[Last Chapter]
"Iyashi: Dainidankai.."
"Mmm, dengan begini derita yang dialami tiga bocah ini sedikit berkurang, mungkin aku akan meminta 'dia' untuk menyembuhkan luka dalam ketiga bocah ini"
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
Tap tap tap
Langkah kakek berambut putih itu ketika turun dari kapal yang memuat para pekerja tambang.
"Mmm, akhirnya sampai juga. Aku harus cepat!", ujarnya kepada dirinya sendiri sembari meneruskan langkah kakinya menuju tempat yang ingin ditujunya. Namun...
"Hei kakek tua! Bagaimana nasib kami?", ujar pekerja tambang yang masih dikapal kepada kakek tua berambut putih itu.
"Terserah kau saja. Kau bebas bersama semua yang ada di kapal. Urusan tujuanmu ingin kemana itu tergantung apa kata hatimu. Jangan terperdaya oleh tirani. Hiduplah sebebas-bebasnya", ujar sang kakek berambut putih kepada pekerja tambang itu dengan suaranya yang berat.
"Baiklah! Terimakasih sudah membebaskan kami kakek tua! Yosh, Minna sekarang kita sudah bebas dari tirani. Dan apa kalian semua dengar? Kita harus hidup seperti apa yang kita inginkan!", teriak pekerja tambang itu kepada pekerja yang lainnya dengan penuh semangat.
"Yokkata! Akhirnya kita bebas. Kami-sama, terimakasih! Kakek berambut putih, terimakasih! Semoga engkau diberi berkah oleh Kami-sama", seru para pekerja lainnya dengan lantang.
Drap drap drap
"Kakek tua! Bawa kami bersamamu!", ucap para pekerja sambil menghampiri kakek berambut putih itu.
"Ahh, tidak tidak. Kalian harus menuntun diri kalian sendiri. Aku juga tidak bisa membawa kalian semua, lagipula aku mempunyai tujuan. Apa kalian tidak memilikinya? Harusnya kalian memilikinya. Bebas, bahagia, berguna bagi orang lain, itu juga merupakan tujuan. Jadikan salah satunya sebagai tujuan kalian. Hiduplah kalian dengan semestinya, hiduplah dengan jalan kalian. Jaa, sampai bertemu dilain kesempatan. Ingat, jangan pernah terlibat dengan tirani itu!", ujar kakek berambut putih itu dengan bijak sembari berlalu dari hadapan para mantan pekerja tambang itu.
"Haik! Kami mengerti. Terimakasih banyak kakek tua akhirnya kami memiliki tujuan hidup yang sebenarnya. Aku tidak akan pernah lupa denganmu!", ucap para pekerja sembari meneteskan air mata tak kala mendengar nasihat dari kakek itu.
Tap tap tap
Terdengar suara langkah kakek berambut putih itu sedang melintasi hutan dengan menggendong tiga anak berusia 9 tahun yang berbeda warna rambut itu. Kakinya terus melangkah menuju kearah timur. Cuaca cerah, dengan sang matahari yang berada tepat di atas kepala. Peluh membasahi tubuh kakek berambut putih itu.
Krucuk krucuk krucuk
Tak jauh dari jalan yang dilewati kakek itu terdengar suara riak air. Kakek berambut putih pun menghampiri aliran sungai itu. Ia meletakkan ketiga bocah yang digendongnya tadi ke salah satu pohon rindang dekat aliran sungai itu.
Sruuup
"Ahh, segarnya...", ujar sang kakek setelah puas meminum air sungai. "Mungkin aku akan sampai disana pada sore hari nanti, semoga 'dia' masih berada disana. Aku harus cepat", sambungnya kembali.
Sett tep
"Aku harus bergerak", ucap sang kakek kepada dirinya sendiri. "Sayang aku akan kembali, semoga kau baik-baik saja. Tunggu aku disana", lanjutnya kepada dirinya sendiri sembari kembali menggendong ketiga bocah itu, dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju timur yaitu Gunung Gongen.
Burung-burung pulang kesarangnya masing-masing, meninggalkan tempatnya mencari makan. Cahaya mentari pun terlihat oranye menyala dengan gradasi biru yang memberi pesan bahwa hari sudah sore. Dijalan setapak dipinggir hutan terlihat sebuah rumah sederhana berbahan kayu dengan kokohnya berdiri, seakan baru dibangun siang tadi, rumah itu bersih dan rapi, sederhana namun nampak nyaman terlihat dari luar.
