Baca aja XD

Baby Baby
9-B

Suasana kuil terasa tenang, semilir angin yang membawa ranting bergoyang dan dedaunan bergesekan seolah menciptakan lagu indah nun jauh di bawah kesadaran manusia diiringi oleh suara gemericik air dari kolam berisi ikan koi warna-warni. Dengan lembut Seokjin mengkaitkan sebagian rambut panjangnya ke belakang telinga menghindari terpaan angin sepoi, ia tersenyum memandang ke depan, pada seraut wajah cantik dalam bingkai foto hitam putih, dalam hati ikut menyuarakan puji-pujian yang dilantunkan oleh para pendeta bersama ketukan palu kecilnya.

Eomma, sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu seperti ini, ucap Seokjin dalam hati.

Maaf, di tahun-tahun kemarin aku tidak bisa datang menemui Eomma. Eomma pasti tahu alasannya tanpa harus aku ceritakan lagi 'kan, hehehe. Mengurus anak bukanlah pekerjaan yang mudah, Seokjin tersenyum kecut.

Tapi, aku senang akhirnya aku punya kesempatan lagi untuk menemui Eomma. Bersama dengan keluargaku, cucu Eomma, dan menantu Eomma. Ah, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kalau Eomma mau tahu dan aku yakin satu kali kunjungan ini tidak akan cukup menyelesaikan semua kisahku, namun aku merasa bersyukur. Apapun yang terjadi, aku sangat bersyukur. Eomma juga 'kan selalu mengajariku untuk menerima semua hal, baik ataupun buruk pasti ada hikmahnya sebab kebaikan dan keburukan tidak mungkin tercipta dengan sia-sia.

Eomma, bisa dibilang ini tahun kelima aku berkeluarga. Rapmon adalah suami yang baik dan ayah yang penyayang. Yahh, terkadang dia memang suka usil tapi dia benar-benar panutan keluarga yang luar biasa, aku harap Abeoji dapat melihat potensi itu dan segera bisa menerima Rapmon sebagai menantunya. Biar bagaimanapun, aku menikah secara sah dan bukan kawin lari. Sangat menyedihkan tiap kali mengingat Abeoji masih begitu sensitif kalau menyangkut soal Rapmon. Eomma, bantu aku mengubah hati Abeoji. Ne?

Tahun ini juga, umur Yoongi sudah empat tahun. Seperti yang pernah aku katakan pada Eomma dulu, aku punya firasat Yoongi akan jadi anak yang cerdas dan dia benar-benar tumbuh menjadi anak pintar. Aku bahagia! Dia sudah bisa menulis hangul, berbicara bahasa Inggris, dan rencananya aku akan mengajari dia membaca dalam waktu dekat. Kemajuannya lebih pesat dibanding anak-anak seusianya, aku merasa senang sekaligus khawatir. Kalau dia terlalu pintar, apa nantinya dia bisa bergaul dengan baik bersama teman-temannya atau tidak? Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa pura-pura tidak memikirkan itu. Lagipula, Yoongi juga punya watak sedikit keras. Dia cenderung galak kalau ada adik-adiknya yang tidak mau menuruti kata-katanya. Duh, aku mengkhawatirkan masa depannya...

Hobie dan Namjoon sudah tiga tahun—ah, Hoseok jadi keterusan suka nama panggilannya sewaktu bayi 'Hobie' dan aku tidak keberatan memanggil dia begitu karena Hoseok benar-benar kyeopta~ dia adalah anakku yang paling kyeoptaa~ Hoseok mirip dengan Rapmon. Dia sangat aktif, rasa ingin tahunya besar dan suka meniru hal baru. Dia tidak bisa cuma duduk mendengar pelajaran seperti Yoongi, dia harus bergerak melakukan sesuatu dan itu cocok dengan ayahnya yang usil tidak bisa diam. Sangat berkebalikan dengan Namjoon, sekilas Joonie malah mirip Yoongi. Melihatnya bisa begitu fokus mendengarkanku berbicara, seperti melihat Yoongi dulu waktu seusia dengan dia. Lebih banyak diam, penurut, dan mempelajari banyak hal dengan cepat. Tapi tetap saja, ada sisi Rapmon di dalam diri Namjoon. Anak itu sedikit ceroboh dan suka menjatuhkan barang seperti ayahnya, hehe

