Title: Baby Baby (chapter 3)
Author: Myka Reien
Main Cast: MonJin/NamJin
Genre: AU!Baby Bangtan, Rate T, GS!Jin
Note: No bash, no flame, no copycat. Let's be a good reader and good shipper.
HAPPY READING
Ppyong~
.
.
.
Baby Baby
(chapter 3)
.
.
.
Seokjin meletakkan mangkuk berisi ramen panas di atas nampan, bersama sepiring kimchi dingin dan sebotol cola serta gelas kosong lantas membawanya keluar dapur, meletakkannya di atas meja ruang duduk sementara sepasang matanya memperhatikan sosok manusia dengan kepala tertutup handuk basah yang duduk jongkok tengah menatap sesuatu dengan seksama di lantai. Seokjin naik ke sofa, melipat kedua kaki jenjangnya dan baru sadar jika orang itu terlampau asyik memandangi lantai sampai tidak mendengar kedatangannya.
"Apa yang akan kau lakukan?" suara lembut Seokjin membuat suaminya tersentak kaget, lelaki itu segera menoleh dan langsung memberinya cengiran lebar memamerkan deretan gigi serta memunculkan lesung pipit kecil di salah satu pipinya.
"It's amazing," ucap Rapmon yang membuat Seokjin tertawa kecil, komentarnya sama persis dengan apa yang selama ini diprediksikan oleh wanita tersebut.
"Look." Rapmon menunjuk pada lantai yang nampak kotor oleh bekas lem yang ditumpahkan Yoongi minggu lalu. Seokjin sudah berusaha keras untuk membersihkannya, memakaikan berbagai macam produk pembersih porselen dan bahkan menyikatnya berulang kali namun kemudian dia menyerah, memilih untuk menerima kenyataan dan membiarkannya begitu saja. Menunggu second opinion dari suaminya, berharap lelaki itu dapat memecahkan masalah ini.
"Tidakkah kau pikir ini seperti gambar pulau?" tanya Rapmon membuat Seokjin menegakkan leher dan bahkan bangkit dari duduknya untuk mendekati sang suami. "Lihat." Lelaki itu mengetuk noda coklat tua yang membentuk pola abstrak cukup besar di atas lantai linolium.
"So?" tanya Seokjin tidak mengerti.
Rapmon kembali nyengir sebelum bicara. "Apa ada lem warna hijau, kuning, dan merah—"
"No!" dengan tegas Seokjin menolak dan berdiri, kembali ke sofa.
"Ah, Yeobo—" Rapmon mencoba merajuk. "Anak-anak pasti akan sangat senang bisa menggambar di sana. Tinggal ditambah pepohonan, gurun pasir, laut. Noda seperti itu tidak akan bisa hilang kecuali kalau ubinnya diganti atau ditutupi sesuatu. Makanya, sekalian saja digambari. Hoseok dan Namjoon juga akan bisa menggunakannya sebagai daratan untuk mereka perang robot."
Seokjin tidak menjawab sedikit pun penjelasan Rapmon dan hanya memberikan tatapan mata setajam pedang pada lelaki tersebut, membuat suaminya bungkam seketika. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa lagi Rapmon duduk di lantai, menghadap meja dan menarik nampan berisi makan malam-nyaris-dini-hari-nya. Namja tersebut menyeruput mie ramen dengan lahap, melupakan perdebatannya barusan dengan sang istri.
Terdengar Seokjin menghela napas, sejenak kemudian terasa ada tangan yang memijat pelan kepala Rapmon. Istrinya dengan lembut memberikan head massage sekaligus mengeringkan rambutnya yang masih basah, membuat Rapmon tersenyum dan kembali melahap ramennya dengan lebih riang.
"Tidak ada lem warna kuning. Satu-satunya lem yang berwarna kuning yang ditumpahkan Yoongi itu. Kalau warna yang lain sepertinya masih ada," gumam Seokjin.
"Mau membelinya?" Rapmon mendongakkan kepala hingga dapat memandang wajah Seokjin yang berada di atasnya. Wanita tersebut mendaratkan sebuah sentilan di ujung hidung suaminya.
"Kau yang pergi," ucapnya membuat Rapmon bersorak. Di belakangnya, Seokjin hanya dapat tersenyum.
