Baby Baby versi remaja: Yoongi (18), NamSeok (17), VMin (16), Jungkook (14)

WARNING!
- Gaje (paling gaje dari semua series Baby Baby)
- Kata-kata gaul
- Maaf kalau mengecewakan, hiks

Baby Baby
8

Sreng! Seokjin membalik potongan-potongan sosis di teflon untuk terakhir kali sebelum mematikan api lantas mengangkatnya mendekati empat kotak bekal yang terbuka di atas meja. Sambil bersenandung pelan dia meletakkan sosis di sudut bekal yang masih kosong, meratakannya satu per satu sehingga setiap kotak memiliki jumlah yang sama.

"Mama, my juice—(Mama, jusku—)" ucapan Namjoon terhenti karena mendadak sebuah sosis yang dipotong menyerupai gurita kecil teracung di depan hidungnya, pemuda tersebut segera membuka mulut tanpa banyak tanya, melahap sosis sambil bergumam lirih 'panas~'.

"Kau yakin kau tidak mau ikut Hoseok ke Busan, Namjoon-ah?" tanya Seokjin, meletakkan teflon di westafel lalu membuka lemari es untuk mengambil sebuah botol ukuran tanggung berisi air berwarna oranye dan menyerahkannya pada Namjoon.

"Aku terlanjur ada janji dengan temanku." Suara Namjoon terdengar mengeluh. "Lagipula kenapa dia itu suka sekali memutuskan seenaknya tanpa tanya-tanya dulu? Dia juga suka membuat rencana yang mendadak. Apa dia pikir semua orang menganggur sepertinya?" remaja 17 tahun tersebut menggerutu, mencomot sepotong sosis dari salah satu kotak bekal.

Seokjin tersenyum. "Kalau begitu mulailah membicarakan jadwal bersama-sama. Coba contoh Taehyung dan Jimin, mereka selalu memberitahu satu sama lain akan punya janji apa selama seminggu dan pergi main di saat keduanya senggang. Kau dan Hoseok tidak bisa bersama karena kau tidak mau memberitahu dia jadwalmu sementara dia enggan bertanya, nanti kau malah menuduhnya kepo."

Namjoon terdiam.

"MAAMAAA~" di waktu yang tepat sebuah suara menggema lantang membelah luas apartemen, melolong dengan nada tinggi layaknya penyanyi sopran, dan sebentar kemudian sosok yang menjadi pelantunnya muncul di mulut pintu.

"Gotta go, Bro? (Mau pergi, Bro?)" Hoseok menyapa Namjoon lebih dulu, kedua alisnya bergerak-gerak jenaka dengan bibir tersenyum memperlihatkan sepasang lesung pipi mungil di dekat mulut.

"Eoh," jawab Namjoon singkat. Hoseok berjalan masuk ke dapur dan seketika langsung memekik keras.

"SAUSAGE! (SOSIS!)" saudara kembarnya sampai menutup telinga mendengar lengkingan pemuda itu.

"Sosis gurita! Assa! Nyam nyam nyam~" Hoseok bersemangat, mencomot sepotong makanan kesukaannya lantas mengunyah sambil berdendang riang.

"Thank you, Mama. Love you to the moon and back. Mwah! (Terima kasih, Mama. Aku saaangat menyayangimu. Mwah!)"

Seokjin tersenyum menerima kecupan anaknya di salah satu pipi.

"Kapan kau akan pergi ke Busan lagi, Hoseok-ah? Namjoon ingin ikut denganmu," celetuk Seokjin membuat dua bersaudara kembar di depannya sama-sama menoleh kaget.

"Really? Joonie? (Benarkah? Joonie?)" mata Hoseok melebar, dengan penuh rasa tidak percaya dia menatap kembarannya.

Seokjin mengiyakan. "Karena kau selalu punya rencana jalan-jalan di saat dia sibuk, jadi Namjoon berpikir akan mulai menyamakan jadwalnya denganmu dan akan ikut begitu dia senggang." Wanita tersebut mengedipkan sebelah mata membalas delikan Namjoon yang seolah menguarkan protes 'kapan aku bilang begitu, Mama!?'

"Woahh! Of course, Bro! (Tentu saja, Bro!)" Hoseok merangkulkan lengan ke leher Namjoon, mengusel ubun-ubun kepalanya dengan jitakan pelan dan baru melepaskan pemuda itu ketika sebuah makian terlontar atas namanya.

"Minggu depan aku ada rencana mau ke Jeju."

"What for? (Untuk apa?)" tanya Namjoon kaget. "Jauh sekali."

"Trip. (Jalan-jalan.)" Hoseok menjawab simpel. "Jadi pagi-pagi kita berangkat, lalu memancing, membakar ikan, dan malamnya pulang. It's gonna be a party, Man! (Kita akan berpesta!)"

"Membakar ikan? Kedengarannya menyenangkan." Wajah Seokjin cerah. "Mama boleh ikut?"

Namjoon menoleh memandang ibunya dengan wajah terkejut dua kali.

"Tentu saja!" Hoseok menjentikkan jari. "There's always a place for a Princess. (Selalu ada tempat untuk Tuan Putri.)" Dia memeluk hangat Seokjin, menyandarkan kepala manja di pundak mamanya.

"Ayo ikut, Joonie! Ayo ikut, ayo ikut!" sedetik kemudian Hoseok kembali mericuhi kembarannya.

"Aku belum tahu." Namjoon menghela napas, menepis pelan namja seumuran yang menarik-narik bajunya. "Belum ada rencana untuk minggu depan—"

"Makanya tidak ada rencana, ayo ikut denganku. Jimin dan Taehyung juga akan ikut," sela Hoseok.

