Summary : Taehyung (18 tahun) menaruh hati kepada sekretaris Perusahaan besar yang sangat cantik dimatanya, Jungkook(23 tahun) dan inilah cerita Taehyung dan Jungkook yang terlibat dalam satu garis takdir yang sama.
Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc
Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Other Cast : Member BTS, Wanna One, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya
Rate : T – M
Genre : Romance, Friendship
Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. ? kenapa aku
Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…
.
.
-DEAR TAEHYUNG-
(Someone Who Stole My Heart)
.
.
.
Chapter I : Converse High !
.
" iya ini aku, kenapa? Tidak suka aku disini?" tanya Jungkook, kemudian dia mengambil tempat duduk dekat dengan Taehyung dan adik kecilnya itu.
" Anigodeun, tapi kenapa noona baru pulang ? Bukannya kantor noona pulangnya sudah dari tadi?" tanya Taehyung heran. Dia membantu adiknya membukakan coklat yang diberikan oleh Jungkook tadi. Dan Jungkook tidak menanggapinya. Taehyung hanya mengidikkan bahu, Jungkook berhak untuk tidak menjawab pertanyaan Taehyung, mungkin saja pemuda manis itu sedang punya masalah yang tidak bisa dikatakan, Taehyung maklum.
" Ucapkan apa sama noona cantik, Nji?" Taehyung menarik kecil coklat yang sudah hampir sampai ke mulut kecil adiknya yang sudah menganga. Memecah keheningan diantara mereka.
" Telimakacih noon—" ucap si kecil sambil membungkuk hormat. Jungkook yang gemas langsung mengusak lembut rambut adik Taehyung.
" Adik kecil, panggil yang benar, Aku laki-laki jadi panggil hyung, Eh! Kookie saja kalau kau ingin" Jungkook tersenyum lembut kepada adik kecil Taehyung yang mengangguk paham.
" kenapa sangat menggemaskan adik kecil? Namamu Nji?" Jungkook gemas setengah mati. Sudah terlambat meminta adik kepada ayah ibunya, umurnya saat ini sudah pantas untuk mempunyai anak bukan adik kecil lagi.
" ne Hyung, Nji sudah boleh makan cokatnya?" tanya Nji semangat menatap ke arah Taehyung. Taehyung mengangguk, dan Nji dengan semangat langsung memakan coklat itu ke mulutnya dengan lucu.
" Adikmu?" tanya Jungkook. Taehyung mengangguk lagi.
" Ah, itu bus kami. Noona mau kemana?" tanya Taehyung kepada Jungkook. Taehyung sudah menggendong Nji yang masih sibuk mengunyah coklat.
" Sama, aku juga naik bus yang ini" Jungkook mengekori Taehyung yang sudah berjalan terlebih dahulu ke arah pintu bus.
Taehyung berjalan ke arah tempat kosong yang berada di bagian belakang, ia menoleh melihat ke arah Jungkook yang masih sibuk mencari sesuatu dalam tasnya.
" Ahjusshi, satu lagi ya" Taehyung menempelkan kartu electric-nya ke sensor pembayaran dan Jungkook jadi malu sendiri karena sudah memperlambat waktu, membuat penumpang lain hanya mendengus melirik ke arahnya.
" Kau apa-apaan!" bisik Jungkook, duduk di samping Taehyung yang tengah memangku Nji.
" Noona kesulitan jadi aku bantu, Tidak salahkan? Aksi kemanusiaan Noona!" jawab Taehyung santai. Si pemuda tampan itu menyandarkan tubuhnya dengan santai. Jungkook hanya mengidikkan bahu, tidak mau berdebat lagi dengan bocah sekolahan itu.
" Noona turun dimana?" tanya Taehyung lagi.
" Halte 12"
" Ah! Aku juga turun disana, Memangnya noona tinggal dimana? Rasanya aku tidak pernah lihat noona naik atau turun bus di halte?" tanya Taehyung lagi. Jungkook hanya menghela nafas menghadapi Taehyung, sepertinya panggilan Noona sudah melekat untuk dirinya dari pemuda beberapa tahun lebih muda darinya itu.
