Title: Baby Baby (chapter 2)
Author: resonae
Trans: Myka Reien (with change)
Main Cast: Mama Seokjin, Hyosang
Genre: AU!Baby Bangtan, Rate T, GS!Jin
Note: No bash, no flame, no copycat. Let's be a good reader and good shipper.
HAPPY READING
Ppyong~
.
.
.
Baby Baby
(chapter 2)
.
.
.
Hal pertama yang dilakukan Hoseok ketika Hyosang membantunya membuka pintu apartemen adalah berteriak dari rongga paling bawah paru-parunya, "MAMAAA!"
Dengan ransel masih menggantung di punggung bocah itu langsung berlari ke ruang duduk. Suara langkah kakinya terdengar berdebum-debum penuh semangat dan Jungkook—yang sudah berhasil disuapi Seokjin serta hampir menghabiskan makan siangnya—mulai tertawa, ikut menggumamkan kata Mama menirukan Hoseok yang mana hal tersebut hanya membuat kakaknya seolah mendapatkan pendukung. Hoseok melompat-lompat mengelilingi kursi bayi yang diduduki Jungkook sambil berteriak lebih keras, Jimin dan Taehyung yang memang pada dasarnya suka keributan kemudian bergabung dengan sang Hyung sementara Seokjin kerepotan membereskan alat makan Jungkook lalu meletakkannya di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh anak-anaknya.
"Aigoo~ bagaimana kau bisa mengatasi ini, huh?" tanya Hyosang dari pintu apartemen, suaranya melengking mencoba untuk menandingi teriakan para balita yang memenuhi hampir seluruh sudut rumah. Tak lama setelah itu, Namjoon yang baru saja meletakkan tas sekolahnya di lantai memutuskan untuk bergabung dengan koloni yang masih bermain kereta-keretaan mengelilingi kursi Jungkook dan membuat keributan yang ada menjadi semakin pekak. Satu-satunya anak yang tidak ikut berteriak adalah Yoongi, yang mana langsung duduk tenang di sofa dan hanya mengerutkan kening melihat tingkah adik-adiknya.
"Hoo~ Yoongi yang paling kalem," celetuk Hyosang begitu memperlihatkan sosoknya di pintu ruang duduk.
Seokjin menghela napas. "Benar, dia yang paling kalem." Wanita tersebut mengelap sekitar mulut Jungkook dengan cukin yang terikat di leher si bayi karena sudah tidak mungkin lagi dia bisa menyuapi dan membujuk si bungsu untuk makan ketika hampir semua kakaknya menggila seperti ini. Dengan hati-hati Seokjin menurunkan Jungkook dari kursi bayi dan menggendongnya.
"Terima kasih banyak karena sudah mau menjadi supir mereka ke sekolah, Hyosang-ah. Kau benar-benar sangat membantuku. Ingatkan aku untuk menyiapkan bekal makan siangmu seminggu ke depan," ujar Seokjin tulus.
Hyosang mengedipkan sebelah matanya. "Aku tidak akan pernah lupa, Noona," candanya. "Tapi—sumpah, bagaimana kau bisa mengatasi semua ini?" Hyosang melihat Jungkook yang meronta di gendongan Seokjin, meraihkan tangan mungilnya ke bawah, meminta untuk bergabung dengan kakaknya dan membuatnya hampir terjatuh dari lengan sang ibu. Namun dengan tenang Seokjin hanya memegangi kaki bayi tersebut, membiarkannya tengkurap di lengannya sambil tertawa-tawa dan mengoceh menirukan apapun yang diucapkan oleh saudara-saudaranya.
