Disclaimer : Naruto and all the characters mentioned in the story they're all belongs to Masashi Kishimoto. I do not take any financial benefits from this.
Demon Among Us
[ God, please protect me and my family from all the evil force, all the evil souls, and all the evil spirits that are lingering around me and my family. Amen. ]
Naruto tersenyum tipis, kaki jenjang melangkah melalui pintu utama, kedua tangan membawa boks besar bersampul oranye bergaris biru tua. Hati-hati dia melangkah, menghampiri seorang anak kecil berusia 5 tahun dengan ciri fisik hampir sama seperti dirinya yang sudah lebih dahulu menunggu di atas sofa.
"Ayah!"
Seperti anak kecil pada umumnya; melihat si ayah kembali dari kantor, cepat-cepat dia berlari menghampiri sambil melompat kegirangan.
"Kau sudah menjadi anak baik hari ini Menma?" Naruto berjongkok, menatap putra kesayangannya lembut. Namun si anak yang dipanggil Menma terlihat tidak peduli—terlalu asik menatap ke arah boks dengan warna kesukaannya saat ini.
"Apa ini untukku? Ini pasti untukku."
Naruto tertawa. Pertanyaan yang terlontar dari Menma lebih terdengar seperti pernyataan. Menaikkan segaris alis, dia mengangkat boks besar itu, lalu meletakannya di atas bahu. "Sebenarnya ini milikku."
Kesal, juga kecewa mendengar jawaban yang diucap langsung dari mulut Naruto, Menma kecil menghentak kakinya ke atas lantai. "Ini hari ulang tahunku Ayah!"
"Benarkah? Bukankah hari ulang tahunmu sudah lewat ke–" Tiba-tiba saja Naruto mengatupkan mulutnya rapat. Sepasang iris biru menangkap sosok pria bersurai hitam yang kini menatap tajam dari arah dapur.
"Naruto, apa yang kau lakukan?"
"H-hey, Sasuke," sapa Naruto takut-takut, ketika pria itu membuka mulut dengan suara rendah sambil melangkah mendekat. "Aku baru saja kembali dari kantor, dan uh—" Perlahan, boks yang semula berada di atas bahu diturunkan ke atas lantai, disusul tepuk lembut di puncak kepala Menma. "Membawa hadiah ini untuk Menma."
Menma spontan menggeleng, dan berlari ke arah Sasuke. "Tadi Ayah bilang itu bukan milikku."
Tahu saat ini kondisinya tidak menguntungkan, Naruto mencoba membujuk Menma sekali lagi dengan merobek sedikit sampul yang menutupi seluruh permukaan boks. Memamerkan sedikit isi di dalamnya dengan sengaja. "Ayah bercanda. Kemarilah, dan lihat apa yang kubawa untukmu."
Mulanya Menma menggeleng pelan, terlihat masih sedikit kesal. Namun saat Sasuke tersenyum tipis sambil berbisik pelan di telinganya, ekspresi bocah berusia 5 tahun itu kembali ceria dengan senyum manis.
"Happy Birthday Menma!" Tangan Naruto terbuka lebar. Mengharap si anak untuk mendekat ke arahya, dan memberikan satu dekap hangat.
Ternyata bukan hanya dekap, kecup malu-malu juga diberikan Menma untuknya.
"Seharusnya kau datang lebih cepat, sudah kukatakan padamu tadi pagi, bukan?"
Mendengar protes kecil yang berasal dari Sasuke, pria pirang berusia 32 tahun itu bangkit dari atas lantai, dan menghampiri. "Maaf," gumamnya pelan, mengecup lembut bibir Sasuke sebelum melirik ke arah Menma yang sedang berusaha keras untuk merobek sampul. "Aku harus mencari mainan yang dia inginkan. Bagaimana dengan persiapan pestanya?" lanjutnya lagi, melepas dasi serta dua kancing kemeja teratas.
