Akhir kisah Rapmon dengan Mertuanya yang galak.
#namjin #monjin #bts #gs #t
Baby Baby!
9-end
"Papa, ikannya besar? Yang menggigit kakiku," tanya Yoongi sambil memperhatikan Rapmon memasukkan tangan ke dalam air, melepas jeratan akar tanaman yang membelit kaki balita itu.
Pada akhirnya Rapmon berhasil mendapat ijin dari pendeta kuil untuk mengurus kelima anaknya—mereka memang seharusnya segera ditiriskan dari dalam kolam sebelum membuat air semakin keruh dan kotor—sementara Hyosang bertugas mencarikan bocah-bocah tersebut baju ganti—pendeta bilang ada beberapa baju ukuran kecil bekas anak-anak yatim piatu yang pernah tinggal di kuil—dan Seokjin, selesainya menyusui Jungkook langsung mengambil selang panjang dari gudang untuk dipasang di kran guna memandikan kelima buah hatinya.
"It isn't a fish," jawab Rapmon sabar, memutus satu per satu akar di sekitar betis mungil Yoongi seraya beberapa kali mengedarkan pandangan untuk mengecek posisi anak-anaknya yang lain. Hoseok dan Namjoon masih asyik mencari kodok sementara Taehyung yang sudah mendapat seekor kodok besar sedang mengayun-ayunkan binatang tersebut di udara, berimajinasi kodoknya adalah pahlawan superhero yang terbang di langit—dalam hati Rapmon merasa sangat bersalah pada hewan tak berdosa itu karena harus rela berpusing-pusing menjadi mainan putra aktifnya—dan yang terakhir Jimin, dia tengah jongkok menenggelamkan popoknya memperhatikan katak kecil di atas daun teratai dengan sorot mata serius.
Yahh, setidaknya semua anaknya masih dalam status aman, Rapmon menghela napas panjang.
"Yup, selesai!" pria itu menarik akar terakhir dari kaki Yoongi. "Look, ini yang memegangi kakimu barusan." Dia menunjukkan benda panjang menggantung di tangannya.
"Waaah~" sepasang mata Yoongi berbinar memandang sesuatu yang baru pertama kali ia lihat. Dia tak menyangka kalau kakinya barusan dipegang benda sekeren itu. "Apa itu? Apa? Ular?" tunjuknya penasaran.
"Bukan." Rapmon mendekatkan akar pada Yoongi supaya jari-jari mungilnya dapat menyentuh sendiri benda panjang, coklat, dan licin tersebut.
"Ini akar bunga teratai."
"Akar bunga?" ulang Yoongi, merasa tidak percaya jika ada akar tumbuhan di air. Setahunya tumbuhan cuma hidup di tanah dan akarnya tidak pernah terlihat. Ah, Yoongi pernah melihat yang namanya 'akar pohon' itu satu kali waktu Taehyung mencabut salah satu tanaman hias di apartemen mereka untuk dimakan bunganya.
"Yup, akar bunga teratai. Tidak seperti bunga yang lain, teratai tidak tumbuh di tanah. Dia tumbuh di air. Seperti itu, can you see it? That's lotus." Rapmon menunjuk sebuah bunga teratai yang berada tak jauh dari mereka. Dia menuntun tangan putranya berjalan di air mendekati bunga merah muda tersebut.
"Bunganya tidak punya tanah?" Yoongi mendongak memandang sang ayah, masih tidak percaya jika ada tanaman yang tidak butuh tanah untuk tumbuh.
"Nope. There's no soil under it. Tidak ada tanah di bawahnya. Pegang saja." Rapmon meraih tangan kecil putra sulungnya untuk dibawa kembali masuk air, bersama mereka meraba bagian bawah daun lebar teratai hingga menemukan tonjolan batang.
"Oh!" kembali mata Yoongi membulat lucu, menyadari hal baru yang benar-benar menarik baginya. Dia mengikuti tangan besar Rapmon menelusuri batang teratai hingga sampai di dasar tanamannya. Balita tersebut meraba-raba pangkal teratai dan dapat merasakan ada sulur-sulur akar merambat panjang, di beberapa bagian juga terasa ada akar menggerombol tebal sampai ke dasar kolam, akar-akar itulah yang barusan membuatnya tersandung lalu menjebak kakinya.
"Ada..." desis Yoongi masih merabai dasar kolam, berjongkok, membuat badannya tenggelam di air sampai batas pundak sedangkan di sebelahnya Rapmon sudah kembali berdiri, tersenyum sambil menunduk memperhatikan si balita yang nampak antusias membayangkan bentuk batang dan akar teratai yang belum pernah dia lihat sama sekali.
"Hyung!" teriakan Hyosang membuat pria tinggi tersebut menoleh. Dia menemukan adik iparnya sedang melambaikan beberapa potong baju kecil dan tak jauh dari tempat ia berada Seokjin sudah siap dengan selang air di tangan.
"Yosh, gentlemen!" panggil Rapmon dibalas lima kepala kecil menoleh bersamaan. "Let's take a bath!"
"Anak-anak, lihat!" giliran suara Seokjin mengalun lantang. "Mama punya pelangi!" wanita itu menyemprotkan selang ke atas membuat air bersih menyembur dan menciptakan pelangi, menjadikan mata bundar anak-anaknya bersinar seketika.
"Pelangi! Pelangi!" sorak Hoseok semangat. Setengah berlari dia menuju tepi kolam, menggunakan sepasang tangan kecilnya untuk membantu sisa tubuh naik ke daratan. Bocah tersebut berusaha berdiri, berlari sekencang mungkin ke tempat sang ibu dengan bokong menggembung seksi akibat popok yang mengembang penuh berisi air. Di belakang Hoseok menyusul Namjoon dan Taehyung yang tidak lupa membawa kodoknya, lalu Jimin yang menangis karena tidak bisa naik dari kolam hingga Hyosang harus turun tangan membantu bocah gembil tersebut. Yoongi yang paling terakhir bergabung bersama dengan Rapmon yang ikut keluar kolam.
"Airnya segar 'kan?" Seokjin tergelak memandang anak-anaknya begitu senang berada di bawah guyuran air dari selang, dia menyemprot bergantian kelima bocah tersebut untuk membersihkan lumpur dari rambut, kulit, dan pakaian mereka.
"Odokna tuda, Mama! Odok! (Kodoknya juga, Mama! Kodok!)" Taehyung tiba-tiba menyodorkan kodok besar yang dia pegang membuat ibunya menjerit kaget.
