Samar.
Tetes air yang tertangkap telinga terdengar sangat jauh. Kesadarannya belum pulih sempurna. Namun, Naruto bisa menghitung sudah berapa kali cairan itu menetes membasahi wajah, juga tubuhnya.
Tetes keempat.
Tetes kelima.
Tetes keenam.
Kelopak mata terbuka perlahan, tetapi yang dilihat hanya kegelapan. Seluruh tubuh mati rasa; kaku dari kepala hingga kaki. Suara tidak mampu dibuat meski sudah mencoba.
Tidak banyak yang bisa dilakukan. Tidak tahu di mana dia berada, tidak tahu bagaimana jelas kondisinya, dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mata hanya bisa menatap satu titik yang sama, hingga telinganya lagi-lagi menangkap suara. Kali ini gesekan berulang di atas tanah yang terdengar semakin jelas mendekati.
Indra penciumannya mengendus bau anyir tiba-tiba. Bau yang sangat kuat hingga membuat perutnya mual karena ingin muntah, tetapi tidak mampu karena lidahnya terlalu kelu.
Dia ingin berteriak, sayangnya yang terdengar hanya gumam tidak jelas sekeras apa pun dia mencoba. Hidup atau mati, dia tidak tahu lagi mana yang benar.
"Kenapa kau sangat bodoh? Mereka menghantam tubuhmu cukup keras, dan lihat kondisimu sekarang. Terbaring lemah tidak berdaya seperti ini terlihat sangat menyedihkan, bukan? Apa kau pikir aku bisa menyelamatkanmu saat semuanya berada di luar kendali? Jika harus jujur, aku memang bisa, tetapi akan lebih mudah jika kau tidak mencampuri urusanku, dan terluka bukan?"
Dia kenal suara itu.
Dia tahu itu sosok yang sama.
"Aku hanya melakukan tugasku, kau tahu? Dia memintanya sendiri. Dia meminta untuk mati, dan kau terlalu bodoh hingga ikut terlibat. Menurutmu dengan tetap membuatnya hidup adalah jalan yang tepat? Kau terlalu naif Naruto, yang kau lakukan terhitung sia-sia meskipun kau menyerahkan nyawamu sendiri sebagai gantinya. Sekali seseorang menginginkan kematian untuk dirinya, dia akan terus menginginkannya lagi, dan lagi hingga dia mendapatkan apa yang diinginkan, dan merasa puas."
Itu bayang hitam yang selalu ada dibalik semua mimpi buruknya.
"Setiap manusia memiliki monster yang sama, yang meminta untuk dilepas saat mereka tidak mampu lagi menghadapi situasi tertentu. Sama sepertimu, lalu apa salahnya jika membantu melepas monster-monster itu saat mereka meminta bantuan? Apa yang salah dari mengabulkan permohonan yang memang dinginkan?"
Pupil mata bergerak lemah, mencari di mana sosok itu berada meski ruang yang dimiliki terbatas. Tubuhnya terlalu lemah untuk berfungsi, dia merasa kekuatannya tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Telinganya mulai tidak bisa mendengar, dengung kencang di kiri, dan kanan membuat kepalanya semakin sakit.
"Aku akan selalu berada di dekatmu, Naruto. Memerhatikan setiap langkah, setiap pilihan yang kau ambil, dan keputusan yang kau buat. Ingatlah baik-baik, aku tidak ingin membuatmu terluka, jadi jangan menganggu saat aku tidak memiliki urusan denganmu."
Matanya yang buram hanya mampu menangkap siluet yang bergerak pelan dari arah belakang ke depan. Namun dia tahu, siluet tubuh siapa yang ditarik kasar di atas tanah menggunakan rantai oleh bayang hitam itu.
"J ..., jangan bawa ... dia pergi. K ... k-kumohon, ..., B-Boruto ... dia p-putraku, j ..., jangan ... bawa ... dia ... pergi ... aku akan me ..., melakukan apa ... apa pun yang kau i-inginkan." Jemarinya bergerak beberapa kali berusaha mencengkram tanah, sebelum kesadarannya hilang sempurna diiringi suara gesekan rantai dan tanah yang menggema.
