[Special Chapter]

Bagaimana kira-kira kalau karakter para bayi unyu di Baby Baby sudah tumbuh besar?
Ini secuil kisah mereka saat remaja.
Yoongi 18thn / NamHope 17thn / VMin 16thn / Jungkook 14thn

#namjin #bts #t #gs

Baby Baby
5

Tik tok tik tok...

Suara detikan jam—

Tuk tuk tuk...

Terdengar seiring dengan ketukan sisi tajam pisau di atas telenan kayu—

Blup blup blup...

Bersamaan dengan gumam mendidih air di dalam panci.

Seokjin menyatukan potongan wortel yang barusan selesai dia cacah dan menumpahkannya ke dalam panci yang mengepulkan asap putih, sebentar kemudian dia juga memasukkan potongan daun bawang serta seledri. Wanita itu memandang sekilas ke jam dinding yang menggantung di atas lemari es. Pukul setengah enam. Sudah waktunya anak-anaknya bangun.

Seokjin mengambil pengaduk sayur dan penutup panci.

Teng teng teng! Dia memukulkan kedua benda tersebut hingga menimbulkan bunyi nyaring.

"Bangun! Waktunya sekolah!" seru Seokjin, lalu terdiam sejenak, mencermati keheningan hingga akhirnya...

"Ne..." sebuah jawaban menggema malas dari arah luar dapur segera membuat wanita itu tersenyum, kembali meletakkan tutup ke atas panci dan melanjutkan kesibukannya memasak sarapan.

"Mama, selamat pagi..." sebuah suara serak menyapa, seorang pemuda dengan rambut coklat acak-acakan dan mata besar yang masih terbuka separuh muncul di mulut pintu. Dia menguap lebar, menyeret kedua kakinya untuk mendekati Seokjin. Tluk, lantas menjatuhkan kepalanya begitu saja di pundak ibunya dari belakang.

Seokjin terkekeh. "Selamat pagi juga, Jungkook-ah. Tidurmu nyenyak?"

Jungkook mengesah, dengan mengantuk melingkarkan lengan ke pinggang ibunya dan menyandarkan badan ke punggung wanita itu.

"Berat~" tegur Seokjin. "Bangunkan Hyung-mu sana."

"Andwe~~" Jungkook merajuk, menggelengkan kepala sekaligus mengusapkan minyak di hidungnya ke pakaian sang ibu. "Aku tidak mau membangunkan mereka. Hobie Hyung saja—"

"Apa maksudmu dengan aku saja?" sahut seseorang dengan tiba-tiba. Sesosok pemuda lain masuk ke dalam dapur dengan tangan mengusapkan tisu ke wajahnya untuk menyerap minyak dan sesekali merapikan rambut coklat yang telah tumbuh panjang dibentuk belahan tepat di tengah.

"Kook-ah, rambutmu—" Hoseok menahan tawa melihat kepala adiknya saat ini seperti sedang memakai mahkota raja dengan rambut berantakan dan mencuat ke sana-kemari. "Kyeo~" dia berakhir dengan memuji, mengusap lembut kepala si adik.

"Mereka sangat sulit dibangunkan, ahh sireoo~" Jungkook menyembunyikan wajah di punggung Seokjin.

"Kawi bawi bok!" mendadak Hoseok mengeluarkan kertas dan dalam sekejab Jungkook kalah dengan batunya.

"Kau yang pergi," ucap siswa yang baru saja naik kelas dua SMA itu dengan santai, berkebalikan dengan Jungkook yang hanya dapat mengatakan 'andwe' panjang namun tetap saja pemuda yang masih duduk di bangku SMP tersebut beranjak dari ibunya, keluar dapur sambil menyeret kaki.

"Kenapa dia selalu saja begitu?" desis Hoseok dengan ujung bibir menyimpan senyum. Dibuangnya tisu ke dalam tempat sampah. "Setiap hari bilang tidak mau membangunkan Hyung. Apa dia tidak bosan?"

"Mungkin itu sudah jadi kebiasaannya sekarang." Seokjin terkekeh.