"Aku sering berangkat dengan teman atau di jemput, Aku tinggal di salah satu kos di blok C , jaraknya sekitaran 20 menit dari halte" jawab Jungkook. Taehyung mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Mereka diam karena tidak tahu topik apa yang akan mereka bahas, mereka tidak cukup dekat untuk bercanda.
Jungkook yang merasa matanya sudah tidak tahan dengan kantuk yang menyerangnya merebahkan kepala ke pundak Taehyung yang ada disebelahnya. Taehyung tersenyum.
" Lelah sekali sepertinya" bisik Taehyung. Taehyung juga membenarkan posisi Nji yang ada di pangkuannya, adiknya itu juga tertidur dengan mulut berlepotan coklat.
Setengah jam kemudian, bus mereka sampai di halte 12, tempat tujuan mereka.
" Noona! Bangun noona!" suara berat Taehyung menginterupsi tidur Jungkook. Jungkook mengeliat dan membuka matanya perlahan.
" Sudah sampai?" tanya Jungkook dengan suara seraknya. Jungkook mulai bangkit dan berjalan dulu untuk turun. Menunggu Taehyung yang sedang menggendong Nji yang masih tidur.
" Ayo makan bersama!" ajak Jungkook langsung. Taehyung menaikkan alisnya tidak mengerti dengan ucapan Jungkook yang tiba-tiba.
" Kau tidak salah dengar. Ayo makan malam denganku" Jungkook menarik lengan Taehyung. Taehyung terpaksa mengikuti langkah Jungkook.
" Nji, bangun !" ucap Taehyung dengan sangat hati-hati. Nji sangat mudah terkejut dan akan menangis jika dibangunkan secara tiba-tiba.
Mereka sampai di sebuah tempat makan di dekat Halte. Mereka mengambil tempat di ujung, agar dapat leluasa dan tidak terganggu.
" Nji.. ayo makan dulu ! Nji.." Taehyung menepuk-nepuk pantat Nji yang ada digendongannya, Jungkook yang duduk di depan Taehyung sedikit takjub dengannya, kesabaran Taehyung dalam membangunkan adiknya.
Nji perlahan terbangun dan menegakkan kepalanya. Kemudian berbalik menatap Jungkook dan orang-orang yang ada disekelilingnya.
" Kita dimana hyung?" tanya Nji.
"Noona cantik ajak kita makan, Nji lapar kan? Jadi sebelum pulang kita makan dulu" Nji mengangguk lucu. Dan hal itu menyebabkan tangan jahil Jungkook mencubit gemas pipi Nji.
" Ini rumahku, noona tunggu disini bentar ya, aku antar Nji masuk dulu terus baru antar noona pulang" Taehyung membuka pagar rumahnya, berniat mengantarkan Nji masuk ke dalam rumah.
" Atau noona masuk denganku daripada menunggu disini sendirian?" Taehyung menatap Jungkook yang tengah bersandar di pagar besi itu.
" Disini saja" Jungkook mendorong Taehyung masuk. Dia menatap punggung Taehyung yang sedang menggendong Nji yang tengah tidur.
Taehyung keluar dari garasi rumahnya, mengendarai motor matic berwarna hitam. Dia berhenti di depan Jungkook, memberikan sebuah helm kepada pemuda manis itu.
" Hooo, tumben sekali pemuda sepertimu punya motor matic, biasanya memiliki motor besar biar unjuk kejantanannya" Jungkook mengambil helm yang diberikan Taehyung dan memakainya.
" Kejantanan tidak dilihat dari motornya noona, yang ada bagaimana mereka di atas ranjang" Jungkook memukul lengan Taehyung yang tengah tertawa itu, jelas sekali pemuda tampan itu tengah menggodanya.
