BABY BABY IS BACK STILL WITH BABY BANGTAN, MAMA SEOKJIN, AND PAPA RAPMON! XD :*
#monjin #namjin #babybangtan #bts #gs #t
Baby Baby
4
Sambil bersenandung kecil Seokjin menggantungkan satu per satu pakaian dari dalam ember ke penjepit baju yang berada di balkon apartemen. Dengan telaten dia meletakkan pakaiannya dan Rapmon dalam satu deretan yang sama lalu pakaian anak-anak di deretan lain, menggabungkan pakaian dalam serta baju mungil Jungkook dalam barisan yang berbeda. Begitu fokusnya Seokjin menjemur hingga tanpa sadar sepasang tangan kecil ikut mengaduk-aduk isi ember, mengambil sebuah baju, dan menyodorkannya padanya.
"Mama," panggil Taehyung ketika sang ibu tidak jua menyadari kedatangannya. Seokjin terlonjak mendengar suara kecil tersebut namun dia langsung tersenyum begitu menunduk dan melihat wajah berseri-seri Taehyung.
Wanita itu berjongkok. "Uwaaah, Taetae mau membantu Mama ya? Taetae anak yang baik," puji Seokjin sambil mengusap rambut hitam anaknya lalu mencium sayang kening bocah tersebut, memunculkan cengiran lebar Taehyung yang memamerkan deretan gigi susu yang hampir genap jumlahnya. Seokjin mengambil pakaian yang dipegang si balita, meletakkan gantungan baju di kedua bahunya, lalu menyisipkannya ke dalam barisan. Saat dia membalikkan badan, Taehyung sudah menunggu dengan tangan memegang baju yang lain, melihat itu Seokjin hanya dapat tersenyum.
"Kenapa Taetae tidak main sama Papa?" tanya Seokjin.
Taehyung menggelengkan kepala. "Mama," ucapnya sambil memukul pelan pinggiran ember.
"Taetae mau membantu Mama saja?" tebak Seokjin yang kali ini dijawab anggukan oleh putranya.
Taehyung kembali mengambil sepotong baju namun kali ini tidak langsung diberikan pada ibunya. Dia mengamati baju itu lebih dulu, membentangkannya, dan membaliknya ke depan-belakang.
"Baju siapa itu?" ujar Seokjin.
"Huh?" mata Taehyung membulat, kepalanya mendongak memandang sang ibu.
"Itu baju siapa? Taetae tahu?" tanya Seokjin, senyuman tidak lepas dari bibirnya.
"Batuuu..." Taehyung menggumam, kembali memperhatikan kain di tangannya. "Timin." Bocah itu meringis.
"Bukan~" Seokjin mencubit gemas kedua pipi gembul Taehyung. "Ini baju Yoongi Hyung." Wanita tersebut mengambil pakaian di tangan Taehyung dan menunjukkan sebuah bordiran huruf Y di bagian paling bawah kainnya. "Y untuk Yoongi!" jelasnya.
"Y!" ulang Taehyung. "Yoongi!"
"Benar~ ah, Taehyungie pintar sekali!" Seokjin kembali mencium anaknya, membuat bocah tersebut tertawa riang.
"Kalau baju Taehyung yang mana? Coba cari," ujar Seokjin bermaksud untuk menyibukkan balita itu sementara dia mempercepat pekerjaannya menjemur pakaian. Dengan segera Taehyung menundukkan kepala dan mengaduk-aduk isi ember. Untungnya pakaian yang akan dijemur sudah dalam keadaan setengah kering setelah diperas habis di pengering mesin cuci. Jadi Taehyung sama sekali tidak membuat basah tangan maupun bajunya.
"Taetae!" sorak Taehyung sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah baju oranye dengan gambar mobil-mobilan.
"Wah, benar!" Seokjin ikut bersorak. "Taetae pintar!" pujinya. "Lihat." Wanita itu mengambil pakaian dari tangan Taehyung dan menunjukkan sebuah bordiran huruf T di bagian bawahnya.
"T! Tae-hyung!" ucapnya.
"T! Tae-hyung!" Taehyung menirukan.