"Bagaimana bisa aku memutuskannya sekarang? Itu masih minggu depan, siapa yang tahu kalau nanti aku ada janji mendadak—"

"Tentu saja kau harus menolaknya!" kembali Hoseok menyanggah. "Kau sudah punya janji denganku, kalau ada orang lain yang ingin membuat janji lagi denganmu kau harus menolaknya dan bilang kalau kau sudah punya rencana."

"Aku tidak bisa membuat keputusan mendadak sepertimu," tunjuk Namjoon mulai kesal.

"Mendadak apanya?" suara Hoseok meninggi. "Ini rencana untuk minggu depan, sama artinya dengan H-7. Aku tidak pernah mendadak, aku selalu memberitahu semua orang kalau aku ada rencana pergi ke sini-sini-sini. Tapi kau hanya 'hm, okay' lalu membuat janji lain dan begitu aku siap pergi kau malah protes menuduhku tidak mengajakmu!"

"Kau memang tidak mengajakku—"

"Aku sudah mengumumkannya!" Hoseok menegaskan. "Kalau kau memang tertarik seharusnya kau yang menawarkan diri, toh aku tidak akan menolak juga. Semakin banyak orang yang ikut semakin bagus. Kalau aku mengajakmu nanti kau akan berpikir aku memaksamu. Nah, aku lagi yang salah." Mata coklat namja itu menyorot kesal. Di samping mereka, Seokjin hanya mengulum senyum memandang bergantian perdebatan satu dari dua pasangan kembar di keluarga Kim yang terkenal paling jarang menghabiskan waktu berdua karena kesibukan masing-masing, berbeda dengan adik mereka—Jimin dan Taehyung—yang bersikap layaknya saudara kembar; kompak serta banyak melakukan aktivitas bersama-sama.

Namjoon menghela napas. Terdiam. Menimang kata-kata Hoseok dan mengakui sebagian besar kalimat saudaranya itu ada benarnya. Hoseok selalu memberitahu seluruh anggota keluarga sebelum dia pergi berjalan-jalan lalu biasanya para Maknae akan berebutan untuk ikut, bahkan Yoongi yang terkenal paling malas menghabiskan waktu di luar rumah pun beberapa kali melibatkan diri, dan cuma dirinya—Namjoon—yang tidak menanggapi serius rencana Hoseok kemudian merasa ditinggal serta dikhianati ketika saudara-saudaranya pergi bersenang-senang tanpa dia.

"Okay, I'll note it. (Baiklah, aku akan mengingatnya.)" Namjoon mengalah.

Sekejab kedua mata Hoseok berbinar. "Jinjja!?"

Namjoon mengangguk. "Aku akan ikut denganmu ke Jeju minggu depan. Kalau ada yang mengajakku pergi aku akan menggantinya di lain hari."

"ASSA!" Hoseok kembali mengapit leher Namjoon di ketiaknya. "That's my brother! Ululululu!" dengan gemas namja itu menjitaki kepala kembarannya sampai Namjoon berteriak-teriak dan mengumpat.

Seokjin tertawa. "Sudah, hentikan." Dia melerai.

"Joonie, kau mau bertemu temanmu jam berapa? Jangan membiarkan dia menunggu lama." Wanita tersebut mengingatkan, membuat putranya tersentak dan semakin terkejut begitu melihat jam yang melingkar di tangan.

"Shit, I'm late! (Sial, aku terlambat!)" Namjoon menyalahkan Hoseok yang cuma menanggapi dengan tergelak dan berteriak 'have fun! (bersenang-senanglah!)' mengiringi kepergiannya, yang mana langsung menuai seruan 'berisik!' dari arah ruang duduk.

"Kau juga, mau berangkat jam berapa? Nanti ketinggalan bus," tegur Seokjin pada salah satu kembar yang tertinggal di dapur. Wanita itu menutup kotak bekal yang makanannya sudah sedikit lebih dingin lalu menumpuk menjadi satu dan dimasukkan ke dalam ransel khusus.

"Sebentar lagi, Mama. Anak-anak itu kalau bersiap-siap lamanya bukan main." Hoseok menggumam, melangkah keluar dapur lantas kembali berteriak-teriak. "Jimin-ah! Taehyung-ah! Jungkookie! Cepat sedikit!"

"BERISIK WOY!" suara berat menggema sekali lagi dari arah ruang duduk, membuat Hoseok terlonjak lalu jalan berjinjit menuju ke sumber teriakan. Dia melongokkan kepala ke dalam ruangan, menempelkan diri di mulut pintu seperti cicak dan memasang cengiran lebar.

"Hai, Hyung~" Hoseok melambaikan tangan, menaik-naikkan alis membalas tatapan tajam Yoongi yang berbaring di sofa.

"Pergi sana! Berisik sekali!" si kakak tertua mendengus.

"Kami akan segera pergi." Hoseok masih nyengir, seolah tidak sakit hati menerima hardikan kasar barusan. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau tidak mau ikut, Hyung?"

"Benar, Yoongi. Kenapa kau tidak ikut ke Busan? Kau juga tidak ada kegiatan 'kan?" suara Seokjin menyusul dari belakang, Hoseok hampir menambahi namun sebuah pekikan mengalihkan perhatiannya.

"Hyung! Hobie Hyung! Ke sini sebentar!" itu suara Jimin.

"Apa!?" balas si kakak sama kerasnya.

