SPECIAL EDITION "HARI IBU"

Menampilkan cameo Stars' Lights (VIXX Family/LeoN)

Enjoy~

.

.

.

Baby Baby++

Sore terlihat cerah dengan langit biru bersih dan matahari berada di permulaan ufuk barat, menyinarkan cahaya sejuknya yang menimpa badan lantas membentuk bayang-bayang dan perlahan mulai memanjang berlarian di tengah lapangan empuk lapis rumput memperebutkan sebuah bola plastik yang memang dibiarkan menggelinding kesana-kemari terkena tendangan ujung sepatu mungil warna-warni.

"Lebih cepat, lebih cepat! Gawangnya sedikit lagi! Di depan! Lari! Lari!" seru Rapmon dengan heboh menyamai seorang supporter, tangannya menunjuk-nunjuk tidak sabar ke sebuah gawang kecil di tengah lapangan sementara kedua matanya tak lepas memperhatikan tubuh-tubuh unyil yang berlari, saling mengejar, dan berdesakan mencoba untuk mengambil bola dari kaki sebelahnya.

"Ande!" Taehyung memekik ketika bola yang sudah digiring manis di depan kakinya mendadak hilang berpindah ke hadapan Hoseok.

"Papa, Hobie Yun menambil boya Taetae (Papa, Hobie Hyung mengambil bola Taetae)!" adu Taehyung sambil menunjuk kakaknya yang sekarang sedang berhadapan dengan Yoongi yang tidak kalah ngotot ingin merebut benda bulat tersebut.

"Kenapa kau malah melapor!?" Rapmon frustasi. "Kalau diambil ya rebut lagi! Ambil lagi dari Hoseok! Cepat!"

"Eung..." jawab Taehyung, menggaruk kepalanya sebentar lantas kembali berlari menyusul saudara-saudaranya yang masih bergerombol di sekitar bola plastik yang tidak jelas sedang dimiliki siapa.

"Kyaa! Aemamama!"

Rapmon menundukkan kepala, melihat makhluk unyil lain yang bergerak merangkak tak jauh dari tempatnya berdiri. Nampak Jungkook sepertinya sedang mencoba menyusul para Hyung menuju tengah lapangan dengan kecepatannya sendiri. Rapmon memang sengaja tidak melibatkan bayi itu langsung di dalam permainan anak-anaknya yang lebih tua. Selain takut jika nanti Jungkook tidak sengaja ditendang maupun terinjak, begini saja—duduk di atas rerumputan, bermain tanah, dan merangkak bebas kesana-kemari—sudah membuat Maknae tersebut senang.

Sambil menyusul ke tempat Taehyung dan kakak-kakaknya, sesekali Jungkook akan berhenti untuk melihat telapak tangan mungilnya yang kotor dan basah oleh embun, mencoba mengusapkannya ke baju lantas memekik lalu kembali melanjutkan merangkak. Di dekatnya, sang ayah hanya tersenyum seraya terus memperhatikan gerak-gerik bayi itu, melangkah sejengkal demi sejengkal mengikuti pergerakan Jungkook.

Anak-anak masih saling berlarian berebut bola namun mendadak salah satu di antaranya berhenti.

"Ada apa, Namjoon-ah?" tegur Rapmon pada Namjoon yang hanya berdiri dengan napas terengah-engah. Rambut poninya nampak lengket ke dahi dan kulit lehernya mengkilat kecoklatan terkena terpaan sinar matahari.

Namjoon menoleh mendengar namanya dipanggil.

"Kau capek?" tanya sang ayah yang dijawab anggukan oleh putranya.

"Mau minum?" Rapmon menawari dan dengan segera Namjoon berlari mendekat. Tangan bocah itu terulur ke atas bahkan sebelum papanya selesai mengambil botol yang diikat di sabuk celana.

"Kau sangat haus, eoh?" Rapmon terkekeh melihat anaknya yang nampak tidak sabaran menerima botol bening berisi air putih.

"Duduk dulu," pinta Rapmon segera dipatuhi oleh Namjoon, dia langsung merebahkan pantatnya ke atas rumput lalu menghisap air dari dalam botol melalui sedotan yang terpasang di bawah tutupnya.

"Papa, Yoongi." Mendadak mendekat si sulung, berdiri terengah-engah di samping sang adik menunggu giliran untuk minum. Yoongi duduk jongkok tanpa harus disuruh, menerima botol air dari tangan Namjoon, memperhatikan adiknya itu berdiri begitu rasa dahaganya menghilang sementara dia ganti mengisikan cairan ke badannya dengan rakus.

"Siapa yang bawa bolanya tadi?" tanya Rapmon begitu menerima botol minum dari tangan berkeringat Yoongi.

"Taetae," jawab si bocah, mengusap rambut poninya yang lengket menyebalkan di atas alis. "Tapi tadi diambil Hobie." Dia melanjutkan.

"Kau tidak mau merebutnya dan mencetak gol?" tanya Rapmon.

"Mau!" jawab anaknya dengan lantang, alis hitam tersebut mengerut dan kedua mata kecilnya berkilat penuh rasa persaingan.

"Kalau begitu ambil bolanya, rebut, dan cetak gol. OK?" sang ayah memberi semangat.

"OK!" Yoongi mengacungkan ibu jari dengan senyum lebar tersungging, merasa senang karena sudah diberi dukungan.

"Kim Yoongi, fighting!" seru Rapmon mengiringi kaki pendek putranya yang berlari kembali ke tengah lapangan dengan Jungkook yang juga ikut berteriak riang mempercepat gerakan merangkak mencoba menyusul sang kakak.

Yoongi kembali masuk ke lingkaran permainan setelah menikmati time out pribadinya dan langsung disuguhi pergulatan panas antara Hoseok yang tidak mau menyerahkan bola pada Taehyung.

"Taetae! Puna Taetae! Ah, Yuuun! (Taetae! Punya Taetae! Ah, Hyuuung!)" erang Taehyung sambil berusaha mengambil bola dari kungkungan kaki Hoseok.

