Hari ini weekend tapi Seokjin justru tak punya tanggal merah di kalendernya. Di hari weekend restorannya akan semakin ramai dari hari biasa, pelanggannya didominasi oleh keluarga yang ingin makan untuk sekedar menghabiskan waktu bersama.

Seokjin memang tidak libur, dia hanya datang 1 jam lebih lambat dari jam masuk biasanya. Kunci restoran sudah ia serahkan pada Yeri yang datang ke rumahnya pagi ini untuk mengambil benda itu.

Pukul 8 pagi, tak ada salahnya jika kali ini Seokjin jogging dulu sebentar sambil menikmati udara pagi di pekarangan rumahnya.

Baru keluar dari rumah, Seokjin merentangkan tangannya. Rasanya nyaman sekali menghirup udara sejuk pagi hari seperti sekarang, jarang-jarang ia dapat kesempatan begini. Seokjin memutar lagu dari ipod, memakai headsetnya dan mulai berlari santai menelusuri pekarangan rumahnya.

Sedangkan Namjoon, apa yang ia lakukan saat weekend?

Khusus weekend, Namjoon masuk kerja hanya setengah hari, sisanya ia akan berkumpul bersama komunitas pemberantas ganster yang ia ketuai itu.

Soal olahraga, jangan ditanya. Namjoon sangat rajin dalam hal itu. Masalah kapan, malam pun bisa dijadikan waktu untuk olahraga apalagi saat emosinya sedang memuncak. Rasanya Namjoon ingin bermain tenis atau tolak peluru malahan.

Saat dirinya masih sibuk dengan lembaran kertas penuh angka dan komputernya, teleponnya bergetar panjang menandakan sebuah panggilan masuk.

Dengan cepat ia menggeser tombol hijau ke kanan dan menekan tombol speaker.

"Hallo, Namjoon kau di mana? Masih bekerja?"Suara dari benda kotak itu segera menyambut pendengarannya.

"Iya, aku masih di kantor. Ada apa?" Namjoon tetap terfokus pada kertas kertas di atas mejanya.

"Aku dapat informasi pergerakan Jaehwan."Namjoon seketika menghentikan aktifitasnya dan mengalihkan fokus pada pembicaraan mereka.

Apa baik baik saja Namjoon menyalakan speakernya saat membahas hal ini? Tenang saja, ruangan Namjoon kedap suara. Tak akan ada yang mendengar kecuali jika ada yang menyelipkan penyadap suara dalam ruangan ini.

Tapi Namjoon tak masalah jika hal itu terjadi, palingan orang itu akan dipecat dari pekerjaannya yang sekarang atau mendapat hukuman lain yang setara dengan itu.

"Ia sudah kembali ke Seoul. Entah sejak kapan, yang jelas dia sekarang berada di sekitar distrik pertokoan."

Sekarang perhatian Namjoon teralihkan sepenuhnya pada pembicaraan mereka. Ini hal penting. Pemimpin dari gangster itu telah kembali dari perjalanannya.

"Kau di mana? Aku segera ke sana."

BTS

Fanfiction

RM, Jin, J-hope, V, Jungkook, Jimin, Suga

Namjin/Minyoon

Genre : Drama, Romance

Hoseok yang tadi masih berada di area kampusnya segera pergi menuju markas. Untungnya mata kuliahnya hari ini tidak banyak dan kebetulan jangka waktu pengumpulan tugasnya juga lumayan panjang, jadi ia bisa pergi sekarang.

Hoseok itu orang yang sangat teliti. Dia selalu mengumpulkan tugas tepat waktu dan sejauh 6 semester ini, ia selalu mendapat nilai A untuk setiap tugas. Beasiswa pun masih ia kantongi hingga hari ini. Rasanya memang wajar jika seorang anak dosen seperti itu, tapi percayalah Hoseok tidak pernah mau melibatkan orang tuanya dalam hal apapun, termasuk pendidikan.