Jimin dan Taehyung baru dua tahun, jadi masih terlalu dini untuk menentukan potensi mereka. Cuma sepertinya, Taehyung cenderung mengikuti Hoseok dan Jimin lebih lengket pada Yoongi. Aku tidak bisa memastikan mereka akan bagaimana nantinya, namun aku yakin mereka akan jadi anak yang luar biasa. Baik Jimin maupun Taehyung, keduanya sama-sama kyeowo dan pintar. Aku sampai tidak mau mereka tumbuh dewasa. Jimin sangat bulat dan lembut seperti kue mochi, sangat menyenangkan setiap kali memeluk dia. Taehyung juga sangat suka memelukku, setiap kali dia minta gendong lalu merangkulku sambil bilang 'Mama, Taetae tukaa (sukaa)!' itu benar-benar kyeowooo~ apa yang sudah aku perbuat di masa lalu sampai bisa punya anak selucu mereka~~

Yang terakhir ada Jungkookie. Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa soal dia. Eomma, kalau kau melihatnya sendiri kau pasti tahu kenapa aku tidak bisa berkata apapun tentangnya. Kookie itu benar-benar... seperti anak kucing berumur seminggu~ begitu kecil, gembul, lembut, dan lucuuuuu aku tidak mau dia tumbuh besar. Tidak bisakah bayiku tetap begini saja sampai nanti? Jungkook benar-benar sangat menggemaskan~ yahh, meskipun dia kadang agak galak pada kakak-kakaknya, mungkin itu cara dia mengekspresikan rasa sayang (atau mungkin bukan?)

Yang pasti, aku selalu menantikan akan jadi seperti apa anak-anakku waktu tumbuh besar nanti. Menjadi orang yang bagaimana mereka di masa depan. Pastinya, mereka akan tumbuh tinggi, tampan, dan tegap seperti ayahnya. Pintar seperti ayahnya. Dan menyenangkan seperti ayahnya. Eomma, aku selalu ingin menjadi seperti Eomma yang tidak pernah berhenti mencintai kami dan Abeoji bahkan saat Eomma sedang sakit. Abeoji orang yang sibuk tapi Eomma selalu mengajari kami—aku dan Hyosang—untuk tetap menyayangi Abeoji dan memperhatikan beliau. Kalau bukan karena didikan Eomma itu, mungkin kami sekarang akan menjadi anak yang sudah melupakan orang tua.

Eomma, terima kasih. Mungkin benar adanya Eomma tidak bisa melihatku dan Hyosang tumbuh dewasa, lulus sekolah, hingga menikah serta memiliki anak-anak. Namun ajaran Eomma, didikan, nasihat, dan semua pengalaman yang Eomma tunjukkan tidak akan pernah kami lupakan. Walau cuma sekedar kenangan dan kata-kata, tapi itu menjadi lebih dari sebuah pegangan bagi kami. Itu adalah pondasi hidup kami, yang terus kami gunakan untuk berpijak dan mengambil satu per satu langkah ke depan.

Terima kasih, Eomma. Sudah memberiku sebuah sosok panutan yang mana saat lebih dewasa nanti aku ingin menjadi seperti itu. Menjadi seseorang yang dapat menguatkan langkah anak-anakku dalam menjalani dan menentukan masa depan mereka. Aku akan menjadi anak durhaka kalau masih meminta lebih dan tidak mensyukuri keadaanku sekarang. Oleh karenanya, Eomma beristirahatlah dengan tenang sebab kami baik-baik saja. Aku, Hyosang, dan Abeoji sangat sehat, bahagia, dan menjalani hidup kami dengan baik. Terima kasih Eomma, berbahagialah di sana.

"Papa, ayunan." Sebuah celetukan suara kecil membuyarkan lamunan Seokjin, membuatnya menoleh dan langsung tersenyum melihat Hoseok menggenggam lengan jas Rapmon sambil memasang wajah merajuk. "Ayunan, Papa. Hobie mau main ayunan."