"Andwe! Bola Hobie!" sang kakak tidak mau mengalah dan mendadak dari arah samping muncul Namjoon dengan kaki kanannya melayang. Duk! Si bola terpental lepas dari tengah-tengah Hoseok dan Taehyung akibat tendangan Namjoon, menggelinding ke arah Jimin yang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambilnya dengan kedua tangan lalu berlari pergi.

"Jangan dibawa lari!" Yoongi berteriak. "Jangan dipegang pakai tangan!"

"Hahaha!" Rapmon tergelak geli melihat bagaimana para kakak menyusul Jimin lalu memarahinya, mengambil bola dari bocah itu yang hanya dapat mengerjabkan mata tidak mengerti.

Yoongi melempar bola kembali ke lapangan, tiga meter di depan gawang dan segera disambut cepat oleh Hoseok.

"Hoseok-ah, oper ke Namjoon! Dia sendirian! Tidak ada yang menjaga!" Rapmon memberi komando, suara beratnya menggema lantang di sekitar lapangan dan taman yang mulai ditinggalkan satu per satu pengunjung untuk pulang sebab sore memang sudah mulai menuruni cakrawala.

Hoseok menoleh memandang Namjoon yang berdiri agak jauh darinya, memberinya pandangan blank dan sama sekali tidak terlihat meyakinkan untuk menerima operan bola. Di saat Hoseok kebingungan akan memberikan bola pada saudara kembarnya atau tidak, dengan gesit kaki Yoongi merebut benda bulat itu tepat di hadapannya lantas membawanya kabur.

"Hyuuung!" teriak Hoseok. "Kembalikan! Andweee~" dikejarnya Yoongi.

"Berikan ke Taehyung, Yoongi-ya! Taehyung-ah, bersiaplah menendang! Gawang di depanmu!" lagi-lagi Rapmon berteriak-teriak layaknya seorang pelatih, dia bahkan sampai melompat menahan gemas menyaksikan permainan kecil anak-anaknya.

Taehyung berdiri gugup menunggu Yoongi di depan gawang.

Duk! Sang kakak sudah menendang bola, melepaskannya dengan mulus ke arah gawang dan tinggal diteruskan oleh Taehyung—

Pluk~ ujung sepatu si adik mengenai tepi bola, membuatnya berbalik arah dan menggelinding menuju samping gawang.

"Heol!" Rapmon speechless.

"GOOOL!" namun Jimin bersorak keras, mengangkat kedua tangannya ke atas sambil melompat-lompat. Melihat saudaranya berseru senang, Taehyung ikut tersenyum lebar.

"GOL!" dia melompat. "Gol! Gol! Gol!" bersama, kedua saudara kembar tersebut heboh sendiri.

"Gol apanya, Babo-ya!" teriak Yoongi kesal. "Bolanya tidak masuk gawang, bagaimana bisa gol!?"

"Ah, Taetae...!" Rapmon ikut frustasi. "Gawangnya tepat di depan, bagaimana kau bisa...!?" dia kehabisan kata-kata.

"Tidak gol! YEEAY!" Hoseok yang ganti bersorak riang. "Joonie, tidak gol! Kita belum kalah!" dia berlari ke arah Namjoon yang masih berdiri bengong.

"Pokoknya kali ini harus gol, aku tidak mau tahu!" Yoongi sudah memeluk bola yang menggelinding menjauhi gawang. Kaos pendeknya nampak kotor oleh tanah, pun dengan kedua tangan dan pipi chubby-nya, tak beda jauh dengan keadaan saudara-saudaranya yang lain.

"Taetae dan Jimin!" dia menunjuk pasangan kembar yang jadi rekan satu timnya. "Kita tidak boleh kalah dari mereka!" Yoongi balik mengarahkan tangan pada Hoseok serta Namjoon.

"Andwe!" Hoseok membantah keras. "Kami yang akan menang, Hyung!"

"Auwaaa!" Jungkook menengahi dari pinggir lapangan, jaraknya dengan para Hyung sudah semakin dekat.

"Kami satu tim dengan Kookie, kami akan menang!" Hoseok mengatakan apapun yang terlintas di dalam kepalanya.

"Okay, okay, stop arguing! Let's start the game again, Kiddos! (Oke, oke, berhenti bertengkar! Ayo mulai lagi permainannya, anak-anak!)" Rapmon menghentikan perdebatan.

"Menyebar, kembali ke posisi kalian masing-masing! Hyungnim, lempar bolanya masuk ke lapangan. Be sure to make it perfectly landing in the center of the yard, okay? (Pastikan bolanya jatuh tepat di tengah lapangan, oke?)" dia melanjutkan memberi komando, diikuti dengan baik oleh kelima putranya yang segera mengambil posisi berjauhan di depan gawang. Yoongi yang berdiri paling sudut bersiap melempar bola dengan kedua tangan ke atas. Tanpa melihat kanan-kiri, dia langsung melepaskan benda tersebut tepat di tengah-tengah posisi adik-adiknya yang segera menyambut dengan beringas.

"Puna Taetae! (Punya Taetae!)" Taehyung ngotot menjepit bola dengan kedua kakinya.

"Andwe!" sementara di dekatnya ada Hoseok mencoba mengambil menggunakan sebelah kaki yang berusaha menyelip di antara kedua betis si adik.

Dari belakang, dengan kalem Jimin memasukkan badan mungilnya di celah antara Taehyung serta Hoseok untuk sedikit membungkuk, mengulurkan tangan lalu menarik sekuat tenaga bola dari kaki saudara kembarnya. Segera kemudian Jimin mendesak kabur diiringi oleh teriakan keras kakak-kakaknya lagi.

"Chimchim, jangan dipegang pakai tangan!" seru Hoseok.

"Jiminie, kembalikan!" Yoongi tidak kalah lantang.

"HAHAHA!" dan di pinggir lapangan Rapmon hanya dapat tertawa sampai jatuh berlutut, memukulkan tangan pada tanah demi melihat sosok Jimin yang sama bulatnya dengan bola berusaha berlari ke gawang secepat mungkin.

"Aigoo kyeowoo~ aish, jinjja! I can handle it no more! Hahaha!" pria tersebut tergelak hingga merasa menitikkan air mata.

