Greedy - Shi no Toki ch.5

[Last Chapter]

"Ne, Baa-san apakah kedua sahabatku akan segera sadar?"

"Mmm, tentu Naruto. Mereka mungkin butuh waktu beberapa hari lagi untuk sadar. Energi sihir mereka terkuras habis. Kau saja yang terlampau kuat sampai-sampai mampu pulih dengan cepat Naruto"

"Ahh, syukurlah kalau begitu"

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

Matahari besinar terang dengan semangatnya. Burung-burung terlihat berlindung dari panasnya sinar sang mentari. Hanya hembusan angin yang dapat membawa kesejukan bagi makhluk hidup disana, tak terkecuali seorang bocah dan sepasang suami-istri yang tengah berada dibawah pohon. Terlihat ketiga orang itu sedang berbincang-bincang dengan posisi bocah itu duduk berhadapan dengan dua orang dewasa itu.

"Ne, ada apa Baa-san dan Ji-san membawaku kesini? Apa ada sesuatu yang ingin kalian berdua sampaikan kepadaku?", ujar Naruto membuka percakapan dengan rentetan pertanyaan yang melintas dikepalanya.

"Santai sedikit Naruto. Kami membawamu kesini karena kami ingin memberikan warisan peninggalan kedua orangtuamu dulu yang belum sempat kami berikan", ujar Jiraiya santai menjawab rentetan pertanyaan Naruto. Dirinya tau kenapa bocah berumur sembilan taun itu menanyakan pertanyaan-pertanyaan tadi.

"Apa itu Ji-san", tanya Naruto dengan nada penasaran. Tidak dipungkiri bahwa ia senang mendapat warisan berharga dari kedua orangtuanya, tetapi disatu sisi ia juga sedih mengingat kembali orangtuanya yang telah tewas.

"Tsuna, berikan 'itu' kepadanya", ucap Jiraiya singkat kepada Tsunade yang ada disampingnya.

"Haik!", ujar Tsunade sembari mengeluarkan sesuatu dari kotak penyimpanan dibelakang punggungnya.

"Ini untukmu Naruto. Maaf Baa-san tidak segera memberikan ini kepadamu dulu", ucap Tsunade memberikan sebuah perkamen berwarna coklat kepada Naruo sembari sedikit meminta maaf, ia merasa tidak enak kepada Minato dan juga Kushina karena terlalu lama memberikan perkamen itu kepada putra sematawayangnya.

"Apa ini Baa-san?", ucap Naruto sesaat setelah menerima perkamen berwarna coklat itu.

"Kami berdua tidak tau apa-apa mengenai ini Naruto. Kami hanya diberi wasiat agar menyerahkan ini kepadamu. Selebihnya kami serahkan ini kepadamu Naruto", ucap Jiraiya dengan nada pelan sembari sedikit menundukkan kepalanya.

"Haik, ibumu hanya berkata bahwa itu akan bekerja kepadamu Naruto. Pergunakanlah itu sebaik mungkin, tentunya kau tidak akan mengecewakan mereka berdua kan Naruto?", ujar Tsunade setelah Jiraiya berbicara tadi.

"Haik, aku mengerti!", ucap Naruto mantap. Ia pun dengan penasaran membuka sedkit demi sedikit perkamen itu.

"Hanya lambang clan?", ucap Naruto bingung, mulutnya agak terbuka dengan kepala miring. Dilihatnya hanya ada lambang clan Uzumaki berwarna merah gelap yang ada dibagian atas pada perkamen itu. Ia bingung harus berbuat apa dengan perkamen coklat itu yang hanya berisikan lambang clannya.

Tsunade yang ada dihadapan Naruto agak sedikit panik setelah melihat benar bahwa hanya ada lambang clan Uzumaki yang ada pada perkamen itu. Ia takut bahwa ia salah memberikan perkamen itu. Namun Tsunade agak sedikit kaget karena pundaknya disentuh oleh suaminya.