"Tidak ada masalah," jawab Sasuke singkat, lalu dia melangkah ke arah dapur diikuti dengan Naruto di belakang.
"Jadi kau tidak membutuhkan bantuanku, hm?" tanya Naruto, sedikit menggoda. Gelas berisikan soda jeruk yang berada di dalam genggam sengaja diletakkan kembali pada meja. "Sepertinya aku tidak salah mencintai pria sepertimu yang bisa di—"
"Kau yakin dengan semua ini?" potong Sasuke. "Bagaimanapun juga Menma tidak akan mengerti."
Wajah Sasuke terlihat datar dengan kedua tangan melipat depan dada, tetapi Naruto tahu ada keraguan yang sengaja disembunyikan. "Semuanya akan baik-baik saja Sasuke. Aku hanya ingin Menma mengetahui keadaan yang sebenarnya, dan aku juga ingin dia bertemu dengan Boruto, Himawari, dan Sarada."
Jawaban yang semula Naruto harapkan sesuai dengan keinginanya, berubah ketika Sasuke mulai melangkah menjauh. "Jika seperti itu, cepat ganti pakaianmu, Dobe. Mereka akan segera datang."
"Sasuke? Hey ..., aku belum selesai bicara, Sasuke—" Berkali-kali dia memanggil. Namun tidak ada respon sama sekali.
Naruto menghela napas. Bersandar pada punggung kursi mencoba mengoreksi diri, tetapi sekeras apa pun berpikir dia merasa dirinya tidak bersalah.
Uzumaki Boruto, dan Uzumaki Himawari adalah kedua anaknya dari pernikahan pertama bersama Hyuuga Hinata, sedangkan Uchiha Sarada adalah anak tunggal Sasuke dari pernikahan pertamanya bersama Haruno Sakura. Dia, dan Sasuke memiliki masa lalu yang tidak dapat disembunyikan, cepat atau lambat semuanya akan terungkap, dan dia tidak ingin merahasiakan itu semua dari Menma.
Karena itu, mengundang mereka untuk makan malam bersama pada saat hari jadi Menma yang ke-5 adalah hal yang tepat, menurutnya.
Naruto lagi-lagi menghela napas. Kakinya melangkah pelan meninggalkan meja makan. Saat dia melewati Menma yang tersenyum lebar dengan mainan baru, dia hanya tersenyum tipis.
.
"Aku berhasil menyatukan seluruh bagian!" Tangan kecil terangkat ke udara, dengan bangga Menma memamerkan sebuah robot, tetapi menyadari kedua ayahnya tidak ada, mainan dalam genggam tangan dia tinggalkan ke atas lantai. Berulang kali bibirnya mengucap hal yang sama, hingga rengek pelan ikut terdengar, tetap tidak ada Naruto, atau Sasuke di sana. Dia menyerah. Kepalanya menunduk, semuanya menjadi tidak menarik lagi. Dia memilih diam. Bersandar pada sisi sofa hingga bunyi bel dari arah pintu mengalihkan perhatian.
Kaki kecil melangkah cepat—hampir berlari. Kedua tangan memutar knop pintu yang terasa sangat susah diraih. Meskipun tidak mengenali wajah asing di hadapannya saat ini, Menma menyambut ramah.
"Kau pasti Menma?"
Wanita berambut merah muda pastel, dengan gaun warna merah membalut tubuh, mengusap kepala Menma lembut. "Kau terlihat tampan seperti ayahmu."
Menma tersenyum lebar karena bangga, tahu maksud yang dikatakan wanita itu. Telinganya sudah tidak asing lagi dengan pujian.
"Namaku Haruno Sakura, dan ini putriku, Sarada."
Menma mengulurkan tangan ramah. Namun anak yang dipanggil Sarada hanya menatap sinis ke arahnya.
"Wajahmu menyeramkan," ucap Menma polos, menarik kembali tangan kanannya takut-takut.
