Dan di sinilah Seokjin sekarang. Di sebuah penthouse, tempat tinggal Namjoon di Seoul. Kenapa Seokjin mau ikut dengan Namjoon? Karena bujukan Namjoon dan ia teringat orangtuanya menyuruh untuk tidak menolak ajakan Namjoon, agar mereka bisa lebih dekat.
Sungguh awalnya Seokjin tidak menyangka kalau Namjoon tinggal di tempat sebesar dan semewah ini, setelah ia pikir-pikir lagi sepertinya masuk akal saja kalau tinggal bersama orangtua atau dengan keluarga lainnya di sini. Ya, tempat ini luas, besar, mewah, dengan segala fasititas yang sangat lengkap.
Tapi selama ia duduk di ruang tamu, menunggu Namjoon yang katanya ingin mengambil minuman untuk mereka, Seokjin tidak melihat ada orang lain lagi selain mereka berdua.
Ah, mungkin yang lainnya masih berada di tempat kerja. Hingga Seokjin melihat seseorang muncul dari ruang depan sedang berjalan menuju ruang tamu sambil sesekali menatapnya dengan raut bingung.
Siapa dia? Seokjin memalingkan wajah, ia tidak mengenal orang itu. Sampai orang itu tepat berdiri di depannya, ia semakin menundukkan wajah.
"Hei, kau siapa?" orang itu duduk agak ke kiri sedikit dari hadapannya.
Seokjin memberanikan diri menatapnya, "A-aku Seokjin, teman Namjoon." orang itu masih menatapnya heran, seolah ada sesuatu yang aneh darinya.
"Aku Taehyung, Kim Taehyung."
Kemudian orang yang mengaku Taehyung itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Seokjin menyambutnya walau ragu. Tak apa, kenal dengan keluarganya Namjoon bukan sesuatu yang buruk kan? Begitu pikir Seokjin.
Tak lama, Namjoon kembali dengan 3 botol minuman kaleng dan duduk berjarak di samping Seokjin. Sepertinya ia sudah tahu kalau ada tamu yang datang. "Cepat juga kau sampai." Namjoon memberikan sebotol untuk Taehyung.
Taehyung menerimanya, "Saat aku bilang di jalan sebenarnya aku sudah di depan pintu mu." ia nampak cengengesan saat mengobrol seperti ini. Seokjin yakin Taehyung adalah keluarganya Namjoon.
Karena ia pikir Namjoon itu mungkin orang yang dingin dan cuek saat mengobrol dengan orang yang bukan keluarganya karena orang gila kerja biasanya seperti itu.
"Hm.. hyung.. Kau tidak mau mengenalkan gadis ini pada ku?" Taehyung melirik Seokjin saat bicara dengan Namjoon.
"Ku pikir kau sudah berkenalan sendiri dengannya."
"Iya memang sudah, tapi aku kurang yakin. Benar dia hanya teman mu?" sekarang Taehyung menatap Seokjin yang sedang menegak minumannya.
"Ya dia teman ku,... Lebih tepatnya.. Calon teman hidup ku."
Uhuk!
Seokjin seketika tersedak mendengarnya, Namjoon hanya terkekeh dan Taehyung semakin dilanda kebingungan. Apa maksudnya teman hidup? Apa Namjoon akan menikah? Begitu pikirnya.
"Hah? Apa... Maksud mu dia... " Taehyung memandang Namjoon serius, "Kau tidak mungkin percaya dengan lelucon kan?" Namjoon menyambung sambil tertawa kecil. Ini gila. Tanpa sadar Seokjin menatap ke arah Namjoon dengan tatapan yang sulit diartikan.
Namjoon yang sadar membalas tatapan Seokjin, dengan segera Seokjin memalingkan wajahnya kemudian menegak minumannya agak canggung.
"Aku hampir menganggapnya serius jika tadi hyung menjawab iya."
"Jangan begitu, dia teman ku juga." Namjoon meletakkan minumannya di atas meja yang membatasi tempat duduk mereka.
"Hah.. Mengagetkan ku saja. Biar ku ulangi. Hei Seokjin, kenalkan aku Kim Taehyung, teman Namjoon juga. Ya.. Tapi sejak 2 tahun lalu ia sudah ku anggap keluarga ku sendiri."
Taehyung kembali mengulurkan tangannya, Seokjin menyambutnya tanpa respon kalimat. Dia memang seperti itu, jika belum kenal Taehyung tak akan mau berkenalan selain menyebutkan nama, kemudian dia akan mengulang perkenalannya setelah dia tahu orangnya.
Drrrtt...