"Iya, nanti. Setelah ini. Sebentar lagi," balas Rapmon berbisik, mencoba untuk menenangkan anaknya.

"Sekalang—" Hoseok memaksa namun ucapannya cepat dipotong oleh Yoongi.

"Nanti. Kalau Papa bilang nanti ya nanti," ujar kakak tertua dengan galak.

"Hmph-" Hoseok memasang muka cemberut.

"Sebentar lagi selesai, kok. Sebentaaar lagi," bujuk Rapmon, diangkatnya tubuh mungil Hoseok ke pangkuan. "Ah, Hobie mau belajar berhitung? Kemarin terakhir kita sampai di angka berapa?"

Hoseok menggelengkan kepala. "Hobie tidak mau belajal." Ia mendongak, memandang papanya dari arah bawah. "Hobie mau main ayunan."

"Empat puluh," celetuk Namjoon yang tahu-tahu sudah nimbrung di paha Rapmon. "Kemalin belajal sampai empat puluh." Dia menunjukkan jari-jari pendeknya.

"Empat puluh ya? Oke, sekarang kita mulai dari 41. Yoongi Hyung mau ikut berhitung? Setelah empat puluh ada 41, 42, dan selanjutnya berapa, Hyungnim?"

"43," jawab Yoongi penuh percaya diri.

"That's right! Yoongi Hyung memang mantap!" puji Rapmon membuat wajah putranya berseri-seri. Melihat Yoongi dengan mudah mendapat pujian, membuat Hoseok terpacu untuk mendapat pujian juga.

"Hobie juga bisa! Hobie!" dia mulai bersemangat dan melupakan rengekannya tentang ayunan.

"Wah wah, Hobie ingin belajar juga?" diam-diam Rapmon menghembuskan napas lega, berhasil sudah usahanya untuk mengalihkan perhatian anak-anak pada hal lain hingga pembacaan doa selesai.

"41, 42, 43, dan selanjutnya empat puluh...?"

"Lima belas!" jawab Hoseok tanpa segan-segan, sejenak membuat ayahnya tertegun dan di detik kemudian terkikik menahan tawa. Bahkan Hyosang yang mendengar itu sekuat tenaga mencubit tangannya sendiri supaya tidak tertawa dan menghancurkan kesakralan pembacaan doa bagi mendiang ibunya, namun siapa juga yang bisa menahan diri menghadapi tingkah polos anak-anak yang bahkan bicara saja masih cadel tersebut.

"Kyeowo..." kikik Rapmon dengan tangan menutup rapat mulutnya.

"Babo~ bukan lima belas." Yoongi mulai mengomel. "Setelah 43 itu lima puluh, tau! Bukan lima belas."

PARAH!

Rapmon dan Hyosang makin kelimpungan menahan diri mereka untuk tidak tertawa terbahak-bahak.

"Lima puluh?" Hoseok menelengkan kepala. "Jadi setelah 43 itu lima puluh?"

"Iya, karena setelah 4 itu 5!" dengan penuh percaya diri Yoongi menjelaskan.

"Oh, begitu~" dan diterima dengan polos oleh adik-adiknya.

KYEOWO PARAHH!

Rapmon dan Hyosang rasanya seperti mau mati menahan diri mereka untuk tetap tenang layaknya orang dewasa yang tahu aturan. Sementara Seokjin yang mengetahui hal tersebut hanya dapat tersenyum.

-o-

"Yey yey! Ayunan ayunan! Yey yey!" Hoseok bersorak riang ketika ayahnya bilang kalau pembacaan doa sudah selesai dan mereka bisa keluar dari ruang utama ziarah kuil menuju beranda maupun halaman.

"Hati-hati, Hobie. Jalan kaki saja," tegur Rapmon tersenyum melihat betapa bersemangat putranya berlari dan melompat-lompat di beranda.

"Papa, sepatu Hobie mana?" tanya Hoseok, celingukan mencari sepasang sepatu mungil yang seingatnya ia lepas di sekitar tangga naik ke beranda kuil.

