Jangan lupa tidur siang :*
#namjin #monjin #bts #gs #t
Baby Baby
7
Rapmon: Peek-a-boo! (Ci luk ba!)
Rapmon: (stiker)
Rapmon: Wanna some? (Mau?)
Rapmon: (foto sebuah toko kue yang berseberangan dengan salon kecantikan)
Seokjin: Muffins. Chocolate, fruit, cheese milk. And donuts. Same as muffins. Gimme strawberry jam and grape too. Don't forget 'bout white breads and cookies. (Muffin. Rasa coklat, buah, dan susu keju. Donat juga. Rasanya sama seperti muffin. Beli juga selai strawberry dan anggur. Jangan lupa roti tawar dan cookies-nya.)
Rapmon: That's all kiddos' favorites. Something for you? (Itu semua kesukaan anak-anak. Kau tidak mau sesuatu?)
Seokjin: Shampoo. From the salon beside it. The strawberry fragnant. (Sampo. Dari salon di sebelah toko roti itu. Yang wangi strawberry, ya.)
Rapmon: Strawberry?
Seokjin: Taehyung loves it so much. (Taehyung sangat menyukai baunya.)
Rapmon: But I love rose more. (Tapi aku suka yang mawar.)
Seokjin: Strawberry one please. (Yang strawberry saja.)
Rapmon: But you're more suitable with glamour fragnant. (Tapi kau paling cocok dengan wangi glamor seperti mawar.)
Seokjin: Babe. (Yeobeo.)
Rapmon: Hmph =(
Seokjin: Take the rose if you still have some left over. (Beli mawar kalau masih ada uang.)
Rapmon: ASSA! XD XD XD
Rapmon: (stiker)
Rapmon: (stiker)
Rapmon: (stiker)
Seokjin mengulum senyum, tidak lagi membalas pesan suaminya dan memilih untuk mematikan ponsel lantas meletakkannya di atas sofa. Dia mengedarkan pandangan, menatap keadaan ruang duduk yang seperti kapal pecah. Kembali wanita itu tersenyum. Sepasang mata bulatnya bergerak mengarah pada jam dinding, baru menyadari jika hari semakin siang yang berarti sudah waktunya bagi anak-anak untuk tidur. Ibu muda itu sekali lagi mengedarkan tatapan.
Di meja, seperti biasa, nampak Yoongi sedang tekun menulis di buku tulisnya yang sudah terisi separuh. Kemarin Seokjin mendengar si sulung tersebut minta dibelikan buku baru pada ayahnya dan Rapmon menjanjikan mereka akan membeli buku ditambah Yoongi boleh memilih sampul bergambar robot yang dia sukai jika buku tulisnya yang sekarang sudah penuh serta dia bisa menghafal lima huruf hangul.
Yoongi sangat senang mendengar dia boleh memilih buku yang dia sukai dan karena itu semangat belajarnya menjadi berkali lipat sekarang. Sejak pagi bocah tersebut sudah berisik minta ibunya menuliskan contoh huruf hangul untuk dia tiru hari itu dan sampai siang Seokjin tidak melihat Yoongi beranjak dari tempatnya duduk menulis dengan tekun, dia bahkan tidak meladeni teriakan Hoseok yang mengajaknya bermain. Benar-benar anak yang punya kemauan kuat.
Di sebelah Yoongi berserakan buku bergambar serta krayon warna-warni Jimin sementara pemiliknya telah asyik bergabung dengan Taehyung untuk menjadi penonton duel kebangsaan antara Namjoon dan Hoseok yang bermain robot. Seokjin menggeser arah pandangannya dan langsung bisa menemukan sosok berpopok Jungkook tengah merangkak masuk ke dalam kardus besar tempat menyimpan mainan yang sudah digulingkan. Dengan sepasang tangan mungilnya, si Maknae mengacak-acak sisa mainan yang masih ada di dalam kardus. Dia meraih kantong berisi kelereng, memukul-mukulkannya ke lantai, mencoba memasukkannya ke dalam mulut dan begitu tahu benda tersebut tidak terbuka apalagi muat di dalam mulutnya, dengan kesal dia langsung membuangnya begitu saja.