Seokjin mengambil sebuah baju lain yang sama persis dengan yang diambil putranya barusan dan menunjukkan huruf J yang terbordir rapi di tempat yang sama.
"J! Ji-min!"
"TE! Ti-min!"
"Bukan, bukan, bukan." Seokjin mengibaskan tangan. "JE! JI-min!" ulangnya.
"TE! TI-MIN!" Taehyung ngotot dan hal itu membuat ibunya tertawa.
"Kau masih susah mengatakan J?" Seokjin terkekeh. "Aiguu~ kyeopta~" ujarnya sembari mengusap lembut kepala Taehyung.
"Tirukan Mama. J-S-C!"
"TE-ET-TE!" ucap Taehyung dengan penuh percaya diri dan Seokjin kembali tertawa, tidak tahu harus marah atau kecewa atau yang lainnya karena anaknya bicara dengan sangat menggemaskan dan dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
"Baiklah, tidak apa-apa. Kau juga baru belajar bicara." Seokjin menyentil ujung hidung mungil Taehyung membuat bocah tersebut memekik senang. "Popo~" ibu muda itu memajukan sebelah pipi dan dengan segera buah hatinya menyambut dengan sebuah kecupan singkat kembali membuat Seokjin tersenyum.
"Taehyung-ah, kau dimana?" terdengar suara berat Rapmon dari dalam rumah yang membuat Taehyung menolehkan kepala, tahu jika namanya disebut.
"Nah, Taetae dicari Papa," ujar Seokjin disusul si bocah yang langsung memandangnya dan buru-buru bangkit berdiri. Taehyung mencoba menyembunyikan diri di belakang kaki jenjang sang ibu. Kembali Seokjin terkikik.
"Taehyung di sini?" kepala pirang Rapmon menyembul dari jendela balkon yang terbuka dan istrinya hanya memberi isyarat dengan gerakan mata ke arah kaki. Rapmon nyengir melihat sesosok makhluk kecil yang berusaha menutupi dirinya dengan kaki sang ibu yang kurus.
"Papa masih bisa lihat ekormu, Kim Taehyung~~~" Rapmon membesarkan suaranya yang memang sudah bass menjadi lebih menggelegar seperti suara karakter raksasa di film kartun membuat Taehyung menjerit senang, semakin erat memeluk kaki Seokjin.
"Kemari, Papa punya makanan enak untukmu," ujar Rapmon langsung membuat anaknya melongokkan kepala.
Makanan?
"Ke sini, ikuti Papa." Lelaki itu melambaikan tangan lalu masuk ke dalam rumah dan dengan segera Taehyung berlari mengekor dengan langkah-langkah pendek. Seokjin memandang kepergian punggung kecil tersebut dengan tatapan mata tidak percaya.
"Kau meninggalkan Mama hanya untuk makanan?" desis wanita itu. "Betapa teganya kau, Kim Taehyung," gumamnya patah hati.
Dengan penasaran Taehyung mengikuti Rapmon hingga ayahnya mengambil sebuah piring yang diletakkan di atas televisi, tempat yang cukup tinggi dan tidak bisa dijangkau oleh anak-anak bahkan Yoongi sekalipun.
"Apa itu?" tanya Taehyung memandang sesuatu lembek berwarna gelap yang memenuhi piring di tangan ayahnya.
"Coba saja dulu," bujuk Rapmon sambil menyodorkan satu sendok makanan tersebut ke depan mulut Taehyung yang tanpa curiga langsung terbuka dan menerima suapan sang ayah. Rapmon menunggu reaksi anaknya.
"Enak?" tanya lelaki itu dijawab oleh acungan ibu jari Taehyung, isyarat yang selalu dia gunakan setiap kali dia memakan makanan enak. Rapmon tertawa, puas akan reaksi putranya dan mengacak rambut Taehyung dengan gemas.
"Mau lagi?" tanya Rapmon dibalas anggukan oleh si balita.
