#namjin #bts #gs #t
Baby Baby!
10
Sepasang mata mungil bergerak terbuka disusul tubuh kecilnya yang menggeliat. Genggaman tinju gemuk tanpa sengaja mengenai orang yang berbaring di sebelahnya, membuat mata sipit yang ia miliki ikut terbuka karena terkejut.
"Joonie~" Hoseok menggumam, mengusap pipi saudara kembar yang baru saja ikut terbangun sebab terkena tangannya. Namjoon diam tak menjawab, hanya menatap Hoseok dengan sorot mata gamang, agaknya dia masih belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi.
"Mama!" Hoseok mulai berteriak memanggil ibunya, kembali menggeliat di karpet tempatnya berbaring. Di sebelahnya, Namjoon yang sudah mulai tersadar mengerjabkan mata dan menggaruk tangan tanpa sadar. Namjoon memandang langit-langit rumah, menguap, lantas menggeliatkan badan kecilnya sampai terbalik tengkurap. Anak laki-laki itu bangkit duduk memperlihatkan rambut awut-awutan dan baju yang kusut penuh lipatan akibat tertimpa badan selama tidur. Namjoon menggaruk lehernya, melihat sekeliling yang terasa sepi.
"Mama!" Hoseok kembali memanggil, suara kerasnya menggema hampir ke seluruh rumah. Kali ini ganti mengagetkan Jimin dan Taehyung yang berbaring tak jauh dari mereka. Sebenarnya para bayi sedang tidur saling bersebelahan di karpet ruang duduk. Taehyung, Jimin, Hoseok, Namjoon, lalu Yoongi. Berjejer layaknya ikan asin yang sedang dijemur.
Sama seperti Namjoon, Taehyung hanya bengong begitu terbangun dari tidurnya, masih membutuhkan waktu tambahan untuk loading sedangkan Jimin langsung bangkit duduk dan memandang sekeliling. Lalu saat kedua mata kecilnya tidak dapat menemukan sosok sang ibu wajah penuh baby fat tersebut memerah.
"Mama..." Jimin merengek. "Huweee..." dia berakhir menangis.
"Mama!" sedangkan di sebelahnya Hoseok masih berteriak-teriak memanggil Mama mereka.
"Joonie, Mama mana?" tanya Hoseok pada saudara kembarnya. Namjoon menggelengkan kepala.
"Tidak tahu." Balita tersebut menguap mengantuk.
"Mamaaa!" Jimin mengeraskan tangisannya.
"Timin, tup tup tup (Jimin, cup cup cup)~" Taehyung bangkit dari tidur, menepuk-nepuk tangan saudaranya supaya berhenti menangis.
"Mamaaa!" namun si cengeng masih saja terisak, bahkan semakin mengeraskan suara yang sudah menggema sampai ke seluruh penjuru rumah.
Hoseok bangun dari tidur. Menggaruk kepalanya yang terasa gatal. "Taetae, Mama mana?" ia bertanya pada Taehyung yang menjawab dengan kedipan mata polos.
"Mama idak ada? (Mama tidak ada?)" saudara kembar Jimin tersebut malah balik bertanya.
Hoseok bengong sejenak. "Tidak," dia menggeleng tanpa tahu jawaban asalnya tersebut bisa memunculkan sebuah tragedi di sore hari yang tenang setelah momen tidur siang.
Mendengar kakaknya mengatakan kalau Mama mereka tidak ada sontak membuat Taehyung merasa sedih. Mukanya langsung memerah dan tangisannya pecah mengikuti Jimin.
"Mama idak adaaa, huweee~" bayi itu terisak pilu. "Mamaaa~"
"Mamaaa!" Jimin dan Taehyung menangis bersahut-sahutan.
"Hyunim?" Hoseok teringat pada kakak tertuanya, orang yang selalu bisa ia andalkan jika sang Mama tidak sedang berada di sekitarnya.
"Hyunim!" balita umur tiga tahun memanggil Yoongi yang masih tidur tak bergerak di paling ujung, berbaring miring memeluk guling kecil kesayangannya.
Hoseok bangkit berdiri, dengan langkah sempoyongan dia mendekati kakaknya lalu duduk di dekat Yoongi.