Tep tep tep
Langkah kaki sang kakek berambut putih itu pun terhenti tak kala melihat rumah sederhana itu. Sebuah senyum simpul terlihat diwajahnya.
"Mmm, setidaknya aku tau kalau kau ada dirumah sayang. Dan juga, kau telah menjaga rumah itu dengan baik", ucap kakek berambut putih dengan suara beratnya dan senyum simpul yang belum lepas daritadi.
Ceklek krieeeeet
"Aku pulang! Tsunade, apa kau ada dirumah?", seru sang kakek berambut putih agak sedikit berteriak kepada penghuni rumah itu.
"Haik!", ucap seseorang dari dalam rumah.
Drap drap drap grepp!
"Anata, kau selamat! Yokatta, Kami-sama. Kupikir kau sudah mati meninggalkanku sendiri hiks hiks hiks", ucap wanita cantik bermata coklat dan berambut kuning pucat itu sembari langsung memeluk kakek berambut putih itu dengan erat sambil menangis haru.
"Yosh yosh, aku ada disini Tsuna. Lagipula aku tidak mudah mati Tsuna. Dan juga aku, Jiraiya tidak akan merusak janji yang sudah aku buat kepadamu Tsuna", ujar sang kakek berambut putih yang diketahui bernama Jiraiya kepada Tsunade sembari membalas pelukannya sambil mengelus puncak kepala wanita itu.
"Kau jahat, meninggalkan aku sendiri disini. Aku kesepian tau hiks hiks hiks", ucap Tsunade dengan masih menangis dalam pelukan Jiraiya.
"Itu jalan terbaik satu-satunya Tsunade. Aku tak bisa bertarung sambil melindugimu dulu. Lagipula aku sudah selamat sekarang, apa kau tidak senang?", balas Jiraiya dengan suara beratnya, berusaha menghibur Tsunade yang merupakan istrinya.
"Mou, Anata kau sudah setahun tidak pulang. Maka dari itu aku selalu mencemaskanmu. Aku berharap kau pulang disetiap malam, aku berdoa kepada Kami-sama untuk selalu memberikan keselamatan untukmu, dan aku berusaha untuk tidak berfikir bahwa kau sudah mati hiks hiks", ucap Tsunade masih dengan kondisi menangis.
"Aku disini sayang. Aku telah kembali. Doamu kepada Kami-sama telah terkabulkan. Sudah jangan menangis lagi, aku disini. Kau tampak jelek jika menangis. Hora, ayo tampakkan senyummu yang cantik itu padaku", balas Jiraiya pada Tsunade sembari mengusap air mata yang masih senantiasa menetes keluar dari mata istrinya itu.
"Haik! Aku akan berhenti menangis", ucap Tsunade sembari tersenyum untuk Jiraiya.
"Ahh, sudah kuduga bila senyumanmu sangat cantik Tsuna", goda Jiraiya kepada Tsunade.
Blush presss
"Uhhn, kau membuatku malu Jiraiya. Tapi mau bagaimana lagi", balas Tsunade dengan wajah yang memerah akibat godaan Jiraiya.
"Ahh, Anata...", lanjut Tsunade dengan wajah yang makin memerah sembari mendekatkan bibir tipisnya ke bibir Jiraiya. Namun...
Sett
"Kita lanjutkan nanti Tsuna. Aku butuh bantuanmu untuk menyembuhkan ketiga bocah ini dulu", ucap Jiraiya sembari menghentikan bibir Tsunade yang hampir menyentuh bibirnya menggunakan jari telunjuknya.
"Mmm, baiklah. Lalu siapa mereka Jiraiya?", tanya Tsunade
"Akan kujelaskan nanti Tsuna. Ayo cepat kita sembuhkan mereka", ucap Jiraiya tanpa menjawab pertanyaan yang dilayangkan Tsunade kepadanya.
"Baiklah. Bawa mereka masuk aku akan menyembuhkan mereka", balas Tsunade sembari merjalan masuk kedalam yang diikuti oleh Jiraiya dibelakangnya.
"Iyashi: Daihachidankai...", bisik Tsunade pelan. Kemudain...