"Aaa~" namja tersebut menuntun anaknya untuk membuka mulut dan kembali menyuapkan makanan lembek itu. Dengan riang Taehyung terus mengunyah lantas mengedarkan pandangan dan beranjak untuk mendekati Hoseok yang sedang bermain robot.
"Jimin-ah," panggil Rapmon membuat si pemilik nama menoleh. "Lihat, Taetae bilang makanannya enak. Kau yakin tidak mau makan?"
Jimin mencari sosok Taehyung dan benar, saudaranya tersebut terlihat seperti sedang mengunyah sesuatu dan sama sekali tidak kelihatan jika dia tidak menyukainya. Bocah itu kembali memandang Rapmon yang kini sudah siap dengan sendok berisi makanan lembek berwarna gelap yang tadi enggan dia makan karena bentuknya mencurigakan.
"Cobalah dulu, ini enak." Rapmon tersenyum. Jimin nampak ragu, dia kembali memandang Taehyung namun akhirnya memutuskan untuk berdiri, berjalan mendekati ayahnya.
"Sedikit saja, cobalah sedikit dulu," bujuk sang Ayah.
"Cedikit..." protes Jimin, dengan ujung jari dia menunjuk sendok yang terisi penuh. Rapmon mengerti, mengurangi makanan yang mengisi sendok di tangannya lalu dengan hati-hati dia menyuapi Jimin. Bocah kecil itu terdiam, mengunyah dan merasakan makanan di dalam mulutnya sementara sang Ayah jauh lebih gugup menunggu reaksinya.
"Enak?" tanya Rapmon hampir takut jika nanti Jimin mendadak memuntahkan isi mulutnya namun kemudian menghembuskan dia napas lega saat balita itu mengangguk. Jimin bahkan menunjuk ke piring, meminta untuk disuapi lagi dan dengan senang hati ayahnya menyanggupi.
"Yoongi-ya, kau tidak mau mencoba?" kali ini Rapmon memanggil si sulung. Melihat adik-adiknya makan dengan tenang, mau tak mau membuat Yoongi penasaran dan dia berlari mendekati ayahnya, meninggalkan buku serta pensil yang sedari tadi dia pegang.
Sampai kapan pun Rapmon tidak akan pernah memberi tahu jika yang dia pegang sekarang adalah tumis sayuran yang dikecapi. Bukan rahasia umum jika anak-anak tidak suka sayuran, termasuk keenam putranya. Terutama Yoongi dan Jimin, kedua bocah itu terkenal sebagai karnivora sejati di keluarga Kim. Dalam setiap menu, dengan pintar mereka akan menemukan sayuran yang sudah disembunyikan Seokjin di antara daging maupun nasi lalu menyisihkannya. Selain itu, Jimin juga sangat sensitif dengan apapun yang berwarna hijau, dia selalu punya pikiran buruk dengan benda-benda hijau membuat usaha untuk membujuknya makan sayuran menjadi dua kali lipat lebih sulit. Meminta Taehyung untuk makan hanyalah pancingan karena Taehyung memang bukan tipe anak yang sulit makan, dia mau mencicipi apapun selama makanan itu tidak panas dan tidak bergerak. Pun dengan si kembar kedua, Hoseok dan Namjoon.
"PAPAAA!" teriakan keras Hoseok membuat Yoongi dan Jimin terlonjak di tempat karena kaget.
"A-yo, wassup~" jawab Rapmon, menyuapi Jimin terlebih dulu sebelum meletakkan piring kembali ke atas televisi dan beranjak ke tempat Hoseok.
"PAPA, KOOKIE MAKAN KELELENG!" Hoseok berteriak lagi.
"WHAT!?" Rapmon tiba dan langsung melihat putra bungsunya sedang mengemut sesuatu yang cukup besar hingga membuat sebelah pipinya menggembung bulat seperti orang sakit gusi.
"Apa?" Seokjin keluar dari kamar mandi, baru selesai meletakkan ember ketika Hoseok berteriak keras.
"Kookie makan keleleng." Hoseok menunjuk adiknya. "Hobi sudah belusaha melebutnya tapi tidak boleh," ujarnya.
