Naruto berlari di sepanjang koridor rumah sakit, diikuti Sasuke, dan juga Menma di belakangnya. Beberapa kali Menma memanggil. Namun dia tidak hiraukan. Pikirannya sangat kacau saat ini. Bahkan tidak bisa membedakan antara mimpi atau memang kenyataan pahit.
"Hinata!" panggil Naruto pada wanita yang berdiri di depan pintu; terisak dengan wajah menunduk dalam. Di sampingnya terlihat juga Boruto ikut menangis.
Hinata mengangkat wajah. Tubuhnya gemetar, matanya merah, dan wajahnya pucat. Tangisnya semakin pecah melihat Naruto datang menghampiri. "Himawari. Himawari ..., Naruto!"
Naruto spontan menarik Hinata ke dalam peluk, membiarkan wanita itu menangis di bahunya. "Tenangkan dirimu Hinata," ujarnya pelan dengan suara bergetar. Ingin menangis. Namun ditahan, karena matanya yang berkaca-kaca menatap iba ke arah Boruto.
Sasuke di belakang Naruto menghentikan langkahnya. Iris hitam menatap datar, diam memerhatikan dari jauh.
"Ayah," Menma memanggil. Kedua tangannya terjulur ke atas meminta untuk digendong karena lelah berlari. Namun Sasuke tidak merespon. Dia berbalik, menarik lengan Menma mengikutinya, tanpa berbicara sepatah kata pun.
.
Naruto mengusap lembut surai pirang Boruto yang tertidur dalam pangkuan, dia menggenggam tangan kecil itu erat, tidak melepasnya sedari tadi, sedangkan Hinata duduk di sebelahnya masih terisak.
Tidak ada yang bisa dilakukan Naruto, selain menemani mereka, dan mencoba menghibur.
"Himawari masih sangat kecil," gumam Hinata, "ada banyak hal yang belum tercapai, dan dia sudah tidak ada lagi di dunia ini." Air mata menetes lagi dari sudut matanya, terus-menerus, membasahi pipi dan bibirnya yang memerah.
"Hinata sudahlah." Naruto menyentuh pundak Hinata lembut. Dia mengerti, dia juga merasakan hal yang sama. Himawari adalah anak mereka berdua. Namun berlarut-larut akan kesedihan tidak akan membantu banyak.
Hinata mengangguk pelan, kepalanya sakit karena terlalu banyak menangis. "Aku, dan Boruto akan pulang," gumamnya pelan, "kami akan mempersiapkan segala macam kebutuhan untuk pemakaman Himawari."
"Aku akan mengantar kalian pulang," sahut Naruto bangkit dari atas kursi, menggendong Boruto di pelukannya.
Hinata tidak menolak, membiarkan dirinya egois untuk kali ini saja. Dia membutuhkan Naruto, begitu juga Boruto. Mereka berdua membutuhkan pria bersurai pirang yang pernah menjadi bagian dari dalam hidup mereka.
.
Menma menatap lapar es krim di hadapannya. Ingatannya tentang Naruto menghilang, tergantikan oleh suhu dingin, dan manisnya es krim.
Sasuke tersenyum melihat Menma dengan rakus menyuap es krim ke dalam mulut. Sekilas dia melirik ke arah ponselnya, tetapi masih sama; tidak ada pesan, atau panggilan masuk dari seseorang yang paling ditunggunya—Naruto.
Dia bukannya tidak suka ketika Naruto memperlakukan Hinata sangat baik. Kematian Himawari sangat mendadak, tidak akan mudah bagi Hinata, Boruto, juga Naruto, tetapi Sasuke juga tidak ingin si pirang melupakan keberadaannya, dan Menma begitu saja.
"Ayah," panggil Menma, membuyarkan lamunan Sasuke. "Boruto, dan ayah sudah pergi." Dia menunjuk ke arah mobil Naruto yang berputar tidak jauh dari tempat mereka.
Awalnya Sasuke mengira Menma berbohong. Dia menoleh, mengernyit, lalu cepat-cepat bangkit dari atas kursi. Namun melihat plat belakang mobil memang milik si pirang, dia bergumam tidak percaya.
"Ayah?" panggil Menma, memastikan.
Sasuke tidak merespon. Matanya terkunci ke arah layar ponsel yang perlahan menghitam, tanpa pesan, atau panggilan masuk satu pun.
.
