Summary : Taehyung (18 tahun) menaruh hati kepada sekretaris Perusahaan besar yang sangat cantik dimatanya, Jungkook(23 tahun) dan inilah cerita Taehyung dan Jungkook yang terlibat dalam satu garis takdir yang sama.


Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Wanna One, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. ? kenapa aku

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…

.


.

-DEAR TAEHYUNG-

(Someone Who Stole My Heart)

.

.

.

Chapter III : Withered Leaf!

.

"Chanyeol-ahjusshi? " Taehyung cukup terkejut mendapati orang yang cukup dikenalnya sejak lama.

" Sajang-nim, aku sudah selesai" Jungkook menginterupsi keheranan mereka.

"ah, Taehyung ayo ikut ke ruanganku, kita sudah lama tidak bertemu" Taehyung mengangguk kemudian mengekor dibelakang Chanyeol dan Jungkook yang sudah jalan lebih dulu.

'jadi noona cantik seorang sekretaris?'

.

.

"jadi perihal hubungan kalian itu memang benar Eunwoo-sshi?" pertanyaan itu mewakili pertanyaan puluhan orang yang tengah mengerubungi 2 orang model yang sedang berjalan ke arah mereka. Jungkook berhenti sejenak, melirik ke arah kanannya, beberapa meter darinya ia dapat melihat laki-laki yang di cintanya sedang berdiri dengan Sejeong dan manajernya.

Chanyeol dan Taehyung juga memberhentikan langkahnya, selain penasaran dengan jawaban Eunwoo, mereja berdua juga tahu jika yang tengah diwawancarai itu masih berstatus sebagai kekasih dari sekretaris cantik itu.

"Hum itu, benar.. Aku dan Sejeongie sudah menjalin hubungan, dan aku kemaren sudah mengonfirmasi jika aku akan datang ke ulangtahun perusahaan dengannya. Jadi jika masih ada isu artis-artis yang mengatakan aku pergi dengan mereka, itu tidak benar" jawab Eunwoo dengan santai dan enteng sekali. Jungkook yang mendengar jawaban itu langsung menegang.

Sejeong yang tengah berada disamping Eunwoo juga ikut tersenyum kearah para wartawan. Tangan Eunwoo mengapit pinggalnya, ia melirik ke arah kirinya dan mendapati Jungkook yang tersenyum remeh kepadanya, Jungkook tidak ingin terlihat bahwa dia adalah orang yang paling tersakiti.

"Jungkook-ah" bisik Sejeong sambil menatap sedih ke arah Jungkook.

" Ayo Jungkook, cepat!" perintah Chanyeol. Taehyung menyejajarkan langkahnya dengan Jungkook, kemudian tangannya mengamit telapak tangan Jungkook yang bebas.

"Kajja noona!" ucap Taehyung. Taehyung merasa tangan Jungkook dingin dan bergetar mengisyaratkan kalau pemiliknya sedang tidak baik-baik saja.

.

.

Sesampainya di ruangan Chanyeol, Taehyung dipersilahkan untuk duduk di sofa dalam ruangan itu. Jungkook meletakkan berkas yang harus ditandatangani oleh Chanyeol di atas meja direktur.

"Pergilah ke tempat teman-temanmu di divisi FD, kau sepertinya sedang tidak baik-baik saja" ucap Chanyeol, dia sudah duduk di depan Taehyung.

"Tapi Saja—"

"Ini perintah Jungkook. Satu lagi, jangan lupa katakan kepada office boy bawakan 2 cangkir teh kesini" Jungkook tidak bisa membantah, dia membungkuk dan pamit keluar dari ruangan petinggi perusahaan itu.

.

.

"Bagaimana keadaanmu Tae? Kenapa kau bisa disini?" tanya Chanyeol penasaran.

" Aku baik ahjusshi, aku sedang belajar kelompok dengan teman disini, diajarkan kakaknya Mingyu, Namjoon-hyung" jawab Taehyung. Taehyung juga tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan sahabat ibunya disini. Orang yang dulu sering membelikan ice-cream dan mengajaknya jalan-jalan waktu kecil.

