Seokjin terdiam. Kedua kali Namjoon mengatakan ingin menikahinya. Seokjin tak tahu seserius dan seyakin apa Namjoon mengatakan itu padanya.
Ini memang perjodohan yang mungkin saja akan berujung pada pernikahan. Tapi Seokjin merasa dipermainkan di sini.
"Namjoon, apa kau mengerti yang namanya menikah?"
Sekarang Namjoon yang terdiam, ia menyadari betapa mudahnya ia mengatakan hal itu pada Seokjin. Padahal ia sendiri tidak mengerti betul maksud dari yang ia katakan.
Yang Namjoon tahu, kalau ia menikah, ia akan tinggal satu rumah dengan orang yang ia nikahi. Ia tidak terpikir resiko apa yang akan didapat jika ia terus menyuarakan hal itu.
Ia melupakan resiko kalau Seokjin bisa saja dalam bahaya jika menikah dengannya.
"Aku--"
"Aku terlambat, aku harus bersiap."
Belum selesai Namjoon mengucapkan kalimatnya, Seokjin sudah menyela dan beranjak dari tempatnya meninggalkan Namjoon yang lagi-lagi bungkam.
Seokjin seolah tak peduli Namjoon yang masih duduk di sana. Padahal sebenarnya ia takut, bagaimana kalau Namjoon tiba-tiba menyerangnya? Hanya karena ia salah kosa kata saja Namjoon sudah seperti itu, bagaimana kalau Namjoon melihat ia berganti pakaian di sini?
Ya, ruang tengah itu tersambung dengan kamarnya. Namanya juga apartement kecil, hanya sedikit lebih besar dibanding tipe studio.
Baru Seokjin membuka lemari, ia menutupnya lagi, mengusir Namjoon lebih dulu itu lebih baik dilakukan sebelum ia mengganti pakaiannya.
"Namjoon... Mau sampai kapan kau di sini?"
Seokjin bicara tanpa memandang lawan bicaranya. Hening... Tak ada jawaban. Merasa diabaikan, Seokjin menoleh.
Tak ada siapa-siapa lagi yang duduk di sana.
Ah.. Benar-benar tidak tahu sopan.
•
•
•
•
•
BTS
Fanfiction
RM, Jin, J-hope, V, Jungkook, Jimin, Suga
Namjin/Minyoon
Genre : Drama, Romance
•
•
•
•
•
Sesampainya di restoran, Seokjin mendapati tempat itu sudah cukup ramai oleh pengunjung. Wajar saja, karena tempat Seokjin itu juga bisa dikatakan kafe saat pagi dan restoran saat jam makan siang hingga malam.
Baru saja Seokjin memasuki area dapur, pekikan salah satu pegawainya sudah memekakan telinga.
"Aaa! Panas! Kau ini tidak hati-hati ya?! Ceroboh sekali!"
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja."
Mendengar itu, tanpa pikir panjang Seokjin langsung menghampiri sumber suara.
"Ada apa?"
Mereka yang terlibat masalah dan yang menonton kejadian itu seketika menoleh pada Seokjin yang berada di belakang mereka.
"Nara, ada apa ini?"
Kini Seokjin berdiri di antara 2 orang yang ia yakini terlibat masalah. Nara dan Soyeon. Dapat Seokjin lihat, baju seragam Nara basah sebagian dan Soyeon yang menundukkan kepala.
"Dia menumpahkannya."
"Soyeon.. Air apa itu?" tanya Seokjin menatap Soyeon lekat.
"Rebusan kaldu.."
Seokjin menghela nafas, wajar kalau Nara berteriak. Itu pasti masih panas, sarung tangan Soyeon bahkan belum lepas dari tangannya.
"Yang lain.. Untuk apa menonton kalau tidak membantu? Kembali bekerja." titah Seokjin. Segera yang lain bubar dari tempatnya dan kembali pada tugasnya masing-masing.
"Kenapa bisa sampai begini?" Seokjin melembutkan suaranya, ia tak ingin marah walaupun Soyeon pantas dimarahi.
"Aku tadinya berbalik membawa kaldunya untuk didinginkan sebentar sebelum diolah. Aku tidak tau Nara ada di belakang ku. Aku benar-benar tidak sengaja." Jelas Soyeon.
"Lain kali hati-hati, jangan sampai hal ini terulang lagi. Yang kau bawa itu panas, bisa membahayakan dirimu atau orang lain. Mengerti?"
"Iya. Aku minta maaf."
Nara hanya menatap tanpa mau bersuara. Seokjin mengerti situasinya, "kalau kalian seperti ini tak akan ada ujungnya. Nara, pergi bersihkan diri dan ganti pakaian mu. Soyeon bersihkan tumpahannya." Perintah Seokjin, keduanya hanya mengangguk dan Seokjin pergi dari sana.