"Sepatunya hilang?" sahut Yoongi membuat adiknya terkejut.

"Hilang!? Sepatu Hobie hilang?" wajah Hoseok langsung memerah.

"Sepatu Joonie juga tidak ada," celetuk Namjoon yang baru datang.

"Papa, sepatu Hobie hilang!" Hoseok berlari mengadu, menubruk kaki panjang Rapmon dengan wajah hampir menangis.

"No no no. That's impossible," Rapmon menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. "Coba tanya pada Paman pendeta sepatu kalian ada dimana."

Bersamaan para bocah terkejut. Jadi, yang mengambil sepatu mereka adalah Paman pendeta?

"Karena sepatu kalian sangat lucu, kami menyimpannya ke dalam rak ini," jawab salah satu pendeta setelah Yoongi memberanikan diri bertanya tentang sepatunya. Dia menunjuk sebuah rak sepatu yang sebenarnya diletakkan bersisian dengan pintu masuk ke ruang utama kuil namun mungkin tidak terlihat oleh anak-anak karena mereka terlalu fokus pada kegembiraannya bermain.

"Jadi sepatu Hobie tidak hilang?" tanya Hoseok, senyuman lebar kembali merekah di wajah lucunya.

"Tentu saja tidak," jawab pendeta ramah.

"Cepatu Chimin..." Jimin berjinjit di ujung jari kakinya dan mengulurkan tangan setinggi mungkin untuk bisa meraih sepasang sepatu kuning yang diletakkan pada kotak lebih tinggi ketimbang tempat sepatu saudara-saudaranya yang lain berada. Namun sekeras apapun dia berusaha menggapai rak itu, tangan mungilnya tetap tidak dapat menyentuh sepatu kuningnya sedikit pun.

"Cepatu..." Jimin putus asa, memandang sedih pada sepatunya dan sepasang mata kecil tersebut mulai berkaca-kaca.

"Kau perlu bantuan, Jagoan kecil?" suara Hyosang menggema dari arah belakang, dengan mudah dia mengambil sepatu Jimin dan menyerahkannya pada pemiliknya.

"Paman Hyo!" Jimin bersorak.

"Cepat dipakai ya, kau sudah ditinggalkan kakak-kakakmu." Dengan sayang Hyosang mengusap kepala bulat keponakannya.

"Jangan sampai tertukar kanan dan kiri, Jimin-ah," pesan sang Paman dibalas 'hu-um' riang Jimin namun pada akhirnya tetap saja Hyosang melepas lagi sepatu yang sudah dipakai Jimin karena keliru bagian kanan berada di kaki kiri dan bagian kiri dipakai di kaki kanan.

.

"Pegangan yang kuat, Hobie," ujar Rapmon sambil mendorong pelan punggung anaknya yang tengah duduk di atas ayunan setinggi hampir satu meter dari permukaan tanah. Sebenarnya terlalu berbahaya membiarkan anak sekecil Hoseok berayun di ketinggian begitu dan Rapmon berniat hanya akan menemani bermain sebentar saja sekedar untuk memenuhi rasa penasaran baru kemudian mengalihkan perhatian anak tersebut ke hal yang lainnya.

"Yang keras, Papa! Yang tinggi!" Hoseok berseru penuh semangat. "Waaa! Ayunan!" dia sangat senang. Sementara tepat di sebelah kaki Rapmon sudah berdiri Namjoon dan Yoongi menunggu giliran untuk bermain, Taehyung dan Jimin lebih dulu berhasil diatasi Hyosang dengan mengajak mereka bermain bola bersama di halaman kuil.

.

"Ramainya~" desis Seokjin tersenyum mengawasi anak-anak, suami, dan adiknya bermain berseliweran di halaman kuil. "Maaf sudah membuat ramai begini, Pak pendeta."

"Tidak apa-apa, Nona. Malahan kami senang kalau suasananya hidup dan ceria begini. Terkadang kuil ini terasa terlalu tenang dan damai." Pendeta menjawab sambil tersenyum.

