Garis polisi ditarik. Warna kuning terlihat begitu kontras di dalam ruang tanpa penerangan yang cukup. Seisi rumah mulanya sunyi, kini menjadi gaduh saat suara langkah kaki, dan juga beberapa manusia yang saling memerintah terdengar dari segala penjuru. Meskipun begitu, Naruto hanya bisa diam di salah satu sudut ruangan, menunduk dalam. Kedua tangan melipat depan dada, masih belum mampu memproses secara logis apa yang sebenarnya terjadi.
Ekspresi bingung, kesal, dan juga takut pada wajahnya tampak begitu jelas. Dia merasa sudah gila, benar-benar kehilangan akal sehatnya. Berulang kali mengalami mimpi yang sama, dia bisa memastikan itu bukan lagi hanya sekedar 'kebetulan', atau 'bunga tidur' seperti apa yang Sasuke katakan.
Bayang hitam itu memang nyata, menghantui tiap kali kesadarannya hilang dengan alasan dipanggil untuk membunuh. Entah itu mahluk apa sebenarnya, Naruto tidak tahu.
"Uzumaki Naruto?"
Wajah mendongak saat namanya dipanggil. Matanya menatap datar pada sosok pria di hadapannya yang mengenakan pakaian serba hitam. Saat itu Naruto sudah bisa menebak apa yang terjadi setelahnya; detektif itu menginginkan alibinya.
"Aku Nara Shikamaru. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu," ujar pria itu.
Naruto mengangguk paham, kakinya mengikuti Shikamaru yang berjalan mendahului. Benang kusut di kepala bukan hal yang bisa dijadikan alasan untuk menolak. Dia yang melihat tubuh kaku Sarada pertama kalinya, wajar saja jika pria itu mengincarnya terlebih dulu.
Ruang makan dipilih, mereka duduk saling berhadapan.
Shikamaru menatap lekat. Seakan menyelidik bagaimana ekspresinya terlihat tiap detik, tetapi Naruto tidak punya ekspresi, selain datar untuk diperlihatkan.
"Apa Sarada putrimu?"
"Dia sudah kuanggap seperti putriku sendiri," sahut Naruto. Pertanyaan pertama yang ditujukan untuknya dijawab dengan spontan.
"Menganggap?" tegas Shikamaru.
"Dia putri Sasuke, dari pernikahannya yang lama."
"Apa dia sering mengunjungi kalian seperti ini?"
"Tidak," tepis Naruto.
"Bagaimana biasanya?" desak Shikamaru.
"Sasuke pergi mengunjunginya, atau bertemu di luar. Kami tidak pernah membawa Sarada ke sini karena ada banyak alasan."
"Kau menganggapnya sebegai putrimu, tetapi tidak pernah membawanya ke sini karena banyak alasan? Alasan apa itu?"
Naruto tahu setiap gerak-geriknya, jawaban, bahkan jarak waktunya menjawab diawasi. "Putra kami, Menma tidak tahu bagaimana kehidupan kami sebelumnya. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti, tetapi di hari jadinya kemarin aku tahu itu waktu yang tepat."
"Jadi kau membawa mereka ke sini? Apa mulai dari hari itu Sarada tinggal bersama kalian?"
"Tidak."
"Oh." Shikamaru bersandar pada punggung kursi.
"Sarada baru tinggal dengan kami beberapa hari yang lalu," lanjut Naruto.
Shikamaru diam selama beberapa detik, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Pertanyaan selanjutnya sudah dipersiapkan matang sejak beberapa menit yang lalu. "Bagaimana dengan Ibunya? Apa tanggapan wanita itu saat Sarada tinggal bersama kalian? Bukankah mereka selalu bersama sejak bercerai dengan Sasuke?"
"Sakura," ada jeda sesaat, "kematian Sakura lah yang membawa Sarada ke sini. Sasuke ayahnya, itu sudah menjadi kewajibannya."