"O-oh, Taetae mau memandikan kodoknya juga?" tanya Seokjin sambil mundur satu langkah menghindari hewan amfibi yang terlihat menggelikan itu meski dengan semangat putranya menganggukkan kepala.
"Odok!" Taehyung mendekati Seokjin lagi namun di saat bersamaan ibunya kembali melompat mundur.
"Jangan bawa kodok itu ke sini...please..." iba Seokjin pelan.
"Ahahaha!" terdengar suara tawa riang Jungkook yang memperhatikan dari pinggir kuil, di pangkuan ayah Seokjin.
"Kuki! Odok! Odok betan! (Kookie! Kodok! Kodok besar!)" Taehyung berlari memamerkan kodok hasil tangkapannya pada sang adik yang membulatkan mata takjub. Jungkook menjerit senang, mengulurkan tangan mencoba memegang benda di tangan kakaknya namun dihalangi oleh ayah Seokjin.
"Jangan, itu kotor," ujar pria paruh baya tersebut.
"Auwauwauwa!" Jungkook mengoceh, memberontak di pangkuan ayah Seokjin dan memaksa untuk bersama Taehyung.
"Tidak boleh. Di sana kotor. Kau di sini saja." Kembali sang kakek melarang. Namun bukan Jungkook namanya jika mau menurut begitu saja, bayi itu tetap menggeliat berusaha lepas dari pelukan di badannya hingga muka mungilnya memerah.
"Uuh..." Jungkook berada di ambang batas. "HUWAAA!" akhirnya dia menangis keras sementara ayah Seokjin hanya dapat terkejut kelabakan.
"Huwaaa! Huwaaa!" Jungkook menjerit sambil menyentakkan kedua kaki serta tangannya. Bayi tersebut mengamuk dan semakin sang kakek memeluk untuk membuatnya diam, makin dia memberontak tak terkendali.
"Abeoji, berikan dia padaku," pinta Rapmon meraih tangan bayinya dari pelukan ayah Seokjin lalu menggendongnya dengan satu lengan.
"KODOK, Kookie! Lihat, Taetae Hyung punya kodok yang besaaar!" Rapmon mengalihkan perhatian anak bungsunya dengan menunjuk pada Taehyung. Jungkook yang secara ajaib langsung berhenti menangis mengikuti arah lengan ayahnya. Bayi tersebut mengulurkan tangan searah dengan tangan ayahnya.
"Auwaa..." ujarnya seolah minta didekatkan pada Taehyung.
"Kau ingin melihat kodok Hyungnim? Tapi cuma lihat lho ya, tidak boleh macam-macam," kata Rapmon mendapat balasan sebuah anggukan kecil dari si bungsu seolah bayi tujuh bulan itu mengerti ucapan ayahnya.
"Apa kau akan mendekatkan dia pada barang kotor?" tanya ayah Seokjin setengah menghardik. "Kau bisa membuatnya sakit!"
Rapmon tersenyum. "Jungkook tidak akan sakit hanya karena melihat kodok, Abeoji."
"Kodok itu kotor dan penuh bakteri. Lihat saja kulitnya berkutil! Jungkook masih bayi, dia masih rentan dengan penyakit. Kulitnya bisa gatal-gatal kalau terkena kodok!" ayah Seokjin bersikeras, putrinya yang memandang percakapan tersebut dari jauh hanya dapat bergantian menatap khawatir pada ayah serta suaminya.
Kedua orang itu memang tak pernah akur dari sejak Seokjin mengenal Rapmon yang kala itu masih menjadi pembuat lagu freelance di salah satu cabang perusahaan musik milik sang ayah. Rapmon dan Seokjin dipertemukan dalam dapur rekaman ketika gadis tersebut dipilih untuk menyanyikan sountrack drama yang digarap oleh Rapmon. Dulu, Seokjin adalah seorang super model yang beberapa kali menerima tawaran nyanyi di waktu senggang. Sang ayah yang ingin putrinya tersebut menjadi model dengan alasan sebagai seorang pebisnis dunia entertainment dia lebih banyak menghabiskan waktu di perusahaan dan kalau Seokjin mengambil pekerjaan lain di luar dunia hiburan dia tidak akan bisa mengawasi anak sulungnya dengan maksimal.
Sebagai seorang putri direktur yang dengan mudah debut menjadi super model tentu membuat Seokjin banyak mendapat cemoohan dari rekan seprofesi lain ataupun para artis asuhan ayahnya. Sejujurnya, posisi tersebut membuat Seokjin sangat tidak nyaman dan ia tak menampik jika selama menjadi super model dirinya tidak punya teman sama sekali. Rapmon adalah teman pertamanya.
Saat berkenalan dengan Rapmon, kesan yang diterima Seokjin ialah pria itu sangat jorok. Muka Rapmon lusuh, matanya dilingkari oleh warna hitam, dan rambut lebatnya acak-acakan. Dia juga memakai kaos yang penuh dengan bekas lipatan seolah ia langsung memakainya dari mesin pengering tanpa sempat menyetrika. Meski Seokjin sempat mengagumi suara berat Rapmon ketika menyapanya tanpa senyum, rasa kagum tersebut seketika sirna begitu ia membuatnya mengulang rekaman sampai berkali-kali.
"Can't you do singing?" tanya Rapmon kala itu dengan wajah kucel yang nampak makin kusut karena kesal. "Even ma' cat can hit the tones better than you!"
"Nadanya terlalu tinggi. Tipe suaraku falsetto, aku tidak bisa dengan nada ini—" Seokjin mencoba membela diri namun segera dipotong oleh pria yang sedang lelah.
"Jangan beralasan! Kalau kau memang tidak bisa menyanyi, jangan mencari alasan!"
Seokjin diam, memalingkan pandangan dari Rapmon dengan tarikan napas kasar. Bagaimana bisa dia tidak tersinggung menerima kalimat barusan.
"Rapmon-ssi, mungkin anda bisa memberi kesempatan pada Nona Jin untuk mempelajari dulu lagu ini," bujuk manager Seokjin melanjutkan berbisik di telinga Rapmon. "Jangan terlalu keras padanya, dia putri direktur."
"Lalu kenapa kalau dia putri direktur!?" sentak Rapmon keras. "Aku tidak butuh putri direktur, aku butuh penyanyi yang bisa menyanyikan laguku!"