"Terima kasih, Naruto." Hinata berusaha tersenyum, meskipun sepasang matanya sembab juga berkaca-kaca. "Kau sudah membawa Boruto hingga dia tertidur pulas di kamarnya saat ini."
"Kau bisa menghubungiku 24 jam jika terjadi sesuatu. Himawari, dan Boruto adalah anakku juga, jadi jangan sungkan Hinata," ujar Naruto lirih.
Hinata memalingkan wajah. Tubuh rampingnya bergetar, dia mulai terisak lagi. "Maafkan aku Naruto," gumamnya pelan, "disaat seperti ini aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Hinata sudahlah." Naruto mengusap bahu Hinata lembut. Namun tangisan wanita itu semakin pecah.
"Aku merasa sangat bersalah padamu Naruto. Selama ini aku selalu membatasi Himawari, dan Boruto untuk bertemu denganmu, hingga Himawari tidak ada lagi di dunia ini, aku masih saja membatasimu dengan Boruto."
Naruto menarik wajah Hinata menghadapnya. "Hinata dengarkan aku. Kau tidak perlu mengungkitnya lagi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan, besok, bahkan 5 menit setelah ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, jadi kuharap kau melupakan semua hal itu."
Hinata menatap Naruto haru, ingin menangis, tetapi ditahan. "Lebih baik kau pulang, Naruto. Sasuke, dan Menma pasti mencarimu."
Tubuh Naruto menegang sesaat. Dia memalingkan wajahnya dari Hinata, lalu mengangguk. "Kalau begitu, aku pulang dulu," ujarnya pelan melangkah keluar pintu. Setengah berlari ke arah mobil, lalu menarik ponsel dari dalam saku.
Ini semua salahnya.
Dia bisa melupakan Sasuke dan Menma, saat mereka pergi bersama. Pergi begitu saja, tanpa memberi kabar.
"Sasuke, cepat angkat," gumamnya mendengar nada sambung terus mengalun.
Dia menunggu, berusaha menghubungi Sasuke berulang kali. Namun tidak ada jawaban.
.
Menma menyerahkan balok kayu ke arah anak perempuan bersurai hitam, tetapi tidak digubris. Dia menyerahkan pensil warna, juga tidak digubris. "Kau tidak ingin bermain ya, Sarada?"
Yang dipanggil Sarada tidak menyahut. Dia memalingkan wajah, lalu beralih membaca majalah remaja yang memang dibawanya dari rumah.
Menma diam memerhatikan. Balok kayu dalam genggam tangan dimasukkan dalam boks. Dia bosan. Sudah 4 jam yang lalu sampai di rumah, tetapi ayahnya yang pirang tidak juga pulang, justru Sakura, dan Sarada yang menjemput mereka di rumah sakit.
"Menma kau mau makan apa untuk makan malam?" tanya Sasuke dari arah sofa. Di sebelahnya terlihat Sakura yang tersenyum.
"Aku tidak lapar," sahut Menma. Menarik balok kayu warna hijau, lalu dilempar ke atas balok kayu warna hitam dalam boks. "Aku mau ayah," lanjutnya bergumam, meski pelan.
Sarada di sebelahnya memutar bola mata merasa muak.
"Menma, aku bisa memasak pasta untukmu," bujuk Sakura, dari arah sofa menghampiri. "Kau suka pasta?" lanjutnya lagi, mengusap surai hitam Menma.
"Aku tidak mau apa-apa." Menma memalingkan wajah. Balik memunggungi, bangkit, lalu berlari ke arah tangga.
"Sakura, sudahlah," ucap Sasuke. "Dia akan merasa lebih baik saat Naruto pulang nanti. Sarada bisa kau temani Menma?"
Sarada bergumam. Berat hati bangkit dari atas lantai, lalu mengikuti Menma dari belakang.
Sakura mengedik. Kakinya melangkah kembali pada sofa. "Menma yang merasa lebih baik, atau kau Sasuke?"
Sasuke tidak merespon. Dia memalingkan wajah, disusul tawa sinis.
"Ayolah Sasuke, tidak perlu marah seperti ini. Himawari adalah anak kandungnya, itu wajar saja bukan?" ujar Sakura tertawa, menyikut bahu Sasuke pelan. "Lagi pula bukankah kau sering mengacuhkan, dan melupakanku dulu?"
"Sakura tutup mulutmu," sahut Sasuke dingin. Dia mengerti maksud kalimat wanita itu.