"Hahahahaha! Jangan khawatir Naruto. Akan kupastikan hanya akan membawanya ke tempat terindah yang pernah dia kunjungi selama hidupnya."
.
Matanya tidak berpaling dari tempat yang sama. Selama 5 jam lebih menunggu, tidak banyak yang bisa Sasuke lakukan selain diam, merasakan pundaknya yang hangat karena cairan dari mata Menma menetes membasahi pakaiannya sejak tadi.
Seakan-akan tertidur pulas, di atas kasur seba putih. Naruto masih belum juga membuka mata. Tidak juga menunjukkan tanda-tanda kondisinya kunjung membaik. Stagnan. Waktu berhenti berjalan, membeku di detik yang sama tanpa ada perubahan.
Kondisi dari pria itu yang didengarnya langsung dari para dokter, juga dilihat sendiri oleh kedua matanya memang buruk; beberapa tulang remuk, seluruh tubuhnya dibalut perban, tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak dihiasi luka, atau memar. Bahkan membutuhkan alat bantu hanya untuk bernapas. Bohong kalau Sasuke mengaku tidak merasa hancur, hanya saja dia tidak bisa menunjukkan sisi lemahnya saat ini karena itu hanya akan membuat tangisan Menma semakin pilu.
"Kenapa kau sangat bodoh, Naruto," ucap pelan dari bibirnya lagi-lagi diiringi tetes air mata Menma di bahu. Sasuke menarik napas panjang, sebisa mungkin menahan air matanya ikut menetes, juga dirinya yang hampir diambil alih oleh emosi. Sama sekali tidak bisa.
Tidak untuk saat ini.
Ada banyak hal yang harus dilakukan entah diinginkan atau tidak. Keluarganya bukan hanya Naruto, dan Menma. Namun juga ada Sakura, dan Sarada yang membutuhkan kehadirannya di pemakaman mereka.
Setidaknya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menebus habis seluruh tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
"Menma, berhenti menangis. Apa yang kau takutkan?"
"Ayah ..., kenapa ayah tidak bangun?" Jemarinya yang kecil mencengkram lengan Sasuke kuat, dan air mata yang mengalir deras membuat wajah Menma terlihat semakin kusut.
"Menma," panggil Sasuke lembut.
"Apa dia akan tertidur selamanya?" tegasnya disela isak tangis, menatap Sasuke penuh rasa cemas.
"Tidak, Menma."
"Apa ayah juga akan pergi jauh seperti Boruto, dan yang lainnya?" tegasnya lagi seolah tidak percaya dengan apa yang telinganya dengar secara langsung dari bibir Sasuke.
"Menma apa yang kau pikirkan?" sahut Sasuke iba, menatap putranya yang terus menangis.
"AKU TIDAK MAU AYAH PERGI!" Tangisan Menma pecah. Sentuhan lembut jemari Sasuke pada wajahnya, hanya membuat emosi dalam dirinya semakin meluap, tidak dapat ditampung lagi.
"AKU MAU AYAH KEMBALI!"
"AKU MAU KITA BERSAMA LAGI SEPERTI DULU!"
"AKU HANYA MAU BERSAMA KALIAN!"
Peluk erat kedua tangan Sasuke menarik paksa Menma untuk menatap lekat kedua matanya. "Aku masih ada di sini bukan? Ayah akan kembali seperti biasa, dia tidak akan melupakanmu, dan semuanya akan kembali seperti semula. Aku berjanji, Menma. Kau percaya padaku, bukan?"
Detik berikutnya air mata Menma mulai berhenti menetes, kedua lengan kecilnya memeluk Sasuke erat diiringi kepala yang mengangguk, juga isak pelan.
"Kau anak yang cerdas, Menma," ucap Sasuke mengecup dahi putranya. "Apa kau tahu apa yang ayah butuhkan saat ini? Dia butuh banyak istirahat, jadi lebih baik untuk tidak menganggunya."