"Chimchim!" Hoseok mengejar Jimin, pun dengan anak-anak lain.

"Timin, matuk gawan! (Jimin, masuk gawang!)" seru Taehyung sangat bersemangat, berlari secepat yang dia bisa hingga tanpa sadar bocah itu sudah mendahului ketiga kakaknya.

"Huh hah huh hah—" Jimin berlari sambil bernapas cepat, dia memeluk bola dengan erat dan hanya memandang gawang yang berada tepat di depannya.

"JIMINIE, AWAS!"

BRUK!

Terlambat Rapmon berteriak, sebab anaknya sudah lebih dulu menabrak Jungkook yang sedang duduk di depan gawang. Wajah Jungkook terkena bola yang dipegang Jimin, kemudian terdorong oleh kakaknya dan berakhir dengan ambruk telentang ke belakang. Jimin sendiri tersungkur ke depan dengan muka lebih dulu membentur rerumputan. Untung tempat mereka bermain sudah dipilihkan Rapmon berada di area lapangan dengan lapisan rumput yang tinggi dan tebal sehingga saat para bocah tersebut jatuh, mereka tidak akan membenturkan badan terlalu keras ke tanah. Meski begitu, tetap saja rasa kaget dan sakit tidak dapat dihindari.

"HUWAAA!" serempak Jungkook dan Jimin menangis keras. Rapmon bergegas berlari menyongsong kedua putranya, memeriksa kalau anak-anak itu terluka atau berdarah dan menghembuskan napas lega ketika tahu mereka baik-baik saja. Jungkook bahkan tidak memberikan tanda-tanda mimisan meski hidungnya baru saja terkena bola.

"Ssst, cup cup cup~ jatuhnya sudah tadi, sudah ya jangan menangis lagi. Aduduh, Sayang~" Rapmon meraih Jungkook dari atas rumput lantas memeluknya, dia mengulurkan sebelah tangan pada Jimin yang langsung bangkit dibantu oleh Yoongi dan tersedu ke dekapannya.

Rapmon mendudukkan diri di rerumputan, Taehyung berdiri di dekatnya, meletakkan tangan pada Jimin dengan wajah khawatir.

"Makanya kalau main bola jangan pakai tangan. Kau jadi tidak bisa melihat depan 'kan, Jiminie?" tanya Rapmon sembari mengusap kepala Jimin. Anaknya tidak menjawab, cuma terisak dan semakin erat memeluk sang ayah.

"Kau juga, kenapa berhenti di tengah jalan?" Rapmon beralih pada Jungkook yang masih menangis. "Kau mau jadi kiper, huh?" tanyanya pada sang bayi yang kemudian dibalas dengan pekikan marah. Jungkook menggeliat, berontak di pelukan papanya, menendangkan kaki sehingga tidak sengaja mengenai Jimin dan membuat kakaknya tersebut kembali menangis keras, padahal sebelumnya Jimin sudah mau sedikit tenang.

"Astaga..." Rapmon mendekap kuat badan Jungkook, memegang kedua kakinya membuat bayi tersebut menjerit-jerit sementara di dekatnya, anak yang lebih tua juga semakin tersedu pilu.

"Papaaa...huwaaa...!"

Rapmon menghela napas panjang. Menutup mata. Terdiam sejenak.

"Papa, Timin nanit..." Taehyung melengkungkan bibirnya ke bawah, kedua matanya sudah berkaca-kaca.

"Papa tahu, Taehyung-ah. Jimin menangis." Rapmon mengangguk-angguk. Kembali dia menghela napas.

Seokjin-ah, I need you now...

"Papa..." Hoseok memanggil, suaranya sudah sengau bersiap untuk terisak juga.

Oh my God...

Rapmon memutar otak dengan cepat.

"OKAY!" dan mendadak dia berseru, mengagetkan keenam anaknya. "Berhenti menangis. Jatuhnya sudah tadi, sakitnya sudah hilang. Sini Papa sembuhkan, mwah mwah mwah!" pria itu mengecup satu per satu kepala putranya.

"Sekarang, semuanya baik-baik saja." Dia tersenyum. "Gwaen-cha-na. Gwaen-cha-na. Gwaen-chana," ucapnya sembari menimang badan Jungkook dan Jimin mengikuti irama kalimat.

"Hyungnim, ayo ikut bilang gwaenchana," ajak Rapmon pada Yoongi yang menanggapi dengan senyuman, memamerkan gusi merah muda di atas deretan gigi susu.

"Gwaen-cha-na. Gwaen-cha-na. Gwaen-cha-na!" Yoongi bahkan bertepuk tangan, diikuti Namjoon dan Hoseok, lalu Taehyung. Perlahan Jimin berhenti menangis, sambil cegukan dia menatap satu per satu saudaranya yang tersenyum serta menghiburnya.

"Gwaenchana, Jimin-ah." Rapmon mencium pipi basah anaknya. "Sakitnya sudah hilang. Sekarang pergilah ke Hyung, mereka akan memelukmu dan menyembuhkanmu." Namja tersebut menuntun bocah gembul di pelukannya untuk mendekat pada Yoongi.

"Hyungnim, peluk Jimin juseyo~ Chimin masih sedih~" pinta Rapmon. Yoongi segera mengulurkan kedua tangan, menyambut adiknya ke dekapan.

"Gwaenchana, Jiminie. Sudah tidak sakit. Cup cup," ucap Yoongi meniru apa yang selalu dilakukan oleh Seokjin ketika sang Mama sedang menenangkan adik-adiknya yang menangis.

"Chimchim, gwaenchana," sambung Hoseok, ikut memeluk Jimin yang sudah dipeluk Yoongi dan sebentar kemudian Namjoon serta Taehyung menyusul. Kelima bersaudara tersebut saling memeluk yang membuat ayah mereka menyunggingkan senyum.

Jungkook yang menggeliat mengingatkan Rapmon pada sisa masalahnya. Segera pria itu mengambil botol air dari ikat pinggang dan membuka tutupnya.

