Kris: "Hello..."
Baekhyun: "Kris hyung?"
Kris: "Baekhyun?"
Sebenarnya Baekhyun tidak pernah berharap bahwa Kris benar-benar meninggalkan kontaknya untuk Baekhyun dan Baekhyun juga tidak pernah berharap bahwa Kris sebenarnya meninggalkan kontaknya untuk alasan ini.
Baekhyun: "Hyung, kau ada dimana?"
Kris: "Aku? Tentu saja China, aku sudah bilang padamu.."
Baekhyun: "Kau benar-benar di China?!"
Baekhyun sebenarnya tidak terkejut. Tapi dia meninggikan nada bicaranya karena dia tahu rasanya sudah tidak ada harapan akan ingatannya lagi. Chanyeol yang mendengar nada bicara Baekhyun akhirnya langsung merebut ponselnya dan marah pada Kris.
Chanyeol: "Kau? Yang bernama Kris kan? Sebenarnya apa yang kau lakukan pada Baekhyun?"
Kris: "Ohh? Chanyeol? Tapi bagaimana bisa?"
Chanyeol: "Apanya yang bisa? Kutanya, apa yang kau lakukan pada Baekhyun? Kenapa dia jadi seperti ini?!"
Kris: "Aku hanya melakukan sedikit sentuhan pada ingatannya.. Apa ada masalah?"
Chanyeol: "Masalah kau bilang? Ini bencana!"
Kris: "Hahaha... ini bukanlah bencana. Kau tinggal mencoba membuatnya mengingat dirimu lagi. Apa itu sulit?"
Chanyeol: "Hah?!"
Kris: "Kau merasa orang special baginya kan? Kalau begitu kau pasti bisa membantunya dengan mudah agar dapat mengingatmu kembali hahaha..."
Tut...tut...tut... Chanyeol mematikan panggilan karena kesal setelah mendengar tawa dari Kris. Baekhyun hanya bisa menatap Chanyeol bingung. Yah, wajah Chanyeol nampak seperti orang yang tidak ingin diajak bicara sekarang. Umm, seperti wajah singa yang akan mengamuk?
"Besok kita ke rumah sakit..."
"Hah?" Baekhyun terkejut.
"Kita harus bertemu Suho hyung."
"Sebenarnya kalian ini kenapa sih?!" Hyewon kesal karena tidak dihiraukan dari tadi.
"Bukan urusanmu" Chanyeol menatap Hyewon tajam.
Hyewon menatap balik Chanyeol dengan tajam. Kenapa bukan urusan Hyewon? Baekhyun kan calon tunangannya. Memangnya salah bila Hyewon ikut penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan. Hyewon tidak suka diperlakukan seperti ini.
"Baekhyun itu calon tunanganku, kau tidak berhak membawanya kesana kemari!" Hyewon kesal.
"begini saja, Baekhyun, aku ingin mendengar pendapatmu. Kau setuju untuk bertunangan dengan Hyewon?" Chanyeol menatap Baekhyun.
"Umm, aku tidak setuju untuk bertunangan dengan Hyewon. Tapi karena orang tuaku memaksa, apa boleh buat."
"Jadi, sekarang kau memilihku atau Hyewon?"
"Untuk sekarang... aku ikut denganmu Chanyeol. Maaf Hyewon, aku akan menjelaskan hal ini nanti, ketika masalah sudah selesai." Baekhyun pada akhirnya pergi mengikuti Chanyeol dari belakang meninggalkan Hyewon.
Chanyeol membawa Baekhyun pergi untuk beristirahat di apartemennya agar besok bisa menuju ke rumah sakit. Ya, satu-satunya cara adalah berkonsultasi dengan Suho. Dokter yang mengerti akan hal ini dan mengetahui cara kerja Kris. Sejujurnya Chanyeol malas untuk berhubungan dengan Suho yang sama sekali tidak akrab dengannya. Tapi demi Baekhyun, Chanyeol harus melakukan segala cara.
.
.
"Jadi, bagaimana?" Suho kebingungan melihat Chanyeol dan Baekhyun yang duduk dihadapannya.