Sejak insiden Jungkook memasukkan kelereng ke dalam mulut, Seokjin memang menyimpan seluruh kelereng ke dalam kantong yang terikat kuat. Dia sudah memberitahu buah hatinya yang lain untuk tidak bermain benda tersebut ketika Jungkook terbangun dan untung saja hampir semua anak-anaknya mengerti (hanya Yoongi yang memahami pesan Seokjin sedangkan adiknya yang lain tidak bermain kelereng karena mereka tidak ingat jika punya kelereng sebab sang ibu selalu menyimpannya di dalam kantong berwarna hitam, tidak mencolok, serta tidak pernah dibuka sehingga para balita kemudian lupa begitu saja).
Merasa tidak menemukan mainan yang menarik membuat Jungkook semakin penasaran, dia bergerak semakin masuk ke dalam kardus dan menduduki salah satu sisinya, menjadikan bayi tersebut terlihat begitu kecil berkebalikan dengan lebar kardus yang membingkainya.
Seokjin mengulum senyum, menyadari jika keenam anaknya masih begitu bersemangat bermain yang sama artinya dengan akan sulit untuk mengajak mereka tidur siang. Namun, jika para balita tersebut tidak beristirahat sekarang, Seokjin takut menjelang sore anak-anaknya akan kelelahan dan tertidur sebelum sempat mandi serta makan malam.
"Sayang, tidur yuk~" ajak Seokjin tanpa menyebut nama. Hanya Yoongi dan Taehyung yang merespon. Yoongi mengangkat wajah sebentar dari permukaan bukunya untuk memandang Seokjin lalu kembali menunduk melanjutkan menulis, sementara Taehyung menoleh dan langsung mengerutkan kening.
"Ande," tolaknya singkat lantas segera mengembalikan perhatian pada ronde ke sekian perang robot antara Namjoon serta Hoseok yang sebenarnya tidak pernah berbeda dari hari ke hari, tapi Seokjin tetap tidak bisa mengerti bagaimana mereka tidak sekali pun merasa bosan mengulanginya. Imajinasi anak-anak memang hebat.
Perlahan sang ibu menghela napas panjang. Tak mau menyerah begitu saja, Seokjin mengalihkan mata menatap Jungkook yang sedang menggigiti sebuah boneka kuda bersayap.
"Jungkook-ah~" panggil Seokjin berhasil membuat bayinya menoleh. "Ayo tidur. Bobok," wanita itu menggunakan gestur orang tidur berbantalkan tangan untuk mempermudah buah hatinya memahami kata-katanya.
Jungkook mengedipkan mata lebar yang menurun dari sang ibu, kemudian dia bergerak memutar badan membelakangi Seokjin dan melanjutkan menggigiti boneka. Bahu Mamanya seketika turun.
"Ayolah kalian semua tidur, nanti kalian kecapekan," keluh Seokjin.
Tak ada tanggapan. Keenam balita masih asyik dengan kesibukan mereka masing-masing.
Waktu berlalu, anak-anak tetap bermain, sebaliknya malah Seokjin yang perlahan merasa mengantuk. Dia meraih ponsel, hendak mengirim pesan pada Rapmon saat tiba-tiba suara Hoseok melengking.
"KOOKIE-YA!"
Sang ibu langsung menoleh, pun dengan Yoongi yang sampai terjengat kaget di tempatnya duduk. Terlihat Hoseok sudah berdiri, sebelah tangannya memegang robot kesayangan yang dia beri nama Optimus Plime. Balita tersebut berjalan dengan langkah menghentak mendekati adik bayinya yang masih duduk di dalam kotak dengan ekor boneka kuda di antara gigi depannya dan mata bundar mengerjab polos, tidak mengerti kenapa mendadak sang kakak meneriakkan namanya.
"Itu punya Hobie!" Hoseok menunjuk boneka yang tengah digigit Jungkook.
"Itu punya Hobie!" ulangnya sambil mengulurkan tangan meraih kepala boneka kuda, Seokjin segera berdiri bermaksud untuk menghentikan anaknya jikalau tidak sengaja dia menarik benda tersebut dan membuat gigi adiknya yang baru saja tumbuh menjadi terkoyak. Namun Hoseok tidak menarik boneka tersebut—untungnya—dia hanya memegangnya.
