"Aku serius. Kenapa kau bertanya terus sih? Kau tidak setuju?"
"Bukan tidak setuju Baek... Tapi... Ahhh... Ya! Aku tidak setuju! Lalu bagaimana! Aku harus apa?!" Kyungsoo jadi kesal.
"Hei.. Kyungsoo-ya... Sudah berapa lama kau mengenalku?"
"Eohh?"
Kyungsoo bingung mendengarkan perkataan Baekhyun barusan. Kenapa dia tiba-tiba bertanya sudah berapa lama dia mengenalnya? Pertanyaan seperti itulah yang sekarang terlintas di benak Kyungsoo. Sebenarnya Baekhyun ini kenapa? Kyungsoo terasa seperti bicara dengan Baekhyun yang biasanya tapi ada sesuatu yang berbeda disana.
"Baek... Kau..."
"Eohh... Kau mengerti kan? Maksudku barusan?" Baekhyun tersenyum lebar.
"Kau ini kenapa sih? Tidak bisakah kau kembali seperti dulu saja?" Nada Kyungsoo memelas.
Baekhyun frustasi dan mengacak rambutnya kasar. Yah, bagaimana bisa Kyungsoo melewatkan kode sekeras itu darinya. Baekhyun sama sekali tidak kehilangan ingatannya. Ya! Baekhyun malah mengingat semua ingatannya secara detail bahkan ingatan yang hilang sekalipun juga kembali. Tapi dia ingin bermain-main sedikit dengan Chanyeol. Awalnya dia ingin menipu Kyungsoo juga, tapi dia kasihan melihat Kyungsoo. Karena Kyungsoo yang sudah bodoh seperti ini tidak mengerti kodenya, mau bagaimana lagi, Baekhyun harus tetap mengikuti alur dan membiarkan Kyungsoo ikut bermain disini.
"Sudahlah Kyungsoo, lupakan. Aku lelah, aku ingin istirahat."
"Sekarang kau mengusirku?!" Kyungsoo kesal.
"Eohh.." Angguk Baekhyun.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu?!" Kyungsoo menunjuk kearah kamar Baekhyun dengan kasar.
"Biarkan saja... Aku tidak masalah dengannya.."
"Lalu kau bermasalah bila ada aku disini?!"
"Bukan begitu. Aku hanya ingin istirahat."
"Sudahlah Baek... Aku pulang saja.." Nada Kyungsoo kecewa.
Kyungsoo akhirnya pulang kesal. Dia tidak menyangka sekarang Baekhyun telah menelantarkannya demi seorang wanita yang bahkan Baekhyun baru saja kenal. Yah, sebenarnya tidak masalah bila Baekhyun bersama Hyewon. Hyewon cukup oke, cantik, mulus, kaya, baik? Ya, kira kira, begitulah anggapan orang akan Hyewon bila melihatnya sekilas.
"Huh... Kenapa Kyungsoo tidak peka sekali sih, harus berapa banyak kode yang kuberikan padanya." Baekhyun mengipas-ngipas tubuhnya yang tidak panas sambil menyalakan tv.
Hyewon yang mendengar suara tv yang menyala dari ruang tamu langsung sadar bahwa pembicaraan Baekhyun dan Kyungsoo pasti sudah selesai dan ini adalah saat-saat yang tepat untuk berdua bersama Baekhyun.
"Baekhyun-ah..." Panggil Hyewon sambil menuju ruang tamu dan segera duduk disamping Baekhyun.
"Ada apa?"
"Kau sudah menerimaku?"
"Hah?"
"Menjadi pacarku... Kudengar kau hilang ingatan... Kau mau jadi pacarku? Aku sudah pernah menanyakan itu dan kau menolakku, mungkin dengan hilangnya ingatanmu, jawabanmu akan berubah?" Hyewon mulai semakin mendekati tubuh Baekhyun.
'Kenapa dia? Apa ini? Kenapa jantungku berdegup cepat?'
"Tunggu!"
Suara Baekhyun yang lantang membuat Hyewon terkejut dan menjauhkan dirinya sedikit dari tubuh Baekhyun. Baekhyun terlihat memfokuskan dirinya ke arah lain, namun tidak pada mata Hyewon. Sebenarnya apa yang dipikirkan Baekhyun.
"Ada apa? Kau masih butuh waktu?".