"Coba kau teteskan darahmu pada lamabang itu Naruto", ucap Jiraiya setelah menenangkan istrinya yang agak panik melihat kosongnya perkamen itu.

"Darah? Darahku?", tanya Naruto bingung dengan jarinya yang menunjuk kearah dirinya sendiri sesaat setelah Jiraiya mengatakan itu.

"Ya, darahmu. Gigit saja jarimu Naruto. Ibumu sangat ahli teknik penyegelan, jadi wajar saja agak dibuat rumit olehnya. Tetapi ini artinya hanya kaulah yang hanya mampu membuka ini Naruto. Hora, ayo teteskan sedikit darahmu kesana Naruto", ucap Jiraiya saat menyadari bahwa Kushina merupakan salah satu pengguna teknik penyegelan tingkat 13.

"Mmm, aku mengerti Ji-san!", ucap Naruto setelah mendengar pernyataan dari Jiraiya.

Crekk tesss tess

Naruto menggigit ibu jarinya. Seketika beberapa tetes darah keluar dari luka yang dihasilkan oleh dirinya sendiri. Lalu...

Sringgg wuzzzzzzz

Cahaya emas keluar setelah tetesan darah Naruto membasahi lambang clan Uzumaki yang ada pada perkamen itu. Semua kaget melihat cahaya emas yang tiba-tiba keluar dari perkamen itu hingga membuat Jiraiya dan Tsunade menggunakan lengan mereka untuk menghalau cahaya emas terang itu.

"!", disaat yang bersamaan juga Naruto yang melihat cahaya emas yang menyilaukan itu pun kaget. Kemudian ia pingsan setelah melihat cahaya itu. Sesaat kemudian cahaya emas yang menyilaukan mata itu meredup dan tak lama cahaya itu benar-benar lenyap.

"Apa yang barusan itu?", ucap Tsunade bingung dengan kejadian yang menurutnya agak mengagetkan itu.

"!", "Naruto!", seru Tsunade yang melihat Naruto terbaring pingsan disamping perkamen yang terbuka. Dengan cekatan Tsunade menghampiri tubuh Naruto yang tergeletak, meletakkan dua jari tangannya keleher Naruto memastikan bahwa bocah itu baik-baik saja.

"Mmm, aku baru melihat ini pertama kali", ucap Jiraiya pelan ketika melihat perkamen yang terbuka itu perlahan membentuk banyak baris tulisan dengan aksara Uzumaki kuno yang tidak bisa dibacanya.

"Baringkanlah ia disana. Kita hanya bisa menunggunya sadar dan kemudian kita tanyakan apa yang terjadi dengannya nanti", sambung Jiraiya kepada Tsunade untuk membaringkan Naruto dibawah pohon rindang dibelakangnya.

"Haik", ucap singkat Tsunade menjawab saran yang diberikan oleh suaminya itu. Lalu Tsunade membaringkan tubuh Naruto dibawah pohon sesuai apa yang dikatakan Jiraiya.

"Ne, apakah dia akan baik-baik saja?", sambung Tsunade dengan pertanyaan. Ia sedikit panik ketika Naruto tak sadarkan diri setelah cahaya emasi tadi muncul dari perkamen itu.

"Tenang saja Tsuna kau tak perlu khawatir. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa untuk bocah itu semoga ia cepat sadarkan diri", ucap Jiraiya menenangkan Tsunade yang agak panik. Tsunade hanya sedikit mengangguk mendengarkan ucapan Jiraiya yang menurutnya benar seratus persen.

Alam Bawah Sadar Naruto! (Naruto POV)

'Dimana aku? Putih? Tempat apa ini?', hanya pertanyaan itu yang ada dikepalakku ketika setelah kumembuka mataku. Hanya ada warna putih disini tidak ada siapa pun disini kecuali aku.

"!", 'Apa aku mati? Kami-sama kenapa aku kau jemput dengan cepatnya', pikiranku berkecamuk ketika sulit untuk menghadapi ini semua.