Grak! Seokjin berdiri habis kesabaran. "Kalau kau memang tidak menyukainya, cari saja orang lain! Aku juga tidak mau menyanyikan lagu jelek ini!" lalu dia berbalik, meninggalkan studio tanpa menoleh lagi.
Beberapa hari setelah insiden itu Seokjin menemukan lagu Rapmon tersebut sudah rilis di situs musik online, dinyanyikan seorang penyanyi ballad yang memang biasa mengisi soundtrack drama. Ada kesal di hati Seokjin sekaligus rasa kecewa, sebab sebenarnya dia sangat ingin menyanyikan lagu tersebut.
"Princess," sebuah suara berat menghentikan langkah Seokjin ketika baru keluar dari kantor direktur, ayahnya. Gadis itu menoleh dan langsung cemberut melihat Rapmon berdiri di koridor memandangnya.
"Do you have time? I wanna disscuss something."
"No," jawab Seokjin cepat dan membalikkan badan.
"I'll give you parfait."
"OK." Seokjin langsung berbalik lagi dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
"Maaf karena sudah mengatakan hal kasar tempo hari," ujar Rapmon di hadapan gadis yang sedang riang menyendok es krim campur puding. "Tidak seharusnya aku melakukan itu."
"Kau minta maaf karena benar-benar merasa bersalah atau karena aku putri direktur?" tanya Seokjin.
"Meski kau bukan putri direktur aku tetap akan minta maaf. Aku sadar sikapku sangat tidak pantas."
Gadis bermata bundar terdiam beberapa saat. Dia meletakkan sendok di gelas parfait-nya dan memandang Rapmon.
"Aku juga," Seokjin menggaruk sebelah pipi. "Maaf karena sudah menyebut lagumu jelek." Dia mencicit pelan.
"Sebenarnya lagumu sangat bagus. Waktu aku mendengar rekaman demonya aku benar-benar ingin bisa menyanyikannya meski tahu the high note will really kill me. Tapi aku benar-benar ingin melakukannya." Gadis berambut panjang menunduk sedih.
"Kau mau mencoba menyanyikannya lagi?" tanya Rapmon tiba-tiba langsung membuat kepala Seokjin tegak.
"Serius? Kau bertanya bukan untuk membuatku senang saja 'kan?"
Pria yang lebih muda menggeleng. "Lagu itu booming dan pihak drama memintaku untuk membuat versi akustiknya. Tapi tipe suara penyanyinya yang sekarang terlalu tinggi untuk akustik. Setelah memikirkannya cukup lama aku teringat padamu namun aku belum bisa memastikan kalau kau tidak mencobanya lebih dulu."
"Aku mau!" sahut Seokjin cepat. "Aku mau melakukannya! Gunakan aku!"
"Oke, aku akan menghubungi manager-mu untuk mengatur jadwal." Rapmon tersenyum, pertama kalinya dia menunjukkan wajah ramahnya pada Seokjin namun langsung berhasil membuat gadis tersebut merona merah muda.
Rapmon mengontrak Seokjin untuk menyanyikan lagunya walau sebelum rekaman dia harus menjalani latihan terlebih dulu guna memaksimalkan suara. Dari seringnya bertemu untuk latihan, percobaan rekaman, bersama-sama menggubah komposisi lagu sambil mengobrol santai menikmati secangkir kopi dan segelas parfait, perlahan-lahan tumbuh perasaan indah di antara kedua insan itu sampai akhirnya Rapmon memberanikan diri untuk melamar Seokjin, putri dari orang yang menjadi bos tertingginya.
Sudah pasti niat baik Rapmon mendapat penolakan keras dari ayah Seokjin mengingat pemuda itu dianggap belum memiliki kualifikasi mumpuni untuk dapat menghidupi anak orang lain. Rapmon hanya pencipta lagu freelance yang mengandalkan bayaran royalti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terlebih dia tidak punya hal mewah yang dapat dibanggakan dan biasa pergi ke kantor dengan naik bus. Pakaiannya pun asal-asalan, tidak ber-merk apalagi mengikuti trend. Mana mau ayah Seokjin menerimanya sebagai menantu walaupun tidak begitu dengan Hyosang yang langsung klop dengan Rapmon di momen pertama mereka berkenalan.
"Noona, dia Hyung yang cool! Aku mau kalau dia yang jadi kakak iparku!" ujar pemuda yang masih kuliah kedokteran tersebut membuat kakak perempuannya senang karena mendapat satu pendukung.
"Tapi Abeoji tetap tidak mau menerimanya. Aku harus bagaimana, Hyosang-ah?" keluh Seokjin.
Hyosang menjentikkan jari. "Pakai saja cara kuno." Kedua matanya berbinar nakal.
"Abeoji tidak bisa melarangku menikah dengan Rapmon," ujar Seokjin ketika Rapmon datang ke rumah meminta restu direkturnya untuk kedua kali.
"Karena aku sedang hamil anak Rapmon." Dengan ringan gadis tersebut merangkul lengan kekasihnya yang melotot kaget sampai kedua matanya hampir copot, begitu pun dengan ayah Seokjin. Bagaimana mungkin super model itu bisa hamil padahal yang mereka lakukan cuma berciuman. Sejak kapan ciuman bisa membuat orang hamil?
Lebih parah dari itu, wajah murka ayah Seokjin setelah mendengar pengakuan anaknya menjadi satu dari sekian mimpi buruk yang tidak pernah dapat Rapmon lupakan seumur hidup.
"KIM RAPMON!" teriakan menggelegar tersebut sudah serupa sangkakala hari kiamat bagi seorang Kim Rapmon.
Setelah berhasil mendapat restu ayah Seokjin, Rapmon memboyong calon istrinya ke Amerika untuk ganti bertemu dengan kedua orang tuanya yang begitu carefree menyambut sang calon menantu. Ternyata Rapmon merupakan anak bungsu dari empat bersaudara yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Kakak tertuanya pasangan kembar yang masing-masing bekerja di perusahaan furnitur dan menjadi produser musik sama seperti Rapmon. Kakak keduanya produser juga sekaligus bagian event organizer yang biasa meng-handle concert tour dan sangat jarang berada di rumah. Ketiga kakaknya sudah menikah yang mana semua saudara ipar pria tersebut ternyata adalah orang Korea.