"Sudah lama kita tidak bertemu, kau sudah besar sekarang" Taehyung dapat melihat gurat kesedihan dimata orang yang sudah ia anggap ayah tersebut.

"Iya, terakhir Ahjusshi melihatku saat kelas satu junior high school, 5 tahun yang lalu, sejak aku tinggal dengan appa kita tidak bertemu lagi" tukas Taehyung. Jujur saja, ia juga merindukan Chanyeol.

"eomma-mu apa kabar Tae? " tanya Chanyeol.

"Eomma sekarang menjadi super sibuk ahjusshi" taehyungnyengir memperlihatkan senyum kotaknya, tidak ingin terlihat jika ia kecewa dengan ibunya.

"masih sibuk ternyata" gumam Chanyeol.

"Ahjusshi, appa lusa datang ke Seoul, Ahjusshi mau bertemu dengan appa?"tanya Taehyung. Chanyeol dengan ayah Taehyung memang berteman, dan mereka sangat jarang bertemu karena ayah Taehyung kerja di luar negeri.

" Tentu, sudah lama aku tidak bertemu dengan appa-mu. Katakan padanya untuk mentraktir ahjusshi makanan enak" jawab Chanyeol.

"Siap kapten!" Taehyung menjawab dengan gerakan hormat, membuat Chanyeol tertawa, setidaknya bertemu dengan Taehyung dapat mengurangi stresnya akhir-akhir ini.

.

.

"Jadi dia benar-benar ingin mati ditanganku?" geram Jin. Daritadi dia sudah mencak-mencak tidak jelas dengan Jimin setelah mendengar berita perihal hubungan Eunwoo dan Sejeong.

"Oppa jangan buat Jungkook semakin dalam masalah" Joy melirik ke arah maknae mereka, Jungkook menyembunyikan kepalanya pada tangannya yang terlipat di atas meja kerja Jin. Mereka semua berkumpul di dekat Jungkook, berniat mennghibur Jungkook.

"Ya! Kenapa kalian tidak bekerja?" Hoseok mendatangi mereka dan melihat Jungkook.

Irene langsung menarik Hoseok menjauh dan membuat kalimat dengan mulut tanpa suara.

"jangan ganggu dia, dia sedang ada masalah" ucap Irene, dan Hoseok hanya mengangguk patuh, dia tidak akan bisa melawan mayoritas wanita dan uke di divisi mereka.

Mereka akhirnya membiarkan Jungkook menenangkan diri. Memaklumi Jungkook yang saat ini bermasalah dengan hatinya.

Jam pulang kerja beberapa menit yang lalu, Jungkook bangkit dan orang-orang disana menatap Jungkook, mata dan hidung bangirnya memerah.

"Aku baik-baik saja hyung"Jungkook sudah dulu berkata sebelum Jimin bertanya.

"Aku sudah mengatakan kepada Minhyun dan Seongwoo kalau hari ini kau pulang dengan mereka. Aku akan menjemput Namjoon ke tempat rapatnya dan Jiminie akan pulang ke rumah orangtuanya sebentar" tukas Jin, dia membereskan mejanya dan terlihat sangat terburu.

" Aku bisa pulang sendiri hyung. Aku sudah janji dengan Irene-noona akan membantunya, jadi aku akan pulang nanti" Jungkook berdiri, meregangkan otot-ototnya.

"Kookie, kau bis—"

"Noona, hyung jinjja! Aku benar baik-baik saja" Jungkook tersenyum kearah mereka, gigi kelincinya terlihat. Jungkook tidak mau membuat orang-orang terdekatnya khawatir karenanya.

"Baiklah berarti Jungkook akan membantu kami Jin-ah, kau pergi saja, biar aku menjaga maknae kita ini" Irene kembali membuka pola yang tadi ia kerjakan. Sudah hampir selesai, hanya tinggal beberapa lagi yang perlu direvisi.

"Aku bukan anak kecil lagi ish" geram Jungkook. Bukannya dia tidak suka dengan kekhawatiran kakak-kakaknya, hanya saja Jungkook merasa mereka terlalu berlebihan. Orang-orang yang berada ada disana tertawa melihat adik mereka yang terkesan sok mandiri.