Sakura yang merasa iba berjongkok untuk membelai lembut kepala Menma. "Kuharap kau mau memaafkan Sarada, dia tidak bermaksud untuk memperlakukanmu seperti itu."
Menma hanya menangguk ragu dengan pelan, sebelum matanya menangkap ada wanita lainnya di belakang yang tersenyum ke arahnya.
"Namaku Hyuuga Hinata. Ini Boruto dan Himawari, kuharap kalian bisa berteman baik."
Belum sempat Menma menyahut, anak berambut pirang dengan iris mata warna biru, dan dua goretan di masing-masing pipi, mendorong kuat hingga tubuh mungilnya tumbang ke atas lantai.
"Pergi kau! Aku ingin bertemu ayahku!"
"Boruto! Kau tidak boleh berbicara seperti itu!"
Bentakan Hinata tidak membuat Boruto takut, justru volume suaranya semakin tinggi, bahkan dengan lancang dia berlari memasuki rumah.
Menma yang terduduk di atas lantai berusaha bangkit cepat-cepat. Menahan rasa sakit di tubuh. Dia menarik pakaian Boruto—tidak rela jika rumahnya dijelajah. "Aku tidak menyukaimu! Kau tidak boleh masuk!"
"Jangan ditarik!" bentak Boruto, menepis dengan kasar.
Tubuh Menma yang memang jauh lebih kecil dari Boruto, kembali tumbang ke atas lantai. Berkali-kali dia terjatuh, berkali-kali juga dia berusaha bangkit kembali, hingga kedua sosok pria—ayahnya—berlari menuruni tangga, panik.
"Ayah! Boruto mendorongku be—" Kalimatnya tidak dilanjut. Menma heran saat Naruto melewatinya tanpa menoleh. Bahkan jari kecilnya masih menunjuk ke arah Boruto yang telah mendorongnya berulang kali.
"Boruto, Himawari, kalian sudah datang rupanya." Naruto menghampiri kedua anaknya. Rambut pirangnya terlihat masih lembab, dan jas yang membalut tubuh kini digantikan oleh t-shirt hitam.
Boruto dan Himawari berteriak girang secara bersamaan, kedua anak itu berlari, dan melompat ke arah Naruto sebelum memeluknya erat.
Tidak mau kalah, Sarada yang pendiam ikut berlari menghampiri Sasuke. Bahkan wajahnya terlihat sumringah.
Dari arah belakang Menma diam memerhatikan. Dahi mengernyit melihat tingkah laku kedua ayahnya seolah tidak lagi peduli akan dirinya. Setahunya Naruto, dan Sasuke adalah ayahnya dan bukan ayah mereka. "Itu ayahku," dia berbisik sangat pelan.
Tidak ada yang menoleh.
"JANGAN SENTUH KEDUA AYAHKU!"
Menma menangis.
.
Makan malam yang terasa begitu canggung. Menma hanya diam, menatap makanan yang terhidang di piring. Lain dengan Boruto, Himawari, dan Sarada yang memang sejak tadi terlihat sangat bahagia sambil menyantap lahap.
Naruto, dan Sasuke memang sudah membujuk berulang kali, tetapi kondisi Menma, tetap sama. Bahkan dia tidak mempedulikan beberapa hadiah dengan sampul warna-warni yang dibawa oleh Sakura, dan Hinata.
"Menma, kau mau es krim?"
Si anak yang berambut hitam hanya menggeleng pelan, "Aku sudah kenyang."
Melihat Menma turun dari atas kursi, dan melangkah ke arah tangga. Sasuke, dan Naruto saling menatap bingung. Tidak biasanya mereka melihat Menma si periang menjadi si pendiam.
"Menma pasti terkejut melihat kedatangan kami ke sini," ujar Hinata tersenyum pahit sambil menatap kedua anaknya.
"Dia masih terlalu kecil untuk memahami ini semua Naruto," timpal Sakura.