Zrinngggg
Luapan sihir mengalir ketangan Tsunade, dengan aura hijau tua yang menandakan bahwa sihir itu merupakan sihir tipe penyembuh. Sihirnya termasuk sihir tingkat tinggi, sihir tingkat 8 dari 12 tingkatan sihir ini mampu menyembuhkan luka serangan fisik, luka dalam, dan racun yang ada pada tubuh korban atau pengguna sihir.
"Luka dalamnya cukup parah, beberapa tulang mereka patah dan beberapa organ dalamya terluka, namun aku telah menyembuhkannya. Namun butuh waktu seminggu untuk menunggu mereka sadar, karena mereka juga sebelumnya menggunakan sihir secara terus-menerus, jadi butuh waktu untuk mereka menstabilkan energi sihir yang ada pada tubuh mereka", ucap Tsunade setelah menyembuhkan luka dalam ketiga bocah berbeda warna rambut itu.
"Mmm, syukurlah. Terimakasih Tsunade", ujar Jiraiya sembari tersenyum kepada Tsunade.
"Apapun untukmu Anata", jawab Tsunade. "Bisa kau ceritakan kenapa tiga bocah ini bisa terluka Jiraiya?", sambung Tsunade dengan pertanyaan yang kali ini terlihat serius kepada Jiraiya.
"Ahh, haik haik akan aku ceritakan padamu", ucap Jiraiya sembari memulai ceritanya kepada Tsunade dari mulai dirinya berpisah dengan Tsunade, ditangkap oleh para pasukan tirani, menjadi pekerja rodi, sampai menghabisi para pasukan yang berjumlah puluhan tirani beserta pimpinannya yang ditugaskan untuk mengawasi para pekerja tambang diceritakannya dengan jelas oleh Jiraiya.
"Seperti itulah Tsuna ceritanya", ucap Jiraiya mengakhiri cerita panjangnya kepada Tsunade yang hanya bisa diam dan menahan air matanya yang ingin tumpah.
Grebb
"Berjanjilah padaku untuk selalu disisiku Jiraiya. Aku tidak sanggup hidup tanpamu", ucap Tsunade sembari menenggelamkan wajahnya ke dada Jiraiya.
"Haik, aku akan ada disisimu Tsunade. Bahkan jika jantungku tertusuk puluhan pedang pun aku akan tetap disisimu", jawab Jiraiya sambil membalas pelukan istrinya.
"Arigatou Anata. Aku mencintaimu", ucap Tsunade yang masih memeluk Jiraiya.
"Aku juga mencintaimu Hime", balas Jiraiya terhadap pernyataan cinta dari sang istri.
"Ano, apa kau mengenal bocah-bocah itu Jiraiya?", tanya Tsunade penasaran terhadap identitas ketiga bocah itu kepada Jiraiya.
"Aku belum sempat berbicara kepada mereka. Hanya satu yang menurutku aku kenal dengannya. Bocah berambut kuning itu mengingatkan aku kepada Minato, muridku dulu", jawab Jiraiya santai sembari menunjuk kearah Naruto.
"Minato? Ahh muridmu yang selalu bersama Khusina-chan itu. Tapi mereka sudah mati bukan? Aku lupa apakah dia mempunyai anak atau tidak", ujar Tsunade membalas penyataan suaminya itu.
"Apakah mereka spesial bagimu? Pasti ada alasan darimu kenapa membawa bocah-bocah itu kesini", sambung Tsunade lagi dengan pertanyaan.
"Ya, mereka spesial. Bocah-bocah itu mempunyai banyak energi sihir ditubuhnya. Mereka irregular sama seperti kau dan aku. Dan hebatnya ditubuh mereka yang sekecil itu sudah mampu membuka teknik Geto tingkat dua", ucap Jiraiya santai menjawab pertanyaan Tsunade.
Geto merupakan sihir penguatan diri bagi pengguna sihir tersebut, sihir ini terdiri dari 12 tingkatan kekuatan, tiap tingkat kekuatan menaikkan kekuatan sebanyak 10 kali kekuatan pengguna sihir. Tingkat 1 sihir ini memberikan efek kekuatan 10 kali, tingkat 2 memberikan 20 kali kekuatan fisik, dan seterusnya, teknik sihir ini mempunyai residu yang besar bagi pengguna sihir, umumnya pengguna sihir hanya mampu mengaktifkan sihir ini selama 5 menit, namun dapat diperpanjang apabila diiringi dengan latihan.