"Keluarkan, Kook-ah," bujuk Rapmon sambil mencoba membuka mulut anaknya, namun Jungkook menolak. Bayi itu malah mengetatkan kedua bibir membuat sang papa makin panik jika kelereng di dalam mulutnya tertelan.
"Keluarkan, Papa mohon." Rapmon memaksa membuka mulut Jungkook yang membuat bayi tersebut berontak dan menjerit keras.
"Hati-hati—" suara Seokjin tercekat, cemas saat melihat suaminya mencoba mengambil kelereng di antara gusi Jungkook. Jungkook tersedak, nyaris muntah ketika jari ayahnya masuk ke dalam mulut dan meraih kelereng lalu membuangnya cepat ke lantai. Maknae seketika menangis sekuat tenaga, menolak tangan Rapmon ketika sang papa meraih ketiaknya untuk digendong. Bayi itu mengamuk di pelukan ayahnya. Rapmon menggendong Jungkook menjauh sementara Seokjin mengajak Hoseok dan Namjoon mengumpulkan semua kelereng untuk disimpan ke kotak mainan.
"Ssst, cup cup cup~" Rapmon menimang tubuh Jungkook ke atas dan ke bawah tapi bayinya masih belum mau berhenti menjerit-jerit, sepertinya dia sangat marah 'makanan'nya sudah diambil dengan paksa.
"Kelereng bukan untuk dimakan, Sayang. Kookie tidak bisa makan itu—"
"HUWAAA!" Jungkook memotong ucapan ayahnya dengan lengkingan suara yang memekakkan telinga.
"Aiguu~ apa kau bercita-cita jadi penyanyi, huh? Nada tinggimu benar-benar menakjubkan," gurau Rapmon padahal dalam hati dia bingung harus melakukan apa pada anaknya yang kini mulai menggeliat brutal di gendongannya mencoba untuk melepaskan diri.
"Ayo, kita cari sesuatu untuk dimakan." Rapmon memeluk Jungkook dengan lebih erat, mengakibatkan bayi tersebut menjerit lebih marah. "Kau mau kue? Ayo, kita cari kue. Kue ada dimana~"
Mendengar ada yang menyebut 'kue' membuat telinga Taehyung berdiri, sekejab dia bangkit dari duduk dan mengikuti langkah ayahnya menuju dapur. Di belakang bocah itu mengekor Hoseok serta Namjoon.
"Kue mana kue~" ujar Rapmon sembari menimang-nimang Jungkook dengan sebelah tangan sementara tangan lain meraih toples berisi kue susu kering buatan sang ibu yang diletakkan di rak atas almari persediaan. Rapmon meletakkan satu keping kue di tangan mungil bayinya, berhasil membuat Jungkook berhenti menangis sejenak. Mata bulat tersebut mengamati benda di tangannya sebentar dan begitu dia mengenalinya, langsung kue itu dimasukkan ke dalam mulut.
"Kau lapar, huh?" Rapmon menyeringai melihat maknae kemudian mengemuti kue hingga hancur dan mengunyahnya pelan dengan gigi seri yang baru tumbuh empat biji.
"Papa, kue~" suara Hoseok terdengar dari arah bawah dan Rapmon terkejut, sama sekali tidak sadar jika ternyata sudah ada tiga tuyul yang mengikutinya hingga dapur. Taehyung bahkan sudah menengadahkan kedua tangan dan memasang mata memelas.
"Tuteyoo~" pinta Taehyung, ditirukan oleh Namjoon yang juga menengadahkan tangan kemudian.
"Juseyoo~" serempak si kembar ikut memohon dan Rapmon tidak dapat melakukan apapun selain tersenyum. Apa boleh buat, anak-anaknya sangat menggemaskan.
"Ini. Satu untuk Hobie, Joonie, dan Taehyung. Jangan berebut ya." Rapmon memberikan satu keping kue pada masing-masing anak dijawab 'ne' patuh oleh mereka.