"Begitu rupanya." Shikamaru menghembuskan napas pelan. Dia bisa memastikan Naruto tidak berbohong, karena dirinya sendiri lah yang menangani kasus kematian Sakura. "Lalu bagaimana dengan anak kalian?"
"Menma tidak pernah memprotes," jawab Naruto.
"Apa kau pernah melihat perbedaan tiba-tiba dari sifat Sarada?"
"Tidak," sahut Naruto, "dia sebenarnya anak yang manis, mungkin sulit bagi Sarada untuk membuka diri karena sifat pendiamnya, tetapi aku tahu, Sarada sangat menyayangi Sasuke."
Shikamaru menatap lekat. "Bagaimana hubungan Sadara denganmu?"
Naruto diam selama beberapa detik, sebelum menjawab meskipun terlihat ragu. "Mungkin, dia tidak menyukaiku seperti yang kukira selama ini, karena aku mengambil hal yang paling dia sayangi."
Shikamaru menarik napas panjang. Tangannya diulurkan pada Naruto sebelum tersenyum tipis. "Naruto, terima kasih atas kerja samanya."
.
Barang bukti dalam zip lock disentuh. Sisa cairan yang berada di dalam sana terasa lebih dingin saat menempel pada permukaan jari.
Sebuah radio kecil; warna merah dengan gambar anak ayam di depannya rusak total. Kabel hitam yang tersambung langsung dengan bagan radio sobek, sayatan yang terlampau halus, terlihat seperti hasil dari benda tajam.
Shikamaru tahu, radio itulah yang digunakan sebagai penghantar aliran listrik ke dalam bathtub, tetapi dia ragu, karena tidak seharusnya anak kecil tahu bagaimana cara bunuh diri menggunakan listrik, dan air.
"Shika."
Kepalanya menoleh saat dipanggil. Dari tempatnya berdiri, dia melihat pria berambut silver di ambang pintu melangkah mendekat, membawa zip lock lainnya di kedua tangan.
"Silet?" Shikamaru mengernyit. Memerhatikan 6 buah silet pada zip lock yang diletakkan tepat di hadapannya. "Di mana kau menemukan ini, Kakashi?"
"Di kamar, tepatnya di bawah kasur disimpan dalam kardus boneka, sidik jarinya ada pada setiap silet," jelas Kakashi menghela napas, sebelum menghisap kuat batang rokok. "Ini aneh, tetapi anak perempuan seumurannya tidak seharusnya bermain dengan silet, bukan?"
"Kau lihat ini?" Shikamaru menunjuk sayatan pada kabel. "Garisnya yang sangat lurus. Bahkan tidak ada sambungan. Untuk menyayat kabel setebal ini, anak perempuan sekecilnya tidak mungkin sekuat itu. Aku bahkan tidak bisa menyayatnya dalam satu tarikan karena kabel ini keras."
"Shika," panggil Kakashi, "tidak ada yang bisa menyayat kabel setebal ini hanya dengan silet dalam satu tarikan. Kau harus melakukannya berulang kali, dan membuat garis baru semakin dalam setiap kali menyayat."
Shikamaru diam.
"Orang dewasa sekalipun, tidak akan ada yang bisa melakukannya," ulang Kakashi menegaskan. "Entahlah, menurutku ini aneh. Jika semuanya benar, apa kau pernah berpikir bagaimana mungkin anak seusianya paham cara membuat kolam bunuh diri? Apa tidak ada yang mengawasi anak ini hingga dia bisa menyimpan 6 buah silet dalam kardus boneka? Itu mimpi buruk semua orang tua."
"Kau benar, semuanya masih belum jelas. Terlalu banyak kasus yang terjadi di sekitar keluarga ini," sahut Shikamaru, memerhatikan asap tipis yang mengepul dari mulut Kakashi. "Pertama Sakura, dan sekarang anaknya. Kasihan sekali, dia pasti kesepian harus tinggal bersama ayahnya yang dingin itu."