"Kami ingin menjaga kemurnian darah Asia Timur di keluarga ini, jadi kami menekankan ke semua anggota keluarga untuk mencari pendamping cuma dari Korea," ujar ibu Rapmon, seorang wanita paruh baya berambut cepak namun memiliki mata serta senyuman hangat yang mengingatkan Seokjin pada mendiang ibunya.
"Hei, hei, benarkah kau sudah hamil? Berapa bulan? Kapan bayinya lahir?" buru saudara ipar yang merupakan istri dari kakak kedua Rapmon, ia seorang wanita mungil yang ceria. Menurut Rapmon, memang hampir semua kakak iparnya orang yang periang, dia juga mengaku kalau dirinya beserta saudara-saudaranya termasuk golongan orang suram dan pemurung yang mana memang lebih menyukai wanita ceria untuk memberikan warna pada kehidupan abu-abu mereka.
"Anu, sebenarnya itu bohong." Seokjin menunduk malu.
"Heee!?" hampir semua telinga yang ada terkejut mendengarnya.
"Ayahku sangat keras kepala dan tidak mau menerima Rapmon, kalau aku tidak bilang aku sudah hamil nanti beliau akan terus menolak pernikahan kami." Dia menjelaskan.
"Wah, sepertinya besan kita kali ini agak sulit, ya," desis ibu Rapmon.
"Mommy, semangat! Hadapi Pak Besan dengan semangat!" saudara ipar Rapmon bersorak membuat Seokjin tergelak.
"Rapmon terlihat seperti orang murung yang tidak punya kebahagiaan di kantor, tapi tak ku sangka dia tumbuh di keluarga menyenangkan begini," ujar gadis berbibir chubby.
"Ini belum seberapa." Saudara ipar Rapmon nyengir. "Tunggu sampai si Kembar dan Jiho bergabung, kau akan melihat perwujudan 'kapal pecah' yang sebenarnya."
Kembali Seokjin tertawa. "Aku menunggunya."
"Oh my~ our Seokjinie is so cute~" puji ibu Rapmon.
Pernikahan sederhana dilaksanakan hanya dua minggu setelahnya dengan mengundang kerabat, beberapa teman dekat, dan awak media yang sudah akrab. Ayah Seokjin yang bersikeras mempercepat upacaranya sebelum usia kandungan putrinya bertambah dan perubahan perutnya terlihat oleh media. Orang-orang yang mengetahui kebenaran di balik kebohongan tersebut cuma bisa diam sambil menahan tawa cekikikan. Setelah menikah, Seokjin masih beberapa kali menerima tawaran pemotretan dan wawancara. Dia bahkan menjadi brand ambassador produk fashion terkenal.
Namun layaknya semua kebohongan yang tidak disukai oleh Tuhan apalagi jika berbohong pada orang tua, Seokjin pun segera mendapat hukuman (atau tidak?). Hanya berselang dua bulan setelah menikah Seokjin benar-benar positif hamil anak pertamanya, Yoongi. Setelah hamil, Rapmon tegas melarang istrinya untuk pergi bekerja begitu pun dengan mertuanya yang langsung meng-cut seluruh kegiatan sang super model. Untuk pertama kali, kedua orang yang bagaikan anjing dan kucing tersebut bisa sehati sepemikiran.
Kehamilan pertama bagi Seokjin, sejujurnya, sangat berat. Dia terus-menerus muntah dan tidak napsu makan sampai badannya lemas nyaris dehidrasi. Hanya buah-buahan dan roti gandum yang dapat ia telan, itupun kalau baunya menyengat akan langsung membuat Seokjin mual. Beruntung setelah melewati trisemester pertama sensitivitas wanita tersebut mulai menurun dan dia berubah menjadi seorang yang doyan makan. Nasi, sayur, daging, susu, semuanya ia lahap, bisa dibilang mulut Seokjin tak pernah terlihat berhenti mengunyah.
Masalah kembali muncul ketika usia kandungan sampai di angka delapan. Seokjin kena sakit pinggang parah dengan tumit membiru akibat tidak terbiasa menahan beban bayi yang membuatnya menggunakan kursi roda, sampai orang-orang di sekitarnya khawatir akan bagaimana gadis itu nanti melahirkan jika waktu hamil saja sudah menghadapi banyak masalah.
Persalinan tidak semenakutkan perkiraan Seokjin. Rasa sakitnya memang melebihi dugaan namun dokter bilang jika persalinannya masih terbilang lancar. Yoongi lahir dalam keadaan sehat, tangisannya kencang, rambutnya hitam tebal dan matanya kecil seperti Rapmon namun punya kulit pucat mirip ibunya. Yoongi adalah pengalaman pertama Seokjin hamil serta melahirkan, meski kemudian dia kembali mengalaminya beberapa kali namun kenangannya bersama Yoongi tetap menjadi yang paling berharga.
Dari semua pengalaman hamil dan bersalin Seokjin bisa membandingkan. Yoongi adalah yang paling sulit karena dia yang pertama. Hoseok dan Namjoon adalah kehamilan favorit Seokjin sebab mereka berdua sangat kalem, sang ibu bahkan tidak sadar dirinya hamil lagi sebelum merasa aneh dengan siklus haid yang berhenti diikuti kondisi perut yang semakin buncit. Seokjin juga merasa selalu bahagia ketika mengandung si kembar pertama, semua hal membuatnya tertawa dan entah kenapa dia jadi suka mericuhi Rapmon, memintanya untuk membacakan buku-buku sains aneh yang bahkan suaminya sendiri tidak mengerti. Terlebih Seokjin hanya mau Rapmon yang membacakan buku itu walaupun adiknya—Hyosang—merupakan sarjana kedokteran.
Masalah kembali muncul ketika sang mantan super model mengandung anak ketiganya, si kembar Taehyung dan Jimin. Seokjin jadi sangat sentitif, bukan di penciuman seperti ketika dia hamil Yoongi, melainkan dia jadi lebih perasa. Seokjin berubah cengeng. Hal kecil bisa membuatnya menangis, menuntut Rapmon untuk super hati-hati dalam setiap tindakan dan perkataan. Mungkin itu jugalah yang kemudian menurun pada Jimin hingga membuatnya bisa jadi secengeng sekarang.
Saat mengandung, Seokjin juga sering melamun, menyeletuk aneh yang membuat suaminya mengerutkan kening. Sebagai contoh, di hari hujan tiba-tiba saja wanita itu akan bertanya, "Kenapa kalau rasa coklat itu disebut coklat, rasa greentea disebut greentea, rasa stroberi disebut stroberi, tapi rasa sayuran bukan disebut rasa daun?" Bagaimana Rapmon bisa menjawabnya?