"Hah... Ini masih pagi, sekarang hal-hal seperti itu malah ditonton bukannya dibantu." Seokjin menghela nafas dan bercermin di wastafel toilet sambil membenarkan kunciran rambutnya.
Drrt... Drrt...
Ponsel Seokjin bergetar singkat, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layarnya.
Unknown:
Sore nanti tak sibuk kan, temani aku ya.
"Apa aku mengenal mu?" gumamnya sesaat setelah membaca pesan itu, lalu ia mematikan ponselnya dan kembali menuju dapur.
Matahari semakin tinggi, ini memasuki jam makan siang. Restoran Seokjin tambah ramai dan ia kedatangan pelanggan yang ia kenal beberapa hari lalu di kediaman Namjoon.
"Annyeong! Wah.. Tak sangka bisa bertemu dengan mu lagi. Kau bekerja di sini?" Baru di depan pintu orang itu menyapa dan sekejap terperangah memandang Seokjin dengan seragam restorannya yang kebetulan sedang membawakan makanan untuk meja di dekat pintu.
"Iya, selamat datang Kim Taehyung." sambut Seokjin.
Begitulah Seokjin, kadang ia bisa sesuka hati memilih bagian pekerjaannya. Pekerjaan utamanya memang chef, tapi saat ia ingin suasana baru atau ada pegawainya yang tak bisa hadir ia akan mengantikannya menjadi pelayan atau penjaga kasir.
"Ey.. Lengkap sekali kau menyebut nama ku, panggil saja Taetae. Aku suka itu." Taehyung tersenyum, kemudian mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk.
Seokjin hanya mengangguk, Taehyung berjalan menuju tempat duduk di dekat kasir diikuti Seokjin.
"Kau mau makan apa?" tanya Seokjin dengan kertas order dan pulpen di tangannya setelah Taehyung benar-benar duduk dan melihat menu.
Taehyung hanya memesan makanan dengan porsi kecil dan satu botol air mineral. "Baik, tunggu sebentar."
Saat Seokjin ingin beranjak, Taehyung memanggilnya. "Bisa kau izin sebentar dari pekerjaan mu?"
"Ada apa?"
"Temani aku makan..."
Hah?
Seketika Seokjin memasang raut heran, yang benar saja minta ditemani?
"Aku sedang bekerja, kau lihat?"
"Ah.. Hanya sebentar, ayolah noona, kau tega padaku? Hm..." Taehyung memelas, tak peduli jika ada yang memandangnya karena suaranya yang cukup terdengar oleh pelanggan yang lain.
Dia tidak tau malu.. Batin Seokjin. Ia jadi malu sendiri karena prilaku Taehyung padanya.
Ayolah orang-orang memandang mu Kim Taehyung!
"Mereka melihat ke arah mu Taehyung, kau tidak malu?" Seokjin bersuara sepelan mungkin namun sekiranya tetap dapat di dengar Taehyung.
"Apa urusan mereka? Biarkan saja, toh mereka hanya penasaran bukannya peduli." Taehyung cuek saja, matanya bahkan hanya terarah pada Seokjin seorang yang sedang berdiri di samping mejanya.
Benar juga, pikir Seokjin.
"Aku harus memberitahu pesanan mu dulu ya.."
Taehyung mengangguk dengan raut senang. Prilakunya sangat berbeda dengan setelan formal yang ia gunakan. Mungkin itu juga salah satu faktor kenapa orang-orang memandanginya.
Tak lama Taehyung menunggu, Seokjin kembali dengan membawakan pesanan Taehyung. "Wah noona.. Seragammu.." Taehyung memasang raut bodoh sekaligus bingung saat melihat Seokjin hanya memakai setelan biasa.
"Aku melepasnya, kau ingin aku menemani mu kan. Tidak enak jika aku duduk di sini tapi memakai seragam, itu tidak sopan." jelas Seokjin sambil menaruh makanan Taehyung di atas meja dan duduk di depannya.
Tak lupa Seokjin sudah mengambil sebotol minuman dingin agar suasana tidak canggung jika hanya Taehyung yang bersantap.
Sambil makan mereka berbincang mengenai hal tak penting yang Taehyung mulai topiknya. Mereka masih tak mau membicarakan hal yang bersifat pribadi. Ini baru kedua kalinya mereka bertemu wajar jika masih banyak rahasia.
"Noona.. Aku sudah mengenal Namjoon hyung lama, ia sudah seperti keluarga ku sendiri. Ingat?" Taehyung menyuap satu sendok makanannya.
"Iya, kau mengatakannya di rumah Namjoon. Kenapa?"
"Hyung itu.. Jarang sekali bercanda bahkan padaku. Hampir setiap leluconnya itu fakta."
