Para bayi bertemu dengan orang baru! Akan bagaimana tingkah dan keseruan mereka kali ini? XD

#namjin #monjin #bts #t

Baby Baby
9-A

"Nah, sudah selesai," gumam Seokjin ketika tangannya merampungkan menyisir gumpalan terakhir rambut lebat Jimin yang kusut akibat dikeramas saat mandi. Ia menuang sedikit krim bayi ke telapak tangan untuk diratakan lalu mengusapkannya pada seluruh wajah serta leher Jimin baru kemudian mengecup kening balita itu gemas.

"Kyeowo~ Jiminie sudah kyeowo sekarang~" puji Seokjin sambil mencubit dan memainkan kedua pipi gembul anaknya membuat Jimin tergelak dengan kedua kaki gemuk melompat-lompat riang.

"Chiminie iyowo~" si balita menirukan mamanya.

"Mama~" sebuah panggilan dari belakang punggung membuat Seokjin menoleh dengan cepat. Nampak Taehyung tengah menyodorkan sebuah baju kecil berwarna merah muda dengan gambar stroberi. Seokjin terdiam, sudah mengerti maksud yang ingin disampaikan anaknya. Wanita tersebut memutar duduk hingga menghadap Taehyung lebih dulu sebelum bicara padanya.

"Taehyung-ah, Mama 'kan sudah bilang, kau bisa memakai baju ini nanti waktu kita sudah pulang—"

"Taetae mau tekayang (Taetae mau sekarang)." Taehyung memotong kalimat ibunya. "Taetae idak tuka batu ini (Taetae tidak suka baju ini)." Dia menarik-narik pakaian yang dikenakannya, muka balita itu mulai memerah; warning pertama sebelum seorang Kim Taehyung menangis.

"Sayang," Seokjin masih mencoba membujuk, mengusap pipi halus buah hatinya dengan lembut. "Semuanya memakai baju yang sama dengan yang dipakai Taetae sekarang. Coba lihat," wanita itu menunjukkan blus hitam dengan kancing depan yang ia kenakan.

"Mama pakai hitam. Jimin juga. Di depan, Hoseok Hyung dan Namjoon Hyung juga. Di kamar, Papa dan Yoongi Hyung juga pakai hitam. Semuanya hitam, masa' Taetae masih mau pakai yang lain?"

Taehyung memandang Jimin sejenak yang juga menatapnya dengan mata berkedip tidak mengerti, kenapa mendadak saudara kembarnya datang dengan muka menangis seperti itu? Sebab di antara keenam bayi, Taehyung termasuk yang jarang menangis seperti Yoongi dan Namjoon. Dia hanya akan menangis jika melihat Jimin menangis. Ikatan batin anak kembar, kata orang-orang.

"Idak mau!" Taehyung menghentak kaki ke lantai; warning kedua sebelum seorang Kim Taehyung menangis.

"Taetae mau ini. Idak mau ini. Ini teyek (Ini jelek). Taetae mau ini." Taehyung terus menyodorkan baju favoritnya ke tangan Seokjin sambil sesekali ia menarik-narik pakaian yang dikenakannya sendiri. Bocah itu menjatuhkan diri ke pelukan ibunya; warning ketiga sebelum seorang Kim Taehyung menangis.

"Huwaaa!" lalu pecahlah tangisannya. "Mama, mau ini! Taetae mau ini!" Taehyung masih terus merengek dalam isakan.

Seokjin menghela napas perlahan, sudah dia duga akhirnya akan jadi seperti ini. Sejak awal dia menebak yang paling akan sulit dipakaikan baju gelap pasti Taehyung, sebab putranya yang satu itu lebih sangat menyukai warna-warna cerah. Hoseok sudah berhasil dibujuk dengan diberi baju yang kembaran dengan Namjoon, namun Taehyung sepertinya tidak akan semudah itu.

"Mama, Taetae enapa (Taetae kenapa)?" gumam Jimin dengan suara kecil sambil meraih kain lengan baju Seokjin. Wajah chubby-nya nampak sedih melihat saudara kembarnya menangis.

"Tidak apa-apa, Jiminie." Seokjin tersenyum, tangannya mengusap lembut punggung Taehyung yang masih sesenggukan. "Taetae hanya tidak mau pakai baju hitam. Dia maunya pakai baju stroberi. Makanya dia sedih," jelas wanita tersebut dengan kalimat sederhana yang dapat dimengerti oleh bayinya tanpa harus dia berbohong ataupun menguraikannya dua kali.

"Yah Taetae, bacu Taetae cama cepeti Chimin. Ini yihat (Yah Taetae, baju Taetae sama seperti Jimin. Ini lihat)." Balita itu menepuk-nepuk pakaiannya namun lebih terlihat seolah dia sedang memamerkan perutnya yang gendut membuat Seokjin langsung menahan tawa.

Taehyung berhenti menangis sebentar mendengar ocehan saudaranya, dengan wajah penuh air mata dia menoleh memandang Jimin.

"Taetae idak cuka cama cepeti Chimin (Taetae tidak suka sama seperti Jimin)?" tanya Jimin, kedua matanya yang sipit mencoba membulat yang membuatnya nampak semakin menggemaskan.

Taehyung terdiam sejenak tapi kemudian dia merengek lagi, memeluk Seokjin sambil menyembunyikan suara tangisannya.

"Taetae idak cuka (Taetae tidak suka)?" kini giliran muka Jimin yang memerah melihat saudaranya masih tetap menangis meski tahu sedang memakai baju yang sama dengannya.