"Aku tahu Menma anak yang cerdas, tapi kurasa kau benar Sakura." Belum sempat Naruto bangkit dari atas kursi, Sasuke lebih dulu meninggalkan mereka untuk menyusul Menma. Merasa ini tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, dia pun mengikuti Sasuke dari arah belakang.
"Menma, kau sudah tidur?" panggil Sasuke ketika dia memasuki ruang yang cenderung gelap karena hanya ada lampu lava kecil di atas meja. Dari arah pintu terlihat; sebuah kasur bentuk mobil, tembok yang dihiasi oleh banyak stiker, dan beberapa mainan di atas karpet bertema kereta.
"Belum." Terdengar sahutan pelan dari arah kasur, diikuti gerak halus dari balik selimut.
Naruto, dan Sasuke saling menatap lagi. Beriringan, mereka mendekat dan duduk di tepi kasur.
"Menma, kenapa kau tidak menyantap makan malammu? Apa masakan ayah tidak enak?" Naruto mencoba membuka suara. Namun Menma menggeleng pelan.
"Aku hanya tidak lapar ayah," sahut Menma pelan. Tidak sedikit pun dia menoleh.
"Apa kau marah padaku?"
Pertanyaan Sasuke, sukses membuat Menma menoleh, dan menatapnya gugup.
"A-aku tidak marah padamu ayah," jawab Menma cepat meskipun terbata. Kedua mata menatap Sasuke lurus seakan membuktikan jika kalimatnya tidak ditutupi kebohongan. "Aku hanya ..., aku ... aku tidak menyukai mereka! Boruto jahat! Dia mendorongku sampai terjatuh di lantai! Aku tidak suka!"
"Kau tidak suka karena mereka bersikap jahat padamu?" tanya Naruto. Ikut merebahkan tubuhnya pada kasur, memamerkan senyum khas miliknya pada Menma yang kini merangkak pelan ke arahnya. "Kau tahu Menma? Sebenarnya mereka adalah kakakmu, kita keluarga, hanya saja mereka tidak tinggal di sini. Kau sudah lihat Boruto, dan Himawari bukan?"
Menma mengangguk pelan, merasakan sentuhan lembut yang membelai rambutnya.
"Garis di pipi mereka sama denganmu, bukan?" Naruto menyentuh ketiga garis yang berada di pipi Menma, lalu mencubitnya dengan lembut.
Menma menyentuh kedua pipi. "Kau benar ayah, mereka memiliki garis yang sama denganku."
"Lalu apa kau lihat rambut milik Boruto?"
"Ya, rambut Boruto sama sepertimu ayah, dan Himawari juga," ucap Menma, "lalu apa Sarada sama seperti Boruto, dan Himawari?"
Tanpa menjawab, Naruto melirik ke arah Sasuke sambil tersenyum. Menma yang berada di atas tubuhnya juga ikut melirik ke mana arah bola mata si ayah tertuju.
"Sarada memiliki wajah, dan rambut sama seperti ayah, dan aku," ujar Menma memerhatikan Sasuke, tanpa berkedip.
"Jadi, apa kau mau bertemu dengan mereka, dan bermain bersama lagi?"
Menma menatap Sasuke, dan Naruto bergantian. Wajahnya menunduk sesaat, sebelum mengangguk lalu turun dari atas kasur.
"Aku tahu Menma anak yang cerdas." Naruto tersenyum tipis, memerhatikan Menma yang berlari meninggalkan mereka. Kedua tangannya sengaja dikalungkan pada pinggang Sasuke, sebelum bibirnya mengecup perpotongan leher, dan bahu pria itu.
"Hn, tapi urusanmu denganku belum selesai, Dobe," ancam Sasuke menatap tajam.
Naruto hanya bisa tersenyum pasrah.
.
Semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga.
Naruto memutuskan untuk mengambil beberapa es krim dari dalam lemari pendingin. Tidak seperti Menma, dan Sarada yang duduk diam di atas sofa, Boruto, dan Himawari sudah lebih dulu merasakan suhu permukaan bibirnya menjadi lebih dingin.