"Hyunim," bocah tersebut memanggil, tidak berani memegang maupun menggoyangkan badan Yoongi.
"Hyunim." Hoseok mengulangi namun sama sekali tak nampak tanda-tanda jika si sulung akan terbangun dari tidurnya.
"Joonie, bangunkan Hyunim." Hoseok memberi perintah pada Namjoon. Tanpa mengatakan sepatah kata pun adik kembar yang hanya terpaut jarak lahir beberapa menit langsung merangkak mendekati Yoongi. Namjoon membaringkan diri di belakang kakaknya lantas memeluk tubuh mungil tersebut.
"Hyunim~"
Yoongi tersentak mendengar suara menggema begitu dekat tepat di belakang kepalanya. Dia membuka mata, berbalik terlentang membuat Namjoon yang masih memeluknya hampir tertindih oleh punggungnya.
"Aiii~ Joonie kepenyet~" seru Namjoon, mendorong badan kakaknya untuk dapat berguling menjauh. Yoongi terlentang, menggeliat sambil menguap lebar. Dia menatap Hoseok dan Namjoon bergantian dalam diam. Masih perlu waktu untuk sepenuhnya terbangun.
"Hyunim, Mama mana?" tanya Hoseok.
"Huh?" Yoongi berbalik tengkurap untuk dapat bangkit duduk. "Mama?" dia menggosok kedua mata kecilnya menggunakan tangan.
"Mama!" Yoongi berteriak.
"Hobie sudah memanggil Mama sepuluh kali. Mama tidak ada," ujar Hoseok melebih-lebihkan.
Yoongi mengerjab, memandang sekitar yang memang terasa lengang tanpa kehadiran sosok ibunya. Tatapan matanya berhenti sejenak pada Taehyung dan Jimin yang masih menangis, bahkan sekarang mulai sesenggukan.
Yoongi bangkit berdiri, berjalan pada pasangan kembar termuda di keluarganya. Bocah empat tahun tersebut mengulurkan kedua tangan untuk masing-masing mengusap kepala Taehyung dan Jimin.
"Cup cup. Berhenti menangis. Hyungnim akan mencari Mama, ne?" hibur Yoongi.
"Mama mana, Yunim?" tanya Taehyung di antara isakannya.
"Mama memasak...?" Yoongi tidak yakin. "Aku akan mencarinya." Ia beranjak menuju dapur.
"Ikuuut! Hobie ikut!" seru Hoseok. Di belakangnya mengintil Namjoon yang berlari kecil tanpa suara.
Bertiga, mereka mendekati baby fence yang terpasang di pintu masuk dapur sekaligus ruang makan. Sengaja dipasang di sana untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan karena menurut Seokjin dapur adalah tempat yang berbahaya, dipenuhi garpu, pisau, dan benda logam lainnya.
"Mama!" Yoongi berjinjit, perpegangan pada baby fance dan melongokkan kepala ke dalam.
Tak ada jawabannya.
"Mamaa!" bocah itu mengeraskan suara.
"Tidak ada? Mama tidak ada?" tebak Hoseok.
"Bantu aku," pinta Yoongi seraya melangkah mundur. Kedua adiknya langsung mengerti. Hoseok berlari untuk menarik sebuah kursi tinggi, membawanya ke dekat pagar bayi sementara Namjoon menungging di sebelah kursi tersebut. Dibantu oleh Hoseok, Yoongi menggunakan bokong Namjoon sebagai pijakan untuk naik ke kursi kemudian dengan hati-hati dia melewati pagar bayi dan hup! Berhasil masuklah ia ke dalam dapur.
"Mama!" Yoongi mulai melangkah mencari ibunya sedangkan Hoseok dan Namjoon menunggu di luar pagar.
"Mama mana? Hyunim, ada Mama?" tanya Hoseok penasaran.
Setelah beberapa lama Yoongi kembali muncul seraya menggelengkan kepala. Dia mengambil tangga pijakan yang diletakkan di dekat westafel, biasanya untuk membantu para balita meletakkan gelas susu mereka di tempat cucian piring. Yoongi menarik tangga yang terbuat dari besi ringan tersebut mendekati pagar dan menggunakannya untuk memanjat kembali ke kursi. Namjoon sudah menunggu dengan bokongnya di bawah kursi.