"Tidak... Bukan, aku ingin memastikan sesuatu..."
"Maksudmu?"
Baekhyun segera meraih kedua tangan Hyewon, digenggamnya tangan hangat itu. Baekhyun menatap kedua mata Hyewon lekat-lekat dan sedikit memajukan wajahnya hingga akhirnya dia menutup matanya dan mendekatkan benda lunak diwajahnya mendekati benda lunak yang dilapisi lipstik pink pada wanita yang berada dihadapannya.
'Deg! Apa ini?!'
Baekhyun langsung membuka matanya sebelum kedua bibir manis itu bersentuhan. Dia segera memundurkan tubuhnya dan bangkit dari sofa pergi menuju kamarnya. Dia mengunci pintu kamarnya dan berjalan mondar mandir layaknya cacing kepanasan.
"Kenapa?" Baekhyun bingung bertanya pada dirinya sendiri.
Diapun beridir didepan kaca yang memiliki tinggi seukuran tubuhnya dan menatap dirinya dari kepala sampai kaki dari pantulan kaca tersebut. Tanganya secara perlahan bergerak menuju kearah dada sebelah kirinya mencoba merasakan apa yang terjadi disana. Rasanya aneh, seperti ada kereta cepat yang melaju disana.
"Aku gay? Atau straight?"
Yap, itulah yang dibingungkan oleh Baekhyun sekarang. Dia benar-benar bingung akan perasaannya. Dia menyukai Chanyeol, tapi kenapa jantungnya berdegup kencang ketika bersama Hyewon? Apakah karena Hyewon wanita? Tapi hal yang sama juga pernah terjadi pada Baekhyun ketika bersama Chanyeol. Sebenarnya perasaan apa ini?
"Baekhyun? Kau kenapa?!" Teriak Hyewon dari luar kamar yang tidak bisa memasuki kamar Baekhyun karena dikunci
"Eohh? Tidak apa-apa, kita bicara lagi nanti, aku ingin istirahat sebentar.." Jawab Baekhyun dari dalam kamar.
Yah, sekarang Baekhyun bingung dengan getaran di dadanya dan segala yang ada dipikirannya. Seketika terlintas wajah Hyewon yang cantik dipikiran Baekhyun, tubuhnya yang ideal, dadanya yang besar, serta tubuhnya yang melekuk sempurna.
"Aishh... Baekhyun, kau ini kenapa?" Baekhyun memukul kepalanya sendiri.
"Sebenarnya aku ini apa?"
"Kenapa perasaanku aneh?"
"Hyewon? Chanyeol?"
"Aku ini straight atau gay?"
Baekhyun dilanda kebingungan yang luar biasa. Dia tidak tahu jati dirinya sendiri. Dia juga tidak bisa menceritakan hal ini kepada siapapun, dia bingung. Kyungsoo yang sangat tidak peka mau tidak mau ikut masuk dalam permainan, jadi dia tidak bisa menceritakan hal ini pada Kyungsoo. Padahal, Kyungsoolah satu-satunya orang yang tepat untuk menjadi tempat curhatan Baekhyun.
"Hmm... Siapa yang harus aku hubungi..."
Seketika terlintas nama Yeri dipikiran Baekhyun. Entah kenapa, Baekhyun membayangkan wajah Yeri di otaknya dan jadinya tanpa dia sadari menuju ponsel miliknya dan mencari kontak dengan nama Yeri disana. Baekhyun sendiri tidak tahu kenapa, tapi nalurinya lah yang mengantarnya hingga kesini.
"Yeri?"
"Bisakah dia?"
"Yah, mungkin dialah satu-satunya yang bisa mengerti.."
"Tapi, hubunganku dengannya. Arghh ini lah sebabnya aku benci wanita..." Baekhyun mengacak-acak ranbutnya frustasi.
Pada keputusan akhir, Baekhyun memberanikan diri untuk mengambil ponselnya dan nencoba untuk menghubungi Yeri. Yah, Baekhyun sudah melakukan sebisanya. Dia mengirim pesan kepada Yeri. Tapi nampaknya Yeri mengabaikan pesannya. Ya, pesan dari Baekhyun hanya dibaca dan tidak dihiraukan sama sekali oleh Yeri. Hingga pada akhirnya, Baekhyun memutuskan untuk menelpon Yeri.