'Tidak tidak tidak aku tidak mungkin mati. Aku tidak merasakan sakit. Tapi apakah Shinigami-sama memberikan aku obat penahan sakit sesaat sebelum ia mencabut nyawaku?! Hnnnggg, aaaaarrrgghhh ini membuatku pusing!', pikiranku berkemelut memikirkan ini semua, bingung, kaget, semua perasaan itu hampir dalam pikiranku ketika melihat ini semua. Aku sedikit mengacak-acak rambut jabrikku, gemas, gemas dengan semua ini.

Tep tep tep

"Rambutmu tambah berantakan nak, jika kau terus mengacak-acaknya", "Are, itu tidak akan mengurangi pesonanya Anata".

"!"

Suara itu menggema dibelakangku, suara yang sudah lama aku rindukan, suara malaikat dan kesatria dalam hidupku. Aku pun berbalik cepat. Kulihat kedua orangtuaku tengah berdiri tegap dengan seragam perangnya dulu sembari melipat kedua tangan mereka didepan dada.

"Kaa-san! Tou-san!", seketika aku berteriak, lalu aku berlari kearah mereka dengan air mata yang deras mengalir dipipiku.

Gebbb brukk

Kuterjang mereka dengan tangan yang telah kulebarkan selebar mungkin. Kupeluk mereka dengan erat. Tidak ada rasa ingin melepaskan mereka. Nyaman kurasakan ketika kupeluk mereka berdua.

"Ahh, kau sudah tumbuh kuat nak, sampai kami terjatuh begini. Yosh yosh, angkat wajahmu nak. Kami ingin berbicara denganmu", ucap ayah sembari mengelus puncak kepalaku.

"Are, biarkan seperti ini dulu Anata. Aku merindukan Naruto kecilku", ucap ibu dengan masih memelukku dengan erat, ia juga menangis.

Lama kumenangis dalam pelukkan kedua orangtuaku. Aku sangat merindukan keduanya, saat diberitau bahwa keduanya mati saat menjalankan tugas oleh Karin-nee aku merasa sakit yang teramat sangat, nafasku terasa berat, air mata tak kunjung mereda kala itu. Hingga akhirnya kami duduk berhadap hadapan, kami bertemu lagi entah dimana ini, yang pasti aku sangat bahagia melihat kembali kedua orangtuaku.

"Kau kelihatan bingung nak. Ahh, mungkin kau tak menyadari ini dimana. Baiklah ayah akan jelaskan. Ini ada pada alam bawah sadarmu yang terdalam nak. Kami berdua ada disini karena kau telah membuka segel pada perkamen itu nak", ucap panjang lebar ayahku saat aku menampakan wajah bingung karena tidak tau ini dimana.

"Jadi ini dalam diriku Tou-san?!", pertanyaan bodoh itu kuucapkan dengan keras. Aku agak tidak percaya kalau ini semua ada pada diriku.

"Lebih tepatnya dalam pikiranmu yang terhubung dengan hatimu nak", ucap ayah lagi untuk lebih meyakinkanku.

"Kau dapat berada disini karena kau seorang irregular nak", ucap ibuku yang sedari tadi diam melihat aku dan ayahku yang berbicara.

"Irregular? Apa itu Kaa-san?", tanyaku penasaran dengan hal yang disebut irregular yang tadi sempat ibuku bicarakan.

"Irregular adalah sebutan untuk seorang yang menguasai teknik sihir tentunya, namun irregular spesial, seorang irregular mampu menguasai teknik sihir tingkat ke-13, teknik yang hanya dimiliki sedikit orang saja. Aku dan ayahmu juga merupakan seorang irregular, namun saat perang dulu para irregular banyak yang mati, termasuk kami. Kekuatan seorang irregular tidak bisa idanggap remeh, bahkan seorang irregular dapat menghancurkan satu benua dengan sihirnya. Ciri seorang irregular yaitu adalah seseorang yang mampu menyelaraskan hati dan pikiran mereka, dan hasil dari itu semua adalah tempat ini. Ditempat ini para irregular biasanya bertapa termasuk ibu dan ayah. Kami semua melatih kontrol pikiran dan hati ditempat seperti ini dalam pikiran kami Naruto. Kami dapat melakukan apapun ditempat ini. Hingga kami memiliki sebuah teknik yang tidak bisa satupun orang yang mampu meniru teknik sihir kami", jelas panjang lebar ibu kepadaku. Aku hanya menganggukan kepalaku, entah kenapa aku merasa lebih pintar dari sebelumya setelah ada ditempat ini.