" Tidak harus noona, aku punya motor ini juga pertimbangan Nji yang akan sering pergi denganku. Susah nanti kalau dia harus tersiksa duduk tidak nyaman dengan motor besar" Jungkook mengangguk, setuju dengan pendapat Taehyung. Dia juga sebenarnya lebih prefer dengan kenyamanan dibanding yang mengutamakan gaya semata.
" Ayo noona!" ajak Taehyung, dan Jungkook langsung duduk di jok belakang motor Taehyung. Taehyung menjalankan motornya dengan petunjuk jalan yang di arahkan oleh Jungkook menuju kos-nya.
" Disini Taehyung!" Jungkook menunjuk sebuah bangunan bertingkat di sebelah kiri mereka. Taehyung dengan luwes memberhentikan motornya. Jungkook turun dan membuka helm, memberikan kepada pemuda tampan itu.
" Oh Jungkookie ! Tadi Jiminie mengatakan dia malam ini tidur di tempat Jin-hyung" seorang pemuda tampan memberitahu Jungkook. Taehyung mengamati pemuda yang tengah berkumpul di halaman depan kos Jungkook.
Taehyung masih belum pergi dari sana, menunggu Jungkook yang mengeluarkan ponselnya dari saku dan menelepon seseorang.
" Taehyung, kau pulang saja. Aku bisa menggunakan taksi ke tempat Jin-hyung" ucap Jungkook sambil menunggu panggilannya di angkat oleh orang di seberang sana.
" Ya! Jimin-ah! Kau dimana ? kenapa di tempat Jin-hyung?"
" Jin-hyung mengajakku menginap, lagipula disini ada Minki, Jeonghan, Minhyun dan Seongwoo. Bajumu sudah kubawa, kemarilah, minta antarkan dengan pacarmu itu"
" Seongwoo-hyung sudah pulang?
" Iya dia sudah kembali satu jam yang lalu, cepatlah kemari, dia mengatakan dia merindukanmu! Kookie-ah, ppalli!"
"Hah, baiklah Ongie-hyung ! Tunggu aku hyung, Bye!" Jungkook menutup sambungannya dan kemudian menatap Taehyung.
" Kau kembali saja, aku bisa menggunakan taksi. Terimakasih sudah mengantarkanku" ucap Jungkook kepada Taehyung.
" Aniyo noona ! aku akan mengantarmu. Kajja !" Taehyung memaksa dan Jungkook tidak bisa menolak.
" Hyukie-hyung! aku ke rumah Jin-hyung, terimakasih sudah memberitahu ya" pemuda yang tengah berkumpul dengan teman-temannya itu mengangguk dan tersenyum ke arah Jungkook yang sudah duduk di belakang Taehyung.
" Kau diantar Eunwoo?" tanya Seongwoo saat melihat Jungkook di depan pintu rumah Jin. Rumah sederhana yang ia beli dengan Namjoon 2 tahun lalu. Jungkook hanya menghela nafas dan kemudian memeluk erat Seongwoo sampai pemuda itu terhuyung kebelakang.
" Aku merindukanmu. Jeongmal Bogoshipeo hyung!" Seongwoo tidak menolak pelukan dari adiknya itu. Sudah seminggu ia keluar kota untuk melakukan pemotretan salah satu brand yang mengusung tema alam, resiko menjadi model membuatnya sibuk terus menerus dan jarang berkumpul dengan orang terdekatnya.
" Jin-hyung dimana ?" tanya Jungkook kepada orang-orang yang tengah menonton televisi dengan berbagai makanan ringan di tangan mereka.
" Sedang memberi asupan kepada Namjoon-hyung!" jawab Jeonghan dengan enteng. Jungkook memandang sebentar kamar paling sudut rumah itu, kemudian kembali memandang kakak-kakaknya.
" Minki-hyung tumben sekali tidak kencan dengan hyun-hyung?" tanya Jungkook. Duduk di sofa di samping Jimin. Seongwoo menyusul tapi duduk di atas karpet.
" Dia sedang sibuk dengan Hanbin dan Baekho, ada pekerjaan mendadak" Jungkook mengangguk mengerti.
Mereka memandang televisi yang sedang menyala. Acara reality-show yang sering mereka tonton.
