkan kami?" Tanya Chanyeol kesal yang melihat Suho sibuk dengan komputernya.
"Aku mendengarkan kok, aku akan mencatat cerita kalian."
"Jadi, Baekhyun lupa ingatan dan dia hanya lupa tentangku, menurut dokter yang sebelumnya kami temui, dia terkena hipnotis dalam sesi hipnoterapi yang tidak Baekhyun sadari."
"Mwo? Hipnoterapi?"
"Eohh…"
"Siapa?"
"Ehh?"
"Siapa yang melakukan hipnoterapi terhadapnya?" Tanya Suho serius.
"Aku tidak tahu, Baekhyun juga tidak tahu."
"Tidak adakah orang ahli psikologi yang berkeliaran disekitarmu?" Tanya Suho menatap Baekhyun dengan tajam.
"Umm.."

Baekhyun berpikir sebentar. Wajah seseorang terlintas dikepalanya. Kris. Ya, hanya Kris seorang. Tapi kenapa semua dokter malah menanyakan hal yang sama dan orang yang terlintas di kepala Baekhyun hanya Kris. Yah, Baekhyun tahu Kris tidak akan berbuat hal semacam itu. Bagaimanapun juga, Kris bisa dibilang sebagai mantan pacarnya.

"Hmm.. Kris hyung?"
"Kris? Kau mengenalnya?" Suho nampak terkejut.
"Ne… dia dulu menjadi guru homeschoolingku…"

"Eii… tidak mungkin Kris yang sama kan? Kris ada banyak kan? Tidak mungkin namja ini mendapat sesi hipnoterapi dari Kris… asistenku… tidak mungkin kan? Peluang Kris ini adalah orang yang sama kecil. Berapa juta orang yang memiliki nama Kris di dunia ini yang masuk jurusan psikologi. Tidak, tidak mungkin orang yang sama."

Yup, Suho mengobrak-abrik lacinya untuk mencari fotonya bersama Kris. Dia benar-benar takut kalau yang membuat Baekhyun menjalani sesi hipnoterapi adalah mantan asistennya sendiri. Yah, sebenarnya dulu Kris memang sangat tertarik dengan hipnoterapi. Tapi Kris tidak mengerti cara melakukannya dan Suholah orang yang mengajarinya.

"Jangan bilang Kris yang ini?"

Suho menunjukkan fotonya bersama Kris 3 tahun lalu. Yah, dimana Kris sedang magang di rumah sakit Suho dan Kris ditugaskan menjadi asistennya.

"Ohh..! Benar, ini Kris hyung. Anda mengenalnya ternyata?"
"Kacau sudah.." Kata Suho pelan sambil memijat pelipisnya.
"Kenapa Hyung?" Chanyeol bingung melihat Suho memijat kepalanya.

Ya, Suho merasakan beban besar ditubuhnya sekarang. Dia yang mengajarkan hipnoterapi pada Kris. Dan sekarang dimana Kris? Dia tidak tahu, yang pasti disuatu tempat di China dan dia tidak peduli. Dan yang harus dia lakukan sekarang adalah mengembalikan Baekhyun seperti semula. Tapi bagaimana caranya. Dia bahkan tidak tahu apa yang Kris lakukan terhadap Baekhyun.

"Kris.. dia dimana sekarang?"
"Huh?"
"Kau tidak tahu dia dimana?"
"Kalau tidak salah dia ke China…"
"Kontaknya? Kau ada?" Suho panik.
"Umm.. nampaknya sudah hilang…"
"Ehh? Hilang?"
"Ohh.. Aku sedang kesal hari itu. Dia akan kembali ke China kalau tidak salah, dia memberikan kontaknya. Tapi aku meremasnya dan membuangnya sembarangan."
"Hmm… satu-satunya jalan adalah menghubungi Kris."
"Eh?"
"Ingatanmu yang hilang. Tanyakan pada Kris."
"Dia ada hubungannya dengan hal ini?" Baekhyun bingung.
"Dia yang membuatmu jadi seperti ini. Nanti aku akan mencoba mencari cara untuk menghubunginya. Kau juga berusahalah mencari kontaknya."
"Jadi solusinya hanyalah menemukan namja bernama Kris itu hyung?"
"Eohh.." Suho mengangguk.
"Hhh…" Chanyeol menghela napas panjang.

Chanyeolpun mengantarkan Baekhyun kerumahnya. Ya, sesuai cerita Baekhyun, dia membuang kertas berisi kontak Kris di apartemennya. Sekarang satu-satunya harapan adalah bahwa pembantu rumah tangga Baekhyun tidak mengira itu sampah dan membuangnya ketempat sampah.

.

.

Baekhyun langsung membuka apartemennya dan apa yang dia dapat? Hyewon sedang duduk disofa menonton TV langsung berlari kearahnya dan menggenggam lengannya. Entah kenapa Baekhyun malah menoleh kebelakang menatap Chanyeol memberikan isyarat padanya agar membantunya melepaskan genggaman Hyewon. Tapi, nampaknya Chanyeol tidak peka.

"Bisakah kau melepaskan tanganmu?"
"Eh?"
"Aku harus mencari sesuatu.."

Chanyeol tanpa basa-basi langsung mengelilingi rumah Baekhyun mencari sesuatu seperti kertas yang diremas.