"Yeobo, tidakkah kau pikir Yoongi itu jenius? Aku sudah lihat robot Namjoon yang dia perbaiki dan—wow! Itu lebih keren dari foto yang kau kirimkan. Cutie cool! Amazing! He's really something!" ujar Rapmon setelah meneguk cola di gelasnya dan melanjutkan makan.
Seokjin mengangguk-angguk. "Meskipun dia sedikit ceroboh, tapi dia bisa memikirkan banyak hal yang bahkan aku sendiri tidak pernah punya ide tentang itu."
Hening sesaat.
"Yah, yah, yah, Yeobo." Seokjin teringat sesuatu yang dibalas 'hm' pendek oleh suaminya yang masih sibuk makan. Wanita tersebut menggeser badan ke tepi sofa, meletakkan kedua kaki di sebelah kanan dan kiri Rapmon sementara dagunya dia istirahatkan di puncak kepala berambut pirang tersebut.
"Hyosang bilang padaku, guru TK Yoongi bercerita padanya kalau Yoongi menjadi yang paling pandai berbahasa Inggris di kelas," tutur Seokjin, ada getar bangga di nada suaranya. Wanita tersebut melanjutkan, "Dan selama pelajaran bahasa Inggris, dia lebih banyak bertanya dengan bahasa Inggris daripada bahasa Korea, bahkan dengan teman-temannya dia juga seperti itu. Gurunya sampai pernah menegurnya supaya memakai bahasa Korea saja, tapi Yoongi tidak mau. Setelah pelajaran selesai, dia baru mau bicara Korea lagi."
Rapmon mengangguk-angguk. "That's my son."
"Tapi apa menurutmu itu tidak berlebihan?" tanya Seokjin kemudian. Rapmon tidak menjawab dan malah membalikkan badan. Tangan kirinya memegang mangkuk sementara tangan kanannya menyodorkan sumpit yang menjepit mie ramen.
Seokjin menggelengkan kepala. "Aku bisa gemuk kalau makan mie jam segini," tolaknya.
"Hurry up, hurry up, hurry up, tanganku pegal." Rapmon menge-rap yang langsung membuat mulut istrinya terbuka meski dengan kedua alis yang mengerut tidak setuju. Wanita tersebut menerima tisu dari suaminya untuk mengelap mulut sebelum menunjuk kimchi di atas piring dan membuat Rapmon kembali menyuapinya.
"Yoongi sudah punya semacam mindset, kalau kau mengajak dia bicara dengan bahasa Inggris maka dia akan melakukan hal yang sama. Dia pikir hal itu juga berlaku di pelajaran sekolahnya," ujar Rapmon lantas meminum habis kuah ramen hingga yang tertinggal hanyalah mangkuk kosong.
"Tapi gara-gara itu teman-temannya berpikir dia jadi seperti orang aneh. Aku pernah ke sekolahnya satu kali saat pelajaran bahasa Inggris dan Yoongi terlihat murung. Dia hampir tidak bicara pada teman di sebelahnya dan hanya bicara pada gurunya," desis Seokjin.
"Didn't he talk after the class?" (Apa dia tidak bicara setelah kelas bahasa Inggris selesai?) tanya Rapmon sambil menuangkan cola ke gelas.
"He did. With Korean. And his friends acted like nothing happened, Yoongi either," (Dia bicara. Dengan bahasa Korea. Dan teman-temannya bersikap seolah tidak ada yang terjadi, begitupun dengan Yoongi,) jawab Seokjin.
"So he's in silent mode just in English lesson?" (Jadi dia diam saja hanya saat pelajaran bahasa Inggris?)
"Uhm." Seokjin mengiyakan sambil jarinya menunjuk pada cola Rapmon, tapi ketika suaminya menyodorkan gelas yang masih berisi setengah wanita tersebut menolak. Seokjin kembali menunjuk ke botol cola yang mana membuat Rapmon berdecak.
"Kau diberi gelas, minta yang botol. Dasar." Dengan gemas lelaki itu memukul pelan paha Seokjin, membuat istrinya terkekeh.