Menma lagi-lagi mengangguk. Bahkan saat tangan kirinya digenggam untuk dibawa pergi meninggalkan ruangan, dia sama sekali tidak menolak.
Apa yang dilakukannya hanya diam, mengikuti Sasuke dari belakang dengan patuh.
.
"Kakashi!"
Seluruh mata tertuju pada Shikamaru yang berlari di lorong. Membawa beberapa lembar kertas putih yang kusut karena genggaman tangan terlalu kuat, dia menerobos tanpa memedulikan kondisi sekitar.
Tujuannya hanya satu, yaitu ruangan di mana Kakashi baru saja menapakkan kaki di sana beberapa menit yang lalu.
Pintu didorong terlampau kuat, membentur belakang dinding hingga membuat bunyi bantingan keras. Matanya mencari di mana pria itu, saat dilihat berdiri depan jendela, Shikamaru tidak lagi menunggu.
"Hey apa kau ini gila?!" bentak Kakashi yang tidak terima ruangannya diperlakukan buruk oleh sang bawahan, tapi bukan permohonan maaf yang didengar, lengannya justru ditarik kuat hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. "SHIKAMARU!"
"Tidak saat ini Kakashi! Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan nanti, tetapi tidak saat ini!"
"Apa maksudmu?!" balasnya membentak, berusaha melepas cengrkraman tangan Shikamaru yang kini membawanya ke arah lahan parkir.
Shikamaru berdecak kesal. "HINATA! DIA DITEMUKAN MATI BUNUH DIRI DI RUMAHNYA!"
"K-kau bilang apa?" Kakashi tidak tuli. Dia bisa mendengarnya dengan jelas, hanya saja tidak percaya jika lagi-lagi kasusnya harus bertambah, dan berasal dari lingkungan sama.
"Bukan hanya kau yang terkejut," ujar Shikamaru, membuka pintu mobil, diikuti Kakashi di sisi penumpang. "Ini gila! 5 jam yang lalu arsip kecelakaan Naruto, dan kematian Boruto anak mereka baru saja kutangani."
Kakashi sengaja diam untuk mendengar Shikamaru berbicara lebih banyak.
"Kau juga tahu bagaimana kondisi Naruto di rumah sakit, bukan?" lanjut Shikamaru. "Aku tahu dia kehilangan kedua anaknya di waktu yang berdekatan, tetapi apa bunuh diri hanya satu-satunya jalan keluar?! Apa dia tidak berpikir bagaimana perasaan orang lain yang ditinggalkan begitu saja?! Kenapa harus pilihan egois seperti itu yang diambilnya?!"
"Shika," panggil Kakashi.
"Terkadang aku tidak habis pikir dengan seseorang yang selalu mengambil jalan pintas sebagai jalan keluar yang mereka rasa benar. Apa mereka merasa lebih baik dengan keputusan seperti itu? Huh? Mereka bahkan sudah tidak ada di dunia ini lagi untuk berpikir apakah keputusan yang diambilnya benar!"
"Kau tidak bisa melihat semuanya dari sudut pandangmu sendiri. Kau tidak tahu apa yang dirasakan Hinata hingga membuatnya seperti itu," sahut Kakashi, menatap Shikamaru yang mengigit bibir bawahnya.
"Itu ..., tapi itu ... salah Kakashi," sahut Shikamaru pelan. "Dia tidak seharusnya menyerah secepat itu, masih ada banyak hal yang bisa dia lakukan. Aku yakin Himawari, dan Boruto pasti tidak ingin melihat Hinata berakhir seperti ini, juga Naruto ... meskipun mereka tidak lagi bersama aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupku."
"Aku tidak mengatakan bunuh diri adalah hal yang baik, atau hal yang pantas dilakukan, Shika, tapi jangan kau menilai apa yang Hinata rasa dari sudut pandangmu sendiri hanya karena kau tidak bisa merasakan apa yang dia rasa."
Shikamaru tidak lagi menyahut. Bibirnya kaku, lidahnya kelu. Terlalu banyak perasaan campur aduk yang dirasakan, dan membuatnya bingung harus memilih yang mana. Pada akhirnya yang bisa dilakukan hanya fokus pada jalan di mana roda mobilnya berputar, dan kakinya yang menginjak pedal gas terasa semakin dalam.