"Sarada, kau memiliki rambut yang sama sepertiku," ujar Menma, memulai percakapan. Namun Sarada hanya menatap sinis, sebelum memalingkan wajah dengan decak kesal.
Melihat Menma kembali menunduk, Naruto mempercepat langkah kakinya. "Kalian pasti sudah menunggu lama?"
Menma menggeleng. Sekilas dia melirik ke arah Himawari sebelum tangannya meraih es krim yang diberikan Naruto. "Ayah, kenapa es krim milik Himawari tidak sama seperti kami?"
"Itu bukan urusanmu!" bentak Boruto kasar.
"Boruto. Berapa kali kukatakan padamu untuk tidak berteriak, dan tidak membentak?" tegur Naruto. Sepasang matanya menatap tajam, membuat Boruto menunduk diam.
Menma ikut diam, dia masih menunggu Naruto untuk menjawab pertanyaannya.
"Himawari alergi pada kacang Menma. Dokter bilang, Himawari tidak boleh memakan kacang jenis apa pun meskipun sedikit," jelas Naruto singkat.
Menma melirik lagi ke arah Himawari diam-diam, sebelum menatap ke arah Naruto, dan mengangguk pelan.
.
"Kurasa akan sedikit sulit untuk membuat mereka akur, Boruto memiliki sifat temperamental, sedangkan Himawari akan menuruti semua perkataan kakaknya," ujar Hinata menghela napas, berbeda dengan Sakura yang kini menahan tawa.
"Benar-benar mirip dengan Naruto," celetuk Sakura. "Setidaknya Hinata, Boruto masih mau membuka mulut mereka untuk berkomunikasi, kau lihat sendiri bagaimana Sarada memperlakukan orang asing yang baru saja dikenalnya." Pupilnya melirik ke arah pria berdarah Uchiha. "Dia mewarisi sifat burukmu itu, Sasuke."
Sasuke hanya bergumam, malas menanggapi. Matanya memilih untuk menatap sosok pirang yang kini menghampiri mereka.
"Boruto masih tidak bisa mengendalikan emosinya?" Pertanyaan terlontar dari mulut Hinata, ketika Naruto bersandar pada punggung kursi.
Naruto menggeleng pelan. "Bagaimanapun juga aku tidak bisa memaksakan kehendakku padanya." Bahu mengedik seraya menatap balik iris lavender milik Hinata.
"Mereka akan terbiasa, mungkin akan membutuhkan sedikit waktu. Jangan terlalu dipikirkan." Sakura mencoba menghibur. Namun Hinata hanya tersenyum pahit. Lain dengan Sasuke, dan Naruto yang tidak memberikan respon apa pun.
"Kurasa ini sudah terlalu larut." Sakura melirik ke arah jam yang menggantung di dinding. "Sebaiknya aku pu–"
"PAPA!"
"AYAH–!"
Teriakan Sarada, dan Boruto terdengar dari arah ruang tamu. Sakura, dan Sasuke bergegas menghampiri diikuti oleh Naruto, dan Hinata.
Kedua anak berusia 12 tahun itu berlari menghampiri kedua orang tuanya. Wajah mereka terlihat ketakutan, dan panik, sedangkan Menma kecil tertidur lelap di atas sofa.
"Ayah! Himawari tidak bisa bernapas!" Boruto menarik lengan Naruto sekencang-kencangnya, lalu menunjuk ke arah Himawari yang kini bersandar pada dinding dengan tangan terkepal di depan dada.
"Papa lakukan sesuatu!" Sarada ikut berteriak.
Pupil biru Naruto membulat sempurna. Dia berlari menghampiri tubuh kecil Himawari, lalu menggendongnya. "Sasuke cepat hidupkan mobilnya!"
.
Tangan terlipat depan dada, tanpa suara, ekspresi wajah menyiratkan kesedihan mendalam. Naruto memerhatikan dokter memasang alat bantu pernapasan berupa selang pada Himawari yang kini terbaring tidak berdaya di atas kasur.