"Punya Hobie, jangan digigit," pinta Hoseok, kedua alisnya mengerut dan mulutnya cemberut.
Jungkook masih terdiam, mendongak dan menatap sang Hyung sambil berkedip beberapa kali.
"Kembalikan!" kali ini Hoseok menarik bonekanya, tidak keras, tapi cukup membuat Maknae terkejut dan reflek melayangkan tangan untuk memegangi benda yang kemudian dia lepaskan dari mulutnya. Dengan kuat Jungkook mencengkeram boneka kuda bersayap yang ekornya sudah basah oleh air liurnya.
"Amaa!" si bayi nampak tidak ingin memberikan mainan yang menurutnya paling menarik di antara berbagai macam mainan yang dia temukan di ruang duduk.
"Ini punya Hobie, lepaskan!" Hoseok tidak mau mengalah, mencoba menarik bonekanya namun pegangan Jungkook ternyata sangat kuat. Bayi tersebut bahkan balik menyentak tangan Hoseok hampir membuat kakaknya terjerembab ke depan.
"MMA!" Jungkook memekik, kedua matanya tajam dengan alis mengerut, dia masih menarik boneka yang di waktu bersamaan juga ditarik oleh Hoseok.
"Ini punya Hobie! Kuda Hobie!" Hoseok berteriak.
"Mamama! MAAA!" Jungkook menggeleng-gelengkan kepala, menggoyang-goyangkan tangan mencoba menepis Hyung-nya tapi Hoseok lebih kukuh.
"KOOKIE!"
"Hei, hei, ada apa ini?" suara Seokjin mengalun lembut, tangannya memegang boneka kuda yang tengah diperebutkan oleh dua anaknya.
"Mama, ini kuda Hobie." Hoseok mengadu.
"Kookie hanya pinjam sebentar, Hoseokie. Nanti juga dia kembalikan, jadi pinjamkan sebentar ya. Sebentaaar saja." Seokjin mencoba membujuk.
"ANDWE! INI PUNYA HOBIE!" Hoseok menghentakkan kaki kesal dan hal tersebut membuat ibunya melebarkan mata terkejut. Seokjin kaget sebab tidak biasanya saudara kembar Namjoon itu bersikap egois seperti ini. Berkebalikan dengan Yoongi yang kadang galak dan enggan berbagi, Hoseok adalah anak yang sangat ramah dan suka memberikan sebagian yang dia punya pada orang lain. Dia juga tidak segan-segan akan meminjamkan mainannya pada anak yang baru dia kenal sehingga kehilangan mainan bukanlah hal yang baru untuk seorang Kim Hoseok.
Namun sekarang bocah itu bersikap sebaliknya. Jangankan meminjamkan, Jungkook hanya memegang bonekanya saja sudah membuat dia berteriak. Padahal yang melakukannya adalah adiknya sendiri dan Seokjin sangat tahu jika Hoseok termasuk dalam kategori anak yang dapat menjaga serta mengasuh balita yang lebih muda dari usianya, sama seperti Taehyung yang meski baru berumur dua tahun dia sudah bisa mengajak Jungkook bermain tanpa membuatnya menangis.
"Sayang," Seokjin mengusap kepala Hoseok dengan lembut. "Jungkook hanya pinjam sebentar, nanti Mama akan bilang padanya supaya cepat mengembalikan boneka ini padamu. Ne?"
"Ande!" Hoseok masih berteriak. "Punya Hobie!" dia kembali menarik boneka dari tangan Jungkook namun gagal, adik bayinya benar-benar sangat kuat mencengkeram benda itu.
"AMA!" agaknya Jungkook sudah sangat marah. Dia menyentak boneka sekuat tenaga hingga terlepas dari tangan kakaknya lalu balik melemparnya sampai mengenai muka Hoseok. Lemparannya tidak terlalu keras namun tetap membuat Hyung-nya terkejut, lebih-lebih Seokjin.
"HUWAAAA!" sekejab Hoseok menangis.
"Jungkookie..." Seokjin tidak kuasa mengatakan apa-apa, dengan cepat ia meraih Hoseok yang meraung lalu membawanya ke dekapan.