"Iya aku akan datang ke acara ulangtahun dengan Sejeong" jawab pemuda tampan yang tengah menjadi bintang tamu acara tersebut.
" Jadi apa sebenarnya kalian menjalin hubungan istimewa? Kalian sudah beberapa kali tertangkap kamera sedang bersama diluar kegiatan kerja sama kalian" tanya pembawa acara.
" Itu, rahasia!" bisik Eunwoo sambil tersenyum. Sementara Sejeong yang ada disampingnya juga tersenyum malu karena disorot oleh kamera.
Jimin yang sakit hati langsung memindahkan channel siarannya.
" Jadi bisa jelaskan, tadi kau dengan siapa kesini, Tuan muda Jeon?" introgasi Seongwoo. Minhyun dan Minki langsung duduk berputar menghadap Jungkook. Penasaran dengan adik kecil mereka.
"Aku, aku tad—"
" Ada apa ini?" Jin keluar dengan Namjoon yang mengekor di belakangnya. Namjoon yang sedang telanjang dada pergi ke dapur, setelah menatap orang-orang yang ada disana sebentar.
" Eunwoo hyung, tadi Jung—"
" Jiminie-hyung, biar aku saja yang jelaskan" ucap Jungkook langsung.
" Tadi sewaktu pulang dari kantor, aku terus menunggu Eunwoo, tapi dia tidak datang, dan tiba-tiba saja dia memberitahu jika dia ada pekerjaan mendadak hyung" ucap Jungkook, tangannya dari tadi sibuk memilin ujung bajunya.
" Terus kemana saja baru datang kemari, hum?" Seongwoo mengelus pelan surai Jungkook. Dia duduk disamping Jungkook, menatap Jungkook penuh sayang.
" Aku pergi makan dengan temanku hyung" jawab Jungkook.
" Dengan Taehyung?" tebak Jimin. Jungkook mengangkat kepalanya, bagaimana Jimin bisa tahu.
" Tadi aku menanyakan kepadanya, dan dia mengatakan sedang bersamamu" jawab Jimin ketika melihat Jungkook seolah bertanya kepadanya.
" Iya, tadi aku kebetulan bertemu dengannya dan aku mengajaknya makan" tanggap Jungkook.
" Jadi Eunwoo menyakitimu?" tanya Jin langsung.
" Yeah, that's the point Jungkookie" ucap Minhyun mendukung pertanyaan Jin.
" Hyung, bukan beg—"
" Jadi dia ada hubungan dengan Sejeong?" tanya Jin sambil bersidekap pinggang, mengintimidasi. Membuat mereka yang ada disana tidak berani menyanggah ataupun menanggapi pertanyaan orang yang lebih tua dari mereka.
" Aku—aku tidak tahu, hyung. Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang aku jalani dengan Eunwoo sekarang" jawab Jungkook pasrah.
" Astaga Jungkookie!" teriak Jin frustasi.
" Kenapa sayang?" Namjoon memeluk Jin dari belakang. Tadi dia memang sedikit mencuri dengar percakapan mereka. Tentang hubungan Jungkook dan Eunwoo, membuat kekasihnya itu marah, tidak tahan dengan Eunwoo yang semakin seenaknya saja kepada Jungkook, orang yang sangat penting oleh kekasih Namjoon tersebut.
" Jangan marah-marah, ayo temani aku lagi ke kamar. Jimin-ah ! pesan saja Pizza untuk kalian malam ini kalau kalian ingin. Ambil black cardku di dalam dompet, ayo Jinnie!" Namjoon menarik Jin yang masih diam. Sementara yang lain tidak tahu harus berbuat apa karena keadaan mereka yang sempat Chaos tersebut.
" Astaga, aku sangat takut kalau Jin-hyung sudah murka begitu" Minki mengelus dadanya, mengapresiasikan rasa takutnya terhadap kemarahan Jin.
" Maafkan aku hyungdeul!" sesal Jungkook.