Hinata terlihat cukup terpukul, dan Boruto yang berdiri di sebelahnya hanya bisa menunduk.
"Alerginya kambuh, dan menyerang pernapasan." Pria paruh baya dengan jas putih menoleh ke arah Naruto. "Dia terlalu banyak mengkonsumsi kacang-kacangan."
"Tidak!" sangkal Boruto spontan. Sepasang matanya menatap yakin Naruto, dan Hinata secara bergantian "Aku yang menjaganya, dan aku melihatnya sendiri jika Himawari tidak memakan kacang sedikit pun."
Mengerti pada porsinya, dokter yang menangani Himawari menunduk sopan, lalu meninggalkan ruangan.
"Boruto," panggil Hinata lembut. Kedua tangan mengusap lembut pipi bergaris milik putranya. "Tidak apa-apa, ini bukan kesalahanmu. Himawari akan kembali sehat setelah dokter memberinya obat."
"Aku melihatnya sendiri Ibu!" tegas Boruto menggeleng pelan. Tangan terkepal saat Hinata bertingkah seolah tidak percaya dengan apa yang dia katakan. "Himawari tidak memakan kacang sedikit pun karena aku selalu menjaganya!"
Dari arah belakang, Naruto melangkah mendekat, tetapi belum sempat dia membuka mulut, Hinata lebih dulu menarik Boruto menjauhinya.
"Naruto, biar aku saja. Kau harus cepat pulang," ucap Hinata pelan.
Cukup lama Naruto terdiam heran menatap bingung, hingga senyum tipis terkembang dari sudut bibirnya. "Apa maksudmu?"
Hinata memalingkan wajah dari Naruto. Tanpa sadar dia menahan lengan Boruto cukup kuat hingga putranya mengaduh kesakitan.
"Hinata, apakah kau lupa jika aku adalah ayahnya?"
"Menma dan Sasuke menunggumu di rumah. Jangan membuat mereka menunggumu terlalu lama Naruto," jawab Hinata cepat.
Rasa sesal muncul dalam hati Naruto. Selama ini mengira jika hubunganya dengan Hinata setelah bercerai berjalan baik-baik saja, nyatanya itu semua hanya ilusi. Hari ini, dia melihat langsung bagaimana cara wanita itu membangun tembok batasan di antara mereka.
"Kabari aku jika terjadi sesuatu." Tanpa menoleh, Naruto berbalik, dan meninggalkan ruangan. Kaki jenjangnya melangkah cepat melewati koridor rumah sakit menuju lobby.
.
"Bagaimana keadaan Himawari?"
"Semua akan baik-baik saja, aku yakin itu meskipun sedikit membingungkan." Naruto merebahkan tubuhnya di samping Sasuke, wajahnya terlihat lelah ketika dia menguap berulang kali. "Dokter bilang, Himawari terlalu banyak mengkonsumsi kacang-kacangan, sedangkan Boruto berusaha meyakinkan kami jika tidak ada satu butir kacang pun yang termakan oleh Himawari."
"Itu aneh, anak kecil tidak biasanya berbohong," sangkal Sasuke, diikuti dengan angguk kepala dari Naruto setelahnya.
"Kau memang benar, tetapi aku tidak bisa mempercayainya. Mungkin saja saat mereka bermain bersama Himawari tiidak sengaja memakan es krim milik Boruto," jelas Naruto.
"Hn, bagaimanapun juga mereka hanya anak-anak," timpal Sasuke.
Naruto mengangguk lagi. Sepasang iris biru melirik ke arah pria di sebelahnya yang sedang membaca buku. "Sasuke," panggilnya pelan. "Kau mau secangkir kopi?" Tangan kekarnya digunakan untuk membawa tubuh pria itu ke dalam peluk.
"Tidak, aku ingin tidur," jawab Sasuke singkat. Menepis tangan Naruto, sebelum menutup buku bersampul hijau tua di tangan.