"Akan bagus kalau dia bisa mengulangi rutinitas ini setiap hari dan benar-benar jadi kebiasaan. Rengekannya itu kyeo sekali. Benar 'kan, Mama?" ujar Hoseok sambil meraih kain lap di atas lemari es. Dia beranjak untuk membersihkan meja makan.

"Hoseok-ah, dimana Jiminie? Apa dia belum bangun?" tanya Seokjin.

"WC. Bangun tidur dia langsung bilang perutnya sakit," jawab Hoseok. "Aku bantu menata piringnya nanti, Mama. Aku selesaikan dulu ini."

"Ne, terima kasih, Hoseok-ah~"

Jungkook menghentikan langkah kaki di depan dua pintu kamar yang sama-sama sudah terbuka dan seketika dia menghela napas panjang melihat ada seonggok manusia yang masih terkapar tak bergerak di kasur bawah tempat tidur susun serta dua buntelan lagi di kamar sebelahnya.

"Aish, sireoo~" Jungkook mengeluh kesal meski begitu, tetap saja kakinya beranjak menuju kamar yang tinggal menyisakan satu orang terlebih dulu.

"Hyung, bangun." Pemuda tersebut menggoyangkan tubuh berkulit tan yang hanya memakai celana pendek serta kaos oblong sebagai piyamanya.

"Namjoonie Hyung~" panggil Jungkook lagi, menggoyangkan kaki kakaknya dengan keras. Terlihat sepasang alis namja yang lebih tua mengerut, sebentar kemudian dia menggeliat dan mulai membuka mata.

"Sudah pagi, Hyung," ujar Jungkook menunggu balasan 'Hm' pendek lantas baru berjalan meninggalkan Namjoon yang kembali menggeliat merenggangkan kedua kaki serta tangannya hingga melebihi batas kasur. Jungkook berpindah ke kamar sebelah.

"Yoongi Hyung, bangun." Dengan hati-hati dia menepuk bahu yang tertutupi selimut hingga ke kepala. "Hyungnim," panggilnya sekali lagi dan kali ini berhasil membuat manusia yang melingkarkan diri di kasur hangat bergerak. Sebuah dengusan napas terdengar, segera membuat Jungkook mundur beberapa langkah dan dengan cepat beralih ke ranjang di sebelahnya.

"Tae Hyung, bangun." Pemuda itu menggoyangkan tubuh panjang yang keseluruhannya dibalut oleh selimut serupa dengan lumpia. "Hyung!" berbeda dengan saat dia membangunkan kedua kakak sebelumnya, kali ini Jungkook mengerahkan seluruh tenaga untuk menggoyangkan serta mengeplak buntelan selimut tersebut.

Tak ada respon.

"Yah!" Jungkook berseru tertahan, sebab di ranjang seberang Yoongi—kakak tertuanya—masih terlihat setengah sadar menatap langit-langit kamar.

"Tae Hyung, bangun!" siswa SMP sekaligus yang menjadi Maknae keluarga itu nampak hilang kesabaran. Dia memukulkan telapak tangannya berkali-kali ke badan kakaknya namun masih tidak berpengaruh apa-apa seolah yang sedang dia bangunkan adalah seonggok mayat. Di ranjang sebelah, Yoongi hanya melemparkan pandangan tanpa minat pada kedua adiknya, dia berbalik, menaikkan selimut dan kembali memejamkan mata.

Jungkook mendengus. Dia beranjak ke ujung kasur Taehyung, mencengkeram selimut lalu menariknya dengan sekuat tenaga. Selimut enyah dalam sekejab, mempertontonkan tubuh tan yang hanya memakai selembar bokser. Ah, Taehyung pasti melepas bajunya lagi di tengah malam. Kebiasaan yang buruk.

"Bangun atau aku akan memukulmu," ancam Jungkook dan plak! Tanpa menunggu telapak tangannya sudah mendarat di lengan Taehyung membuat kakaknya berjingat kaget. Pemuda itu mengeluh, menggumamkan sesuatu sembari mengusap bekas pukulan Jungkook barusan. Dia bergerak, membalikkan badan, lalu diam.

"Jangan tidur lagi!" Jungkook menahan kesal. Inilah hal yang paling dia benci setiap kali diminta membangunkan kakak-kakaknya. Mereka semua sangat sulit bangun!