"Mama, Taetae idak cuka cama Chimin... (Mama, Taetae tidak suka sama Jimin...)" Jimin mengadu ke ibunya, kedua matanya sudah basah. "Huweee~" dan dia ikut menangis. Mendengar Jimin mulai menangis, Taehyung semakin sedih dan mengeraskan isakannya sementara Seokjin hanya dapat menghela napas sambil tersenyum miris.

"Oh iya, Mama lupa!" seru Seokjin mendadak dengan suara keras mengalahkan tangisan kedua anaknya yang bersahut-sahutan. Bersamaan Taehyung dan Jimin berhenti merengek, menatap ibu mereka dengan pipi gembul basah serta mata berkedip penasaran.

"Mama punya stroberi untuk Taetae." wanita itu menggeser sedikit tubuh anaknya dan bangkit berdiri, berjalan mendekati rak pakaian untuk mengambil sebuah kotak tempat ia menyimpan pin serta peniti yang biasa digunakan ketika akan melipat dan mengecilkan pinggang celana anak-anaknya.

"Nah, coba lihat ini." Seokjin kembali dan menyentuh dada Taehyung. "Simsalabim!" serunya sambil menarik tangan, secara ajaib sudah meninggalkan sesuatu berwarna merah muda di pakaian putranya. Taehyung menundukkan kepala, memandang pin berbentuk stroberi yang sekarang menempel di baju hitam yang ia benci.

"Oh? Tetobeyi (Stroberi)?" Taehyung terkejut, menunjuk pin di bajunya dengan telunjuk.

"Oh? Ada cecobeyi di bacumu! (Ada stroberi di bajumu!)" pekik Jimin takjub.

"Hebat 'kan sulap Mama." Seokjin mengerlingkan mata, tak akan pernah memberitahu jika dia mengambil pin itu dari atas rak baju lalu menyematkannya dengan cepat di baju Taehyung.

"Waaah!" mata Jimin berbinar polos. "Chimin mau! Chimin mau!" ia bersorak.

"Okay, wait a moment, Mister~ (Baiklah, tunggu sebentar, Tuan~)" ujar Seokjin, disentuhnya dada Jimin dan ketika dia menarik tangan—"Simsalabim!" sebuah pin berbentuk jeruk tertinggal di sana.

Jimin bersorak riang. "Apa ini?" tanyanya dengan penasaran memandang benda bulat berwarna oranye di bajunya.

"Itu jeruk. Chimin suka jeruk 'kan?" ujar Seokjin.

"Ceyuk! Chimin cuka ceyuk! (Jeruk! Jimin suka jeruk!)" si balita bersorak sambil melompat-lompat, sudah melupakan rasa sedihnya.

"Taetae suka 'kan dengan stroberinya?" Seokjin meraih Taehyung dan membuat dia duduk di pangkuan, dengan diam-diam mengambil baju merah muda yang dibawa anak itu untuk dilempar jauh-jauh ke atas ranjang supaya Taehyung lupa soal keberadaannya.

Taehyung mengangguk, memainkan pin di bajunya dengan tangisan yang sudah berhenti. "Taetae tuka tetobeyi, hehehe." Dia tersenyum, membentuk kotak dengan bibirnya dan hal tersebut membuat Seokjin menghembuskan napas lega.

"Kalian anak-anak Mama yang pintar. Jadi jangan menangis. Mama sedih kalau kalian menangis. Hm?" gumam ibu muda tersebut, diusapnya pipi basah Taehyung dan Jimin satu per satu hingga bersih lalu mencium bergantian pipi gemuk mereka hingga kedua pasangan kembar itu tergelak senang.

"Ayo ke depan, kalian main dengan Hyung sementara Mama selesaikan pekerjaan yang lain." Seokjin berdiri dengan membawa Taehyung di gendongannya. "Chiminie, ayo ke sini~" panggilnya pada makhluk mungil yang kemudian mengekor dengan langkah-langkah kecil meninggalkan kamar menuju ruang duduk.

"Siapa yang tadi menangis? Chimin? Apa Taetae?" tuding Hoseok begitu melihat mamanya datang bersama kedua adiknya.

"Taetae! Taetae yan menanit! (Taetae yang menangis!)" adu Jimin, telunjuk gemuknya menuding Taehyung yang baru saja diturunkan Seokjin ke lantai.

"Kelas sekali sampai aku pikil ada banjil! (Keras sekali sampai aku pikir ada banjir!)" Hoseok mengomel membuat adiknya menunduk malu. Di sisi lain Namjoon mendekati Taehyung dan memegang tangannya.

"Gwaenchana?" tanya balita itu yang dijawab anggukan oleh adiknya.

Namjoon bergerak maju, memeluk Taehyung erat. "Jangan menangis lagi ya~" dia menghibur.

Melihat momen manis tersebut Seokjin hanya dapat tersenyum. "Hoseok Hyung, Namjoon Hyung, kalian main dulu dengan Taetae dan Chimin ya. Mama mau menyelesaikan pekerjaan lain."

"Ne~" Namjoon menjawab patuh.

"Aye, Captain!" sementara jawaban keras Hoseok membuat tawa ibunya pecah.

"Darimana kau belajar itu, Hobie?" tanya Seokjin terkejut.

"Yoongi Hyungnim! Aye, Captain!" ulang Hoseok dengan semangat, kembali membuat sang Mama tertawa karena kepolosannya.

"Kyeo~" Seokjin mengusap rambut hitam anaknya dengan gemas. Hoseok tersenyum lebar, memunculkan bentuk hati samar dengan bibirnya lantas melompat meninggalkan sang ibu untuk bergabung dengan saudara-saudaranya yang lain, kembali sibuk bermain.