"Mama kemana?" tanya Hoseok heran.
Yoongi menggaruk kepala yang tidak gatal. Di ruang duduk, Taehyung dan Jimin sudah mulai berhenti menangis. Kecapekan. Dengan masih sesenggukkan mereka menyeka air mata masing-masing.
"Yunim..." panggil Jimin. "Cucu..."
"Aku tidak punya susu," jawab Yoongi membuat wajah adiknya kembali memerah hendak menangis.
Kruuuk~ Namjoon memegangi perutnya, memandang berpasang-pasang mata yang langsung mengarah padanya saat suara barusan terdengar. Yoongi tersadar, biasanya di sore hari begini memang mamanya akan memberi cemilan berupa buah-buahan ataupun biskuit gandum sambil menunggu makan malam siap. Namun sekarang sang ibu sedang tidak ada jadi wajar kalau adik-adiknya mulai kelaparan.
"Yunim...cucu...hiks..." Jimin terisak.
"Jangan menangis!" ujar Yoongi. Suaranya tegas. Menghentikan isakan Jimin di detik yang sama.
"Kalian tidak melihat Mama keluar?" tanya Yoongi pada pasangan kembar yang lebih tua.
Hoseok menggeleng. "Hobie bangun. Hobie memanggil Mama. 'Mama!' begitu. Mama tidak ada," tuturnya.
"Hyunim, Mama dimana?" Namjoon ikut buka suara.
"Tidak tahu. Mungkin sedang keluar," jawab Yoongi.
"Kelual kemana?" tanya Namjoon lagi.
"Tidak tahu." Yoongi menggeleng.
"Membeli pelmen?" Namjoon mengatakan apapun isi kepalanya.
Mata Hoseok berbinar, "Pelmen? Mama beli pelmen? Yeyeye! Mama beli pelmen!" balita itu bersorak sendirian.
Yoongi duduk di lantai. Tidak tahu harus melakukan apa. Kemampuan berpikirnya belum mampu menyelesaikan masalah seberat ini.
"Yunim..." terdengar suara Taehyung. "Apan... (Lapar...)"
Yoongi menatap diam adiknya yang memelas. Lama-lama dia jadi ikutan lapar.
"Hobie, Joonie, ke sini," perintah Yoongi bangkit berdiri. Dengan sigap dua adik yang namanya disebut langsung mengintil langkah kakaknya seperti tentara mengikuti perintah komandan.
Yoongi kembali masuk ke dapur, menyeret tangga pijakan untuk digunakan melihat di kitchen bar. Dia pernah melihat ibunya mengambil toples berisi kue kering dari tempat itu jadi ia berpikir pasti ada sesuatu yang bisa dimakan di sana. Dan benar saja, di salah satu sisi kitchen bar ada toples berisi kue susu yang diletakkan agak menjorok ke dalam. Yoongi mengambilnya lalu membawa ke baby fence untuk diserahkan pada Hoseok dan Namjoon yang menerima sambil melompat-lompat riang.
"Jangan pergi dulu," pesan Yoongi dibalas 'ne~' kompak kedua adiknya.
Kakak tertua kembali masuk dapur, mengamati bar dapur lagi kalau-kalau masih ada benda yang bisa dimakan namun yang terlihat cuma botol mayonais. Yoongi mengambilnya.
Bocah empat tahun beralih membuka almari penyimpanan di bawah kitcher bar. Namun yang ia temukan hanya piring, gelas, mangkuk, dan sendok tak terpakai. Yoongi menghela napas. Tak mau menyerah, balita tersebut melanjutkan membuka kabinet satu per satu hingga di almari terakhir paling ujung, mata jelinya menemukan ujung kantung plastik jajanan yang seperti sengaja disembunyikan di antara susunan rapi kain lap. Yoongi menyingkirkan kain lap dan benar saja, ada beberapa kantung besar snack tersembunyi bagai harta karun di sana. Dengan riang bocah itu mengambil semua yang ada lalu membawanya untuk diserahkan pada Hoseok serta Namjoon.
.
"Hyunim, ini bukanya bagaimana?" tanya Hoseok seraya mengacungkan kantung keripik kentang. Di sisi lain, Namjoon dibantu Taehyung sedang berusaha memutar tutup toples kue diperhatikan Jimin yang sudah mengiler lapar.