" Ya! Kau apa-apaan, kita pesan Pizza saja, kita nonton sampai pagi, ayo! Chim, cepat ambil black-cardnya Namjoon-hyung" Jeonghan memecahkan keheningan mereka. Bersenang-senang malam ini melupakan masalah yang menimpa.
" Kau darimana?" Yoongi menyapa Taehyung yang baru memasuki kamar asramanya. Mereka berada satu kamar di asrama sekolah. Pukul setengah 12 pantas saja Yoongi menanyakan darimana saja pemuda Kim itu.
" Dari rumah hyung, mengantarkan Nji" jawab Taehyung. Ia melemparkan tasnya ke ranjangnya di tingkat 2. Di kamar itu terdiri 4 ranjang bertingkat. Kamar yang di tempati Taehyung berisikan 8 siswa. Mingyu, Daniel, Jaehyun, Yoongi, Taehyung, Guanlin, Lucas dan seorang junior mereka, Park Woojin.
" Tumben sekali kau terlambat Tae, biasanya jam 10 kau sudah kembali" ucap Jaehyun yang sedang belajar. Bukunya menumpuk di atas meja belajarnya. Mereka sudah kelas 3 dan sebentar lagi menghadapi ujian akhir. Kebanyakan mengambil kelas ekstrakurikuler dan club sekolah menyebab mereka banyak ketinggalan mata pelajaran dan itulah sebabnya Mingyu mengajak teman-temannya itu untuk belajar dengan kakaknya yang super jenius.
" Tadi juga ada sedikit urusan" jawab Taehyung. Dia melepaskan baju kaos yang dia pakai dan menyambar handuk. Melirik sekilas ke arah ranjang Guanlin. Guanlin berada di tingkat bawah, sementara di atasnya ada ranjang Daniel.
" Jihoon tidur disini lagi?" tanya Taehyung ketika mendapati dua orang yang tengah tidur berpelukan di dalam selimut di ranjang pemuda jangkung itu.
" Mereka kan terus menempel jika kau lupa hyung" celetuk Woojin dari ranjangnya. Ranjang tingkat 2, di bawahnya merupakan ranjang Jaehyun. Pemuda gingsul itu menjawab sambil memainkan game di ponselnya.
" Dan kau tumben sekali tidak membawa hyungseob kemari" cerca Taehyung. Biasanya Woojin tidak mau kalah dengan kembarannya dalam masalah mengumbar kemesraan dengan kekasih mereka. Park Jihoon dan Park Woojin, junior Taehyung yang sangat tidak identik, baik dari rupa maupun sikap mereka.
" Aku mandi dulu hyung!" ucap Taehyung kepada Yoongi yang sedang membuka laptopnya. Duduk santai di salah satu sofa dalam kamar itu. Taehyung mengerti sekali jika Yoongi ingin membicarakan sesuatu dengannya.
10 menit selepas Taehyung mandi, mereka sudah berkumpul di sofa mereka. Taehyung cukup terkejut mendapati Guanlin yang tadi tidur sudah duduk manis di dekat Yoongi. Bahkan Lucas, Daniel dan Mingyu yang tidak dia lihat di kamar sudah ada di sana. Formasi anggota kamar mereka lengkap. Taehyung meyakini Yoongi akan membicarakan proyek untuk mereka. Mereka semua, yang berada di dalam kamar itu kecuali Jihoon adalah anggota pembuat mural dan graffiti yang diketuai oleh Yoongi. Mereka yang berawal dari hobi sekarang sudah mengambil job-job yang mendatangkan uang. Taehyung dapat membeli motornya dengan menggunakan uang yang dia kumpulkan dari hobi-nya ini. Tidak ada campur tangan dari orangtuanya sama sekali.
" Aku diberitahu oleh temanku jika kita bisa mengerjakan proyek di Café-nya. Cafenya cukup besar dan kemungkinan kita akan mengerjakannya selama seminggu, aku sudah melihat Cafenya tadi, aku rasa waktu seminggu cukup untuk sampai ke tahap finishing. Kalian sanggup ?" tanya Yoongi serius kepada anggotanya. Mereka semua mengangguk. Mereka kerja pada malam hari, tidak mengganggu hari sekolah ataupun kegiatan mereka di siang hari.