"Hey, kau tidak bisa menilai seseorang hanya karena kau melihatnya bersikap dingin sekali. Kau tidak tahu bagaimana isi hati pria itu, mungkin dia menangis di dalam melihat putrinya harus pergi dengan cara menyedihkan seperti ini," tegur Kakashi.
"Hah? Siapa pun yang memiliki ayah seperti si Uchiha itu tidak akan pernah merasa senang. Apa kau lihat dia menangis? Tidak itu pertanyaan yang sulit. Apa kau lihat dia terlihat sedih? Ekspresinya tetap sama!"
Kakashi tersenyum tipis. Bara rokok dimatikan pada asbak, sebelum ekpresinya kembali serius. "Shika, kita harus menyelesaikan semuanya malam ini. Kumpulkan semua barang bukti, juga info-info lainnya yang bisa kau dapat, dan ... jangan lepas matamu dari Naruto. Aku tidak begitu mempercayai pria itu."
"Naruto ..., tapi kenapa? Pria itu ti—"
"Insting," potong Kakashi melangkah meninggalkan ruangan.
.
Dua detik setelah pintu kamar ditutup, gengam tangan Naruto semakin erat pada lengan kecil Menma yang baru saja terbangun dari tidur. Saat itu, matanya hanya tertuju pada satu titik yang sama, di mana Sasuke berdiri memunggungi mereka.
"Ayah?" Menma memanggil, tangannya menggoyang jemari Naruto sekali, tetapi pria itu memilih untuk menarik koper hitam yang berada dekat kakinya.
"Apa ini?"
Sasuke menoleh, dengan ekspresi datar seperti biasa. Tatapan matanya yang semula beradu dengan si pirang bergerak turun perlahan, mengikuti tangan pria itu yang mendorong maju koper tepat ke hadapannya.
"Apa maksud semua ini, Sasuke?" Naruto mendesak, suaranya terdengar lebih berat.
Sasuke mematung.
"Kenapa semua pakaianku, dan Menma ada dalam koper? Kau tidak sedang mencoba mengusir kami dari rumah ini, bukan?"
"Bawa Menma pergi dari sini, Naruto," sahut Sasuke cepat.
Keduanya diam, sedangkan Menma hanya bisa menatap bergantian kedua orang tuanya takut-takut. Sepasang matanya yang bundar, terlihat siap sedia untuk meneteskan air mata kapan saja.
"Pergi ..., tapi kenapa?"
Sasuke sekali lagi menatap Naruto. Namun kali ini tatapan yang diberikannya pada pria itu berbeda—terlihat pilu. "Bawa dia pergi dari sini."
Naruto memerhatikan Sasuke yang melangkah mendekat; pria itu membawa koper kembali ke dekat kakinya, kedua tangannya gemetar, dan terasa dingin saat bersentuhan langsung dengan permukaan kulitnya.
"Hotel, luar kota, atau luar Negeri. Ke mana pun asalkan tidak di sini." Sasuke menarik tangan Naruto, untuk menggenggam paksa gagang koper. "Menma masih kecil Naruto, dia tidak sepertiku. Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana jadinya jika dia terus-menerus dikelilingi dengan keadaan seperti ini?"
"Sasuke ... apa kau bercanda? Kita bisa menghadapinya bersama, apa pun itu. Kau dan aku sudah berjanji, apa kau lu—"
"Jangan menolak Naruto, kumohon jangan menolak. Ini demi Menma," potong Sasuke, "aku akan menyelesaikan semuanya sendiri. Sakura, juga Sarada ..., aku akan bertanggung jawab sepenuhnya pada mereka. Jadi kumohon dengarkan permintaanku sekali saja, Naruto, dan kembali saat semuanya selesai."