"Sstt, cup cup cup sayang..." wanita tersebut mengusap punggung kecil putranya tapi saudara kembar Namjoon itu malah semakin keras menangis. Dia bahkan memukuli dada Seokjin dengan kepalan mungil tangannya dan kedua kakinya menghentak-hentak ke lantai sebagai wujud dari rasa marahnya.
Terlihat jika Hoseok benar-benar kaget sudah dilempari boneka oleh adiknya sendiri. Rasa terkejut, rasa kesal, dan rasa sedihnya karena dinakali oleh Jungkook jauh lebih besar daripada rasa sakit di wajah yang kena lemparan boneka. Itulah alasan kenapa dia semakin mengamuk.
"Hobie..." Seokjin masih mencoba membujuk buah hatinya. "Kookie tidak sengaja melakukannya. Dia tidak bermaksud melakukannya. Anak Mama ini 'kan pintar. Anak Mama sabar, jadi kalau menangis tidak akan lama-lama. Sabar ya Sayang, cup cup cup," buai sang ibu dengan tetap memeluk tubuh kecil Hoseok.
Seolah mengerti perlahan isakan si balita mereda, tinggal menyisakan sedu-sedan, dan Seokjin pun melepaskan dekapannya. Wanita itu menatap wajah chubby Hoseok yang basah oleh air mata, dengan lembut dia mengusap kedua pipi bakpao tersebut bergantian.
"Kookie tidak bermaksud nakal. Kookie sayang Hobie Hyung. Kookie hanya ingin mengembalikan boneka Hyungnim. Kau tidak perlu menangis," jelas Seokjin dengan suara lembut, senyuman terukir manis di bibirnya. "Jadi Hyung jangan menangis lagi. Ne?"
Hoseok diam memandang sang Mama, masih terisak. Beberapa detik kemudian dia kembali merengek.
"Huweee," dia menangis dengan kedua tangan memeluk ibunya dan jari jemari gemuk mencengkeram kuat kain baju wanita muda tersebut.
"Mungkin kau mengantuk." Seokjin menghela napas, mengangkat kedua ketiak Hoseok lantas meletakkannya di gendongan. Perlahan dia berdiri.
"Yoongi Hyung," panggil sang Mama pada anak tertua yang hanya memandang pertengkaran adik-adiknya dari meja. Yoongi menatap Seokjin.
"Tolong temani Dongsaeng, Mama mau membuatkan susu untuk Hobie," pinta Seokjin. Tanpa menunggu perintah kedua, Yoongi segera bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati keempat adiknya yang masih berada di tempat, mendongak memandang Hoseok yang menangis di gendongan Seokjin. Mendadak Namjoon bergerak.
"Mama, Hobie... Hobie sakit?" tanya saudara kembar Hoseok tersebut, kedua matanya menyorotkan rasa cemas. Tak lama kemudian mendekat juga Taehyung dan Jimin.
"Mama, Obi Yun enapa? Obi Yun cakit? (Mama, Hobie Hyung kenapa? Hobie Hyung sakit?)" tanya Jimin.
"Obi Yun menanit. Obi Yun danan menanit. Tup tup tup (Hobie Hyung menangis. Hobie Hyung jangan menangis. Cup cup cup)," sambung Taehyung, dia berjinjit di ujung kakinya untuk bisa meraih kaki Hoseok yang menggantung di pinggang Seokjin lantas menepuk-nepuknya.
Seokjin tersenyum, merasakan isi hatinya meleleh melihat anak-anaknya punya kekhawatiran dan kasih sayang yang begitu besar pada saudara mereka. Mereka pasti terlalu terkejut akan suara tangis Hoseok sebelumnya sehingga tidak tahu harus melakukan apa dan begitu kakaknya mulai berhenti merengek, barulah para balita tersebut berani bertanya.
"Hobie Hyung baik-baik saja." Seokjin sedikit merendahkan badan untuk mengusap bergantian kepala Namjoon, Jimin, dan Taehyung. "Sepertinya Hyungnim sedikit capek jadi Mama akan mengajaknya tidur."
"Joonie juga," celetuk Namjoon tiba-tiba.
"Eh, Joonie juga mau tidur?" tanya Seokjin.
"Ne," angguk Namjoon. "Joonie sama Hobie," sambungnya.