Baekhyun: "Halo? Yeri-ya?"
Yeri: "Eohh, Wae-yo?"
Baekhyun: "Syukurlah kau mengangkatnya.."
Yeri: "Kenapa? Kita tidak dalam hubungan dimana aku harus mengangkat telepon darimu kan oppa?"
Baekhyun: "Ya, itu memang benar... Tapi aku hanya ingin meminta pendapat..."
Sebenarnya, Baekhyun sekarang sangat benar-benar malu hingga jalan akhirnya adalah harus meminta pendapat pada Yeri. Dia pikir, hubungannya dengan Yeri yang berakhir akan membuat Yeri benar-benar lenyap dari kehidupannya.
Yeri: "Pendapat apa?"
Baekhyun: "Bisakah kita bertemu? Di Cafe yang biasa kita kunjungi? Aku yang traktir..."
Yeri: "Aku tidak masalah oppa mau menraktirku atau apa, tapi aku benar-benar sibuk. Aku sudah menjadi panitia acara festival sekolah dan aku harus mengurus beberapa properti yang dibutuhkan."
Baekhyun: "30 menit... Hanya 30 menit waktu untuk mengobrol... Bagaimana? Oke?"
Yeri: "Hmm... Benar 30 menit kan?"
Baekhyun: "Eohh.."
Yeri: "Baiklah, aku akan kesana setelah berganti baju."
Tut... Yeri langsung menutup telponnya setelah bicara seperti itu. Yah, sebenarnya Baekhyun tidak masalah dengan perilaku Yeri yang begitu dingin padanya. Masalahnya sekarang adalah perasaannya. Dia bingung. Dia benar-benar membutuhkan jawaban atas semua ini.
"Meet Strangers"
.
.
.
Kring... Suara lonceng yang bergelantung di pintu cafe
"Eohh... Yeri-ya~" Baekhyun melambaikan tangan melihat Yeri masuk kedalam cafe bersama pacarnya.
Yeri yang melihat Baekhyun kemudian langsung menuju tempat dimana Baekhyun berada dan duduk di hadapannya. Taeyong hanya bisa pasrah melihat pacarnya duduk berhadap-hadapan dengan mantan pacar Yeri.
"Benar 1 jam kan?" Tanya Taeyong lagi.
"Eohh.. 1 jam, kau berjalan-jalan saja sebentar. 1 jam lagi kau bisa kembali lagi."
"Okay, aku pergi dulu ya..."
"Eohh.. Hati-hati..."
Taeyong pun pergi. Ya, sebenarnya Baekhyun bingung. 1 jam? Baekhyun kan hanya bilang 30 menit. Kenapa jadi 1 jam? Apakah ada yang ingin Yeri sampaikan? Apakah Yeri sengaja bilang lebih lama karena takut cerita Baekhyun tidak selesai dalam 30 menit?
"Kenapa 1 jam?" Baekhyun memberanikan diri untuk bertanya.
"Yah, ada yang ingin kubicarakan juga dengan oppa..."
"Ahh..." Baekhyun mengangguk.
"Jadi, apa yang ingin oppa bicarakan?"
"Ahh... Sebelum itu, minum dulu kopinya, mumpung masih hangat."
"Eohh... Terima masih oppa.."
Yeripun meminum kopi yang sudah dipesan Baekhyun sebelumnya. Yah, melihat Yeri yang meminum kopi itu, Baekhyun sudah merasa lebih tenang untuk memulai pembicaraan dengannya. Untuk sekarang Baekhyun akan menganggap wanita yang berada di hadapannya ini bukanlah mantan pacarnya, melainkan teman wanitanta.
"Yeri-ya... Sebenarnya, apa alasanmu menyukaiku dulu?" Baekhyun bertanya dengan hati-hati.
"Hubungan kita sudah terjalin lama dan sudah berakhir. Tapi kau baru menanyakannya sekarang? Hahhaha..." Yeri tertawa mendengar pertanyaan Baekhyun.
"Eohh.. Aku tahu mungkin pertanyaan ini sangat terlambat untuk ditanyakan padamu. Tapi aku hanya ingin tahu..."
"Kenapa kau tiba-tiba penasaran?"
"Tidak apa-apa... Aku hanya ingin tahu."
"Well, kau tampan, kaya, kudengar-dengar juga kau baik, apa yang kurang darimu oppa?" Yeri tersenyum.