"Mungkin karena Yoongi hanya mau bicara dengan bahasa Inggris selama pelajaran dan kemudian dia sadar kalau tidak ada satupun dari teman-temannya yang mengerti apa yang dia katakan, makanya dia memilih diam saja." Rapmon menarik kesimpulan. "Yoongi harus diberitahu kalau dia tidak bisa begitu saja mengajak orang lain bicara bahasa asing."
"Bagaimana caranya? Dia masih 4 tahun, dia tidak akan mengerti." Seokjin menutup mulut untuk meredam suara sendawanya. "Ah, aku kenyang~" soraknya lalu melempar lengan ke depan untuk memeluk leher Rapmon dan meletakkan kepala di salah satu pundak lelaki tersebut dengan manja.
"Bilang saja dia hanya boleh bicara Inggris padaku dan kau atau ketika dia ditanya dengan bahasa Inggris. Selebihnya dia harus menggunakan Korea." Rapmon menggeliatkan badan, mengusak rambut istrinya, dan menyandarkan punggung ke sofa, secara tidak langsung menjatuhkan diri ke pelukan Seokjin yang duduk tepat di belakangnya.
"I know. I'll talk to him tomorrow," (Baiklah, aku akan bicara dengannya besok,) bisik Seokjin di sebelah telinga suaminya.
"Anything else?" (Ada yang lain?) suara husky Rapmon terdengar sedikit lebih berat, tanda jika dia mulai mengantuk.
Seokjin memutar mata, mencoba menemukan hal-hal yang sekiranya bisa dia adukan ke suaminya. Namun sepertinya dia sudah mengatakan hampir semua yang terjadi pada anak-anak mereka setiap kali Seokjin menelpon namja itu di malam hari. Tentang Yoongi yang menumpahkan lem, Taehyung yang hampir memakan tanaman, Hyosang yang membantunya menjaga anak-anak, hadiah dari Hoseok dan Namjoon...
"Ah, aku ingin protes pada Namjoon besok," celetuk Rapmon.
"Why?" sahut Seokjin.
"Dia membuat bunga kertas sebagai hadiah untuk orang tuanya 'kan?"
Seokjin mengangguk.
"Kenapa hanya bunga kertas? Karena itu bunga, itu pasti buatmu. Kenapa dia hanya membuat hadiah untukmu? Untukku mana?" mendadak Rapmon kesal sementara Seokjin cuma dapat tertawa.
"Are you jealous?" (Kau cemburu?) tuding Seokjin.
"What's your expectation?" (Menurutmu?) balas Rapmon kembali membuat ibu muda tersebut tergelak.
"Maybe because he loves me more than you," (Mungkin karena dia lebih menyayangi ibunya daripada ayahnya,) goda Seokjin dengan sengaja, membuat suaminya mencibir.
"That brat..." (Anak nakal itu...) desis Rapmon pura-pura marah.
"Namjoonie is romantic guy, you know. Let's just pretend the flower is for both of us." (Namjoonie laki-laki yang romantis. Anggap saja bunga itu untuk kita berdua.) Seokjin mempererat pelukannya di leher Rapmon.
"A romantic guy who cried over lil girl's bad comment. Funny," (Laki-laki romantis yang menangis karena diledek perempuan. Lucu sekali,) cetus Rapmon tanpa gagal membuat istrinya kembali terkikik.
"He's just 3! What's your expectation? Oh my dear God, you're so rude." (Dia cuma anak umur 3 tahun! Jangan menuntutnya macam-macam. Astaga, kau jahat sekali.) Wanita itu merengut namun kemudian kembali menertawakan kalimat suaminya yang setengah keterlaluan dan setengah kekanakan.
"Don't you realize it? Namjoon seems like he has so many soft spots for girls. He prefer crying than beating them up when he's bullied. He isn't like Yoongi." (Apa kau sadar? Namjoon selalu lemah kalau berhadapan dengan wanita. Dia pasti menangis setiap kali dibully oleh mereka dan tidak pernah melawan. Tidak seperti Yoongi.)
"The kids said Yoongi is bad boy because he has no mercy even for girls. He gives what he gets!" (Teman-teman Yoongi bilang Yoongi anak yang nakal karena dia tidak pernah mau mengalah bahkan pada teman perempuannya. Dia selalu membalas kalau dibully ataupun disakiti!) Seokjin mendengus.