"Help me! Come here for a sec'! (Bantu aku! Kemarilah sebentar!)"

"Apa lagi yang dilakukan anak itu?" gerutu Hoseok kemudian beranjak menuju kamar tidur. "'Kay, 'kay, I'm comin'! (Iya, sebentar. Aku datang!)"

"Kau yakin kau tidak ikut ke Busan?" tanya Seokjin memandang anak sulungnya yang berbaring dan memejamkan mata di sofa.

"Tidak," jawab Yoongi pendek sambil memperbaiki posisi kepala yang terpatri di bantal.

Seokjin terdiam, menyimpan khawatir di kedua matanya. Dia ingin bertanya lagi namun suara debam-debum banyak langkah kaki di lantai koridor membuat wanita tersebut menolehkan kepala ke pintu ruang tengah.

"Mama, bekal?" tagih Jimin, wajahnya nampak cerah dengan senyuman lebar menenggelamkan kedua mata, terhimpit oleh daging pipi chubby.

"Ada di dapur."

"Sosis? Aku dengar ada sosis? Benarkah?" Jungkook menyusul, kedua mata lebarnya nampak bersinar cemerlang. Seokjin mengangguk, dalam sekejab membuat bocah SMP tersebut bersorak girang. "Sosis sosis sosis! Sosis sosis sosis!" nyanyi Jungkook bahagia.

"Siapa yang bawa bekalnya?" Hoseok mulai mengecek perlengkapan.

"Chimchim!" Jimin mengangkat tangan lantas membalikkan badan memperlihatkan ransel berisi bekal dan air minum yang sudah menggantung manis di punggungnya.

"Yang membawa biaya bus dan akomodasi? Hobie." Hoseok mencentang dirinya sendiri. "Cemilan?"

"Taetae!" Taehyung muncul di koridor paling akhir, masih memperbaiki hodie yang dia pakai.

"Baju dan kamera?"

"Kookie! Kookie Kookie!" Jungkook menjawab berkali-kali. "Aku sudah memasukkan semua baju yang kalian berikan dan kamera." Dia menunjuk kamera DLSR yang menggantung di lehernya.

"Powerbank?" tanya Jimin membuat si bungsu menoleh.

"Bawa powerbank juga?" balas Jungkook.

"Tentu saja! Kau mau mengisi baterei di tempat pengisian umum sampai penuh? Sampai malam?" jawab si kakak gusar. Dengan segera Maknae berjalan kembali ke kamar.

"Biar aku saja yang bawa PB-nya." Taehyung menawarkan, menurunkan lagi tas yang sudah tersandang di punggung. "Ambil semuanya, Kook-ah! Punyamu, punyaku, Jiminie, Hobie Hyung, dan Hyungnim!"

"Kenapa punyaku juga?" suara Yoongi langsung terdengar penuh protes.

"Hyungnim tidak kemana-mana 'kan?" Taehyung membalas polos.

"Tsk, kau bahkan belum bertanya aku akan menggunakannya atau tidak."

"Hyung bilang tidak mau kemana-mana karena menunggu telpon dari perusahaan musik yang kemarin," ujar Taehyung. Mata Seokjin membulat mendengarnya.

Telpon dari perusahaan musik?

Wanita itu menoleh menatap anak pertamanya.

"Oh, akhirnya mereka akan menelponmu, Hyung?" tanya Hoseok.

Yoongi hanya mengesah.

"Chukkae chukkae~" dendang Jimin. "Kalau diterima nanti traktir kami, Hyungnim!"

"Traktir kepalamu!" ketus Yoongi, segera membalikkan badan menghadap sandaran sofa, tidak ingin meladeni ocehan adik-adiknya lagi.

"Ini, Hyung." Jungkook datang dengan setumpuk powerbank di tangannya, langsung dimasukkan ke dalam tas oleh Taehyung.

"Mama, kami pergi dulu," pamit Hoseok, mendekati Seokjin dan mencium pipinya. Diikuti oleh ketiga adiknya.

"Berhati-hatilah," pesan sang ibu. "Jaga ponsel dan uang kalian baik-baik. Main airnya di pinggiran saja. Mama dengar ombak laut sedang tinggi akhir-akhir ini."

"Yes, Ma'am!" serempak keempat anak tersebut menjawab.

"Squad, let's go!" Hoseok memberi komando, berjalan lebih dulu keluar pintu apartemen diikuti Jimin dan Taehyung yang saling menunjuk kaki merasa sepatu mereka tertukar, lalu Jungkook menyusul di paling belakang.

"Yassa! Busan Busan Busan!" Maknae bernyanyi riang, mengikuti langkah kakak-kakaknya keluar rumah, dan blam! Pintu ditutup.

Sekejab suasana hening.

Seokjin tersenyum memandang koridor yang sudah kosong, merasa sedikit sedih oleh kesunyian yang kemudian melingkupi namun saat wanita itu menoleh, dia tahu dia tidak sendirian. Perlahan Seokjin beranjak, berjalan mendekati anak laki-laki pertamanya yang tengah berbaring tenang di sofa lantas dia mendudukkan diri, menyentuhkan tangan di kaki Yoongi.

"Yoongi-ya, kau tidur?" sapa sang ibu dengan suara lembut. Tak ada jawaban, namun desah napas yang terdengar cukup memberitahukan jika pemuda tersebut tidak sedang terlelap.

"Kau mengirim demo lagu ke perusahaan lagi?" tanya Seokjin hati-hati.

Untuk sesaat tidak ada jawaban, tapi kemudian 'ne' lirih terdengar.