"Telima kasih, Papa," ucap Hoseok sambil menundukkan badan diikuti oleh Namjoon sementara Taehyung sudah lebih dulu berlari kembali ke ruang duduk. Melihat anaknya sudah bisa mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan badan membuat Rapmon cukup terkejut sebab seingatnya terakhir kali dia di rumah sebelum memulai proyek di luar negeri, dia masih melihat Seokjin berkali-kali mengingatkan si kembar untuk mengucapkan terima kasih saat diberi sesuatu.
"Papa, kue—" Jimin menyambut kedatangan ayahnya di ruang duduk dengan mata menagih dan langsung diam begitu melihat Rapmon menyodorkan apa yang dia minta.
"Bilang apa, Jiminie?" lelaki itu mencoba bertanya.
"Telima kacih, Papa," jawab Jimin sembari meletakkan tangan di depan perut lalu membungkukkan badan.
Wow, Jimin juga? Batin Rapmon menyimpan rasa bangga. Istrinya benar-benar hebat.
Sebentar kemudian Yoongi mendekat untuk mengambil jatah kue dan—kembali—Rapmon berhasil membuatnya berterima kasih sambil membungkukkan badan.
Sejenak suasana tenang. Hoseok dan Namjoon melanjutkan imajinasi mereka bermain robot dengan Taehyung yang menjadi supporter, di sisi lain Yoongi tekun mengerjakan pekerjaan sekolah menulis huruf hangul dengan Jimin yang duduk di sebelahnya sedang mewarnai buku bergambar. Perlahan Rapmon menurunkan Jungkook ke atas karpet, si bayi tidak berpindah kemana-mana hanya duduk sambil sibuk mengunyah kue di tangannya.
This is life, batin Rapmon lega, dengan santai menggeliatkan badan tepat ketika Jimin berteriak.
"Ande!" (Andwe!) disusul oleh isakannya, "Hiks—" dan dia pun menangis.
"Ah, whyyy, Jiminie?" suara Rapmon terdengar frustasi, baru juga dia menikmati kebebasan selama semenit. Dengan ogah-ogahan dia mendekati Jimin setelah memastikan Jungkook masih berada di tempatnya.
"Ada apa?" tanya Rapmon ketika melihat Jimin dari dekat dan tidak melihat ada luka di badan anak itu maupun tanda-tanda dia dinakali saudaranya. Jimin tersedu, tangan gemuknya menunjukkan kue yang tinggal separuh sebab setengahnya telah patah dan kini tergeletak di atas meja, mengotori buku yang sedang dia warnai.
"Kau mau kue lagi? Tapi itu masih." Rapmon tidak mengerti.
"Ande. Patah..." Jimin terisak sambil terus memperlihatkan kue yang tinggal separuh di tangannya, dia nampak begitu sedih seolah hatinya ikut patah menjadi dua dan hal tersebut membuat sang ayah bengong seketika.
"Kau menangis karena kuenya patah?" desis Rapmon tidak percaya. Tapi melihat ekspresi si papa yang terlihat sama sekali tidak menaruh simpati, tangisan Jimin meledak lagi.
"Huwaaa~"
Rapmon kelabakan. "Tidak apa-apa kuenya patah, ini masih bisa dimakan—"
"Ande, ande, ande!" (Andwe, andwe, andwe!) Jimin menggelengkan kepala, memukul-mukulkan tangannya ke meja, dan menangis semakin keras.
"Jiminie, kue yang patah tidak akan mengubah rasanya. Rasanya sama saja. Coba makan," bujuk Rapmon sembari mengambil potongan kue dari atas meja dan menyodorkannya ke depan mulut Jimin, namun bocah itu kembali menggelengkan kepala dan bahkan bergerak mundur menjauhi meja sekaligus tangan sang ayah sambil tetap menangis.
Rapmon menghela napas. "Kim Jimin—"
Mendadak Yoongi menyodorkan kue pada Jimin. Adiknya berhenti menangis sejenak, memandang kuenya sendiri yang tinggal setengah dan kue Yoongi yang lebih besar karena baru digigit satu kali. Jimin mengambil kue kakaknya dan Yoongi mengambil kuenya. Kemudian dengan kalem bocah dua tahun tersebut memakan kue Yoongi sementara Hyung-nya memegang kue Jimin sambil kembali meraih pensil. Melihat pemandangan itu Rapmon hanya dapat tercengang, dengan tatapan mata tidak percaya dia memandang Yoongi yang kembali menulis hangul di buku.
