Yoongi membuat adiknya menangis.

#namjin #monjin #bts #t #gs

Baby Baby
6

Yoongi mendongak, sepasang matanya berkedip memandang jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore. Bocah itu beralih melihat sekeliling, ke ruang duduk yang lengang yang hanya berisi dia serta Jimin—salah satu adiknya—yang nampak mengerutkan kening tengah serius melakukan sesuatu. Yoongi meletakkan pensil di atas buku tulis yang telah penuh oleh coretan huruf hangul yang sama, hasil pekerjaannya mencontoh tulisan Seokjin karena memang dia sedang belajar membaca dan menghapal hangul. Bocah tersebut melongokkan kepala ke samping, mencoba melihat apa yang sedang dikerjakan adiknya.

Jimin tengah sibuk mewarnai, mencengkeram krayon dengan jari-jemarinya yang gemuk dan menggoreskan ujung benda warna-warni itu bergantian ke setiap tempat putih di buku bergambar kesayangannya. Dia masih belum mengerti soal perbedaan warna, hanya diajari cara mengisi gambar dengan rapi dan tidak sampai keluar garis hitam tebal yang terkadang malah menjadikan hasil karyanya perpaduan antara cute dan menggelikan.

Ya bayangkan saja, Jimin seringkali mewarnai sesuatu dengan tidak seharusnya. Gambar bunga sederhana dengan hanya lima buah kelopak mekar dia beri warna berbeda untuk setiap lingkaran mahkotanya, membuat bunga itu jadi lebih mirip permen dengan lima pilihan rasa.

Di lain waktu dia juga memberikan warna pelangi untuk gambar seekor kelinci; merah untuk kepalanya, kuning untuk badannya, biru untuk kaki depannya, coklat untuk kaki belakangnya, merah muda untuk ekornya, dan oranye untuk telinganya. Jimin bahkan pernah total mewarnai hitam pada gambar seorang badut, hanya rambutnya saja yang terlihat cerah dengan warna kuning. Ketika Seokjin bertanya kenapa anaknya mewarnai sang badut sampai hitam legam, si balita menjawab polos "Papa! Ini!" sambil dia memegang rambutnya sendiri, membuat sang ibu langsung tertawa sampai sakit perut. Seokjin tidak menyangka jika selama ini Jimin melihat Rapmon sebagai seseorang yang serba gelap dengan rambut kuning.

Melihat adiknya begitu tenang dan tekun mewarnai, membuat Yoongi bosan. Sekali lagi dia memandang ke arah jam dinding, cuma berlalu tiga menit dari terakhir kali bocah itu menatapnya. Yoongi merengut. Dia merasa bosan dan kesepian.

Rapmon pergi sekitar sejam lalu untuk membeli sesuatu sambil mengajak si kembar Hoseok dan Namjoon serta Maknae Jungkook—orang-orang yang biasa meramaikan suasana rumah dan menjadi teman bermain Yoongi nomor satu—Bocah tersebut masih ingat papanya bilang akan pulang saat jarum pendek jam berada di angka empat.

Seokjin sedang di toilet, menemani Taehyung yang buang air. Entah sudah berapa lama dia di sana, Yoongi tidak menghitungnya. Yang pasti mamanya telah sangat lama pergi ke kamar mandi dan belum juga kembali. Taehyung memang selalu lama kalau buang air, kebiasaan buruknya adalah dia akan duduk di kloset sambil menggoyang-goyangkan kaki dan mengoceh—terkadang malah bernyanyi—seolah dirinya sedang berada di bangku kereta menikmati pemandangan dari jendela. Taehyung tidak bisa dipaksa kalau sedang buang air, jika kemudian orang yang menungguinya tidak sabar dan langsung memakaikan dia celana, dia pasti akan berak di dalam pampers. Hyosang sering mengalami kejadian buruk itu tapi yang paling sering tetap saja Rapmon.

Yoongi bangkit berdiri, melangkahkan kaki pendeknya ke arah kamar mandi untuk mencari Seokjin, meninggalkan Jimin yang memberikan tatapan bimbang antara ingin mengikutinya atau menyelesaikan gambar yang tinggal sedikit. Lalu balita tersebut memutuskan untuk mewarnai bukunya lebih dulu baru kemudian menyusul sang kakak yang sosok mungilnya telah menghilang di lorong rumah.