.
Helaan napas pelan dari mulut Shikamaru tertangkap telinga Kakashi. Hampir 95 menit mereka berada di dalam kamar Hinata, mencari beberapa bukti untuk dianalisa, nyatanya tidak ada satu pun bukti yang bisa memuaskan Shikamaru.
"3 jam setelah Boruto mati, dia menyusulnya. Dengan pil, huh? Di tempat ini," ujar Shikamaru, sedikit bersandar pada tepi meja sebelah kasur.
Kakashi mengangguk singkat. Kedua tangan menjadi beban tumpuan tubuh pada atas meja, wajahnya menunduk dalam sambil menghela napas cepat sebelum menoleh ke arah Shikamaru. "Belum selesai? Apa lagi yang kau cari di sini?"
"Bukti," sahut Shikamaru datar.
"Ini bukan kasus pembunuhan di mana kita harus mencari siapa yang menjadi tersangka, Shika. Semua bukti sudah terkumpul, dan kau tahu apa yang sebenarnya terjadi," balas Kakashi.
"Aku tahu ..., tapi," ada jeda sesaat, "beri aku kesempatan lagi Kakashi, kumohon."
Kakashi diam sebelum menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah Shikamaru. "Baiklah, tetapi kau harus tahu, Shika. Masih banyak kasus lain yang menunggu, dan masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan bantuanmu. Jadi jangan biarkan perasaanmu mendominasi tanggung jawab dari kasus ini," ujarnya, "aku akan menunggu di luar."
Shikamaru menunduk, tahu apa yang dikatakan Kakashi benar adanya. Namun entah mengapa dia belum bisa lanjut berjalan. Ada perasaan mengganjal yang membuatnya terjebak, dan dia tidak tahu pastinya itu apa.
"Mengapa hari ini aku merasa sangat aneh?" ujarnya menatap botol obat dalam plastik zip-lock transparan. "Mungkin Kakashi benar, aku tidak seharusnya membawa perasaanku ke dalam pekerjaan. Masih banyak orang lain yang membutuhkan bantuanku."
Untuk terakhir kalinya Shikamaru menatap seisi ruangan; kamar tidur yang rapi, dan bersih. Tidak begitu banyak dihiasi lampu karena penerangan utama berasal dari jendela. Di sisi dinding terdapat beberapa foto yang dibingkai. Hanya sekali melihat, Shikamaru tahu foto siapa yang mendominasi lebih banyak.
Naruto, Boruto, dan Himawari.
Mungkin lancang baginya untuk lagi-lagi menilai apa yang dirasa orang lain dari sudut pandangnya. Namun untuk kali ini, dia tahu jika Hinata, masih sangat mencintai Naruto meskipun mereka tidak lagi bersama.
"Istirahat dengan tenang, Hinata."
Dengan itu kakinya melangkah meninggalkan ruangan, menyusul Kakashi yang menunggu di samping mobil, menghisap rokok di sela jarinya.
"Kukira kau tidak akan menyerah?"
"Aku memang tidak menyerah," sahut Shikamaru cepat, "sayangnya semua alat untuk meneliti barang bukti ada di kantor."
Kakashi tersenyum tipis sebelum melempar batang rokoknya ke sembarang arah. "Kalau begitu biar aku yang menyetir, kau pasti membutuhkan tenaga lebih untuk lembur."
Kursi kemudi yang semula ditempati Shikamaru, kini bertukar posisi dengan kursi penumpang. Sesekali matanya menatap ke arah tepi jalan, memerhatikan trotoar yang dipenuhi pejalan kaki.
Saat itu tidak ada yang membuka suara. Hingga suara Kakashi yang memanggil namanya memecah keheningan.
"Apa kasus ini mengingatkanmu pada sesuatu? Seseorang dari masa lalumu?"
