Greedy - Shi no Toki ch.4
[Last Chapter]
"Aku mengerti Jiraiya. Aku akan melatih mereka, dan juga ikut membantumu merobohkan pemerintahan tirani keparat itu, mereka telah mengambil banyak hak masyarakat"
"Santai saja Tsuna. Untuk sekarang biarlah seperti ini dulu"
"Wakatta"
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
"Hnng uhhhk! Dimana ini? Kepalaku sakit uhhkk", rintih Naruto terbangun sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"!"
"Sasuke! Gaara!", pekik Naruto ketika melihat kedua sahabatnya terbaring disebelahnya dengan keadaan tidak sadar sembari sedikit menggoyangkan tubuh keduanya secara bergantian berniat untuk membangunkan Sasuke dan Gaara.
"Oho, kau sudah bangun ternyata bocah?", tanya Jiraiya yang datang dari arah dapur kepada Naruto.
"Kakek pekerja tambang! Kau salamat!", seru Naruto tanpa menjawab pertanyaan Jiraiya.
"Maa maa, ini memang aku", ucap Jiraiya sambil meletakan kedua tangannya dipinggangnya. "Dan berhenti memanggilku kakek. Namaku Jiraiya. Panggil aku dengan nama itu", sambung Jiraiya sambil memperkenalkan dirinya kepada Naruto.
"Haik! Jiraiya-sama. Namaku Naruto, Naruto Uzumaki!", ucap Naruto sambil memperkenalkan dirinya juga kepada Jiraiya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Jiraiya-sama", ujar Jiraiya ketika mendengar Naruto memanggilnya dengan panggilan Jiraiya-sama.
"Haik! Ji-san", ujar Naruto mengindahkan permintaan Jiraiya.
"Hahh, bagus bila kau mengerti", ucap Jiraiya sambil tersenyum. "Aku punya pertanyaan untukmu", sambung Jiraiya dengan nada yang serius.
"Bertanya apa Ji-san? Aku akan berusaha menjawabnya", jawab Naruto ketika ditanya dengan serius oleh Jiraiya.
"Apakah kau anak dari Minato dan Kushina?", tanya Jiraiya kepada Naruto dengan nada serius.
"Haik. Namun mereka telah tiada. Mereka mati saat perang Ji-san", jawab Naruto dengan nada rendah sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan mata birunya hingga tak nampak oleh pandangan Jiraiya.
"Maafkan aku menanyakan itu Naruto. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu kepada mendiang kedua orangtuamu", ucap Jiraiya agak panik. Tidak dipungkiri bahwa Jiraya merasa dirinya telah melukai hati Naruto.
"Tidak apa-apa paman. Aku telah menerimanya", ujar Naruto kembali mengangkat kepalanya menatap Jiraiya dengan bingung. "Kenapa Ji-san bisa tau Ayahku?", sambung Naruto dengan pertanyaanya.
"Ahh, bisa dibilang Ayahmu itu muridku", jawab singkat Jiraiya sambil mengusap-usap dagunya.
"Woah! Ternyata kau gurunya Ayah! Tou-san pernah menceritakanmu kepadaku dulu! Apakah aku boleh memanggilmu Sensei?", seru Naruto panjang lebar dengan semangatnya yang menggebu-gebu.
"Boleh saja Naruto, dengan senang hati", ujar Jiraiya kepada Naruto sembari tersenyum lebar.
"Mmm, Sensei kalau boleh tau ini dimana?", tanya Naruto lagi dengan penasaran kepada Jiraiya sambil melihat sekelilingnya.
"Tentu saja ini dirumahku Naruto. Aku membawamu beserta kedua temanmu saat kau tak sadarkan diri. Aku kabur dari pulau itu dengan kapal", jawab Jiraiya santai masih dengan senyum lebarnya dan tangan yang ia lipat di depan dadanya.
Tep tep tep
"Dia sudah sadar Anata?", dari arah dapur keluar wanita cantik bermata coklat dengan kimono hijaunya menghampiri Jiraiya yang sedang ngobrol bersama Naruto.
"Ya, Tsuna dia sudah sadar. Lebih cepat dari yang kau bilang Tsuna. Yaa tidak usah meragukan keluarga itu dan dia adalah anak dari Minato dan Kusihina", ucap Jiraiya dengan santai masih dengan posisi yang sama.