"Tae Hyung, ayo bangun. Aku tidak mau keduluan Hobie Hyung ke kamar mandi!" Jungkook menggoyangkan badan Taehyung, menarik-narik tangannya, menjewer telinganya, bahkan memelorotkan celananya hingga terlihat sebuah bulatan bokong lengkap dengan belahannya.

"Bangun!" plak! Kembali Jungkook mendaratkan pukulan, kali ini di pantat Taehyung.

"Aduh!" si pemilik bokong berseru kaget, melayangkan tangan untuk mengusap-usap bagian belakang badannya. "Sakit, Kook-ah~" keluh Taehyung, wajahnya merengut seperti anak kecil mau menangis.

"Makanya bangun!" Jungkook mendelikkan mata galak.

Taehyung cemberut, kedua matanya masih belum terbuka sepenuhnya.

"Kalau kau tidak bangun, akan ku makan jatah sarapanmu." Maknae mengancam lalu berbalik keluar dari kamar Taehyung yang dihuni berbarengan dengan Yoongi serta Jungkook sendiri setelah sebelumnya mengulangi kalimat 'Yoongi Hyung, bangun!'.

Yoongi bangkit duduk di atas kasurnya, merenggangkan tangan ke atas baru kemudian menggosok mata dan merapikan rambut hitam yang kusut. Dia menguap, turun dari tempat tidur dengan tangan memegang sebuah bantal.

"Bangun, dasar tukang tidur," desisnya ketika melewati ranjang Taehyung sembari melemparkan bantal yang tepat mengenai kepala adiknya yang sedang memakai baju.

"Yoongi-ya, selamat pagi~" sapa Seokjin ketika melihat putra sulungnya masuk ke dapur yang sekaligus menjadi ruang makan mereka. Yoongi segera mengambil duduk di salah satu kursi yang ditata berjejer tiga, berhadapan dengan tiga kursi lain di seberang meja.

"Menunya sup," ujar seorang pemuda berambut hitam dengan poni sembari meletakkan mangkuk berisi nasi di hadapan Yoongi. "Sup sup sup~" nyanyi Jimin dengan riang, ganti meletakkan mangkuk nasi lain di sebelah Yoongi dan seterusnya.

Tak lama sosok Taehyung muncul di pintu, menguap lebar dan berjalan malas ke kursi di samping kakak tertuanya.

"Bajumu terbalik," tegur Yoongi.

"Ne?" Taehyung melebarkan mata, tidak terlalu mendengar kalimat barusan.

"Bajumu terbalik," ulang Yoongi sedikit lebih keras, membuat semua orang yang ada di dalam dapur menoleh. Taehyung memandang kaos yang dia kenakan dan baru sadar jika jahitannya berada di luar.

Jimin yang pertama kali tertawa, disusul oleh Hoseok.

"Apa kau bodoh?" namja itu masih menertawakan saudara kembarnya. "Yah, buka dulu matamu sebelum pakai baju!"

"Diam kau," gumam Taehyung menggerutu, melepas bajunya di tempat dan membaliknya lantas memakainya lagi.

Seokjin yang melihat hal tersebut hanya mengulum senyum. Tak lama kemudian sosok Jungkook masuk ke dalam dapur diikuti oleh Namjoon, wajah mereka basah, sepertinya habis cuci muka.

"Sudah lengkap semuanya?" tanya Seokjin sembari mendudukkan diri di ujung meja. Nampak Jimin mengedarkan pandangan dengan bibir menggumam 'satu, dua, tiga...'

"Ne~" Hoseok menjawab lebih cepat.

"Kalau begitu makanlah," ujar sang ibu.

"Selamat makan~" koor semuanya berbarengan.

"Ah sial, aku malas sekali ke sekolah," desis Yoongi dengan tangan mulai mengambil lauk dan memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Di sebelahnya Taehyung dan Namjoon juga melakukan hal yang sama, pun dengan tiga orang lain yang duduk berhadapan dengan mereka.

"Semalam Mama lihat ada yang masih bangun sekitar jam satu. Siapa?" tanya Seokjin.