Naruto tidak pernah mendengar Sasuke memohon pada dirinya, kecuali hari ini. Mata yang sering menatapnya tajam, terlihat ingin menangis. Wajah yang biasanya terlihat angkuh, menunduk. Tangan yang biasa menyentuhnya tanpa ragu, gemetar, dan suara yang biasa terdengar tegas, menjadi lemah.
Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat sangat rapuh. Tidak seperti Uchiha Sasuke yang biasa dikenalnya dulu.
Ingin Naruto memeluk, dan meyakinkan jika semuanya baik-baik saja, tetapi dia juga tahu, keputusan yang diambil Sasuke hari ini bukan tanpa alasan. Ada banyak hal yang mengerikan terjadi di sekitar mereka tiba-tiba tanpa sebab, dan dia tahu betapa besar Sasuke mencintai putra mereka.
"Baiklah." Naruto menyentuh tangan Sasuke, genggam erat yang diberikannya bertujuan untuk menghangatkan tangan bersuhu rendah si Uchiha. "Aku akan tinggal di hotel selama beberapa hari ke depan, tetapi berjanjilah padaku, Sasuke. Kau tidak harus menanggung semuanya sendiri, jika membutuhkan bantuan, katakan padaku. Kita akan melewatinya bersama, karena kau, dan Menma bagian terpenting dari hidupku saat ini."
Air mata Sasuke hampir menetes, tetapi tangis Menma yang pecah, mendahuluinya terlebih dulu.
.
Layar ponselnya berkedip puluhan kali, dihiraukan. Terhitung sudah 7 jam Shikamaru menghabiskan waktunya dalam ruang kerja, dengan beberapa zip lock barang bukti, juga beberapa barang tambahan lainnya di atas meja yang sengaja dikumpulkan.
Kakashi yang berdiri tidak jauh darinya terdengar menghela napas beberapa kali. Tubuh menghadap lemari arsip, jemari membalik lembar demi lembar yang tersimpan rapi dalam map hitam. Entah sudah berapa banyak lembaran menumpuk pada tangan kiri. Seakan tidak cukup, tangan kanan terus menelurusi arsip lainnya.
"Kau dapat info lainnya, Kakashi?"
Kakashi melirik, tahu kepala anak buahnya yang satu itu mulai pening. "Tidak lebih tentang kehidupan mereka ..., bagaimana denganmu? Kau menemukan sidik jari baru pada barang bukti?"
"Buntu," sahut Shikamaru, menatap langit-langit ruangan. "Aku sengaja mengumpulkan beberapa benda dari rumah mereka diam-diam untuk memindai sidik jari, tapi ... aku tidak bisa menemukan satu pun sidik jari Naruto, atau Sasuke pada barang bukti. Semua sidik jari pada; silet, kardus boneka, bahkan radio kecil ini. Semuanya milik Sarada."
"Aneh. Setahuku radio itu milik putranya, kau yakin tidak ada satu pun sidik jari pada radio itu selain milik Sarada? Kau sudah mencoba mencampur black powder dengan beberapa bahan kimia lain? Meskipun radio itu terendam dalam bathtub dengan aliran listrik, sidik jari tidak larut dalam air, Shika," tegas Kakashi.
"Kakashi, apa kau pikir aku ini pemula?" ketus Shikamaru. "Kukatakan sekali lagi, tidak ada sidik jari lainnya kecuali milik Sarada. Aku tahu ini aneh, tapi memang itu kenyataannya. Bahkan aku sendiri tidak percaya saat pertama kali melihat."
"Poros?" tanya Kakashi lagi.
Shikamaru menggeleng. "Non poros, pada radio, dan silet. Poros, dan semi poros pada kardus boneka, dan bonekanya."
Kakashi mengangguk paham, matanya kembali tertuju pada lembaran arsip. "Shika, apa kau tahu tentang anak perempuan Naruto yang baru saja mati beberapa hari lalu?"