"Baiklah, NamSeok sudah selesai, TaeMin juga. Yoongi dengan papanya. Siapa lagi yang belum?" Seokjin mengabsen satu per satu buah hatinya.

"Ah, bayiku!" wanita itu teringat. "Dimana dia? Jungkook-ah! Kookie!" Seokjin beranjak untuk menemukan si bungsu yang seingatnya setelah mandi ia tinggalkan di ruang duduk bermain dengan Hoseok dan Namjoon sementara dia sibuk mendandani Taehyung serta Jimin.

"Kookie-ya~" Seokjin mendekati kardus besar tempat menyimpan mainan yang sudah berguling dan benar saja dia menemukan bayinya di sana, sedang tengkurap sambil mengemuti figur plastik pahlawan bertopeng.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau suka sekali masuk kardus, hm?" Seokjin menarik kaki Jungkook hingga tubuh mungil tersebut terseret keluar.

"Mmaaa!" Jungkook berteriak protes, kembali merangkak masuk ke kardus namun kemudian mamanya menarik lagi kakinya ke belakang.

"Aniya, kau harus bersiap-siap seperti kakakmu yang lain." Seokjin menahan tawa melihat kekukuhan bayinya yang kembali merangkak ke dalam kardus.

"Kau mau kemana, Kookie-ya~" Wanita itu memegang dua kaki kecil Jungkook dan tanpa kesulitan menariknya lagi ke belakang hingga si bayi tengkurap di lantai meninggalkan kardus.

"Mmamama." Jungkook bersiap untuk merangkak kembali namun ketiaknya lebih dulu dipegang Seokjin dan tubuhnya diangkat dari atas lantai membuat bayi tersebut menjerit marah.

"MMAA!"

"Wae wae wae wae?" Seokjin terkejut melihat anaknya mendadak menggeliat keras dan mencoba lepas dari pelukan. Jungkook tidak berhenti berteriak, kedua tangan lurus menggapai lantai di bawah mengisyaratkan dia masih ingin bermain.

"Tapi kau harus pakai kaos kaki—"

"MMAAA!" Jungkook mengulangi pekikannya dan Seokjin menyerah, meletakkan lagi bayi itu ke lantai. Jungkook berhenti berteriak, segera merangkak kembali masuk ke dalam kardus.

"Baiklah, kau tetap di sana. Mama akan mengambil kaos kaki dan lotion sebentar. Jangan kemana-mana," pesan Seokjin.

"Aemamam," Jungkook menggumam seolah sedang menjawab sang ibu.

Beberapa saat Seokjin pergi untuk mengambil perlengkapan Maknae dan ketika kembali dia mendapati bayi itu masih berada di tempat yang sama dengan kesibukan tak jauh beda, mengemuti serta menggigiti mainan.

"Kenapa kau suka sekali ada di sini, hm?" tanya Seokjin tak habis pikir. Sebagus itukah sebuah kardus sampai-sampai bayinya tidak mau beranjak dari sana?

Ibu muda tersebut melepas mainan dari mulut Jungkook, dengan cepat mengelap seluruh wajahnya dengan tisu basah lalu meratakan krim bayi ke kulitnya. Sebelum Jungkook sempat berteriak kesal, Seokjin memberikan lagi mainannya dan ganti memakaikan sepasang kaos kaki putih dengan tempelan boneka kepala kelinci di kedua kaki kecilnya. Terakhir, ibu muda tersebut memasang sebuah topi rajut berbentuk kelinci di kepala bayinya dan mengikatkan tali ke bawah dagunya.

"Selesai," desis Seokjin puas, sebab berhasil merampungkan pekerjaan sebelum anaknya merasa terganggu dan menangis memberontak. Wanita tersebut membalas tatap mata bulat buah hatinya dengan senyuman.

"Kenapa? Kau bingung apanya yang selesai?" ibu muda itu terkekeh melihat si bayi menatapnya sambil berkedip-kedip lucu. "Kyeoptaa~"

"Mama~" suara Yoongi menggema.

"Ne~ Mama di sini, Yoongi-ya," jawab Seokjin.

"Mama~" terdengar suara langkah kaki berlari mendekat, diikuti oleh tapak kecil kaki-kaki lain—sepertinya Yoongi diikuti adik-adiknya.

"Mama, lihat Yoongi!" kakak tertua muncul dan langsung berpose. Seokjin menoleh, kedua mata lebarnya sontak membulat kaget.

"Apa yang—" wanita muda itu speechless.

"Swag~" ujar Yoongi, masih berpose dengan rambutnya yang sudah dimodel berdiri menggunakan gel ala bintang rock and roll ditambah sebuah kacamata hitam nangkring di atas hidung mungil yang nampak masih terlalu kecil untuk jadi penahan.

"Swag~" Hoseok dan Namjoon menirukan.

"Tuweg~" Taehyung ikut-ikutan.

"Cuweg~" Jimin juga.

"Hahaha," tawa Seokjin berderai. "Kyeowo~ siapa yang mendandanimu begini?" wanita itu mengusap gemas kedua pipi bulat Yoongi dibalas senyuman lebar putranya.

"Papa!" Yoongi menjawab penuh semangat, terlihat senang karena sang ibu menyukai penampilannya.

"Kyaa!" Jungkook bahkan memekik dan merangkak cepat ke arah Hyung-nya, dia duduk lantas menaikkan tangan mencoba menggapai-gapai kacamata yang dijauhkan Yoongi dari jangkauan si bungsu.