"Kim Yoongi," jawab kakak tertua. "Aku mengerjakan tugas sampai jam dua."

"Siapa yang ke dapur sekitar jam tiga? Ada suara orang membuka lemari es," lanjut Seokjin. Keenam anaknya terdiam, saling berpandangan dengan mulut masih mengunyah makanan.

"Jiminie—" kalimat Hoseok terpotong.

"Aniya!" Jimin mengibaskan tangan. "Aku sama sekali tidak bangun tadi malam. Badanku sangat capek karena latihan baseball kemarin jadi aku tidak bangun. Aku bahkan tidak bermimpi."

"Lalu siapa?" tanya Seokjin. "Jungkookie? Namjoonie?"

"Tidak mungkin Namjoonie," sergah Yoongi. "Semalam dia tidur sangat nyenyak sampai suara ngoroknya terdengar dari kamar sebelah."

"Itu benar!" Hoseok mengiyakan, ada rasa dendam di suaranya. "Semalaman orang ini mendengkur sangat keras seperti suara rombongan tank tentara mau ke medan perang. Jiminie malah bisa tidur seperti orang mati. Aku yang tersiksa sendiri!"

"Mian," cetus Namjoon. "Kalau kau memang terganggu seharusnya kau membalik badanku—"

"Aku sudah melakukannya!" tuding Hoseok. "Tapi kau kembali lagi ke posisimu semula dan mengorok lagi. Tanya saja Yoongi Hyung."

Namjoon memandang Yoongi.

"Aku sudah ke kamarmu dua kali." Yoongi menatap tajam, seketika membuat adiknya kicep dan menundukkan kepala.

"Maaf," desis Namjoon memasukkan nasi ke dalam mulut dan mengunyah dalam diam.

"Aku juga tidak merasa aku bangun tadi malam," celetuk Jungkook.

"Jadi?" Seokjin menelengkan kepala. "Masa iya lemari esnya terbuka sendiri? Mama mendengar suara langkah kaki lho."

"Mungkin Taehyung," ujar Taehyung, sekejab seluruh mata tertuju padanya. "Semalam rasanya gerah, sepertinya aku juga bangun untuk mencari minum. Tapi aku tidak terlalu jelas mengingatnya."

"Kau pasti jalan sambil setengah tidur lagi," tebak Jimin.

"Itu sudah pasti." Hoseok mengarahkan ujung sumpit ke adiknya. "Yang semalam bangun dan membuka lemari es untuk minum adalah Kim Taehyung. Case closed!"

Seokjin tersenyum. "Makanya, kalau ada waktu istirahat di siang hari, istirahatlah. Gunakan juga untuk mengerjakan tugas atau yang lain. Jangan sampai kalian terlalu menyibukkan diri terus baru mengerjakan tugas di malam hari sampai begadang dan besoknya bilang malas ke sekolah karena mengantuk—"

Yoongi menundukkan kepala.

"Atau tidur dengan badan yang terlalu capek—"

Jimin meringis malu.

"Bahkan sampai berjalan sambil tidur. Itu semua tanda kalau waktu istirahat kalian kurang. Boleh saja kalian pergi bermain, tapi Mama minta jangan terlalu sering. Masih ada hari Sabtu dan Minggu untuk kalian main sepuasnya. Jadi di hari-hari biasa, jangan terlalu memaksakan diri. Ne?" nasehat Seokjin dibalas 'ne' kompak dari keenam anaknya. Wanita itu tersenyum.

"Mama, ngomong-ngomong soal hari Minggu, apa Papa akan pulang Sabtu ini?" Taehyung menoleh.

"Mama, suruh Papa untuk pulang. Dia masih berhutang balapan sepeda dengan kami," timpal Hoseok.

"Kenapa menyuruh Mama? Bilang saja ke Papa kalian sendiri." Seokjin mengedipkan mata keheranan.

"Papa tidak pernah mau mengangkat telpon kami," dengus Jungkook.

"Dia selalu kabur setiap kali ditagih balapan ataupun pertandingan," imbuh Jimin diiyakan oleh saudara-saudaranya yang lain.