"Ah, Joonie mau menemani Hobie?"
Kembali si balita mengangguk. "Hobie menangis. Hobie takut. Joonie mau sama Hobie. Jadi Hobie tidak menangis," jelasnya.
"Aigoo Joonie baik sekali," puji Seokjin. "Kalau begitu simpan Bumblebee, ya. Lalu bersihkan tangan dengan tisu. Mama akan membuatkan susumu."
Namjoon segera berbalik, setengah berlari untuk mengambil robot mainannya yang tertinggal di lantai lantas membawanya ke rak yang berada di sebelah kardus mainan. Bocah itu sedikit berjinjit guna meletakkan robot di rak yang cukup tinggi. Setelah berhasil, dia kembali untuk mengambil robot milik Hoseok yang juga ditinggalkan begitu saja di lantai, membawanya ke rak yang sama lantas meletakkannya di samping robot kepunyaannya sendiri. Seokjin tersenyum melihat kecekatan putranya, dia beranjak menuju dapur dengan masih menggendong Hoseok bersamaan dengan Namjoon mengambil tempat tisu basah di meja.
Glodak! Satu kali tangan Namjoon luput memegang tempat tisu berbentuk tabung, membuatnya jatuh di lantai dan menggelinding. Sambil mengulurkan tangan bocah tersebut kemudian mengejar tempat tisu.
"Kookie nakal," cetus Yoongi, membuat adik bayinya menoleh.
"Membuat Hyung menangis, itu tidak baik." Dia menyambung.
"Yun, Obi Yun teyiak. Tadet. Kookie mayah (Hyung, Hobie Hyung teriak. Kaget. Kookie marah)." Taehyung mencoba membela adiknya.
"Tetap saja Kookie tidak boleh melempar barang begitu." Yoongi menegaskan suaranya. Dia beranjak mengambil boneka kuda yang ada di lantai, membawanya pada Taehyung lantas memukulkannya ke wajah si adik. Taehyung memekik, segera menutupkan tangan pada mukanya.
"YUN!" Jimin yang berteriak kaget, reflek dia hampir memukul Yoongi sebagai pembelaan atas saudara kembarnya namun sang kakak jauh lebih cepat membuat boneka juga mendarat mengenai hidung peseknya.
"Yuuun...hiks..." Jimin merengek.
"Huhu..." Taehyung mulai terisak.
"Sakit 'kan? Rasanya sakit, makanya jangan memukul," ujar Yoongi seketika membuat kedua adiknya berhenti menangis. Taehyung mengusap kedua matanya yang basah, di sebelahnya Jimin sesenggukan sambil menghirup ingus dalam-dalam, berdua mereka menundukkan kepala.
"Kookie juga." Yoongi mengalihkan perhatian pada Maknae yang sedari tadi hanya memandang kakaknya bergantian dengan mata bundar menyorot polos.
"Tidak boleh melempar barang." Sang kakak mendekati adik bayinya, melakukan hal yang sama yang dia lakukan pada si kembar. Jungkook terkejut ketika merasakan boneka mengenai wajahnya, dia segera menutupkan telapak tangan mungil pada kedua matanya.
"Mmaaa!" bayi tersebut berteriak marah, merangkak mendekati Yoongi dan bermaksud balas memukulnya namun begitu matanya berbenturan pandang dengan mata kecil si Hyungnim yang menyorot tajam, dia terdiam.
"Jangan nakal," ujar Yoongi. "Jangan membuat Hyung menangis."
Jungkook memajukan mulut, mendudukkan bokong kecilnya di lantai lalu menunduk sambil sesekali mencuri pandang pada Yoongi dengan tatapan mata merajuk antara ingin memperlihatkan dia sedang marah dan mencoba meminta maaf pada kakaknya. Yoongi meletakkan boneka kuda ke lantai.
"Hyung sayang Kookie. Hobie juga sayang Kookie. Jadi jangan membuat Hyung menangis. Ne?" tanya kakak tertua seraya mendekatkan diri pada adiknya lalu memeluk Jungkook.
"Mian sudah memukulmu." Yoongi sedikit menarik diri lantas mengecupkan bibirnya pada milik Jungkook yang seketika menyunggingkan senyuman lebar.