"Itu saja? Tidak ada yang lain?" Baekhyun heran.
"Sebenarnya ada lagi yang lain, tapi mungkin kau tidak ingat..."
"Apa itu?" Baekhyun penasaran.
"Waktu itu...
Flashback hari pertama masuk sekolah menengah pertama setelah masa orientasi siswa selesai
"Bagaimana ini... Aku terlambat."
Anak perempuan berseragam sekolah berdiri di dekat gerbang masuk sekolah yang sudah ditutup rapat. Tak lama kemudian, ada mobil hitam lain yang berhenti didepan gerbang. Pintu penumpang terbuka dan seorang anak lelaki turun dari mobil itu.
"Ahh... Terlambat lagi ya..."
Ya, anak laki-laki yang turun dari mobil dan terlambat juga itu adalah Baekhyun. Yeri yang melihat Baekhyun juga terlambat hanya bisa memperhatikan gerak-geriknya.
"Bagaimana ini..."
Yeri panik berjalan mondar-mandir disekitar gerbang sekolah. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sementara itu Baekhyun sibuk mencari jalan masuk untuk melompati pagar.
"Oii.." Panggil Baekhyun.
Yeri yang merasa terpanggil akhirnya menoleh. Ya, didepan sekolah itu hanya ada mereka berdua. Tidak mungkin Baekhyun memanggil sembarang orang kan? Kalau iya, dia pasti dikira gila.
"Aku?" Yeri bingung dan menunjuk dirinya sendiri.
"Eohh.. Kau... Kau terlambat juga kan?"
"I-iya.."
Sebenarnya bila Baekhyun mau, dia bisa saja langsung meminta satpam sekolah membukakan gerbang untuknya. Tapi, Baekhyun cukup kasihan melihat Yeri yang panik dan kebingungan di depan gerbang sekolah. Lagipula, dari seragamnya juga sudah terlihat bahwa Yeri adalah anak baru. Mau tidak mau, Baekhyun mencoba membantu anak baru itu.
"Sini, naik ke pundakku." Baekhyun berjongkok dan menepuk kedua pundaknya.
"Ehh?" Yeri bingung.
"Kubilang naik kepundakku, aku akan menggendongmu untuk melewati pagar. Setelah itu, kau akan membantuku naik kesana." Baekhyun menunjuk keatas pagar.
"Ahh.. Apa tidak apa-apa?" Yeri masih takut.
"Tenang saja, aku sudah pengalaman."
Mau tidak mau, Yeripun akhirnya setuju dan naik ke pundak Baekhyun. Baekhyun berusaha keras untuk bangkit dan juga berjinjit agar Yeri bisa segera naik keatas pagar. Yah, bisa dibilang, Yeri tidak terlalu enteng untuk digendong oleh Baekhyun yang berbadan kecil itu.
"Maaf, aku berat ya?" Tanya Yeri mulai kasihan merasakan tubuh Baekhyun yang gemetar mengangkatnya.
"Tidak, cepatlah naik..."
"Baiklah.."
Yeripun berhasil naik keatas pagar. Sementara Baekhyun duduk ditanah bercucuran keringat karena kelelahan. Yeri membutuhkan waktu cukup lama hingga akhirnya dia bisa berada diatas pagar.
"Ayo naik.." Yeri mengulurkan tangannya.
"Kau anak baru kan?" Tanya Baekhyun untuk basa-basi sambil menggenggam tangan Yeri.
"Eh? Iya.."
"Ohh.. Lain kali jangan telat, kalau telat lebih baik kau pulang saja, peraturan disekolah ini sangat ketat."
"Ahh.. Ne..." Jawab Yeri sopan.
Baekhyun pun berhasil sampai keatas pagar. Kemudian, diapun melompat ke tanah yang beralaskan rumput.
"Kau bisa turun?" Baekhyun mengulurkan tangannya untuk Yeri.
"Ahh.. Ne... Terima kasih..." Yeri menggenggam tangan Baekhyun dan turun.