"Ehehehe." Jungkook tergelak senang.

"Ish jinjja, Papamu itu benar-benar—" Seokjin kehabisan kata-kata, menyentuh rambut lembut anaknya yang kini sudah kaku oleh sentuhan gel dan bagaimana bocah empat tahun tersebut didandani begitu funky sampai dipakaikan kacamata segala.

"Swag~ isn't it?" sang pelaku muncul di belakang anak-anak dengan gaya yang tak kalah jenaka. Rapmon menyentuh rambut pirangnya yang juga dimodel berdiri, tak lupa memamerkan kacamata hitam yang diletakkan di atas hidung mancung membuat para bayi bersorak layaknya fans.

"Papaa!"

"Kyaaa!" Jungkook juga tidak ketinggalan.

Yoongi segera menirukan gaya ayahnya sementara Seokjin hanya dapat tertawa melihat duo tersebut tanpa bisa melakukan apa-apa.

"Apa yang kau lakukan, Yeobo?" tanya sang ibu muda, speechless total melihat tingkah aktif suaminya yang terkadang konyol dan masih sama menggemaskan seperti anak-anak mereka. "Kau apakan juga Yoongi—ya ampun," Seokjin menyerah.

"Swag, Baby. This is swag~" jawaban Rapmon tidak menyelesaikan masalah.

"Chimin mau, Papa! Mau cuweg!" Jimin melompat-lompat kecil di sebelah kaki panjang ayahnya, mengangkat kedua tangan ke atas meminta kacamata Rapmon.

"Hobie juga! Hobie!" Hoseok mengikuti dan sebenarnya hampir semua anak merengek menginginkan kacamata sang ayah tak terkecuali Jungkook yang bicara dengan kosakata bahasanya sendiri sambil menarik-narik kain jeans Rapmon.

"Auwaa! Maemamam! Waauu!"

"Get in line, fans~ kalian akan mendapat jatah foto satu-satu dengan idola ini. Swag~" ujar Rapmon jenaka, kembali ditirukan oleh anak-anaknya dengan gembira.

"SWAG!"

Dan sekali lagi Seokjin hanya dapat tertawa.

Ting tong, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi.

"Dia sudah datang." Seokjin segera berdiri, dengan langkah cepat beranjak ke pintu depan.

"Ada tamu, Kiddos. Mari kita sambut dengan penuh swag~" ujar Rapmon.

"SWAG!" semua anak menirukannya tanpa gagal.

Ting tong ting tong, bel kembali berbunyi tidak sabar membuat pemilik rumah berseru sebelum menutup pintu.

"Sebentar~" Seokjin memutar kunci pintu apartemennya dan langsung tersenyum begitu melihat siapa yang berdiri menunggu di luar.

"Lama sekali," Hyosang bersungut-sungut. Dia nampak kasual dengan pilihan kemeja hitam dan jeans hitam, sebuah ransel entah berisi apa menggantung di punggungnya.

"Maaf, ada sedikit masalah." Kakak perempuannya mencicit sambil menangkupkan kedua tangan.

"Mana anak-anak? Mereka sudah siap semua? Kakak ipar?" tanya Hyosang.

"Kami sudah siap semua. Tinggal berangkat saja," jawab Seokjin.

"Paman Hyo!" Hoseok yang pertama kali berteriak begitu melihat sosok Paman favoritnya datang.

"A-yo wassup, Kim Hobie~" sapa Hyosang dengan nada hiphop. Dipeluknya bocah kecil tersebut dan diangkat ke gendongan. "You are loud like usual (Kau berisik seperti biasa)." Dengan gemas Hyosang mencium dalam-dalam pipi gembul keponakannya.

"Hyungnim swag, Paman! Hyungnim swag!" ujar Hoseok, tangannya menunjuk-nunjuk ke satu arah membuat Hyosang menoleh dan pekikannya melengking persis seperti perkiraan Seokjin.

"OH-MY-GOD, KIM-YOON-GI!"

Seokjin menggelengkan kepala dengan senyuman pasrah. Kekonyolan Rapmon ditambah dengan kepolosan anak-anak dan dilengkapi tingkah Hyosang yang sama-sama heboh, tak akan ada yang dapat menghentikan hasil perkalian kuadrat dari keramaian ini.

"Are you KYG (baca: kei-wai-ji)? Not Kim YoonGi but King-Yoon-God? (Apakah kau KYG? Bukan Kim YoonGi tapi King-Yoon-God?)" Hyosang berlutut di depan Yoongi dengan takjub. Terlebih ketika keponakannya yang baru berumur empat tahun langsung memasang pose—yang menurut dia—keren, pemuda tersebut segera memberikan reaksi untuk menyenangkan si bayi.

"Swag~" ujar Yoongi cool.

"Woaah, MY KING!" Hyosang merentangkan kedua tangan lebar-lebar, lalu merengkuh Yoongi ke dalam pelukan. "CUUUTEEE!" dia mendekap balita tersebut dengan segenap rasa gemas yang ia miliki.

"Sudah hentikan," lerai Seokjin mengakhiri kehebohan yang dibuat Hyosang dengan para buah hatinya. "Ayo berangkat, nanti kita terlambat."

"Siapa yang membentuk rambutmu? It's absolutely cool (Ini benar-benar keren)," tanya Hyosang sambil memainkan ujung rambut hitam Yoongi yang berdiri layaknya bintang rock and roll.

"Papa!" si balita bersorak bersamaan dengan sosok yang disebut muncul di ruang tamu dengan Jungkook di gendongan.