"Mmm, keturunan Kushina-chan tidak perlu diragukan lagi Anata", ujar Tsunade tersenyum sembari mendekat kearah Naruto.
Gerbb
Tiba-tiba Tsunade yang baru datang memeluk Naruto dengan erat sambil menintikkan air matanya. Tangisannya pecah.
"Maafkan Baa-san, Baa-san tidak dapat melindungi orangtuamu saat perang dulu hiks. Maafkan Baa-san. Baa-san harusnya bisa melindungi mereka hiks. Maafkan Baa-san", tangis Tsunade makin menjadi-jadi sambil meminta maaf kepada Naruto karena tidak dapat melindungi kedua orangtuanya, terlebih melindungi ibunya dulu.
Naruto yang kaget pun hanya diam, mendapatkan pelukan dari Tsunade, Naruto pun langsung dengan sigap membalas pelukannya itu.
"Haik Baa-san. Aku mengerti dan aku telah memaafkanmu. Hora, jangan menangis lagi Baa-san", ucap Naruto didalam pelukan Tsunade.
Jiraiya yang melihat itu semua hanya diam membisu, tidak dapat berbicara apa-apa karena menurutnya ia juga merasa bersalah kepada Naruto.
Flashback On!
Blaaaaaaarrr blaaaaar blaaar
Malam itu badai sedang berlangsung, petir terlihat mengamuk menghantamkan ribuan volt aliran listrik ke bumi. Terlihat sekelompok orang sedang berdiskusi didalam sebuah ruangan.
"Jendral, kita dapat tugas dari markas pusat!", ucap salah satu pasukan kepada Jendral berambut kuning dengan nama Minato Namikaze.
"Sebutkan!", ucap Minato singkat kepada pasukan yang membawa selembar amplop ditangannya.
"Haik! Jendral mendapat tugas dari markas pusat untuk mengantarkan langsung cetak biru strategi perang ke markas bagian selatan sesegera mungkin", ujar pasukan itu menerangkan apa tugas yang diberikan markas pusat kepadanya.
"Bagian selatan? Itu sangat berbahaya rute ke arah selatan banyak sekali musuh. Minato aku tidak mengizinkanmu pergi", ujar Jiraiya dengan nada suara yang agak naik. Tsunade yang ada disebelah Jiraiya pun ikut mengangguk mendengar larangan yang dilayangkan Jiraiya.
"Sensei, ini perintah mutlak dari markas pusat untukku. Aku harus mengantarkan ini secepatnya. Saluran radio bagian selatan juga terputus, maka aku akan turun langsung secepat mungkin", ucap Minato tidak mengindahkan ucapan Jiraiya yang melarangnya.
"Anata, izinkan aku ikut dengan mu!", ujar Khusina yang sedari tadi diam mendengarkan mereka berdiskusi.
"Baiklah kalau begitu. Ayo mari kita bergegas!", ucap Minato kepada istrinya yang hanya dijawab dengan anggukan dari Kushina.
"Sensei, kalian berdua tolong ambil alih komando disini. Aku akan segera kembali setelah menyerahkan ini", ujar Minato kepada Jiraiya dan Tsunade yang hanya dibalas dengan anggukan dari keduanya.
Brooooom brooom broooom
Terdengar suara mobil yang keluar dari pangkalan itu, menandakan Minato dan Kushna telah berangkat mangantarkan strategi perang ke markas bagian selatan. Hujan masih mendera pada malam itu, petir senantiasa menemani sang hujan semakin menambah rasa mencekam pada malam itu.
"Tsuna, aku memiliki firasat buruk untuk mereka berdua. Ayo mari kita buntuti mereka", ujar Jiraiya kepada Tsunade yang merasakan firasat yang tidak enak terhadap keduanya.
"Haik! Orochimaru ambil alih komando disini aku akan membuntuti Kushina dan Minato. Aku akan segera kembali bersama mereka", ucap Tsunade kepada lelaki berambut panjang yang sedang mengketik sesuatu dengan mesin ketik.
"Haik, kalian berdua berhati-hatilah", ujar Orochimaru masih dengan mengketik tanpa melihat keduanya.
"Kami pergi dulu", ujar Jiraiya singkat meninggalkan pangkalan bersama Tsunade membututi Minato bersama Kushina.