Yoongi menerima kantung snack dari tangan Hoseok, memeriksanya. "Bagaimana bukanya?" ia balik bertanya.
"Tidak tahu." Hoseok menggelengkan kepala polos.
Yoongi menarik-narik ujung plastik. Kantung itu tidak mau terbuka. Dia menekannya kuat. Masih belum mau terbuka. Dengan kesal Yoongi membanting benda tersebut ke lantai. Hoseok yang melihat hanya mengerjabkan mata. Dia mengambil kantung snack, meniru kakaknya menarik dan menekan kantung yang terbuat dari plastik namun nihil, ia juga tidak bisa membukanya.
"Joonie, bagaimana membuka ini?" Hoseok membawa snack pada Namjoon yang masih bergelut dengan tutup toples.
Namjoon menerima kantung keripik kentang dari tangan saudaranya sementara toples yang ia lepas otomatis pindah ke tangan Yoongi. Dengan alis mengerut Yoongi mencoba memutar tutup toples ke kanan dan ke kiri. Dia memaksa untuk menggerakkannya ke kanan dengan kuat tapi tak membuat toples itu bergerak. Maka Yoongi balik memutarnya sekuat tenaga ke kiri.
Klek, terdengar suara diikuti tutup yang mulai terasa kendor. Yoongi memutar tutup plastik tersebut hingga akhirnya toples bisa terbuka.
"YEAAAY!" Taehyung dan Jimin bersorak bersama. Mereka memeluk Yoongi seolah bocah itu adalah seorang pahlawan.
Sementara Namjoon masih kebingungan dengan kantung snack di tangannya. Ia ikut menarik serta menekan seperti yang disuruh Hoseok namun benda tersebut bergeming. Namjoon memegang ujung plastik yang bergerigi lantas merentangkan tangan membuat wadah plastik langsung sobek menjadi dua bagian, menghamburkan semua isinya ke lantai.
"YEAAAY!" sorakan kedua berasal dari Hoseok. Namjoon mengusap wajah dari bubuk MSG yang beterbangan ke udara.
"Hatchii!" dia bersin beberapa kali sebelum bergabung dengan Hoseok yang sudah memasukkan keripik kentang ke dalam mulut.
Kraus, kraus, kraus, lima bersaudara dengan tenang makan bersama menikmati cemilan sore mereka.
-o-
Klek, terdengar kenop pintu beranda dibuka dari luar dan masuk sosok Seokjin yang memakai mantel sembari membawa Jungkook di kain gendongan. Di masing-masing tangannya ada plastik berisi barang belanjaan. Wanita muda tersebut melepas sepatu di dekat rak lalu melangkahkan kaki melewati lorong hendak menuju dapur ketika teriakan kompak anak-anaknya membuat ia terlonjak di tempat.
"MAMAAA!" Hoseok, Taehyung, dan Jimin berlari menubruk kaki ramping Seokjin. Namjoon serta Yoongi menyusul setelahnya.
"Mama dalimana? Mama tidak ada," tanya Hoseok.
"Mama ayi mana? Mama?" sambung Jimin dan Taehyung.
Seokjin meletakkan plastik berisi belanjaan ke lantai untuk dapat mengusap satu per satu wajah buah hatinya yang ia tinggal keluar waktu masih tidur siang.
"Mama pergi membeli beberapa barang sebentar. Kalian mencari Mama?" tanya Seokjin merasa bersalah.
Hoseok menganggukkan kepala. "Hobie mencali Mama. Sama Joonie, sama Hyunim. Taetae menangis. Jimin juga."
"Eeeh, Taetae dan Jimin sampai menangis?" Seokjin terkejut.
"Hu-um!" Jimin mengiyakan. "Chimin menanit. Hu-hu-hu ecicu (Jimin menangis. Hu-hu-hu begitu)," ceritanya.
"Aduh, maafkan Mama. Besok-besok Mama tidak akan meninggalkan kalian waktu tidur lagi." Seokjin merasa bersalah, memeluk balitanya satu per satu hingga sesuatu yang lembek di kepala Taehyung tak sengaja terpegang oleh wanita tersebut membuat gerakannya membatu. Seokjin memperhatikan cairan kental warna putih yang menempel di tangannya. Dia mengendus benda tersebut.