Yoongi menghentikan kaki di depan pintu toilet namun segera mundur beberapa langkah dan bersembunyi ke balik tembok begitu mencium bau tidak sedap keluar dari dalam kamar mandi rumahnya.

"Mama," panggil bocah itu dengan sebelah tangan menutup hidung. Seokjin segera menoleh, sedikit memundurkan badan dari depan kloset menunggui Taehyung—yang memang paling takut kalau ke toilet sendirian—supaya dapat melihat sosok yang barusan memanggilnya.

"Yoongi?" balas Seokjin. Sebuah kepala berambut hitam menyembul separuh sebagai balasan.

"Ada apa, Sayang? Di sini bau ya?" Seokjin mengulum senyum geli melihat bagaimana alis anaknya mengerut dan tangan kecilnya berusaha menutupi hidung.

Yoongi mengangguk. "Mama, susu," pintanya yang kemudian langsung membuat sang ibu terkejut.

"Ah, Yoongi belum minum susu ya tadi?" seketika Seokjin teringat, dijawab anggukan lagi oleh putranya.

"Taetae mau tutu," celetuk Taehyung yang masih duduk di atas kloset.

"Memang Taetae sudah selesai pup?" tanya Seokjin.

Si balita menggeleng lalu terkekeh polos, mengundang cemberut lucu bibir mamanya yang pura-pura marah.

"Taetae selesaikan dulu pupnya, Mama akan membuatkan susu untuk Yoongi Hyung."

"Andee~" Taehyung seketika merengek, meraih pakaian Seokjin dan menariknya.

"Tapi Yoongi Hyung belum minum susu." Sang ibu mencoba memberikan penjelasan.

"Ande ande ande!" Taehyung menggeleng-gelengkan kepala, kedua kakinya terayun ke atas dan ke bawah.

"Mama hanya pergi sebentar." Seokjin mencoba membujuk. "Mama hanya pergi waktu Taetae menutup mata dan kembali ke sini sebelum kau membuka mata. Bagaimana?"

Taehyung mengerjab.

"Hm?" Seokjin membulatkan kedua matanya. "Otte?"

Si anak kembali berkedip tapi kemudian dia tersenyum lebar. "Ne!" angguknya riang, merasa itu akan menjadi sebuah permainan yang menyenangkan.

"Nah, sekarang Taetae tutup mata!" ucap Seokjin bersamaan dengan si balita melepaskan tangan dari kain bajunya untuk kemudian meletakkan telapak kecil itu di depan matanya sendiri.

"Jangan mengintip ya," ujar sang ibu.

"Ne~" balas Taehyung. "Mama dimana~" ucapnya kemudian seolah dia sedang main petak umpet.

"Mama belum selesai~ Taetae belum boleh buka mata~" Seokjin segera bangkit, mendekati Yoongi yang masih berdiri di dekat pintu toilet.

"Ayo cepat, ayo cepat, ayo cepat," bisik wanita muda itu sembari menepuk pelan bokong kecil anaknya. Setengah berlari, si sulung terkekeh menuju dapur diikuti oleh sang ibu.

"Yoongi belum minum susu, ah Mama lupa. Maafkan Mama, Yoongi-ya," ujar Seokjin sembari membuka bipet dapur bagian atas dan mengambil sebuah susu kotak instan. Di belakangnya, si anaknya telah naik ke salah satu kursi tinggi bayi lantas mendudukkan diri dengan pintar di sana, Yoongi mengusapkan lengan ke permukaan meja, menunggu dengan sabar.

"Mama dimana~" terdengar lagi suara Taehyung dari arah toilet.

"Ne~ Mama belum selesai~ Taetae jangan mengintip ya~" balas Seokjin mengeraskan suara, dengan cekatan kedua tangannya mengambil cangkir Kumamon kesayangan Yoongi, membuka kotak susu lantas menuangkan isi ke dalamnya hingga habis. Wanita muda itu membuang kotak kosong ke tempat sampah dan memberikan cangkir yang langsung diterima putranya dengan antusias.

"Dihabiskan ya, Sayang," pesan Seokjin dibalas anggukan pendek kepala Yoongi, lantas dia meninggalkan balita usia empat tahun tersebut untuk kembali ke kamar mandi, melanjutkan menemani Taehyung yang memanggil namanya sekali lagi.

"Mama dimana~"

"Ne~ Mama sudah selesai. Taetae bisa membuka mata sekarang," jawab Seokjin mendudukkan diri di depan kloset. Taehyung melepas tangan dari depan matanya, dia langsung bersorak begitu melihat sosok ibunya masih (telah) ada di hadapannya.