" Tae, kau bisa mengonsep dengan Daniel kali ini" ucap Yoongi lagi. Pemuda pucat itu mengeluarkan rokok dari sakunya, mengambil sebatang dan mulai membakar lintingan tembakau itu. Ia meletakkan kotak rokoknya di meja, Woojin langsung menyambar dan ikut merokok. Membuat orang-orang disana takjub dengan kecepatan Woojin.
" Rokoknya tidak akan lari Jin-ah, jadi apa temanya kali ini hyung ? kapan kita mulai mengerjakannya?" tanya Daniel.
" Kalian sudah bisa mulai mengonsep, temanya dia ingin sesuatu yang Vintage tapi elegan, kalian bisa memikirkannya dan mengonsep gambar di kertas seperti biasanya. Selain Taehyung dan Daniel, kita bisa mencari warna dan alat untuk proyek ini. Proyeknya sekitar 2 minggu lagi. Jika kalian bisa aku akan langsung mengonfirmasi kepada temanku agar dia tidak meminta tim lain mengerjakannya" mereka semua mengangguk lagi. Tak jarang Taehyung dan Daniel diminta untuk mengonsep. Biasanya Yoongi dan Jaehyun juga ikut mengonsep bersama mereka.
" Kau tidak ikut mengonsep hyung?" tanya Guanlin. Dia sesekali melirik ke tempat tidurnya memastikan kekasihnya tidur dengan nyenyak.
" Tidak bisa, aku membantu Hyunwoo-hyung mempersiapkan acara tunangannya. Dan acara tunangannya 2 hari sebelum proyek kita" jawab Yoongi santai.
" Hyunwoo-hyung akan tunangan? Dengan siapa hyung?" kini Taehyung yang bicara. Dia tidak menyangka kakak Yoongi akan tunangan dalam waktu yang dekat.
" Aku tidak tahu siapa calon tunangannya. 2 hari lagi ada acara pertemuan keluarga dengan calon tunangannya. Dan aku juga akan hadir" jawab Yoongi lagi.
" Kalau kau mau hadir, berarti.." Taehyung sengaja memenggal ucapannya, takut persepsinya salah.
" Tebakanmu benar Taehyung-ah. Appa dan aku sudah berbaikan tadi. Eomma bersikeras mempertemukan kami di Café temanku itu, dan kami berbicara. Appa tidak mencegah hobiku lagi dan menerima aku kembali sebagai anaknya" jawab Yoongi sambil memamerkan senyuman gusinya. Membuat semua yang disana tertawa melihat ketua mereka sangat lucu dan sangat jarang memperlihatkan ekspresi seperti itu. Pasalnya sudah 2 tahun belakang, Yoongi tidak pernah kembali ke rumah setelah ayahnya menentang habis-habisan hobi Yoongi. Yoongi si bungsu keras kepala bertengkar dengan ayahnya, dan ia memutuskan tidak pernah kembali ke rumah, hanya di asrama saat ia libur ataupun akhir pekan. Selama ini hanya ibu dan kakaknya yang sering menemuinya, mereka juga sering membujuk Yoongi tapi ia tidak pernah mau kembali ke rumah sampai ayahnya mengizinkan hobinya tersebut.
" Aigoo, chukkae-hyung ! Aku jadi rindu Jiyong-eomma dan Seunghyun-appa" Taehyung menepuk pelan punggung Yoongi.
" Besok ayo ikut ke rumah, eomma menyuruhku pulang dan eomma juga mengundang kalian makan siang di rumah, sebelum pergi belajar ke tempat Namjoon-hyung, kita ke rumahku dulu, otte?" ajak Yoongi.
" Assa! Aku tidak sabar makan enak" Mingyu berteriak, sampai-sampai Guanlin memukul kepala pemuda bertaring itu saat melihat kekasihnya menggeliat tidak nyaman setelah mendengar teriakan Mingyu.