"Kookie~" Hyosang mengambil Maknae dari lengan ayahnya. "Kookie Kookie Kookie~" pemuda itu menimang bayi laki-laki yang tertawa-tawa riang melihat dia.

"Hyung, kau apakan Yoongi sampai jadi begini?" Hyosang mengulangi pertanyaan yang sebelumnya dikatakan Seokjin.

"This is swag, 'kay?" Rapmon menjentikkan jari. "Yeobo, aku minta handuk basah!" serunya yang kemudian membuat Seokjin datang dengan langkah tergesa sambil tangannya membawa sebuah handuk kecil yang meneteskan air.

"Kau bisa dimarahi ayah kalau membiarkan Yoongi berpenampilan seperti itu," ujar Hyosang melihat kakak iparnya mengusapkan handuk ke kepala Yoongi, mengurangi gel yang merata di rambut hitam anak itu.

"That isn't a problem," jawab Rapmon sederhana.

"Yoongi-ya, ayo latihan lagi." si sulung menoleh dengan perkataan papanya. "Kalau nanti kakek tanya, 'Yoongi-ya, siapa yang mengajarimu swag?', kau jawab bagaimana?"

"Paman Hyosang!" cetus Yoongi langsung.

"What the—" mata Hyosang membulat.

"Terus kalau, 'Yoongi-ya, siapa yang mengajarimu sampai pintar menulis?" Rapmon bertanya lagi.

"Papa!"

"Anak pintar~" dengan bangga Rapmon mengusap kedua pipi chubby putranya membuat balita itu terkekeh.

"Ah, Hyung~ ini namanya konspirasi. Aku bahkan jarang ke sini, bagaimana bisa kau melibatkan aku—"

"Yoongi-ya, siapa yang mengajarimu jajan?" Rapmon memotong.

"Paman Hyosang!" jawab Yoongi polos, sesuai apa yang diajarkan papanya barusan.

"Ah, Hyuuung!" Hyosang berseru frustasi sedangkan Rapmon menyisir ulang rambut Yoongi sambil terkikik geli.

"Apa? Ada apa ini? Kenapa kau berteriak?" Seokjin muncul di ruang duduk dengan dua tas berisi perlengkapan bayi dan kain gendong di tubuhnya. Dia memandang bergantian pada adiknya yang menggendong Jungkook dengan wajah memelas dan pada suaminya yang bersiul-siul merapikan rambut di depan cermin.

"Noona, kakak ipar jahat padaku! Dia akan membuatku dimarahi ayah habis-habisan!" Hyosang mengadu.

"Memangnya kenapa?" tanya Seokjin tidak mengerti.

-o-

"Mama, kita mau kemana?" tanya Yoongi sambil melongokkan kepala penasaran, melihat pemandangan di luar jendela mobil yang bergerak cepat bergantian ke belakang. Rambut hitamnya sudah kembali lembut, tersisir rapi ke bawah dengan poni tipis yang menutupi kening lebar.

"Kita akan ke kuil, bertemu dengan kakek," jawab Seokjin sambil sibuk membenahi posisi Taehyung yang sudah jatuh tertidur di kursi tempatnya duduk, di sebelahnya ada Jimin yang juga terlelap sedangkan di kursi paling belakang ada si kembar Hoseok dan Namjoon yang telah memejamkan mata sejak mobil bergerak meninggalkan apartemen, Hyosang yang duduk di sebelah mereka dan sedang memangku Jungkook terlihat sedang asyik berkutat dengan game di ponsel, sementara Rapmon menempati kursi paling depan sebagai pengemudi.

"Kakek?" Yoongi menatap ibunya dengan tanda tanya. Seokjin tidak heran jika putranya sudah tidak mengingat kakek mereka. Terakhir Yoongi bertemu kakeknya memang saat usianya masih terlalu kecil dan Seokjin juga jarang mengunjungi ayahnya sementara ayahnya itu pun hampir tidak pernah ada di Korea untuk dapat dikunjungi, bahkan terkadang di hari libur nasional orang tua Seokjin tersebut tetap tidak dapat kembali ke kampung halaman untuk sekedar menengok cucu-cucunya. Beliau lebih sering menghabiskan waktu di Amerika, mengurusi bisnis, perusahaan, dan resort yang masih saja dia tekuni bahkan di usia yang nyaris senja.

"Kau mungkin akan mengingatnya kali ini. Umurmu sudah cukup besar daripada kemarin," Seokjin mengusap sayang kepala Yoongi.

"Terakhir kita bertemu ayah 'kan setelah kau melahirkan Taehyung dan Jimin, Noona. Anak kelima. Aku masih sangat ingat waktu itu ayah memukul kakak ipar karena sudah membuat hidupmu kerepotan dengan banyak anak," celetuk Hyosang.

"Language please (Jaga bicaramu)," tegur Rapmon dari kursi depan membuat adik iparnya nyengir menyadari jika Yoongi ikut melongok ke belakang mendengarkan setiap perkataannya.

"Papa dipukul?"

Benar saja, otak cerdas si sulung tidak akan melewatkan satu hal pun yang bisa membuat orang dewasa di sekitarnya berpikir keras.

"Tidak, bukan begitu." Seokjin berusaha mencari jawaban sebab anaknya tidak akan mau menerima alasan apalagi pengalihan pembicaraan. "Kakek hanya menghukum Papa sebentar tapi kemudian mereka berbaikan. Seperti Yoongi yang melakukan kesalahan dan dihukum Papa, lalu kalian berpelukan. Seperti itu."