"Lalu? Apa hubungannya dengan ku?"
"Saat hyung bilang kau calon teman hidupnya, aku merasa itu bukanlah lelucon."
Hah?
Kapan Namjoon mengatakan itu?
Ah... Di waktu dan tempat yang sama juga. Malam itu di rumahnya.
"Jujur saja noona.. Apa kalian akan menikah?"
Belum lagi Seokjin menanggapi, Taehyung malah bertanya hal yang sulit ia jawab sendiri.
Seandainya Namjoon ada di sini, akan Seokjin lempar pertanyaan itu pada Namjoon dan Seokjin akan bungkam saja. Itu lebih baik.
•
•
•
Sore ini, Namjoon luang. Ia pulang lebih awal, rencananya ingin istirahat dulu sebelum nanti malam membahas atau bahkan menyusun taktik untuk menghadapi gangster yang bisa membunuh anggotanya kapan saja.
Tapi sepertinya ada sesuatu yang mengalihkan perhatiannya ketika di jalan. Namjoon memberhentikan mobilnya di depan salah satu toko pernak-pernik.
Namjoon melihat dua orang tak asing yang baru saja masuk ke sana.
Itu... Taehyung dan Seokjin... Kan?
•
•
•
"Kau suka yang mana?" Taehyung bertanya dengan dua buah benda berbeda di tangannya.
"Yang ini lebih bagus." Seokjin menunjuk benda yang ada di tangan kanan Taehyung.
"Kau suka pink?"
"Iya."
Taehyung meminta Seokjin untuk menemaninya ke toko pernak-pernik. Awalnya Seokjin ingin menolak karena ia tidak enak dengan pegawai yang lain jika harus meninggalkan restorannya sebelum tutup apalagi hari ini ia datang terlambat.
Tapi Taehyung sendiri yang menemui pegawai Seokjin di kasir dan dapur untuk meminta izin agar Seokjin boleh pergi, bahkan Taehyung sempat mencari pemilik restoran itu namun Seokjin bilang pemiliknya sedang sibuk. Seokjin benar-benar merahasiakan identitasnya.
Saat sedang asyik memilih dan melihat-lihat, ponsel Seokjin bergetar singkat seiring munculnya notifikasi pesan masuk.
Namjoon:
Kau dimana?
Tanpa basa-basi, Seokjin membalasnya singkat.
Seokjin:
Di toko pernak-pernik
Namjoon:
Aku ke sana
Seokjin:
Mau apa?
Namjoon:
Menemui calon istri ku
Seokjin tidak membalasnya lagi, ia hanya memutar bola matanya malas ketika membaca pesan itu. Kapan Namjoon bisa berhenti menyebutnya calon? Seokjin jengah mendengarnya.
"Kenapa?" Taehyung menyenggol Seokjin. "Tidak ada apa-apa." sahut Seokjin menyimpan kembali ponselnya ke tas kecilnya. Taehyung hanya mengangguk. Tak lama, bel di atas pintu toko berbunyi menandakan ada pelanggan yang masuk ke toko.
"Seokjin." panggil Namjoon di depan pintu. Seokjin menoleh dengan senyum tipis, Namjoon membalas dan menghampirinya. "Namjoon hyung?" Taehyung menyapa dengan bingung. "Oh Tae." Namjoon hanya menyapa singkat dengan senyum seadanya.
"Kau mau membeli sesuatu?" tanya Namjoon pada Seokjin yang kembali melihat-lihat barang. "Tadinya tidak, tapi barang di sini lucu-lucu aku jadi ingin membelinya." Seokjin menjawab tanpa menoleh pada Namjoon yang bediri di sampingnya. "Oh.. Begitu... Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa bertemu di sini? Apa kebetulan?" Namjoon mulai ikut melihat-lihat barang di sekitarnya.
"Iya-"
"Tidak. Aku yang mengajaknya ke sini untuk membantuku mencari hadiah." Belum lengkap Seokjin menjawab Taehyung sudah menyelanya.
"Seokjin, apa restoran mu tutup hari ini?"
"Tidak, tadi aku makan di sana. Lalu mengajaknya keluar." bukan Seokjin tapi Taehyung yang menjawabnya.
"Kau menutup restoran mu?"
"Hey Hyung, dia kan pegawai mana mungkin menutup sendiri restoran tempatnya bekerja." lagi-lagi Taehyung.
Mendengar itu, Namjoon seketika melirik pada Seokjin seolah menyiratkan kalimat 'kenapa kau membohonginya?'. Seokjin pun mengerti lirikan Namjoon, tapi ia tak mau bersuara.
Apa Seokjin tidak bilang dia pemilik restoran itu? Pikir Namjoon.
"Sudahlah Tae, kau mau beli apa lagi?" Seokjin beralih pada Taehyung yang sedari tadi tangannya tak lepas dari boneka warna merah biru dengan kepala berbentuk hati.