.
.
Mereka berenam, Minki, Minhyun, Jeonghan, Seongwoo, Jimin dan Jungkook sudah berbaring di depan televisi. Setelah menggelar kasur santai mereka berbaring dengan posisi berbaris disana. Dibanding tidur di kamar mereka lebih suka tidur seperti ini, bercerita sebelum tidur.
" Guys, Hyunbin mengajakku makan malam besok" ujar Minhyun menginformasikan. Mereka bersiul dan menggoda pemuda Hwang itu.
" Terima saja ajakan Kwon itu, kau sebenarnya juga ingin pergi, iya kan? By the way kalian sudah pacaran?" tanya Jimin. Di samping Jimin, ada Jungkook yang tengah menyimak. Jungkook tidur di antara Jimin dan Seongwoo.
" Belum Jiminie" jawab Minhyun malu-malu.
" Tapi kalau dia menyatakan cinta pastikan kau terima dia" tanggap Minki langsung.
" Humm hyung, dia sudah berbaik hati mengantarkanmu pulang saat kau sakit dan setia sekali menungguimu. Dia juga pernah mengantarkan flashdisk presentasimu yang tertinggal di apartemen" sambung Jungkook. Menurutnya Minhyun dan Hyunbin adalah pasangan yang cocok.
" Tunggu dulu ! kenapa aku tidak tahu ada acara mengantarkan flashdisk itu. Dia tahu apartemenmu, hyunie?" tanya Seongwoo penasaran. Dia sama sekali belum menerima cerita itu.
" Iya hyung, kejadiannya 3 hari yang lalu" jawab Jungkook semangat. Minhyun mendelik tidak suka ke arah Jungkook yang terus membocorkan tentang Hyunbin.
" Aigoo.. sudah sering ke apartemen rupanya pemuda Kwon itu. Tidak apa-apa aku mendukung kau dengannya" Seongwoo tersenyum. Sementara Minhyun sudah membenamkan kepalanya di dalam selimut. Malu sekali.
"Hyungdeul, apa aku putus saja dengan Eunwoo?" mendengar perkataan Jungkook mereka semua terdiam, Jimin langsung menghadapkan tubuhnya menyamping kearah Jungkook.
" Jungkookie, kau sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Jimin.
" Geuyang,aku rasa kedekatan di antara kami sudah sangat renggang hyung. Aku merasa dia sudah sangat berubah. Aku tidak menyangkal jika dia sangat sibuk dan susah menghubungiku, tapi aku hanya merasa sudah tidak ada lagi yang bisa di pertahankan dalam hubungan kami" Jungkook menghela nafas, merasa lega karena sudah mengeluarkan kegelisahannya.
"Kookie-ya, meskipun aku tidak menyukai hubunganmu dengan Eunwoo, karena dia sangat angkuh sekali tapi semua ada ditanganmu, jika kau merasa masih mencintainya dan mampu bertahan, kami tidak pernah melarangnya, tanyakan kembali semua kepada hati kecilmu" jawab orang yang mendekat ke arah mereka.
" Jin-hyung!" mereka terkejut melihat Jin yang mendatangi mereka. Jin mengambil tempat di sebelah Seongwoo, tidur bersama mereka.
" Wae? Aku tidak boleh tidur dengan kalian?" tanya Jin menjawab keheranan mereka.
" Ani ! tapi kenapa hyung tidur disini, meninggalkan Namjo- eh tunggu, eommaku menelepon" Jimin bangkit dan meninggalkan mereka untuk mengangkat telepon dari ibunya. Posisi mereka beringsut sehingga Jungkook disebelah Minhyun, pemuda Jeon itu langsung memeluk Minhyun.
" Namjoon-hyung tidak marah kau tinggal hyung?" Minki menyeletuk dari ujung. Dia dari tadi sibuk memainkan jari lentik Jeonghan yang ada di sebelahnya.