.

.

"Chaa.. Semuanya sudah selesai. Gomawo Jungkookie sudah membantu" Irene menyimpan hasil desainnya yang akan ia presentasikan bersama timnya lusa, dan ia sangat bersyukur karena ada Jungkook yang membantu dan memberi masukan.

"Astaga noona, apa-apaan! Aku bagian dari tim ini jika kau lupa"ucapJ ungkook.

"Tapi tetap saja kau sangat membantu kami kookie" tukas Seungkwan, seorang yang ikut membantu Irene. Mereka disana kini tersisa berempat. Irene, Jungkook, Seungkwan, dan Seulgi.

"Ayo kuantar pulang kookie" ucap Irene saat ia sudah selesai.

" Aku naik bus saja noona, lagipula aku juga harus mengambil berkas ke atas dulu" Jungkook mendekat ke arah Irene kemudian mengelus perut wanita itu, perut yang masih rata.

"Kau juga harus memeriksa aegi sekarang kan noona, pergilah.." interaksi mereka langsung di abadikan oleh Seulgi, dia memotret kejadian itu di ponselnya.

"Aigoo manis sekali" Seulgi sudah gemas sekali, tangannya bahkan sudah meremas tangan Seungkwan.

"Ya! Sakit noona!"ringis Seungkwan kesakitan. Dan percayalah besok saat mereka kembali kerja, kemanisan sikap Jungkook akan tersebar di divisi FD.

.

.

Setelah mengambil berkas, Jungkook bersiap untuk pulang.

"Kajja, hidupmu harus terus berlanjut Kookie-ya!" Jungkook meneriakkan itu saat perusahaan sudah kosong, ia melangkah keluar dari Perusahaan. Ia menghela nafas dan tersenyum.

"Noona!" Jungkook membalikkan tubuhnya, ia kenal dengan suara yang memanggil itu. Ia mengernyitkan dahi saat melihat Taehyung bersandar di salah satu pilar depan Perusahaan dengan rokok di tangannya. Taehyung membuang rokoknya dan berlari ke arah Jungkook.

"Ya Haksaeng! Kau merokok?" Jungkook menutup hidungnya saat Taehyungdisampingnya. Taehyung mendelik saat Jungkook membuat lagak ingin muntah.

" Aku tidak sebau itu noona" ujar Taehyung.

"Kau bau asap rokok, lagipula apa-apaan masih berseragam merokok sembarangan" tanggap Jungkook. Mereka berdua berjalan menuju halte seperti kemarin.

"Hoooo.. Noona mengkhawatirkanku takut ketahuan merokok di tempat umum saat berseragam, perhatian sekali!" Setelah itu Taehyung mengaduh karena Jungkook memukul keras punggungnya.

"Geundae Taehyung-ah, bisakah kau memanggilku normal, panggil aku hyung" pinta Jungkook. Dia agak risih jika Taehyung memanggilnya seperti itu, apalagi di depan umum. Meskipun ia seorang uke dia tidak melupakan gendernya kalau dia adalah seorang laki-laki, lagipula laki-laki mana yang mau dipanggil sapaan wanita kecuali laki-laki itu kurang beres.

"Sirheunde, naega wae? Eolmajulkonde?" " Taehyung menyanyikan kalimatnya. Jungkook geram mendengar nyanyian tolakan dari Taehyung.

"Jinjja! Geumanhae, aku tidak bercanda"

"Aku juga tidak bercanda, kau tidak cocok dipanggil hyung olehku noona, aku suka memanggilmu seperti ini, noona cantik. Neo neomu yeppeuda.." alasan sederhana Taehyung berhasil menciptakan rona di kedua pipi Jungkook.

"Please, kalau kau memanggilku lagi panggilan itu, kau akan membuatku malu, panggil aku hyung, ya ya ya?" tawar Jungkook lagi. Taehyung menggeleng, masih mempertahankan argumennya, dia tidak akan pernah memanggil Jungkook dengan panggilan hyung.