Ponsel Taehyung bergetar panjang, ia mengangkat teleponnya. Kemudian ia pamit pergi, seperti ada suatu urusan penting.
Setelah Taehyung pulang Seokjin terpikir, Taehyung hanya teman Namjoon. Jadi dimana keluarga Namjoon?
Seokjin tak mau juga berlama2 di sini, hari semakin larut. Ia juga pamit ingin pulang. Sebelum itu di depan lift ia menanyakan, "Namjoon.. Kalau aku boleh tau, kau tinggal dengan siapa di sini?"
"Mungkin sebentar lagi dengan mu."
"Hentikan, aku serius."
"Ya ya ya... Kau hanya teman dan kau seperti tak akan siap hidup dengan ku."
Entah siapa yang mengajari Namjoon bicara seperti ini, menyenangkan kemudian mengecewakan. Sepertinya Namjoon belum pernah ditampar seorang gadis.
"Jawab saja pertanyaan ku." Seokjin mulai jengah mendengar kalimat Namjoon.
"Aku tinggal sendiri. Kenapa? Mau menemani ku?"
•
•
•
•
•
BTS
Fanfiction
RM, Jin, J-hope, V, Jungkook, Jimin, Suga
Namjin/Minyoon
Genre : Drama, Romance
•
•
•
•
•
Namjoon kembali pada aktifitasnya pagi ini, pergi ke kantor instansi dan pulang sore nanti. Masalah gangster, sejauh ini belum ada pergerakan setelah komunitasnya Namjoon menembak salah satu anggotanya.
Seokjin datang lebih cepat dari biasanya. Aktifitas di luar juga masih belum terlalu ramai. Sementara menunggu pegawai yang lain dan pelanggannya datang, ia membersihkan dapur dan beberapa meja.
Kemudian ia menuju toilet, berdiri di depan wastafel yang tertempel cermin di temboknya.
"Kim Seokjin.. Apa kau bisa menyukai Namjoon?" ia bicara pada dirinya sendiri yang terpampang di cermin itu.
"Sepertinya tidak, kau lihat sendiri kan ia tidak mengharap mu. Ia akan menerbangkan mu lalu menjatuhkan mu. Jangan sampai kau berharap padanya. Ia hanya main-main dengan mu, ingat itu!"
Ia mengomel dengan emosi geram. Ia tak pernah punya kekasih karena orangtuanya tak mengizinkannya terlalu dekat dengan laki-laki. Entah kenapa, sampai sekarang ia tak tahu alasannya.
•
•
•
Siang berlalu, Seokjin sibuk dengan masakannya karena restorannya semakin ramai saat menjelang sore dan malam. Sedangkan Namjoon tambah sibuk dengan pekerjaannya mengurus pajak barang.
Malam menyapa, pukul 10 malam restoran Seokjin seharusnya sudah tutup dan ia pulang. Tapi malam ini ia memilih untuk istirahat sebentar di kursi pelangggan yang dekat dengan kaca transparan, bekerja seharian benar-benar melelahkan.
"Kau tidak pulang?" Yeri, teman Seokjin sekaligus pergawainya itu duduk di depannya.
"Sebentar lagi, aku masih lelah."
"Hei, aku punya berita bagus."
"Apa?"
Yeri antusias sambil mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya dan memberikannya pada Seokjin. "Apa ini?"
"Minggu depan aku akan menikah! Bukankah itu bagus?!"
Itu sebuah undangan pernikahan. Yeri terlihat begitu senang hingga tanpa sadar ia meninggikan suaranya. Seokjin berpikir, pantas saja belakangan ini Yeri sering absen dari kerjannya. Mungkin ia sibuk mengurus pernikahannya.
"Ya itu sangat bagus, aku senang mendengarnya. Selamat ya." Seokjin melempar senyum bahagia sembari menepuk pundak teman dekatnya ini.
"Iya, aku minta maaf sering absen belakangan ini. Aku ingin ini menjadi surprise makanya aku tidak bilang pada mu." Yeri menggenggam tangan Seokjin sebagai maksud permintaan maaf yang tulus.
"Tak apa, aku mengerti kau tidak mungkin absen tanpa alasan." Seokjin berkata lembut masih dengan senyuman yang belum bisa pudar dari wajahnya.
Yeri nampak senang mendengar itu, "Kalau kau memaafkan ku, berarti kau harus datang karena aku akan kecewa kalau kau tidak datang. Ingat itu Seokjin, jangan mengecewakan ku." dengan serius Yeri mengatakan itu, betapa berharapnya ia akan kedatangtangan Seokjin di hari bahagianya.