"Kim Yoongi," panggil Rapmon membuat si sulung mendongakkan kepala. Dua acungan ibu jari tangan telah menunggunya.
"Kau hebat. Kau jagoan," puji Rapmon dibalas oleh kedipan mata tidak mengerti dari anaknya dan lelaki itu hanya tertawa. Dia memberikan bagian lain kue Jimin yang patah dan diterima tanpa banyak protes oleh Yoongi.
"Enak?" tanya Rapmon dibalas anggukan putranya sebab dia sedang mengunyah kue yang membuatnya tidak dapat menjawab. Dengan bangga Rapmon mengacak rambut hitam Yoongi.
"Ada apa? Kenapa Jimin menangis?" Seokjin muncul di ruang duduk. Aroma sabun menguar dari tubuhnya dan wajah ibu muda tersebut nampak segar. Agaknya wanita itu baru selesai mandi. Memang mandi pagi adalah hal yang hampir tidak pernah bisa dilakukan Seokjin kecuali kalau suaminya berada di rumah. Sebab keenam anaknya sama sekali tidak bisa ditinggalkan tanpa pengawasan.
"Nothing, everything is undercontrol now," jawab Rapmon sembari menyandarkan punggung ke kaki sofa di sebelah Jungkook yang masih tekun mengemuti kue.
Seokjin mengerutkan alis mendengar kalimat suaminya namun tidak berkomentar apa-apa. Dia mengambil piring yang diletakkan Rapmon di atas televisi dan sekejab nampak terkejut.
"Yeobo," panggil Seokjin dibalas 'hm' pendek oleh suaminya yang sedang menggoda Jungkook, membuat bayi itu terkekeh.
"Habis?" Seokjin memperlihatkan piring yang sudah kosong pada Rapmon. "Bagaimana bisa?" tanyanya tidak percaya. "Kau tidak memakannya sendiri 'kan?"
"Yah~" Rapmon merengut, tidak terima dituduh seperti itu. "Aku mana doyan makanan manis," desisnya.
"Tapi ini?" Seokjin kembali menunjukkan piring yang kosong pada Rapmon.
"Itu senjata rahasia." Lelaki tersebut menjawab sambil mengedipkan sebelah mata.
Seokjin hanya mencibir lalu membawa piring tersebut ke dapur untuk dicuci.
"Itu senjata rahasia~" gumam Rapmon sembari mengangkat Jungkook dan mendudukkannya di pangkuan. "Rahasia antar laki-laki. Benar 'kan, Jungkook-ah?" dan bayinya terkekeh menjawab.
Selesai mencuci piring, Seokjin kembali ke ruang duduk. Sepasang mata indahnya memandang berkeliling, melihat kesibukan keenam buah hatinya lalu tersenyum. Wanita tersebut merebahkan pinggul di sofa di sebelah Rapmon, menyodorkan kedua tangan pada Jungkook.
"Kookie-ya, ikut Mama?" Seokjin menawarkan diri.
"Main sama Mama? Jungkookie mau main sama Mama?" Rapmon menyahut. Jungkook hanya memandang ibunya sekilas lalu kembali menatap kue yang sudah berkurang separuh di tangan dan lebih memilih melanjutkan makan.
"Oke, baiklah, mainlah dengan Papamu." Seokjin mendengus melihat penolakan tersebut. Setelah ditinggalkan Taehyung, sekarang Jungkook pun cuek padanya. "Kalian selalu jadi anak Papa setiap kali Papa kalian pulang."
Mendengar omelan sang istri, Rapmon hanya dapat tertawa merayakan kemenangan, menuai cubitan kesal Seokjin yang mana malah membuat tawa suaminya makin keras.
"Kim Yoongi, how's school?" celetuk Rapmon langsung membuat wajah Yoongi terangkat dan untuk beberapa detik dia terdiam. Sepasang mata kecilnya kemudian beralih pada Seokjin yang nampak sudah menunggunya dengan senyuman.