"Papa yang merekomendasikan perusahaan itu," imbuh Yoongi.

Seokjin tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Ada kesempatan baru," ujarnya. "Lalu, bagaimana respon mereka?"

Terdengar decakan samar.

"Mereka belum menghubungimu?" wanita tersebut menarik tangan dari kaki Yoongi ketika putranya bergerak, duduk di sofa dengan rambut hitam acak-acakan dan wajah mengkilat karena minyak sebab dari bangun tidur yang dia lakukan hanya berbaring di tempat yang sama sambil bermain ponsel.

"Mereka sudah memberitahuku, mereka bilang lagunya bagus," desis Yoongi.

"Wah, benarkah? Kalau begitu syukurlah, mereka menyukai lagumu." Mata Seokjin berbinar.

"Mereka bilang akan menemuiku hari ini untuk membahas instrumen tambahan yang mungkin bisa dimasukkan ke dalam musiknya, tapi—"

Seokjin menunggu, memperhatikan wajah Yoongi, mempelajari setiap perubahan ekspresi dan sorot kedua mata anaknya.

"Aku tidak bisa menghubungi mereka sejak kemarin." Yoongi memandang ibunya dengan redup. "Aku sudah mengirimkan pesan dan tidak ada yang dibaca. Aku bahkan sudah berkali-kali menelpon tapi tidak diangkat." Pemuda tersebut menggigit bibir, rasa cemas jelas terlihat di kedua mata kecilnya namun sama sekali tidak keluar kalimat rengekan dari mulutnya.

Yoongi memang seperti itu, tidak mudah untuknya menunjukkan rasa sedih, kecewa, cemas, dan berbagai ekspresi negatif lain. Apalagi sampai merengek dan mengatakan 'Mama, eotteokee~' seperti yang sering dilakukan adik-adiknya (terutama ketiga Maknae). Mungkin karena dipengaruhi kebiasaannya sedari kecil yang dituntut untuk menjadi anak tertua dan harus bisa mengasuh kelima adiknya, tanpa sadar Yoongi tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan enggan membagi masalahnya. Dia tidak bisa membuat orang lain terlibat dalam kesusahannya selagi dia masih bisa mengatasi semua hal sendirian.

Seokjin tersenyum. "Tidak apa-apa."

Namun sang ibu tetap menjadi orang yang paling peka terhadap perubahan sikap Yoongi meski dia nyaris tidak pernah mengatakan apapun.

"Mungkin orang perusahaan sedang sibuk. Lagipula sekarang 'kan hari libur," imbuh wanita tersebut.

"Tapi mereka sudah janji, seharusnya mereka ingat itu." Alis hitam Yoongi mengerut kesal.

"Kau sudah mengirim pesan 'kan? Mereka pasti akan langsung menghubungimu kalau mereka membacanya." Seokjin mengusap sabar pundak lebar anaknya. "Tidak apa-apa, tenanglah."

Yoongi menghela napas panjang. "Padahal tidak mudah mencari perusahaan yang mau mendengarkan lagu anak SMA." Dia mendesis. "Sekalinya ketemu malah begini."

"Papa bilang apa waktu memberitahumu soal perusahaan itu?" tanya Seokjin.

"Papa bilang warna musikku akan cocok dengan selera perusahaannya. Aku juga sudah mencari tahu lagu-lagu yang pernah dirilis di sana dan memang kebanyakan genre-nya sama seperti laguku."

"See? (Lihat?)" Seokjin kembali tersenyum. "At least mereka tidak menerimamu hanya untuk formalitas atau karena nama Papa—"

"Aku tidak bilang aku anak komposer Kim Rapmon," potong Yoongi.

"Genius!" Seokjin menyentil ujung hidung anaknya dengan bangga. "Itu lebih membuktikan kalau kau sudah memenuhi standar dan hasil karyamu patut diacungi jempol. Jadi tenanglah, tidak akan ada hal buruk yang terjadi sebab kau sudah berusaha dengan keras."

Kembali Yoongi menghela napas. "Tapi mereka tidak meresponku lagi, Mama." Dipandangnya mata indah di depannya dengan sayu. "Bagaimana kalau ternyata mereka batal menyukai laguku?"

Seokjin terdiam, namun kemudian dia kembali tersenyum. "Itu tandanya sedang ada kesempatan lain yang lebih besar yang menunggumu."

Yoongi tertegun.

"Tenanglah, tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Seperti saat kau jatuh waktu belajar naik sepeda, tapi akhirnya kau bisa naik sepeda dan pergi bermain ke sana-sini dengan bebas. Benar 'kan?" Seokjin tidak melepaskan senyum dari wajahnya, kedua mata menatap hangat sang buah hati yang terdiam dan sedetik kemudian segurat senyum muncul untuk pertama kali di bibir tipis Yoongi.

Pemuda tersebut mengangguk. "Ne."

"Bersemangatlah~ hwaiting, Yoongi Hyung~" Seokjin mengusap singkat pundak lebar anaknya.

"Sejujurnya, aku pikir Mama akan marah tadi," desis Yoongi.

"Wae? Marah untuk apa?" giliran ibunya yang nampak terkejut.

"Karena aku tidak memberitahu Mama kalau aku memasukkan lagu ke perusahaan dan berakhir gantung seperti ini. Aku pikir Mama akan kecewa dan menyalahkan aku karena kurang gigih." Suara remaja belasan tahun tersebut perlahan menghilang di ujung kalimat.