Baru saja Yeri sampai melompat ditanah dan menyeka keringatnya sebentar, dia mengangkat kepalanya untuk mengucapkan terima kasih, tapi anak laki-laki yang membantunya tadi sudah berlari menjauh. Yeri sebenarnya cukup kecewa karena tidak berhasil berbasa-basi dengan Baekhyun yang telah membantunya itu. Dan lebih parahnya, dia tidak sempat menanyakan nama dan kelasnya. Diapun menoleh ke tanah yang dia duduki. Disana terdapat nametag kuning bertuliskan nama seseorang yang terjatuh.
"Byun Baekhyun?"
-Flashback end-
"Jadi kau menyukaiku karena aku membantumu meloncati pagar? Hahahha..." Baekhyun tertawa.
"Yah, sebenarnya aku juga tidak tahu... Lebih tepatnya, aku menyukaimu setelah beberapa lama memperhatikanmu." Jawab Yeri jujur.
"Memperhatikanku?" Baekhyun bingung.
"Awalnya aku hanya tertarik padamu, aku sering melihatmu dilapangan saat pelajaran olah raga dari jendela kelas, aku juga sering melihatmu melewati gerbang saat masuk dan pulang sekolah..."
"Lalu?"
"Lama-lama, aku jadi terobsesi padamu. Aku bahkan meminta ijin ke toilet dan berjalan memutar melewati kelasmu hanya untuk melihatmu. Lalu jantungku yang awalnya biasa saja melihatmu bermain bola di lapangan jadi berdegup kencang. Apalagi saat kau menatapku. Sebenarnya aku tahu kau hanya melihat kearah kelas, tapi aku merasa kau menatapku saat itu."
"Hah? Aku menatapmu? Dari lapangan?" Tanya Baekhyun.
"Eohh... Saat itu jantungku benar-benar berdegup kencang. Dan saat itulah aku memutuskan bahwa aku menyukaimu."
"Ahh begitu rupanya."
"Kau sudah mengerti kan?"
"Eohh..." Baekhyun mengangguk.
"Sudah 30 menit waktumu bertanya dan kau sudah mendapatkan jawabannya kan?"
"Iya.."
"Jadi, sekarang giliranku yang bertanya. Untuk apa kau menanyakan semua ini?"
Baekhyun membeku ditempatnya mendengar pertanyaan dari Yeri. Sebenarnya mudah saja bila Baekhyun mau dia akan memberitahukan segalanya kepada Yeri. Tentang dirinya yang bingung akan arah seksualnya atau dirinya yang tidak bisa membedakan perasaannya dengan Hyewon dan Chanyeol. Tapi tidak semudah itu untuk mengatakan semuanya.
"Bolehkah aku skip menjawab pertanyaan ini?" Tanya Baekhyun ragu-ragu.
"Eii... Bukankah itu tidak adil?"
"Umm... Bagaimana ya aku menjelaskannya... Kau tahu kan aku straight?"
"Straight? Maksudmu?"
Yeri tidak mengerti maksud pertanyaan Baekhyun. Straight? Lurus? Apa maksudnya. Yah, Yeri memang tidak tahu straight yang dimaksud oleh Baekhyun adalah perihal seksualnya. Yang Yeri tahu, Baekhyun pernah berpacaran dengannya. Jadi, Baekhyun jelas saja tidak memiliki keanehan dengan perihal seksualnya.
"Menyukai lawan jenis..."
"Hah? Oppa sedang melantur? Jelas saja! Memangnya oppa menyukai sesama jenis?!
"..."
Baekhyun terdiam di tempatnya. Yah, pertanyaan Yeri barusan benar-benar tidak bisa dia jawab. Dia sangat bingung. Apakah Yeri bisa membantu menjawab pertanyaan itu.
"Kenapa oppa diam saja? Jangan-jangan yang barusan kukatakan itu benar? Eii... Tidak mungkin kan?" Yeri bingung.
"Sebenarnya aku bingung."
"Mwo?" Yeri nampak terkejut.
"Aku tidak tahu aku ini straight atau gay..."
"MWO?!"
Yeri benar-benar terkejut akan pengakuan Baekhyun barusan. Ya, bagaimana bisa, mantan pacarnya yang sudah dia pacari 3 tahun belakangan ini membuat pengakuan padanya bahwa dia bingung akan jati dirinya yang straight atau gay.
"Oppa kan straight? Buktinya dulu kita pernah pacaran..."
"Yah, mungkin itu dulu... Tapi untuk sekarang aku bingung..."
"Memangnya ada pria yang menarik bagimu?"