"Mama!" lalu balita itu terkekeh riang, dibalas senyuman lembut sang mama.

Di dapur, Yoongi menghabiskan tegukan terakhir susunya bersamaan dengan Jimin melangkahkan kaki masuk. Balita bertubuh chubby dengan perut menyembul sehat tersebut mengedarkan pandangan mata, mencari sosok Seokjin yang sepertinya tadi dia lihat masuk ke dapur bersama dengan sang kakak.

"Yun (Hyung), Mama?" tanya Jimin, sepasang mata coklatnya mengikuti gerakan Yoongi yang perlahan-lahan turun dari atas kursi, membawa cangkir kosong di kedua tangan dan bergerak mendekati westafel. Bocah itu menaiki satu per satu anak tangga pendek yang diletakkan dengan sengaja di bawah westafel untuk mempermudah para balita mencapai tinggi tempat cucian piring supaya mereka dapat belajar membereskan sendiri alat makannya di sana, sama seperti yang dilakukan Yoongi sekarang, meletakkan cangkir Kumamon-nya di bawah kran lantas baru turun untuk mendekati Jimin.

"Mama di toilet sama Taetae. Taetae pup," jawab Yoongi. Mendengar jawaban itu, Jimin bergegas balik badan.

"Mau kemana?" tanya Yoongi menghentikan langkah kecil kaki adiknya. Anak yang lebih muda berhenti berjalan, menoleh dengan mata polos.

"Mama," jawab Jimin singkat.

"Di sana bau. Tunggu Mama saja sambil belajar," ujar kakak tertua.

"Bau?" mata Jimin membulat.

Yoongi mengangguk. "Bau sekali. Uekk~" dia menutupkan tangan ke hidungnya, ditirukan oleh Jimin.

"Chimin tidak cuka bau." Balita usia dua tahun tersebut menggelengkan kepala.

"Makanya tunggu Mama saja. Ayo," Yoongi mengulurkan tangan, segera disambut oleh adiknya. Berdua mereka berjalan kembali ke ruang duduk sambil bergandengan tangan.

"Yun (Hyung), Papa?" tanya Jimin begitu sudah mendudukkan diri di dekat meja, menghadap lagi buku gambarnya yang baru setengah diwarnai.

"Papa pergi dengan Hobie, Joonie, dan Kookie," jawab Yoongi.

"Kemana?"

"Molla." Sang kakak duduk di dekat adiknya, mengambil lagi pensil tulis yang ada di atas buku. "Kau belum selesai mewarnai itu?" tunjuk Yoongi pada gambar Jimin.

"Huh?" Jimin menoleh memandang Hyung-nya. "Cudah," cetusnya begitu saja.

"Belum~" koreksi sang kakak. "Kau belum mewarnai pohonnya." Dengan telunjuk chubby dia mengetuk bagian pohon yang masih berwarna putih.

"Ah!" Jimin tersadar. "Iya, beyum ceyecai (belum selesai). Hehehe," dia terkekeh membuat kedua matanya tenggelam ke dalam segaris eye smile lucu.

"Pohon warnanya hijau," ujar Yoongi.

"Hidau? Apa itu, Yun (Hyung)?" Jimin balik bertanya. Yoongi tidak menjawab, hanya mengedarkan mata mencari warna hijau dari banyak krayon yang berserakan di atas meja.

"Hijau itu—" Yoongi mengulurkan tangan. "—yang ini." Dia mengambil krayon warna daun dan membawanya pada gambar Jimin, sementara adiknya cuma menatap tanpa mengatakan apa-apa. Baru kemudian saat bocah yang lebih tua menggoreskan warna tersebut pada kertas gambarnya, Jimin menjerit histeris.

"Andeee! Ande, ande, ande!" balita itu menggeleng-gelengkan kepala, memukulkan tangan ke meja, lalu pecahlah tangisannya. "HUWAAA!"

Yoongi mematung, menatap Jimin dengan terkejut. Dia tidak menyangka adiknya akan menangis. Dia merasa dia tidak melakukan hal yang nakal ataupun menyakiti anak itu, oleh karenanya Yoongi hanya dapat duduk di sana memandang adiknya berteriak memanggil sang Mama tanpa dapat melakukan apa-apa.

"Mamaa!"