Hening sejenak, namun Seokjin kembali hanya tersenyum. "Hyungnim," panggilnya dengan nama yang kerap dia gunakan sejak Yoongi kecil. Berawal dari ingin mengajari adik-adiknya supaya juga memanggil 'Hyungnim' pada kakak tertua mereka, malah Seokjin keterusan menggunakannya hingga sekarang.

"Apa kau sendiri yang meminta Papa merekomendasikan perusahaan ataukah Papa yang menghubungimu pertama kali?" tanya wanita tersebut.

"Aku," jawab Yoongi.

"Apa kau yang pergi ke perusahaannya ataukah orang lain?"

"Aku."

"Apa kau sudah berusaha menghubungi mereka terus meski mereka tidak meresponmu?"

"Ne." Yoongi mengangguk.

"Kalau begitu Mama tidak punya alasan untuk marah padamu." Seokjin tersenyum cerah. "Soalnya Mama tahu kau tidak bermalas-malasan dan berusaha keras mengusahakan semuanya. Akan terasa tidak adil kalau Mama masih marah padamu, Sayang." Diusapnya sebelah pipi Yoongi.

Seokjin melanjutkan, "Meski—yaah, Mama sedikit kaget tadi waktu Taehyung bilang kau sudah memasukkan lagu ke perusahaan lagi dan Mama tidak tahu. Kenapa kau tidak memberitahu Mama? Apa Mama terlalu cerewet?" sang ibu cemberut, membuat bibir chubby-nya mengerucut dengan menggemaskan, sama sekali tidak menyiratkan dia punya enam anak yang sudah beranjak remaja.

"Sedikit." Yoongi terkekeh, merasa puas melihat ekspresi mamanya yang seketika terpana. "I just kiddin', Mom. No, you absolutely aren't that annoying. Hoseok's still the most annoying person in this home. (Aku hanya bercanda, Mama. Tentu saja tidak, Mama sama sekali tidak cerewet. Hoseok masih jadi yang paling bawel di rumah ini.)" Koreksi Yoongi.

"Terus?" Seokjin tetap memasang wajah sedih.

Yoongi tersenyum simpul lebih dulu. "There's no surprise without surprise. (Tidak pernah ada kejutan tanpa kejutan.)"

Seokjin tertegun, namun sedetik kemudian senyuman lebar mekar di bibirnya. "Oh, Yoongi..." wanita itu tidak dapat menahan diri untuk tidak memajukan badan dan meraih putranya ke dalam pelukan. Kedua mata lebarnya berkaca-kaca.

"You're so sweet..." suara Seokjin parau menyimpan haru.

Yoongi hanya tersenyum, balas memeluk ibunya dan menyesap pelan bau sampo dari rambut wanita tersebut, kembali menemukan ketenangan, kenyamanan, serta kasih sayang yang sejak kecil dia rasakan tak pernah berubah dari sosok yang nyaris menjadi poros hidupnya selama 18 tahun ada di dunia. Bahkan para gadis muda yang sering dia temui di luar sana tidak ada yang dapat menyamai ibunya, kasih sayangnya, pengertiannya, semuanya.

Seokjin melepaskan dekapan, mengusap kepala Yoongi, merapikan rambut hitamnya, dan dia hanya dapat kembali tersenyum ketika dengan lembut jempol putranya mengusap jejak basah di sudut mata wanita itu.

"You're really something, no wonder you've many admirers, (Kau benar-benar tidak bisa ditebak, tidak heran kau punya banyak fans,) " ujar Seokjin dibalas gelengan oleh anaknya.

"I ain't player. (Aku tidak gampangan.) Lagipula aku tidak benar-benar suka para gadis itu. Mereka berisik dan caranya memanggilku 'Oppa, Oppa' terlihat begitu menakutkan seperti seorang psikopat."

Seokjin tergelak. "Bad boy Yoongi," kekehnya.

"Aku serius, Mama." Wajah Yoongi berubah sungguh-sungguh. "Para gadis itu sangat mengerikan. Mereka tidak segan saling dorong dan bahkan ada yang menarik bajuku. Kalau bukan di sekolah aku pasti sudah menghajar mereka satu per satu."

"Eyy, memukul wanita itu tidak etis, Sayang."

"Just for you. No one else. (Hanya untuk Mama, bukan yang lain.)"

Kembali Seokjin tertawa kecil. "Tapi tetap saja—"

"Aku tidak mau membahasnya lagi." Yoongi menyela, kedua tangan terangkat ke atas. "Mama pasti akan membela para gadis itu dan menyudutkanku, aku tidak mau membicarakan ini lagi. Topiknya selesai. Kkeut. The end!"

Seokjin tidak dapat menahan tawa. "Baiklah, terserah kau saja." Wanita tersebut mengalah. "Kau ingin lauk apa untuk makan siang? Karena cuma kita berdua, Mama akan memasak apapun yang kau mau."

Yoongi memutar mata, kilat jernih pupilnya nampak bersinar cerdas, dan pemuda itu menyeletuk. "Mama, aku punya rencana."

Seokjin mendelikkan mata kaget. "Apa itu?" dia hanya menanyakan soal makan siang lalu mendadak anaknya mengatakan soal rencana.

"Kemarin waktu ke perusahaan Papa, aku lihat ada toko merk pizza terkenal yang baru saja buka cabang di seberang jalan. Tidak apa-apa 'kan kalau—" Yoongi mengerlingkan sebelah mata penuh makna.

"Eyy, kau mau merampok Papamu?" Seokjin akhirnya mengerti maksud putranya.