"Sekarang posisi kita sama Sasuke. Kau, dan aku ditinggalkan, juga dilupakan pasangannya. Bagaimana jika kita kembali seperti dulu saja? Aku bisa menjaga Menma untukmu, bukankah itu ide yg bagus?" Jemari Sakura mulai menyentuh surai hitam Sasuke, memainkannya dengan lembut. Semakin lama, semakin dekat. Hingga pandangan mata mereka beradu.
"Apa kau gila?" tanya Sasuke.
Sakura lagi-lagi mengedik, tertawa, lalu mundur perlahan. "Mungkin," sahutnya pelan, "kau sangat mencintai Naruto, huh? Aku bisa melihatnya sangat jelas."
"Sakura ini sudah larut, sebaiknya kau pulang. Wanita tidak baik berkeliaran pada jam seperti ini," sahut Sasuke dingin, "tidak ada pria yang menginginkanmu nanti."
"Kau masih khawatir denganku? Kukira di dalam hatimu saat ini hanya ada Naruto," sahut Sakura, tersenyum tipis.
Sasuke tidak lagi merespon.
"Baiklah kalau begitu." Sakura bangkit dari atas sofa. Kakinya melangkah pelan ke kamar Boruto.
Sasuke mengamati dari arah sofa saat Sakura mengandeng putri mereka. Wajah Sarada tertunduk, entah apa yang dipikirkan anak perempuannya itu.
"Aku pulang, Papa," ucap Sarada tidak bisa menatap langsung kedua mata milik Sasuke..
"Hati-hati di jalan, hubungi aku jika kalian sudah sampai rumah," ujar Sasuke tersenyum lembut mengusap surai hitam Sarada.
"Kau yakin? Bukankah lebih baik jika aku tidak menghubungimu?" sindir Sakura, sambil tertawa. Detik berikutnya dia menepuk bahu Sasuke lembut. "Aku hanya bercanda, sampai jumpa."
Sakura menggandeng tangan Sarada ke arah pintu diikuti Sasuke dari belakang. Saat jemarinya memutar kenop pintu, pria bersurai pirang yang familiar di ingatannya ternyata sudah berdiri di sana.
"Sakura?" gumam Naruto heran, sambil mengenyit.
"Hey Naruto," sapa Sakura lembut. "Kami baru saja mau pulang."
Naruto bergumam mengiyakan. Sekilas dia melirik ke arah Sasuke. Namun pria itu balik menatapnya datar dari ambang pintu.
"Sampai jumpa," ucap Sakura, dan Sarada bersamaan melambai dari dalam mobil.
Naruto balas melambaikan tangan, hingga lampu belakang mobil berwarna merah gelap itu menjauh. Dia tahu saat ini Sasuke berada di belakang tubuhnya, dan mungkin saja sedang menatapnya tajam.
"Naruto," panggil Sasuke meminta penjelasan. Suaranya terdengar sangat rendah, tanda dia sedang dalam kondisi mood yang buruk.
Naruto menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh. "Ini semua salahku, seharusnya aku menghubungimu, tapi aku tidak melakukannya."
Sasuke tidak merespon. Kakinya melangkah ke dalam. Naruto mengikuti di belakang.
"Sasuke," panggil Naruto lirih. "Aku tahu ini semua salahku, tapi jangan seperti ini."
"Dobe," panggil Sasuke, "Menma yang melihatmu pergi meninggalkannya, seharusnya kau bicara dengan Menma, bukan denganku."
Bibir Naruto mengatup rapat. Dia menghela napas, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. "Sasuke aku sangat lelah hari ini. Aku tidak bisa membedakan apa ini nyata atau mimpi, jadi untuk hari ini saja aku benar-benar tidak ingin bertengkar denganmu."
Sasuke tersenyum sinis. "Lelah?" tegasnya, "apa yang membuatmu lelah? Kau hanya bersenang-senang dengan Hinata hari ini."
"Aku lelah, itu benar." Iris birunya menatap tajam. "Aku mencarimu, di rumah sakit, di toko es krim, di restoran favoritmu, di taman favorit Menma seperti orang gila! itu karena kau tidak menjawab pesan, dan panggilan dariku. Alu tahu aku salah karena meninggalkan kalian berdua, tetapi Himawari mati hari ini Sasuke, dan aku ayahnya. Jangan bersikap layaknya hanya kau yang terluka karena aku bersikap baik pada Hinata, sedangkan kau menikmati waktumu bersama Sakura di sini!"