"Wae, wae, wae?" sosok Seokjin muncul tergoboh di pintu ruang duduk dengan Taehyung di gendongannya. Wanita tersebut menurunkan Taehyung ke lantai baru kemudian mendekati Jimin yang masih menangis menjerit-jerit.

"MAMAAA!" Jimin berdiri dan berlari menubruk ibunya, memeluk kaki Seokjin sambil terus menangis.

"Ada apa, Chimchim? Yoongi, kenapa dengan Jimin?" tanya Seokjin yang dijawab gelengan tidak mengerti dari si sulung. Sang ibu duduk jongkok, memeluk salah satu anak termudanya yang memang paling cengeng di antara semua saudaranya, mengusap lembut punggung balita tersebut sambil tidak berhenti membisikkan kalimat bujukan.

"Ssst, cup cup cup." Seokjin mengusap pelan rambut hitam Jimin, mencoba membuatnya sedikit tenang. "Ada apa, Sayang? Kenapa Chimin menangis? Bilang ke Mama," pintanya.

"Mama, Timin kenapa?" mendadak Taehyung mendekat, suaranya terdengar kecil dan kedua matanya sudah berkaca-kaca. Melihat saudara kembarnya menangis, membuat dia ikut merasa sedih juga.

"Tidak apa-apa, Taehyung-ah. Jimin tidak kenapa-kenapa. Dia hanya ingin dipeluk Mama sebentar. Kau tidak perlu sedih, ne?" jawab Seokjin sembari tersenyum, dilayangkannya sebelah tangan untuk mengusap pipi Taehyung sementara di dekapannya Jimin mengusapkan air mata dan ingus pada bajunya.

"I—hiks... tu... hiks hiks—" Jimin sesenggukan menunjuk ke arah meja yang masih berantakan oleh buku, pensil, dan krayon. "Yoongi—hiks... Yu—hiks—uun..." Jimin bicara sepotong-sepotong membuat ibunya mengerutkan kening mencoba untuk mengerti ucapannya. Wanita tersebut menolehkan kepala pada meja tempat biasa anak-anaknya belajar, pada buku serta alat gambar yang berantakan, pada Yoongi yang hanya duduk diam menatapnya bingung, kembali memandang Jimin, dan menatap ke meja lagi. Butuh waktu beberapa detik bagi Seokjin untuk memahami situasi lalu...

"Oh, astaga!" ibu muda itu tertawa.

"Huweee..." Jimin kembali menangis melihat mamanya tidak bersedih untuk dia dan malah tergelak. "Mamaaa..." ratapnya pilu membuat sang ibu kembali mendekap dengan lebih erat sambil berusaha keras menahan tawa walau Seokjin sadari hal itu sangat sulit sebab situasi yang dia temukan sekarang terlalu konyol untuk terjadi.

"Yoongi-ya," panggil Seokjin. "Apa kau mewarnai gambar Jimin dengan warna hijau?" tanyanya.

Yoongi menatap krayon hijau yang masih dia pegang lantas mengangguk. "Ne."

"Jangan pakai itu." Sang ibu berusaha keras menahan suara tawanya. "Jimin tidak suka warna hijau. Dia akan menangis kalau kau menggunakannya."

Mata Yoongi membulat, masih belum mengerti dengan alasan yang dikatakan oleh sang ibu namun bocah tersebut tetap melepaskan krayon dari tangannya dan kembali menatap Seokjin, tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

"Kau bisa memperbaiki gambar Jimin?" tanya sang Mama kemudian membuat buah hatinya tersentak, segera Yoongi mengedarkan mata ke seluruh permukaan meja, mencoba memikirkan sesuatu dengan otaknya yang masih muda dan sederhana. Beberapa detik terdiam, bocah itu kemudian meraih krayon warna coklat dan mulai mewarnai ulang gambar Jimin, menindih warna hijau yang tadi dia goreskan dengan warna coklat.

"Hyaa Jimin-ah, coba lihat. Lihat itu~" Seokjin mengalihkan perhatian anaknya yang menangis pada Yoongi yang sedang mewarnai gambarnya dengan tekun. "Yoongi Hyung tidak mewarnai pohonnya jadi hijau. Coba lihat."

Jimin menoleh, diam melihat Hyung-nya yang memang tidak menggunakan krayon hijau yang dia benci untuk mewarnai, tapi...

"Huweee..." Jimin kembali menangis.