"Teknik sihir didapatkan dari hasil imajinasi seorang irregular nak. Namun imajinasi itu agak sulit untuk dibuktikan keberadaannya. Kau harus memikirkan bentuk, daya hancur, warna, seberapa energi sihir yang terpakai, dan lainnya nak. Tapi tentunya apa yang telah diwujudkan dalam bentuk teknik sihir merupakan suatu kekuatan yang maha dasyat", sambung ayah juga tak kalah panjangnya seperti ibu. Aku kembali hanya menganggukan kepalaku tanda mengerti kepadanya.

"Tapi kenapa kalian dapat terbunuh? Bukankah kalian seorang irregular?", tanyaku ketika pertanyaan itu terlintas dipikiranku.

"Kami terbunuh oleh peluru dengan sihir penyegel. Kami ditembak dari jarak 12 mil oleh 12 penembak jitu nak, penembak itu mengelilingi kami seperti angka jam dengan kami sebagai pusatnya. Peluru yang menembus jantung kami berdua telah dilapisi oleh sihir dengan kontrak kematian dengan Shinigami-sama nak. Peluru itu menembus dan menyegel seluruh energi sihir yang ada di jantung kami nak. Bagi para irregular, jantung merupakan tempat penghasil energi sihir terbesar. Maka dari itu kami berdua tidak selamat", ucap ayahku menjawab pertanyaan yang aku layangkan. Dalam hatiku aku bersumpah untuk membunuh siapa dalang dibalik pembunuhan ini semua.

"Tapi bukankah Tou-san dan Kaa-san membantu militer Jepang? Lalu siapa yang ada dibalik ini semua? Apakah musuh negara ini?", tanyaku dengan rasa penasaran yang tinggi, aku bingung dengan keganjilan ini.

"Mungkin saja begitu nak. Tapi tidak menutup kemungkinan dalang semua ini adalah dari negara ini sendiri. Kalau boleh ayah tau, siapa pemimpin negri ini sekarang Naruto?", tanya ayahku kepadaku.

"Saat ini kami diperintah oleh tirani dengan Danzou sebagai kepala pemerintahan. Perlakuan mereka kepada kami sangat jauh dari kemanusaiaan Tou-san. Aku pernah dipekerjakan sebagai pekerja tambang, disana kami bekerja 14 jam sehari, kami mendapat siksaan disana, kami dipecut, dipukul, dan tidak jarang pekerja mati karena tidak sanggup bertahan disana, kami hanya memakan kentang rebus selama disana. Hingga Jiraiya-jisan membawaku kabur dari pulau itu", ceritaku lengkap mengenai perjalanan hidupku masa lalu.

"Apakah clan Uzumaki masih tersisa? Bagaimana dengan Karin-chan? Apakah ia ada disisimu?", ujar ibu dengan wajah panik nya dan terlihat bulir air mata menetes dipipinya.

"Clan telah habis. Aku dan Karin-nee berpisah, aku ditangkap dan dijadikan pekerja tambang, namun aku tidak tau apa-apa setelah berpisah dengan Karin-nee, tapi aku tau bahwa ia juga ditangkap", jawabku sembari menyeka air mata ibuku yang tak kunjung mereda setelah aku ceritakan itu semua kepadanya.