"Aku dan teman-temanku memang mengurus banyak anak, tapi biasanya satu anak akan di-handle dua orang—bahkan tiga. Itu saja sudah sangat merepotkan, Noona. Sedangkan kau mengurus enam anak. SENDIRIAN." Hyosang mengalihkan pandangan dan langsung melihat bagaimana Taehyung menjegal kaki Namjoon hingga Hyung-nya itu jatuh tengkurap di lantai. Di awali oleh Taehyung, semua anak kecuali Yoongi dan Jungkook berebutan untuk mendaratkan badan di atas Namjoon yang—untungnya—tidak menangis ditindih segitu banyak orang. Jungkook memekik senang melihat para Hyung-nya tertawa-tawa dan dengan segera Seokjin kembali memeluknya sebelum bayi tersebut semakin banyak bergerak. Sementara itu, Yoongi masih duduk diam di sofa, menatap kehebohan di hadapannya dengan mata memicing tidak tertarik.
Hyosang turun tangan. Membantu menurunkan Jimin dari atas Hoseok, Hoseok dari atas Taehyung, Taehyung dari atas Namjoon, dan kemudian dia hanya bisa membulatkan mata ketika Namjoon malah berteriak mengajak saudara-saudaranya untuk bermain batu-kertas-gunting guna menentukan siapa yang kali ini akan berada di paling bawah untuk ditindih massal. Tidakkah bocah itu merasa sakit atau bagaimana setelah ditimbun begitu banyak orang?
Yoongi baru bergerak dari sofa ketika mendengar suara Seokjin memanggilnya untuk mandi. Dia berlari ke kamar mandi diikuti oleh Jimin, sebentar kemudian Taehyung menyusul karena mencari Jimin, sementara Hoseok dan Namjoon sudah terlalu asyik bermain dengan Hyosang yang juga sedang memangku si bungsu Jungkook. Ketika giliran Hoseok dan Namjoon untuk mandi, Hyosang ganti menemani kloter pertama sambil menunggu giliran Jungkook.
"Mereka tidak merepotkan. Setidaknya, karena aku masih bisa mengatasinya," celetuk Seokjin begitu kembali ke ruang duduk dengan Jungkook yang sudah berganti baju dan berbau harum bedak bayi. Diturunkannya si bungsu ke lantai dan Jungkook langsung merangkak mendekati Hyung-nya yang masih asyik bermain. Seokjin pergi ke dapur lalu kembali dengan tangan membawa piring berisi potongan buah-buahan segar. Diletakkannya piring tersebut di lantai dan anak-anaknya langsung berebut untuk menikmati snack siang mereka. Seokjin meraih Jimin, mendudukkannya di pangkuan sementara dia mengambil sepotong apel ukuran sedang untuk diemuti Jungkook. Ibu muda tersebut kemudian mengupas sebuah jeruk manis untuk Jimin ketika bocah itu mulai rewel dan mencoba merebut makanan dari saudaranya yang lain.
"Noona," panggil Hyosang dengan mulut sibuk mengunyah potongan apel. "Kenapa kau tidak mencarikan Papa untuk anak-anakmu?"
Seokjin menghela napas panjang, sorot matanya berubah tajam ketika menatap Hyosang dan itu membuat adiknya nyengir kuda. "Mereka punya Papa, Hyosang," tegasnya dengan nada suara tidak suka pada lelucon saudaranya barusan.
"Tapi Kakak Ipar bahkan tidak pernah ada di rumah—"
"Dia bekerja," potong Seokjin.
"Setiap hari?" Hyosang ngotot.
"Bukankah kau juga pergi bekerja setiap hari?" Seokjin sewot.
"Setidaknya aku tidak pernah pergi bertahun-tahun hanya untuk bekerja," bela Hyosang yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak di sebuah rumah sakit kota. "Aku bahkan masih bisa mengantar dan menjemput anak-anak ini dari sekolah."
Seokjin mendengus. "Dia baru pergi seminggu, Kim Hyosang. Dan kalau sampai dia tahu kau bicara begini, kau pasti tidak akan selamat."
"Kalau begitu jangan beritahu Kakak Ipar." Hyosang terkekeh lalu menundukkan kepala untuk mencium pipi gembul Jungkook yang duduk tenang di pangkuannya.