Shikamaru yang mulanya bersandar pada kursi, mengernyit, sebelum berdiri cepat-cepat, berlari menghampiri, lalu tubuhnya menyela dari sisi kiri untuk melihat secara langsung lembar kertas dari tangan Kakashi. Dia tidak tuli, telinganya jelas mendengar apa yang baru saja dikatakan pria itu.
"Uzumaki Himawari, 9 tahun," jelas Kakashi, menunjuk pada barisan utama kalimat yang dicetak menggunakan tinta hitam.
"Anak perempuan dari pernikahan pertamanya? Jadi dengan Sasuke? ..., dia ... uh, maksudku itu yang kedua kali?"
"Sepertinya begitu."
Shikamaru, dan Kakashi saling menatap.
"Kau lihat ini? Hyuuga Hinata. Dia anak kedua dari 2 bersaudara. Mereka menikah 13 tahun yang lalu, dan bercerai 6 tahun setelahnya dengan 2 anak; Uzumaki Boruto, dan Uzumaki Himawari. Tidak lama setelah itu, Naruto menikah dengan Sasuke."
"Huh, kukira hanya Sasuke, ternyata Naruto juga memiliki latar belakang yang sama. Sebenernya ada apa dengan orang-orang ini?" ujar Shikamaru, sinis.
"Sudahlah, itu urusan mereka, yang terpenting saat ini pecahkan dulu kasusnya. Apa kau tidak kasihan dengan anak perempuan itu?"
Shikamaru diam atas teguran Kakashi. Dia mengangguk tanda mengerti, sebelum meninggalkan atasannya yang sibuk dengan tumpukan arsip—kembali pada meja kerja.
Barang bukti diamati ulang satu-persatu. Tangan yang terlapisi sarung karet kembali menyentuh serbuk yang sama. Namun seberapa keras dia berusaha, hasilnya tetap sama.
Hanya ada sidik jari Sarada.
.
Ramen di atas meja tidak disentuh oleh pemiliknya. Kepul tipis uap dari dalam mangkuk, menghilang. Kuah yang semula panas menjadi hangat, lalu menjadi dingin. Namun Menma tidak juga beranjak dari atas kursi.
Ini hari kedua mereka di hotel, dan tidak ada perubahan signifikan jika dibandingkan dengan hari pertama.
Menma menolak untuk bicara, makan, menatapnya, bahkan bermain. Anak itu hanya duduk seperti boneka yang tidak memiliki jiwa, kecuali, saat Sasuke menghubunginya lewat telepon.
Naruto berulang kali membujuk. Segala cara dilakukan untuk menghentikan tangisan Menma, dan membuat anak itu kembali tersenyum. Dia tahu keberadaanya tidak bisa mengantikan Sasuke, tetapi dia juga tidak ingin melihat kondisi putranya semakin buruk.
"Menma," panggil Naruto, berdiri di samping meja dengan ponsel dalam genggam. "Apa kau mau bicara dengan Ayah?"
Tidak ada sahutan.
"Kalau kau tidak bicara, aku tidak tahu apa yang kau inginkan." Naruto berjongkok, memosisikan kepalanya setara dengan Menma. "Katakan padaku apa yang kau inginkan, dan kita akan bekerja sama untuk mendapatkannya."
"Ayah," Menma mengucap pelan, dan Naruto paham siapa yang dimaksud anak itu.
"Kau mau menelepon ayah? Menma ..., tapi kau belum sarapan, nanti ayah bisa marah. Aku berjanji setelah kau menghabiskan ramen ini, aku akan menghubunginya." Naruto bisa melihat perubahan drastis pada wajah Menma juga perilakunya saat Sasuke disebut. Dia tidak ingin memanipulasi putranya jika boleh jujur, tetapi tidak ada pilihan lain.
Anak itu melahap dengan rakus. Hanya dalam hitungan menit, semangkuk ramen porsi besar habis tidak tersisa.