"Senang rasanya melihat Nona dan keluarga baik-baik saja. Tahun lalu dan di tahun sebelumnya Tuan Kim nampak kesepian datang ke sini hanya bersama Tuan Hyosang. Mereka pun tidak bisa berlama-lama sebab tidak tahu harus melakukan apa. Berdiam diri saja cuma membangkitkan nostalgia masa lalu tentang mendiang Nyonya Kim yang sering datang ke kuil ini bersama kalian untuk berdoa dan itu membuat mereka kembali sedih. Tapi di tahun ini suasananya jauh lebih ceria, saya sangat bersyukur."

"Terima kasih." Seokjin tersenyum. "Semoga saja keceriaan ini tidak berubah jadi merepotkan."

"Jin-ah, anakmu bangun." Mendadak suara berat ayah Seokjin terdengar menyela.

"Ah, iya," jawab Seokjin segera, setelah mengucapkan salam pada pendeta dia kembali ke dalam kuil dengan terburu-buru.

Di lantai kuil yang terbuat dari papan kayu mengkilat nampak Jungkook tengah menggeliat di atas selimut yang dibentangkan. Dia menguap beberapa kali dan menggosok mata dengan genggaman tangannya yang mungil. Bayi itu mengerjab, kembali menggeliat, dan membalikkan badan hingga tengkurap.

"Kookie~ kau sudah bangun?" Jungkook segera menoleh begitu mengenali suara yang menyapanya. Dia langsung tersenyum saat sosok ibunya terlihat.

"Ke sini. Ayo ke sini," pinta Seokjin sengaja membuat jarak dengan anak bungsunya dan tanpa perlu dibujuk dua kali si bayi segera menegakkan paha serta tangannya, bergerak merangkak untuk mendekati sang ibu yang menyambut dengan pelukan dan ciuman.

"Aigoo Kookie pintar~ Kookie kyeowo~" puji Seokjin gemas, menghujani bayi mungilnya dengan kecupan-kecupan sayang sementara Jungkook cuma terkekeh sambil mengulurkan tangan menepuk-nepuk pipi sang ibu.

"Abeoji, bisa tolong ambilkan kain menyusui di dalam tas?" pinta Seokjin pada ayahnya yang masih di dalam kuil, tadinya menemani cucu bungsu yang masih tertidur.

"Tas yang mana?" pria paruh baya nampak kebingungan. Maklum, sudah dua puluh tahun lebih sejak terakhir dia mengurus keperluan bayi seperti ini.

"Di tas biru. Kain yang punya kalung seperti celemek. Nah itu!" tunjuk Seokjin mengiyakan ketika ayahnya mengangkat sebuah lipatan kain berwarna merah muda. Wanita tersebut mengkalungkan ujung kain segi empat di leher dan membiarkan sisanya menutupi badan Jungkook sementara dia membuka pakaian untuk menyusui bayinya.

"Kau selalu memberikan ASI pada anakmu?" tanya ayah Seokjin diiyakan oleh putrinya.

"Eomma bilang ASI adalah hadiah terbaik yang bisa seorang ibu berikan pada anaknya. Jadi sebisa mungkin aku akan menyusui anak-anakku," ujar Seokjin.

"Lalu bagaimana dengan yang lain? Bukankah ada yang usianya terpaut cuma setahun? Itu berarti kau hanya sebentar menyusui mereka."

"Iya, sangat disayangkan. Hanya saja aku sudah memberikan susu formula terbaik untuk mereka dengan makanan sehat dan buah-buahan." Seokjin nyengir.

"Yang pasti kau harus bisa membagi waktu dengan baik. Mengurus anak sebanyak ini pasti tidak mudah, jangan sampai ada anakmu yang merasa tidak diperhatikan dan jatuhnya iri pada saudara sendiri. Itu akan jadi masalah sampai mereka dewasa."

Seokjin tersenyum. "Baik, Abeoji."

"WAAAH!" tiba-tiba terdengar seruan keras dari arah halaman mengagetkan Seokjin beserta ayahnya.

"Ada apa?" desis wanita itu cemas, perlahan bangkit berdiri dan beranjak menuju beranda masih dengan menggendong Jungkook di tangannya.