"Bukan merampok namanya kalau cuma aku dan Mama. Mumpung yang lain tidak ada di sini, aku yakin Papa juga tidak akan menolak. Mama saja yang nanti menelpon Papa, Mama bilang kalau Mama yang mengajak dan bukan aku. Ne? Ne?"

"Apa kau sedang mengajari Mama untuk berbuat jahat?" Seokjin terkekeh geli.

"Ini bukan jahat." Yoongi merajuk. "Ini namanya 'memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan'. Ayolah, Mama~ ya ya ya? Aku ingin sekali makan pizza itu. Teman-teman bilang rasanya sangat enak. Ne? Ne? Ne?"

Sang ibu kembali terkekeh. "Kalau urusan begini saja manjamu keluar." Telapak tangan wanita tersebut menangkup hangat kedua pipi bulat Yoongi. "Ambilkan ponsel Mama di dapur," ujarnya yang seketika membuat si sulung melompat dari atas sofa dengan teriakan girang.

"ASSA!"

-o-

~Group chat "The Prince(s) : 6 members"~

Hyungnim: *mengirim foto pizza*

Hyungnim: *mengirim foto selca dengan Seokjin*

Hyungnim: *mengirim foto Rapmon yang tengah memainkan ponsel*

Hyungnim: *stiker tertawa*

Hyungnim: *stiker tertawa*

Hobie: WHAT THE FU-

Kookie: -CK!

Taetae: PIIIIIZZZZZZZZZZAAAAAAAAAAAAAAAAA

Chimin: AAAAAAANNNNNDDDDDDWWWWWWEEEEEEEEEEEEE

Chimin: HHHHHYYYYUUUUUUNNNNGGGGGGG

Chimin: MMMAAAAAUUUUUUUUU

Chimin: AAAAARRRRRGGGGGHHHHHHH

Kookie: PUUUUULLLLLAAAAAANNNNGGGGGGG

Kookie: PULANGKAN AKUUUUUUUUU

Kookie: HYUUUUUUUUUNGGGGGGGG

Kookie: MAAAAAAMAAAAAAAAAAAAA

Kookie: PAAAAAAAAAPAAAAAAAAAAAAAAA

Hobie: CURANG MAKAN SENDIRIAN

Hobie: TAK 'KAN 'KU MAAFKAN

Hobie: AKU DOAKAN TERSEDAK

Hobie: TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK TERSEDAK

Hyungnim: WOY!

Taetae: Hyuuuuuunnngggg TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

Taetae: Mau pizzaaaaaaaaa TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

Taetae: Juseyooooo TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

Kookie: TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

Hyungnim: Nanti waktu kalian pulang.

Chimin: Benarkah? (*-*)

Hyungnim: Kalau masih ada.

Chimin: Yaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh

Chimin: *stiker menangis*

Chimin: *stiker menangis*

Taetae: *stiker banjir air mata*

Taetae: *stiker air mata ditampung dalam baskom*

(Kookie memulai panggilan grup)

(Hyungnim mengakhiri panggilan grup)

(Hobie memulai panggilan grup)

(Hyungnim mengakhiri panggilan grup)

(Hyungnim memblokir panggilan grup)

Hyungnim: Kami masih di dalam restoran, jangan mengganggu.

Hobie: JAHAAATTT

Hobie: DIBILANG MENGGANGGUUUU

Hobie: TEGAAANYAAAA

Hobie: *stiker air mata ditampung dalam baskom*

Kookie: HYUUUUUUUNGGGG TTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

Chimin: POKOKNYA KAMI MAU PIZZA WAKTU KEMBALI KE RUMAH

Chimin: TIDAK MAU TAHU POKOKNYA HARUS ADA PIZZA

Hyungnim: Bilang sendiri ke bos besar.

(Hyungnim mengundang KingRM ke dalam grup)

(KingRM bergabung dengan grup)

Kookie: PAPAA

Chimin: PAPA

Taetae: PAPA

Chimin: PIZZA

Kookie: PIZZA

Hobie: KING!

Hobie: PIZZA JUSEYO

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Kookie: HYUNG, JANGAN SPAM

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

Taetae: PIZZA

(Kookie mengeluarkan Taetae dari grup)

Chimin: Anjir di-kick

Kookie: Just today

Hobie: *stiker jempol*

Hyungnim: *stiker jempol*

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Chimin: -_-

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

(KingRM keluar dari grup)

Kookie: PAPA, PIZZA JUSEYO

Chimin: KOOKIE, STOP! YOU MADE PAPA LEFT! (KOOKIE, BERHENTI! KAU MEMBUAT PAPA KELUAR GRUP!)

(Chimin mengeluarkan Kookie dari grup)

(Hobie mengundang Princess ke dalam grup)

(Princess bergabung dengan grup)

Hobie: MAMA, PIIIZZAAAAAA

Chimin: MAMA, PLEASEEEEE

Chimin: *stiker air mata ditampung dalam baskom*

Hobie: PIZZA PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PLEASE PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA PIZZA MAMA MAMA MAMA MAMA MAMA MAMA MAMA MAMA

Princess: ^^;

Hobie: SISA JUGA TIDAK APA-APA, MAMA

Hobie: YANG PENTING PIZZA

Chimin: IYA

Chimin: PIZZA

Chimin: JUSEYO

Chimin: PLEASE

Chimin: PLEASE

Chimin: PLEASE

Hyungnim: Okay, cukup sampai di sini.

Hobie: BELUM!

Hobie: MAMA BELUM JAWAB!

Hobie: PAPA!