" Dia yang menyuruhku kemari. Dia mengatakan kalau aku boleh tidur dengan kalian. Aku juga rindu tidur dengan kalian semua" jawab Jin. Mereka bercerita apapun yang mereka alami belakangan ini, terutama Seongwoo yang sedang di dekati murid sekolahan, mereka meledek pemilik rasi bintang di wajah itu.
Jimin kembali, dia mengambil tempat di sebelah Jin, tidur langsung memeluk Jin.
" Ada apa Jimin-ah?" tanya Jin langsung.
" Eomma mengatakan aku harus datang besok malam untuk bertemu dengan calon tunanganku hyung" ucap Jimin. Jimin termasuk orang yang paling transparan di antara mereka, dia akan bercerita tanpa di todong dengan segala ancaman seperti Jungkook. Jimin akan mengeluarkan kelu kesahnya dengan mudah.
" Eomma mengatakan jika ini hanya pertemuan keluarga dan perkenalan kami, kami bisa saja membatalkan pertunangan sebelum pernikahan jika kami tidak cocok hyung" ujarnya lagi.
" Tidak salahnya mencoba Chim, mana tahu nanti kau berjodoh dengan tunanganmu itu, lagipula kau tidak dipaksa. Maksud orangtuamu baik" tanggap Jeonghan. Jimin mengangguk mengerti.
" Jangan dipikirkan lagi jika kau sudah mengerti" ucap Jin sambil memeluk Jimin, mengeratkan pelukan mereka.
.
.
Siang ini Jungkook memastikan jadwal direkturnya yang akan rapat penting di salah satu tempat pertemuan dengan klien dari luar negeri.
" Kau jadi pergi?" tanya Irene yang melihat Jungkook menyusun berkas penting dekat mesin photo copy.
" Ne noona, aku pergi mendampingi Sajang-nim rapat. Noona masih membuat pola?" tanya Jungkook kepada wanita cantik yang sedang menggaris sesuatu dikertas yang ada di depannya.
" Iya, aku harus menyelesaikan desainnya, dateline lusa Kookie, aku juga harus mengatur jadwal untuk rapat dengan divisi Modelling untuk photoshoot Baekhyun-sshi" keluh Irene. Memang sangat sibuk jika di waktu-waktu musim peluncuran produk dan promosi dengan model.
" Fighting noona, beritahu aku jika ada yang harus aku bantu, nanti setelah rapat aku free" Jungkook tersenyum ke salah satu senior cantik yang sangat dia hormati itu. Irene tersenyum dan mengangguk.
.
.
Sore hari Jungkook sudah selesai dari menemani Chanyeol rapat. Jungkook sangat fokus berjalan beberapa langkah di belakang Chanyeol, mengikuti sang direktur memasuki Perusahaan.
" Ne appa, lusa aku akan menunggumu. Dan kau janji akan mentraktirku makan, Oke..Iya aku akan menghubungimu te—Ah maaf!" Taehyung yang sedang berjalan sambil berbicara dengan ayahnya harus bertabrakan dengan seseorang. Berkas yang di pegang oleh orang itu terjatuh dan berserakan.
" Maafkan aku tidak senga—noona cantik?" Taehyung melihat Jungkook yang tengah memunguti berkasnya melihat orang yang menyapanya, tahu sekali dengan sapaan itu.
" Taehyung ! kalau jalan hati-hati" nasehat Jungkook. Taehyung hanya tersenyum mendengar nasehat berbentuk omelan itu, Taehyung membantu Jungkook memunguti berkasnya. Chanyeol yang merasa tidak diikuti lagi, menoleh ke belakang dan mendapati sekretarisnya sedang sibuk dengan seorang pemuda. Chanyeol menghampiri mereka dan membantu mengambil laporan yang ada di dekat sepatunya.
" Taehyung!" ucap Chanyeol mendapati pemuda berseragam yang ia kenal.
" Chanyeol-ahjusshi?"
.
.
To be continued.
.
.
Ayo siapa yang bisa menebak alurnya ? hehehe
Mohon kritik dan sarannya ya teman, dan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk cerita ini, see ya next chap