Naruto yang melihat secara langsung, tidak banyak membuka suara. Meskipun dari ekspresinya jelas terlihat jika dia merasa ada ganjil. Kepalanya mencari rekam memori tentang bagaimana putranya biasa makan, tetapi dia tidak ingat pernah melihat Menma menghabiskan porsi besar yang bahkan tidak sanggup dihabiskannya.
"Ayah," ujar Menma, menatap ke arah ponsel pada genggam Naruto.
"O-oh, ya ... tunggu sebentar." Naruto menekan layar ponsel. Nomor yang dihapalnya luar kepala dipilih, sebelum layar menggelap, dan ponselnya dibawa mendekat ke telinga.
Nada sambung mengalun. Tidak menunggu lama, sahutan dari dalam speaker terdengar.
"Naruto, ada apa?"
"Sasuke, apa kau sedang sibuk? Menma ingin bicara denganmu," jelas Naruto. Volume suaranya sengaja diturunkan, mengingat putra mereka bisa mendengar. "Keadaannya masih sama, tidak banyak berubah dari kemarin. Hari ini kalau aku tidak berjanji untuk menghubungimu, dia tidak akan menghabiskan sarapannya. Aku tidak bisa melihatnya terus seperti ini Sasuke, apa kau yakin membawa Menma menjauh darimu adalah ide yang baik? Dia tidak menganggapku ada, yang diinginkan Menma ... bukan aku."
"Hn ..., tolong berikan ponselnya pada, Menma."
Naruto bergumam mengerti, kakinya balik melangkah mendekati meja. Dari jauh matanya bisa melihat Menma menatapnya lekat sedari tadi. Dengan senyum tipis, ponselnya diberikan pada anak itu.
Menma tertawa saat ponselnya ditempelkan pada telinga.
Memberikan putranya waktu privasi dengan Sasuke, dia melangkah ke dalam kamar. Naruto ikut tertawa melihat Menma. Perasaan sesak yang sempat menghantui, berganti lega melihat putranya kembali ceria. Entah cinta macam apa yang diberikan Sasuke pada anak itu, hingga keberadaanya dinomor duakan—hampir tidak lagi dianggap. Hari ini dia tahu bagaimana pahitnya rasanya iri. Mungkin saja karena terlalu sibuk bekerja, dan tidak pernah menghabiskan waktu bersama Menma sebanyak Sasuke, dia kehilangan banyak momen berharga di antara mereka. Namun, dia juga bersyukur memiliki pasangan seperti Sasuke, yang mampu memberikan kasih sayang penuh pada Menma saat dirinya tidak ada.
"Ayah?"
Naruto yang berdiri dekat jendela menoleh. Di ambang pintu Menma berdiri takut-takut, kedua tangan kecilnya mengenggam erat ponsel, sambil melangkah mendekat.
"Hm?" Naruto mengambil ponsel yang diberikan Menma padanya. Tahu sambungan dengan Sasuke belum terputus, ponselnya didekatkan pada telinga. "Halo?"
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada Menma, kurasa dia mengerti sekarang."
Naruto melirik putranya yang menunduk, dengan kedua tangan saling bertaut. Detik berikutnya, bibir mengulas senyuman. "Dia memang anak yang cerdas, itu semua karena kau ayahnya, Sasuke."
"Kau juga ayahnya, Naruto," ada jeda sesaat, "aku tahu ini berat, tapi ... bertahanlah hingga semuanya selesai."
Ekspresi Naruto melembut. Ada banyak hal yang ingin dikatakan, tetapi dia paham sekarang bukan waktu yang tepat. "Aku mencintaimu, Sasuke."
"Aku juga mencintaimu, Naruto."
Naruto tahu, jawaban spontan pria itu berasal tulus dari dalam hati. "Aku ingin memelukmu," lanjutnya menggoda.
"Berhenti. Jangan bodoh. Sekarang fokus pada Menma, dan bukankah hari ini pemakaman Himawari? Maaf aku tidak bisa datang, ada beberapa hal yang harus kuselesaikan menyangkut Sakura, dan Sarada."