"Yah, kenapa lagi?" desis Seokjin. "Ada apa? Yoongi Hyung tidak mewarnai pohonnya hijau—"

"Po—hiks—hon tidak a-ada begi—hiks—tu—hiks, huwaaa..." isak Jimin.

Seokjin termangu lalu tertawa pelan, tidak kuasa mengatakan bujukan apa-apa lagi dan hanya kembali memeluk Jimin yang tetap menangis.

"Timin kenapa nanit teyut (Jimin kenapa nangis terus)?" tangan kecil Taehyung terulur mengusap lengan saudaranya, mukanya sendiri sudah terlipat jelek bersiap untuk menangis. "Mama, Timin kenapa nanit—huks... huhuhu..." air mata Taehyung jatuh.

"Astaga..." desis Seokjin, senyuman terbias di wajahnya, antara lelah, pasrah, dan merasa geli. Diraihnya Taehyung yang menangis, memeluknya bersisian dengan Jimin yang tetap mendengung terisak.

"Sudah selesai! Jiminie, sudah selesai!" seru Yoongi tiba-tiba, tangan kecilnya menyodorkan kertas gambar pada Seokjin.

"Wah, Yoongi Hyung sudah selesai mewarnai pohonnya! Jimin-ah, coba lihat ini. Bagus sekali! Lihatlah, coba lihat," ujar Seokjin mencoba membuat anaknya tertarik pada hasil karya kakaknya. Jimin memandang kertas gambar di tangan Seokjin, dengan patah hati dia menunjuk daun dan batang pohon yang diwarnai Yoongi menjadi coklat lantas kembali menangis.

"Jangan menangis dulu, kita tanya ke Hyungnim kenapa warnanya coklat," bujuk Seokjin. "Yoongi Hyung, kenapa warna daunnya coklat?"

Yoongi terdiam, menatap lurus mata yang Seokjin kemudian berkedip penuh kode padanya, dengan isyarat meminta dia mengatakan kebohongan apapun untuk mengalihkan perhatian adik-adiknya. Balita empat tahun itu balas mengerjabkan mata polos.

"Daunnya coklat—" kalimat si kecil terhenti. "—karena sedang musim gugur."

"Ah, benar!" seru Seokjin memasang ekspresi wajah terkejut. "Kalau musim gugur warna daun jadi coklat. Jimin ulang tahun waktu musim gugur 'kan? Daun-daun warnanya coklat, batang pohon coklat, terbang ke sana-sini dengan angin, lalu jatuh ke kolam dan ke jalan. Benar 'kan?"

"Daun coklat ada baaanyak di jalan," sahut Yoongi.

"Benar sekali itu, Hyungnim! Ada baaanyak daun coklat di jalan!" sang ibu mengimbuhi dengan penuh semangat. "Daun coklat ada banyak di jalan, di sungai, di halaman. Jimin ingat?" dengan lembut Seokjin menyeka air mata di kedua pipi gembul Jimin, menyusul Taehyung yang juga ikut berhenti menangis.

Jimin diam menatap kertas gambarnya. Perlahan tangan gemuknya terangkat dan kembali menunjuk pada gambar pohon.

"Daun gugun," gumamnya tidak lagi merasa sedih. "Ini apa?" balita tersebut mengarahkan ujung jari pada warna hitam di tengah-tengah pohon bekas warna hijau yang ditindih krayon coklat oleh Yoongi

Yoongi tercenung.

Seokjin ikut terdiam. Mengedipkan mata sambil memutar otak berusaha menemukan jawaban yang pas.

"Mama?" namun Jimin seolah tidak mau menunggu dan menuntut jawaban sekarang juga.

"Eung, ituuu..." Seokjin menggumam kehabisan ide.

"Tayang yebah (sarang lebah)?" celetuk Taehyung.

"Huh?" Seokjin memandang anaknya, pun dengan Yoongi dan saudara kembarnya.

"Tayang yebah di taman. Temayin. Main boya (sarang lebah di taman. Kemarin. Main bola)." Taehyung mencoba menjelaskan, menatap lekat ibunya mencoba membuat Seokjin mengerti tanpa harus dia menggunakan lebih banyak kata.

"Ah!" seperti yang diharapkan dari seorang ibu, Seokjin segera menangkap maksud potongan-potongan kata buah hatinya yang serupa puzzle. "Seperti sarang lebah di taman waktu itu?"

Taehyung mengangguk antusias.

"Cayang yebah..." desis Jimin masih belum paham. "...mana?"

