Sasuke bergumam, balas menyapa. Kaki jenjang melangkah mendekat, untuk duduk di tepian kasur mereka. "Menma menangis lagi?" ucapnya memastikan, menatap iba sosok kecil yang tertidur pulas di pangkuan Naruto.

"Dia hanya tidak bisa tidur," sahut Naruto, "bagaimana dengan kondisi Sarada?"

"Tertidur pulas di kamar Menma," jawab Sasuke, menarik tubuh Menma ke dalam peluknya dari Naruto. "Aku akan mempersiapkan kamar untuk Sarada besok. Menma akan tidur bersama kita hingga Sarada memiliki kamarnya sendiri."

Naruto mengangguk. "Kurasa Menma tidak akan keberatan."

"Apa dia bertanya tentang kepindahan Sarada ke sini?"

"Ya ..., tetapi itu bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena Menma anak yang cerdas dia mengerti dengan cepat apa yang kujelaskan," sahut si pirang.

Sasuke menarik napas lega. Tubuh Menma direbahkan di atas kasur lalu dia ikut merebah tepat di sebelahnya. Kelopak mata yang mulai berat tidak lagi ditahan, tetapi sentuhan lembut di bahu membuatnya kembali terjaga, dan dia tahu siapa pelakunya.

"Kau akan tidur begitu saja?" bisik pelan si pirang, diiringi tatapan memohon.

Sasuke tahu tidak bisa menolak, Naruto menginginkan perhatiannya sebagai pasangan, dan sebenarnya dia juga tidak keberatan.

"Kau tidak akan menghabiskan waktu sebentar bersamaku?"

"Bukankah kita sedang bertengkar hari ini?" Sasuke balik bertanya.

Keduanya hanya saling menatap, hingga Naruto bangkit perlahan dari kasur, berusaha tidak membangunkan Menma yang terlelap untuk berlutut tepat di hadapan Sasuke.

"Kau tidak akan menolak satu atau dua gelas wine dari pasanganmu 'kan?"

Sasuke menyerah saat Naruto menatapnya lekat. Sambil menghela napas, dia mengikuti pelan si pirang yang jalan terlebih dahulu di depannya.

Lampu ruang tamu yang semula padam dinyalahkan, Sasuke yang menyamankan tubuh pada sofa diam memerhatikan si pirang yang membawa segelas cairan ungu kemerahan.

"Aku tidak percaya jika semuanya akan berakhir seperti ini," si pirang berkata, tangannya menggoyang gelas, mengaduk isi cairan di dalamnya.

"Hn."

"Pertama himawari, sekarang Sakura ..., selanjutnya siapa lagi?" Matanya menatap kosong langit-langit ruangan, tidak memerhatikan perubahan raut wajah Sasuke di sampingnya.

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

Naruto menoleh saat telinganya mendengar kalimat tanya dari sisi kiri.

"Kau berkata seolah-olah sudah mengetahui apa yang akan terjadi nanti."

Selama beberapa detik, iris hitam, dan biru mereka hanya bisa saling beradu pandang.

"Sasuke, aku sudah mengatakannya padamu," sahut Naruto pelan. "Aku selalu memiliki mimpi yang sama tentang bayangan hitam itu."

Sasuke mendengus kesal. "Bayangan hitam, bayangan hitam, bayangan hitam. Naruto ini kehidupan nyata, bukan film horor. Mimpi adalah bunga tidur, tidak ada kaitannya sama sekali di antara mereka!"

"Sasuke kau boleh menganggapku gila. Aku bahkan tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata atau tidak! Kau tidak tahu ..., pria yang muncul dalam mimpiku, dia ..., dia yang membunuh Himawari, dan Sakura!"

"Naruto," panggil Sasuke memotong, "berhenti, sudah cukup. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku sangat lelah ..., jika kau hanya ingin membahas hal bodoh tentang mimpimu, ini tidak akan berhasil, atau membuat hubungan kita setidaknya menjadi lebih baik."

"Sasuke tunggu," panggilnya saat si Uchiha pergi.

"Sasuke," panggilnya lagi.

"Sasuke!"

Tetap tidak ada sahutan.

"Sial!" geram si pirang mengacak rambutnya frustasi, "sangat bodoh Naruto ..., seharusnya kau membuatnya tertawa karena kita sedang bertengkar, bukannya memperburuk keadaan!"

Menghela napas sambil bersandar pada punggung sofa. Kelopak mata menutup, kesadaran yang perlahan menghilang, si pirang memutuskan untuk menghabiskan sisa malamnya di tempat yang sama, dan jam bergerak begitu cepat saat kita tidak menyadarinya.

Naruto merasa baru terlelap sebentar, dan kini terbangun paksa oleh suara ketukan yang berasal dari arah pintu.

Mulanya ingin marah. Namun mendengar suara familiar khas anak kecil dari balik pintu memanggil namanya berulang kali, Naruto tidak bisa menahan kakinya untuk berlari menghampiri.

"Ayah!"

Benar menurut dugaannya, saat pintu dibuka anak kecil yang memiliki ciri fisik sama sepertinya berlari ke arahnya meminta pelukan.

"Boruto?" panggil Naruto mengernyit sedikit heran, meskipun tangannya memeluk erat sosok kecil di hadapannya.