"Tentu saja ada, kalau tidak ada, bagaimana bisa aku menyebut diriku seorang gay..."
"Kalau begitu oppa gay."
Yeri meyakinkan Baekhyun. Entah kenapa mereka berdua menjadi lebih akrab. Yah, Baekhyun merasa hubungan oppa dongsaeng lah yang memang cocok bagi mereka berdua. Yeri akan mendengarkan dan memberikan solusi bagi masalah Baekhyun. Entah kenapa Baekhyun ingin kembali ke masa-masa dulu dia sering jalan bersama Yeri.
"Tapi... Jantungku berdebar... Ketika aku bersamanya.."
"Siapa? Pria itu?" Tanya Yeri antusias.
"Bukan, wanita..."
"Mwo?!" Yeri terkejut.
"Aku juga bingung... Sebenarnya aku ini maunya apa. Maka dari itu, aku mengajakmu bicara agar kita bisa saling bertukar pikiran dan aku mencari solusinya."
"Aku mengerti. Tapi, bolehkah aku bertanya siapa pria dan wanita itu? Bukan murid sekolah kita kan?" Tanya Yeri pelan.
"Chanyeol dan sahabat kecil Chanyeol."
"MWO?! Chanyeol sunbae?!"
Yeri terkejut setengah mati mendengarnya. Pasalnya, dia sama sekali tidak pernah curiga bahwa pria tertampan idaman para wanita di sekolah itu adalah seorang penyuka sesama jenis. Bila kaum hawa di sekolah tau akan hal ini, para wanita di sekolah bisa ribut setengah mati.
"Eohh... Sebenarnya tidak seharusnya aku mengatakan ini. Tapi karna kau orangnya... Aku tahu kau tidak akan membeberkan hal ini."
"Aku mengerti... Jadi kau menyukai mereka berdua?"
"Aku tidak tahu, aku bingung."
"Hmm... Kalau begitu, pertanyaanku begini saja. Bila kau tinggal serumah dengan seseorang. Siapa yang kau pilih? Chanyeol? Atau wanita itu?"
"Tentu saja Chanyeol... Karena aku sudah nyaman dengannya. Kalau kau membandingkannya dengan wanita itu, aku bahkan baru mengenal wanita itu belum sampai 1 bulan."
"Yasudah, kalau begitu kau lebih memilih Chanyeol." Jawab Yeri singkat.
"Ehh? Itu saja? Kesimpulannya... Chanyeol? Padahal aku membingungkan hal ini setengah mati."
"Pilihlah yang lebih nyaman denganmu..." Jawab Yeri.
"Tapi, aku kan baru mengenal Hyewon sebentar saja. Bila aku mengenalnya lama dan nyaman dengannya bagaimana?" Baekhyun masih ragu.
"Sebenarnya, semua bergantung pada pilihan oppa sendiri. Mengenai dirimu yany gugup saat wanita itu ada di dekatmu dan dirimu yang sangat menyukai Chanyeol. Diantara kedua itu, salah satunya itu pasti hanyalah rasa yang bersinggah sementara dan akan pergi seiring berjalannya waktu."
"Benarkah? Apakah perasaan gugupku pada Hyewon hanya sementara saja?" Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri.
"Yah, menurutku, karena Oppa baru saja menjadi gay, karena kita juga sudah cukup dewasa untuk membicarakan ini, pasti ada hasrat dalam diri oppa untuk melakukan hal itu dengan wanita. Iya kan? seperti menyentuh dada wanita dan hal lain sebagainya..."
"Heol~ Perkataan mu barusan sepertinya jujur sekali ya..."
Kring~ Suara bel yang bergantung di pintu berbunyi menandakan ada orang yang masuk. Pria berambut pirang yang mengantar Yeri tadi telah datang untuk menjemput Yeri. Tepat 1 jam waktu yang dijanjikan, Taeyong berjalan menuju meja dimana Baekhyun dan Yeri berada.
"Apakah sudah selesai?" Tanya Taeyong sopan terhadap Baekhyun.
"Eohh... kupikir aku sudah tahu jawabannya... terima kasih Yeri-ya~. Dan juga Taeyong, terima kasih karena sudah membiarkan Yeri mengobrol sebentar denganku.."
"Ahh.. tidak apa-apa sunbae..." Jawab Taeyong canggung.