Naruto tertawa lalu mengangguk. Jemarinya mengusap puncak kepala Menma sebelum membuka mulut, mengucap kalimat tanda menyerah. "Kau benar, baiklah kalau begitu ... aku akan menghubungimu lagi nanti, dan oh—Sasuke, jangan lupa sarapan."
Sambungan mereka terputus diawali dengan Sasuke yang bergumam singkat, dan Naruto yang tertawa pelan.
"Menma, apa kau senang su—"
"Aku minta maaf ayah," potong Menma pelan, menarik ujung baju si pirang. "Karena aku jadi anak nakal, dan tidak mau mendengar apa yang ayah katakan."
"Menma," panggil Naruto lembut. Dia berlutut di depan putranya, lalu membawa tubuh mungil itu ke dalam peluk. "Ayah yang harusnya minta maaf, karena tidak pernah menghabiskan waktunya denganmu. Ayah janji, saat kita kembali ke rumah nanti, ayah akan selalu ada untukmu."
Menma balas memeluk. Anak itu menangis lagi, tetapi kali ini, air matanya menetes ditemani senyum lebar.
Cukup lama keduanya berada pada posisi sama, hingga suara kecil Menma mengalihkan perhatian Naruto. "Apa itu pemakaman? Tadi ayah bilang pemakaman Himawari. Bukannya Hima sudah pergi jauh mengelilingi galaksi, dan tidak kembali lagi?"
Naruto tersenyum pahit. "Pemakaman adalah tempat di mana kita bisa bertemu terakhir kalinya sebelum mereka pergi jauh, Menma. Apa kau mau ikut denganku untuk bertemu Hima sekali lagi, dan mengucapkan selamat tinggal?"
Menma mengangguk. "Aku mau ..., aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada Himawari, ayah."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan pakaian untukmu," lanjut Naruto.
Keduanya mengenakan pakaian serba hitam dari atas kepala hingga kaki. Menma yang melihat pantulan tubuhnya pada cermin, mengernyit, dan sempat memprotes tanda tidak suka, tetapi Naruto berhasil meyakinkan Menma sepanjang perjalanan, jika warna hitam adalah warna yang dipilih bukan tanpa alasan.
"Ayah, itu Boruto."
Naruto menoleh ke arah di mana Menma menunjuk. Mesin mobil cepat-cepat dimatikan, melihat putra pertamanya—Boruto—menghampiri mereka tergesa dengan ekspresi sendu.
"Menma, terima kasih sudah datang," ujar Boruto pelan, memaksa dirinya untuk tersenyum.
Naruto bisa melihat dengan jelas kesedihan dibalik tatap mata Boruto, tetapi hari ini, anak itu berusaha setengah mati untuk tidak menunjukkan sisi lemahnya. Bahkan Menma yang sudah kembali seperti semula hanya bisa diam, mengenggam jemarinya lebih kuat seolah tahu apa yang dirasakan Boruto saat ini.
"Ayo ayah, hima pasti sudah menunggu."
Naruto, dan Menma melangkah mengikuti Boruto dari belakang, menyusuri jalan setapak menanjak dari aspal, juga batuan. Sisi kiri, dan kanan hanya ada batu kubur, warna abu-abu yang mendominasi mengambarkan bentuk asli tempat peristirahatan terakhir.
Untuk beberapa kali, Naruto melirik pada Menma, tetapi perkiraannya yang menganggap anak itu ketakutan, terus meleset. Menma tidak memiliki ekspresi di wajah, dengan pandangan mata lurus ke depan, kaki kecilnya terus mengimbangi langkah di antara orang-orang yang berpakaian serba hitam lainnya.
"Ibu," Boruto memanggil Hinata yang berdiri tepat di samping peti.