"Kau melemparnya kemana Baek?" Chanyeol berteriak sambil mencari-cari di kolong sofa.
"Kau sedang apa disini Chan?" Hyewon bingung melihat Chanyeol yang merangkak mengelilingi rumah Baekhyun.
"Bukan urusanmu." Chanyeol masih focus mencari kertas itu.

Baekhyun ikut merangkak mencari disekitar dapur dan pintu depan. Hyewon menatap kedua namja ini semakin bingung. Sedang apa kedua orang ini datang-datang malah merangkak mengelilingi rumah? Mencari sesuatu?

"Kalian sedang apa?"
"Bukan urusanmu.."

Chanyeol akhirnya bangkit dan menatap Hyewon. Diapun akhirnya menggiring tubuh Hyewon untuk duduk di sofa ruang tamu.

"Jangan Tanya lagi, lebih baik kau duduk tenang saja disini. Oke?" Chanyeol menggenggam kedua pundak Hyewon.
"Kalian mencari sesuatu kan?"
"Kalau iya, kenapa?" Tanya Baekhyun yang berteriak sambil mencari.
"Mau kubantu?"
"Tidak usah…" Jawab Baekhyun menyenteri kolong rak sepatu dengan cahaya ponselnya.

Hyewonpun akhirnya tidak mempedulikan kedua namja itu dan menonton tv sambil menyicipi buah anggur yang tersedia di kulkas Baekhyun.

"Hyewon… sudah berapa lama kau disini?"
"Memangnya kenapa?"
"Apakah bibi datang untuk membersihkan rumah?"
"Umm… sepertinya tidak, saat aku datang saja apartemenmu masih kotor."
"Kotor? Ini bersih kok…"
"Eii… jelas saja bersih, karena aku yang membersihkannya." Hyewon membanggakan diri.
"Mwo?!"

Chanyeol dan Baekhyun langsung menatap Hyewon tajam. Yah, Hyewon membersihkan apartemen Baekhyun. Itu berarti kertas tersebut sudah dibuang Hyewon ketempat sampah.

"Selesai sudah…" Baekhyun terduduk dilantai lemas.
"Kau benar-benar sudah menghabiskan semua kotoran disini?" Chanyeol berdiri tepat didepan Hyewon sehingga menghalangi pandangan Hyewon terhadap TV.
"Iya, minggir, aku tidak bisa menonton."
"Bagaimana ini…" Baekhyun pasrah.
"Kalian kenapa sih…"

Hyewon semakin kesal melihat kedua namja yang ada didepannya. Berkeringat, tidak jelas dan mengabaikannya. Ya, Hyewon tidak suka diabaikan. Apalagi oleh orang yang disukainya.

"Ahh, kenapa kau membersihkan apartemenku?!" Baekhyun kesal.
"Tentu saja karena kotor… kenapa marah-marah sih?!" Hyewon ikut kesal.
"Cukup, jadi, kita harus mencari ketempat pembuangan sampah diluar? Nampaknya sampahnya sudah diangkut…"
"Hah? Sampah?"
"Eohh… karena kau kita kehilangan kontaknya."
"Jadi kalian mencari sampah?"
"Iya… Baekhyun membuang kertas penting dan saat kembali nampaknya kau sudah membersihkan apartemennya."
"Kenapa kalian tidak bilang sih?!"
"Hah?" Chanyeol bingung.
"Aku tidak membuang sampah diluar, aku menumpuk semua sampah di tong sampah dapur."
"Mwo?!" Chanyeol dan Baekhyun langsung bangkit menuju dapur.
"Biar aku saja yang cari."

Chanyeol menyingkirkan tangan Baekhyun dari tong sampah. Baekhyun hanya bisa pasrah menatap Chanyeol yang mencari remasan kertas itu di tempat sampah.

"Kenapa kau tidak bilang kalau kau membuangnya disini."
"Kalian saja tidak ada yang mau memberitahu kalian mencari sampah, aku mana tahu!" Hyewon benar-benar kesal sekarang.
"Ketemu!" Chanyeol mencairkan suasana.

Baekhyun langsung merebut kertas itu dan mengambil ponselnya yang berada di kantong celananya dengan harapan nomor tersebut dapat dihubungi. Diapun menekan nomor tersebut dan mendengarkan nada sambung. Setelah sekitar 40 detik dia menunggu, tidak ada jawaban.

"Tidak diangkat." Kata Baekhyun melepaskan ponselnya dari telinganya.
"Ini panggilan internasionalkan?"
"Eohh.."
"Apakah dia sibuk? Coba aku hubungi."

Chanyeol merebut kertas tersebut dari tangan Baekhyun dan mencoba menghubungi nomor tersebut. Tapi, kenyataan berkata lain. Kris masih saja tidak menjawab panggilan itu.

"Nomornya benarkan?"
"Tentu saja.. dia yang memberikannya.
"Apakah dia sedang bekerja?"
"Entahlah, coba kuhubungi lagi."

Baekhyun mencoba menghubungi namja tinggi yang bernama Kris itu lagi dengan harapan agar dia bisa mengembalikan ingatannya dan memperbaiki semuanya seperti semula.

Kris: "Hello…"
Baekhyun: "Kris hyung?"
Kris: "Baekhyun?"

.

.

.

"Meet Strangers"