"Isn't that cool? Bad boy is always cool, baby." (Bukankah itu keren? Anak nakal itu selalu keren, baby.) Rapmon menaikkan alis dan hanya mendapat cibiran dari istrinya.
"Namjoonie's a romantic guy. He knows how to respect the girls and—" (Namjoonie laki-laki yang romantis. Dia tahu bagaimana harus menghormati wanita dan—)
"No." Rapmon menyela. "My kids must be a sparta." (Anak-anakku harus menjadi sparta.)
"Even a sparta can't win over a girl," (Bahkan seorang sparta akan mengalah pada wanita,) debat Seokjin.
"Who sparta you talk about?" (Sparta mana yang kau bicarakan?) Rapmon meraih kepala Seokjin dan membuatnya menunduk untuk dapat mengecup bibir merah istrinya sebelum dia berdiri lalu membereskan mangkuk serta gelas kotor untuk kemudian membawanya ke dapur.
"The sparta—" Seokjin hampir menyemburkan pembelaannya ketika suara berat Rapmon memotong kalimatnya begitu saja.
"Ara, ara, I'll teach them to be a sparta and you teach them about humanity." (Ara, ara, aku akan mengajari mereka menjadi sparta dan kau mengajari mereka menjadi manusia.) Dan yang kemudian terdengar adalah suara air kran westafel dinyalakan bersamaan dengan denting gelas kaca mengenai mangkuk.
"Kh." Seokjin mendecih. "Dia selalu saja seperti itu. Tidak asik," desisnya sembari merengutkan mulut.
Lima menit kemudian Rapmon kembali. Handuk di kepalanya sudah menghilang entah dia letakkan dimana dan rambutnya yang setengah kering masih nampak berantakan tapi sepertinya dia tidak terlalu peduli. Namja itu menghempaskan diri di sebelah Seokjin yang masih duduk di sofa, meletakkan lengan di pinggang istrinya lantas menarik tubuh ramping tersebut untuk tenggelam di pelukannya.
"Bagaimana harimu di Amerika?" tanya Seokjin menyandarkan wajah di dada bidang Rapmon dan mengusap lembut lengan kekar yang memeluk posesif pinggangnya.
"Worst," (Buruk,) desis Rapmon. "Everything is worst without you and the kids." (Segala sesuatu menjadi sangat buruk tanpa ada kau dan anak-anak.)
Seokjin tersenyum, diam, dan membiarkan suaminya melanjutkan kata-katanya.
"The producer is insane. He made us worked day and night until I felt I spoke in rapping because whatever I did, whenever I was, I always wrote rapping, thinking about it, how to make it synchron with the song and when I was done with one song, another file was already in my desk! A week there almost like a thousand year in the hell!" (Produser itu gila. Dia membuat kami bekerja siang dan malam sampai rasanya setiap kali aku bicara aku akan menge-rap karena apapun yang sedang aku lakukan, dimanapun aku berada, aku selalu menulis lirik rap, mencari inspirasi, bagaimana caranya membuat rap ini sesuai dengan lagu, dan setiap kali aku selesai dengan satu lagu, pekerjaan lain sudah menumpuk di meja! Satu minggu di sana tak ada bedanya dengan seribu tahun di neraka!)
"You rapped just right now," (Kau baru saja menge-rap,) tuding Seokjin terkekeh membuat bibir suaminya maju beberapa sentimeter.
"I miss you," ucap Rapmon dengan aegyo sebelum menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Seokjin, menghirup wangi yang dia rindukan, yang tidak dapat dia temukan di Amerika dan bahkan mungkin tidak akan ada di tempat manapun di dunia ini. Wangi yang merupakan perpaduan dari bau sabun, bedak bayi, minyak telon, dan bumbu dapur. Aroma rumah yang khas, aroma seorang ibu, dan satu dari sekian alasan yang membuat Rapmon bersemangat untuk menyelesaikan sebanyak apapun pekerjaannya supaya dia cepat bisa pulang dan bertemu kembali dengan wangi ini.
"Kids miss you too," jawab Seokjin. Sekejab Rapmon menarik diri dan menatap istrinya dengan tajam. Seokjin membalas dengan kedipan mata tidak mengerti.