"Lain kali kalau oppa butuh solusi bisa hubungi aku saja, aku siap memberikan saran hahaha... bagaimana pun juga hubungan kita sekarang seperti oppa dongsaeng kan?" Yeri tersenyum lega.
"Eohh... aku pergi dulu ya, ada yang harus aku lakukan..."
"Hati-hati sunbae..."
"Hati-hati oppa.."
Baekhyun segera pergi keluar kafe dan memanggil taksi. Kemana dia pergi? Pulang. Tentu saja dia harus meluruskan beberapa hal dengan Hyewon. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu terus berada di rumahnya dan dia juga tidak bisa memberikan harapan palsu terhadap wanita itu. Bagaimanapun juga Baekhyun adalah pria baik-baik, dia tidak mau membuat hati orang terluka. Yah, walaupun Chanyeol sudah menjadi korbannya...
.
.
.
bip...bip...bip... Suara kode kunci pintu apartemen berbunyi. Baekhyun telah sampai dirumahnya dan langsung menuju ke ruang tamu. Hyewon berada disana, berduduk santai diatas sofa coklat berbahan kulit di ruang tamu sambil mengunyah keripik kentang dan menonton acara variety show di tv. Yah, memang wajah Hyewon yang tersenyum dan tertawa sekarang nampak sangat cantik bagi Baekhyun. Tapi Baekhyun harus meluruskan masalah ini.
"Hyewon-ah..." Panggil Baekhyun.
"ohh... Baekhyun oppa? Kau sudah pulang?" Hyewon langsung bangkit duduk dengan posisi yang benar dan mengecilkan suara televisi.
"Eohh... bisakah kita bicara serius sekarang..." Baekhyun menatap Hyewon dalam-dalam dan duduk disamping Hyewon.
'Ada apa ini? Apakah Baekhyun akan menyatakan perasaannya kepadaku sekarang? Apakah aku sudah berhasil menarik perhatian Baekhyun? Apakah akhirnya aku bisa mendapatkan hal yang kuinginkan?'
Baekhyun menuju dapur, mengambil 2 gelas air dan diletakkannya di meja ruang tamu. Yup, 1 untuknya dan 1 untuk Hyewon. Baekhyun berjaga-jaga kalau pembicaraan ini akan panjang atau mungkin dia menyiapkan air itu untuk hyewon yang memungkinkan akan kesal padanya.
"Hyewon-ahh..."
"Eohh oppa... katakanlah, ada apa?" Hyewon antusias.
"Kupikir, mulai sekarang kau bisa berhenti memanggilku oppa, lagipula kita juga seumuran kan?"
"Eohh? Kenapa? Maksudmu? Kau ingin ke tahap lebih lanjut?" Hyewon nampak terkejut dan tersenyum.
"Tidak... cukup Baekhyun saja. Byun Baekhyun. Aku ingin kau memanggilku dengan nama itu."
"Kenapa? Ada apa? Selama ini kau tidak masalah bila aku memanggilmu oppa..." Hyewon nampak bingung.
"Yah, itu semua karena aku memang tidak begitu mempermasalahkan hal ini. Tapi aku ingin meluruskan hal ini sekarang juga. Aku tidak mau mengikuti perkataan ayahku dan aku tidak mau dijodohkan denganmu. Aku hanya ingin menjadi sekedar teman saja bagimu. Lagipula aku mengenalmu belum lama dan juga aku sudah punya pacar." Terang baekhyun.
"Pacar? Siapa?" Wajah Hyewon nampak tidak senang.
"Chanyeol..."
"Bukankah kau lupa ingatan? Chanyeol? Bagaimana bisa?" Hyewon nampak terkejut.
"Sejujurnya aku tidak lupa ingatan, ingatanku telah kembali dan aku hanya ingin hidup seperti remaja remaja biasanya. Bersekolah dengan biasa saja, berpacaran dengan biasa saja dan menikmati masa-masa itu dengan nyaman. Tidak bisakah kau membantuku? Tinggalkan aku, aku tidak ingin menyakiti hati wanita baik-baik sepertimu." Terang Baekhyun.