"Kalau babysitter? Tidakkah kau tertarik untuk menggunakan jasa babysitter, Noona? Ada yang sistem part-time, mereka hanya akan bekerja di tenggang waktu yang disepakati dan di luar jam itu mereka akan pulang. Jadi kau tidak perlu menyiapkan kamar untuk mereka tidur karena mereka tidak akan menginap di sini—"
Seokjin sudah membuka mulut untuk menanggapi namun Hyosang lebih cepat melanjutkan kalimatnya.
"Oh, mungkin akan lebih baik kalau mereka menginap juga. Jadi kau akan punya teman mengobrol saat Kakak Ipar sedang pergi seperti ini dan jika anak-anak berbuat nakal setiap saat, setidaknya akan ada yang bisa langsung membantumu."
Seokjin menghela napas perlahan, menyisirkan jemari tangannya yang lentik di antara rambut hitam Jimin yang sudah tumbuh lebat. Dia tidak menyadari jika hampir semua anak-anaknya sudah kembali asyik bermain sendiri-sendiri meninggalkan dia bersama Jimin dan Jungkook yang masih dengan gembira mengemut potongan apelnya yang belum berkurang sama sekali.
"Terima kasih untuk sarannya, Hyosang-ah. Tapi aku baik-baik saja. Mereka anak-anakku dan sebagai seorang Ibu memang sudah seharusnya aku mengurus mereka." Seokjin tersenyum lembut membuat adiknya mengedikkan bahu.
"Seandainya saja semua Ibu di dunia ini sepertimu, Noona. Tidak akan pernah ada bayi tanpa identitas yang masuk ke UGD karena dibiarkan kedinginan ditinggalkan di dalam kardus." Hyosang bersungut-sungut.
Namja itu memasukkan sepotong apel ke dalam mulutnya sebelum memindahkan Jungkook dari pangkuannya dan bangkit berdiri untuk kembali ke rumah sakit. Seokjin ikut berdiri, mengantar adiknya hingga ke beranda dan hanya tersenyum ketika Hyosang mengingatkan dia soal bekal makan siang selama satu minggu.
Seokjin yakin dia akan disambut dengan kekacauan begitu kembali ke ruang duduk. Namun di luar dugaan, ternyata semua anaknya malah duduk diam di lantai, memandang kedatangannya dengan tenang dan hal tersebut membuat sang ibu menaikkan alis keheranan.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Seokjin sambil duduk di depan Jimin yang masih memegang jeruk pemberian Seokjin yang belum berkurang, tanda jika dia belum memakannya lagi.
"Apa jeruknya asam?" tanya Seokjin seraya meraih tangan kecil Jimin. "Tadi Mama mencobanya satu dan tidak asam," ujarnya mengambil sepotong dari keseluruhan jeruk yang dipegang putranya lalu memakannya. "Umm, ini manis, Jiminie. Cobalah." Wanita tersebut kembali mengambil sepotong jeruk dan menyodorkannya di depan mulut Jimin tapi anaknya menggeleng dan malah memberikan jeruk di tangannya pada Seokjin.
Seokjin terdiam, pun dengan anak-anaknya yang lain. Ditatapnya wajah-wajah polos itu satu per satu dan entah bagaimana kecemasan mulai menyergap menyesakkan dadanya. Pikiran buruk seperti kelima putranya mendadak sakit bersamaan benar-benar sangat menakutinya.
"Bagaimana kalau sekarang kita tidur siang?" celetuk Seokjin dan dia menghembuskan napas lega ketika hampir bersamaan kelima buah hatinya mengangguk. Ibu muda tersebut meraih Jungkook, membersihkan tangan dan mulutnya sambil mengawasi kakak-kakaknya yang berebutan mengelap tangan serta mulut mereka dengan tisu bayi. Segera kemudian para balita itu sudah berbaring di kasur masing-masing dengan Seokjin duduk di sebelah Hoseok, menepuk pelan perutnya sembari menyanyikan lagu ninabobok untuk semuanya. Jungkook berada di pelukan Seokjin, menutup kedua matanya dengan mulut sibuk menghisap air susu dari dada ibunya.