Baekhyun terdiam. Dia tidak tahu harus apa. Dia sendiri juga bingung bagaimana dengan nasib ingatannya ini. Haruskah dia menyerah untuk mengembalikan ingatannya dan mencoba hidup seperti biasa. Yah, kalua dia memang pernah menyukai Chanyeol, pasti rasa itu akan muncul kembali seiring waktu dia terus bersama Chanyeol. Tapi, yang Baekhyun takutkan adalah, bagaimana bila perasaan itu tidak akan pernah muncul kembali?
"Tadi kami sudah berhasil menghubungi Kris." Jawab Chanyeol datar.
"Lalu?"
"Dia menyuruh kami mengurus hal ini sendiri." Wajah Chanyeol Nampak marah.
"Hmm... sebenarnya aku ada cara untuk mengembalikan ingatan Baekhyun. Tapi, cara ini tidak efektif dan belum tentu berhasil." Jawab Suho sambil membuka laci dan mencari berkas.
Ya, sebenarnya sejak kemarin Chanyeol mencoba menghubungi Kris, Suho bergadang semalaman mencari cara untuk menyempurnakan hipnoterapi yang pernah dia pelajari. Bagaimanapun juga, Kris adalah mantan asistennya. Suho jelas merasa sangat bertanggung jawab akan apa yang telah dia perbuat. Dia tidak menyangka, ilmu yang dia ajarkan kepada asistennya malah disalah gunakan seperti ini.
Suho sudah berhasil mengumpulkan beberapa informasi cara membatalkan hipnoterapi kepada korban yang terkenanya. Tapi, karena dia belum pernah mencobanya, kemungkinan berhasil akan sangat kecil dan bahkan bisa saja orang yang menjadi pasien melupakan ingatan itu secara permanen.
"Lakukan saja hyung!" Chanyeol bersikeras.
"Mwo?!" Suho terkejut.
"Aku ingin yang terbaik untuk Baekhyun."
"Tapi bagaimana bila ingatannya hilang permanen?" Suho nampak khawatir.
"Tidak, aku yakin dan percaya pada Baekhyun." Chanyeol nampak gigih.
"Kau sendiri bagaimana Baekhyun? Kau tetap ingin melakukannya?" Suho menatap Baekhyun dalam.
Mata Baekhyun nampak tidak fokus. Entah kenapa Baekhyun takut untuk melakukan hal ini. Yah, dia tidak ingin kehilangan ingatan itu secara permanen tapi dia juga tidak ingin merasakan ada sesuatu yang mengganjal seperti ini terus. Bagaimanapun juga dia harus berusaha untuk mengembalikan ingatannya.
"Baek... kenapa diam saja?" Chanyeol menatap Baekhyun khawatir.
"Aku t-takut." Baekhyun nampak gemetar.
"Tidak apa-apa, aku disini, aku akan menemanimu."
"Tetap saja, bagaimana bila ingatanku tentangmu hilang secara permanen?"
"Aku tidak apa-apa, setidaknya kita sudah berusaha. Kita bisa memulai semuanya dari awal."
Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun erat. Tangan Baekhyun terasa dingin padahal suhu ruang kerja Suho bisa dibilang tidak begitu dingin sedingin tangan Baekhyun. Entah kenapa rasanya Chanyeol ingin mengalah dengan egonya. Di hatinya dia tidak ingin memaksa Baekhyun untuk melakukan ini. Baekhyun nampak ketakutan. Tapi di sisi lain, keserakahan memenuhi dirinya. Dia hanya ingin Baekhyun mengingatnya dan dia bisa terus bersama Baekhyun. Dia merasa Baekhyun yang sekarang terlalu berbeda dengan Baekhyun yang pernah dia kenal.
"Baiklah kalua begitu, aku akan menjalani prosedurnya." Jawab Baekhyun setelah berpikir cukup lama.
"Hmm, aku memperingatkan kalian, seluruh tanggung jawab ada pada diri kalian. Aku sudah bilang bahwa ini masih belum sempurna dan ada kemungkinan Baekhyun bisa menghilangkan ingatan yang hilang itu secara permanen."
"Eohh hyung, aku tahu. Aku tidak peduli. Intinya sekarang, mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali." Chanyeol bersikeras.