"Ini, coba minum," ujar Rapmon, mendekatkan ujung sedotan ke mulut Jungkook dan sekejab bayi tersebut berhenti menangis. Jungkook membuka mulut lebar-lebar, memasukkan sedotan lalu menghisapnya dengan kuat. Tekstur sedotan sedikit berbeda dengan dot yang selama ini dia gunakan namun balita tersebut sama sekali tidak terlihat kesulitan meminum air dari dalam botol. Di dekatnya, Rapmon mengusap lembut air mata yang merata membasahi pipi gemuk si bayi.

"Papa..." Jimin yang sudah berhenti menangis kembali mendekati Rapmon lalu menjatuhkan badan ke pelukannya, menguselkan wajah di dada sang ayah, dan membiarkan dirinya bersandar di sana begitu saja. Rapmon mengusap sayang rambut hitam anaknya.

"Yoongi-ya, tolong ambil bolanya," pinta sang ayah begitu melihat anak-anak tidak lagi punya keinginan untuk melanjutkan permainan. Yoongi berlari ke tengah lapangan, mengambil bola plastik yang terlepas waktu Jimin bertabrakan dengan Jungkook sementara Rapmon memperbaiki posisi duduk sebab sekarang para buah hatinya seolah kompak menjadikan badannya sebagai tempat sandaran melepas capek. Taehyung bahkan sudah membaringkan diri di atas tulang kering papanya, memegangnya erat seolah dia sedang memeluk sebuah guling, membuat Rapmon terkekeh.

"Papa, Mama mana?" celetuk Hoseok yang sudah duduk manis di tengah-tengah kaki Rapmon, di dekat Jimin yang memeluk erat pria tersebut dan Namjoon yang tengkurap di rerumputan dengan kaki ayahnya dibiarkan melintang di bawah perut, entah apa maksud anak itu.

"Mama pelgi." Namjoon yang menjawab. "Ke salon," sambungnya.

"Oh!? Kau mengingatnya?" Rapmon nampak terkejut.

"Papa, Mama pelgi ke salon?" Hoseok mendongak mencari wajah ayahnya dan mendapat sebuah anggukan sebagai jawaban.

"Salon itu apa?" tanya si balita kemudian.

"Salon itu tempat untuk berdandan," jawab Rapmon mencoba menggunakan kalimat paling sederhana yang dimengerti oleh anak-anaknya.

"Dandan?" ulang Hoseok.

"Mama dandan. Pakai bedak. Tuk tuk tuk." Dengan polos Namjoon menirukan cara Seokjin menepukkan spons bedak ke wajah dan karenanya Rapmon tertawa, sama sekali tidak menyangka jika si anak akan mengingat kebiasaan kecil sang ibu yang satu itu.

"Mama kalau pakai bedak seperti itu?" tanya Rapmon dijawab anggukan oleh Namjoon.

"Tuk tuk tuk~" dia mengulangi sekali lagi dan kembali ayahnya tergelak.

"Aigoo so cute~" Rapmon mengacak gemas rambut Namjoon.

"Mama kapan pulang?" tanya Yoongi yang sudah ikut duduk di rumput.

"Sebentar lagi Mama pulang. Kau merindukannya?" balas Rapmon sambil tersenyum. Yoongi mengangguk.

"Yindu~ (rindu~)" celetuk Taehyung dengan sengaja memonyongkan bibir mengikuti huruf U yang dia ucapkan.

"Apa kalimat untuk 'aku merindukanmu', Taehyung-ah?" tanya Rapmon.

"Bogotipo~ (bogoshipeo~)" sahut Taehyung langsung.

"Bogocipo—" Jimin menyambung. "Mama bogocipo," ujarnya.

"Ah ma gawd~ you guys really are cuteness overload~ (Ya Tuhan~ kalian semua benar-benar sangat menggemaskan~)" sang ayah hanya dapat mengusap dada mencoba mengendalikan dirinya sendiri.

"Auwaa," Jungkook mulai berceloteh, sudah merasa kenyang hanya dengan minum air dan mengeluarkan sedotan dari dalam mulut. Bayi tersebut memegang botol yang masih ada di genggaman Rapmon, menggoyang-goyangkannya, dan sepasang mata bundar itu seketika bersinar melihat air dapat bergerak-gerak menakjubkan di dalam lapisan bening.

"Oh!" Jungkook begitu terkesan. Dia mengulangi lagi menggoyangkan botol dan menjerit senang menyaksikan bagaimana air bergerak lalu terhentak, terkocok di dalamnya.

"Papa, puyaaang~ (pulang)" Taehyung merengek, menggeliatkan badan di atas rumput dan menguap.

"Kau sudah lelah?" Rapmon membulatkan mata kaget. Taehyung hanya menggosok kedua mata.

"Baiklah, ayo berdiri semuanya. Kita pulang—"

"ANAK-ANAK!" sebuah teriakan lantang menghentikan gerakan Rapmon yang hendak bangkit berdiri dan membuat keenam putranya menoleh bersamaan.

"YOONGI-YA! HOBIE! JOONIE! CHIMCHIM! TAETAE! KOOKIE!" dari kejauhan nampak seorang wanita melambaikan tangan dengan senyuman lebar menghias wajah cantiknya.

"MAMAAA!" sorak lima bersaudara bersamaan. Mereka langsung berdiri dan berlomba-lomba untuk sampai lebih dulu pada Seokjin yang berlutut membentangkan kedua tangan. Seperti dugaan, Taehyung menjadi yang pertama menubruk ibunya.

"Maaa! Amamama!" Jungkook ikut berteriak, menggeliat dari pelukan Rapmon, meminta turun ke tanah lalu merangkak ke tempat Seokjin.

"Kau tidak akan sampai-sampai kalau begini," gusar Rapmon yang kembali meraih bayinya. "Biar Papa sedikit membantumu." Lalu dia berjalan mendekati istrinya dengan Maknae tak berhenti berceloteh di gendongan.

"Kookie~" Seokjin menerima Jungkook dari tangan Rapmon, wanita itu langsung menciumi pipi bayinya bergantian sampai si buah hati tergelak geli. "Mama merindukanmu, Sayang~"

"Bukankah treatment-nya sampai malam? Kenapa sudah pulang?" tanya Rapmon heran.