"Makanya jangan menakut-nakuti Papa, sudah tahu Papa tidak pintar olahraga tapi masih saja menantang ini itu. Mana bisa Papa menandingi kemampuan kalian semua yang jauh lebih muda," ujar Seokjin.

"Papa 'kan juga masuk ke tim kami." Hoseok sewot. "Malah Papa yang paling bebas memilih tim dibanding kami yang harus kawi bawi bok untuk membagi diri."

"Papa juga selalu ikut di tim yang ada Jungkook, Hoseok, atau keduanya." Namjoon menimpali dari ujung.

"Papa selalu memilih tim yang kuat," imbuh Yoongi.

"Sudah diberi keringanan begitu dia masih saja melarikan diri. Memang dasarnya Papa kabur," cibir Jungkook.

"Old man~" timpal Namjoon.

"HAHAHA!" sisanya tergelak dalam tawa.

"Mama, telpon Papa. Suruh Papa pulang~" pinta Hoseok sesaat setelah tawanya berhenti.

"Benar, kalau Mama yang telpon Papa pasti mau pulang. Bilang saja kutu Jungkook sakit, pasti Papa langsung pulang hari itu juga," ujar Jimin yang langsung mendapat pekikan protes dari adiknya.

"AKU TIDAK PUNYA KUTU!"

"Aku mau saja bilang anjing, tapi kita tidak punya anjing," Jimin membela diri, melebarkan kedua matanya dengan polos.

"Iya iya, nanti Mama telpon Papa dan memintanya pulang. Kalau Papa tidak ada pekerjaan dia pasti akan pulang," Seokjin menengahi.

"Assa!" sorak anak-anaknya dengan riang.

"Kau bilang 'sakit', mendadak perutku jadi sakit," desis Namjoon mengundang perhatian semua orang. "Aku ke WC dulu." Pemuda itu bangkit berdiri sambil memegangi perut diiringi oleh teriakan semua orang.

"YAH!" Yoongi menusukkan kedua sumpitnya ke tengah-tengah mangkuk nasi. "Bagaimana bisa kau mengatakan WC waktu makan, KIM NAMJOON!?" serunya sangat keras hingga saudaranya yang sudah masuk ke dalam toilet masih bisa mendengar dan segera menyahut 'maaf!'

"Aduh, perutku juga sakit." Taehyung ikut merunduk lalu segera bangkit dari kursinya.

"AISH!" umpat semua orang.

"Hyuuung! Cepat sedikit, Hyung!" terdengar suara berat Taehyung dari arah lorong tempat kamar mandi dan toilet berada.

"Sebentar, aku baru mulai!" balas Namjoon dari dalam.

"Hyuuung! Lebih cepat, Hyung! Sudah di ujung!" Taehyung menggedor-gedor pintu WC.

"Sebentar! Baru keluar sepotong!" Namjoon terdengar kesal.

Namun mereka yang mendengar percakapan itu dari ruang makan masih jauh lebih geram. "YAH, KIM TAEHYUNG! KIM NAMJOON! KALIAN BENAR-BENAR TIDAK SOPAN!"

-o-

"Mama, pokoknya jangan lupa telpon Papa, ya!" Jimin mengingatkan begitu keluar kamar sudah memakai seragam sekolah lengkap dengan blazer dan dasi di badannya yang terbilang mungil untuk anak SMA, sedikit berbeda dengan saudara kembarnya, Taehyung, yang tumbuh lebih tinggi dan tegap.

"Iya," jawab Seokjin sabar, tersenyum sambil menyelesaikan kesibukannya mencuci alat makan.

"Mama, lakukan apapun untuk membujuk Papa. Aku yakin dia tidak akan mau begitu saja pulang dan menghadapi kami," sahut Hoseok menghentikan kaki di depan cermin yang tergantung di ruang duduk. Segera ketika dia sedang merapikan kerah kemeja, Yoongi mendorongnya pergi dan ganti menguasai cermin untuk memasang dasi.

"Siapa yang ada di rumah sore ini?" terdengar suara Jungkook dari arah lorong.

"Wae?" Taehyung melongokkan kepala keluar pintu, dasi menggantung tak terikat di lehernya, menunggu antrian Yoongi yang sudah hampir selesai.