Yoongi mengangguk-angguk. "Apa Yoongi juga akan dihukum kakek?"

"Tidak. Kalau Yoongi jadi anak baik, Yoongi tidak akan dihukum kakek." Seokjin menyentil ujung hidung putranya membuat bibir mungil di bawahnya menyunggingkan senyuman lebar.

"Yoongi mau jadi anak baik!" ujar si sulung dibalas kekehan kecil sang ibu.

"Anak pintar~" puji Seokjin. "Anak Mama memang pintar sekali." Diciumnya kening bocah itu dengan sayang.

-o-

"Satu, dua, hap~ satu, dua, hap~" Hyosang menuntun kaki kecil Yoongi untuk melangkah melewati tiap anak tangga batu menuju kuil yang terletak beberapa meter di atas bukit, di dekat mereka Namjoon dan Hoseok juga bersemangat memanjat satu per satu anak tangga seolah sedang saling berkompetisi dengan penjagaan Seokjin yang menggendong Jungkook di belakang bokong kecil mereka. Di jalan datar yang berada di pinggir deretan anak tangga ada Rapmon yang mendorong troli ganda berisi Taehyung dan Jimin juga tas perlengkapan para bayi.

"Ini melelahkan sekali," Rapmon terengah, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendaki tanpa bisa melepaskan troli yang sebenarnya menjadi penyebab dia dua kali lebih letih seperti sekarang.

"Ayolah, Hyung~ kau bahkan lebih muda dari Noona. Lihatlah Noona-ku, dia naik tangga sambil menggendong anakmu dan dia sama sekali tidak mengeluh," ledek Hyosang tanpa sekali pun melepas tangan Yoongi yang masih menaiki tangga di sebelahnya, satu dari dua tas bayi tersampir di bahu pemuda itu.

"Shut it up (Tutup mulutmu)," hardik Rapmon tanpa tenaga. "Jangan samakan aku dengan kakakmu. Dia bukan manusia."

Seokjin yang mendengar pembicaraan kedua lelaki tersebut hanya dapat tersenyum. "Wah, Papa kecapekan," dia menyeletuk. "Ayo beri semangat ke Papa. Papa, fighting! Hobie dan Joonie juga sedang fighting, jadi Papa harus fighting!" bujuknya.

"Papa, paiting!" seru Hoseok, napasnya ngos-ngosan dan wajah kecilnya memerah berkeringat namun ia masih bersemangat memanjat anak tangga tak peduli kedua tangan kecilnya sudah kotor kena tanah.

"Paiting!" Namjoon mengimbuhi. "Joonie paiting!" ternyata dia sedang memberi semangat pada dirinya sendiri.

Rapmon cuma terkekeh melihat tingkah para buah hatinya, namun semua kelucuan tersebut dengan ajaib mengikis rasa lelah dan membuat ia menemukan lagi kekuatan untuk mendorong troli.

"Paitin paitin~" terdengar suara Taehyung dari dalam troli, di sebelahnya ada Jimin yang sedang sibuk mengunyah biskuit.

"Nee~ fighting fighting!"

-o-

Tempat itu masih belum berubah banyak dari ingatan Seokjin ketika terakhir ia pergi ke sana setelah melahirkan Yoongi empat tahun lalu, masih tetap bersih, tenang, dan memiliki udara segar yang seolah dapat membersihkan paru-paru beserta jiwa yang gundah gulana. Sebuah kuil sederhana yang terletak di atas bukit, dikelilingi oleh halaman rapi dan taman mungil dengan sebuah kolam ikan dangkal berisi koi warna-warni. Di beberapa tempat nampak deretan tanaman tomat dengan tinggi yang dapat diraih oleh Yoongi, memamerkan buahnya yang sudah masak separuh berwarna oranye kemerahan. Pada pohon tua yang memiliki dahan besar dan kokoh juga terpasang sebuah ayunan terbuat dari kayu, terlihat kuat namun Seokjin tidak yakin dia akan mengijinkan anak-anaknya berayun di sana sebab tinggi papannya saja sama seperti separuh tinggi Rapmon.

Meskipun sebenarnya mengunjungi kuil kecil ini adalah agenda wajib setiap tahun di keluarga Seokjin namun seiring dirinya yang kembali hamil dan anak-anak bertambah banyak, dia jadi terlalu repot jika harus membawa mereka semua. Siapa yang akan menjaganya? Namun tahun ini umur Yoongi sudah empat tahun, adik-adiknya juga tiga serta dua tahun, usia yang tidak akan terlalu rewel jika dibiarkan bermain sendiri. Lagipula tempat ini tidak terlalu luas dan biarawan ada dimana-mana. Tidak akan terlalu sulit mencari mereka jika terpencar ke segala penjuru arah mata angin saat bermain petak umpet.

"Ayunan! Ayunan!" Hoseok bersorak, langsung melesat menuju ayunan yang tergantung di pohon seolah tidak merasa lelah sama sekali sudah menaiki anak tangga begitu banyak, bahkan saudara kembarnya—Namjoon—masih perlu waktu tambahan untuk mengatur napas dan minum beberapa teguk air dari botol yang diangsurkan Hyosang.

"Hobie benar-benar full baterai," gurau Hyosang ditanggapi senyuman oleh Seokjin.

"Yoongi-ya, panggil Hobie kemari. Bilang padanya main ayunannya nanti setelah bertemu kakek," pinta wanita itu pada si sulung yang nampak menyeka keringat dengan lengan baju.