Chimin: Kasihanilah kamiii TT

Chimin: Papaaaaaaaaaa

Chimin: Mamaaaaaaaaa

Chimin: Pizzaaaaaaaaaa

(Hyungnim mengeluarkan Princess dari grup)

Hobie: HYUUUUUUUUNGGGGGGGGG

(Hyungnim keluar dari grup)

Hobie: Anjir pinter, dia left

(Hobie mengundang Hyungnim ke dalam grup)

(Hobie mengundang Taetae ke dalam grup)

(Hobie mengundang Kookie ke dalam grup)

(Taetae bergabung dengan grup)

(Kookie bergabung dengan grup)

Taetae: Hyungnim mana?

Taetae: Papa mana?

Hobie: Left

Chimin: Left

Taetae: Mama mana?

Hobie: Left

(Kookie mengundang Princess ke dalam grup)

(Hyungnim bergabung dengan grup)

(Hyungnim membatalkan undangan Princess)

(Hyungnim keluar dari grup)

Hobie: Shit -_-

(Taetae mengundang Hyungnim ke dalam grup)

Namjoonie: WADDA HECK IS THAT (APA-APAAN ITU)

Namjoonie: PIIIIIIIIZZAAAAAAAAAAAAA

Namjoonie: GIMMEEEEEEEEEEEE (AKU MAUUUUUUUU)

Hobie: Telat, Nyet. Darimana aja lu -_-

(Chimin mengeluarkan Namjoonie dari grup)

-o-

Keesokan paginya, Seokjin sedang sibuk memasak makan siang ketika suara Jungkook menggema dari ruang duduk memanggil namanya berkali-kali.

"MAMA! MAMA! MAMA!"

Membuat wanita tersebut tergoboh-goboh datang mengira ada sesuatu yang gawat terjadi pada buah hatinya.

"Ada apa? Ada apa?" tanya Seokjin cemas.

"Ponsel Hyungnim berbunyi," jawab Jungkook, mata tidak lekang dari layar televisi LED yang menampilkan permainan game dirinya melawan Taehyung. Di dekat mereka duduk Hoseok yang sedang memangku setoples cemilan dan nampak di balkon ada Jimin sedang menjemur pakaian dibantu oleh Namjoon.

Seokjin ternganga tidak tahu harus mengatakan apa. Hanya ponsel yang berbunyi namun Jungkook memanggilnya seolah ada gorden rumah yang sedang terbakar.

"Hyungnim akan marah kalau kami memegang ponselnya sembarangan, apalagi sampai mengangkat telpon," jelas Jungkook seolah tahu apa yang dipikirkan oleh sang ibu.

Seokjin menghela napas pendek. Dia berjalan mendekati ponsel keluaran terbaru yang tengah berada di tempat pengisian baterei sementara pemiliknya—setahu Seokjin—baru saja masuk ke dalam kamar mandi beberapa menit lalu.

"Halo," sapa wanita tersebut menempelkan speaker ke telinga.

"Benar ini nomor Kim Yoongi. Ada keperluan apa? Saya Ibunya." Seokjin nampak mendengarkan dengan seksama siapapun yang sedang bicara padanya di telpon. Setelah beberapa kalimat, dia membalas salam yang terucap lantas mengakhiri sambungan.

"Siapa, Mama?" tanya Hoseok penasaran.

"Pacar baru Hyungnim?" celetuk Taehyung.

"Heol! Hyungnim punya pacar?" Jimin yang baru saja masuk dengan lengan kaos yang masih tergulung basah langsung menyahut.

"Dia 'kan selalu diajak kencan banyak gadis." Taehyung menjelaskan. "Apa yang barusan itu salah satunya, Mama?"

"Bagaimana suaranya? Manja? Lembut? Dewasa? Centil? Sok imut?" kejar Hoseok.

"Noona atau Ahjumma?" sambung Jungkook.

"Aish, bisa-bisanya kau memikirkan itu!" Hoseok, Namjoon, Jimin, dan Taehyung kompak berteriak pada adik termuda mereka.

Seokjin melipat tangan di depan dada, memandang satu per satu mata yang menatap lurus menuntut jawaban padanya, dan merasa takjub pada kenyataan jika keenam bayi kecilnya sekarang sudah ada di usia yang mulai memperhatikan hal-hal semacam itu. Namun belum sempat wanita tersebut membuka mulut, sebuah suara berat terdengar dari arah pintu.

"Ada apa? Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Yoongi heran melihat kelima adiknya berkumpul di sekitar ibu mereka.

"Aniya." Jimin menggeleng, memasang wajah paling polos yang dia miliki. "Tidak ada apa-apa. Aku cuma baru selesai mencuci baju." Jari chubby-nya menunjuk keranjang cucian yang sudah kosong lalu beranjak membawa benda itu ke kamar mandi. Alis hitam Yoongi mengerut, pandangan matanya berpindah pada Seokjin yang segera memberinya sebuah senyuman.

"Barusan ada telpon untukmu," ujarnya lembut.

"Dari?" Yoongi berjalan mendekati ibunya yang menyodorkan ponsel.

"Dia bilang ini mendesak, kalau bisa kau harus menelpon balik secepatnya." Seokjin mengusap rambut putra sulungnya yang masih basah dan berkalung handuk baru kemudian dia berbalik, kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.

Kembali Yoongi hanya mengernyitkan kening, namun dia menuruti kalimat sang ibu. Pemuda tersebut menekan nomor tak dikenal yang barusan terdaftar di panggilan masuk ponsel tanpa menyadari lirikan mata adik-adiknya masih memperhatikan setiap gerak-gerik yang ada.