"Bagaimana bisa aku bertahan di sana sampai malam hari tanpa anak-anakku?" Seokjin cemberut. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka. Aku sangat merindukan mereka." Wanita tersebut mengusap satu per satu kepala balita yang berdiri berkeliling, bahkan dia membalas pelukan Jimin yang kemudian terkalung manja di lehernya.

"Padahal aku sudah membayar mahal untuk paket salon itu," desis Rapmon tidak percaya.

"Uuh, anak-anak Mama bau kecut semuanya. Kalian main apa sama Papa?" tanya Seokjin.

"Kami main bola dan menendang ke gawang!" Hoseok yang menjawab, dia menjelaskan dengan penuh semangat.

"Woah, daebak!" sambut Seokjin dengan mata berbinar kagum. "Siapa yang berhasil menendang ke gawang?"

"Taetae!" Taehyung mengangkat tangan, senyuman lebar terpasang di wajah kucelnya.

"Anni!" hampir bersamaan Hoseok dan Yoongi membantah.

"Taetae tidak menendang bola ke gawang, Mama! Tatae menendang ke samping gawang!" ujar Yoongi.

"Wuah, sayang sekali," keluh Seokjin. "Apa Taetae terlalu bersemangat sampai lupa mau menendang kemana?" dia beralih pada Taehyung yang langsung dijawab anggukan antusias anak kembarnya.

"Taetae temangat! (Taetae semangat!)" Taehyung hanya menanggapi separuh kalimat ibunya dan hal tersebut membuat sang Mama tergelak. Rapmon yang melihat juga ikut tersenyum geli.

"Oh iya, Mama bawa teman baru untuk kalian," ujar Seokjin membuat hampir seluruh anaknya diam dengan mata berkedip polos dan bahkan ayahnya ikut terkejut.

"Teman?" tanya Rapmon dijawab anggukan oleh sang istri.

"Tunggu sebentar, biar aku lihat mereka sudah selesai turun dari mobil atau belum." Seokjin bangkit berdiri sambil masih menggendong Jungkook. Baru juga dia membalikkan badan, mendadak dari tikungan muncul seorang wanita dengan bayi yang tertidur di gendongannya dan bocah kecil menggandeng tangannya. Di belakang wanita tersebut menyusul seorang pria tinggi dengan masing-masing kedua tangan juga menggandeng seorang bocah.

"Hyung!" Rapmon yang menyapa pertama kali, senyuman segera menghiasi wajahnya begitu dia mengenali kedua sosok tersebut.

"Annyeong haseyo~" si wanita bicara dengan gaya kekanakan seolah sedang mengajak bocah di gandengannya untuk menyapa juga, meski yang terjadi malah anak itu beranjak bersembunyi ke belakang kaki ibunya ketika melihat Yoongi serta yang lain memandang heran kedatangan mereka.

"Lama tak berjumpa, Hyung. Apa kabar?" tanya Rapmon menjabat akrab pria jangkung yang kemudian juga membalas pelukannya.

"Baik. Kau sendiri bagaimana? Aku dengar kau masih sering pergi Amerika untuk bekerja," balas Jung Taekwoon, namja tinggi yang menjadi suami dari Cha Hakyeon—teman Seokjin—sekaligus ayah keempat anak mereka; Jaehwan, Wonshik, Hongbin, dan Sanghyuk.

"Iya Hyung, eotteoke~" Rapmon memasang wajah sedih. "Padahal aku sudah mengajukan permintaan pindah ke divisi lokal tapi aku masih tetap dimasukkan ke proyek internasional."

Taekwoon tersenyum. "Itulah resiko jadi orang penting."

"Rapmon-ah, suruh dia bicara dengan cermin." Hakyeon menyahut. "Sudah seminggu terakhir dia badmood karena dipaksa menjadi wakil rumah sakitnya untuk menghadiri seminar di Kanada. Dia sudah menolak tapi atasannya mengancam akan memindahkan dia ke Jepang kalau tetap tidak mau," ujar wanita muda bertubuh tinggi ramping dengan kulit tan eksotis itu.

Taekwoon berdecak menanggapi kalimat istrinya dan Hakyeon hanya mengedip-edipkan mata menggoda.

Rapmon tergelak. "Ternyata kita senasib, Hyung." Dengan senang diletakkannya lengan di atas pundak Taekwoon yang menghela napas panjang.

"Wah, kedengarannya keren sekali, menghadiri seminar kedokteran di luar negeri," ujar Seokjin.

"Yang menjadi pembicara adalah dokter ahli dan profesor dari seluruh dunia," timpal Hakyeon.

"Benarkah!?" mata Seokjin membulat dibalas anggukan wanita di depannya. "Oppa, kau harus menerimanya. Bukankah jarang-jarang bisa berkumpul dengan dokter hebat dari seluruh dunia di satu tempat?"

"Kalau dia bisa memutuskan semudah itu dia tidak akan uring-uringan seminggu penuh, Seokjin-ah," sela Hakyeon.

"Memang kenapa, Eonnie?"

"Akomodasi yang disediakan hanya untuk satu orang, dengan kata lain dia harus pergi sendiri—"

"Aku tidak bisa jauh dari anak-anak." Taekwoon melengkapi kalimat istrinya.

"That's it," pungkas Hakyeon.

"Aku tahu rasanya, Hyung." Rapmon mengangguk-anggukkan kepala. "Aku tahu bagaimana sepinya tanpa anak-anak itu. Meski kalau bersama mereka, ponsel bahkan bisa hancur. Tapi itu masih lebih baik daripada melewatkan hari dengan kebosanan." Dia memandang prihatin Taekwoon yang mengiyakan kalimatnya, membuat para wanita tergelak akan tingkah jenaka kedua namja tersebut.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa bertemu dengan Hyung dan Noona, Honey?" tanya Rapmon pada Seokjin.

"Justru aku dan Eonnie ingin bertanya, bagaimana kalian bisa memberi kami voucher perawatan di salon yang sama?" tuding sang istri balik dan suaminya hanya dapat ber-ah pendek.

"Jadi kau juga melihat iklan di internet soal voucher promosi salon itu, Hyung?" tanya Rapmon.