"Kau ingat? Waktu sedang bermain dengan Papa di taman, Papa melempar bola terlalu tinggi sampai mengenai sarang lebah di atas pohon," cerita Seokjin.

"Sarang lebah yang itu!" Yoongi berteriak ingat. "Yang besuarr dan lebahnya buanyakk!" dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, mencoba mendeskripsikan betapa besar dan banyak binatang penyengat yang tidak sengaja Rapmon porak-porandakan istana mereka hingga jatuh berantakan ke tanah, menimbulkan kekacauan serta kepanikan besar yang sama sekali tidak terbayangkan.

"Ne, yang itu!" Seokjin menjentikkan jari. "Sarangnya jatuh dan Papa langsung berteriak 'LARIII! LARI SEMUANYA, LARIII!'. Terus Papa menggendong Jimin dan Taehyung," lanjut Seokjin.

"Yoongi lari sendiri!" Yoongi memprotes. "Yoongi lari, huh hah huh hah." Dia memperagakan gerakan tangan dan kakinya saat mencoba kabur dari kejaran lebah hari itu. "Yoongi lari dengan Joonie dan Hobie tapi Hobie jatuh."

"Hobie Yun datuh dan menanit," sela Jimin sepertinya sudah ingat dengan kejadian yang tengah diobrolkan saudara-saudaranya.

Yoongi mengangguk lantas melanjutkan dengan penuh semangat. "Hobie menangis terus Joonie datang dan menarik tangannya. Yoongi juga menarik tangannya. Lalu kami lari bersama-sama!"

Seokjin bertepuk tangan, tawanya berderai dengan begitu renyah, antara merasa terhibur oleh celotehan riang para buah hatinya dan merasa lega karena sekarang Jimin maupun Taehyung sudah berhenti menangis.

"Tayang yebahnya betaaal (sarang lebahnya besaaar)!" celetuk Taehyung sambil merentangkan tangan nyaris mengenai wajah Seokjin yang masih memangkunya dari belakang.

"Cayang yebahnya cebecal pohon (sarang lebahnya sebesar pohon)!" Jimin ikut bersorak.

"Pohonnya penuh lebah, nanti kalau ke sana bisa digigit," ujar Yoongi.

"Chimin tidak mau ke cana. Chimin takut yebah." Jimin menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah horor.

"Kenapa takut? Nanti yebahnya dipukul tata (saja), buk buk buk gitu!" ujar Taehyung sambil menggerakkan kedua lengannya seperti seorang petinju.

"Tapi yebah ceyam, kayo digigit cakit (tapi lebah seram, kalo digigit sakit)!" Jimin kembali protes dan ocehan demi ocehan semakin lancar mengalir meramaikan suasana, membuat Seokjin semakin tergelak akan keceriaan anak-anaknya. Dengan sayang diusapnya kepala si kembar dan Yoongi bergantian.

"Nah, cerialah seperti ini. Jangan menangis. Mama sedih kalau kalian menangis," ujar Seokjin dan entah mengerti atau tidak, ketiga putranya serempak menjatuhkan tatapan padanya, memandang dengan mata polos, lantas bergerak memeluknya. Yoongi yang pertama. Dia melompat lalu merangkulkan tangan pada leher ibunya dari belakang. Di susul Jimin yang bangkit berdiri dan menjatuhkan diri pada Seokjin nyaris bersamaan Taehyung.

"Mamaaa~" ujar ketiga balita dengan mesra, kembali membuat ibu mereka menyunggingkan tawa.

"Aigoo aigoo aigoo~ anak Mama neomu kyeopta~" wanita tersebut mencoba mengelus satu per satu kepala buah hatinya.

Klek, mendadak terdengar pintu terbuka disusul oleh sapaan berat suara Rapmon yang segera dikalahkan teriakan melengking Hoseok.

"Kami pula—"

"MAMAAA! MAMA, COBA LIHAT INI! INIII!" drap drap drap, sepasang kaki mungil tersebut nyaris terjerembab ketika dengan tidak sabar dia melepas sepatunya di beranda. Di belakang Hoseok, menyusul Namjoon yang mencoba menyamakan kecepatan dengan saudara kembarnya yang memang sangat pecicilan dan tidak bisa diam.