"And you?" tagih Rapmon membuat wanitanya tertawa. Seokjin memajukan wajah, mengecup sekilas bibir suaminya sebagai jawaban dan hal tersebut cukup untuk membuat Rapmon tersenyum lagi.
"Apa besok anak-anak sekolah?" tanya Rapmon sambil memainkan ujung rambut panjang Seokjin yang terlepas dari jepitan. Wanita itu menjawab dengan gelengan.
"Kalau begitu besok kau bisa bersantai. Biar aku yang menjaga anak-anak."
"The return of Superman?" celetuk Seokjin yang kali ini membuat suaminya tertawa.
"Yeah, Superman is returned." (Yeah, Superman sudah kembali.) Rapmon mencium pipi chubby istrinya dengan sayang membuat Seokjin balik semakin mendekatkan badan padanya dengan manja.
"Let's do it," desis Rapmon.
"Do what?" Seokjin mendongakkan wajah untuk memandang mata kelam suaminya.
"Because I love you," ujar Rapmon membuat alis istrinya mengerut.
"Because I miss you."
"What do you want to say—" kalimat Seokjin terhenti ketika Rapmon berbisik di telinganya dengan suara husky yang lirih dan nada menggoda.
"Sex..."
Seokjin langsung menyunggingkan senyuman geli.
"Jangan sampai membangunkan anak-anak," ujar wanita tersebut.
"I didn't. You did," (Bukan aku. Kau yang melakukannya,) balas Rapmon.
"Liar." (Pembohong.) Seokjin memukul pelan dada suaminya dan tawanya terhenti ketika Rapmon menutup mulutnya dengan mulut namja itu sendiri. Perlahan dia membuat Seokjin terbaring di sofa.
-o0o-
Pagi hari di rumah Seokjin selalu diawali oleh suara serak Hoseok yang masih mengantuk memanggil namanya, membuat Yoongi membuka mata dan menggeliat di atas kasurnya meski kemudian dia akan menutup matanya kembali sampai teriakan Hoseok terdengar lagi. Di sebelah Hoseok ada Namjoon yang sudah membuka mata dan hanya memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong, dia terlihat antara bangun dan masih ngelindur. Jika Seokjin tidak segera menampakkan diri, Hoseok akan berteriak lagi dan kali ini Jimin serta Taehyung yang dibuatnya bangun. Seperti biasa, Jimin akan langsung menangis begitu membuka mata dan tidak melihat ibunya sementara Taehyung hanya akan diam di antara selimut karena masih mengantuk.
"Iya, iya, Mama datang!" seru Seokjin sambil berlari dari dapur. Dia berdiri sejenak di pintu kamar untuk melihat satu per satu permata hatinya menggeliat di ranjang dan wanita tersebut tersenyum.
"Selamat pagi~" sapanya, lalu berjalan menuju tempat tidur Jimin, meraih si cengeng ke gendongannya dan Jimin langsung berhenti menangis.
"Mama..." suara serak Taehyung terdengar, tangan kecilnya meraih celana pendek Seokjin dan itu membuat ibunya duduk di tepi tempat tidur. Dengan segera Taehyung merangkak ke pangkuan Seokjin, duduk berdesakan dengan Jimin lantas menyandarkan kepala ke dada sang ibu dan kembali memejamkan mata. Dengan sayang Seokjin mengusap rambut Taehyung.
"Coba lihat siapa yang pulang," ujar Seokjin membuat semua anaknya menatapnya dengan mata mengantuk tidak mengerti.
"A-yo, good morning gentlemen!" suara berat Rapmon dari arah pintu berhasil mengalihkan perhatian seluruh makhluk mungil di dalam kamar. Berpasang-pasang mata bulat langsung tertuju padanya, termasuk Jimin dan Taehyung yang hampir kembali tertidur. Dan yang selanjutnya menggema, hampir menyamai kerasnya suara terompet, membuat Seokjin tertawa.
"PAPAAA!"
-END-
Jangan bully saya XD
Kim Rapmon cocok kan ya jadi blasteran Korea-Amerika? Tipe cowok songong pindahan dari Amrik yang sering nge-Engris gak jelas *seketika dibantai Namjoon stan*