"Maaf," sela seorang wanita yang berdiri tepat di belakang Boruto. "Hari ini aku akan pergi mengurus segala hal yang dibutuhkan untuk upacara pemakaman Himawari, tetapi Boruto tidak ingin ikut, dia ingin bersamamu."

"Aku tidak ingin bersama Ibu ..., Ibu selalu menangis, dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk membuatnya tersenyum ayah," lirih Boruto.

Naruto berpaling menatap iba wanita yang kini tersenyum memaksa dengan mata sedikit memerah, dan lingkar hitam jelas kentara.

"Aku juga mendengar berita tentang kematian Sakura. Dia wanita baik dan ceria, selalu membuat suasana menjadi senang hanya karena kehadirannya," ucap Hinata menatap sendu, "lalu bagaimana dengan Sarada? Siapa yang akan menjaga anak itu? Dia pasti sangat sedih."

"Itu benar, Sakura tewas dalam kecelakaan lalu lintas, aku sama sekali tidak menyangka dia akan pergi secepat ini. Rasanya baru kemarin aku masih melihatnya tertawa di sini," ada jeda sesaat, "Sarada akan tinggal bersama kami," sahut Naruto tersenyum tipis, "itu sudah menjadi kewajiban Sasuke sebagai ayahnya."

"Kau benar," timpal Hinata, "apa aku merepotkanmu Naruto? Apa Sasuke tidak keberatan? Boruto ..., aku sama sekali tidak bisa mengendalikannya."

"Kau ini bicara apa?" Naruto tersenyum lembut, "Boruto bisa memilih untuk bersama siapa pun yang dia suka, Hinata. Kukira kita sudah melewati fase ini? Meskipun tidak lagi bersama, kau dan aku tetaplah ibu, dan ayahnya."

Hinata tersenyum, jemari lentik mengusap puncak kepala putranya, "Jangan nakal, ibu akan kembali untuk menjemputmu jika semuanya sudah selesai."

Boruto balas tersenyum, lalu mengangguk mengerti. Jemarinya menggandeng tangan Naruto, saat Hinata melangkah menjauhi mereka.

"Ayah," panggilnya pelan.

Naruto menoleh, "apa kau lapar? Sereal untuk sarapan?"

"Himawari pasti iri jika dia mengetahui saat ini aku sedang bersamamu," gumam boruto, menunduk dalam.

Naruto pembohong besar jika dia mengatakan hatinya tidak hancur. Kematian putrinya memberikan luka besar yang tidak dapat disembuhkan meskipun sudah berusaha. Selama ini bertingkah selayaknya tidak terjadi apa-apa hanya untuk menutupi isi hati yang sesungguhnya, karena jika terlalu jujur, dia tidak ingin mencontohkan Boruto, dan Hinata untuk terus berlarut-larut dalam kesedihan.

"Himawari, pasti senang melihatmu di sini, Boruto."

.

Dering alarm membuat mereka membuka kelopak matanya paksa. Sasuke dan Menma saling memandang, tertawa, lalu keduanya terdiam untuk sesaat sebelum turun dari kasur.

"Ayah aku lapar," Menma berkata pelan, jemarinya menarik-narik ujung baju Sasuke meminta perhatian. "Semalam aku sudah menjadi anak yang baik, jadi aku menginginkan ramen untuk sarapan."

Sasuke berlutut di depan anak kecil yang menunduk. "Ramen?"

Menma mengangguk takut-takut.

"Itu bukan menu sarapan yang baik, Menma," jelas Sasuke, "ramen itu makanan instan bagaimana jika yang lain saja? Aku akan membuatnya untukmu."

Kedua mata Menma mulai basah, diiringi gelengan tanpa henti. "Ayah sarapan ramen, tetapi aku tidak boleh!"

Dalam hati Sasuke merutuk, karena Naruto mencontohkan putra mereka kebiasaan yang buruk.

"Aku mau ramen! Ayah hebat karena makan ramen setiap hari! Aku mau ramen! Aku ..., aku mau ramen untuk sarapan!"

Sasuke menghela napas. Keras kepala Menma hampir sama dengan Naruto, dan dia tidak punya pilihan selain mengikutinya jika sudah seperti ini.

"Baiklah, ayah akan membuatkanmu ramen, tetapi kau harus berjanji untuk cuci muka, dan sikat gigi terlebih dahulu, setelah itu tunggu di meja makan."

Kaki menma berlari menuju kamar mandi. Senyuman tidak lepas menghiasi bibir, sesekali tertawa saat membayangkan ayahnya menghidangkan ramen instant di depan mata. Bahkan karena terlalu bersemangat hingga tidak sampai 5 menit dia sudah berlari menuruni anak tangga, menuju ruang makan di sudut ruangan. Namun saat kedua matanya menangkap ada sosok lain yang menunggu di sana, senyuman di bibirnya perlahan menghilang.

"Menma," sapa Naruto, "kenapa berdiri di sana, ayo duduk kau harus sarapan."

Menma mengangguk pelan. Matanya memerhatikan Sarada di sisi kiri meja makan, lalu Boruto di sisi kanan meja makan saat kakinya melangkah ke salah satu kursi.