Suho akhirnya menyerah untuk meperingati saudaranya itu. Dia bangkit dari kursinya dan pergi menuju ruang yang tertutup oleh tirai di ruang kerjanya. Kursi selonjor berbahan kulit serta selimut tipis sudah terpampang rapi disana. Ruang yang beraroma khas pewangi yang tercampur dengan bau rumah sakit itu terlihat sangat rapi dan hampir tidak pernah digunakan.
"Hyung, kau memiliki ruang seperti ini?" Chanyeol nampak terkejut setelah Suho membuka tirai tersebut lebar-lebar.
"Eohh... kupikir aku harus membuang seluruh barang disini dan menggantinya dengan tempat istirahatku. Tapi nampaknya tidak jadi setelah hal ini terjadi." Suho nampak membersihkan kursi untuk diduduki Baekhyun.
"Kau pernah menghipnotis orang lain juga?" Chanyeol penasaran.
"Tidak, aku menggunakan ruang ini sebagai uji coba saat bersama Kris. Tapi, saat itu gagal dan aku tidak pernah mencobanya lagi. Tidak kusangka Kris berhasil melakukannya."
Suho bersiap dan meletakkan beberapa berkas dimeja untuk dibaca sebagai panduannya dalam melakukan hal ini. Dia tidak menyangkan bahwa dia harus melakukan hal ini lagi. Dia tidak pernah berpikir untuk mencoba melakukan hipnoterapi lagi. Apalagi ini bukan menghilangkan ingatan dan trauma, melainkan mengembalikannya lagi. Apakah dia bisa?
"Baekhyun-sshi? Kau bisa duduk disini."
"Ne.."
"Rileks saja, oke?"
"Ne..." Jawab Baekhyun datar.
"Tenang saja, aku akan menemanimu." Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan menatapnya lekat-lekat.
"Hei, ini bukan lahiran istrimu, kau bisa keluar. Aku tidak ingin kau mengganggu." Suho mulai muak melihat kelakuan pasangan gay ini.
"Eii... hyung... aku tidak akan mengganggu..."
"Aku serius, kau harus keluar, ini membutuhkan suasana tenang. Oke? Kau mengertikan maksudku?"
"Ne..ne.. aku akan keluar. Tenang saja Baek, aku akan kembali kalua kau sudah selesai."
Chanyeolpun menyerah dan akhirnya keluar dari ruang kerja dan berjalan berkeliling taman rumah sakit mencari angina sambil menunggu Baekhyun selesai dengan hipnoterapinya. Suasana di ruang kerja Suho benar-benar sangat canggung setelah Chanyeol keluar. Yah, Suho tidak kenal dengan Baekhyun dan dipertemuan pertama mereka, dia sudah sangat merasa bersalah.
"Kau benar-benar mencintai Chanyeol?" Tanya Suho mendadak.
"Ne?" Baekhyun terkejut.
"Dia anak yang baik, jangan pernah sakiti hatinya. Semua yang dia lakukan itu tulus." Suho melepaskan jas dokternya.
"Ne." Baekhyun mengangguk.
"Ingat, hipnoterapi tidak bisa dihentikan di tengah jalan. Jadi katakan padaku sejujurnya kalua kau ingin menghentikan ini sekarang juga atau tetap ingin melanjutkannya." Suho duduk dikursi yang terletak disamping kursi selonjor Baekhyun.
"Aku sudah yakin, kita lakukan saja."
"Okay. Tutup matamu dan duduklah serileks mungkin."
"Aku akan memulai hipnoterapi."
Klek... Suho menjentikkan jarinya.
.
.
.
"Meet Strangers"
"Baekhyun, kau sudah sadar?" Chanyeol nampak khawatir melihat Baekhyun masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Sudah 2 jam sejak sesi hipnoterapi yang dilakukan Suho berakhir, tapi masih ada belum ada tanda tanda kesadaran dari Baekhyun. Ya, Baekhyun tidak sadar ketika Suho menyelesaikan sesi hipnoterapinya. Entah bisa dibilang gagal atau tidak, Suho tidak mengerti. Yang pasti, ingatannya kembali atau tidak, kesadaran Baekhyun adalah prioritas utama.