Diderasnya hujan malam itu terlihat mobil Jeep Willy tengah melaju melewati jalan itu. Teasa sunyi jalan itu, hanya suara hujan, petir, dan saura mesin kendaraan yang terdengar di jalan itu.
"Kushina, apa ini tidak terlalu sunyi untukmu?", tanya Minato memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Kau benar Anata. Apakah pasukan kita tidak ada yang berjaga disini?", ucap Kushina membenarkan ucapan Minato.
"Ini aneh, coba kau pindai wilayah ini Kushina. Aku mohon", ucap Minato tanpa melepaskan pandangannya.
"Haik", jawab singkat Kushina diikuti dengan senyumnya yang terkembang. Dan kemudian ia berbisik. "Mittsume..."
Mittsume, teknik sihir berjenis pengelihatan atau bisa disebut dengan pengelihatan batin. Mampu mendeteksi musuh hingga mencapai 10 mil jauhnya. Tidak semua orang bisa menggunakan teknik ini.
Sringg
Kushina kemudian menutup matanya. Dalam pengelihatannya Kushina tidak mendeteksi adanya bahaya musuh yang ada.
"Tidak ada gangguan apapun Minato. Aman", ucap Kushina sembari menganggukan kepalanya, meyakinkan suaminya bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
"Syukurlah jika begitu. Arigatou telah menggunakan kekuatanmu untukku", ucap Minato dengan senyum yang terpatri diwajahnya kepada istrinya.
"Dōitashimashite, aku akan membantumu sekuat tenagaku", ujar Kushina juga dengan senyuman.
"!"
Cing blarrrrrrrrrrrrrrrrr
Mobil yang ditumpangi mereka berdua meledak terkena ranjau darat. Dengan gelar Jendral dan Sekjen, Minato dan Kushina mampu menyelamatkan diri mereka sesaat sebelum mobil yang mereka tumpangi terkena ranjau darat.
"Kushina! Kau tidak apa-apa?", tanya Minato panik kepada Kushina.
"Aku baik-baik saja Anata", jawab Kushina singkat sembari menegakan posisinya dari posisinya yang sebelumnya setengah berjongkok. "Sudah kuduga ini akan terjadi", ujar Kushina kembali.
"Siaga, mungkin kita akan kedatangan musuh! Aku sudah meminta bantuan dari pangkalan", ujar Minato sembari memberi arahan kepada istrinya untuk siaga terhadap keadaan.
Hujan masih mengguyur dengan lebatnya malam itu, suara petir terus berdentum seolah menjadi melodi kematian untuk kedua pasangan suami-istri ini. Keduanya menyiapkan posisi siaga.
"Yin: Hiraishin...", ucap Minato pelan dan seketika Minato memegang dua buah kunai bermata tiga dengan aksara kanji unik pada gagangnya dikedua tangannya. Sebuah senjata yang telah memakan puluhan ribu orang saat dimedan perang. Yin, teknik sihir 'hitam' tingkat 13, sihir yang mampu memanggil senjata terkutuk yang dimiliki oleh Minato, butuh sekiranya waktu 5 tahun untuk hanya bisa memanggil senjata gaib itu.
"Kushina kau juga harus bersiap, aku merasakan pergerakan musuh!", ucap Minato kepada istrinya agar bersiap untuk menghadapi musuh yang dirasa makin mendekat kearah mereka berdua.
"Haik", jawab Kushina pelan dan dilanjutkan dengan bisikan...
"Yang: Shinjitsu no kusari...", seketika muncul rantai panjang beraurakan emas keluar dari telapak tangan Kushina. Yang, teknik sihir 'putih' tingkat 13 milik Khusina. Sihir 'putih' dapat memanggil hal-hal gaib lainnya tidak terkecuali senjata, namun daya hancur senjatanya tidak sekuat sihir 'hitam'.
"Mereka datang!", seru Minato kepada Kushina. Mereka berdua pun menyiapkan kuda-kuda bertarung mereka.
Dor dor dor
Suara tembakan yang dilepaskan musuh yang datang mengepung mereka terus menderu. Minato dengan kunai bermata tiganya menebas satu persatu musuh yang datang.