"Sore nanti aku jadwal mencuci baju, tapi aku ada latihan beladiri di sekolah. Siapa yang mau aku ajak gantian?" Jungkook menunjuk white board yang digambari tabel dan terbagi atas enam nama hari dengan enam nama mereka semua, masing-masing kolom memiliki tulisan pekerjaan rumah tangga yang berbeda tiap harinya.

"Kim Namjoon," celetuk kakak kedua.

"Kalau begitu gantikan aku mencuci baju sore nanti ya, Hyung. Aku akan mengerjakan bagianmu besok," ujar Jungkook riang.

"Hm," balas Namjoon kalem.

"Jungkook-ah, sekalian kerjakan tugasku. Besok aku ada diskusi untuk presentasi sampai malam," sahut Yoongi.

"His next course's on Saturday night, Hyung," celetuk Hoseok.

"Who?" balas Yoongi.

"Jungkookie."

"Hyung, kalau kau tidak mengambil bagianmu besok jadwalmu akan diganti hari Sabtu." Jungkook muncul dari pintu ruang duduk. "Kau yakin?"

"Of course NOT!" tukas Namjoon dari depan cermin, berdesakan dengan Taehyung yang sedang berusaha mengikatkan dasi. "Yoongi Hyung pasti punya kencan di hari Sabtu—"

"Oke," di luar dugaan Yoongi malah menganggukkan kepala.

"Eh?" mengundang tatapan seluruh adiknya.

"Aku bisa membatalkannya," ucap pemuda itu dengan santai, membuat saudaranya melongo dan sedetik kemudian mereka berteriak kompak.

"Yah, Hyung!"

"Waeee? Kenapa kau melakukan itu!?"

"Bagaimana bisa kau membatalkan kencan secara sepihak hanya untuk menyetrika baju?"

"Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan gadis itu?"

"Dia pasti sudah mengerahkan seluruh hidup matinya untuk mengajakmu kencan dan sekarang kau mau membatalkannya begitu saja. BAD BOY!" seru Namjoon tidak terima.

"Eoh." Yoongi tidak mengelak. "I am. Wanna fight?" tantangnya balik dibalas dengus napas bersamaan kelima adiknya.

"Yoongi Oppa jahaat~ Oppa nappeun namjaa~" ujar Jimin dengan suara sengaja dikecilkan meniru yeoja.

"Ada apa ini? Kenapa kalian tidak segera berangkat sekolah dan malah berkumpul di sini?" Seokjin muncul di pintu dengan celemek masih di badan dan sinar heran menguar dari kedua mata bulatnya.

"Mama~ dengarkan aku. Masa' Yoongi Hyung—" Hoseok mencoba untuk mengadu tapi umpatan Taehyung yang tidak sengaja memandang ke arah jam dinding menghentikan kalimatnya.

"Setengah tujuh! Shit!" pemuda itu segera menyambar tas diikuti oleh saudaranya yang lain. "Mama, BRB (be right back)!" Taehyung mencium pipi ibunya dengan kilat lalu berlari ke beranda.

"Mama, aku ceritakan nanti. Bye!" Hoseok ikut mengecup sebelah pipi Seokjin lainnya dan menyusul Taehyung.

"Hyung, tunggu! Aku kebelet pipis!" seru Jimin mendadak.

"HAISSHH!" koor yang lainnya dengan kompak.

"TUNGGU! CUMA SEBENTAR! TUNGGU!" teriak Jimin buru-buru masuk ke kamar mandi sementara kelima namja lain sudah berada di beranda, bahkan Jungkook yang tiba paling akhir telah selesai mengikat tali sepatu.

"Anak itu kenapa selalu begini? Membuat terlambat saja," gerutu Namjoon.

"Sudah tidak ada waktu lagi." Yoongi memandang jam tangannya. "Kalau kalian mau menunggunya, tunggu saja. Aku duluan." Dia beranjak membuka pintu.

"Ah, Hyung~ bagaimana kau bisa pergi duluan?" suara Hoseok terdengar mengeluh.

"Kalau menunggu Jiminie Hyung yang ada kita akan terlambat, Hyung. Aku juga mau duluan," ujar Jungkook segera melewati badan kakaknya dan menyusul Yoongi yang sudah berjalan menuju lift. Namjoon menghela napas, namun kemudian juga beranjak.