"Hai," sapa Menma takut-takut. Namun jawaban yang dia dapatkan hanya gumam singkat dari Boruto dan Sarada yang bahkan tidak ingin menoleh ke arahnya.

"Menma," panggil Sasuke, "tidak ada ramen untuk sarapan, lihat Boruto dan Sarada, mereka hebat karena memakan sereal setiap sarapan."

Menma menggeleng. "Tidak ada ramen? Aku ..., t-tapi ayah."

"Kau akan cepat besar jika makan sarapan yang baik, kau tidak mau selamanya kecil seperti ini 'kan? sela Boruto.

Menma tidak bisa membedakan jika Boruto bersungguh-sungguh, atau hanya mengejek, tetapi dia juga tidak ingin dinilai seperti anak cengeng meskipun air matanya sudah membendung, tidak di depan Boruto.

"Sereal tidak seburuk itu, Menma," timpal Naruto, "tentu saja ramen lebih enak, tetapi untuk pertumbuhan anak seusiamu itu tidak terlalu bagus."

"Naruto!" bentak Sasuke, "Menma jangan dengarkan ayahmu, dia memang terobsesi dengan ramen, dan itu hal yang buruk. Sekarang makan sereal kalian, aku harus pergi mengurus beberapa hal."

Menma hanya diam dan mulai memakan serealnya saat Sasuke pergi meninggalkan mereka, diikuti Naruto di belakangnya.

Dapur rumahnya yang terasa asing karena kehadiran Sarada dan Boruto membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Menma tahu harusnya dia bisa bersikap ramah pada mereka, tetapi tatapan yang diberikan Sarada juga Boruto membuatnya merasa terpojok.

"Naruto, aku bisa pergi sendiri, ini bukan masalah besar. Aku harus memberikan polisi beberapa data tentang ..., kau tahu itu."

Ketiganya menoleh ke arah lorong serentak, menunggu lanjutan percakapan ayah mereka masing-masing.

"Kau selalu melakukan semuanya sendiri, Sasuke. Aku tahu ini tanggung jawabmu, tetapi aku hanya ingin membantu, apa itu salah?"

"Tidak ada yang mengawasi mereka di rumah, Naruto?"

Diam-diam Menma memerhatikan Boruto. Anak yang lebih tua darinya beberapa tahun itu bangkit dari atas kursi, lalu melangkah menghampiri ayahnya yang berada di tengah lorong.

"Ayah, jangan khawatir. Aku akan menjaga adik-adikku, bukankah aku ini kakak yang hebat?"

"Kau lihat itu Sasuke?"

"Serahkan semuanya padaku!" ujar Boruto.

"Baiklah ..., ayo Naruto, lebih cepat akan lebih baik."

"Boruto, tolong jaga rumah, juga jangan buat Sarada dan Menma menangis, janji?"

"Janji!"

Dari dalam ruang makan, Menma hanya bisa diam mendengarkan, sedangkan Sarada diam menyantap sarapannya terkesan tidak peduli.

.

"Membosankan!"

Menma tersentak kaget saat Boruto melempar remot tv ke lantai. Sejak tadi tidak banyak yang bisa dilakukan, karena semua gerak-geriknya selalu diawasi.

Ketiganya hanya diam di ruang keluarga, menonton tv, atau sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

"Seandainya Himawari ada di sini, pasti tidak akan membosankan seperti ini," keluh Boruto, menghempaskan tubuhnya pada sofa.

"Seandainya mama ada di sini, aku tidak akan terjebak bersama kalian," timpal Sarada.

"Aku," ada jeda sesaat, "aku tahu apa yang terjadi dengan ma—"

"Diam!" potong Sarada membentak, "kau tidak perlu melanjutkannya, aku tidak mau dengar."

"Maaf," sahut Boruto pelan.

Menma memandangi keduanya diam-diam. Tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tahu jika Sarada dan Boruto baru saja ditinggal pergi oleh seseorang yang mereka sayangi. Ayahnya berkata; Himawari, dan Sakura, pergi ke tempat yang sama, sangat jauh hingga tidak tahu kapan pastinya mereka akan kembali.

"Menma."

Tidak ada sahutan.

"Hey ..., Menma," panggil Boruto lagi.

Masih tidak ada sahutan.

"Menma!"

Tubuh kecilnya, lagi-lagi tersentak karena terkejut.

"Apa kau tidak mendengarku?" ada jeda sesaat, "Menma perlihatkan padaku mainan menarik dan paling keren yang kau punya, aku bosan," ucap Boruto.

Menma membuyarkan paksa isi kepalanya, lalu mengangguk paham maksud Boruto. "Ada di kamarku," sahutnya pelan.

"Kamarmu?" sela Sarada terlihat tidak suka, "kau tidak bisa masuk ke sana, aku tidak mengijinkanmu. Apa kau tidak dengar kata papa? Kamar itu milikku sampai papa membuatkan kamar baru!"

"Sarada jangan pelit begitu," ujar Boruto. "Itu kamar Menma, dia bisa mengambil mainan miliknya kapan pun dia mau."

"Kenapa kau membelanya? Aku tidak percaya ini, kukira kau temanku! Kemarin kau terlihat sangat membencinya dan sekarang kau ..., oh, aku tahu, kau membelanya karena kau menginginkan mainan milik Menma, da—"

"Diam!" bentak Boruto kasar, "diam kau! Aku tidak membelanya! Aku melakukan ini semua bukan karena aku mulai menyukainya atau menginginkan mainannya, tetapi karena aku sudah berjanji pada ayah!"