"Yah, Kim Hoseok! I try to say greeting here, don't cut me! (Papa sedang memberi salam di sini, jangan memotong seenaknya!)" seru Rapmon, Jungkook menggeliat di gendongannya. Bayi tujuh bulan itu nampak baru bangun dari tidur, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dan membawanya merenggang ke atas sambil menguap.

Hoseok menoleh, memandang papanya sekilas lalu tersenyum lebar sembari mencicitkan kata "Sorry" dan kembali berlari menuju Seokjin yang menunggu.

"Mama, lihat Hobie beli apa. Lem pink! Hobie mau membuat taman bunga yang besaaal untuk Mama!" Hoseok merangsek ke pangkuan Seokjin, di tangannya ada sebuah botol dengan isi berwarna pink cerah. Bocah tersebut menempatkan dirinya pada celah sempit di antara Jimin serta Taehyung yang masih memeluk sang ibu.

"Wah, benarkah?" Seokjin membulatkan mata. "Hobie mau membuatkan Mama taman bunga? Aii terima kasih~ Hobie baik sekali~" wanita tersebut menangkupkan kedua tangan ke pipi chubby Hoseok, membiarkan anaknya mengerti bagaimana dia sangat bahagia akan diberi sebuah taman bunga.

"Ehehehe," si balita terkekeh, merasa senang karena sudah membuat ibunya tersenyum.

"He tried hard to find the right pink color he wants. We're at the glue shop almost an hour and I just wanna give up but this little boy didn't lemme, (Dia berusaha keras menemukan warna pink yang benar-benar pink seperti keinginannya. Kami sudah berputar-putar di toko lem selama hampir sejam dan aku memintanya untuk mengambil warna pink yang ada tapi dia tidak mau,)" celetuk Rapmon, dengan gemas menjatuhkan jitakan pelan pada Hoseok yang langsung tertawa dan menubrukkan wajah ke dada sang ibu yang menyambutnya dengan pelukan hangat.

"Hobie kyeowo~" puji Seokjin sekali lagi. Di belakang, Rapmon bersungut-sungut, 'kyeowo darimananya!'

Rapmon duduk perlahan di atas lantai, di tengah-tengah mainan Taehyung yang bertebaran. Dia melepaskan kaitan gendong di badannya, menggumamkan 'sebentar, sabar dulu' pada Jungkook yang sudah menggerak-gerakkan kaki serta kedua tangan, ingin segera lepas dari kungkungan selimut dan merangkak bebas.

"Kookie-ya~ Kookie Kookie," panggil Taehyung mendekati adik bayinya, duduk menunggu sang ayah yang nampak kerepotan melepaskan gendongan.

"Kyaahahaha~" Jungkook tertawa senang bisa melihat lagi Hyung-nya, kedua tangan gemuknya terulur berusaha meraih pakaian Taehyung dan begitu dia akhirnya terlepas dari kain gendong, bayi tersebut segera merangkak untuk memeluk kakaknya.

"Aemamamaa," Jungkook mengoceh, memukul-mukulkan tangan pada badan Taehyung dan sesekali pada mukanya.

"Aii, ande Kookie-ya, takit~ ehehehe," namun Taehyung justru hanya terkekeh menerima perlakuan adiknya, membuat Jungkook menjerit senang dan makin merangsek pada sang kakak. Satu kali pegangannya luput dari baju Taehyung, membuatnya jatuh membenturkan wajah di dada anak yang lebih tua tapi bayi itu tidak menangis, malah tertawa dan melanjutkan candaan mereka dengan saling memeluk serta berguling-guling di karpet.

"Mama," terdengar suara kecil Namjoon memanggil. Seokjin menoleh dan segera menemukan balita tersebut tengah berdiri dengan sebuah botol berwarna hijau di dekapannya.

"Joonie mau buat padang lumput yang besal," ujar Namjoon, di sebelahnya Hoseok dengan cepat menyahut.

"Kenapa mau buat padang lumput? Taman bunga lebih indah." Bocah itu mengerutkan alis tidak setuju.

"Tapi padang lumput juga indah," bela Namjoon.

"Indah dalimana? Walnanya cuma hijau," bantah Hoseok.

"Eyy, padang rumput juga indah lho." Seokjin menengahi, mengulurkan kedua tangan meminta Namjoon untuk mendekat. "Tempatnya luas, rumputnya banyak, bisa untuk lari-lari dan main bola. Kadang juga ada sapi dan kambing makan di sana."

"Sapi?" mata Namjoon seketika berbinar.