Lumayan jauh dari kampusnya Hoseok dan kantornya Namjoon, sekitar setengah jam di jalan akhirnya mereka bertemu di markas.

"Jadi.. Darimana kau dapat informasi itu?" Namjoon langsung bicara to the point ketika mereka bertemu di ruang utama.

"Seseorang mengirimi ku pesan. Isinya mengatakan kalau Jaehwan ingin kita impas dengan mereka." jelas Hoseok, tanpa banyak pikir Namjoon langsung mengerti maksudnya.

"Berarti dia ingin membunuh salah satu di antara kita, karena satu anggotanya mati karena Taehyung, kan? Dari siapa pesan itu?" Namjoon menyatukan tangannya diatas paha sembari memasang ekspresi serius.

"Pengirim tidak diketahui. Jika itu benar, ku pikir Taehyung akan menjadi sasaran utamanya. Karena aku yakin Jaehwan saat itu melihat dengan jelas pistol Taehyung yang benar-benar mengarah pada anggotanya yang mati."

Hoseok memang teliti, bahkan untuk hal yang sulit atau tidak terpikirkan untuk dilihat, dia pasti melihatnya. Ditambah keterangan yang begitu jelas ia paparkan membuatnya sangat cocok digunakan sebagai saksi.

"Kita berkumpul malam ini di sini. Dan tolong kau jemput Taehyung, pastikan dia aman, aku tidak bisa menjemputnnya karena suatu hal." Namjoon menatap Hoseok mantap.

"Siap. Tapi, bagaimana kalau ia menolak? Kau tau kan ia tidak suka dijemput." Tatapan Hoseok mantap, namun ia ragu.

"Anak itu... Kalau begitu, ikuti saja dia. Jangan biarkan ia menuju markas sendirian, bisa saja nanti ia mati di jalan. Aku tidak mau itu terjadi."

Mereka memang terlalu pagi untuk bertemu. Hoseok meninggalkan satu kelas pagi ini, tapi baginya tak masalah. Ia bisa mengejar pelajaran itu, ia akan meminta tugas tambahan untuk menambah nilainya.

Rajin sekali.

Ia tidak buru-buru menuju kampus. Ini pekarangan rumah, ia tak boleh membawa mobil dengan kecepatan lebih di sini.

Awalnya ia fokus pada jalan, tapi seseorang mengalihkan atensinya.

"Jaehwan?" gumamnya.

Bruk!

Tanpa sadar ia menabrak seseorang. Ia terkejut dan segera keluar dari mobil menghampiri orang itu. Perempuan?

"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja." Hoseok membantu orang itu berdiri, tangannya sedikit lecet karena sempat menopang diri di aspal jalan.

"Tanganmu terluka, biar ku obati."

"Tidak perlu."

Hoseok sempat menarik tangannya untuk masuk ke mobil ia selalu bersedia obat-obatan di mobilnya, namun orang itu menahan.

"Tapi kalau dibiarkan akan infeksi."

"Aku bisa mengobatinya sendiri, rumah ku di dekat sini."

"Seokjin."

Yang dipanggil terkejut, segera ia menoleh mencari sumber suara. Hoseok juga mengikuti pandangannya.

"Namjoon..."

"Kau mengenalnya, hyung?" Hoseok tertuju pada Namjoon yang kini menatapnya tak suka dan penuh tanda tanya.

"Apa yang sudah kau lakukan?" tanpa menjawab Namjoon bertanya.

"A-aku tidak sengaja--"

"Menabraknya?"

Namjoon menyela lebih dulu. "Kembali ke kampus mu." titah Namjoon.

"Tapi hyung, dia--"

"Aku yang akan mengurusnya. Kau kembalilah. Kelas mu sudah berakhir 10 menit yang lalu."

Namjoon berkata tegas. Hoseok menurut saja, ia tak ingin memancing amarah Namjoon pagi-pagi begini. Lagipula ini memang salahnya.