"Hm.. Apa boneka ini bagus untuk hadiah?" tanya Taehyung memandangi boneka yang besarnya setengah dari tubuhnya itu. "Bagus, tapi kau kan ingin mengemasnya dalam kotak hadiah, apa kotak hadiah mu muat untuk boneka sebesar itu?" Seokjin ragu, Taehyung sempat bilang dia ingin mengemas hadiahnya dalam kotak sebagai kado, jarang sekali ada yang menjual kotak hadiah untuk ukuran boneka besar.
"Pasti muat, aku membuatnya bahkan agak lebih besar dari ini agar muat dengan ku sekalian."
Ah.. Taehyung membuatnya sendiri. Tapi tunggu! Taehyung ingin ikut masuk ke kotaknya juga, begitu?
"Apa maksud mu?" tanya Seokjin. Semoga perkiraannya salah.
"Ya begitu, aku juga akan masuk ke kotak itu bersama boneka ini. Dia pasti terkejut, boneka ini sungguh besar dan pas juga untuk dipeluk." perkiraan Seokjin benar, Taehyung begitu sumringah memandang dan kemudian memeluk boneka di depannya.
Kalau saja aku yang ia beri hadiah semacam itu, aku lebih terkejut karena ada dia di dalamnya daripada boneka besarnya. Batin Seokjin.
Beralih dari itu, Seokjin mengambil satu gantungan ponsel berbentuk hewan alpaca berwarna putih dengan scraf merah dan itu bisa menyala dalam gelap.
Taehyung merasa Seokjin akan membelinya, jadi "Kau pilih itu? Ayo Noona, kita ke kasir." Taehyung menanyakan, dijawab anggukan kecil dari Seokjin yang beranjak mendahului Taehyung menuju kasir. Sedang Taehyung mengikutinya di belakang bersama Namjoon.
"Hyung, kau bayar saja gantungan itu untuknya." bisik Taehyung pada Namjoon agar Seokjin tak mendengarnya. "Kenapa aku? Bukan kah dia yang ingin membelinya?" jawab Namjoon santai. "Hyung! Kau ini! Apa kau tak ingin memberi sesuatu yang dia ingin kan? Kau pernah memberi apa padanya? Kau bilang dia calon teman hidup mu." cerocos Taehyung masih dengan nada pelan.
"Lancar sekali kau bicara ya.. Mentang-mentang kau sudah punya pacar." balas Namjoon melirik sinis. "Sudah ku bilang dia bukan pacar ku, tapi tak apa lah kalau hyung menganggapnya begitu." Taehyung cengengesan dengan kalimatnya, kemudian berjalan mendahului Namjoon menyejajarkan diri dengan Seokjin yang sudah berdiri di depan meja kasir.
Walaupun Seokjin yang sampai lebih dulu, tapi Taehyung lah yang membayar lebih dulu. Setelah selesai Taehyung langsung mundur, mendekati Namjoon yang sedari tadi di belakang mereka.
"Hyung! Kau sungguh tak mau membelikan benda itu?" bisik Taehyung. "Kau ini kenapa? Biarkan dia beli sendiri, dia juga kan punya banyak uang." sahut Namjoon santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sebaiknya kau keluar saja duluan. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya." suruh Namjoon, Taehyung hanya mencibir dan menurut. Dia keluar lebih dulu meninggalkan Namjoon dan Seokjin yang tidak tau apa-apa.
Saat Seokhin ingin mengeluarkan uang, Namjoon memanggil. "Seokjin.. Kau yakin ingin membeli itu?" tanya Namjoon. "Iya, kenapa?" Seokjin menoleh kearah Namjoon yang sekarang berdiri di sebelahnya.
"Apa harganya mahal?"
"Lumayan, tapi tak apa lah sekali-sekali. Aku juga jarang membeli hal-hal seperti ini."
"Simpan saja uang mu, nona pegawai restoran." Setelahnya Namjoon memberikan kartu pada penjaga kasir untuk membayar gantungan yang Seokjin inginkan. "Namjoon, kau tidak perlu-"
"Tak apa, Taehyung taunya kau seorang pegawai restoran yang harus mengumpulkan uang dulu untuk membeli benda seperti itu."
Penjaga kasirnya mengembalikan kartu Namjoon yang sudah di gunakan. Namjoon menerimanya dan beranjak keluar lebih dulu. "Ayo, Taehyung menunggu di luar."
Dia membelikan ku benda itu karena Taehyung begitu? Pikir Seokjin.
Apa aku baru saja memberi sesuatu yang ia inginkan? Pikir Namjoon.
TBC
Alohaaaa! Maafkeun ketelatan ini chinggudeul..
Like and coment nya ya..