Yoongi mengangguk, segera berlari menyusul adiknya yang sedang melompat-lompat mencoba menggapai ayunan kayu. Bocah tersebut nampak bicara pada Hoseok yang menjawab dengan gelengan kepala. Namun Yoongi bersikukuh, bahkan mengulurkan tangannya mengajak anak yang lebih muda untuk pergi dan baru Hoseok menurut. Dia menyambut tangan Yoongi, membiarkan dirinya digandeng pergi sambil menoleh ke belakang untuk sekedar melihat lagi ayunan yang nampak bergerak-gerak menyenangkan.

Seokjin ganti mengalihkan pandangan pada ayah anak-anaknya yang terkapar di tanah dengan napas pendek-pendek.

"Papa, tuyun. Mau ayunan," pinta Taehyung, tangan kecilnya bergantian memegang besi tepi troli dan sabuk di pinggang yang membuat ia tidak bisa bergerak. "Papa~"

"Papa, ayunan. Chimin ayunan." Jimin menyambung. "Papa~"

"Tunggu sebentar. Papa bernapas dulu." Rapmon melambaikan tangan tidak kuasa bangkit.

Seokjin mengulum senyum. "Kalian main ayunannya nanti saja setelah bertemu kakek dan nenek ya. Nanti setelah memberi salam ke kakek dan nenek, baru kalian boleh main seeepuasnya." Dia membujuk.

"Anni," bersamaan Taehyung dan Jimin menggelengkan kepala. Mereka bicara bertumpukan. "Obie Yun main ayunan c(t)ekayan (Hobie Hyung main ayunan sekarang)."

"Siapa yang main ayunan? Hobie Hyung sedang ke sini dengan Yoongi Hyung. Lihat itu," tunjuk Seokjin diikuti sorot mata si kembar dan otomatis mereka berhenti merengek. Nampak Hoseok tengah berlari-lari kembali ke tempat mereka diikuti Yoongi di belakangnya.

"Mama, nanti main ayunan ya!" pinta Hoseok begitu sudah menubruk kaki ramping ibunya.

"Ne, tapi nanti setelah memberi salam ke kakek dan nenek. Oke?"

"Oke!" Hoseok menjawab patuh.

Hyosang sedang duduk di tanah, mengipasi dirinya dengan ponsel iphone, tas bayi ia letakkan di sebelah kaki dan dengan segar dia sendiri meneguk air dari dalam botol sisa minum keponakannya ketika mendadak kedua mata lebar pemuda tersebut membeliak makin besar. Dengan tergesa dia bangkit berdiri, menggoyangkan bahu Rapmon yang masih telentang di tanah seperti orang mati.

"Hyung Hyung Hyung! Dia datang, Hyung! Abeoji datang! Hyung!"

Mendengar perkataan Hyosang, serta merta Rapmon bangkit dan membersihkan seluruh badan dari debu serta rerumputan kering dibantu adik iparnya serta Seokjin. Dia bahkan juga merapikan rambut dan kerah baju.

"Ehem ehem." Rapmon menyetel pita suaranya. "Apa aku terlihat menyedihkan?" dia menoleh pada Seokjin yang menjawab dengan gelengan.

"You are good (Kau terlihat baik)," wanita itu mencoba menenangkan suaminya yang kemudian mengambil napas dalam-dalam, rasa gugup kentara memancar dari kedua mata tajamnya.

"Kenapa menemui ayahmu harus selalu membuat suasana tegang begini?" gumam Rapmon lebih mirip seperti mencicit, di sebelahnya sang istri hanya bisa tersenyum kecut.

"Maaf," Seokjin tidak dapat memberi tanggapan lain.

Seorang pria paruh baya berhenti di hadapan Hyosang dan keluarga kecil Rapmon. Penampilannya rapi dalam balutan kaku jas formal berwarna hitam dan kemeja gelap. Rambutnya yang sudah menunjukkan lembaran-lembaran uban nampak tersisir rapi ke belakang dengan garis wajah tegas berhiaskan garis-garis keriput. Bahkan kedua bahunya masih nampak tegap walau nyatanya lima bocah yang kini sedang mendongak menatap dia dari belakang kaki Seokjin, semuanya adalah cucunya. Sepintas beliau terlihat seperti Hyosang versi masa depan, namun ada juga beberapa hal darinya yang mengingatkan pada sosok Seokjin.

"Hai, Abeoji. Lama tidak ketemu," sapa Hyosang melambaikan tangan, ayahnya sudah mengenal dia sebagai pribadi yang suka seenaknya jadi menyapa apa adanya pun tidak akan jadi masalah.

"Abeoji, Jinnie rindu~" Seokjin merajuk, mendekati ayahnya dan mencium pipi kanan serta kiri pria tersebut dengan hangat hampir lupa jika di tengah-tengah mereka ada buntelan gendongan berisi Jungkook yang terlelap.

"Oh iya, ini Kookie yang baru tujuh bulan. Cucu bungsu Abeoji." Seokjin menunjukkan isi gendongannya pada sang ayah. "Itu Yoongi yang paling besar. Abeoji masih ingat 'kan? Terus di sebelahnya Hoseok dan Namjoon, mereka sudah tiga tahun sekarang. Itu Taehyung dan Jimin, dulu waktu Abeoji pulang mereka baru lahir tapi sekarang mereka sudah bisa berlari-larian." Wanita tersebut menunjuk anak-anaknya satu per satu.