" Sirheunde" Taehyung duduk di halte, dia tertawa melihat Jungkook yang merengut seperti anak kecil.

" Umurmu sebenarnya berapa noona? Kenapa seperti bocah 5 tahun?" Taehyung mengusak rambut Jungkook, dengan berani tangan Taehyung melakukan itu.

" Ya! Kau! Kenapa jahat sekali. Nappeun Namja!" teriak Jungkook.

" Kau juga seperti ahjusshi-ahjusshi, suaramu seperti om-om mesum" lanjut Jungkook.

" Suaraku seksi noona, di ranjang desaha—aaah sakit!" Berganti Taehyung yang berteriak menahan sakit karena sudah dicubit oleh Jungkook.

" Noona..noona! Jungkookie-noona!" Taehyung berusaha memanggil Jungkook yang memalingkan wajahnya. Kesal setengah mati dengan pemuda Kim itu.

" Bagaimana jika di depan umum aku memanggilmu Kookie, dan waktu berdua saja aku memanggilmu noona? Otte? Call?" Taehyung mengajukan pilihan.

"Terserah jika kau mau atau tidak noona, aku sudah memberi pilihan kepadamu" Taehyung tersenyum, Jungkook menolehkan kepalanya ke arah Taehyung.

" Sialan kenapa jadi aku yang menuruti permintaanmu" cibir Jungkook. Setidaknya ia tidak akan malu saat Taehyung memanggilnya di depan umum nanti.

.

.

" Kau sudah makan malam?" tanya Jungkook saat mereka berada di dalam bus. Taehyung menggeleng.

" Ayo makan di kos-ku. Kita makan ramyeon, kau mau?" semua orang yang ada dibus itu melirik Jungkook. Jungkook memandang mereka dengan wajah polos.

" Wae? Aku salah apa?" bisik Jungkook kepada Taehyung.

" Noona, ajakan makan ramyeon itu kata lain untuk mengundang pasangan ke tempat kita, ya kau tahu sendiri maksudnya" jawab Taehyung. Jungkook pun menundukkan kepalanya, memukul kepalanya karena merasa bodoh dan mempermalukan dirinya sendiri. Pantas saja mereka menatap Jungkook, Jungkook seperti seorang jalang yang mengajak anak sekolah untuk bercinta dengannya.

" Hei jangan dipukul lagi kepalamu kookie" Taehyung mengambil tangan Jungkook yang masih memukul kepalanya.

" Aku mau makan denganmu, selepas turun ayo kita beli dulu ramyeonnya di minimarket dan kali ini aku yang akan traktir" ujar Taehyung lagi.

" Aigoo.. lihat haksaeng ini, sombong sekali! Aku punya uang untuk mentraktirmu, kau berniat membuatku malu ya? ditraktir oleh seorang bocah sekolahan?" tanya Jungkook.

" Aku juga punya uang noona, mungkin sebanding dengan gajimu. Aku juga kerja, lagipula kenapa harus terus memakai uangmu? Aku juga tahu diri" Jungkook hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah memang Taehyung punya pekerjaan atau tidak, Jungkook tidak ingin tahu untuk sekarang.

" Tae, kenapa kau bisa mengenal Sajang-nim?" tanya Jungkook memecahkan keheningan diantara mereka.

" Maksud noona Chanyeol-ahjusshi? Aku mengenalnya sudah lama. Dari aku kecil saat aku masih tinggal di Quebec, aku sering jalan-jalan dengan Ahjusshi yang merupakan teman eomma" jawab Taehyung.

" Quebec? Kanada? Waah ternyata kau anak orang kaya juga" takjub Jungkook. Taehyung hanya tertawa melihat antusias Jungkook.

" Aku hanya orang biasa kalau kaya mungkin orangtuaku" jawab Taehyung.

" Terus kenapa kau tidak bersama Nji sekarang?" tanya Jungkook lagi.

" Hari ini Nji pulang dari sekolahnya cepat noona dan dijemput tadi siang oleh pengasuhnya" jawab Taehyung. " Jadi kenapa kau pulang terlambat hari ini?" tanya Jungkook lagi.