"Siapa yang melakukannya? Ngaku! Yoongi? Hobie? Joonie? Taetae? Chimchim?" tuding Hyosang marah dibalas gelengan para bocah yang namanya barusan dipanggil.

"Lalu kenapa bisa sampai begitu?" dia mencak-mencak.

"Tadi... tadi belgelak sendili—" Hoseok mencoba menjelaskan.

"Menggelinding~nding~nding~nding~ dan pyuk! Jatuh." Penjelasan Namjoon begitu menggemaskan sampai membuat Hyosang nyaris tertawa melupakan akting kesalnya namun beruntung dia tidak kelepasan.

"Mana mungkin bola cuma menggelinding~nding~nding~nding~ dan pyuk! Lalu bisa jatuh ke kolam begitu saja." Hyosang menunjuk bola karet yang mengambang di tengah-tengah kolam ikan berdiameter nyaris dua meteran. "Kalau sudah begini bagaimana cara kita mengambilnya coba?"

"Hmph!" Yoongi mendadak kesal. "Kalau mau diambil ya tinggal diambil!" ujarnya klise, berbalik menuju kolam.

"Tidak, Yoongi—" Rapmon beranjak hendak meraih anaknya.

"Sebentar—" Hyosang mencoba menghentikan.

"Eh?" dan Seokjin hanya bisa melihat—byur! Bagaimana anaknya masuk ke dalam kolam begitu saja masih lengkap memakai seluruh baju serta sepatunya (untung kolamnya sangat dangkal, cuma sebokong Yoongi).

Yoongi mencoba berjalan di permukaan kolam yang sudah dilapisi oleh bebatuan menuju ke tempat dimana bola karet mainannya berada. Dia menyingkirkan tanaman teratai dan tumbuhan rambat yang menghalangi jalannya, terus melangkah tanpa takut ke tengah kolam hingga—sret, sebuah akar tanaman membelit kakinya dari bawah air dan membuat tubuh mungil tersebut jatuh tercebur sepenuhnya di antara ikan-ikan.

"Selesai sudah..." Hyosang menepuk keningnya melihat Yoongi terduduk kebingungan di tengah kolam dengan badan basah kuyup.

"Mereka tidak membawa baju ganti sama sekali." Seokjin mendesis kecut.

"Astagaaa..." Rapmon terpuruk.

"Hyunim (Hyungnim), tidak apa-apa?" tanya Hoseok dari tepi kolam.

"Hyunim jatuh? Hyunim luka?" sambung Namjoon.

"Tidak apa-apa, aku tidak terluka," jawab Yoongi bangkit berdiri. Dia memasukkan tangan ke dalam air, mengobok-obok air kolam mencoba melepaskan akar tanaman yang membelit kakinya. "Kakiku tidak bisa lepas," ujarnya.

"Hobie bantu!"

"Joonie bantu juga!"

"JANGAN—"

Byur!

Terlambat bagi Rapmon dan Hyosang menahan kedua bocah tersebut, mereka sudah lebih dulu menceburkan diri ke dalam kolam dan mendekati Yoongi.

"Kakinya kena apa?" tanya Namjoon, berjongkok di dekat kakaknya.

"Ada yang memegang kakiku," jawab Yoongi.

"Memegang? Ikan?" tanya Hoseok polos.

"Eum. Sepertinya dipegang ikan," angguk sang kakak tertua sama polosnya.

"Yah, ikan~ jangan memegang kaki Hyunim (Hyungnim)! Hyunim mau mengambil bola!" Namjoon memukul-mukul permukaan air.

"Belum lepas." Yoongi mencoba menarik kakinya yang masih tersangkut akar tanaman.

"Mungkin ikannya tenggelam," ujar Hoseok. Dengan sukarela memasukkan tangan yang sedang memakai baju lengan panjang ke dalam air. Dia meraba kaki kakaknya.

"Hihihi geli. Hobie, geli!" Yoongi terkikik.

"Ikannya bikin geli?" Hoseok tidak mengerti.

"Sepertinya ikannya juga ingin lepas dari kakiku," kata Yoongi.