Tantangan kehamilan Taehyung dan Jimin bukan menjadi yang terakhir karena masih ada Jungkook dan menurut Rapmon, kondisi istrinya sewaktu mengandung si maknae adalah yang paling parah dari sebelum-sebelumnya. Seokjin berubah menjadi singa betina ketika awal-awal hamil Jungkook. Dia sangat sensitif, hal kecil dapat membuatnya marah. Tak ada lagi sosok istri penyabar pada dirinya. Dia sering kesal dan marah sampai menangis pada Rapmon—HANYA pada Rapmon!—dia juga sering memukuli pria tersebut tanpa alasan jelas. Namun untungnya kondisi itu hanya berlangsung selama beberapa bulan pertama, ketika perut Seokjin semakin besar dia mulai kembali pada watak aslinya yang riang dan manis sehingga suaminya dapat menghembuskan napas lega.
"Kita sudahi saja," pinta pria itu ketika Seokjin sedang menyuapi Yoongi makan siang. "Kau jangan hamil lagi. Setelah anak itu lahir kau langsung pasang spiral. Aku tidak sanggup kalau harus menghadapi bawaan bayi, aku bisa botak."
Mendengar keluhan suaminya, Seokjin cuma dapat tersenyum kecil.
Bagi Seokjin, Rapmon adalah seorang sosok suami bertanggung jawab dan ayah yang dapat dijadikan panutan oleh anak-anaknya. Dia harap ayahandanya bisa melihat hal tersebut lalu mulai menerimanya layaknya seorang menantu sebab biar bagaimanapun, ia tidak tega melihat suaminya terus-menerus bersitegang dan canggung bila bertemu sang ayah. Dia kasihan pada Rapmon yang selalu bertanya-tanya masih kurang apa dirinya sebagai seorang suami, menantu, dan ayah hingga mertuanya tetap bersikeras tidak mau mengakui keberadaannya.
Seperti sekarang, di mata ayah Seokjin semua tindak-tanduk Rapmon itu salah dan patut untuk dikritisi. Sedangkan di sisi lain Seokjin dan Hyosang yang melihat cuma bisa berharap jawaban Rapmon tidak semakin membuat ayah mereka murka.
"Kami bisa langsung memandikannya setelah memegang kodok." Rapmon berujar enteng, menurunkan Jungkook ke permukaan tanah, bayi itu menjerit senang dan langsung merentangkan lengan menyambut Taehyung yang berlari mendekatinya dengan kodok masih di tangan.
"Lagipula melihat Taehyung baik-baik saja, Jungkook pasti juga tidak apa-apa. Mereka 'kan kakak-adik, hehe." Pria bermata sipit nyengir garing, memandang mertuanya yang kemudian mendengus keras dan berjalan pergi meninggalkan Rapmon dengan jantungnya yang berpacu cepat, sudah mengira ayah Seokjin akan balik memarahinya habis-habisan walau ia sendiri tak yakin mertuanya akan tega mengamuk di hadapan cucu-cucunya sendiri.
Aku selamaaat... batin Rapmon separuh tidak percaya jika dirinya masih hidup di detik setelah berdebat dengan ayah Seokjin.
Hari ini hari keberuntunganku... aku masih hidup... terima kasih, Tuhan... Rapmon tidak berhenti mensyukuri dirinya sendiri sedangkan dari kejauhan Seokjin dan Hyosang ikut menghembuskan napas lega melihat pria tersebut tidak menjadi santapan siang ayah mereka.
"HYUNGNIIIM!" tiba-tiba Hyosang berteriak keras, berlari ke arah Yoongi yang tersentak kaget, dan ia langsung menyambar balita kecil itu tepat di kedua ketiaknya. Yoongi menjerit senang dibawa berayun-ayun di udara. Hyosang lantas kembali meletakkan keponakannya ke tanah dan menyingsingkan lengan kemeja.
"Lagi! Lagi! Terbang lagi!" Yoongi merentangkan kedua tangan tinggi-tinggi pada pamannya.
"Nanti," Hyosang menjentikkan jari. "Setelah kau mandi." pemuda itu melepas satu per satu pakaian—termasuk sepatu—yang menempel di badan Yoongi dengan cepat seolah dia sudah terbiasa.
"Kyaaa~ Hyungnim pornooo~ Hyungnim tidak pakai bajuuu~ kyaaa, Hyungnim andweee~" jerit Hyosang dengan nada kalimat ala fangirl membuat Yoongi tergelak sembari menutupi dadanya.
"Ayo sini, diguyur sama Mama." Hyosang menuntun si balita untuk mendekati ibunya yang langsung menyambut dengan siraman air selang.
"Hyungnim bisa mandi sendiri?" tanya Seokjin tersenyum melihat Yoongi yang langsung meraih botol berisi sabun bayi cair, salah satu barang wajib yang selalu dibawa ibunya ketika sedang bepergian membawa semua pasukan balita untuk berjaga-jaga kalau mereka mengotori tangan ataupun kaki.
"Hu-um." Yoongi mengangguk, mengusapkan cairan sabun dari telapak mungil tangannya ke permukaan perut, tangan, dan kaki. Sepasang lengan pendek si kecil masih tidak bisa menggapai bagian punggung. Beruntung Hyosang datang memberi bantuan, ia mengusap lembut seluruh kulit badan keponakannya termasuk di belakang telinga serta lipatan bokong. Dia juga membilas tubuh Yoongi dengan air dari selang yang masih dipegang Seokjin lantas begitu selesai diangkatnya si balita menuju teras kuil tempat Rapmon menunggu dengan handuk di tangan.
"Pakai baju sama Papa," ujar Hyosang meninggalkan Yoongi di tangan ayahnya. "Hobie, ayo mandi!" dia memanggil pelanggan kedua.
Taehyung masih bermain kodok bersama Jungkook saat namanya diteriakkan lantang oleh Hyosang. Bocah dua tahun itu menoleh sesaat lalu kembali asyik bermain sampai sang paman harus mendekat menjemputnya.
"Ayo mandi," ajak Hyosang seraya jongkok di samping Taehyung yang mengusap-usap kepala kodok.
"Odok, Aman (Kodok, Paman)." Taehyung memamerkan kodok yang entah kenapa juga mau-mau saja duduk tenang setelah dibuat mainan oleh dua orang balita.