Keduanya saling menatap.
Tangan Naruto terkepal, dia bisa merasakan jantungnya berpacu lebih cepat. Dia tidak menginginkan ini. Dia tidak ingin bertengkar, terutama hari ini.
"Terserahmu saja Naruto," sahut Sasuke datar, berbalik memunggungi, dan melangkah menjauh.
Naruto mengernyit. Menyadari jika dia telah berbuat salah. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, mereka sering bertengkar. Namun tidak pernah membentak Sasuke sekeras ini sebelumnya.
"S-sasuke tunggu," panggil Naruto berusaha mengejar. Namun Sasuke tidak lagi peduli. "Kau ini bodoh Naruto." Dia menghela napas. Kembali menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sambil memejamkan mata.
Malam ini sudah pasti tidur di sofa, tetapi kelopak matanya kembali terbuka saat cahaya terang menyorot wajahnya.
"Huh?"
Naruto mengerjap beberapa kali. Mengernyit, menyadari saat ini dia berada di dalam mobil, tepatnya di bangku penumpang belakang.
Dia menoleh ke kiri, dan kanan. Pupilnya membulat sempurna melihat surai merah muda dari balik kursi pengemudi. "Sakura?" gumamnya pelan.
Sedikit memajukan tubuh, dan menoleh ke arah bangku penumpang tepat di sebelah Sakura, ada anak perempuan bersurai hitam di sana. Anak itu duduk sambil menoleh ke arah jendela. "Sarada?"
Tidak salah lagi, dia berada dalam mobil Sakura, tetapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi?
"Sakura ..., ada apa ini?" tanya Naruto. Namun tidak direspon. "Sarada?" panggilnya lagi.
Masih sama, tidak ada respon.
Naruto menyentuh pundak Sakura, tetapi tubuhnya menembus bagaikan bayangan.
"A-apa?" ucapnya tidak percaya. Dia mencoba menyentuh lagi, hasilnya masih sama.
"Kau pasti terkejut."
Naruto hapal suara itu; suara bariton khas seorang pria yang menghantuinya dalam mimpi buruk. Dia menoleh, sangat perlahan ke sisi kiri saat sudut matanya menangkap bayang duduk persis di sampingnya.
Benar.
Iris Naruto membulat sempurna, jantungnya berpacu cepat. "K-kau?" ucapnya terbata tidak percaya, matanya kini menatap ngeri.
"Senang bertemu denganmu lagi, Naruto."
Bayang hitam itu mendekat. Naruto bisa merasakan tubuhnya mulai kaku.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau kembali lagi?!" geram Naruto.
"Aku ke sini, karena kau memanggilku."
"Aku tidak pernah memanggilmu! Kau membunuh putriku! Aku bahkan tidak tahu kau siapa!" sahut Naruto. Giginya beradu menahan emosi.
"Kau tidak suka wanita ini bukan?" Bayang hitam itu mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura. "Aku bisa membunuhnya jika kau mau." Dia tertawa puas. Menunjuk ke arah rem tangan lalu memiringkan kepala. "Aku bisa melakukannya untukmu."
"Hentikan," gumam Naruto pelan. "Hentikan semua ini." Keringat menetes dari pelipis, jantungnya berdegup lebih cepat.
"Kau berkata tidak, tetapi hatimu berkata iya. Seharusnya kau, dan para manusia lainnya bisa berkata jujur. Itu akan jauh lebih baik."
"Brengsek! Hentikan semua ini! Aku tidak pernah memanggilmu!" Naruto berusaha menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga, hingga dia nyeri luar biasa pada beberapa bagian tubuhnya.
"Aku tidak punya banyak waktu, seharusnya kau mengucapkan selamat tinggal sekarang." Bayang hitam itu menggeleng pelan, melambaikan tangan, lalu menarik rem tangan pada mobil.
"TIDAAAK!"
Mobil sedan itu memutar 90 derajat, terbalik, menabrak tepi jalan, dan menghantam pohon besar.
.
Naruto membuka mata lebar, menatap langit-langit ruangan. Napasnya tersengal, keringat menetes membasahi dahi, juga pelipis.