"Ne, sapi. Namjoonie mau melihat sapi?" tanya Seokjin sambil tersenyum, mengusapkan tangan pada kedua pipi salah satu anaknya yang memiliki wajah paling mirip dengan sang ayah.

Namjoon mengangguk antusias. "Sapi itu... sapi itu yang mooo itu 'kan, Mama?"

"Aigoo kyeoo~" Seokjin gemas berlebihan. "Benar, Sayang. Sapi itu yang moo~ coba ulangi," pintanya.

Dengan polos Namjoon mengikuti kata-kata sang ibu. "Mooo~"

Dan satu hal kecil tersebut berhasil membuat Seokjin kegirangan. "Aaa kyeooo~" dia memeluk erat tubuh mungil anaknya sebagai ganti. Dari arah belakang Namjoon, mendekat Jimin dengan langkah-langkah cekak kaki kecilnya.

"Mama, gamban Chimin cudah ceyecai," lapor balita itu dengan senang, di tangannya ada kertas gambar yang berdua dia warnai dengan Yoongi.

"Oh, benarkah? Mana mana? Bawa ke sini. Mama mau melihatnya," tanya Seokjin penasaran. Namjoon bergeser sedikit untuk memberi tempat bagi adiknya mendekat pada sang Mama, namun mendadak langkah kaki Jimin berhenti. Dia menatap Namjoon lekat.

"Ada apa, Jiminie?" Seokjin heran melihat buah hatinya tiba-tiba berhenti bergerak.

Jimin masih melihat Namjoon tanpa bicara, memandang pada botol lem berwarna hijau di pelukannya, dan...

"Hiks, huweee..." dia menangis. Sang ibu pun hanya dapat membulatkan mata kaget.

-END-


Ciyee kena japlak
Ciyee Baby Baby digandakan tanpa ijin
Ciyeee~ wkwkwk

Myka speechless-lah ya waktu dapat kabar kalau Baby Baby diplagiat dan di-repost ke wattpad padahal Myka gak punya akun wattpad
Gercep Myka menuju TKP setelah sebelumnya beribet ria instal WP sama bikin akun, sampai di sana langsung yg "...apa ini...?"
Cara repost-nya lucu sih, gak di-copy paste mentah-mentah. FF nya ditulis ulang pakai gaya penulisan sendiri dan ada penggantian tokoh sama penghapusan beberapa alur. Tapi tetep saja diksi, percakapan, dan lain-lain itu sama
Tahu gak? Sakitnya tuh di sini~ *nunjuk popok bekas Jungkook*

Myka gak akan bilang siapa orangnya, hanya saja untuk kamu yg punya niatan plagiat FF author manaaa aja, please pikirin lagi. Kita bikin ff begini gak instan sekali jadi kayak bikin mie ramen lho. Kadang buat nyari ide aja harus nongkrong di WC berjam-jam, belum nyusun alurnya, nulisnya disempet-sempetin di tengah kesibukan RL, ngedit yg gak kalah ribet, posting kudu nyari koneksi internet sama kuota. Author juga manusia, masa tega buat nyakitin sesama manusia?

Myka bukannya pengen bersikap dramatis, lebay, atau apa. Jujur, waktu dapet kabar itu Myka seketika berpikir buat delete story Baby Baby. Tapi terus Myka mikir lagi, yg salah kan cuma satu org kenapa harus ada banyak org yg dikorbankan? Akhirnya Myka putuskan buat keep FF ini, meski mungkin untuk beberapa bulan ke depan Baby Baby bakal hiatus.
Asli lah Myka trauma anjay, wkwkwk

Buat kalian kalau seandainya baca FF di mana aja (wattpad terutama, krn ini tempat terkenal utk repost FF plagiat) dan menemukan ada kesamaan dg FF di situs lain, langsung hubungi author pertamanya dan minta konfirmasi. Jangan nunggu konfirmasi dari org tersangka plagiat, tanya author-nya lebih dulu untuk menghindari fitnah.
Apalah daya para author tanpa reader kesayangan :*

Terima kasih buat kamu yg ngasih kabar penting ini ke Myka, mohon kerja samanya lagi di masa depan^^
Dan kalau ada yg nemu akun mykareien di wattpad, itu aku XD
tapi Myka gak bakal post apa-apa di sana, cukup di FFN aja sama kalian-kalian yg kesayangan, mwah mwah :***

Maaf ya jadi curhat :*

4 Oktober 2016
Regard,

Myka Reien