Naruto menaikkan sebelah alis, sikap acuh Sasuke hanya membuatnya gemas. "Kau tidak ingin memberiku ciuman selamat malam?" Dengan sengaja dia memajukan bibirnya, tetapi bukan pipi lembut tempat di mana bibirnya mendarat, tangan Sasuke lebih dulu mendorong wajahnya menjauh.
"Selamat malam." Naruto tahu, malam ini memang bukan malam keberuntungannya. Kecewa diikuti helaan napas, dia menarik selimut, lalu memejamkan kedua mata.
"Ayah."
Naruto kembali membuka kelopak mata. dia bangkit dari atas kasur, lalu mengernyit. Samar-samar terdengar suara Himawari yang memanggil. Namun seluruh ruangan gelap, cahaya minim membuatnya susah melihat.
"Sasuke?" panggilnya pelan. Namun dia sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan pria itu.
"Ayah."
Suara Himawari terdengar kembali di telinga. Dia menoleh ke kiri, dan kanan, tetapi masih tidak bisa menemukan dari mana sumber suara berasal.
"Himawari!" Naruto mulai berlari kecil ke sembarang arah. Dia tidak tahu mengapa Himawari memanggil namanya berulang kali, ataupun di mana dirinya berada saat ini.
"Ayah, tolong aku!"
Sudut matanya menangkap cahaya yang berasal dari sisi kanan. Dia menoleh, dan mendapati seorang anak bersurai Indigo terbaring lemah tidak berdaya dengan beberapa selang terpasang pada tubuhnya.
Jantung mulai berdegup cepat. "Hima?" panggilnya ragu. Naruto mencoba mendekat, mempercepat langkah kaki. Namun secepat apa pun dia berlari, tubuh yang terbaring lemah itu, tidak bisa digapainya.
"HIMAWARI!" teriaknya frustasi. Kedua tangan terkepal menahan emosi.
"Seharusnya, kalian mengucap salam perpisahan."
Pupil Naruto membulat sempurna. Matanya fokus pada bayangan hitam menyerupai sosok pria yang tiba-tiba saja menampakan diri di samping Himawari.
"Siapa kau?" Suara Naruto bergetar, matanya tidak berkedip memandang pergerakan halus dari bayangan hitam itu.
"Tidak perlu bertanya, kau sebenarnya mengenaliku."
"Jangan bergurau! Aku tidak kenal denganmu!" sangkal Naruto. Namun sosok itu seakan tidak peduli, dan mulai menyentuh lembut wajah Himawari.
"A-apa yang kau lakukan?" Bulir-bulir keringat mulai menetes membasahi pelipis.
"Aku melakukan apa yang kau inginkan." Perlahan, sosok itu mencabuti satu demi satu selang yang terpasang pada tubuh Himawari. Seolah memberikan sebuah pertunjukan kepada Naruto, dia melakukannya dengan sangat lambat.
"HENTIKAN! KAU BISA MEMBUNUHNYA!" Naruto mencoba berlari menghampiri. Namun tubuhnya kaku di tempat. "Brengsek!"
"Bukankah ini yang kau inginkan? Seharusnya kau berterima kasih padaku karena telah mengabulkan keinginan yang sulit ini," sahut bayang hitam itu.
"KAU GILA?! AKU TIDAK MENGINGINKANNYA!" Naruto sudah mengerahkan seluruh tenaga. Percuma. Dia hanya bisa berdiri di sana menyaksikan adegan demi adegan yang membuat hatinya terobek pilu.
Bayang hitam itu tertawa puas melihat anak kecil di hadapannya mendelik kekurangan oksigen, lalu dia berbisik pelan ketika tangan kecil Himawari menggapai-gapai ke udara. "Mimpi indah, teman."
"HIMAWARI! TIDAK! HIMAWARI—!"