"Ehehehe." Si bayi langsung terkekeh, tangannya memegang baju sang kakak dengan senang.
"Mian sudah memukul kalian." Yoongi beralih pada si kembar Jimin dan Taehyung, memeluk mereka bergantian lalu juga memberikan kecupan seperti yang selalu diajarkan oleh Seokjin setiap kali membuat keenam bersaudara tersebut berbaikan setelah bertengkar. Jimin bahkan memonyong-monyongkan bibirnya tidak sabar menunggu giliran Yoongi memberinya kecupan.
"Hyung," panggil Namjoon yang mendadak datang mendekat, di tangannya ada bola kecil tisu basah. "Tisunya kelual semua." Dia melapor sembari menunjuk pada tabung yang sudah terbuka tutupnya di atas meja. Ada banyak helaian tisu basah berceceran di sekitarnya, agaknya ketika Namjoon mencoba untuk mengambil satu tisu tanpa sengaja dia membuat tutup tempatnya terlepas lalu menumpahkan nyaris semua isinya.
"Yah!" Yoongi berteriak. "Babo-ya!"
"Eh eh, ada apa? Kenapa Hyungnim berteriak?" tegur Seokjin yang baru muncul dari dapur. Hoseok sudah tenang di gendongannya, bekas putih susu masih nampak pada sudut bibirnya yang mengatup mengantuk. Wanita itu memberikan gelas berisi susu pada Namjoon yang segera mendudukkan diri di lantai.
"Joonie menumpahkan tisunya, Mama," adu Yoongi sambil menunjuk meja yang kotor. Seokjin menoleh dan tersenyum.
"Tidak apa-apa. Tisu baunya harum, itu membuat mejanya jadi harum. Benar 'kan?" dengan sabar dia mengusap rambut hitam putra sulungnya.
"Tapi kotor..." Yoongi cemberut.
"Ah, bagaimana kalau masing-masing dari kalian mengambil tisu itu untuk mencuci tangan? Lalu kita ke kamar dan tidur. Otte?" Seokjin memberikan penawaran.
"Yoongi tidak mau tidur." Si sulung semakin merengut, disusul oleh Jimin dan Taehyung.
"Baiklah, bersihkan saja tangan kalian." Sang ibu kembali mengalah, dengan itu si kembar serta Yoongi berlari untuk meraih tisu basah yang berceceran di atas meja.
Namjoon sudah selesai meminum susunya, memberikan gelas kosong pada Seokjin lantas berjalan menuju kamar. Dia terbiasa tidur siang tanpa harus ditemani. Jika memang dia sudah merasa mengantuk, dia akan pergi ke kamar dengan sendirinya lalu berbaring di kasur, berguling-guling sampai bosan dan akhirnya tertidur.
Seokjin keluar dapur setelah meletakkan gelas Namjoon di westafel dengan Hoseok yang sudah terlelap di gendongannya, dia melihat sejenak empat anaknya yang lain masih bermain di ruang duduk—Yoongi kembali menulis, Jimin dan Taehyung mewarnai gambar, Jungkook mengganggu kakak-kakaknya—baru kemudian ibu muda itu berjalan menuju kamar anak-anak. Bibir wanita tersebut langsung menyunggingkan senyum ketika melihat Namjoon sudah pulas di atas kasurnya dengan selimut menutupi sebagian kaki. Sepertinya si kecil terlalu lelah sehingga memutuskan untuk tidur lebih dulu padahal sebelumnya dia bilang dia akan menemani Hoseok.
Seokjin membaringkan Hoseok di sebelah saudaranya, membagi selimut Namjoon untuk menutupi perut gendut yang menggembung layaknya gunung kecil, lantas berjalan pelan keluar dari kamar.
Ibu muda itu membelalakkan mata saat kembali ke ruang duduk dan melihat si kembar Jimin-Taehyung sudah berbaring di atas karpet, menutup mata, bernapas dengan teratur. Dia menahan tawa ketika sadar Yoongi juga mulai terkantuk-kantuk di tempatnya duduk. Tangan bocah itu masih memegang pensil namun matanya sudah setengah tertutup. Dengan pelan Seokjin berjalan mendekati anak pertamanya, duduk di sebelah si balita dan menepuk perlahan membuai punggung kecilnya. Gerakan Seokjin membuat Yoongi semakin tidak kuasa menahan kantuk, kepalanya mulai menunduk dan begitu badannya oleng, dengan sigap sang Mama menangkapnya.