Jika boleh jujur, Shikamaru tidak suka membuka luka lama. Namun dia tahu, insting Kakashi selalu lebih tajam dari pisau. "Hm, apa ekspresi di wajahku memperlihatkan semuanya, huh?"
"Dari semua kasus yang kau tangani, aku belum pernah melihatmu sangat terganggu seperti ini sebelumnya," lanjut Kakashi.
Shikamaru tertawa meksipun tidak ingin, hanya untuk menutupi tingkah kakunya. "Mereka memiliki alasan yang sama, karena ditinggalkan sosok yang penting di hidup mereka, dan juga menggunakan pil dengan jenis sama untuk bunuh diri. Mungkin itu yang membuatku sedikit terganggu."
"Jika kau membenci kasus ini, aku akan mengambil alih seluruhnya untukmu."
Shikamaru tersenyum tipis. "Tidak perlu, semuanya akan kuselesaikan, lagi pula aku tidak membenci kasus ini. Aku hanya membenci pil yang mereka gunakan."
"Pil tidur, huh?"
"Hm ..., pil tidur tidak akan akan selalu membunuhmu kecuali dikonsumsi dengan jumlah yang tidak wajar, tetapi mereka sering digunakan, dan selalu jadi pilihan utama karena memang ampuh untuk membunuh," jelas Shika.
"Apa sebotol penuh bisa membunuh?"
"Sebotol berisikan 60 pil tetap berbahaya, dan itu akan memperlambat fungsi tubuh, mengendurkan otot, dan menidurkan seseorang secara kimiawi untuk tidur. Namun jika dikonsumsi lebih banyak dengan tujuan overdosis, pil tidur bisa mematikan seluruh tubuh; termasuk sistem saraf, sistem pernapasan, dan sistem kardiovaskular yang pada akhirnya akan menyebabkan kematian," sahut Shikamaru cepat, lalu di detik berikutnya ekspresi kaku di wajah berganti dengan keterkejutan luar biasa.
"Bukankah hanya ada satu botol pil tidur dalam kamar Hinata?" tegas Kakashi, dan Shikamaru tidak lagi bisa menahan rasa aneh yang bergejolak dalam dirinya. "Kecuali jika pilnya tercampur dengan pil yang memiliki dosis lebih besar."
"Kakashi," panggil Shikamaru.
"Hm?"
"Apa kau bisa pacu mobilnya lebih cepat?"
Kakashi mengernyit. "Memangnya ada apa?"
"Pacu saja lebih cepat!"
Pedal gas diinjak lebih dalam dalam satu hentak. Speedometer dalam mobil menlonjak tinggi bersamaan dengan roda yang berputar semakin cepat.
Jantung Shikamaru berdetak keras. Kedua tangannya mencengkram tas berisikan barang bukti dalam pangkuan. Dia tahu ada yang ganjil, instingnya membuktikan jika memang ada yang salah dari penyelidikan sebelumnya. Hinata harusnya tidak mati, wanita itu masih bisa diselamatkan jika memang terbukti hanya mengkonsumsi pil yang berada di dalam kamarnya.
Semuanya belum terungkap.
Teka-teki yang masih menjadi kepingan puzzle dibalik kematian Hinata, belum tersusun sempurna, dan Shikamaru tidak ingin menyerah.
"Kakashi, kau mungkin berpikir aku gila, tetapi—"
Kalimatnya terputus saat hendak menoleh ke arah Kakashi, pria yang duduk di sampingnya—di kursi kemudi. Karena yang duduk di sana, bukanlah sosok Kakashi yang dikenalnya seperti biasa. Melainkan sosok yang sering dilihatnya beberapa hari terakhir.
"Apa kau tahu peraturan dasar yang berlaku? Jangan menganggu, atau menghalangi segala rencanaku jika kau tidak ingin mati."
Pupil Shikamaru membulat sempurna. Belum sempat kalimat sahutan terucap dari bibir, tubuhnya sudah lebih dulu merasakan guncangan hebat dari atas kursi penumpang, dan yang terkahir kali dilihatnya, hanyalah stir kemudi terbanting ke arah kiri begitu keras.