"Tirani sialan! Mereka membunuh kami berdua, membantai clan, dan juga menyiksa putraku. Aku mengutuk tirani itu atas rohku sendiri!", ucap ibuku murka dengan nada yang menyeramkan bagiku seketika kumerasakan keringat dinginku telah bercucuran ketika melihat aliran energi sihir beraura putih meluap dari rubuh ibuku.

"Aku juga mengutuk mereka atas rohku sendiri! Mereka telah menghianatiku sebagai Jendral, harga diriku terinjak-injak, mereka telah meludahiku tanpa kusadari dan juga telah melakukan hal yang menjijikan kepada penerusku", tak ku sangka ayah yang menurutku pendiam juga ikut mengutuk para penguasa tirani itu, dan juga ikut mengeluarkan energi sihirnya yang beraura hitam dari tubuhnya. Tubuhku lemas, aku takut dengan kekuatan mereka berdua. Hawa Shinigami-sama pun menguar dari kedua energi sihir itu.

"Maafkan kami nak. Kami tidak bermaksud menakut-nakutimu", ucap ayahku ketika mereka menyudahi pelepasan energi sihir mereka yang menurutku menyeramkan.

"Tapi ucapan kami sebelumnya itu mutlak Naruto. Kami ingin dirimu membalaskan ini semua kepada tirani keparat itu. Gulingkanlah mereka, potong isi perut mereka, mandilah dengan darah mereka, pajang kepala mereka dipuncak gunung Fuji, musnahkan para pendosa itu, murkailah mereka. Berjanjilah Naruto, bawa negri ini kejalan yang seharusnya, bawa negara ini terbit kembali Naruto", ujar ibu dengan nada seriusnya. Aku agak bergidik ngeri ketika memikirkan kembali apa yang ibu katakan tadi. Namun aku juga berjanji membawa negri ini bangkit, menepati janji kedua orangtuaku untuk membinasakan tirani itu.

"Tenanglah Kushina. Selagi kita ada disini bagaimana bila kami sedikit memberi taumu mengenai teknik sihir tingkat 13 milik seorang irregular", ucap ayah menenangkan ibu sembari berkata ingin memberi tau ku mengenai sihir tingkat 13.

"Sihir tingkat 13 hanya dapat diktifkan oleh seorang irregular. Sihir ini merupakan sihir pribadi. Seorang irregular biasanya dibagi menjadi dua jenis, yaitu seorang irregular dengan sihir beraurakan hitam atau bisa disebut Yin irregular. Sebaliknya bila seorang irregular dengan sihirberaurakan putih maka ia disebut Yang irregular. Kekuatan dari Yin irregular adalah mampu membuat senjata gaib menjadi kenyataan. Lalu kekuatan dari Yang irregular adalah dapat memanggil atau menggunakan hal diluar nalar sekali pun seperti tsunami, pemanggil dewa kematian, dan alat-alat gaib lainnya. Kekuatan Yin irregular lebih banyakberasal dari pikiran mereka meskipun hati mereka juga terlibat dalam pembuatan sihir. Dan sebaliknya, kekuatan Yang irregular berasal dari hati mereka", jelas ayah panjang lebar yang ajaibnya aku mengerti semua perkatannya itu, aku hanya membalas dengan anggukan.

"Lalu bagaimana aku tau kekuatanku Tou-san? Apakah kekuatanku Yin atau Yang Tou-san?", tanyaku dengan semangat setelah kembali memikirkan apa yang ayahku katakan tadi.

"Pertanyaan bagus. Hora, kemarikan tanganmu, bila kau merasa pusing bilang pada Kaa-san ya", ujar ibuku menanggapi pertanyaanku barusan, dan ia menyuruhku untuk memberikan tanganku kepadanya.

"Haik", aku pun hanya menyetujui apa yang ibu katakan. Lalu ibu mententuh telapak tanganku, dan ia mengalirkan energi sihirnya yang beraura putih ketanganku. Kurasakan hangat memenuhi sekujur tubuhku, nyaman kurasakan ketika energi sihirnya masuk kedalam tubuhku. Namun aku tidak merasakan gejala pusing seperti yang dikataka ibu tadi.