"Lagi?" gumamnya pelan tidak percaya. Dia bangkit dari atas sofa, bersandar sambil menoleh ke arah lorong koridor kamar tidurnya. "Kenapa? Siapa pria itu?" Telapak tangan mengusap wajah, surai pirangnya disisir ke belakang menggunakan jari. "Brengsek," gumamnya pelan. "Aku tidak pernah memanggilmu, jangan mengangguku," lirihnya sambil menunduk tidak tahu lagi harus melakukan apa.
"Naruto."
Naruto mengangkat wajah, dia bisa melihat Sasuke sedikit berlari menghampirinya dari arah lorong menggunakan jaket tebal.
"Sasuke?" sahut Naruto pelan, suaranya terdengar sedikit parau. "Kau mau ke mana?" Sekilas dia menoleh ke arah jam yang menggantung di dinding. Melihat jarum jam pendek yang menunjuk ke angka nomor 2, dahinya mengernyit.
"Sakura," ucap Sasuke, sepasang matanya menatap Naruto ragu-ragu. "Sakura kecelakaan, mobilnya terbalik, dan menghantam pohon besar."
"Tidak," gumam Naruto tidak percaya. "Tidak mungkin." Iris birunya menatap Sasuke tidak percaya. "Tidak mungkin Sasuke! Kau pasti bergurau!"
"Kau selalu seperti ini, Naruto. Apa kau pikir kematian seseorang bisa dianggap sebagai lelucon?" Sasuke memalingkan wajah, tidak peduli bagaimana Naruto melihatnya, dia terus berjalan ke arah pintu utama.
.
"Nyonya Sakura memacu mobil melebihi batas normal, hingga saat ditikungan dia tidak bisa mengendalikan keseimbangan, dan menarik tuas rem tangan dengan mendadak, itu membuat mobilnya terbalik dan menghantam pohon besar di sisi jalan. Saat kami datang dia sudah tidak bisa diselamatkan, sedangkan putrinya Sarada, mengalami luka-luka kecil di beberapa bagian tubuh, saat ini dia sedang tertidur setelah kami berusaha membujuknya," jelas seorang polisi pria.
Sasuke bergumam mengerti. Jemarinya mengambil sebuah map hitam yang diberikan oleh polisi di hadapannya. Tidak pikir panjang dia menandatangani beberapa berkas di dalamnya.
"Apa kau kerabatnya?" tanya polisi itu.
"Aku ayahnya Sarada," sahut Sasuke singkat.
"Jadi kau, dan nyonya Sakura a—"
"Bukan," potong Sasuke cepat. "Wanita itu," ada jeda sesaat, "dia tidak bersamaku lagi saat ini," jelasnya, sebelum melangkah meninggalkan ruang tunggu, bergegas untuk menghampiri Sarada.
"Shikamaru cepatlah, apa yang kau lakukan? Pekerjaanmu masih banyak. Hey, apa kau tidak mendengarku? Shika?"
Kali ini seorang pria bersurai silver melangkah mendekat dengan alis mengernyit, tampak kesal.
"Pria yang aneh," gumam Shikamaru pelan, memerhatikan map hitam yang ada dalam tangan.
"Apa maksudmu?" tanya pria bersurai silver, tidak mengerti.
"Apa kau melihatnya Kakashi? Uchiha itu, dia memang mengurus semuanya, berperan sebagai ayah yang baik, dan bertanggung jawab, tetapi raut wajahnya terlihat seolah-olah dia tidak peduli," ujar Shikamaru.
"Dari info yang kudapat mereka bercerai sejak 6 tahun yang lalu, tentu saja rasa cinta itu sudah hilang. Lagi pula ..., ah! sudahlah itu bukan urusanmu, cepat belikan aku kopi panas. Aneh sekali, tidak biasanya udara malam di kota ini sangat dingin," ujar Kakashi mengeratkan jaket, melangkah menjauhi juniornya yang masih saja menatap penuh pertanyaan ke arah map berwarna hitam.
.
Sasuke membuka pintu dengan sangat perlahan, melangkah mendekati tubuh mungil penuh perban yang terbaring lemah di atas kasur. Beberapa lebam di wajah anak perempuan itu terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang pucat, pakaian yang dikenakan juga terlihat sobek di beberapa bagian.
"Papa, apa itu kau?" gumam Sarada dengan suara parau.
Sasuke tersenyum tipis. Duduk di tepi kasur, menatap iba sambil mengusap lembut surai hitam Sarada. "Apa aku membangunkanmu?" tanya Sasuke pelan.