Setelah itu seluruh pandangan matanya menggelap.
.
"Ayah, mereka pasti bertemu di sana, bukan?"
Sasuke menoleh untuk mendapati Menma menatap datar ke arah batu kubur milik Sarada, dan Sakura.
"Seperti Himawari, juga Boruto, dan yang lainnya?"
Senyum tipis di bibir Sasuke terlihat saat tangannya dengan lembut menyentuh puncak kepala Menma. "Mereka pasti akan bertemu, Menma. Mereka tidak akan kesepian karena selalu bersama."
Menma mengangguk. "Hn! Bersama lebih baik," sahutnya memamerkan senyum ke arah Sasuke.
.
"Naruto."
"Naruto."
"Uzumaki Naruto."
Saat kelopak mata terbuka, hal yang dilihat pertama kali oleh sepasang netranya hanyalah langit-langit ruangan, lalu detik berikutnya seluruh pengelihatannya buran karena air mata yang membendung.
Dia menangis tanpa suara.
Naruto tahu, dia sekali lagi harus kehilangan harta yang tidak ternilai untuknya.
Boruto, dibawa pergi oleh sosok itu, dan dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghalaunya.
Sakit. Hingga dia bisa merasakan tajamnya di tenggorokan yang membuatnya sulit membuat suara. Pahit. Hingga dia bisa merasakan dunianya mulai hancur sedikit demi sedikit. Pilu, hingga dia bisa merasakan kulit wajahnya basah karena air matanya tidak berhenti menetes.
Ini semua salahnya.
Ini semua memang kesalahannya.
Dia mulai merasa, apa yang dikatakan bayang hitam itu benar adanya. Ini semua keinginannya. Dia menginginkan kehancuran bagi siapa pun yang berada di sekitarnya.
Kali ini suara tangisnya pecah.
Rasa sesak luar biasa membuatnya ingin berteriak, tetapi tidak mampu karena tenggorokannya tidak mengizinkan.
"Kenapa ..., kau tidak ... membunuhku juga?" pelan bibirnya mengucap.
Entah ditujukan pada siapa, kalimat itu berulang dinyatakan dengan suaranya yang parau, dan berat.
"Ambil nyawaku ..., dan berhenti melukai mereka ... yang berada di sekitarku."
Tangannya menyabet selang infus, menariknya paksa hingga jarum yang tertancap dalam merobek kulitnya.
Darah segar menetes.
Kakinya mencoba menapak pada lantai yang dingin. Namun tubuhnya ambruk seketika saat beban tubuhnya tidak mampu ditahan.
Dia merangkak dengan seluruh kekuatannya. Darah yang menodai baju, dan lantai dihiraukan. Saat itu beranda di ruangan adalah tujuannya yang utama.
"Jika ... ugh— kau... tidak membunuhku ..., ahh— aku, akan membunuh ... diriku sendiri." Naruto menarik knop, lalu pintu terbuka.
Tubuhnya yang semula kering, menjadi basah karena terpaan hujan. Pedih. Seluruh kulitnya yang terluka dalam perban kembali berdarah karena ajakan air hujan.
Dia menggeram.
Tangannya mencoba menggapai tepi pagar beranda. Namun sulit. Terus, dan terus dia mencoba hingga permukaan kulitnya yang panas menjadi dingin. Sekujur tubuhnya mulai kaku, rasa nyeri luar biasa tidak lagi dipedulikan.
Dia hanya ingin mati. Bahkan itu sulit baginya.
Naruto menunduk, wajahnya bersentuhan langsung dengan pasir yang terbawa oleh arus air hujan di beranda. Tangannya tidak lagi bisa meraih pagar, hanya bisa mengepal udara. Bahkan kakinya tidak lagi mampu berjalan.
"KENAPA KAU TIDAK MEMBUNUHKU!"
"Karena aku tidak akan mengizinkanmu mati."
Naruto mencoba menoleh dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Namun sosok yang berdiri tiba-tiba di hadapannya, hanya diam dengan menunjukkan ekspresi datar.
"Sasuke?"