Kelopak mata Naruto terbuka lebar, bulir-bulir keringat menetes membasahi wajah. Deru napasnya terdengar cepat, dia mencoba mendudukkan tubuh, bersandar pada bantal, dan memerhatikan seluruh isi ruangan, lalu mengernyit saat cahaya matahari masuk melalui celah jendela. "Mimpi?" gumamnya pelan. Dia menunduk, melihat kedua tangannya masih bergetar. "Bagaimana mungkin terasa sangat nyata?"
Sudut matanya menangkap sebuah cahaya dari jam digital milik Sasuke yang terletak di atas meja. Dia menoleh, lalu matanya menyipit.
"6:66?" ucapnya heran. Setahunya menit pada jam digital hanya memiliki angka hingga 59.
"Naruto."
Tubuh Naruto terlonjak kaget, ketika dia menyadari bahwa Sasuke yang memanggil, desah lega terdengar dari mulut.
"Oh hey, Sasuke," panggil Naruto basa-basi, lalu dia menunjuk ke arah jam di sampingnya. "Jam digitalmu sepertinya rusak."
Seakan tidak peduli atas perkataan Naruto, Sasuke melangkah mendekat, lalu menatap bingung. "Apa kau sakit? Wajahmu pucat."
Naruto menggeleng pelan, terpaksa memasang senyum palsu. "Tidak, aku hanya." Dia terdiam, ragu untuk melanjutkan. Namun tatapan Sasuke menuntut sebuah jawaban darinya. "Aku ..., aku bermimpi menyaksikan kematian Himawari tepat di depan mataku, dan aku tidak mampu menolongnya."
"Mimpi hanya bunga tidur, mungkin saja ka—"
"Aku tahu Sasuke," potong Naruto. Telapak tangan menysir rambut pirangnya ke belakang. "Aku tahu, tetapi itu terasa sangat nyata." Dia berusaha menjelaskan. Namun Sasuke terlihat tidak tertarik akan topik pembicaraan mereka pagi itu. "Bayangan hitam yang menyerupai sosok pria. Bahkan aku masih bisa mengingat bagaimana dia tertawa puas saat Hima–"
Naruto diam, perhatiannya terbagi ke arah ponsel yang bergetar di atas meja.
Biru dan hitam saling beradu pandang cukup lama, hingga si pirang berpaling untuk mengambil ponsel miliknya.
"Naruto."
Suara wanita yang memanggil namanya terdengar sangat parau. Tanpa perlu memastikan, Naruto sudah tahu siapa pemilik suara tersebut.
"Hinata, ada apa?" Naruto mengernyit bingung, karena tahu, tidak biasanya wanita itu menghubunginya sepagi ini.
"Himawari."
Isak tangis terdengar pelan, membuat jantung Naruto mulai berpacu cepat. Imajinasi negatif kini mulai menguasai isi kepala. Hanya satu yang dia takutkan, jika mimpinya menjadi nyata. "Ada apa dengan Himawari?!"
Cukup lama Naruto menunggu. Namun dia tidak mendapat jawaban. Kesabarannya saat itu mulai habis. "Katakan padaku sebenarnya ada apa?!"
"Himawari sudah tidak ada lagi di dunia ini!" sahut Hinata dengan suara lantang, lalu tangisnya pecah seketika.
"Hinata ini sama sekali tidak lucu," Naruto menyahut dengan tawa tertahan. Kepalanya menggeleng karena dia tidak percaya. "Tidak seharusnya kau bergurau seperti ini Hinata!"
Matanya menatap Sasuke. Namun pria berdarah Uchiha itu hanya diam menatap balik ke arahnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa bergurau tentang nyawa anakku sendiri Naruto?!"
"Tidak." Pupil Naruto membulat sempurna. "Ini tidak benar ..., INI TIDAK BENAR! JANGAN BERBOHONG HINATA."
Bagaikan sebuah nada yang diputar ulang, tawa puas sosok hitam itu kembali terdengar di telinganya.
.
Continued