"Yah!" seru Hoseok. "Aish, terserah. Aku juga bisa terlambat kalau seperti ini. Taehyung-ah, ayo pergi. Jimin pasti bisa mengejar nanti."

"Sudah mau pergi?" tanya Seokjin. "Tapi Jimin masih di kamar mandi."

"Kami akan terlambat kalau menunggunya, Mama. Lagipula dia selalu seperti ini, tidak pernah kapok. Bilang saja padanya untuk menyusul," ujar Hoseok lantas berjalan keluar pintu apartemen diikuti oleh Taehyung.

Sejenak kemudian suara Jimin terdengar, sosoknya muncul dengan tangan masih sibuk membenahi ikat pinggang.

"Mama, yang lain mana?" tanya Jimin seolah sadar jika dia sudah ditinggalkan.

"Sudah berangkat," cicit Seokjin dan benar saja anaknya langsung menanggapi dengan rengekan panjang.

"JAHAT! KALIAN MENINGGALKAN AKU! JAHAAATTT!" Jimin melesat menuju pintu, memasukkan kaki ke dalam sepatu dan tanpa mau repot mengikat talinya dia segera berlari keluar. Di koridor teriakannya terdengar menggema hingga menembus dinding.

"HYUNG, TUNGGU! HYUNG—aduh, sepatuku lepas! HYUUUNGG!"

Sementara itu di depan ruang duduk, Seokjin hanya dapat menahan tawa. Rutinitas kecil seperti ini selalu terulang hampir setiap hari di dalam rumah apartemennya yang luas—yang mana akan terasa lebih sempit jika keenam anak tersebut berada lengkap di sana—namun tetap saja, jika kembali melihatnya lagi mau tak mau wanita tersebut akan tertawa geli. Obrolan anak-anaknya, suara tawa mereka, pertengkaran, dan semua keceriaan melebur menjadi satu seperti sebuah musik yang mengalun riang memenuhi hingga ke tiap sudut ruangan. Siapa sangka keenam bayinya yang dulu begitu lucu, menggemaskan, yang masih bicara cadel bahkan untuk makan saja harus disuapi, sekarang sudah tumbuh menjadi remaja yang bisa mengurus diri sendiri dan menentukan keputusannya dengan tegas.

Seokjin tersenyum, memelukkan tangan ke tubuhnya sembari mendengarkan keheningan yang kini bernaung melingkupi luas rumahnya. Seperti sebuah keajaiban, baru semenit lalu tempat tersebut begitu riuh dan ramai namun sekarang langsung berubah sepi layaknya tak berpenghuni. Tak apa, sunyi ini tak akan bertahan lama. Begitu anak-anak itu sudah pulang, rumah ini akan kembali hidup dan berwarna.

Seokjin kembali tersenyum.

"Kalian tumbuh dengan sangat baik, Sayang..." desisnya.

-END-


Mendadak ketabrak sama ide ini XD
Serumah isi 6 orang, mana cowok semua, berasa tinggal di asrama atau kos-kosan dg Seokjin sebagai ibu kosnya XD

Ada yg pernah review minta Baby Baby versi gede gak sih?
Seinget Myka ada deh, atau Myka bacanya di FF sebelah? Wkwkwk

It is NOT THE END yaaa~
Serial Baby Baby akan tetap BERLANJUT, Myka cuma iseng bikin satu chapter versi gedenya
Maybe next chap mereka bakal menyusut jadi bayi lagi XD

Yang pasti bikin cerita ini tuh antara kebayang rame sama ribet
Rame karena banyak orangnya, seru, ngakaknya keras
Tapi ribet buat membagi jatah dialog sama nulis adegan :'v
Kayaknya Seokjin yg bagiannya paling dikit di sini, wkwkwk

Gak mau deh bikin versi gedenya mereka lagi, udah pada bisa ngomong, bisa ngebantah, bisa ngerusuh, jatah kalimatnya panjang-panjang :"
Mending nulis bayinya, masih banyak bengong, cuma ketawa aja, unyuh :v