"Siapa yang tadi bilang tidak mau tidur, hm?" gumam Seokjin sembari menggendong Yoongi, menimangnya sebentar untuk membuat buah hatinya semakin pulas baru kemudian beranjak ke kamar setelah memastikan Jungkook kembali merangkak mendekati kardus mainan dan asyik dengan dunianya sendiri. Wanita tersebut masuk lagi ke ruang duduk guna memindahkan Jimin dan Taehyung bergantian. Begitu semua Hyung sudah tidur manis di dalam kamar, Seokjin pun mendekati Maknae.
"Tung tung~" Seokjin mengetukkan moncong boneka kuda pada sebelah pipi gembul Jungkook yang tengah asyik bermain bola karet. Seketika bayi tersebut menoleh dan langsung tersenyum lebar melihat sang Mama yang membalasnya dengan hal sama.
"Aauaa!" Jungkook memekik senang, melepaskan bola karet dari tangannya dan bergerak mendekati Seokjin, mencoba meraih boneka yang dia pegang. Dengan lembut ibunya menempatkan tubuh kecil itu di pangkuan.
"Kookie-ya, membuat Hyung menangis itu tidak baik," ujar Seokjin, kedua matanya teduh memandang sepasang mata bulat yang terdongak menatapnya. "Hyungnim sangat sayang padamu, jadi bermainlah bersama mereka. Jangan membuat Hyung menangis. Ne?"
"Ehe~" Jungkook terkekeh, mengangkat kedua tangannya mencoba meraih boneka yang masih dipegang Seokjin di atas kepalanya.
"Aemamamama." Bayi itu mengoceh, tiba-tiba menggosok kedua mata dengan genggaman mungil tangannya lantas menguap.
"Mamamamam." Jungkook kemudian mengusel-uselkan wajah pada dada ibunya. "Aemamama." Dia menarik-narik kemeja Seokjin.
"Kau mengantuk?" tanya sang ibu, meletakkan boneka ke lantai dan segera membuka kancing bajunya. Dengan semangat Jungkook melahap puting susu Seokjin, menghisapnya dengan kuat dan perlahan bayi tersebut memejamkan mata.
Seokjin tersenyum, memperbaiki posisi tidur anaknya, membawanya berdiri dan menimangnya sambil berjalan menuju kamar.
.
Rapmon menutup pintu, melepas sepatu, dan berjalan memasuki rumah sambil bersiul-siul. Dua tangannya nampak penuh menenteng tas plastik besar bergambar logo toko roti. Langkah namja itu terhenti di depan ruang duduk, kepala pirangnya melongok dan dapat dia lihat seseorang tengah duduk di dekat kardus besar, memasukkan mainan satu per satu ke dalamnya.
"Whatcha' doin', Babe? (Apa yang kau lakukan, Sayang?)"
Seokjin segera menoleh, menyunggingkan senyum manis melihat suaminya yang baru pulang dari kantor. Dia mengulurkan tangan yang langsung membuat Rapmon bergerak mendekat.
"Selamat datang." Seokjin mengecup bibir prianya dengan hangat. "Istirahatlah dulu, aku mau menyelesaikan ini. Kau lapar?"
"It's fine, I ate (Tidak, aku sudah makan)," jawab Rapmon sambil melangkahkan kaki ke kamar tidur anak. "Where're kiddos? (Dimana anak-anak?)"
"Napping (Tidur siang)," jawab Seokjin singkat. Rapmon mengangguk-anggukkan kepala, beranjak menuju dapur untuk meletakkan seluruh belanjaannya dan masuk ke kamar tidurnya bersama Seokjin untuk menanggalkan tas serta mantel. Lelaki tersebut kembali ke ruang duduk dengan lengan kemeja sudah tergulung sesiku.
"Istirahatlah, biar aku yang selesaikan," ujar Rapmon, dia berjongkok di sebelah istrinya, mengambil mainan dengan cepat dan melemparkannya masuk ke dalam kardus.