"Ummu, kau Yang irregular Naruto! Yosh, kau mewarisi ibu!", seru ibu sambil menggosok-gosokkan pipinya ke pipiku.

"Yare yare, aku kalah kalian berdua memang mirip. Dan aku mencintai kalian", ucap ayah sembari menghampiri aku dan ibu, lalu kami berpelukan. Andai saja waktu terhenti disini. Aku akan sangat berterimakasih kepada Kami-sama.

"Tapi Tou-san. Apakah ada seorang irregular pengguna Yin dan Yang?", tanyaku penasaran ketika kembali memikirkan kembali penjelasan ayah dan ibu dari awal.

"Mmm, sepanjang sejarah belum ada pengguna Yin dan Yang secara bersamaan nak. Namun kenapa kita tidak mengawalinya darimu?", jawab ayah sembari mengulurkan tangannya.

"Hora, kemarikan tanganmu", ucap ayah. "Bila kau juga merasa pusing katakan", ucapnya kembali mengingatkanku.

"Haik", aku pun mengulrurkan tanganku. Saat telapak tanganku bertemu telapak tangan ayah, lalu ia mengalirkan energi sihirnya yang beraura hitam, kemudaian kurasakan sejuk dalam diriku. Seperti angin sore kurasakan. Lembut membelai tubuhku.

"Bagaimana Naruto? Apa kau merasa pusing?", tanya ayahku lalu kemudian ia menyudahi mengalirkan energi sihirnya kepadaku.

"Tidak Tou-san, aku baik-baik saja. Energi kalian menenangkan. Energi sihir milik Kaa-san hangat, dan energi sihir Tou-san sejuk", ucapku dengan mata yang tertutup, merasakan sisa-sisa energi sihir ibu dan ayah yang masih tersisa.

"Tidak mungkin! Anata anak kita spesial. Ia menerima energi sihirku dan energi sihirmu!", seru ibuku sembari menggoyang-goyangkan tubuh ayah.

"Haik haik. Ia spesial. Berbanggalah nak, kami selalu mendoakanmu", ujar ayah dengan senyum yang terpatri diwajahnya. Aku senang mendengar bahwa aku adalah seorang irregular dengan pengguna sihir Yin dan Yang.

"Sepertinya waktu kita habis Kushina", ujar ayah kepada ibu. Dan itu membuatku sedih.

"Ara, kau benar Anata. Maafkan kami Naruto, kami harus kembali. Kami ada disini karena kami dulu sedikit memasukkan energi sihir ke perkamen itu. Ahh, bacalah isi perkamen itu. Hanya keturunan Uzumaki saja yang bisa membaca tulisan itu. Carilah Karin-chan, aku yakin ia masih bertahan hidup disuatu tempat. Balaskan dendam kami berdua Naruto. Maaf bila kami berdua memberikan beban yang teramat sangat berat kepadamu Naruto", ucap ibu mengingatkanku kembali, aku hanya terdiam, air mataku kembali membasahi ketika aku mendengar pernyataan ibuku.

"Latihlah kemampuan bertarungmu bersama Jiraiya-sensei dan Tsunade-sensei, ikuti apa perkataannya. Jadilah kuat, gulingkan tirani yang sempat menindasmu nak. Asah kemampuan YinYang yang kau punya ditempat ini. Kau hanya perlu mengkosongkan fikiranmu dan fokus untuk bisa ada disini. Maaf kami tidak dapat memberi bantuan lebih kepadamu nak", sambung ayah setelah ibu menyelesaikan perkatannya. Tiba-tiba tubuh kedua orangtuaku memancarkan pedar cahaya tipis diseluruh tubuhnya.

"Haik, aku akan menjadi kuat Tou-san, Kaa-san. Doakan aku agar aku mampu membawa negara ini kembali bangkit", aku berusaha menahan tangisku ketika mengucapkan itu semua. Aku berjanji kepada mereka.