Wanita itu menoleh. Kedua matanya sembab, dengan lingkaran hitam kentara. Wajahnya pucat, pipinya cekung, tidak ada lagi aura kecantikan terpancar darinya.
Naruto menatap pilu peti mati putrinya yang sebentar lagi akan dikembalikan ke bumi. Matanya sempat berkaca-kaca. Namun ditahan. Dia malu melihat Boruto mampu menahan emosinya.
"Ini terakhir kali kita melihatnya," gumam Hinata, "terakhir ..., kalinya aku melihat putriku sebelum dia pergi selamanya."
Naruto menarik tubuh Hinata mendekat, bahunya sengaja dipinjamkan pada wanita itu untuk menangis. Dia berbisik pelan, "sudahlah, Hinata. Himawari tidak akan senang melihatmu seperti ini."
Tangis Hinata semakin pecah. "Kenapa Naruto? Kenapa harus Himawari?!"
Naruto hanya bisa mematung, dia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawab—karena hatinya juga hancur.
"KENAPA BUKAN AKU SAJA?!"
Genggaman tangan Naruto pada Menma dilepas. Tubuh Hinata hampir ambruk ke tanah jika dia tidak menahannya. Semua orang menatap mereka iba. Bahkan Boruto yang mulanya terlihat kuat, tidak mampu lagi menahan bendungan air matanya.
"HIMAWARI!" Hinata menjerit pilu, dalam pelukan Naruto.
Semua orang menunduk, tidak ada yang mampu menyuarakan kata. Bahkan langit terlihat mendung, ikut berduka.
"Ibu ... jangan menangis depan Hima," ujar Boruto, menyapu air mata yang deras membasahi kedua pipi. "Hima tidak ingin melihat kita seperti ini."
Hinata terus menangis.
"Dengarkan aku ibu! Hima tidak akan me—"
Hinata menepis kasar tangan Boruto dari lengannya. Histeris, dia mendorong tubuh putranya menjauh. "INI SEMUA TERJADI KARENA KAU TIDAK MENJAGA ADIKMU, BORUTO! DIA TIDAK AKAN MATI KALAU KAU MENJAGANYA DENGAN BENAR! KA—"
Tamparan keras pada pipi Hinata menarik perhatian semua pasang mata.
Naruto bisa merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Permukaan telapak tangannya terasa perih, dan jantungnya berdegup cepat. Namun belum sempat kalimat maki diucap bibirnya, perhatiannya terbagi pada Boruto yang berlari meninggalkan mereka.
"Boruto tunggu!"
Naruto ikut berlari, mengejar anak kecil yang jauh lebih cepat dibanding dirinya. Dia tahu Menma memanggilnya berulang kali, tetapi sengaja dihiraukan karena refleks kakinya tidak bisa lagi ditahan.
"BORUTO!" Naruto berteriak.
Air yang mulai menetes deras dari langit membuat kakinya sulit menapak di atas aspal batuan yang menjadi licin. Matanya menyipit karena terpaan angin bercampur hujan, tetapi dia masih bisa melihat ke mana arah Boruto berlari.
"TUNGGU AKU!"
Naruto bisa memastikan Boruto berlari ke arah jalan raya, dan itu membuat jantungnya mulai berpacu cepat. Kakinya semakin cepat berlari, hanya tinggal sedikit lagi, dan tangannya bisa meraih bahu putranya.
"HATI-HATI BORUTO! DI DEPAN JA—" Kalimat Naruto terputus, dengan pupil mata yang membulat sempurna.
Bayang hitam itu datang lagi.
Berdiri tepat di seberang jalan. Diam, memerhatikan, seolah sudah menunggu, dan memperkirakan kedatangan mereka berdua.
"TIDAK! BERHENTI BORUTO! JANGAN PERGI KE SANA! BORUTO!"
Dua detik setelah jemari Naruto meraih bahu Boruto, mobil van berkecepatan tinggi, menghantam tubuh mereka dari sisi kanan jalan.
.
Continued