Bukan. Sasuke yang dikenalnya tidak terlihat seperti itu. Naruto menatap kian lekat. Tubuh pucat itu menguap menjadi asap hitam, menyelimuti seluruh permukaan kulit hingga tidak ada lagi warna yang tersisa kecuali hitam.
Seperti bayangan.
"Bohong ..., ini semua bohong." Seluruh tubuhnya gemetar. Mata menatap tidak percaya pada sosok yang berdiri di hadapannya. "TIDAK MUNGKIN! INI TIDAK MUNGKIN TERJADI! KAU BUKAN SASUKE!"
Pita suaranya hampir pecah. Namun sebanyak apa pun dia berteriak, sosok dihadapannya tetaplah sama.
"Apa salah jika seorang iblis jatuh cinta, dan menginginkan kebahagiaannya sendiri?"
Naruto memerhatikan asap yang menyelimuti tubuh Sasuke menguar ke udara, meninggalkan tubuhnya yang kini memiliki bentuk tidak sama seperti manusia pada umumnya dengan tatap teror.
Begitu mengerikan, dengan kedua sayap lebar berwarna hitam, hingga Naruto tidak mampu lagi menyusun kalimat untuk bibirnya ucap.
"Apa hanya manusia yang bisa jatuh cinta, dan menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri?" ujar Sasuke.
"Aku tidak akan menyerahkanmu begitu saja pada orang lain. Tidak semudah itu."
"Kau milikku, Naruto. Aku yang memiliki nyawamu. Kau tidak akan bisa mati meski mencoba."
"Karena kau hanya milikku saja."
Naruto tertawa.
Setelah itu hanya suara hujan yang terdengar.
"Seorang iblis berhadapan dengan seorang manusia yang tidak berdaya?" ujar Naruto, bangkit dengan sisa kekuatannya. Pagar besi dijadikan tumpuan utama beban tubuhnya. "Seorang iblis jatuh cinta pada seorang manusia? Jangan membuatku tertawa. Kau bahkan tidak pantas kupanggil dengan namamu."
Saat Sasuke bungkam. Naruto merasa dunianya telah hancur sempurna. Tidak tersisa satu pun kepingan kebahagiaan menurutnya. Semuanya hancur, tidak tersisa.
Lalu untuk apa lagi membuang waktu percuma?
"Aku tidak rela memberikan nyawaku untuk iblis sepertimu." Tubuhnya sengaja dijatuhkan melewati pagar, sudut baju yang tersangkut pada ujung besi sobek, karena tidak mampu menahan beban tubuhnya.
Naruto tersenyum sangat puas.
Dia merasa bebas. Namun sebelum tubuhnya menghantam tanah, dan matanya terpejam. Dia bisa mendengar, dan melihat dengan jelas;
"Nos in aeternum felix sit."
Sang iblis menatapnya dengan ekspresi terluka.
.
End
Extra :
Worthless yet Beautiful Human
"Ayah!"
Teriakan anak kecil dari balik pintu membuatnya menoleh dari posisinya yang terduduk di atas kasur. Wajah yang semula datar menunjukkan ekspresi lembut saat melihat anak laki-laki berlari kencang ke arahnya dengan membawa sekaleng soda jeruk.
"Menma, apa kau sudah menjadi anak baik hari ini?" ujarnya, mengusap lembut puncak kepala si anak.
"Hn! Aku sangat pintar hingga dibelikan es krim, dan ini soda jeruk kesukaan ayah." Menma tersenyum lebar, lalu menoleh, menunggu sosok lainnya muncul dari balik pintu.
"Hm?" Dia ikut menoleh ke arah pintu, lalu tersenyum saat sosok berkulit pucat melangkah masuk dengan membawa kotak berisi buah jeruk kesukaannya.
"Apa kau merasa lebih baik hari ini?" tanya sosok itu.
"Kau tahu?" Dia membalas dengan balik bertanya. "Di saat seperti ini aku merasa kau itu benar-benar mencintaiku, Sasuke."
"Jangan bodoh, Naruto," sahut pria yang dipanggil Sasuke. "Cepat pulihkan kondisi tubuhmu, dan tepati janjimu pada Menma."