Saat Boruto mendorong tubuh Menma paksa untuk pergi meninggalkan ruang keluarga, Sarada hanya bisa diam memalingkan wajahnya yang terlihat seperti ingin menangis.

"Menma kau jangan berani berpikir jika aku mulai menyukaimu," ujar Boruto mengancam saat kedua tangannya asik merakit robot milik Menma yang ditemukan dekat kasur.

"Iya," sahut Menma pelan, merelakan robot miliknya dihancurkan paksa hanya untuk dirakit lagi kembali.

"Aku tidak menyukaimu, dan kau harus tahu itu," timpal Boruto.

Menma berpikir, apa yang membuat Boruto tidak menyukainya. Ingin bertanya takut, tetapi rasa penasaran mendesaknya.

"Meskipun kita memiliki ayah yang sama, aku tidak pernah menganggapmu sebagai adik."

"Boruto," panggil menma pelan.

"Apa?" ketus Boruto.

"Aku masih punya banyak mainan lainnya," ujar Menma menyerahkan seluruh kotak berisi mainan miliknya.

Boruto bergumam terkesan tidak peduli, meskipun dia mulai melangkah mendekat untuk melihat.

"Boruto," panggil Menma lagi. "Kau boleh memainkan semuanya."

"Aku tahu."

"Boruto," panggil Menma sekali lagi.

"Apa?! Kau ini tidak bisa diam?!" bentak Boruto.

"Aku minta maaf jika aku pernah membuatmu kesal," ucap Menma, menatap takut-takut.

Boruto menoleh sambil mengernyit, tidak ada kalimat yang terdengar dari bibirnya karena menunggu kalimat selanjutnya.

"Ayah pernah mengatakan, kau adalah kakak yang baik, dan aku tahu ayah tidak mungkin berbohong, jika ada yang tidak menyukaiku ..., mungkin itu karena aku melakukan hal yang membuatmu kesal, dan aku tidak meminta maaf."

Tatapan tajam Boruto perlahan melembut, kalimat yang diucap Menma membuatnya teringat pada Himawari. Mereka memiliki ayah yang sama, sudah sewajarnya Naruto mengajarkan hal yang sama padanya dan juga Menma, tetapi dahulu adiknya Himawari sering mengatakan hal yang sama padanya setiap kali mereka bertengkar, dan itu membuatnya sedih karena teringat.

"Aku ..., tidak tahu kenapa aku membencimu," sahut Boruto, "sebenarnya kau tidak pernah melakukan hal yang membuatku kesal, tetapi saat melihat ayah menghabiskan waktunya lebih banyak denganmu dibandingkan denganku, dan Hima, itu membuatku iri."

"Aku ..., t-tidak bermaksud mengambil waktumu dengan ayah," jelas Menma terbata, "aku juga tidak tahu kalau ..., kalau selama ini Boruto adalah kakakku! Aku bu—"

"Menma," potong Boruto, "apa kau ..., apa kau ingin menjadi temanku?" ada jeda sesaat, "Aku belum bisa menganggapmu sebagai adik, tetapi aku bisa menjadi temanmu."

"Aku mau!" Sepasang mata Menma berbinar, bibirnya tersenyum lebar sambil mengangguk cepat. "Aku mau, Boruto!"

Keduanya saling menatap lalu tertawa, sama sekali tidak memperhatikan adanya tatapan mata tajam yang lain mengamati dari balik pintu.

"Apa benda favoritmu di ruangan ini?"

Menma berpikir, memerhatikan seisi ruangan. Ia menyukainya semuanya, tetapi apa yang menjadi favoritnya ia tidak tahu.

"Kau memiliki mainan yang banyak, tetapi tidak sebanyak mainan milikku di rumah! Kau tahu mainan favoritku adalah kostum robot yang dibelikan ayah untuk ulang tahunku tahun lalu, sangat keren dengan laser merah!"

Menma mengangguk mendengar apa yang dikatakan Boruto, lalu tiba-tiba saja terdiam, menatap ke suatu tempat di pojok ruangan.

"Teman-temanku selalu datang berkunjung ke rumah untuk melihat seperti apa kostum robot milikku da—"

"Itu!" potong Menma berlari ke sudut ruangan, mengambil benda miliknya yang dari atas lantai. "Ini benda favoritku!"

Boruto mengernyit. "Itu? Apa kau yakin? Aku tidak tahu seleramu seburuk itu."

Menma mengangguk mantap.

"Itu hanya radio kecil Menma. Warna merah dengan gambar anak ayam? Hahahahaha, dan apa itu mic di sampingnya?" Boruto tertawa tidak tertahankan, bahkan harus memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.

"Suara rekaman ayah ada di sini," jelas Menma.

Boruto menarik napas panjang, "oh, jadi itu yang membuatmu memilih benda ini?"

"Iya!" sahut Menma bangga.

"Uh ..., lalu bagaimana cara menghidupkan benda ini? Aku juga mau dengar suara ayah."

"Itu, aku tidak bisa," sahut Menma pelan.