Chanyeol hanya bisa terduduk menatap Baekhyun tanpa henti. Yah, Baekhyun belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Yang bisa Chanyeol lihat adalah, Baekhyun beberapa kali menggerakan jemarinya. Walaupun hal itu terjadi, mata Baekhyun tetap tertutup.
"Baek..." Chanyeol berdiri ketika melihat pergerakan dibalik kelopak mata Baekhyun yang tertutup.
"Arghhh..." Tangan Baekhyun reflex menyentuh kepalanya.
"Kau sudah sadar? Aku akan memanggil Suho hyung, tunggu sebentar." Chanyeol langsung berlari keluar dari ruangan dimana Baekhyun dirawat.
Baekhyun mengedipkan matanya pelan selama beberapa kali. Diapun menggerakkan jemarinya perlahan dan mengangkat tangannya ketas. Dia melihat tangannya sendiri. Entah kenapa dia berlaku seperti orang kebingungan. Diapun menoleh ke kanan dan kekiri. Tak lama, Chanyeolpun kembali bersama Suho dengan napas terengah-engah.
"Kau sudah sadar? Bagaimana? Ada kabar baik?" Suho menatap Baekhyun penasaran.
"Bagaimana Baek? Ingatanmu kembali?" Chanyeol ikut antusias.
"..." Baekhyun hanya menatap Chanyeol dan Suho datar tanpa ekspresi.
"Hei Chanyeol, dia kenapa?"
"Entahlah... Baek, bagaimana?" Chanyeol menatap Baekhyun dalam-dalam.
"Chanyeol?"
"Eohh... kau ingat aku?" Chanyeol meraih tangan Baekhyun.
Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol. Chanyeol nampak terkejut. Apa yang terjadi dengan Baekhyun? Kenapa? Apa ada yang salah? Wajah Baekhyun nampak rishi ketika tangannya dipegang oleh Chanyeol. Entah kenapa dia tidak suka disentuh oleh Chanyeol. Suho yang melihat hal itu entah kenapa nampak kecewa.
"Baek.. kau kenapa?" Chanyeol bingung.
"Siapa kau berani memegang tanganku?!" Baekhyun marah.
"Hah?!"
"Kenapa aku berada disini?" Baekhyun menatap Suho yang memakai jas dokter.
Suho dan Chanyeol hanya bisa saling menatap satu sama lain. Yah, dari raut wajah suho, Chanyeol sudah bisa membacanya. Hipnoterapi yang dia lakukan pasti gagal. Tapi, bukankah bila gagal yang hilang hanyalah ingatan yang di hipnoterapi oleh Kris? Kenapa sekarang Baekhyun terlihat benar-benar seperti orang yang berbeda?
"Kau menjalani hipnoterapi? Kau tidak ingat?" Tanya Suho ramah.
"Hipnoterapi? Aku? Untuk apa?" Baekhyun nampak seperti mengintrogasi Suho.
"Baek..." Chanyeol kehabisan kata-kata.
"Kau siapa? Darimana Kau tahu aku Baekhyun. Kau dokternya kan? Kenapa aku bisa ada disini?" Baekhyun nampak marah.
"Kau tidak ingat?"
"Hah? Aku terakhir berada di rumah bersama calon tunanganku... Siapa namanya, Hyewon? Ya Hyewon. Calon tunanganku. Dimana dia?" Baekhyun nampak bangkit dari ranjangnya.
Baekhyun dengan terburu-buru bangkit dari ranjangnya. Dia segera pergi keluar dan tampak kebingungan. Chanyeol dan Suho hanya bisa menatapnya dengan tatapan aneh. Ya, mereka sudah tahu bahwa hipnoterapi yang dijalani Baekhyun berujung gagal. Tapi mereka tidak menyangka kalau Baekhyun akan berakhir seperti ini. Mereka pikir Baekhyun hanya akan melupakan sebagian ingatan akan Chanyeol yang lama. Mereka tidak menyangka bila Baekhyun akan melupakan Chanyeol seutuhnya.
.
.
"Baek... Aku sudah mendengar dari Chanyeol. Kau benar-benar tidak ingat?" Kyungsoo menatap Baekhyun khawatir.