"Apa ini?" sang ibu menjilat barang serupa krim itu, mencecapnya. "Mayonais?" kedua alisnya mengerut. Seolah ditampar, Seokjin langsung berdiri dan melesat ke ruang duduk. Mama muda tersebut tercengang, mulutnya menganga speechless melihat kondisi ruang duduk yang sudah porak-poranda. Toples kue kering terbuka dengan isinya yang tinggal separuh dan remah-remah mengotori sekitar sampai ke atas karpet. Bahkan nampak beberapa potong kue yang terjatuh lalu terinjak entah oleh kaki siapa. Di sisi lain kantung keripik kentang terlihat terkoyak, seluruh isinya berhamburan di lantai bagai tumpukan salju. Jangan lupakan keberadaan botol mayonais yang tergeletak tanpa dosa setelah krim di dalamnya dituang ke permukaan ubin, kemungkinan digunakan anak-anak untuk makan menemani snack mereka.
Seluruh tubuh Seokjin terasa lemas. Sekejab langsung memikirkan akan bagaimana dia menyapu, mengepel, dan menyikat karpet.
"Mama," Jimin bergelantungan di rok ibunya. "Cucu..."
"Ah, kau belum minum?" tanya Seokjin. Jimin menggeleng, diikuti Taehyung, Namjoon, Hoseok, dan Yoongi.
"Tunggu sebentar ya, Mama ambilkan minum dulu." Masih dengan menggendong Jungkook yang tertidur Seokjin beranjak ke dapur, meraih belanjaannya untuk sekalian diletakkan di atas meja makan. Dia mengambil lima cangkir bergambar kartun sekaligus dari rak piring. Gerakannya menuang air putih terhenti saat melihat pintu kabinet bawah ada yang terbuka. Kain lap yang disimpan di dalamnya juga telah dikeluarkan. Seokjin melongok ke dalam almari tersebut, mengerutkan kening ketika melihat nun jauh di pojokan ada beberapa buah botol yang sepertinya tidak asing baginya. Wanita itu mengulurkan tangan, mengambil salah satu botol dan saat melihatnya di tempat yang lebih terang ia menghela napas panjang membaca tulisan pada kertas logonya. 'BEER'
"Mama!" panggilan Jimin menggema.
"Nee~ sebentar!" Seokjin meletakkan lagi botol bir ke tempatnya semula, ditinggalkannya kabinet tetap terbuka supaya dia ingat untuk merapikan kain lap yang sudah berantakan.
"Ne, ne, ne. Ini minum kalian." Sang Mama menyodorkan cangkir dari dapur di balik pagar bayi yang masih terkunci. "Gelas kumamon untuk Hyungnim. Optimus Prime untuk Hoseok. Bumblebee untuk Namjoon. Piyo piyo untuk Jimin. Dan tiger untuk Taehyung."
"YEAAY!" semua balita bersorak.
"Minumnya sambil duduk," pesan Seokjin mengingatkan, membuat kelima bokong langsung mendarat di lantai. Dengan cepat anak-anak itu meneguk air minum di masing-masing cangkir, memunculkan rasa bersalah lain di dalam dada ibunya karena sudah meninggalkan mereka hingga begitu lapar serta haus. Seokjin mengira kepergiannya membeli barang di minimarket depan apartemen tidak akan terlalu lama dan bermaksud kembali sebelum bocah-bocah itu bangun tidur. Namun siapa sangka kalau kelima anaknya akan terbangun lebih dulu sebelum dia pulang.
"Sudah?" Seokjin menerima cangkir yang telah kosong dari tangan kelima buah hatinya.
"Hyungnim," panggil wanita tersebut menghentikan langkah Yoongi. "Ke sini sebentar." Seokjin membuka baby fence, duduk di lantai memeluk Jungkook, menyamakan tinggi dengan Yoongi yang berdiri menatapnya.
"Siapa yang mengambil kue?" tanya Seokjin. "Seingat Mama, Mama meletakkannya di dapur."
"Yoongi," jawab Yoongi jujur.