"Aku tidak sengaja melihatnya dari salah satu perawatku. Karena aku pikir lumayan murah jadi aku membelinya," jawab Taekwoon yang memang berprofesi sebagai seorang dokter.

"Kalian benar-benar terlalu simple minded," cibir Hakyeon. "Aku beritahu satu hal, promosi dan kemurahan itu hanya kedok untuk melariskan dagangan. Pelayanan yang enak dan terbaik tetap ada pada harga yang mahal."

Seokjin mengangguk-angguk.

"Makanya aku buru-buru minta pulang," pungkas Hakyeon membuat Taekwoon menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Benarkah?" desis Rapmon. "Aku masih tetap mendapat perlakuan yang sama di tempat potong rambut meski harganya sedang diskon atau tidak."

Taekwoon menyenggol pria di sebelahnya dengan pelan, "Laki-laki dan perempuannya konteknya berbeda, Rapmon-ah."

Dan namja yang lebih muda hanya dapat membulatkan mulut.

"Aku melupakan sesuatu," celetuk Seokjin. "Kenapa anak-anak jadi tenang?" gumamnya lantas menunduk, membuat ketiga orang dewasa yang lain juga menurunkan pandangan dan sekejab terkekeh bersama melihat para buah hati mereka seperti terbagi dalam dua kubu, saling memandang dengan tatapan aneh. Yoongi bersama saudaranya berdiri di dekat kaki Seokjin sedangkan Jaehwan berdiam di belakang kaki jenjang Hakyeon dengan adik kembar yang mengekori.

"Yoongi-ya, kau tidak mau menyapa teman baru?" tanya Seokjin pada putra sulungnya yang hanya terdiam. Dia mencoba membuat Yoongi bergerak maju namun bocah itu menolak, berpegangan kuat pada rok ibunya seperti yang selalu dia lakukan ketika berhadapan dengan orang yang tidak dikenal.

"Jaejae tidak mau menyapa adik-adik?" Hakyeon bertanya pada anak pertamanya yang segera mendongak, menatap dengan sepasang mata besar berkedip polos.

"Mereka siapa, Mama?" balasnya dengan nada kekanakan yang menuai pujian 'kyeo~' dari Seokjin.

"Makanya bertanyalah. Bilang 'annyeong haseyo, namaku Jung Jaehwan' dan kau bisa bertanya nama mereka." Hakyeon mengajari.

Jaehwan terdiam, hanya menatap lurus mata ibunya.

"Cobalah," pinta Hakyeon namun si balita menggeleng, malah bergerak makin menyembunyikan diri di belakang kaki sang Mama membuat orang dewasa tersebut tersenyum geli.

"Kenapa dia jadi pemalu? Padahal di salon tadi dia sangat banyak bicara," ujar Seokjin merasa gemas pada tingkah Jaehwan.

"Biarkan saja, lama-lama dia nanti juga akan bicara sendiri dengan mereka," kata Hakyeon.

"Apa Yoongi seumuran dengan Jaehwan?" celetuk Rapmon.

"Jaehwan empat tahun." Taekwoon yang menjawab.

"Sama berarti. Uri Yoongi empat tahun, Hoseok dan Namjoon tiga tahun, Jimin dan Taehyung dua tahun, Jungkook di bawah setahun."

"Jaehwan empat tahun, Wonshik dan Hongbin dua tahun, dan Sanghyuk enam bulan."

"Ah, Wonshik dan Hongbin seumuran dengan Jimin dan Taehyung," gumam Seokjin. "Uri Jiminie sangat mudah menangis. Apa Hongbin juga?"

Hakyeon menggeleng. "Yang sering menangis adalah Jaehwan."

Seokjin terkekeh, "Kenapa aku tidak kaget? Jaehwanie neomu kyeowo~"

Di saat para orang tua asyik bercengkerama, sepasang mata bulat nampak sangat foku memperhatikan satu hal. Sejak tiba pertama kali di lapangan, Hongbin memang sudah tertarik pada bola milik Yoongi dan saudara-saudaranya yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka berdiri. Maka ketika dia mendongak memandang Hakyeon yang masih meneruskan obrolan dengan Seokjin dan merasa jika ibunya terlalu sibuk untuk dimintai bantuan mengambil bola, bocah itu melepaskan pegangan dari kain celana jeans mamanya lalu berjalan mendekati bola Yoongi.

Hongbin mengambil bola yang sudah kotor oleh tanah dan basah karena embun dengan senyuman lebar tersungging di bibirnya. Dia lantas menjatuhkan benda itu hingga menggelinding lalu berlari mengikuti dan mengambilnya lagi. Kemudian kembali menjatuhkannya lagi dan mengambilnya. Sebentar saja Hongbin sudah asyik bermain sendiri.

"Puna Chimin."

Hongbin terlonjak di tempatnya berdiri ketika seseorang bicara dengannya dari belakang. Bocah tersebut menoleh dan segera menemukan sosok Jimin yang sudah berdiri dengan tangan terulur meminta bolanya. Hongbin tidak menjawab, memeluk erat bola di dekapannya sambil bergerak mundur.

"Boya puna Chimin," pinta Jimin lagi seraya melangkah maju mendekati Hongbin namun bocah di depannya malah semakin bergeser mundur. Berdua mereka saling menatap seperti dua ekor anak kucing yang sedang mengintimidasi satu dengan yang lain.

Jimin tidak sabar lagi, langsung meraih bola dari tangan Hongbin dan menariknya.

"Ande!" Hongbin mencoba mempertahankan bola yang sudah dia sukai dan tidak mau mengalah pada Jimin begitu saja. Plop, si bola luput dari tangan keduanya dan jatuh terpental ke samping sementara dua balita yang barusan memperebutkannya sama-sama terduduk ke belakang. Jimin yang lebih dulu bangkit, mengambil bola miliknya lalu memeluknya protektif. Hongbin yang kalah cepat hanya dapat menatap dengan mata menyorot sedih.

"Binnie pindam (Binnie pinjam)," gumam Hongbin. "Duteyo~ (juseyo~)" dia menengadahkan tangan, meletakkan telapak tangan kanannya di atas tangan kiri.