"Memangnya kenapa?"

"Aku tidak tahu, ayah bilang ada kabel yang harus dipasangkan dengan listrik dan berbahaya untuk anak kecil, jadi dia menyimpan kabelnya. Aku akan meminta pada ayah saat dia pulang nanti."

Boruto mengedik, kembali pada aktivitasnya semula merakit robot membiarkan Menma yang asik membersihkan radio kecilnya dari debu dengan sapu tangan.

.

Sarada menghapus cepat-cepat pipinya yang basah saat suara mobil terdengar dari garasi, potret seorang wanita dengan paras cantik dia simpan kembali ke dalam saku saat pintu utama terbuka menampilkan dua orang pria yang menjinjing banyak barang.

Sosok familiar itu tersenyum lembut ke arahnya, menyapa singkat sebelum mengusap lembut kepalanya, dan menyerahkan kotak berwarna merah muda berisikan boneka.

"Terima kasih papa," ujar Sarada pelan, memamerkan senyum termanis yang dia miliki.

"Di mana Menma, dan Boruto?"

Saat sosok pirang memberinya kalimat bernada pertanyaan, senyuman termanis miliknya hilang, dan matanya mulai menatap tajam.

"Sarada, apa kau bisa panggilkan Menma dan Boruto?" perintah Sasuke.

Sarada diam selama beberapa detik terlihat berpikir, dia tidak ingin melakukan hal apa pun untuk Menma dan Boruto, tetapi tidak bisa juga menolak perintah Sasuke.

"Sarada?" tegas Sasuke lagi.

"A-aku ..., uh," ada jeda sesaat, "ya papa ..., aku akan memanggil mereka."

Menyerah, karena tidak ada pilihan lain. Kali ini terpaksa mengalah, tetapi tidak untuk selanjutnya. Berat hati meninggalkan boneka baru miliknya untuk menaiki anak tangga, menuju satu ruangan di mana dia tertidur lelap di sana semalam.

"Papa, menunggu kalian di bawah," ujar Sarada, singkat tanpa buang-buang waktu.

Boruto dan Menma saling pandang, sebelum keduanya setuju untuk meninggalkan mainannya masing-masing, dan menuruni tangga, sedangkan Sarada hanya diam dengan tangan dilipat depan dada, menunggu beberapa saat karena tidak ingin terlihat berjalan beriringan bersama.

Benci. Sarada sangat membenci mereka berdua, lebih tepatnya membenci seisi rumah kecuali Sasuke.

"Sarada?"

"Ya, papa!" Meskipun enggan, Sarada mulai melangkah pelan.

Satu persatu anak tangga dihitung saat kaki kecilnya melangkah turun. Semakin dekat, terasa semakin berat, gema tawa Menma dan Boruto membuatnya muak.

Tidak hanya dirinya saja yang mendapatkan mainan, dalam hati Sarada merutuk karena telah merasa dispesialkan nyatanya tidak.

"Papa," panggil Sarada pelan meminta perhatian. "Kau bilang akan membu—"

"Ayah!" sela Menma melompat kegirangan. "Hidupkan radio dari ayah! Boruto ingin mendengar rekaman suaranya!"

Sasuke yang semula menoleh padanya beralih menatap Menma, dan Sarada sadar jika dia membenci saat dirinya tidak dipedulikan.

"Papa," panggil Sarada lebih keras, "kau sudah berjanji, aku juga akan membantumu untuk menyiapkan be—"

"Ayah!" sela Menma lagi, "radionya ayah!"

Detik itu Sarada harus menelan pil pahit, jika Sasuke satu-satunya sosok yang dia miliki lebih mementingkan Menma dibanding dirinya. Air yang membendung di balik kacamatanya tidak lagi bisa ditahan melihat Boruto, Naruto tertawa, dan Sasuke yang menggandeng tangan Menma menaiki anak tangga.

Rumah sebesar ini dengan orang begitu banyak, tetapi masih merasa kesepian, merasa seorang diri tidak ada yang mempedulikan, dan merasa keberadaanya tidak diinginkan.

Air mata akhirnya menetes di wajah yang disembunyikan, berlari ke arah dapur bersembunyi di sudut ruangan di antara sela karena tubuhnya terlampau mungil. Menangis dengan bebas, memandangi satu-satunya foto Sakura yang dia miliki.

Detik itu juga berharap jika sosok lembut yang biasa tersenyum kepadanya datang menjemput.

.

"Ayah suaramu sangat jelek!" Tubuh Boruto ambruk ke atas lantai, tertawa hebat hingga kedua matanya basah saat Menma memutar rekaman suara pada radio berulang.

Naruto yang duduk di sofa hanya bisa memalingkan wajahnya pada televisi menutupi malu, sedangkan Sasuke terlihat menikmati setiap momen di mana si pirang dipermalukan.

Beda dengan Menma yang terlihat bangga memutar ulang berkali-kali karena menurutnya suara Naruto terdengar sangat keren.

"Sama sekali tidak berbakat!" timpal Boruto lagi, diikuti tawa puas.

"Kau terlihat sangat senang," ujar Naruto, melangkah mendekat dengan tangan deapan dada hendak mencengkram, dan ekspresi wajah menyeramkan.