"Tidak, kau saja yang istirahat. Kau pasti sangat capek 'kan semalaman di studio," tolak Seokjin, tangannya mencoba menahan gerakan Rapmon namun pria itu malah berdecak keras. Tangannya melayang mendaratkan sebuah cubitan pelan di kulit Seokjin. Istrinya mengaduh kaget.
"Sakit?" tanya Rapmon, Seokjin hanya mendelikkan mata. "Kau tahu dicubit rasanya sakit, makanya jangan melawan. Kalau aku bilang istirahat, kau harus istirahat." Dipandangnya ibu dari anak-anaknya dengan tajam.
"Berikan itu padaku." Dengan gusar Rapmon merebut mainan yang masih dipegang sang istri. Seokjin mengulum senyum, beberapa saat dia masih bergeming memandang kesibukan pria berambut pirang di sebelahnya baru kemudian bangkit berdiri menuruti permintaan suaminya dan berjalan menuju sofa. Wanita itu melenguh lega ketika akhirnya bisa merasakan punggung berbaring nyaman setelah setengah hari penuh dia duduk dan berlari ke sana-kemari mengurus para buah hatinya.
"Yeobeo, apa ini?" Rapmon mengacungkan sebuah boneka kuda yang memiliki sayap.
"Itu punya Hoseok, masukkan saja," jawab Seokjin.
"Buang saja, dia 'kan tidak pernah bermain ini lagi."
"Jangan, dia kadang masih mencarinya," tukas Seokjin.
Rapmon merengut. "Tapi ini kotor," dia mendesis jijik sambil menunjukkan ekor boneka yang basah berwarna gelap bekas diemuti oleh Jungkook.
"Masukkan saja. Kau itu seperti Yoongi, sok tidak mau berkotor-kotor," seloroh Seokjin.
"Tapi ini memang kotor," ringis Rapmon, memegang boneka dengan ujung jarinya dan segera melempar benda tersebut masuk kardus dengan sekali gerakan.
"Apa yang dilakukan anak-anak hari ini, Yeobeo?" tanya Rapmon seraya melanjutkan membereskan mainan. "Apa mereka bertengkar? Mereka menghabiskan sarapannya?"
Hening. Tak ada jawaban.
Rapmon menoleh, mencari wajah Seokjin dan seketika dia bergeming. Agak lama kemudian segaris senyuman tersungging di bibirnya. Di sofa, nampak Seokjin berbaring dengan mata terpejam dan napas keluar masuk teratur menunjukkan betapa pulas dia tidur. Poni rambutnya sedikit tersibak dengan wajah cantik mengguratkan kelelahan.
Masih dengan menyimpan senyum, Rapmon melanjutkan pekerjaannya membereskan sisa mainan yang berceceran. Dia juga memasukkan seluruh krayon Jimin kembali ke tempatnya, menumpuk buku bergambar anak itu bersama dengan buku tulis Yoongi setelah sebelumnya Rapmon melihat dulu hasil pekerjaan putranya dan kembali tersenyum bangga pada goresan hangul Yoongi yang semakin hari semakin bagus dan rapi. Rapmon juga mengumpulkan helaian tisu basah yang berjatuhan di bawah meja. Dipandanginya tisu yang masih terlihat bersih itu. Kepala pirang tersebut meneleng.
Kok bisa tisu jatuh sebanyak ini? Batinnya heran.
-END-
Untuk kalian para reader kesayangan yg udah ngasih support ke Myka, terima kasih banyak~ :***
Ah, kalian emang yg tercinta *kecup atuatu*
Ada yg bilang pas tanggal 4 Oktober (waktu chapter 6 update) ada yg lagi ulang tahun ya? Waah, selamat ulang tahun~ *telat oy XD
Seneng hati Myka tahu ff gaje ini dianggap hadiah :"
Buat yg hari ini ultah juga, met ultah ya~ :*
Yang nanya akun fb, punyaku Myka Reien (PP warna putih)
Sosmed lain kayak instagram, wattpad, twitter juga pakenya sama: mykareien
Myka ga suka yg ribet2 XD
Dan,
Myka belum nikah, apalagi punya anak ._.)
Pacar aja ga ada...
Hiks ='(