Well, sebenarnya dengan tiba-tiba mengatakan dan menjelaskan hal seperti ini di depan Hyewon sudah termasuk menyakiti hatinya. Yah, walaupun Baekhyun tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut dan tidak membiarkan Hyewon jatuh lebih dalam ke dalam perasaanya. Tapi tetap saja Hyewon merasa tersakiti. Wanita yang rapuh sepertinya dan tidak suka akan penolakan dan pemberontakan atas keinginannya.
"Tidak bisakah oppa melupakan Chanyeol saja?" Tanya Hyewon lirih..
Yah, Hyewon tahu bahwa pernyataannya barusan merupakan hasil dari keserakahannya. Dia juga sudah tahu jawaban Baekhyun tanpa menanyakan hal ini. Tapi entah kenapa mulutnya masih saja menanyakannya. Sekedar memastikan hal yang sudah pasti.
"Maaf Hyewon-ah..." Nada Baekhyun rendah.
"Baiklah kalau begitu.. aku pergi, semoga hubunganmu berjalan dengan lancar.." Hyewon tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Eohh?" Baekhyun bingung.
"Kubilang semoga hubunganmu berjalan dengan baik dengan Chanyeol. Kita tetap bisa menjadi teman kan? Lagi pula kau orang baik-baik dan menarik kok. Menjadi temanmu pasti menarik.. hahaha..."
Yah, wajah tersenyum dan tawa Hyewon barusan terasa canggung dan terlihat palsu. Tapi itulah yang bisa ditunjukan oleh Hyewon semaksimal mungkin. Paling tidak, dia masih mengharapkan yang terbaik bagi hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Sebenarnya Baekhyun sendiri juga merasa tidak enak dan dia tahu bahwa Hyewon terlalu memaksakan. Tapi apa boleh buat, dia harus bisa percaya dengan wanita itu.
Hyewonpun pada akhirnya pergi dari apartemen itu dan menghilangkan jejaknya dari tempat Baekhyun. Sekarang apartemen itu terasa sangat kosong, hanya ada Baekhyun sendiri yang terduduk diruang tamu dengan tatapan kosong. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya diapun mengambil ponselnya.
"Hmm.. meet strangers..."
"Pcy61 ya..."
Baekhyunpun membuka aplikasi meet strangers kembali dan membuka room chat bersama pcy61 yaitu Chanyeol. Well, Baekhyun ingin mengontak Chanyeol, tapi mengingat dia tidak memiliki kontaknya dan sudah memblokir nomor Chanyeol, satu-satunya cara adalah mengirim pesan melalui aplikasi itu.
Ting~ Suara notifikasi ponsel Chanyeol berbunyi. Chanyeol yang sedari tadi hanya tiduran saja di ranjangnnya tanpa melakukan kegiatan apapun pada akhirnya meraih ponselnya yang berada di meja belajarnya. Matanya membulat besar. Betapa terkejutnya dia membaca preview notifikasi yang masuk. Ya, pesan dari Baekhyun lah yang masuk. Chanyeol segera menekan notifikasi itu.
Baconee04: Hei, Park Chanyeol...
Baconee04: Bagaimana bisa sih kau begitu bodoh...
Baconee04: Temui aku sekarang!
Chanyeol bingung. Kenapa Baekhyun malah mengatainya bodoh? Memangnya apa yang sudah dia lakukan?
pcy61: Dimana?
Baconee04: Tentu saja apartemenku!
pcy61: Ada apa?
Baconee04: Kau pikir, kenapa aku tiba-tiba mengirimu pesan lewat aplikasi ini dan bisa tahu kalau pcy61 adalah dirimu?
...
Chanyeol berpikir sebentar. Benar juga, Baekhyun yang lupa ingatan, mana mungkin tahu tentap perkenalan mereka melalui aplikasi meet strangers dan username pcy61 itu adalah Park Chanyeol. Yang Baekhyun lupa ingatan tahu hanyalah dia adalah pacar Chanyeol tetapi dia tidak percaya akan hal itu. Hal ini berarti...
pcy61: Ei... jangan bercanda... kau Kyungsoo ya?! Hahaha... aku tidak mudah tertipu.
Baconee04: Kau benar-benar sebodoh itu?
pcy61: Tidak mungkin kan ingatanmu kembali? Jangan bercanda...
Baconee04: Menurutmu untuk apa aku mengirimu pesan lewat aplikasi ini bila aku tidak tahu apa-apa akan dirimu? Yeol~
.
.
.
"Meet Strangers"