Boruto tahu keadaanya saat ini tidak bisa dikatakan aman, cepat-cepat berguling untuk menghindar lalu berlari, tetapi saat hendak bersembunyi di belakang sofa, ketuk terdengar dari arah pintu utama.

Semua pasang mata menoleh ke tempat yang sama. Naruto yang mulanya diam, bergegas menghampiri untuk melihat siapa yang datang.

Dari balik pintu ada Hinata diam menunggu, tersenyum ramah saat dipersilakan masuk, menyapa lembut saat Boruto berlari menghampirinya.

Sasuke, dan Menma dari arah sofa tersenyum menyapa, lalu keduanya kembali asik bermain, memberikan si pirang waktu yang dibutuhkannya.

"Apa kau menjadi anak baik hari ini?"

Satu pertanyaan diberikan, dan Boruto menjawabnya dengan angguk spontan. Beberapa kali juga melirik ayahnya seakan mengirimkan kode untuk secepatnya mengatakan jika dia sudah menjadi anak yang baik.

"Boruto sudah menjadi kakak yang hebat hari ini, dia menjaga rumah dan memastikan adiknya tidak menangis," timpal Naruto.

Boruto tersenyum puas saat Hinata mengusap puncak kepalanya, meskipun di detik selanjutnya senyuman di bibir berganti menjadi senyuman lirih, mengingat tidak ada Himawari yang biasanya ikut memberikan pujian.

"Naruto ini sudah malam, aku harus pulang," ujar Hinata menggandeng tangan Boruto di sampingnya yang terlihat enggan, karena masih ingin bermain.

Si pirang yang membaca gerak-gerik putranya mencoba memberikan penawaran, "bagaimana jika kalian makan malam dahulu di sini?"

"Tidak mungkin," ada jeda sesaat, "itu akan terlalu larut."

"Aku akan mengantar kalian pulang," desak Naruto, saat Boruto menatapnya memohon.

"Tidak Naruto," tolak Hinata halus, "terima kasih, tetapi kami harus pulang. Boruto harus pergi ke sekolah besok, aku tidak ingin kematian Hima membuat semuanya menjadi terhambat."

Naruto merasa sedikit kecewa tidak bisa memberikan apa yang diinginkan putranya. Namun saat Menma melangkah menghampirinya untuk ikut melambaikan tangan pada Boruto yang kini menatap mereka dari dalam mobil, dia tahu masih ada putranya yang lain, yang membutuhkan perhatiannya.

"Boruto kita akan bermain bersama lagi nanti!" ujar Menma tersenyum lebar.

Keduanya berdiri di depan pintu, hingga mobil sedan berwarna putih itu tidak lagi ada di lahan parkir rumah mereka, bahkan Menma yang biasanya takut akan kegelapan masih berdiri di samping Naruto hanya untuk melihat lampu belakang mobil Hinata yang perlahan menjauh.

"Menma," panggil Sasuke dari arah belakang.

Anak kecil bersurai hitam itu pun menoleh, memamerkan senyum lebar sambil berlari menghampiri asal suara yang memanggil namanya.

"Lihat jam itu?" Jari Sasuke menunjuk jam dinding. "Waktu tidurmu sudah lewat."

Menma menggeleng pelan. "Aku belum mengantuk ayah."

Bukan Sasuke namanya jika tidak tegas, meskipun Menma menolak keras bahkan hampir menangis, dia tetap membawanya ke dalam kamar, sedangkan Naruto yang memerhatikan dari arah belakang, hanya bisa tertawa geli melihatnya.

"Menma, kau tidak akan pernah selamat di tangan Sasuke," gumam Naruto pelan, mengunci pintu sebelum menyamankan tubuhnya pada sofa.

Entah sejak kapan kelopak matanya terasa berat, suasana tenang membuatnya rileks, bahkan sudah menguap berulang kali.

Sejak kematian Himawari sama sekali tidak pernah mendapatkan istirahat yang cukup, tahu jika sosok hitam itu bisa datang kapan saja tanpa sepengetahuannya, karena itu kehilangan seluruh kesadaran saat tertidur selalu membuatnya takut.

Mempercayai apa yang dianggap tidak nyata oleh orang lain bahkan pasangannya sendiri, memikirkannya terkadang membuat Naruto ikut mempertanyakan beberapa hal tidak masuk diakal pada dirinya sendiri.

Sosok itu hanya menghantui dirinya, jika memang hanya mimpi, tidak seharusnya semua terjadi sangat akurat seperti apa yang dilihatnya.

Naruto sama sekali tidak mengerti, semuanya terasa seperti pecahan puzzle yang tidak bisa disatukan, dan labirin tanpa jalan keluar.

Bahkan tidak ada pilihan, untuk membuat semuanya menjadi lebih baik.

Entah diinginkan atau tidak, dia harus menerima kondisinya saat ini yang terjebak diantara hal yang sejujurnya ia tidak tahu itu apa.

"Naruto."

Menoleh saat namanya dipanggil, pupil menatap ke satu tempat di mana sosok itu berdiri, sebelum melangkah menghampirinya.

"Kau belum tidur?"

"Belum."

Menyamankan tubuhnya tepat di sebelah si pirang. Sangat dekat, hingga Uchiha yang satu itu bisa dengan mudahnya menempelkan bahu mereka berdua.