"Aku memang tidak bisa tidur papa, syukurlah kau di sini," sahut Sarada pelan, memejamkan kedua matanya. Berusaha untuk menahan air mata agar tidak menetes.
"Apa itu sakit?" tanya Sasuke. "Jika kau merasakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, katakan padaku."
Tubuh mungil Sarada bergetar hebat, tangisnya pecah bersamaan dengan air mata yang ditahan sejak tadi. "Nmgghh— S-seluruh tubuhku sakit, hiks—hiks, dan ... Mghhh— A-aku kira kau tidak akan datang menjemput, k-karna ..., hiks— ada Menma nnghh— y-yang membutuhkanmu di rumah ..., hiks— itu."
"Apa yang kau katakan Sarada? Kenapa kau berpikir seperti itu?" Sasuke tersenyum lirih, jemarinya mengusap air mata yang membasahi wajah Sarada dengan lembut.
"K-karna hiks— memang seperti itu kenyataannya papa, mnghhh— kau ..., kau tidak menyangiku lagi hiks— tidak seperti Menma!"
Sasuke tidak merespon, tidak membuka mulutnya, tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya diam sambil mendekap erat tubuh mungil Sarada yang tidak berhenti bergetar dan menangis di pelukannya.
.
Naruto duduk diam di lantai, bersandar pada tepi kasur di dalam kamarnya yang gelap tanpa cahaya lampu sambil merokok.
Beberapa jam yang lalu Sasuke pergi begitu saja seakan tidak mempedulikan ocehannya. Entah karena sedang dalam kondisi mood yang buruk, atau karena sedang terburu-buru, atau karena tidak mempercayai ocehan bodohnya tentang bayangan hitam seorang pria yang terus menghantuinya.
"Mungkin memang sulit untukmu percaya," gumam Naruto pelan, sebelum menghisap kuat batang rokoknya.
"Ayah?"
Naruto menoleh ke arah pintu, ada siluet Menma kecil di sana yang sedang mengintip takut-takut dari balik daun pintu.
"Ada apa Menma? Kenapa kau terbangun selarut ini? Kau tidak bisa tidur?" tanya Naruto, mematikan batang rokoknya. Bangkit dari atas lantai menghampiri Menma yang masih terdiam di posisi yang sama.
"Aku tidak bisa tidur, tidak mengantuk sama sekali," sahut Menma, menjulurkan tangannya ke arah Naruto seakan meminta untuk digendong.
"Kalau begitu ayah akan bercerita tentang sebuah petualangan yang hebat," sahut Naruto membawa Menma di dalam pelukan ke atas kasur, tetapi bocah berusia 5 tahun itu hanya menoleh ke kiri dan kanan tampak bingung.
"Apa kau mencari ayah? Dia sedang pergi menjemput Sarada. Dia akan tinggal bersama kita di sini, kau tidak keberatan bukan?" jelas Naruto, yang ditanggapi bocah itu dengan mengernyit.
"Memangnya kenapa ayah? Bukankah Sarada juga memiliki rumah?"
"Menma, apa kau ingat dengan Himawari?" tanya Naruto.
Menma mengangguk. "Aku ingat. Ayah bilang Himawari harus pergi jauh, dan tidak akan kembali lagi karena perjalanannya sangat jauh, memakan waktu yang sangat lama seperti mengelilingi galaksi ribuan kali," jelasnya.
"Begitu pun dengan Sakura, Menma. Sakura juga harus pergi jauh, mereka tidak akan kembali lagi karena perjalanannya sangatlah jauh. Apa kau tidak kasihan dengan Sarada? Dia akan sendirian di rumahnya yang besar, tidak ada yang mengajaknya bermain, atau membagi es krim, dan permen dengannya."
Menma mengatupkan mulutnya rapat, lalu menunduk.
"Menma?" panggil Naruto lagi.
"Aku ..., kasihan," sahut Menma pelan. "Ayah aku tidak pernah membenci Sarada, tapi aku tahu dia membenciku."
"Sarada tidak membencimu Menma, dia pemalu, sama seperti ayahmu."
"Ayah?" tegas Menma.
Naruto bergumam mengiyakan. "Apa kau tahu bagaimana cara ayahmu menatapku tajam, dan terkadang dia mengatakan kalimat yang sangat jahat?"