Beberapa saat kemudian, setelah memastikan kelima putranya sudah tidur, Seokjin berjalan keluar kamar pelan-pelan. Dia melepas puting susu dari mulut Jungkook dan menimang bayi itu sampai kembali terlelap lalu menidurkannya di atas selimut yang digelar di karpet. Seokjin menyibukkan diri dengan membereskan ruang duduk sambil sesekali melihat Jungkook untuk memastikan bayinya tidak berguling terlalu jauh dari bantalnya.
"Mama."
Seokjin tersentak kaget dan menoleh. "Yoongi?" bisiknya lantas segera mendekati putra sulungnya. "Ada apa? Kau terbangun?"
"Mama, apa kami merepotkan?"
Mata Seokjin membeliak lebar mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. "Apa maksudmu, Sayang? Kenapa kau berpikir begitu?" Seokjin berlutut tepat di hadapan anaknya sehingga dia bisa memandang mata bocah tersebut dengan lebih jelas.
Yoongi menggigit bibir bawahnya, tidak menjawab.
"Yoongi-ya, kenapa kau bertanya begitu? Kau tahu 'kan Mama sayang padamu, pada Hoseok juga, Namjoon, Jimin, Taehyung, Jungkook. Mama sayang kalian semua."
Bibir tipis Yoongi mengerucut, kepalanya menunduk memandang jemari kecil kakinya yang bergerak mencoba mencakari lantai linoleum. "Tapi Paman Hyo bilang kami nakal dan Mama harus mencari orang untuk mengurus kami karena kami merepotkan."
Sekejab dada Seokjin terasa sesak mendengar kalimat polos tersebut dan sebuah gerakan kecil di pintu kamar anak-anak membuatnya mengalihkan pandangan. Wanita itu tersenyum kecut ketika melihat keempat putranya yang lain ternyata sedang mengintip dari celah pintu. Seokjin duduk di lantai, meraih Yoongi ke pangkuannya sebelum kemudian memanggil semua adiknya.
"Kemarilah, kalian semua. Mama tidak akan marah karena kalian tidak mau tidur siang." Lalu keempat makhluk kecil itu langsung melesat keluar kamar dan menubruknya bersamaan. Taehyung memenangkan tempat di pangkuan Seokjin bersebelahan dengan Yoongi. Jimin memeluk erat tangan ibunya. Hoseok meletakkan tangan di lutut Seokjin. Dan Namjoon melingkarkan kedua lengan gemuknya di sekitar leher sang ibu, mengagetkan wanita muda tersebut.
"Aigoo~" Seokjin tersenyum sembari mengusap kepala Namjoon yang berada tepat di sebelah lehernya kemudian mengacak rambut Jimin dan Hoseok serta mendaratkan kecupan di puncak kepala Taehyung.
"Dengarkan Mama," ujar Seokjin membuat kelima anaknya mendongak bersamaan menatapnya. "Bukan itu yang ingin dikatakan Paman Hyo. Maksudnya, karena kalian sangat sehat dan suka bermain, jadi akan lebih baik kalau ada yang bisa terus menemani kalian bermain. Kalian sendiri tahu Mama tidak bisa terus menemani kalian main. Kadang Mama harus mengambil jemuran, kadang Mama harus mengangkat telpon, kadang Mama juga harus menina bobok Jungkook. Kalau sudah begitu kalian harus menunggu Mama 'kan? Jadi, kalau seandainya ada orang lain yang bisa tetap di sini selagi Mama sibuk, kalian tidak perlu menunggu lagi."
"Tapi bukan itu yang Paman Hyo katakan." Namjoon menyeletuk, menyembulkan kepalanya di bawah ketiak Seokjin. "Dia bilang kami nakal dan melepotkan—"
"Itu maksud Paman Hyo!" bantah Hoseok. "Kita nakal dan melepotkan itu waktu kita ingin belmain sama Mama. Benal 'kan, Mama?" Hoseok mengalihkan pandangan pada Seokjin.