"Halo," dia menyapa. "Iya, aku Kim Yoongi." Raut wajah Yoongi nampak terkejut. Dia terdiam dengan kedua bola mata berputar panik.

"Sebentar. Tunggu sebentar," ujarnya menyela pembicaraan, dicabutnya kabel pengisi baterei dari ponsel dan dia segera melesat masuk ke kamar, menutup pintu, bahkan kemudian terdengar ada suara kunci yang diputar.

"Ada apa, sih?" Hoseok penasaran, dia sudah mengekori punggung Yoongi ke mulut pintu ruang duduk sampai dia menghilang di dalam kamar.

"Jangan-jangan itu benar-benar pacar baru Hyungnim," desis Jungkook.

"Ah, masa'? Hyungnim memang berkencan dengan banyak gadis, tapi setahuku dia belum mau pacaran," celetuk Jimin.

"Who knows (Siapa tahu), ada gadis yang menarik hatinya lalu membuatnya lupa dengan niat itu," ujar Taehyung.

"Yang benar?" Jimin masih nampak ragu.

"Taruhan mentraktir burger itu pacar baru Yoongi Hyung." Hoseok membuat taruhan seenaknya.

"Itu bukan pacar Hyungnim." Jimin memilih tempat sebaliknya.

"Aku yakin itu pacar Yoongi Hyung. Dia tidak pernah menelpon orang sampai harus bersembunyi begini." Jungkook sejalan dengan Hoseok.

"Memang kelihatannya aneh Hyungnim sampai masuk kamar hanya untuk menelpon, tapi hati kecilku bilang itu bukan orang yang selevel dengan pacar." Taehyung menyambut ragu uluran tangan Jimin.

"Bukan pacar." Namjoon baru datang dan langsung berada di pihak kedua adiknya menuai desisan kesal dari Hoseok.

"Pengkhianat," umpat Hoseok tertahan pada saudara kembarnya yang hanya membalas dengan seringaian.

Mendadak pintu kamar tidur terbuka, membuat kelima pemuda terlonjak dan segera menyebar, sok menyibukkan diri melakukan sesuatu agar tidak terlihat baru saja merencanakan hal yang mencurigakan. Yoongi berjalan cepat melewati ruang duduk, tidak mengindahkan adik-adiknya, dan langsung menuju dapur, memeluk erat tubuh Seokjin dari belakang mengagetkan wanita paruh baya itu.

"Wae wae wae? Ada apa, Yoongi-ya?" tanya Seokjin terkejut. Yoongi tidak segera menjawab, hanya mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajah pada sebelah pundak sang ibu.

"Terima kasih, Mama." Suara pemuda itu terdengar bergetar.

"Terima kasih untuk apa? Apa yang terjadi?" Seokjin masih tidak mengerti maksud putra pertamanya.

Yoongi melepaskan pelukan, memberi kesempatan bagi sang ibu untuk berbalik. Ditatapnya sepasang mata besar yang menyorot dengan berbagai gelombang perasaan dan pemuda tersebut tidak dapat menahan diri untuk tidak kembali menghambur ke dalam dekapan wanita yang sudah melahirkannya.

"Yoongi-ya, ada apa?" Seokjin makin khawatir, mengusap punggung lebar putranya dengan lembut.

Terdengar suara ingus disedot perlahan. Yoongi menangis. Dan hal tersebut makin membuat Seokjin gelagapan. Namun yang kemudian dikatakan oleh anaknya ganti memunculkan lapisan bening di kedua mata sang ibu.

"Yang menelpon adalah perusahaan musik. Mereka bilang laguku bisa dirilis bulan depan."

"Oh, Yoongi..." Seokjin mengusap kepala buah hatinya dengan bangga. "Selamat, Sayang. Akhirnya cita-citamu terwujud..."

Terasa Yoongi mengangguk. "Terima kasih, Mama. Kalau Mama tidak percaya padaku aku tidak akan bisa bertahan sampai sekarang." Pemuda itu terisak, makin erat memeluk ibunya untuk menyembunyikan suara tangis bahagia.

"Kau pantas menerimanya, Sayang. Kau sudah melakukan semua yang terbaik." Seokjin tersenyum, membiarkan dirinya menjadi tawanan lengan kekar Yoongi untuk sementara, menjadi tempat bagi anaknya menangis dan mengusapkan ingus seperti saat dia masih kecil dulu.

"Mama~" sebuah bisikan lirih mengalihkan perhatian Seokjin dan segera kedua matanya membulat begitu melihat ada lima buah kepala berjejer mengintip tepat di pintu dapur.

"Ada apa?" Hoseok bicara dengan isyarat gerakan bibir yang sejelas-jelasnya.

"Tidak ada apa-apa," jawab Seokjin tanpa suara, masih dengan tangan memeluk kakak tertua.

"Telpon—" Hoseok menggunakan gerakan tangan. "Apakah dari pacar?" dia menunjuk Yoongi lantas membuat bentuk hati dengan kedua tangannya diikuti oleh keempat saudaranya yang lain.

Seokjin menggelengkan kepala pelan. "Bukan pacar." Dia mengimbuhi.

"Shit," Hoseok mengumpat, di belakangnya Jungkook bersungut-sungut.

"Sip, burger." Jimin tos dengan Taehyung dan Namjoon.

-END-


"Karena tidak semua orang mengerti cara menghadapi sebuah kecemasan."

Seharusnya ini mewakili quote di atas, tapi ... ah, sudahlah.