"Karena kau tidak ada disampingku, Teme."

"Itu karena kita selalu bertengkar, Dobe," sahut Sasuke.

Keduanya saling menatap. Ada kerinduan begitu besar yang ingin diungkapkan, meskipun mereka tahu bahwa bagi satu sama lain mengatakan 'aku merindukanmu' bukanlah hal yang biasa dilakukan.

"Terkadang aku berpikir, apa suatu saat nanti kau akan merasa muak dengan segala hal yang kuperbuat lalu memutuskan untuk pergi?"

"Mungkin saja," sahut Sasuke, tersenyum puas saat si pirang mengernyit terkejut ke arahnya. "Karena itu kau harus menjaga sikapmu jika tidak ingin aku pergi, Dobe."

Naruto mencondongkan tubuh untuk mencuri satu kecupan dari bibir pucat Sasuke, tetapi saat mengetahui tidak ada protes atas perbuatannya justru mendapat sebuah sambutan, tatapan matanya yang semula lembut berganti karena diliputi hawa nafsu.

Tanpa aba-aba bibir mereka kembali dipersatukan. Kali ini dalam ciuman panas, yang membuat jantung mereka mulai memompa darah lebih cepat dari biasanya.

Tangan kekar si pirang tidak lagi menahan untuk bermain di tempat yang tidak seharusnya, menyentuh beberapa titik di balik lembar pakaian yang membuat Sasuke mengeluarkan suaranya tanpa disengaja.

"N-Naruto."

Senyum puas tampak di bibir si pirang, sekali lagi mencondongkan tubuhnya untuk menyerang satu titik pada leher berkulit pucat, membuatnya menjadi sedikit berwarna.

"Hahh ... a-apa kau gila Naruto? Mereka ..., bisa melihatnya nanti," sahut Sasuke menolak, meskipun tidak dengan sepenuh hati.

"Lalu kenapa, apa masalahnya?"

Sasuke terpaksa menggeleng setelah diam selama beberapa detik, sekuat apa pun menolak dia tahu tubuhnya menginginkan. Bertahun-tahun tinggal bersama, si pirang tahu betul tentang apa yang disukai dan tidak disukai tubuhnya.

"Bukankah itu lebih baik?" bisik Naruto, setengah mendesis.

Sasuke menyerah. Kedua lengan sengaja dilingkarkan pada leher Naruto, menyambut dengan racauan dari bibirnya, sesekali mencengkram erat hingga terlihat bekas cetakan kuku pada kulit kecokelatan.

"Naruto," panggil Sasuke meminta lebih.

Si pirang tahu, tetapi sengaja tidak merespon, karena melihat tubuh di hadapannya tersentak berulang kali ke belakang, menoleh ke kiri dan kanan mencari posisi nyaman, dan sepasang kelopak mata terpejam rapat merasakan sentuhan, terlalu sayang untuk dilewatkan.

Entah karena mereka habis bertengkar, saling merindukan satu sama lain, atau karena terbuai panasnya momen untuk sesaat, Naruto tidak bisa memutuskan mengapa Sasuke-nya terlihat sangat menggoda malam ini. Namun saat dia hendak mencapai titik puncak, Sasuke tiba-tiba menendang tubuhnya kuat hingga dia harus merasakan nyeri luar biasa pada organ dalamnya.

"Sasuke apa yang ka—"

Mulanya Naruto hendak memprotes, tetapi menyadari ke mana arah mata Sasuke menatap pada satu titik, mulut yang terbuka hendak mengucap kata terkatup paksa untuk diam seribu bahasa.

Di belakang sofa mereka. Jaraknya tepat 3 kaki, ada sosok lain yang berdiri dengan kedua tangan mengepal, menatap takut juga menangis, tubuh kecilnya gemetar dengan bibir yang pucat.

"M-maafkan aku papa!"

Sasuke menyambar pakaiannya dari atas lantai saat kaki kecil Sarada berlari menaiki tangga, mengejar sambil meneriaki nama putrinya, tidak lagi memedulikan Naruto yang kini menutupi kedua mata dengan lengan.

"Ini sangat salah," gumam Naruto pelan, "sangat sangat salah, dan aku tidak bisa melakukan apa pun karena aku tahu Sarada tidak menyukaiku," lanjutnya dalam hati.

Kemudian hening, semuanya terasa sangat sunyi bahkan jarum jam dinding tidak lagi terdengar.

Naruto yang merasa adanya kejanggalan menyingkirkan lengan dari sepasang matanya untuk memastikan, tetapi apa yang dilihat selanjutnya hanyalah murni teror.

Bukan ruang keluarga, sofa kesukaannya, ataupun isi dari rumahnya, hanya kegelapan. Lebih gelap dibandingkan ruangan tanpa cahaya mana pun.

Naruto ingat rasa takut ini, kegelapan ini, dan suasana ini. Terasa sama seperti apa yang dia rasakan tidak lama sebelumnya, dan itu membuat keringat dingin mulai menetes membasahi kening, saat menyadari ini terjadi ketika tubuhnya masih dikuasai sempurna, belum kehilangan kesadarannya karena tertidur.

"Di mana kau!" Kalimat bernada tinggi terdengar dari bibirnya. Naruto mencoba menoleh ke kiri dan kanan. Namun yang dilihat matanya hanya kegelapan.