"Kroook..." bahkan dengan santainya binatang tersebut mengorek membuat Jungkook memekik senang. Dengan takut-takut bayi itu mendekatkan tangan mungilnya ke kodok, ingin ikut mengusapnya seperti Taehyung.
"Kodoknya kelihatan lapar," ujar Hyosang. "Taehyungie lapar juga, tidak?"
"Taetae akan tama odok (Taetae makan sama kodok)," jawab Taehyung.
"Kira-kira kodok suka sosis tidak ya?"
Mendengar nama sosis disebut, kepala bulat Taehyung langsung menoleh cepat menatap Hyosang dengan kedua matanya yang berbinar.
"Mama punya sosis untuk makan siang." Pemuda itu melanjutkan, sudah mengira jika Taehyung pasti akan dengan mudah jatuh ke bujukannya.
"Totit! Taetae mau totit! Yey! (Sosis! Taetae mau sosis! Yey!)" sorak Taehyung, dengan instan melupakan teman kodok barunya dan berdiri mengikuti langkah Hyosang menuju Seokjin yang masih menunggu sabar memegangi selang.
"Kroook..." si kodok mengorek pelan ditinggal begitu saja oleh Taehyung, dia memutar badan menghadap Jungkook lalu hup! Dengan satu lompatan tinggi bertenggerlah ia di atas kepala si bayi yang hanya dapat bengong seraya menaikkan tangan merabai rambutnya sendiri.
"Kroook..."
"Chimchim, mandi~" Hyosang meraih Jimin usai membersihkan Taehyung dan membawanya berputar beberapa kali di udara sampai balita itu tertawa senang.
"Chimin andi (Chimin mandi)~" Jimin mengikuti perkataan Hyosang.
"Oke, Tuan. Saya akan melepas pakaian anda dan memberi servis terbaik untuk anda. Tolong jangan segan mengatakan keberatan atau jika servis kami kurang memuaskan," ujar Hyosang sembari melepas kaos Jimin melalui kepala dan melorotkan celana sekaligus popoknya.
"Andeee! (Andweee!)" mendadak Jimin menjerit seraya memegangi celananya. Sepasang mata Hyosang melotot kaget, pun dengan Seokjin.
"Ande! Ande!" Jimin berjalan mundur masih dengan memegangi celananya, membuat sepasang kaki pendek tersebut terjerat dan dia jatuh di tanah dengan bokong terlebih dulu.
"Huwaaa!" tangisan melengking keras tanpa dapat dicegah.
"Jimin-ah—" Seokjin beranjak mematikan kran dan meletakkan selang untuk meraih anaknya yang menangis di pelukan Hyosang.
"Cup cup cup~" wanita itu membuai Jimin sambil mengusap kedua pipi chubby-nya yang basah.
"Jimin mandi ya? Nanti kalau setelah mandi, sakitnya akan hilang. Syuh! Hilang tak berbekas," bujuk Seokjin.
"Andeee~" Jimin keukeuh menolak dan kembali menangis.
"Wae~" Seokjin heran. Tidak biasanya saudara kembar Taehyung itu menolak untuk mandi. Jimin termasuk yang paling senang menyambut waktu mandi karena dia dapat bermain air dan bebek karet sepuasnya.
"Oh, Jimin mau mandi sama bebek kuning? Yahh, bebeknya di rumah. Jimin mandi sendirian dulu ya kali ini?" Seokjin masih tidak menyerah.
"Andeee..." namun kembali anaknya menggelengkan kepala dengan tangan memegang kuat celana yang masih menggantung.
Hyosang menjentikkan jari. "Kau malu ya?" tebaknya. "Jimin-ah, apa kau malu telanjang di tempat umum?"
Jimin mengedipkan mata, tidak mengerti perkataan pamannya meski tak begitu dengan sang ibu.
"Aiguu, anak Mama sudah merasa malu melepas baju di depan orang lain?" Seokjin terkekeh. "Kalau begitu kita perlu dinding perlindungan." Dia menoleh pada Rapmon dan melambaikan tangannya.
Rapmon datang dengan membawa handuk lebar yang sebelumnya ia gunakan untuk mengeringkan saudara Jimin yang lain. Seokjin menurunkan anaknya di tanah dan kembali menyalakan kran, mendekatkan ujung selang pada Jimin sementara Rapmon sudah jongkok di dekatnya dengan handuk terbentang lebar.
"Papa sudah menutupimu, Chimchim. Ayo mandi! Mandi dengan cepat sebelum orang lain melihat! Ayoo!" Seokjin berseru pelan seolah mereka benar-benar sedang menjalankan misi super penting dan Jimin dengan polos jatuh dalam aktingnya. Balita itu langsung mengulurkan tangan mencari Hyosang.
"Aman. Andi. (Paman. Mandi)," pintanya dengan wajah tegang dan terburu-buru yang menggemaskan. Hyosang mengusapkan sabun di seluruh badan Jimin dengan secepat kilat dan Seokjin mengimbangi mengguyurkan air hanya dalam hitungan detik, terakhir Rapmon segera melingkarkan handuk ke tubuh mungil anaknya lantas mengangkatnya ke gendongan.
"Kyeowo—muach. Siapa yang mengajarimu begini kyeowo—muach. Hmm, siapa?" tanya sang ayah gregetan seraya menciumi pipi gembul Jimin sekeras-kerasnya.
"Akhirnya selesai juga," keluh Hyosang membawa punggungnya membusur hingga terdengar suara tulang berkeretak ramai. "Memandikan mereka seperti mencuci perkakas dapur. Bergantian. Selesai satu, ambil satu lagi."
Seokjin yang merapikan selang hanya menanggapi ucapan adik kandungnya dengan tawa kecil.
"Keberadaanmu benar-benar sangat membantu, Hyosang-ah. I'm truly thank you," ujar wanita tersebut tulus.
"Sama-sama, Noona. Karena mereka semua lucu, aku jadi tidak bisa menolaknya." Hyosang mengibaskan tangan. "Tinggal si bayi ya? Mana dia tadi? KOOKIE!" pemuda itu berbalik.
"Jungkook tidak kotor 'kan? Aku sudah merapikan selangnya," tanya Seokjin.
"Tidak. Dia cuma duduk bermain sama Taehyung. Mereka tidak ngapa-ngapain," jawab Hyosang lalu berjalan mendekati Jungkook yang sudah duduk sendirian tanpa terlihat ada kodok di dekatnya.