" Aku menunggumu" jawab Taehyung santai.

"Geojitmal hajima!" balas Jungkook. Taehyung hanya tersenyum melihat Jungkook yang kesal kepadanya. Itu lebih baik daripada melihat Jungkook yang bersedih karena masalahnya. Mereka terus berbicara mengenai satu sama lain sampai bus berhenti di halte tujuan mereka.

.


.

Mereka sampai di kos Jungkook. Taehyung masuk ke dalam kamar yang berisi 2 orang itu. Sederhana. Ada tempat tidur, lemari, sofa, televisi, tempat masak dan kamar mandi.

" Rapi sekali" ujar Taehyung. Kamar Jungkook dan Jimin lagi dalam kondisi bersih dan wangi, mereka berdua hanya menggunakan kos mereka untuk tidur dan istirahat saat akhir pekan. Jarang menyentuh barang-barang jika tidak diperlukan.

" Kau duduk saja dulu, biar aku masakkan ramyeonnya" Jungkook berlalu ke arah tempat masaknya. Menyiapkan semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk membuat ramyeonnya.

Taehyung melihat-lihat dengan keliling kamar itu. ada dua ranjang, berbeda sekali auranya.

" Yang warna merah punya noona?" tanya Taehyung. Jungkook melihat Taehyung yang sedang duduk diatas ranjangnya. Jungkook mengangguk.

" Ye, itu punyaku. Disebelahnya punya Jiminie-hyung" jawab Jungkook.

" Ceritakan tentang dirimu noona" pinta Taehyung.

" Aku Jeon Jungkook. 23 Tahun. Asal dari Busan. Lahir tanggal satu September, anak tunggal dari keluarga sederhana. Eomma appa penganut sistem tradisional sekali bahkan untuk kuliah di Seoul aku harus membujuk mereka mati-matian. Aku suka warna merah dan hitam. Kuliah bagian Fashion Design, tapi sekarang kerja merangkap sebagai sekretaris direktur Big. Status hubungan kau tahu sendiri aku sekarang bagaimana. Sedang sulit. Chaa.. ramyeonnya sudah matang" Jungkook membawa panci ramyeonnya ke arah sofa, meletakkannya di atas meja dan dia sudah duduk bersila dilantai serta menatapi makanannya yang baru jadi.

" Ayo cepat, nanti mienya bengkak" Jungkook menginterupsi Taehyung yang sedang memandang foto-fotonya.

" Waah baunya sudah enak sekali" Taehyung menyusul Jungkook. Mereka bersiap untuk makan.

" Selamat makan!" mereka mulai menyumpit mie yang sedang mengepul itu.

Jungkook menatap Taehyung yang sedang menguyah mienya. Memandangnya pemuda Kim itu dari samping.

" Wah, kenapa kau bisa setampan ini, eung?" tanya Jungkook dengan mulut penuh makanan.

" Noona orang yang kesekian yang mengakui ketampananku" tanggap Taehyung dengan percaya diri.

" Jinjja ! menyesal aku memujimu" tukas Jungkook kesal.

" Akui saja jika aku tampan noona" Taehyung tertawa melihat raut wajah jijik Jungkook. Mereka makan, bahkan berebut untuk memakan kuah sampai pancinya kosong.

" Ahh.. kenyangnya.. Gomawo noona" ucap Taehyung. Mereka bercerita-cerita mengenai kegiatan mereka, dan Taehyung menanyakan apa-apa saja kegiatan Jungkook di kantor.

" Noona sudah malam, aku pulang dulu. Jangan sedih terus, kau tidak pantas bersedih lebih cantik saat tersenyum. Selamat malam noona" Taehyung mulai beranjak dari sana.

" Kau ini ada-ada saja. Terimakasih juga untuk traktirannya. Iya, aku tidak akan bersedih. Hati-hati dijalan" Jungkook mengantarkan Taehyung sampai pagar kosnya. Lagipula hari sudah cukup malam dan sebentar lagi Jimin akan kembali. Taehyung tidak mau Jimin salah sangka dengan mereka berdua. Meskipun Taehyung akan senang saja tapi dia tidak mau menyulitkan Jungkook saat ini.