"Hanya Menma? Bagaimana dengan janjiku padamu?" Naruto, lagi-lagi balik bertanya.
Menma hanya bisa diam melihat sambil memakan es krimnya yang mulai mencair. Dia tidak tahu mengapa Naruto menatap Sasuke seperti itu, dan mengapa Sasuke terlihat tidak nyaman ditatap seperti itu.
"Ayah," Menma memanggil, dan tubuh keduanya sedikit terlonjak karena kaget.
"A-ada apa Menma? Apa kau mau soda jeruk ini?" tanya Naruto salah tingkah.
Menma menggeleng. "Tidak," tolaknya. "Aku punya es krim."
"Hahahaha ..., benar. Kau sangat menyukai es krim itu, huh?"
"Ya!" sahut Menma cepat. "Karena aku pernah makan es krim ini bersama Himawari, Boruto, dan Sarada."
Naruto diam.
Dia mengernyit, lalu menatap bingung ke arah Sasuke sebelum membuka suara. "Menma," panggilnya. "Himawari, Boruto, dan Sarada itu ..., siapa mereka?" Kalimat tanya terlontar dari bibirnya.
Hening.
Sasuke diam memerhatikan, dan Menma menoleh ke arah Naruto dengan senyum di bibirnya.
"Itu temanku ayah," sahutnya.
"Ah," Naruto mengucap nada yang terdengar tidak nyaman. "Maaf, tapi aku tidak bisa mengingat mereka."
Menma membuang es krimnya ke dalam tempat sampah sebelum menyentuh lengan Naruto, dan mengusapnya pelan. "Tidak apa-apa, ayah. Aku tahu kau tidak bisa mengingat lagi beberapa memori milikmu karena benturan yang terlalu keras. Aku mendengarnya kemarin saat dokter menjelaskan."
Naruto balas menyentuh tangan Menma, menggenggamnya dengan kuat. "Kuharap kau tidak bosan menungguku diizinkan keluar dari rumah sakit ini."
"Hn!" sahut Menma, "karena itu ayah membutuhkan banyak istirahat."
"Menma benar," sela Sasuke, menyelimuti tubuh Naruto yang mulai kembali berbaring pada kasur. "Aku akan datang lagi nanti setelah, menyelesaikan beberapa dokumen."
Wajah Naruto yang ceria, berganti masam. "Apa kau meninggalkanku sendiri lagi di sini?"
"Naruto, kau ini bukan anak kecil. Lagi pula aku hanya kembali ke rumah sebentar saja."
Si pirang tersenyum tipis, belum sempat Sasuke melangkah menjauh, dia menarik tangan pucat itu sekuat tenaga hingga kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh menimpa tubuhnya.
"Ck, Dobe!" protes singkat terdengar dari bibirnya yang pucat.
"Aku mencintaimu, Sasuke," bisiknya.
"Aku tahu."
"Mana balasannya?" desak Naruto.
"Aku juga mencintaimu, Naruto," sahut Sasuke menyerah, dengan kecup singkat di bibir.
Keduanya saling menatap, cukup lama. Entah apa yang mereka bicarakan melalui sepasang mata, hingga—
"Ayah ayo cepat!"
Sasuke mendorong tubuh Naruto kuat. Menggandeng tangan Menma, cepat-cepat mereka meninggalkan ruangan diiringi tawa puas si pirang.
Mereka melangkah menuju lift setelahnya. Melewati sepasang wanita, dan pria yang menangis pilu menggenggam dua lencana bertuliskan nama 'Shikamaru' dan 'Kakashi' tanpa berpaling.
"Ayah mengapa mereka menangis?" tanya Menma.
"Itu karena mereka tidak bahagia, Menma," sahut Sasuke.
"Apa kita bahagia?"
Sasuke tersenyum tipis. Tangan Menma digenggam kian erat saat mereka meninggalkan rumah sakit, lalu bibirnya yang pucat kembali mengucap,
"Kita akan bahagia selamanya."
.
End