"Uso! Bocah-bocah itu masih kecil, butuh setidaknya 4-5 tahun lagi untuk membuka Geto tingkat dua", ucap Tsunade tidak percaya dengan ucapan Jiraiya.
"Terserah kau percaya atau tidak Tsuna, aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri saat bocah itu menggunakan sihir itu", sanggah Jiraiya.
"Tapi kau tak cerita soal bocah-bocah itu tadi", ucap Tsunade dengan nada bicara yang sedikit naik.
"Tenanglah Tsuna. Aku tidak mau memberikan informasi sensitif seperti ini bila kau sempat menjadi seperti gadis sekolahan yang sedang bertengkar dengan kekasihnya tadi. Maka dari itu aku tidak menceritakan hal ini kepadamu tadi", ujar Jiraiya santai sambil sedikit menggoda Tsunade.
"Hmph, kau ini!", ucap Tsunade degan pipi memerah akibat dirinya disamakan dengan gadis sekolahan dan sedikit nagmbek kepada Jiraiya.
Kruyuuuuk
"Ahahahaha, aku belum makan apapun 3 hari ini Tsuna", ucap Jiraiya ketika perutnya demo akibat tidak diisi selama beberapa hari.
"Ahh, akan kubuatkan makan malam untuk kita berdua. Kau mandi lah terlebih dahulu Jiraiya", ucap Tsunade.
"Kenapa harus mandi? Kau memelukku erat tadi", goda Jiraiya kepada Tsunade.
Blusssh
"Mou, cepatlah mandi atau tidak ada makan malam untukmu", balas Tsunade dengan sedikit ancaman kepada suaminya.
"Haik haik, aku akan mandi", pasrah Jiraiya terhadap ancaman yang dilancarkan oleh isrinya. Kemudian ia pergi kebelakang rumah untuk membersihkan badannya yang jarang ia bersihkan akibat menjadi pekerja rodi.
"Ahh, masakanmu selalu enak sayang", ujar Jiraiya memuji masakan Tsunade sembari mengusap perutnya.
"Tentu saja, karena semua untukmu Anata", jawab Tsunade membalas pujian dari suaminya.
"Ne, Tsunade. Aku sudah lama tidak menikmatimu", ucap Jiraiya dengan senyum genitnya kepada Tsunade.
"Mou, Jiraiya", balas Tsunade malu-malu dengan semburat merah di pipinya.
Jiraiya mendekatkan dirinya kearah Tsunade dengan masih memasang senyum genitnya.
Cupp
"Kau cantik Hime. Dan kau akan ku santap sekarang", ujar Jiraiya setelah mencium bibir tipis nan menggoda Tsunade.
"Ahh, Anata aku hanya milikmu. Hora, nikmati tubuhku ini", ucap Tsunade memberi kesempatan untuk suaminya menikmati dirinya.
Sett grebb
"Ayo kita pindah kekamar", ujar Jiraiya sembari menggendong Tsunade menuju kamar mereka
"Mmm, seperti biasa kau selalu tidak sabaran Anata", ujar Tsunade yang hanya dijawab dengan kekehan kecil dari Jiraiya.
Cupp cupp slrrrrrpp
"Ahhhhnnnn", desahan Tsunade tak kala meladeni ciuman panas dari Jiraiya yang dengan nafsunya melahap bibir Tsunade.
Haaah haah haah
Desahan nafas keduanya ketika mengakhiri ciuman atau lumatan panas mereka. Benang salifa menghubungkan antara bibir Tsunade dan Jiraiya.
"Sudah kuduga kau sangat menggoda istriku", ucap Jiraiya dengan nafsu yang membara.
"Semua hanya milikmu Anata hahh haah hah", ucap Tsunade yang masih terengah-engah karena lumatan yang diberikan Jiraiya kepadanya.
Sreet srett srett
Dengan lihai Jiraiya membuka kimono yang dipakai Tsunade. Menampakkan tubuh indah bak wanita berumur 22 tahun. Kulit putih yang bersinar, lekukan pinggulnya yang indah, payudara dengan ukuran ekstra nya yang menggoda, serta area kewanitaannya yang bersih dan terawat sudah cukup untuk membuat Jiraiya melongo sembari mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Mou, jangan dipandangi saja. Manjakan juga mereka dan buat aku puas", goda Tsunade kala dipandangi dengan tatapa mesum dari suaminya sambil berusaha menutupi kedua payudaranya dengan tangannya.