"Kalau begitu kita lepas ikannya belsama-sama. Dan melepas kaki Hyun (Hyung) belsama-sama," ajak Hoseok.

"Iya. Ayo, kita lepaskan!" sahut Namjoon, ikut memasukkan tangan ke dalam air dan mengobok-obok di sekitar kaki kakaknya yang tidak dapat bergerak.

Sementara itu, Rapmon dan Hyosang segera membungkukkan badan berkali-kali pada pendeta terdekat untuk minta maaf karena tidak dapat menahan anak-anak mereka masuk dan mengacak-acak kolam ikan.

"Maafkan kami, Pak pendeta. Maafkan kami. Sungguh, kami minta maaf." Kedua pria itu bergantian membungkukkan badan.

"Yun, beyum ceyecai? (Hyung, belum selesai?)" teriak Jimin yang mulai bosan menunggu di pinggir kolam.

"Belum! Ikannya belum melepaskan kaki Hyunim!" jawab Hoseok dengan wajah serius.

"Eeeh!? Yunim dikikit ican!? (Hyungnim digigit ikan!?)" Jimin berseru kaget.

"Iya! Ikannya buesaaall! Kaki Hyunim tidak bisa lepas!" Hoseok melebih-lebihkan.

"EEHH!? Yunim (Hyungnim) idak apa-apa!?" Jimin makin terkejut.

"Mungkin kakiku bisa lepas!" jawab Yoongi ambigu.

"EEEEHHH!? YEPAS (LEPAS)!?" Jimin tidak karuan. "Aki Yunim ayo yepat dimana!? Yunim idak bica jayan! (Kaki Hyungnim kalau lepas gimana!? Hyungnim tidak bisa jalan!)" muka Jimin sudah memerah.

"Wah!" Taehyung yang sedari tadi berada di sebelah saudara kembarnya mendadak menunjuk sesuatu di kolam. "Timin! Itu!" dia berseru, mengalihkan perhatian Jimin dari tragedi kaki Yoongi yang belum selesai.

"Apa, Taetae?" tanya Jimin heran.

"Itu! Ada odok (kodok)!" mata Taehyung berbinar.

"Odok (Kodok)?" mata Jimin ikut membulat.

"Tokat! Wanana tokat! (Coklat! Warnanya coklat!)" Taehyung nampak senang sekali, tanpa pikir panjang dia segera turun ke dalam kolam.

"Cokat? Chimin mau ayo cokat! (Coklat? Jimin mau kalau coklat!)" Jimin ikut merosot masuk ke kolam mengikuti saudara kembarnya, dia langsung terpeselet membuat seluruh badannya basah kuyup namun bocah itu segera bangkit dan berjalan menyusul Taehyung.

"Waaah, cokat! Ada odok cokat! (Waaah, coklat! Ada kodok coklat!)" mata Jimin berbinar melihat seekor katak mungil tengah duduk manis damai tentram bahagia sejahtera di atas salah satu daun teratai tanpa mempedulikan anak-anak manusia yang sedang heboh di sekitarnya.

"Timin! Ada yan betan di tana! (Jimin! Ada yang besar di sana!)" Taehyung bersorak girang.

"Mana? Mana? Angkap, Taetae! Angkap! (Tangkap, Taetae! Tangkap!)" ujar Jimin bersemangat.

"Kalian kenapa malah mencali kodok?" Hoseok mengomel. "Bantu Hyunim (Hyungnim) dulu!"

"Hobie, ada kodok besal di belakangmu," tunjuk Namjoon.

Hoseok langsung menoleh cepat. "Mana!? Joonie, TANGKAP!"

Sementara itu, Rapmon dan Hyosang sudah berganti posisi menjadi berlutut serta bersujud meminta maaf berkali-kali.

"Maafkan kami, Pak pendeta. Kami benar-benar minta maaf. Maaf. Maafkan kamiii. MAAAAAFFFFF!"

.

Dari beranda kuil Seokjin hanya memperhatikan sambil tersenyum kecut. "Ya ampun, mereka tidak bawa baju ganti."

-TBC-


Beri review tergemas kalian XD