"Kookie, kau ditinggal si kodok? Mana kodokmu?" sapa Hyosang sambil meraih ketiak Jungkook dan memeluknya di gendongan. Pemuda tersebut meraba bagian punggung maknae yang terasa basah.
"Bajumu basah? Kau berkeringat?" tanya Hyosang, dituntun rasa curiga dia mendekatkan hidung ke punggung Jungkook dan keningnya langsung berkerut ketika sebuah bau aneh tercium.
"Kook-ah, kau kena air ini dimana?" Hyosang keheranan.
"Ada apa?" tanya Seokjin.
"Baju Kookie basah, baunya aneh sekali. Coba cium."
"Mama!" mendadak Taehyung menabrak kaki Seokjin. Baju kering sudah menutupi badannya dan popok baru sudah terpasang di celana meski sekarang telapak kaki kecilnya kembali kotor karena berlarian di halaman tanpa alas kaki.
"Odok Taetae?" Dia mencari kodoknya.
"Kodokmu sedang makan. Dia lapar," jawab Hyosang mengangkat Taehyung ke gendongan.
"Itu—" Taehyung menunjuk Jungkook yang sudah berpindah di pelukan Seokjin. "—pipit odok (pipis kodok)?" sepasang matanya lurus memandang baju si adik yang basah bagian belakang.
Hyosang dan Seokjin kompak tersentak, mereka seolah baru menemukan jawaban dan berdua saling bertukar pandangan lantas menghela napas panjang. Ternyata, pekerjaan mandi-memandikan belum selesai.
"Auwaa?" Jungkook menyeletuk.
-o-
Usai prosesi panjang membersihkan diri, akhirnya keenam bayi dengan orang tua dan Hyosang beserta ayahnya dapat menghadap meja makan juga. Seperti biasa Yoongi mendapat meja paling ujung, di sebelahnya ada Hoseok, Namjoon, Taehyung, Jungkook, dan yang menutup barisan adalah Jimin.
"Kau menjejerkan Hoseok dengan Namjoon, tapi kenapa tidak Taehyung dengan Jimin? Apa mereka sengaja dibedakan?" tanya ayah Seokjin heran melihat posisi makan cucunya yang seperti sudah di-setting dari lama, sebab begitu mereka dipanggil untuk makan siang baik yang tertua maupun yang termuda langsung memilih meja sendiri-sendiri tanpa rebutan.
"Kami sengaja melakukannya," jawab Seokjin menyuapkan makanan pendamping ASI pada Jungkook yang ikut lahap mengunyah memandang kelima kakaknya yang lain juga bersemangat makan. Tentu saja mereka kelaparan. Berlari dan bermain ke sana-sini pasti sudah sangat menguras tenaga bocah-bocah tersebut.
"Jimin punya kebiasaan buruk suka merebut makanan orang lain jadi dia harus dijejerkan dengan Jungkook karena makanan Jungkook tidak menarik perhatiannya. Sebaliknya, Yoongi dan Namjoon termasuk sulit makan jadi mereka duduk berdekatan dengan Hoseok yang selalu makan lahap dan Taehyung yang tidak pernah pilih-pilih makanan. Ketika melihat Hoseok maupun Taehyung, secara otomatis Yoongi dan Namjoon akan ikut tergiur untuk makan," jelas Seokjin. Ayahnya mengangguk-angguk paham.
"Hobie juga sangat dermawan kalau soal makanan, dia tidak keberatan memberi lauk paling enak pada kakak ataupun saudaranya jadi mereka bisa makin lahap menghabiskan nasi," imbuh Rapmon diiyakan oleh sang istri.
"Tch." Tapi Ayah Seokjin mendecih. "ANAKKU memang sangat baik dan lebih bisa diandalkan daripada ORANG LAIN," ucap beliau dipenuhi tekanan.
Rapmon langsung menundukkan kepala. "Ne..." dia menjawab pelan, menyumpiti nasinya sebiji demi sebiji.
"Abeoji..." Seokjin mendesis.
"Jin-ah, setelah ini mampirlah ke rumah. Aku sudah menyiapkan kamar khusus untuk cucu-cucuku," ujar ayah Seokjin sedikit mengagetkan semua orang yang mendengarnya, termasuk Rapmon yang tidak memberikan reaksi berlebihan.
Seokjin mengambil napas dalam sebelum bicara. Dia paham, kata 'mampir' yang dimaksud ayahnya pastilah bukan datang lalu bermain seperti konteks yang biasa. Apalagi diikuti dengan 'mempersiapkan kamar khusus', sudah tentu yang diinginkan sang kakek tak lain adalah Seokjin pindah ke rumah lamanya dengan membawa anak-anak meninggalkan Rapmon. Ternyata, beliau masih belum menyerah meminta putri dan menantunya berpisah.
"Abeoji—" kalimat Seokjin dipotong dengan cepat.
"Abeoji ini sudah tua. Salahkah kalau aku meminta putriku sendiri untuk mengurusku di hari tua?" ayah Seokjin bersikeras kembali membuat anak sulungnya menghela napas. Rapmon yang mendengar hanya menahan diri untuk tetap diam, toh apapun yang ia katakan cuma akan membuat orang tua itu berbalik murka.
"Ada aku, Abeoji." Hyosang mengangkat tangan. "Aku akan mengurusmu dengan baik," ucapnya meyakinkan.
"Aku tidak percaya padamu, Anak Nakal! Kerjaanmu hanya mendekam di rumah sakit dan tidak pernah pulang ke rumah!" ayah Seokjin menyentak kesal.
"Ne." Hyosang mengangguk, tidak memberi perlawanan apalagi pembelaan diri. "Aku banyak pekerjaan di rumah sakit dan karena jarak rumah lumayan jauh, jadi aku lebih suka menginap di apartemen temanku. Tenang saja, temanku laki-laki, Abeoji."
"Aku tidak tanya!" balas ayah Seokjin geram. "Jin-ah," ia memilih tak mengacuhkan anak laki-lakinya dan beralih pada sang putri yang lebih baik hati.
"Abeoji mohon, pulanglah ke rumah..."
"Abeoji," Seokjin mendesis. "Tidak boleh mengobrol di waktu makan." Wanita tersebut tersenyum, mengingatkan ayahnya jika mereka masih berada di depan anak-anak dan sedari tadi bocah-bocah itu memandang bergantian dengan sorot mata polos.