"Ande," Jimin bergerak mundur, menyembunyikan bola di punggungnya.

"Main. Binnie. Duteyo~" Hongbin tidak mau menyerah, masih menengadahkan tangan memohon pada anak di depannya.

Mendadak Wonshik muncul di belakang Jimin tanpa disadari oleh bocah mungil itu, dia merebut bola yang coba disembunyikan Jimin lalu berlari pergi. Jimin yang terkejut hanya dapat melihat bolanya dibawa kabur oleh Wonshik dan sedetik kemudian pecahlah tangisannya.

"Mamaaa!" bocah itu meraung mengagetkan Seokjin dan Hakyeon.

Wonshik tidak mempedulikan Jimin, dia memberikan bola pada Hongbin yang menerimanya dengan kebingungan.

"Wontik nakan! (Wonshik nakal!)" Hongbin nampak kesal pada saudara kembarnya. Balita tersebut melepaskan bola yang dia terima lalu berlari mendekati Jimin.

"Dentana? Wontik nakan? Tup tup~ (Gwaenchana? Wonshik nakal? Cup cup~)" Hongbin mengusap kedua pipi Jimin namun bocah itu masih belum mau berhenti terisak.

"Tup tup tup~" Hongbin memeluk Jimin. "Dentana dentana, tup tup tup~ (gwaenchana gwaenchana, cup cup cup~)" hiburnya sembari mengusap punggung Jimin hingga perlahan anak yang seumuran menghentikan tangisannya.

Seokjin yang melihat adegan tersebut hanya dapat mengerjabkan mata kagum melihat Hongbin yang baru berumur dua tahun dapat menghibur serta menenangkan anak yang bahkan tidak dia kenal. Wanita tersebut menoleh pada Hakyeon yang hanya tersenyum mengetahui rasa takjubnya.

Sementara itu Wonshik yang sedang memegang bola yang dibuang Hongbin dikagetkan oleh Taehyung yang tiba-tiba memukul bola di pelukannya hingga terjatuh menggelinding di tanah. Wonshik sedikit lambat merespon dan si benda bulat sudah berpindah tangan ke Taehyung. Kedua bocah tersebut saling menatap. Baik Wonshik maupun Taehyung, keduanya sama-sama diam. Lalu mendadak Taehyung melempar bola ke arah Wonshik yang langsung ditendang dengan baik anak yang baru pertama kali dilihatnya. Taehyung tersenyum lebar, pun dengan Wonshik, dan kemudian mereka bersamaan berlari memperebutkan bola.

"Gawanna di tana! (Gawangnya di sana!)" Taehyung menunjuk ke arah gawang yang masih diletakkan di tengah lapangan.

"Bawa boya ke tana! Bawa boya ke tana! (Bawa bola ke sana! Bawa bola ke sana!)" sahut Wonshik sambil berlari, diikuti Taehyung yang memekik senang mendapat teman baru bermain bola.

"Namamu siapa? Aku Jaejae," tegur Jaehwan pada Hoseok yang berdiri di dekatnya.

"Hobie. Ini Joonie." Hoseok memperkenalkan Namjoon juga.

"Kau sudah sekolah?" tanya Jaehwan lagi.

Hoseok menggeleng. "Tapi Paman Hyosang pelnah mengajakku ke tempat yang ada bu gulunya," celoteh bocah itu menuturkan pengalaman dia dibawa ke PAUD oleh pamannya.

"Yoongi Hyung sudah sekolah," celetuk Hoseok kemudian.

"Yoongi?" ulang Jaehwan.

"Ne. Yoongi Hyungnim," angguk Hoseok membuat anak di depannya menoleh memandang Yoongi yang diam menatap obrolan mereka sedari tadi. Tanpa pikir panjang Jaehwan mendekatinya.

"Namamu Yoongi?" tanyanya langsung, sedikit membuat anak yang seumuran mundur, merasa aneh dengan keakraban dari bocah yang belum pernah dia temui ini.

"Kau sudah sekolah? Di TK?" Jaehwan nampak penasaran. "Apa kau juga diajari bernyanyi dan menulis?"

Yoongi mengangguk.

Jaehwan tersenyum lebar. "Aku suka bernyanyi!" soraknya. "Twinkle twinkle little star~" dia mulai menyanyi.

"Aku suka menulis!" Yoongi buru-buru memotong. "Aku kalau sudah menghabiskan buku tulis nanti dibelikan yang baru sama Papa."

"Woah, kau sudah menghabiskan buku tulis?" Jaehwan nampak terkejut. "Jaejae suka menyanyi. Jaejae juga suka menulis tapi Jaejae suka menyanyi."

"Hobie suka menyanyi!" Hoseok ikut nimbrung.

"Menyanyi menyenangkan!" Jaehwan berseru riang. "Twinkle twinkle little star~ kau bisa menyanyi itu?"

Hoseok menggeleng.

"Jaejae akan mengajarimu," ujar Jaehwan lantas dia mulai bernyanyi dan Hoseok mengulangi setiap kata-kata serta nadanya diikuti oleh Namjoon. Dari samping, diam-diam Yoongi juga menggerakkan mulut menirukan.

"Anak-anak, siapa yang mau main bola?" seru Rapmon tiba-tiba, mengambil bola yang berhasil ditendang Wonshik masuk ke gawang lantas membawanya ke tengah lapangan.

"Binniee!" Hongbin berteriak paling kencang, membuat ayah dan ibunya tertawa. Dia berlari penuh semangat mengikuti Rapmon dengan kepala mendongak dan mata terpatri pada benda bulat yang dipegang pria itu.

"Binnie! Duteyo~" pinta si anak.

"Iya, Hongbinie mau ikut main bola?" dengan gemas Rapmon mengusap rambut hitam putra temannya.

"Ne!" Hongbin mengangguk antusias, di belakangnya datang Wonshik disusul oleh Taehyung lalu Jimin dan seluruh bocah yang tersisa.

"Baiklah, kita bagi jadi dua tim." Taekwoon menyingsingkan lengan kemeja hingga sebatas siku. "Kaptennya Yoongi dan Jaehwan. Kita akan mengacak anggota dan Papa yang menjaga gawang."