"Benar sekali." Seokjin tersenyum mengiyakan walau kenyataannya dia tahu yang dimaksud Hyosang bukanlah hal sesederhana itu. Namun dia tidak ingin membahasnya lebih jauh, dia tidak ingin menjelaskan sesuatu yang belum bisa dijangkau oleh usia anak-anaknya, dia tidak ingin anak-anaknya merasa terbebani sementara yang mereka inginkan hanyalah bermain dan mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Sedikit berbohong sepertinya tidak akan masalah, toh Hoseok pasti akan segera melupakan hal ini nanti.
Di sisi lain Yoongi mengangguk-anggukkan kepala, agaknya dia sudah dapat menerima penjelasan Seokjin barusan dan sepertinya adik-adiknya juga begitu, terbukti dari bagaimana mereka mulai ribut membahas wajah Hyosang yang terlalu tampan dan seperti perempuan. Yoongi mengatakan guru-gurunya di TK selalu terlihat senang kalau Hyosang mengantarnya berangkat sekolah maupun menjemputnya, diamini oleh Hoseok dan Namjoon yang dengan serius menimpali jika pengasuh mereka di playgroup selalu berteriak 'Oppa, Oppa' setiap kali melihat Hyosang. Dan Seokjin yang mendengarkan hanya dapat tertawa menanggapi.
"Tadi Paman Hyo bilang 'mencali Papa untuk kami'," celetuk Taehyung tiba-tiba. "Memang Papa kemana, Mama?" Bocah tersebut memandang Seokjin.
"Papa kelja. 'Kan waktu belangkat kemalin Papa sudah bilang ke Taetae kalau Papa kelja." Hoseok menyahut. "Mama, kapan Papa pulang? Hobi mau main sama Papa," tanyanya mengagetkan Seokjin, terlebih ketika semua saudaranya yang lain ikut menjatuhkan pandangan pada sang ibu, meminta jawaban tanpa tahu jika ibu mereka tengah memutar otak untuk mencari alasan yang tepat supaya anak-anaknya tidak berakhir dengan menangis karena merindukan ayah mereka.
"Bagaimana kalau sekarang kita telpon Papa?" tanya Seokjin yang membuat semua anaknya bersorak tapi kemudian mereka langsung menutup mulut rapat-rapat dengan tangan karena sadar jika Jungkook masih tertidur di dekat mereka. Melihat itu Seokjin hanya dapat menahan tawa.
Seokjin meletakkan ponselnya di lantai dalam mode speaker yang langsung dikelilingi oleh kelima putranya yang menunggu dengan tidak sabar pada suara tuut yang tidak juga berhenti terdengar.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..."
"Yahhh!" bersamaan para balita itu memasang wajah kecewa. Mata Jimin bahkan berkaca-kaca.
"Chimin mau bicala tama Papa..." ujarnya yang membuat Seokjin langsung memeluknya.
"Ssst, mungkin Papa sedang sibuk," hibur Seokjin. "Kita kirim pesan ke Papa, ya. Jadi nanti kalau Papa sudah tidak sibuk dan mendengar suara kalian, Papa akan langsung menelpon balik. Bagaimana?" dan Seokjin benar-benar bersyukur saat kemudian kelima pasang mata di hadapannya kembali bersinar cerah.
Sejurus kemudian para balita tersebut sudah berebutan mengoceh di depan speaker ponsel ibunya, mengatakan apapun yang mereka mau pada program perekam dan bahkan bertengkar ketika ada yang menyerobot gilirannya bicara. Seokjin sebagai penonton hanya bisa tertawa, memikirkan akan sepusing apa nanti suaminya mencoba memahami setiap kata dan kalimat anak-anaknya seperti itu. Selesai mereka merekam pesan—ditambah dengan satu jepretan foto Jungkook yang sedang tidur—Seokjin mengirim semua pesan tersebut ke nomor suaminya. Begitu dia bilang 'sudah terkirim', seketika kelima putranya bersorak dan memutuskan jika yang selanjutnya dilakukan adalah bermain. Namun karena Jungkook sedang tidur, mereka tidak bisa bermain terlalu berisik. Dengan segera Namjoon mengambil robot Bumblebee yang satu minggu lalu diperbaiki oleh Yoongi. Melihat itu Seokjin tersenyum, dia sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa robot yang sudah setengah hancur malah menjadi mainan Namjoon yang paling awet karena biasanya mainan seperti apapun tidak pernah bertahan lebih dari lima hari di tangan Namjoon.