Srezzzz sratttt zreeeezzz aaaaaaaarrrrrghhhh
Suara bertemunya mata kunai dengan kulit leher musuh menambah suasana mencekam padam malam itu. Suara teriakan para musuh yang menhadap maut pun terdengar seperti nyanyian malam yang menyeramkan.
Swuuuuzzz crakk crakk aaaaarrrghhh
Kushina tidak kalah membabi buta lawan-lawannya, dengan rantai emasnya ia menusuk musuh musuhnya, mengakibatkan tubuh musuh berlubang. Tanah yang tadinya coklat menjadi merah darah karena ulah keduanya. Bak malaikat pencabut nyawa mereka berdua menghabisi lawan-lawan mereka.
Zrasssss aakkkkkkhhhh
Musuh terakhir dipotong menjadi dua oleh Minato dengan kunai bermata tiganya. Bau anyir darah menyeruak dari mayat-mayat yang bergeletakan, sebuah pembunuhan masal yang sangat sadis mampu diciptakan oleh pasangan suami-istri itu.
Grebb
"Kushina kau tidak apa-apa?", tanya Minato kepada Kushina sambil memeluk istrinya dengan erat.
"Haik haik, aku baik-baik saja Minato. Jangan terlalu khawatir kepadaku", balas Kushina sambil membalas pelukan yang dilayangkan oleh suaminya, ia tersenyum dalam dekapan suaminya itu.
Di tempat yang jauh terlihat 12 orang terpisah tengah memamerkan senyum bak iblis mereka. 12 orang itu letaknya seperti angka pada jam, melingkar dengan Minato dan Kushina sebagai pusatnya, mereka berjarak 12 mil jauhnya dengan memegang senjata berjenis sniper dengan aura ungu melapisi senjata mereka.
"Sekarang!...", ucap 1 orang sniper kepada 11 orang temannya. Kemudian mereka secara bersamaan mengokang senjata mereka. Dan kemudian mereka melepaskan tembakan kearah Minato dan Kushina secara bersamaan.
Terlihat peluru meluncur kearah mereka dengan sangat cepat, peluru itu bukan peluru biasa, peluru yang meluncur berwarna hitam dengan aura ungu yang menguar dari peluru yang meluncur itu.
Petttsss crattt jlebb
"Uhukkk!...", pekik pasangan suami-istri itu ketika masing-masing dari mereka menerima 6 peluru yang menghujani mereka tepat mengarah ke jantung. Sakit teramat sangat dirasakan oleh pasangan itu. Masih dalam posisi berpelukan mereka merasakan detik-detik terakhir nafas mereka di dunia ini.
"Uhhhhkk, si...al ter...nyata ki...ta ber...ak...hir di...sini", ucap patah patah Minato. Nafas berat ia rasakan. Jantungnya makin melemah tiap detiknya. Sihir penyembuh sudah tidak lagi dapat menolongnya.
"Uuughh, ma...af...kan ka...mi Na...ru...to", ucap lirih Kushina sembari meminta maaf kepada anaknya. Air mata menetes deras dikedua matanya. Ia dan suaminya sekarat, tinggal menunggu Shinigami-sama saja untuk mereka meninggalkan dunia ini.
Brugg
Mereka berdua jatuh tertidur karena tenaga mereka yang sudah hampir habis dan juga makin dekat dengan kematian. Mereka tersungkur dengan masih berpegangan tangan.
"Mi...nato ak...u me...ngan...tuk", ujar Kushina kepada Minato yang ada dihadapannya.
"A...ku ju...ga Ku...shi...na. A...yo ki...ta le...wa...ti i...ni sem...ua ber...sama", ucap Minato merasakan kematiannya yang kian dekat
Dari ujung jalan terlihat mobil yang memuat Jiraiya dan Tsunade melaju kencang kearah Minato dan Kushina.
"Sialan, kita terlambat! Cepat bantu mereka!", ujar Jiraiya sambil berlari menghampiri mereka.
"Minato, Kushina bertahanlah! Aku akan menyembuhkanmu", seru Tsunade yang telah ada disamping mereka. Air matanya membanjiri kedua matanya.
"Ti...dak Sen...sei ka...mi te...lah ber...ak...hir", ucap Kushina menolak sihir penyembuhan gurunya. Ia merasa itu hal yang sia-sia. Mendengar hal itu Tsunade makin menjadi-jadi. Jiraiya yang menyaksikan itu semua menahan tangisnya sekuat tenaga, ia harus tegar.