.


.

" Nji sudah tidur ahjumma?" tanya Taehyung kepada pengasuh adiknya itu.

" Sudah Tuan muda. Oh ya Tuan muda, ibu sudah ada di rumah" Taehyung mengangguk. Dia tahu ibunya sudah pulang. Dia melihat supir ibunya tengah membersihkan mobilnya di halaman rumah.

Taehyung masuk ke dalam kamar Jiwon, melihat adiknya yang tertidur pulas. Dia mencium kening dan pipi adiknya.

" Jalja Jiwon-ah, mimpi indah" Taehyung keluar dari kamar adiknya dan mengetuk kamar ibunya, tidak mendapati jawaban, Taehyung masuk ke dalam kamar itu.

" Eomma!" panggil Taehyung. Taehyung berjalan ke arah orang yang tengah tidur membelakanginya.

Taehyung tidur dibelakang ibunya dan memeluk orang yang melahirkannya itu.

" Sudah lama ya eomma, aku merindukanmu. Eomma, kapan eomma bisa meluangkan waktu untuk Nji? Hanya sekedar menjemputnya pulang sekolah eomma. Taetae tidak apa-apa jika tidak eomma pedulikan, tapi Jiwon terlalu kecil untuk merasakannya hiks. Eomma mianhae, aku masih cengeng sekali. Eomma, tubuh eomma semakin kurus sekarang, apa eomma sesibuk itu? Eomma pikirkan juga kesehatanmu. Aku dan Nji tidak membutuhkan uang yang banyak untuk kami. Kami membutuhkanmu. Eomma, apa eomma tahu Nji sudah bisa menyanyi dan dia ingin sekali menyanyi untuk eomma dan dia sangat sedih saat melihat teman-temannya dijemput oleh ibunya. Eomma, aku merindukanmu, jinjja! Eomma, Tae bukan anak kecil lagi, bahkan Tae sudah bisa menyukai orang lain, apa eomma bisa menceritakan apa yang terjadi dengan eomma? Tae akan mendengarkan apa yang eomma pikirkan dan eomma rasakan. Eomma, cepat kembali" Taehyung tidak bisa membendung air matanya. Dia merindukan sosok yang tengah ia peluk itu. Taehyung mencium kening ibunya itu, dan ditutup dengan kalimat yang sangat ingin ia katakan kepada ibunya jika ibunya itu bangun.

" Aku menyayangimu, eomma"

Setelah Taehyung keluar dari kamar itu, eommanya bangun dengan tetesan bening dari matanya.

" Mianhae Taehyung-ah, Jiwon-ah" lirihnya.

.

.

" Pulang larut lagi?" tanya Jaehyun saat melihat Taehyung membuka sepatu.

" Kkamjjagiya!" teriak Taehyung.

" Kenapa pulang terlambat lagi, Tae?" tanya Yoongi. Kini Yoongi dan Daniel sedang duduk di sofa, membaca buku yang Taehyung tidak tahu.

" Aku di rumah dan tertidur" jawab Taehyung. Dia membuka seragamnya, dan menggantinya dengan kaos yang ia ambil sembarang di dalam lemarinya.

" Matamu merah sekali" tanggap Daniel saat melihat mata Taehyung.

" Iya, tadi aku tertidur lama" jawab Taehyung, menyembunyikan fakta jika matanya merah karena menangis.

Taehyung langsung naik ke ranjangnya, ia ingin tidur. Melepas penat seharian ini.

" Tumben sekali cepat tidur" tukas Guanlin yang tengah memeluk Jihoon yang ada di sampingnya. Ia melihat Taehyung yang tengah menarik selimutnya.

" Tae, ponselmu bunyi. Jiminie-hyung menelepon!" teriak Daniel. Taehyung memang kebiasaan meletakkan ponselnya sembarangan, sebelum mengganti baju dia meletakkan ponselnya di atas meja di depan Daniel dan sekarang meninggalkannya disana.

" Kau jawab saja, aku mengantuk!" jawab Taehyung. Daniel mengangkat telepon itu dan langsung memberikan ke telinga Yoongi. Yoongi mendelik tidak suka kearah Daniel yang sudah menyengir.