"Kalian semua kenapa sih. Siapa sih Chanyeol itu. Kenapa hanya aku yant tidak tahu. Apakah ada kamera tersembunyi disini?" Baekhyun nampak kesal.
"Heol..."
"Baekkie oppa ~ Kepalamu masih sakit?"
Hyewon tiba tiba datang dan merangkul Baekhyun dari belakang. Ya, Hyewon sudah memutuskan untuk tinggal bersama Baekhyun sementara waktu. Kedua orang tua mereka juga sudah setuju. Lagipula, dengan tinggal bersama, orang tua mereka yakin bahwa mereka bisa menjadi lebih akrab dan menjalin rasa 1 sama lain.
"Euhh... Kau menjijikkan." Kyungsoo menatap Hyewon sinis
"Mwo?!" Hyewon menatap Kyungsoo tajam.
"Sudah kalian berdua, kenapa selalu bertengkar sih. Dan Hyewon, bisa berikan aku waktu? Aku harus mengobrol dengan Kyungsoo. Bagaimanapun juga dia adalah sahabatku. Bisakah kau memberikanku waktu untuk ngobrol berdua saja dengannya?" Pinta Baekhyun ramah.
"Eohh... Baiklah, aku berada di kamar saja."
"Okay, terima kasih."
Baekhyun tersenyum kecil menatap Hyewon yang mau menurut padanya. Kyungsoo hanya bisa mengerutkan dahinya melihat kelakuan Baekhyun. Apakah Baekhyun menyukai Hyewon? Dari tingkahnya nampaknya dia mulai terima terima saja Hyewon berkeliaran disekitarnya. Atau Baekhyun memang sudah ikut menyetujui pertunangan bisnis yang direncanakan oleh ayahnya? Kyungsoo bingung. Dia memang harus selalu berada di pihak Baekhyun. Entah apa pilihan Baekhyun, Kyungsoo akan mengikutinya. Tapi, entah kenapa kali ini Kyungsoo memiliki pikiran lain. Dia hanya ingin Baekhyun seperti dulu. Saat berpacaran dengan Chanyeol dan tidak ada Hyewon di kehidupannya.
"Kau benar-benar tidak ingat?" Tanya Kyungsoo sekali lagi.
"Kenapa kau terus menanyakan hal itu sih?"
"Aku benar-benar ingin kau kembali seperti dulu. Kau terlihat berbeda sekarang."
"Memangnya apa yang berbeda? Aku tetaplah Baekhyun sahabatmu. Kehilangan sedikit ingatan tidak masalah bagiku."
"Terserahmu Baek... Apa kau akan kembali ke sekolah?"
"..."
Baekhyun terdiam mendengar pertanyaan Kyungsoo. Entah kenapa rasanya dia tidak ingin kembali ke sekolah. Entah alasannya apa, hanya Baekhyun yang tahu. Dia tidak ingin kembali bersekolah disana. Tapi bila terpaksa apa boleh buat. Setahu Baekhyun, ayahnya sudah mengurus surat agar Baekhyun kembali bersekolah. Yah, walaupun Baekhyun hanya tinggal meneruskan bisnis milik ayahnya, ayahnya tidak ingin Baekhyun terlihat seperti orang bodoh yang tertinggal di bidang pendidikan."
"Kenapa diam saja? Kau tidak kembali sekolah?"
"Aku akan ke sekolah. Ayahku sudah mengurusnya. Mungkin minggu depan aku akan kembali sekolah."
"Kau harus sabar ya. Sekarang satu sekolah membicarakanmu."
"Mwo?!" Baekhyun terkejut.
"Yah, murid yang keluar masuk sekolah seenaknya. Itulah statusmu sekarang."
Ya, memang Baekhyun keluar masuk sekolah seenaknya. Semua orang juga tahu itu bisa dilakukan karena Baekhyun adalah anak pemilik sekolah. Tidak ada yang tidak mungkin bisa dia lakukan di sekolah itu. Semua murid juga iri padanya.
"Sudahlah aku tidak peduli. Aku akan lulus dengan biasa saja dan menjalankan kehidupanku dengan baik." Nada Baekhyun datar.
"Kau benar-benar akan bertunangan dengan Hyewon?"