"Bagaimana sekolahmu?" wanita tersebut menerjemahkan, segera membuat anaknya tersenyum seolah bilang 'Oh, itu maksudnya.'
"Great!" jawab Yoongi.
"That's relieved." Rapmon mengangguk-angguk. "But, I heard you did saying English with your friends don't understand it well. Are you okay?"
Kembali Yoongi memandang Seokjin, meminta bantuan untuk memahami kalimat sang ayah.
"Papa dengar kau bicara bahasa Inggris dengan teman-temanmu yang belum lancar memahaminya. Apa tidak ada masalah (dengan itu)?"
"Eumm..." Yoongi mengedipkan mata. "That's a bit..."
Rapmon tersenyum, menurunkan tubuh Jungkook ke karpet kemudian dia mengulurkan kedua tangan. "Come here, Baby."
Si sulung bangkit dari duduknya, berjalan menyambut lengan sang ayah dan ganti duduk di pangkuan Rapmon menghadap papanya. Jimin yang melihat si kakak beranjak, ikut berdiri lalu mendekati Seokjin yang masih duduk di atas sofa, mengangkat kedua tangan, meminta untuk dipangku juga.
"Bukankah Papa dan Mama sudah bilang padamu, don't speak English except with us, right?" Rapmon menyentil ujung hidung Yoongi.
"Tapi ibu guru bicara English, so do I. Papa bilang, answer English with English," jawab Yoongi, kedua alisnya mengerut tanda jika dia tidak akan mau menyerah begitu saja mempertahankan pendapatnya.
Di sofa, Seokjin perlahan menghela napas, menahan diri untuk tidak menyela pembicaraan kedua namja itu. Rapmon memang sudah memintanya bicara dengan Yoongi mengenai kebiasaan anak tersebut yang bicara bahasa asing pada teman sekolahnya, yang membuat dia dijauhi sebab tidak ada anak seusianya di sekolah dapat bicara Inggris sebaik Yoongi. Bukan hal buruk memang mampu berbahasa asing sejak dini, namun jika hal itu berdampak pada tidak adanya teman Seokjin khawatir di masa depan Yoongi akan memiliki kesulitan bersosialisasi.
"Did your friends speak English too?" tanya Rapmon dibalas diam sejenak oleh putranya yang kemudian menjawab 'no'.
Pria muda tersebut tersenyum, mengusap rambut hitam Yoongi dan merapikan potongan poninya. "Answer English with English didn't mean you can speak English to someone doesn't do it," ujar Rapmon hati-hati, mengatakan kata demi kata kalimatnya dengan artikulasi jelas, membiarkan otak muda Yoongi memproses sendiri makna dari ucapannya.
"Remember, someone DOESN'T DO IT," ulang Rapmon.
Yoongi terdiam, perlahan kedua matanya bersinar. "Jadi, Yoongi hanya boleh speaking English with Papa and Mama because you both speak English too?" tanyanya kemudian.
"Of course! Challenge us!" jawab Rapmon memunculkan senyuman lebar anaknya.
"Sama bu guru juga boleh? She speaks English too," Yoongi nampak berharap.
"You can try it, Yoongi-ya," sahut Seokjin, sudah tersenyum melihat si sulung ternyata dapat mengerti jauh lebih mudah dari yang dia cemaskan.
"Sama Papa Sehun?" tanya anak tertua lagi.
"Papa Sehun? Who's he?" alis Rapmon mengerut.
"Mungkin maksudnya Kris-ssi," celetuk Seokjin disambut tolehan tidak mengerti dari suaminya.
"Who the hell is that?" desis Rapmon.
"Suami Suho-ssi. Kris memang jarang menjemput anaknya ke sekolah, lebih seringnya Suho. Kau ingat? Wanita mungil yang kau bilang 'has a sweet smile just like Bunda Maria'?"
Rapmon ber-ah pendek. "Yang punya anak kembar beda warna kulit itu? Siapa namanya—"
"Jongin dan Sehun!" sela Yoongi menyuarakan nama teman sekelasnya.