"Mama," panggil Hoseok sembari menarik-narik ujung lengan pendek kemeja yang dipakai Seokjin. Bocah tersebut nampak menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya dan seperti biasa Seokjin hanya perlu berpura-pura untuk tidak menyadari hal itu.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya wanita tersebut sambil tersenyum.
"Ibu Gulu tadi minta kami untuk membuat sesuatu untuk olang tua kami sebagai hadiah, jadi Hobi membuat kaltu ucapan!" Hoseok memperlihatkan sebuah kartu yang dipenuhi oleh pernak-pernik hiasan—kartu itu hampir seluruhnya tertutupi oleh hiasan warna-warni berbentuk hati dan bintang-bintang kecil yang terbuat dari kertas gemerlapan. Di tengah-tengah hiasan tersebut ada tulisan I LOVE YOU PAPA AND MAMA yang mana tulisan di kalimat itu secara bertahap menjadi semakin kecil mendekati ujungnya. Dan ada juga gambar orang-orangan yang Seokjin tebak merupakan anggota keluarganya. Sulit untuk menentukan siapa adalah siapa kecuali pada dua gambar paling besar dengan salah satunya ditempeli hiasan warna emas di bagian kepala yang Seokjin tebak merupakan ayah dari anak-anaknya dan gambar lain yang memiliki hiasan warna pink di badannya yang dicurigai wanita itu adalah penggambaran dari apron pink yang selalu dia kenakan. Namun ada juga satu gambar kecil yang ditempeli hiasan berwarna hijau hampir di seluruh badannya dan kemungkinan gambar tersebut adalah ... Jimin...
Seokjin tertawa lantas memeluk Hoseok dengan erat. "Hobi, ini saaangat cantik. Mama akan menempelnya di lemari es dan melihatnya setiap hari."
Mata Hoseok nampak berseri-seri dan senyuman yang kemudian merekah lebar di wajahnya selalu dapat melelehkan hati Seokjin lebih dari apapun. "Dan Joonie membuat ini untuk Mama." Hoseok menyodorkan sebuah bunga yang terbuat dari kertas, dan sepertinya memang itu adalah bunga kalau dilihat dari bentuknya.
"Joonie sedih kalena Yelin bilang bunga ini jelek dan Mama tidak akan suka. Jadi dia menyembunyikannya di dalam tas dan bilang tidak akan membelikannya ke Mama. Tapi gala-gala itu bunganya jadi penyok..." tutur Hoseok. Dan memang bunga kertas tersebut tidak terlalu mirip lagi bentuknya seperti bunga, lebih seperti kertas yang diremas-remas menjadi satu untuk membentuk bulatan mahkota. Namun bagi Seokjin itu merupakan bunga paling cantik yang pernah dia lihat, begitu pun dengan kartu ucapan buatan Hoseok.
"Ibu Gulu menyuluh Yelin beldili di depan kelas kalena Namjoon menangis." Hoseok mendekatkan diri pada Seokjin dan ibunya merendahkan kepala untuk membiarkan bocah itu berbisik di telinganya. "Menulutku bunganya juga jelek, tapi kalena Namjoon sudah belusaha kelas membuatnya jadi aku tidak bilang."
Seokjin tertawa dan kembali memeluk putra kecilnya dengan bangga. "Terima kasih banyak, Hobi. Dan terima kasih juga untuk Namjoonie. Mama senaaang sekali. Papa pasti juga akan senang menerimanya nanti." Dengan penuh kasih sayang wanita tersebut mencium kening Hoseok, membuat putranya tersenyum lebar sebelum kemudian berbalik dan bergabung dengan saudaranya yang lain untuk kembali bermain.