"Dengan senang hati istriku". Cupp. Kembali Jiraiya mengecup bibir sang isrti sebelum melakukan apa yang istrinya minta.
"Ahhhhhhhnnn uhhhhh", desah Tsunade ketika Jiraiya menghisap kedua payudaranya secara bergantian.
"Anata, aku sudah tidak tahan lagi. Berikan aku 'itu'", lanjut Tsunade yang sudah tidak tahan ingin bercinta dengan suaminya. Jiraiya tidak menjawab dan langsung memposisikan dirinya diantara kedua kaki jenjang milik Tsunade.
Jlebb
"Ahhhhhhhhhhhhnnn", desah Tsunade ketika penis milik Jiraiya masuk seluruhnya kedalam vaginanya.
"Uhhhh, sempit sekali. Apakah ini sakit Hime?", tanya Jiraiya takut bila ia telah melukai istrinya.
"Tidak Anata. Kau boleh bergerak sekarang", ucap Tsunade mempersilahkan Jiraiya untuk bergerak.
Jleb jleb jleb
"Ahh ahhh ahhhhhnn", desah Tsunade ketika Jiraiya memaju mundurkan pinggangnya. Tidak membiarkan payudara Tsunade bebas, Jiraiya langsung meremas dan mengulum kedua payudaranya secara bergantian membuat Tsunade makin mendesah.
"Ahhhhhh ahhhh aaaaaahhhhh Anata sedikit lagi ahhhhnnnn aku akan sampai ahhhh", desah Tsunade semakin menjadi-jadi kala Jiraiya mempercepat tempo gerakannya.
"Uhhhhh ahh ahh aku juga Hime uhh sedikit lagi aku sampai", balas Jiraiya yang juga ingin mencapai klimaks.
"Ahhh ahhhh ahhhhhnnn ahhhhhhhnnn aku keluar!", "Uhhh mmmhhh uhhhhh aku juga keluar". Pekik keduanya ketika mecapai klimaks secara bersamaan.
Squizzzzzz
Sperma Jiraiya memenuhi rahim Tsunade. Setelah mencapai klimaks keduanya terbaring lemas diatas tempat tidur.
"Uhhhkk, itu tadi luar biasa. Sudah lama aku tidak merasakan itu. Arigatou Tsuna", ujar Jiraiya sambil mendekap Tsunade, membawanya kedalam pelukannya.
"DÅitashimashite Anata", balas Tsunade.
"Ne, Anata. Apa yang akan kau lakukan kepada ketiga bocah itu?", tanya Tsunade yang ada didekapan Jiraiya kepadanya.
"Mmm, pertanyaan bagus. Tentunya akan kulatih mereka dengan keahlian dan pengetahuan yang aku miliki, juga aku mohon agar kau juga ikut melatih mereka bertiga. Aku memilik firasat bahwa ketiga anak itu spesial, beda dari irregular lainnya yang pernah aku temui. Dan juga aku akan membimbing mereka untuk merobohkan pemerintahan tirani busuk ini", jawab Jiraiya dengan nada yang menurut Tsunade dingin baginya.
"Aku mengerti Jiraiya. Aku akan melatih mereka, dan juga ikut membantumu merobohkan pemerintahan tirani keparat itu, mereka telah mengambil banyak hak masyarakat", ucap Tsunade yang juga ikut memanas.
"Santai saja Tsuna. Untuk sekarang biarlah seperti ini dulu", ujar Jiraiya menenangkan Tsunade sembari mengeratkan pelukannya kepada Tsunade.
"Wakatta", balas singkat Tsunade.
Mereka pun tertidur dengan saling berpelukan erat setelah memadu kasih sayang diantara keduanya. Hari ini pun akhiri dengan hadirnya Jiraiya kembali kesisi Tsunade.
Hari kemarin adalah sejarah dan hari esok adalah rahasia ilahi yang terus akan berulang. Cita-cita mereka terukir abadi di hatinya, harapan baru terlahir sebagai wujud adanya tujuan hidup baru.