Baekhyun menatap Kyungsoo datar. Terkadang Baekhyun berpikir. Apakah masa lalu lebih menyenangkan daripada yang sekarang. Apakah dengan menuruti keinginan ayahnya masa depan Baekhyun sudah pasti terjamin. Apakah hanya dengan Hyewon dia bisa bahagia. Kenapa dia merasa melewatkan suatu hal yang penting dalam kehidupannya. Hatinya terasa kosong, tapi dia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.
Ding..ding... Telepon Baekhyun berbunyi menyadarkan Baekhyun dari tatapan kosongnya. Pada layar ponsel barunya terpampang nomor telepon tidak dikenal yang menghubunginya. Yah, Baekhyun memang belum memberi tahu semua orang kalau nomornya ganti dan ponselnya baru. Dia tidak mau repot repot memindahkan kontak di ponsel lamanya ke ponsel barunya. Jadi dia biarkan Kyungsoo yang mengabari nomor ponsel barunya dan bila ada keperluan barulah Baekhyun menerima panggilan dari temannya.
Baekhyun: "Halo?"
Chanyeol: "Baek.. Aku Chanyeol..."
Baekhyun: "kau lagi?!"
Nada Baekhyun terkesan terdengar ketakutan? Jijik? Terkejut? Malas? Intinya Baekhyun sudah bosan menerima panggilan dari orang yang sama. Yah, Baekhyun sudah kesekian kali menerima panggilan dari Chanyeol dan sudah kesekian kali juga Baekhyun memblokir nomor Chanyeol. Eh? Diblokir? Kenapa? Entahlah, hanya Baekhyun yang tahu alasan kenapa dia memblokir nomor Chanyeol.
Chanyeol: "aku minta maaf Baekhyun. Bila hal ini membuatmu risih. Aku sungguh minta maaf.."
Baekhyun: "Bila kau tau kau salah, pergilah dari hidupku."
Chanyeol: "Aku minta maaf... Tapi aku sungguh tidak bisa melakukannya..."
Baekhyun: "Chanyeol... Aku bukanlah Baekhyun yang dulu. Aku bahkan tidak mengenalmu. Kau harusnya berterima kasih karena kau berteman dengan Kyungsoo yang notabenenya sahabatku. Karena itu aku masih meladenimu."
Chanyeol: "Orang memang bisa berubah Baek.."
Baekhyun: "..."
Chanyeol: "Baek?"
Baekhyun: "..."
Chanyeol: "Kau masih disana? Halo?"
Baekhyun: "..."
Chanyeol: "huhhh... Nampaknya diblokir lagi..."
Baekhyun : "Bisakah kau menunggu?"
Chanyeol: "eohh?!"
Baekhyun: "sebentar saja, tidak akan lama..."
Chanyeol: "Apa maksudmu Baekhyunahh?"
Baekhyun: "Untuk sekarang, pergilah dari hidupku."
Chanyeol: "Baek... Aku bilang aku minta ma-"
Tut...tut...tut...
Panggilan diputus secara sepihak oleh Baekhyun. Yah, Baekhyun tidak mau berlama-lama nengobrol dengan Chanyeol. Dia kembali memblokir nomor Chanyeol yang baru.
"Kyungsoo, bisakah kau membawa ponsel lamaku kesini?"
"Iya. Tapi kau harus memberitahuku apa yang dikatakan Chanyeol barusan." Kata Kyungsoo sambil menuju ke lemari sebelah tv untuk mengambil ponsel lama Baekhyun.
"Dia meminta maaf." Jawab Baekhyun dengan nada rendah.
"Lagi?!"
"Eohh..."
"Kau sama sekali tidak mau menyelesaikan ini dengannya? Kasihan dia..."
"Dia yang mengejarku." Baekhyun tidak mau kalah.
"Tegaskan padanya kalau kau sudah tidak ada apa-apa dengannya dan tidak mengenalnya."
"Aku sudah menegaskannya tapi dia terus mengejarku."
Kyungsoo yang sudah mengambil ponsel lama milik Baekhyun segera memberikannya pada Baekhyun. Entah untuk alasan apa Baekhyun membutuhkan ponsel lamanya itu, Kyungsoo tidak peduli.