"Ayo ke sini, beri salam ke kakek. Ini kakek," bujuk Seokjin namun tak ada satu pun dari buah hatinya yang bergerak. Jimin bahkan beringsut menyembunyikan diri ke belakang kaki Rapmon, mengintip takut pada kakeknya yang sedari tadi diam dan hanya memasang ekspresi kaku yang menyeramkan.

"Abeoji, tersenyumlah. Cucumu ketakutan," bisik Seokjin sambil menyenggol lengan ayahnya membuat pria itu mendengus kaget.

"Aku juga bingung mau bagaimana," balas ayah Seokjin. "Mukaku sudah begini dari dulu."

"Aku 'kan sudah bilang untuk membawa sesuatu seperti permen atau sebangsanya supaya mereka tertarik." Mata Seokjin mendelik.

"Aku bawa."

"Kalau begitu keluarkan!" sang anak menghardik tertahan.

"Ehem," ayahnya berdehem, sejatinya malah membuat Yoongi dan adik-adiknya terlonjak kaget. Taehyung dan Hoseok menyusul Jimin bersembunyi di belakang kaki Rapmon.

"Siapa yang mau permen~" ayah Seokjin mencoba melembutkan suara, dia berjongkok, memperlihatkan segenggam permen dengan bungkus warna-warni di telapak tangannya. "Kemarilah, kakek akan memberi permen pada kalian, cucu-cucu kakek yang kyeowo."

Yoongi menatap bingung. Matanya bergantian mengarah pada permen-permen menggiurkan dan wajah ibunya yang seolah berkata 'tidak apa-apa. Mendekatlah' sementara sudah terpatri di dalam otaknya kalimat; Jangan pernah menerima permen dari orang asing. Bocah itu galau.

Di luar dugaan Namjoon yang pertama bergerak. Dengan pelan ia berjalan mendekati kakeknya, mata terus mengarah pada sosok paruh baya tersebut seolah sedang mengawasi dan dapat bersiap lari kapanpun keadaan menjadi genting.

"Wah pintar~ kau mau permen, anak manis. Kemarilah dan peluk kakek."

"Abeoji, caramu membujuk seperti penculik anak," desis Seokjin yang dibalas decakan kesal ayahnya.

"Diamlah. Aku sudah mencoba yang terbaik."

"Ayo kemari, ambillah sebanyak yang kau mau," ujar ayah Seokjin ketika Namjoon telah sampai di hadapannya. Dengan takut-takut bocah tersebut mengulurkan tangan untuk mengambil permen. "Ini pasti Yoongi. Benar 'kan? Kau sudah sangat besar sekarang."

"Bukan, Kakek~" Seokjin yang menjawab sebab Namjoon masih tidak mau bersuara sama sekali, cuma menggenggam kuat permen di tangannya.

"Yang ini Namjoon. Yoongi Hyung yang ada di belakang." Seokjin menunjuk sosok mungil yang berdiri kaku sendirian di dekat Hyosang.

"Oh, jadi yang ini Namjoon? Kyeowo~" ayah Seokjin memuji dengan setulusnya, dia nyaris mengusap kepala sang cucu namun Namjoon lebih dulu berlari menubruk kaki ibunya. Dia bersembunyi di belakang Seokjin, tidak berani menunjukkan wajah namun tangannya masih tetap memegang permen. Saudara-saudaranya yang melihat dari kejauhan segera menarik kesimpulan. Karena memang pada dasarnya mereka sudah tertarik pada permen yang ditawarkan, jadi mereka berniat akan mengikuti jejak Namjoon; mendekati ayah Seokjin, mengambil permennya, lalu kabur ke tempat sang Mama.

Yang pertama adalah Yoongi, disusul Hoseok, dan Taehyung – Jimin hampir berbarengan mengambil permen yang tersisa.

"Hahaha kyeowo sekali. Mereka sangat pintar ternyata." Ayah Seokjin tertawa dengan suaranya yang dalam dan berwibawa. Sepasang mata tuanya melengkung menjadi bulan sabit sama seperti mata Seokjin ketika tertawa, melelehkan sedikit kekakuan yang ada.

"Pintar sekali. Cucuku semuanya pintar dan pemberani. Kakek bangga pada kalian." Beliau mengacungkan jempol, sesaat membuat mata Yoongi berbinar. Dia tidak tahu dia dipuji karena apa, tapi dia senang karena mendapat pujian.

"Hahaha kalian sangat menggemaskan—"

"Abeoji, selamat siang." Suara sapaan sopan Rapmon menghentikan tawa ayah Seokjin begitu saja. Pria tersebut langsung menoleh dan memasang ekspresi kakunya yang pertama membuat suami dari putrinya itu menelan seret air liurnya sendiri.

Tidak adakah permen yang tersisa untuk Rapmon?

Tidak perlu permen, sekedar jabat tangan atau senyuman juga tidak masalah.

Ah, mungkin sebuah balasan 'selamat siang juga, Menantuku'. Tidak terlalu berlebihan 'kan? Atau mungkin tanpa kata 'menantuku'? Tidak apa-apa, Rapmon tak keberatan.

Apakah kali ini pun dia tidak akan bisa mendapat keramahan dari mertuanya?

Oh ayolah, ini sudah lima tahun sejak Seokjin lebih memilih dia ketimbang ayahnya 'kan? Masa' iya pria itu masih menganggap dia sudah mempengaruhi serta merebut putri kesayangannya dari sisinya?

Eotteoke... Rapmon merutuk nestapa dalam hati.

-TBC-


Selamat lebaran, kakak-kakaaak~~~
Myka minta maaf kalau punya salah kata dan update story-nya ngaret selama ini~~~

Loveyooouuu~ :***