"Iya, aku akan datang."
"Ya sudah, aku pulang duluan ya. Calon suami ku sudah menjemput."
Seokjin mengangguk kemudian Yeri beranjak, ada mobil hitam di depan restorannya dan Yeri masuk ke mobil itu. Sepertinya itu yang dimaksud Yeri.
"Hah.. Senangnya bisa diantar jemput begitu, apalagi dengan suami mu sendiri. Kapan kau menikah Seokjin? Kau tidak iri melihat satu persatu pegawai mu menikah sedangkan kau tidak?" Seokjin menatap layar ponselnya yang menampilkan wajahnya sendiri, ia bicara sendiri seperti pada cermin di wastafel.
•
•
•
Namjoon baru saja ingin pulang dari markasnya. Saat hendak menyalakan mobil, ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk.
"Hallo?" Namjoon menjawabnya.
"Tidak ada? Kemana dia?"
"Iya, aku akan mencarinya."
Setelah menutup telepon, segera Namjoon tancap gas untuk mencari seseorang. Ya, Siapa lagi kalau bukan Seokjin.
Tempat pertama yang ia tuju tentu restoran Seokjin. Ia tidak tau tempat lain lagi yang kiranya bisa di tebak ada Seokjin di sana selain tempat itu.
Namjoon melihat dari kaca dinding restoran berlampuberlampu putih itu, ada seseorang yang sepertinya terlelap di salah satu meja pelanggan.
Di pintu restoran sudah bertuliskan tutup, apa Seokjin mau menginap di sini? Pikirnya.
Ia masuk dan menghampiri orang itu dan benar saja, itu Seokjin yang tertidur. Ia duduk di depan Seokjin. Pandangan awalnya memang ke gadis yang terlelap di depannya ini, tapi ada satu hal yang mengalihkan atensinya.
"Undangan pernikahan?" gumam Namjoon.
Namjoon mengambilnya dari tangan Seokjin. Tanpa sengaja itu membuat Seokjin terbangun.
Seokjin mengucek matanya pelan sesekali mengerjap lucu. Rambutnya agak berantakan dan sedikit menutupi wajahnya. ia meraih ponselnya dan melihat jam. Pukul 11.20 malam.
"Hah?! Apa aku tertidur?!"Seokjin benar-benar kaget dan Namjoon terkekeh melihat itu.
"Kau pasti kelelahan ya?" Tangan Namjoon tergerak untuk merapikan sedikit rambut Seokjin dan menyisipkannya ke belakang telinga.
Seketika Seokjin terdiam, ada Namjoon? Apa ini mimpi? Ia menatap Namjoon dan Namjoon juga menatapnya.
"Kau.. Kau sejak kapan ada di sini?" Seokjin bertanya hati-hati.
"Baru sebentar, kau peka sekali. Aku hanya mengambil ini dan kau terbangun." Namjoon menunjukkan benda yang tadi ia ambil.
"Kembalikan. Ada apa kau ke sini?" Seokjin mengambil benda itu dari tangan Namjoon dan memasukkannya ke tas kecilnya.
"Ibu mu menelpon ku, telepon rumah mu tidak ada yang angkat. Jadi ibu mu menelepon ku, katanya kau tidak ada di rumah, lalu ia minta aku mencari mu." jelas Namjoon santai sembari menyenderkan punggungnya di kursi.
"Sepertinya kau juga tinggal sendirian."
"Iya. Begitulah."
"Hei, ayo buat undangan juga dengan nama ku dan nama mu di dalamnya." Ucapan Namjoon membuat Seokjin menghentikan aktifitasnya merapikan dan menguncir rambutnya agar tak berantakan.
"Untuk apa?"
"Sudah jelas untuk pernikahan, kan? Agar kau dan aku tidak tinggal sendirian lagi."
Seokjin dibuat bingung dengan jawaban Namjoon.
"Kau membuat undangan hanya agar tinggal bersama? Apa kau tak punya alasan lain?"
"Selain itu, karena aku ingin menikah dengan mu. Tak ada alasan lain lagi."
Seokjin tak ingin membahas in. Menikah itu harus ada cinta dan mereka belum memilikinya atau mungkin belum menyadarinya.
"Tapi Namjoon-"
"Apa aku harus mencintai mu dulu?"
TBC
Chapter 2 yeayy!
Gomawo untuk like dan reviewnya chinggu! :)))
Reviewnya lagi ya chinggu biar aku tau ceritanya bagus apa gak, kalo alurnya ngebingungin komen ya biar aku tau :)))Gomawo :)Happy reading.