"Papa jaga gawan! Papa jaga gawan!" Taehyung bersorak, entah mengerti atau tidak dengan kalimatnya sendiri. Taekwoon terkekeh melihat tingkah aktif bocah tersebut.

Di saat anak yang lebih tua mulai asyik bermain di lapangan dengan ayah masing-masing, mendadak isi gendongan Hakyeon bergerak-gerak. Sanghyuk terbangun dan merentangkan kedua tangannya ke atas, menggeliat hingga wajah mungilnya memerah.

"Aigoo selamat pagi, Sanghyuk-ah~" sapa Seokjin. "Ujujuju kyeowo~" seketika wanita tersebut merasa gemas oleh sepasang mata monolid yang memandang asing padanya dan bibir tipis yang bisa terlihat begitu lucu cemberut seperti anak bebek.

Sanghyuk mengusap mata, kembali menggeliat, dan menguap seiring dengan Hakyeon melepaskan kain gendong dari badannya lalu membuat bayi tersebut duduk di pangkuan.

"Dia tidak menangis, Eonnie?" tanya Seokjin.

"Kalau langsung melihat ada orang di dekatnya biasanya dia tidak menangis meski baru bangun tidur," jawab Hakyeon, merapikan rambut bayinya yang berantakan.

Sanghyuk duduk dengan mata kosong memandang ke depan, belum sepenuhnya sadar dari bangun tidur, dan dia terlonjak kaget ketika mendadak ada seseorang menepuk kakinya dari samping. Bayi tersebut menoleh, langsung menatap heran pada Jungkook yang memandang penuh rasa penasaran padanya.

"Bilang halo sama Sanghyukie," ujar Seokjin. "Annyeong haseyo, Sanghyukie~ ini Kookie. Mari kita berteman~"

"Auwauwa maemamama," Jungkook mengulangi kalimat sang ibu dengan gayanya sendiri.

Sanghyuk hanya memandang diam anak di sebelahnya dengan mata menaksir-naksir lantas dia mendongak, mencari wajah sang ibu.

"Kookie, annyeong~ sapa dia, Hyuk-ah." Hakyeon membuat sebelah tangan buah hatinya melambai namun Sanghyuk segera menarik tangannya tersebut.

"Dia tidak mau." Hakyeon terkekeh. "Mungkin dia takut, dia belum pernah bertemu dengan bayi lain selama ini."

"Sama, Eonnie. Jungkook juga tidak pernah keluar rumah," ujar Seokjin. "Mungkin Sanghyuk berpikir 'siapa ini?', begitu."

Kedua ibu muda tersebut masih mencoba untuk mengakrabkan kedua bayi mereka sedangkan Sanghyuk dan Jungkook hanya saling menatap. Kedua pasang mata bulat yang masing-masing memiliki double eyelids dan hanya monolids bertukar pandangan seolah sedang mencoba untuk mengingat satu sama lain.

Perlahan Sanghyuk mengulurkan tangan, menyentuh pipi Jungkook dengan ujung jarinya.

"Aigoo kau mulai menyukai Jungkookie?" Hakyeon menimang bayi laki-laki di pangkuannya.

Sanghyuk kembali memegang Jungkook, mengusap pipinya sedikit lebih lama namun tiba-tiba Jungkook berbalik menerkam tangannya dan menggigitnya.

"AAA!" Sanghyuk menjerit kaget, sama terkejutnya dengan Seokjin dan Hakyeon.

"Jungkook-ah...!" Seokjin mencoba melepaskan tangan Sanghyuk dari dalam mulut bayinya. "Dia tidak apa-apa, Eonnie?" tanya wanita tersebut begitu jari mungil Sanghyuk terlepas dan diperiksa oleh Hakyeon.

"Tidak apa-apa," wanita yang lebih tua menjawab.

"Kookie, jangan nakal," dengan pelan Seokjin mencubit gemas pipi gembul buah hatinya. Jungkook hanya diam, membalas tatapan Sanghyuk yang mengarah lurus pada dirinya.

"Mmaa!" mendadak Sanghyuk bergerak maju, memukulkan tangan mengenai kening Jungkook membuat bayi itu memekik kaget. Hampir di saat bersamaan Jungkook segera membalas, menarik lengan baju Sanghyuk dan mencoba mencakar wajahnya. Kedua bayi tersebut langsung terlibat pertengkaran yang membuat kedua ibu mereka kalang-kabut.

"Yah yah yah, kenapa kalian jadi begini?" Hakyeon panik.

"Kookie, jangan—" Seokjin mencoba melepaskan cengkeraman Jungkook dari pakaian Sanghyuk yang malah membuat bayi itu menjerit marah dan semakin kuat menarik anak di depannya. Sanghyuk sendiri tidak mau kalah, balas menyentak Jungkook dan bermaksud untuk menjambak rambutnya.

"Kalian seharusnya menangis kalau dipukul tapi kenapa malah membalas, aigooo!"

"Yah, kalian baik-baik saja?" tanya para ayah yang masih berada di lapangan, melihat keheranan pada istri mereka yang nampak kepayahan melerai dua bayi yang sedang mengamuk.

"Ne, kami baik-baik saja!" balas Seokjin, kembali mencoba menjauhkan jangkauan tangan Jungkook dari Sanghyuk, pun dengan Hakyeon.

"AUWAMAMA!" Jungkook berteriak marah.

"MAMAMAMA!" Sanghyuk membalas dengan lebih berang.

-END-


Bayi super emang -,-

BABY BABY PLUSPLUS (cara bacanya) alias SPECIAL EDITION AKHIRNYA BERTELORRR
DUUUH MYKA BAHAGIA AKHIRNYA BISA NULIS DUA KELUARGA UNYU ITU KETEMUUU *emot mata lopelope*

Termasuknya ini late post ya karena hari Ibu udah kemarin, hehe

Buat yang belum kenal sama keluarga Papa Taekwoon dan Mama Hakyeon, silakan buka judul Stars' Lights (VIXX LeoN)

SELAMAT HARI IBU UNTUK SEMUA MAMA DI OTP DAN IDOL-GROUP-FAMILY-LIKE :***