Seokjin tak tau situasi apa ini. "Maafkan aku.." ucap Hoseok disela-sela langkahnya menuju mobil.

Setelah Hoseok benar-benar pergi, Namjoon menghampiri Seokjin.

"Di mana rumah mu?"

"Kau tinggal di sini?"

Itu yang Namjoon katakan saat pertama kali memasuki rumah Seokjin.

Lancang juga, pikir Seokjin.

"Iya. Kenapa?"

Seokjin tinggal di lantai 2 apartemen berukuran sedang agak lebih besar dari tipe studio. Hanya untuk satu orang saja. Tapi tempat ini jadi terkesan luas karena dekorasi dan tata letak barangnya.

Namjoon berpikir, apa Seokjin itu pelit atau terlalu hemat soal uang? Namjoon tahu restoran Seokjin tidak bisa dikatakan sepi pengunjung, ia yakin Seokjin bisa membeli rumah yang lebih besar dari ini atau merancang rumah impiannya sendiri.

"Ah.. Tidak, di mana kotak obat mu?"

Seokjin menujuk kotak kecil di atas meja belajarnya.

Meja belajar? Entahlah, mungkin tidak tepat disebut meja belajar. Meja kerja? Kurang lebih begitulah. Meski bekerja sebagai Chef, Seokjin suka menulis.

Beberapa saat Namjoon terkesan, ruangannya begitu tertata rapi. Apa nanti jika ia menikah dengan Seokjin, ruangannya akan ditata sedemikian rapi juga?

Ah.. Lagi-lagi Namjoon memikirkan pernikahan.

Setelah mengambil kotak obat, ia segera menghampiri Seokjin dan duduk di sebelahnya. Namjoon ingin mengobatinya, walaupun Seokjin sudah menolak tapi Namjoon memaksa. Seokjin bisa apa?

Hanya mengobati saja, tak masalah kan?

Namjoon mengambil tangan Seokjin yang terluka.

"Yang tadi itu teman ku. Jung Hoseok. Ia mungkin sedang emosi."

Namjoon bicara sambil membersihkan luka Seokjin dan mengoleskannya obat luar.

"Aku tidak mengerti, sebelum aku menyebrang jelas sekali mobilnya masih jauh. Tapi saat aku menyebrang tiba-tiba saja mobil itu sudah menyentuh ku." terang Seokjin.

"Ck, perhatikan kosakata mu itu. Mobil itu menabrak bukan menyentuh. Kau tidak mengerti teori ya, mau ku praktikkan bedanya disentuh dan ditabrak?"

Belum sempat Seokjin menjawab, tangan Namjoon yang tadinya memegang obat sekarang beralih pada leher Seokjin. Namjoon mendekat dan memiringkan sedikit kepalanya.

"Na-namjoon! Tidak perlu! Aku hanya perlu belajar lagi." Seokjin mendorong pundak Namjoon dengan tangan satunya.

"Tapi kau perlu praktik juga, teori itu tidak sepenuhnya penting."

"Kenapa kau memaksa?!"

"Kau tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki ya? Ku pikir kau hanya akan diam." Namjoon kembali pada posisinya dan beralih pada luka di tangan Seokjin. Ia menyadari, Seokjin tidak seperti 'orang sebelumnya' yang hanya diam dan mengikuti permainannya saja.

"Kau orang pertama yang berani seperti itu pada ku, Namjoon."

Namjoon seketika menatapnya. "Seokjin, aku ingin menikahi mu."

TBC

Anyeon chinggudeul!

Miahn baru bisa up sekarang, maklumilah..

Kelas tiga sekarang, tugas sama ujian makin merajalela.

Kalo ada kesempatan bakal rajin up kok :')))

Review nya ya chinggu, maafkan segala ketypoan :')

Like voment juga :')

Happy reading!