"Baiklah, apa wasiat terakhir kalian berdua. Aku bersumpah atas nama Kami-sama akan mengabulkan keinginan kalian berdua", ujar Jiraiya memposisikan dirinya berjongkok disamping Minato.
"Sen...sei to...lo...ng te...mui da...n ra...wat Na...ru...to", ujar Kushina dengan nafas yang berat.
"Di...dik d...ia da...n bim...bing di...a", ucap Minato dengan suara yang lirih, menandakan bahwa beberapa detik lagi mereka akan mati.
"Fu...in...", poff. Muncul sebuah perkamen berwarna coklat di tangan Kushina setelah mengucapkan kata barusan.
"Be...ri...kan i...ni ke...pada...nya in...i ha...nya be...ker...ja ke...pa...dan...ya", ucap Kushina sembari memberikan perkamen itu kepada Tsunade.
"Sen...sei sayō...na...ra", ucap Kushina dengan nada yang amat lirihdan diiringi dengan hembusan nafas terakhir mereka. Mereka mati dengan masih berpeganan tangan, menepati janji yang mereka buat pada saat pengucapan janji di altar pernikahan untuk selalu bersama suka maupun duka, juga untuk selalu bersama sampai maut memisahkan keduanya.
Keduanya mati dengan tragis. Mati dengan 6 peluru yang bersarang di jantung mereka. Peluru yang dilapisi sihir bertipe penyegel energi sihir, dapat digunakan dengan mengorbankan nyawa pengguna sihir tersebut, mereka mengkontrak dewa kematian untuk kemudian melapisi peluru mereka dengan sihir terkutuk.
Hujan masih senantiasa mengguyur seakan menjadi pengiring kematian bagi pasangan itu. Mereka mati sebagai pejuang. Pejuang yang membela bangsanya. Pejuang bagi anak-anak mereka yang ditinggalkan.
"Tsuna, mereka telah tiada. Ayo kita bawa ke pangkalan lalu segera kita buat acara pemakaman", ujar Jiraiya sesaat setelah memetiksa denyut nadi pada leher Minato dan Kushina.
"Haik, mari kita bergegas", ucap Tsunade dengan nada yang dibuat tegar olehnya. Lalu kemudian dia membawa mayat Kushina kedalam mobil mereka.
Flashback Off!
'Andai saja waktu itu aku tidak terlambat untuk menyusulnya', ujar Jiraiya dalam hati sambil menyesali masa lalu yang takan pernah terulang kembali.
"Haik, arigatou Naruto telah memaafkan Baa-san. Ayo kita sarapan. Baa-san yakin kamu pasti lapar, Baa-san telah menyiapkan makanan untukmu", ucap Tsunade melepaskan pelukannya terhadp Naruto sembari mengelap tetesan air mata yang sempat membanjiri matanya tadi.
"Haik, Baa-san!", seru Naruto mendengar tawaran Tsunade kepadanya, sambil mengikuti Tsunade menuju dapur untuk sarapan.
"Ne, Baa-san apakah kedua sahabatku akan segera sadar?", tanya Naruto kepada Tsunade disela-sela kegiatan sarapan paginya.
"Mmm, tentu Naruto. Mereka mungkin butuh waktu beberapa hari lagi untuk sadar. Energi sihir mereka terkuras habis. Kau saja yang terlampau kuat sampai-sampai mampu pulih dengan cepat Naruto", jawab Tsunade dengan diiringi senyuman kepada Naruto. 'Setidaknya Kushina-chan meninggalkan warisan berharganya ini yang akan mengubah dataran ini menjadi lebih baik', ujar Tsunade dalam hati dengan tulus.
"Ahh, syukurlah kalau begitu", ucap Naruto dengan senyum yang mengembang ketika tau bahwa kedua sahabatnya selamat.
Mereka makan dengan tenang, sesekali obrolan menemani sarapan pagi mereka. Disinilah mereka, berkumpul, menghabiskan pagi mereka dimeja makan, banyak cerita yang hadir pada pagi itu. Mereka bahagia, setidaknya untuk sekarang. Sampai suatu saat nanti mereka akan terjun melawan tirani yang telah banyak memakan korban, menyisakan pilu, keputus asaan, dan duka mendalam.