"Terima berkat dari kami Naruto. Ini merupakan salah satu bentuk dukungan kami dan sekaligus kenang-kenangan kami untukmu nak", ucap ibu. Ia juga menintikkan air matanya. Kemudian mereka mengangkat sedikit tangan mereka. Dan energi sihir mereka mengalir ketubuhku. Hangat kurasakan ketika energi sihir mereka masuk ke tubuhku.

"Dipunggungmu telah ada tanda dari kami Naruto. Kami akan mendukungmu dari jauh, kami doakan agar kau menjadi lebih kuat daripada kami, dan dapat membawa kebaikkan disekitarmu", ucap ibu masih dengan airmata yang keluar dari kedua matanya. Aku yang tidak tahan pun menghamburkan pelukkanku kepada mereka berdua.

Grebb

"Aku mencintai kalian. Aku berjanji akan menepati keinginan kalian", ucapku dipelukkan kedua orangtuaku.

"Terimakasih nak. Jadilah kuat. Kami mencintaimu. Jaa sayōnara...", ucap ayah dan seketika tubuh mereka hilang. "Arigatou Kaa-san, Tou-san..."

Dunia Nyata! (Naruto POV End!)

Hangat mentari sore itu, sedikit berhembus angin dingin menerpa kulit mereka, terlihat wanita cantik berambut coklat pucat dan pria berambut putih tengah duduk masih setia menunggu bocah berambut kuning sadar.

"Apakah ini tidak terlalu lama Jiraiya?", tanya Tsunade kepada Jiraiya. Agak sedikit panik ketika bocah yang tadi pingsan tidak kunjung sadarkan diri.

"Sebentar lagi mungkin ia akan terbangun", ucap Jiraiya dengan tenangnya, meyakinkan bahwa bocah berambut kuning itu akan baik-baik saja.

"Hnnnng uhhkk!", rintih Naruto memegangi kepalanya, merasakan kepalanya yang agak sedikit pusing.

"Syukurlah kau telah sadar Naruto. Bagaimana, apa kau merasa ada yang sakit?", tanya Jiraiya kepada Naruto.

"Haik, Ji-san aku tidak apa-apa", jawab Naruto, meyakinan bahwa memang ia tidak apa-apa.

"Bisa kau jelaskan kenapa kau bisa pingsan tadi Naruto?", tanya Tsunade penasaran kenapa Naruto bisa pingsan tiba-tiba.

"Haik", Naruto pun bererita kenapa ia bisa pingsan. Semua kejadian di alam bawah saadarnya diceritakan oleh Naruto tanpa terkecuali. Sampai ia adalah irregular dengan pengguna YinYang yang membuat terkejut pasangan suami-istri itu.

"Syukurlah kalau begitu. Kami turut senang mengenai kau ini seorang irregular dengan pengguna YinYang", ucap Jiraiya setelah paham apa yang dikatakan oleh Naruto barusan. "Ini milikmu Naruto", lanjut Jiraiya sembari memberikan perkamen milik Naruto.

"Ji-san, Baa-san, latihlah aku menjadi kuat. Aku mohon!", ucap Naruto setelah menerima perkamennya sembari memposisikan dirinya bersujud kepada Jiraiya dan Tsunade.

"Ahh, tentu saja Naruto kami akan melatihmu. Dan juga, angkat kepalamu. Aku bisa terkena kutukan Minato bila anak semata wayangnya sujud kepadaku", ujar Jiraiya santai seperti biasanya sambil menyuruh Naruto mengangkat kepalanya. Naruto pun mengangkat kepalanya.

"Kami berjanji akan melatihmu semampu kami Naruto", ujar Tsunade dengan senyum cantiknya yang menghiasi wajah cantiknya.

"Mohon bantuannya!", ujar Naruto dengan semangat mendengar pernyataan itu semua dari dua orang yang ada didepannya.

Dengan begitu pun mereka kembali kerumah. Bersamaan dengan burung-burung yang juga telah selesai menjalankan tugasnya untuk mencari makan untuk anak-anaknya.