Menma menunduk lagi. "Aku pernah melihatnya. M-malam itu aku melihat ayah memukulmu, t-tapi aku tidak menguping! Aku terbangun karena aku mau pipis," jelas Menma tidak berani menatap Naruto.
"Apa kau takut saat kami bertengkar?" tanya Naruto lagi.
"T-tidak, aku tahu ayah tidak memukulmu dengan sengaja untuk menyakitimu," sahut Menma pelan.
"Sarada pun seperti itu Menma, dia sama seperti ayahmu. Mungkin tingkahnya akan membuatmu takut, tapi dia tidak bermaksud untuk menyakitimu."
Bocah itu mengangguk mengerti, lalu dia menatap Naruto sambil tersenyum lebar. "Kalau begitu aku akan menjadi teman terbaik Sarada ayah! Aku akan membuatnya tersenyum dan tertawa."
"Anak pintar," ujar Naruto tersenyum, sambil mengacak surai hitam Menma yang terasa sangat halus di telapak tangannya.
"Apa anak pintar akan mendapatkan sebuah cerita?!" tanya Menma, sambil menatap Naruto dengan mata berbinar.
"Tentu saja, ayah akan bercerita tentang seorang pengawal terbaik yang melakukan hal apa pun untuk sang raja," sahut Naruto merebahkan tubuhnya ke atas kasur sambil memamerkan cengiran khas miliknya.
.
Tangan berkulit pucat Sasuke menyentuh bahu Sarada dengan lembut, mengguncangnya pelan membangunkan anak bersusia 12 tahun tersebut.
"Papa?" gumam Sarada pelan dengan suara parau. Dia mengucak kedua matanya pelan, mengamati sekitar, dan tersadar jika saat ini mereka berada di dalam halaman parkir rumah milik Naruto.
"Ayo, ini masih pukul 4 pagi. Kau harus kembali tidur di dalam" ajak Sasuke, melepaskan tali pengaman yang dikenakan Sarada, lalu tangannya terjulur untuk menggendong.
Tidak menolak, dengan antusias Sarada menyambut uluran tangan Sasuke, membiarkan tubuhnya dibawa ke dalam rengkuhan hangat sang ayah yang selama ini jarang dia dapatkan.
"Aku belum menyiapkan kamar untukmu Sarada, jadi untuk saat ini kau akan tidur bersama Menma," ujar Sasuke melangkah pelan menyusuri ruang keluarga. Sesaat iris hitamnya melirik ke arah kamar tidur utama yang terletak di sudut ruangan. Dia tahu Naruto menunggunya kepulangannya di sana.
Sarada bergumam mengiyakan meskipun nada tidak puas terdengar dari suaranya.
"Hn?" gumam Sasuke heran memerhatikan seisi ruangan setelah kenop dibuka 6 detik setelahnya.
"Ada apa papa? Kenapa kamar ini kosong, di mana Menma?" ujar Sarada. Berbagai macam mainan yang berserakan di atas karpet. Namun tidak dengan sosok anak kecil bersurai hitam pemilik kamar itu.
"Menma pasti ada di kamarku bersama Naruto," sahut Sasuke merebahkan tubuh Sarada ke atas kasur, menyelimutinya, disusul belai lembut di surai hitam Sarada. "Tidurlah, aku akan memastikan Menma tidak akan menganggumu. Kau butuh istirahat total agar tubuhmu cepat pulih."
Mulanya Sarada tidak menyahut, raut wajahnya tampak terkejut mendengar kalimat itu terlontar dari ayahnya. Namun beberapa detik kemudian senyum sumringah nan puas menghiasi bibirnya yang mungil. "Terima kasih," sahutnya girang.
Sasuke tersenyum tipis seraya menutup pintu hingga rapat, 'satu masalah selesai,' batinnya dalam hati. Sambil menghela napas dia melepas jaket tebal yang dikenakan, juga melepas 2 kancing teratas kemejanya sebelum melangkah perlahan ke arah kamar. Kenop pintu diputar perlahan. Berniat tidak ingin kehadirannya menganggu, tetapi dugaannya salah. Karena pria bersurai pirang dengan iris biru itu ternyata masih terjaga di atas kasur, membaca sebuah novel bersampul putih tebal dengan tangan kanannya mengusap surai hitam bocah kecil yang tertidur pulas di pangkuan.
"Hei," sapa Naruto.
.
Continued