"Kenapa Chanyeol begitu keras kepala sih. Dan kau kenapa juga keras kepala. Kenapa tidak membiarkannya saja.."
"Aku sedang tidak mau berada didekatnya."
'Sedang tidak mau? Apa maksudmu Baek?' Tanya Kyungsoo dalam hati.
"Mau sampai kapan kalian begini terus?"
"Entahlah..."
"Argghhh..."
Kyungsoo mulai frustasi dengan kedua orang temannya yang sama-sama keras kepala ini. Ya, Kyungsoo sebagai penengah dan penghubung antara Chanyeol dan Baekhyun mulai lelah akan drama ini. Dia kehilangan waktunya untuk bersama Jongin karena meladeni Baekhyun dan Jongin kehilangan waktu untuk bersama Kyungsoo karena meladeni Chanyeol.
Ting... Suara notifikasi masuk saat ponsel lama milik Baekhyun dinyalakan kembali. Baekhyun lantas melihat notifikasi yang muncul itu.
'Meet Strangers'
'Anda memiliki 1 permintaan teman baru.'
Baekhyun segera membuka notifikasi itu dan melihat isinya.
'pcy61 ingin menjadi temanmu'
Terima/Tidak Terima
Entah kenapa dari kedua tombol yang muncul itu, tombol terima lah yang dipilih Baekhyun. Entah jari Baekhyun yang bergerak sendiri atau jarinya bergerak sesuai keinginannya, hanya Baekhyun yang tahu.
.
.
'Baconee04 menerima permintaan pertemananmu.'
Ya, notifikasi itulah yang masuk dan diterima pada ponsel Chanyeol sekarang. Chanyeol terkejut setengah mati. Ada apa ini? Baekhyun menerima permintaan pertemanannya? Banyak pertanyaan di pikiran Chanyeol sekarang yang ingin dia tanyakan langsung pada Baekhyun.
"Ada apa Chanyeol?" Jongin bingung melihat Chanyeol yang tersenyum menatap ponselnya.
"Baekhyun menerima permintaan pertemananku..."
"Mwo?!"
"Aku juga tidak yakin ini sungguhan... Tapi lihat." Chanyeol menunjukkan layar ponselnya pada Jongin.
"Apakah dia salah tekan tombol? Kau tidak bisa senang dulu. Untuk sekarang Baekhyun bukanlah Baekhyun yang dulu."
"Eohh... Aku tahu... Tapi tidak apa-apa. Aku akan tetap menunggunya."
.
.
"Baek... Ayolah, sampai kapan kau begini terus?"
"Kyungsoo... Sudah kubilang. Aku akan menuruti kata ayahku saja. Lagipula Hyewon tidak buruk kok. Aku juga tidak menikah dengannya. Tapi hanya bertunangan, dan itu juga masih lama."
"1 tahun itu tidak akan lama Baek.."
"Tenang saja, semua masalah akan beres kok. Kau tidak perlu khawatir." Jawab Baekhyun enteng.
"Kau benar-benar serius?"
Kyungsoo menatap Baekhyun dalam-dalam. Yah, Kyungsoo masih belum benar-benar mau menerima pernyataan Baekhyun barusan. Entah kenapa dia merasa kata-kata itu hanya keluar dari mulutnya bukan hatinya dan keinginannya. Seakan-akan Baekhyun terpaksa melakukannya. Tapi bila Baekhyun sudah berkeinginan seperti itu, Kyungsoo bisa apa. Sebagai sahabat sejak kecilnya, Kyungsoo sadar bahwa hanya dirinyalah tempat dimana Baekhyun berpaling ketika membutuhkan seseorang yang dapat menenangkan hatinya. Karena hanya Kyungsoo orang yang paling tepat yang dapat membuat Baekhyun tenang dan nyaman.
"Aku serius. Kenapa kau bertanya terus sih? Kau tidak setuju?"
"Bukan tidak setuju Baek... Tapi... Ahhh... Ya! Aku tidak setuju! Lalu bagaimana! Aku harus apa?!" Kyungsoo jadi kesal.
"Hei.. Kyungsoo-ya... Sudah berapa lama kau mengenalku?"
"Eohh?"
.
.
.
"Meet Strangers"
NOTE: FINALLY UPDATE ! :')