Mata Seokjin melebar kaget. "Bagaimana caranya?" dia heran. "Hyungnim bisa membuka ini?" ia menunjuk pada baby fence. Jika putranya menjawab 'iya' bisa jadi Seokjin harus mengganti pagar bayinya menjadi versi yang lebih modern dibanding sekarang.
"Anii~" Yoongi menggelengkan kepala. "Yoongi sama Hobie, dengan kursi." Dia menunjuk ke ruang duduk, mencoba menjelaskan dengan caranya sendiri.
"Di sini. Lalu Joonie begini." Yoongi menungging di lantai menirukan adiknya saat menjadi pijakan naik ke kursi. "Naik kursi dan Yoongi masuk."
Seokjin mengangguk-anggukkan kepala, kurang lebih dia paham penuturan anaknya. "Hyungnim ke dapur dengan naik kursi?" desisnya. Sang ibu mengulurkan tangan untuk mengusap kepala putra sulungnya.
"Pintar sekali anak Mama. Kim Yoongi sangat pintar~" dengan sayang Seokjin memeluk Yoongi yang langsung menyunggingkan senyum. "Tapiii~" wanita berambut panjang menyentil ujung hidung kakak tertua.
"Masuk ke dapur saat Mama tidak ada itu berbahaya. Mulai sekarang, Hyungnim hanya boleh ke dapur waktu Mama ada di rumah. OK?"
"OK," jawab Yoongi.
"Mama bilang apa barusan?" Seokjin meminta konfirmasi untuk meyakinkan jika Yoongi menangkap poin penting nasehatnya.
"Yoongi boleh ke dapur kalau Mama di rumah," jawab Yoongi.
"Pintar~" Seokjin kembali memeluk anaknya erat.
"By the way, apa Hyungnim juga yang membuka lemari di bawah itu?" sang Mama menunjuk kabinet kitchen bar yang terbuka.
Yoongi mengangguk.
"Apa yang kau ambil dari sana?" Seokjin bertanya heran sebab hanya menemukan botol bir dan tidak ada barang lain yang sekiranya menarik perhatian balita empat tahun hingga membuatnya mengacak-acak seisi lemari.
"Jajan," jawab Yoongi mengingatkan ibunya pada snack keripik kentang yang bertebaran di lantai.
Oh, jadi birnya ditutupi dengan snack? Seokjin mengangguk-angguk paham.
"Ya sudah, Mama cuma mau bertanya itu. Tadi Mama bilang apa? Hyungnim masih ingat?" Seokjin bangkit berdiri.
"Boleh ke dapur kalau ada Mama!" jawab Yoongi.
"Yups!" Seokjin tersenyum puas. "Mainlah lagi dengan yang lain, Mama mau menata ini sebentar." Ia mendorong punggung kecil Yoongi ke ruang duduk.
Seokjin mengeluarkan ponsel, memfoto botol bir di kabinet dapurnya lantas masuk ke ruangan tempat anak-anaknya kembali bermain. Dia memotret kantung snack yang berceceran di lantai. Semua foto tersebut dikirimnya ke nomor ponsel Rapmon yang sedang bekerja di kantor.
Seokjin: Baby, look like your storage had found by my cutie mice (Sayang, sepertinya persediaanmu ditemukan tikus-tikus kecilku)
Balasan Rapmon masuk dengan cepat.
Rapmon: OH SHIT NO!
Rapmon: Baby, please don't throw away my beers! And my snacks! My beers! MA BEERSSS!
Seokjin tidak membalas pesan suaminya. Hanya mengulum senyum kemenangan.
Yoongi-ya, terima kasih. Berkat kau Mama jadi tahu kalau Papamu diam-diam masih minum alkohol padahal dia sudah berjanji tidak akan mabuk lagi untuk menjaga kesehatannya, batin Seokjin senang. Ponsel di tangannya masih terus membunyikan nada pesan masuk namun wanita muda itu tak mengacuhkan. Ia menidurkan Jungkook di dalam kamar dan mengambil sapu, mulai membersihkan ruang duduk sementara kelima balitanya yang lain tetap asyik bermain.
Rapmon: BABY, PLEASE JANGAN BUANG BIRKU! AKU TIDAK AKAN MINUM LAGI! BABYYY!
.
.
Yahhh ketauan XD