Seokjin harus menggunakan empat magnet untuk membuat kartu Hoseok tidak jatuh dari pintu kulkas karena kartu tersebut terlalu berat dengan semua hiasannya. Namun begitu wanita itu mundur satu langkah, sekejab dia jadi merasa begitu bangga pada pintu lemari esnya yang penuh oleh hasil karya anak-anaknya. Di pintu sebelah kanan ada jejeran kertas-kertas dengan gambar-gambar lucu yang dibuat oleh para buah hatinya dan pintu sebelah kiri penuh dengan foto-foto yang mana hampir separuhnya adalah hasil jepretan Yoongi, jadi tidak mengherankan jika selalu ada bayangan jari di sudut foto. Foto-foto itu blur, masih kesulitan menemukan fokus, dan ada beberapa objek yang hingga saat ini alasan kenapa Yoongi memotretnya masih merupakan misteri untuk Seokjin. Namun dia tidak ingin mengkritik hasil karya anak umur empat tahun dengan semua kreatifitas dan cara berpikirnya yang unik. Dan dengan senang hati dia mencetak beberapa foto yang disukai oleh Yoongi lalu menempelnya di lemari es.
Seokjin mencari sesuatu sebagai tempat meletakkan bunga kertas buatan Namjoon dan dia menemukan sebuah mangkuk kecil. Sebelumnya wanita tersebut melapisi bagian bawah bunga kertas dengan selotip bening supaya tidak basah jika nanti Namjoon mengisi mangkuk dengan air, lantas meletakkannya di tengah-tengah meja makan. Dan benar saja, sesekali Namjoon akan memanjat dan berdiri di kursi untuk menuangkan air ke dalam mangkuk bunga kertasnya. Bocah tersebut juga akan memandang Seokjin setiap kali menyadari ibunya sedang melihat bunga buatannya dan senyuman lebar yang kemudian merekah membalas senyumannya adalah satu-satunya hal yang terus ingin Seokjin lihat menghiasi wajah anak-anaknya.
Yeobo, aku minta maaf. Aku sedang ada di pesawat saat kau menelpon. Aku akan segera pulang setelah mengurus beberapa hal di kantor. Sampai jumpa di rumah, Sa—ah, apa anak-anak sudah tidur?
Adalah pesan yang dibaca Seokjin ketika dia terbangun di tengah malam karena mendengar celotehan Taehyung, mengira jika anaknya bangun namun ternyata hanya sedang mengigau. Ibu muda tersebut tersenyum, jemarinya bergerak akan mengetikkan balasan saat terdengar olehnya sebuah suara benda terjatuh dari arah dapur.
Seokjin mematung untuk sesaat. Seingatnya dia sudah mengunci semua jendela dan pintu apartemennya tidak memiliki pet door, jadi tidak mungkin jika ada kucing yang masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu bangun dan berjalan keluar kamar setelah sebelumnya meletakkan guling menggantikan dirinya di tepi tempat tidur untuk menjaga Jungkook supaya tidak terjatuh dari ranjang.
Dengan langkah pelan Seokjin berjalan ke dapur. Dalam kegelapan, matanya menangkap keadaan ruang duduk yang berantakan. Ada tas, mantel, syal, topi, bahkan kemeja dan celana panjang yang diletakkan begitu saja di sofa serta lantai. Mulut Seokjin mengerucut. Dia berhenti di pintu dapur dan mengedarkan pandangan ke ruangan yang dibiarkan gelap gulita. Satu-satunya cahaya yang terlihat adalah dari kulkas yang pintunya terbuka dan nampak seseorang tengah duduk tepat di depan lemari es entah sedang melakukan apa.
"Yeobo," panggil Seokjin menghentikan kesibukan orang itu. "Kenapa tidak menyalakan lampunya?"
Sebuah kepala menyembul memperlihatkan cengiran lebarnya pada Seokjin. "Maaf, apa aku membangunkanmu?"
-END-
Karena kata TBC itu menakutkan, hahaha *ngakak garing*
Ini pertama kalinya aku melibatkan tokoh selain dari EXO, BTS, BAP, dan VIXX. Tbh, aku sama sekali gak kenal sama otp Topp Dogg.
Siapa couple-nya Hyosang?