"Ah, iya. Jongin, Sehun." Rapmon mengangguk-angguk. "Ayahnya bule? Wow, aku malah tidak tahu."
"Itu karena kau jarang ke sekolah." Seokjin tersenyum. "Aku dengar Kris juga seorang foto model."
"Oh ya? Harusnya aku malah kenal dia dong, aku tahu semua orang yang sudah beranak di dunia hiburan," kata Rapmon kaget. "Apa dia menyembunyikan keluarganya?"
"Eyy, kenapa kau menuduhnya seperti itu?" Seokjin mengibaskan tangan merasa kurang senang dengan kalimat asal ceplos sang suami.
"Eyy, siapa tahu 'kan? Buktinya aku tidak kenal. FYI, sesama namja yang sudah berkeluarga biasanya lebih gampang bergaul daripada mereka yang single," balas Rapmon.
"Karena merasa senasib seperjuangan?" tebak Seokjin geli.
"Yeah-" Rapmon mengangguk lesu.
"Mama, Mama," suara kecil Jimin menyela perdebatan orang tuanya, membuat Seokjin menunduk memandang seraut wajah mungil yang nampak penasaran. "Englet itu apa?"
Sang ibu tersenyum. "English itu I love you," jawabnya dengan sederhana.
"Ai lop yu?" ulang Jimin dengan suara menggantung, memproses lambat pengetahuan yang baru dia dapatkan dengan otak hijaunya yang masih berusia dua tahun.
"AI LOP YU!" tiba-tiba Taehyung berteriak, mengagetkan semua orang yang mendengarnya termasuk Jungkook yang sudah hampir menghabiskan kue di tangannya.
"AI LOP YU! TAETAE AI LOP YU! TAETAE ENGLET!" Taehyung berteriak-teriak sambil berlarian memutari sofa lalu jatuh menubruk lengan Rapmon, tanpa sengaja tangannya mengeplak wajah Yoongi membuat kakaknya berteriak.
"SAKIT!" plak! Dengan beringas Yoongi balas memukul tangan si adik namun Taehyung hanya tertawa-tawa.
"Ai lop yu! Ai lop yu! Ai lop yu!" Taehyung mengulang-ulang kalimat itu, diikuti oleh Jimin. Di sisi lain, Jungkook yang mendengar ada irama di sekitarnya mendadak jadi menggerakkan badan seolah sedang menari sambil tergelak riang. Melihat itu semua, Rapmon dan Seokjin tertawa bersama.
"Ai lop yu kenapa? Siapa ai lop yu?" tanya Hoseok yang datang sedikit terlambat, memandang kehebohan adik-adiknya dengan mata kebingungan.
"Ai lop yu! Ai lop yu!" namun berbeda dengan Hoseok, Namjoon nampak tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi dan lebih memilih langsung melompat-lompat sesuai nada suaranya sendiri.
Melihat ada yang melakukan hal mengasyikkan, Taehyung melepaskan diri dari lengan ayahnya dan bergabung dengan Namjoon yang masih melompat-lompat sambil terus mengatakan 'ai lop yu'.
"Yah, yah, yah, don't jump. Nanti kalian terpeleset," ujar Rapmon memperingatkan.
"Namjoonie, Taehyungie, jangan melompat-lompat," imbuh Seokjin memandang penuh khawatir pada dua buah hatinya sebab di sekitar mereka sekarang ada banyak mainan yang berserakan.
"Yah, you two! Sit down!" Rapmon hilang kesabaran, tanpa tahu jika kalimatnya barusan membuat sepasang mata Yoongi bersinar.
"SHIT down?"
.
What?
-END-
Terakhir update 5 September 2015, betapa bahagia akhirnya bisa netesin satu draft ini juga *bersit ingus*
Sejatinya chapter ini udah lamaaa banget ketulis tapi ada beberapa bagian yg kurang sreg, males edit dan akhirnya malah bablas entah kemana
Maapkan TT_TT
Ada yang kangen sama Baby Baby? Siapa yg paling dikangenin?
Myka: yang pasti bukan bapaknya :v