"Aku tahu ini ulahmu!"

Tidak lagi bisa membedakan, kemampuannya untuk melihat hilang atau memang ruangan tempat dia berpijak saat ini sangatlah gelap.

"Aku selalu berada dekat denganmu, Naruto."

Jantung Naruto berhenti berfungsi untuk beberapa detik, dia tahu sosok yang sama itu pasti berada di balik semua hal yang terjadi padanya.

"Berhenti mempermainkanku seperti ini!"

"Aku tidak pernah mempermainkanmu," ada jeda sesaat, "dengan kekuatanku aku hanya mengikuti dan membuat apa yang sebenarnya kau inginkan menjadi nyata."

"Tidak seharusnya kau menipu dengan perkataanmu brengsek! Tidak ada seorang ayah yang menginginkan kematian putrinya!"

"Apa itu benar?"

Sosok yang ditunggu menampakkan tubuh. Seorang pria berdiri dengan tegap, beberapa langkah dari Naruto. Masih menggunakan pakaian yang sama, dari ujung kepala hingga kaki, hanya warna hitam yang terlihat mendominasi.

"Terkadang aku sedih melihatmu seperti ini, apa begitu sulit untukmu berkata jujur?"

Naruto hanya bisa menggeram saat sosok itu menyentuh wajahnya. Tubuhnya kaku tidak bisa bergerak seakan ada tali yang mengikat kuat, dan tidak ada satu kata pun yang terucap seakan pita suaranya dihancurkan.

"Naruto, kau seharusnya tidak membenciku," ujar sosok itu tertawa di sela-sela kalimatnya, "jika kau tahu sebenarnya aku melakukan hal ini demi kebaikanmu atas keinginan bawah sadarmu, kau pasti tidak akan menatapku dengan tatapan membunuh seperti itu."

Naruto tidak melepas pandangan matanya sedetik pun.

"Mengapa kalian para manusia sangat rumit? Menginginkan, tetapi menolak untuk mengakui. Membenci, tetapi berpura-pura untuk menyukai. Mengapa kalian sangat palsu hanya untuk mengelabui mereka dari monster yang berada dalam dirimu? Kau ingin mereka menganggapmu hebat? Kau memang hebat karena mampu memelihara monster itu tanpa ada yang mengetahui."

"Diam!" sergah Naruto saat mendapatkan kembali suaranya, "aku tidak butuh penilaianmu! Kau bahkan tidak nyata! Mahluk sepertimu yang berani membunuh mengatasnamakan orang lain bahkan julukan pengecut terlalu bagus untukmu!"

Sosok itu diam selama beberapa detik, menunduk, lalu mengangguk. "Aku akan tetap mengabulkan keinginanmu, bagaimanapun juga ... kau yang memanggilku ke sini Naruto."

Hal yang dilihat Naruto hanyalah kubangan air dekat kakinya. Terlihat jernih meskipun tidak ada penerangan di sekitar. Dia tidak mengerti, apa hubungannya dengan semua ini.

"Apa kau tahu air adalah penghantar yang baik bagi listrik?"

Pupil Naruto membulat.

"Kelanjutannya, akan menjadi kejutan untukmu."

Sosok itu menghilang. Naruto berusaha memanggilnya berulang kali. Namun yang terjadi saat dia mengedipkan mata, tubuhnya sudah kembali berada di atas kasur, di dalam kamarnya bersama Menma, dan juga Sasuke yang tertidur pulas.

"B-bagaimana mungkin aku di sini? Bagaimana Sarada, lalu sosok itu? Listrik dan air apa?"

Naruto memerhatikan sekitar. Mengernyit bingung saat sepasang matanya tidak berbohong, dia memang berada di dalam kamar.

"Sasuke," panggilnya membangunkan.

Pria yang dipanggil namanya, membuka mata perlahan. Menoleh pada Naruto bingung lalu bergumam.

"B-bagaimana dengan Sarada?"

"Huh? Apa maksudmu?" tegas Sasuke.

"Sarada, apa dia ..., baik-baik saja? Bukankah tadi dia melihat ... uhh kita? Lalu kenapa aku ada di sini? Bukankah aku tertidur di atas sofa?" jelas Naruto balik bertanya, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa semuanya terasa aneh.

"Dobe apa kau ini bermimpi aneh lagi? Sarada apa? Kau ini kenapa? Ini tengah malam, kau bisa melihat jam dinding dengan jelas di sana, jadi jangan mengangguku, dan jangan banyak bicara, atau Menma akan terbangun, dan menangis karena ulahmu."

Naruto tidak lagi berbicara saat Sasuke kembali memejamkan mata. Hanya bisa mengernyit bingung, kaki berpijak pada lantai, melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Semua terasa aneh, tidak bisa dijelaskan dengan logika. Entah mimpi, kenyataan, atau halusinasi, tidak bisa ditentukan.

Menghela napas, sambil meraih knop pintu kamar mandi. Saat sepasang mata yang semula menatap lantai beralih pada isi ruangan, Naruto tahu suara, dan luapan emosi yang sudah lama menumpuk dalam tubuhnya tidak bisa lagi ditahan.

"SARADAAA!"

.

Continued