"Maafkan aku..." ayah Seokjin menyerah, melanjutkan makan seraya dalam hati berniat akan mengulang bujukannya nanti ketika jam makan siang selesai.
"Papa," celetuk suara kecil Yoongi. Sepasang matanya menatap lurus pada Rapmon dengan sorot yang sukar diinterprestasikan.
"Ne?" jawab sang ayah pendek, senyuman tak ketinggalan menggantung di bibir walau dalam hati dia sedang tidak mood tersenyum. Untuk para buah cintanya, apapun akan Rapmon lakukan meski harus mengingkari isi hati.
"Nasinya Papa menangis." Telunjuk Yoongi mengarah di mangkuk Rapmon yang memang seolah belum berkurang makanannya. Bagaimana bisa dia selera makan jika kalimat-kalimat tidak enak terus terdengar menyakiti hatinya?
"Ah, ini? Papa akan segera menghabiskannya. Tenang saja," dusta Rapmon.
Yoongi terdiam. Kedua matanya berkedip cemerlang lalu dia meraih sumpit kecilnya, sebuah alat makan berbentuk sumpit instan yang biasa digunakan para balita untuk berlatih memegang sumpit di masa depan. Yoongi menusuk sepotong sosis yang masih tersisa di mangkuk bekal kemudian berjalan mendekati Rapmon.
"Papa, aaa—" Yoongi meniru Seokjin ketika menyuapi Jungkook, senyumannya merekah begitu sang ayah langsung membuka mulut selebar mungkin dan memakan sosis di sumpitnya dengan sekali lahap.
"Mmmm!" Rapmon menutup mata rapat. "It is so yummy! Hyungnim, thank you!" pria tersebut terlihat senang.
"Sekarang rasanya Papa bisa menghabiskan semua nasi dengan semangat." Sambil dilihat Yoongi, Rapmon melahap nasinya sekaligus.
"Hyungnim mancaaap (mantaaap)!" lelaki itu kembali memberi pujian membuat anak sulungnya senang.
"Papa, Hobie juga punya sosis! Papa!" Hoseok berteriak meminta perhatian.
Sama seperti perlakuannya pada Yoongi, Rapmon memberikan reaksi serupa membuat Hoseok tergelak senang sebab merasa sudah membuat ayahnya bersemangat. Namjoon kemudian juga datang, menyodorkan apapun yang masih ada di kotak makanannya meski cuma satu biji kacang polong. Taehyung yang ingin bergabung merasa kebingungan sebab kotak tempatnya makan sudah benar-benar kosong dan tinggal tersisa ujung kecil sawi. Maka ia pun mengambil sayuran tersebut dan menyodorkannya pada Rapmon yang langsung mengerutkan kening menyimpan curiga pada benda hijau aneh di tangan putranya. Apakah itu makanan atau kotoran hidung?
Seokjin hanya dapat tersenyum lembut melihat keakraban suami beserta anak-anaknya. Ia beralih memandang ayahandanya yang ternyata juga sedang memperhatikan interaksi Rapmon dengan para balita. Bagaimana pria itu bicara pada mereka, menghargai setiap gerakan kecilnya, dan selalu tersenyum membuat para buah hatinya merasa aman bersama ayah mereka. Tidak banyak ayah yang bisa dekat dengan anak-anaknya, tapi lebih jarang lagi ada anak yang bisa dengan mudah mengekspresikan emosi, perhatian, dan rasa cemas mereka terhadap orang tua.
"Abeoji," panggil Seokjin dengan suara kecil yang cukup dapat didengar ayahnya namun luput dari pendengaran Rapmon yang sedang sibuk dikelilingi celotehan ramai anak-anaknya.
Ayah Seokjin menoleh hanya untuk menemukan seraut cantik wajah yang sejak lahir, tidur di ayunan, belajar berjalan, mengucapkan kata pertama, pertama kali masuk sekolah, wisuda, dan akhirnya menikah lalu punya anak, masih tetap berhasil membuat jantung ayahnya berdenyut hangat sewajarnya seorang anak yang sangat disayangi oleh orang tuanya.
"Abeoji, menantu yang sempurna itu banyak, tapi yang dapat memahamiku dan bisa menjadi panutan anak-anakku hanyalah Rapmon seorang. Bukan yang lain. Maka dari itu, aku mohon terimalah dia, Abeoji," desis Seokjin.
Ayahnya terdiam, menatap mata sang putri agak lama lalu menghela napas panjang. Tanpa menjawab beliau melanjutkan makan dengan tenang membuat Seokjin tersenyum lebar.
-o-
Matahari mulai bergerak ke ufuk barat ketika Seokjin dan keluarganya berpamitan pada para pendeta di kuil. Hyosang ikut pulang ke apartemen kakak perempuannya sementara ayahandanya kembali bersama para pengawal ke rumah lama keluarga mereka. Anak-anak sudah knock out, tak ada satu pun dari mereka yang masih sadar saat didudukkan di dalam mobil. Bahkan Hyosang dan Rapmon juga kelihatannya ingin langsung menyusul tidur membuat Seokjin harus rela menjadi supir pengganti selama perjalanan pulang kembali ke rumah.
"Apa Ayahmu mengatakan sesuatu yang tidak aku tahu?" tanya Rapmon parau di tengah perjalanan. Hyosang sudah mendengkur di sampingnya memeluk Taehyung sementara ia sendiri menjadi kasur untuk Jungkook.
Seokjin menggelengkan kepala, melirik Rapmon dari kaca spion di atas kepalanya. "Abeoji tidak mengatakan apa-apa."
Rapmon menghela napas gusar.
"Apa aku harus jadi presiden dulu supaya Ayahmu mau menerimaku?"
Seokjin terkekeh. "Kau sudah jadi presiden, Yeobeo. Presiden rumah tanggaku," candanya kembali membuat Rapmon mendengus namun kali ini dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.
Rapmon, kau tidak tahu. Kalau Abeoji sudah diam saja dan tidak lagi memberi bantahan, itu artinya cuma ada dua pilihan; beliau setuju atau sudah menyerah.
Sambil menyetir, Seokjin terus tersenyum-senyum sendirian.
-END-
TERUS PANTENGIN WATTPAD MYKA YAA
KALI AJA NANTI KALIAN DAPET KEJUTAN DI SANA XD
UNAME : mykareien