" Yeoboseyo!"

" Taehyungie?"

" Aniyo! Taehyung sedang tidur, ada apa menelepon malam-malam?"

" Astaga, Tuan pemarah ternyata. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepada Taehyung. Kalau begitu sudah dulu ya Tuan dingin yang pemarah"

" Ya! Aku buk—" sebelum Yoongi marah sambungan teleponnya sudah diputus sepihak oleh Jimin.

" Kurang ajar sekali" misuh Yoongi, Daniel sedikit beringsut dari Yoongi, takut kena amuk.

.


.

Sore ini Taehyung jadi menemui ayahnya. Ayahnya menjanjikan disalah satu restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Perihal mengajak Chanyeol, appanya Taehyung sudah mengizinkan dan dia juga ingin bertemu dengan pria Park itu.

" Appa!" Taehyung menghampiri ayahnya dengan Nji digendongannya. Ayah Taehyung langsung memeluk anaknya itu.

" Aigoo, Nji sudah besar ! Jae-ya bawa Nji membeli ice-cream" orang yang diminta tolongi oleh ayah Taehyung itu langsung mengambil Nji dari Taehyung.

" Ayo anak manis kita membeli ice-cream!" Nji hanya menurut setelah mendapat izin dari Taehyung.

" Bagaimana kabarmu?" tanya Daehyun, ayah Jungkook. Orang-orang yang ada di restoran memandang mereka. Inilah yang tidak disukai oleh Taehyung, menjadi pusat perhatian. Ayahnya yang seorang produser terkenal di Amerika harus menjadi pusat perhatian jika datang ke Korea.

" Baik. Appa besok-besok jika bertemu di ruangan tertutup saja. Aku risih sekali menjadi pusat perhatian" ucap Taehyung kesal. Pemuda yang sekarang memakai kemeja denim itu tampak tampan tanpa seragamnya.

" Ahjusshi-mu mana?" tanya Daehyun lagi. Jika dilihat orang akan langsung percaya jika 2 orang berbeda umur itu adalah ayah dan anak, kemiripan mereka sangat kentara.

" Ahjusshi mengatakan jika ia akan terlambat, ada rapat dulu katanya" jawab Taehyung.

" Appa dengan mama lama disini?" tanya Taehyung sambil mencomoti makanan ayahnya.

" Besok pagi Appa akan kembali ke New York. Pekerjaan Appa tidak bisa ditinggal" jawab Daehyun. Dia terus memandang Taehyung, sudah lama sekali tidak melihat anaknya itu, dan ia tumbuh besar sekarang.

" Selalu saja sibuk!" sindir Taehyung. Daehyun terbahak dengan Taehyung yang selalu blak-blakan dengannya.

" Kabar eomma-mu bagaimana?" tanya Daehyun.

" Ya seperti itulah. Appa aku lagi tidak mau membahas eomma" ucap Taehyung. Daehyun pun mengangguk mengerti.

.

.

Mereka bercakap-cakap, terutama Taehyung dengan Daehyun melepas rindu mereka dengan canda yang tercipta.

" Oiii.. sepertinya kami terlambat!" interupsi orang yang baru tiba. Mereka semua melihat ke sumber suara. Itu Chanyeol dan Jungkook. Jungkook mengekor di belakang Direkturnya. Setelah rapat mereka langsung kesana.

Jungkook terkejut melihat orang terkenal disana. Dia menutup mulut dengan tangannya, hampir saja berteriak histeris. Ditambah Taehyung yang sangat tampan dengan pakaian bebasnya, tidak ada seragam yang melekat tubuhnya.

" Noon- eh Kookie.. Kookie juga ikut. Kenalkan ini Appa dan ini mamaku" Taehyung mengenalkan mereka. Jungkook malu sekali, harus bersalaman dengan orang seterkenal Daehyun.

" Kookie! " sapa Jiwon. Hari ini si kecil memakai overall biru.

" Hei Njii.. bagaimana kabarmu?" Jungkook mencium pipi Jiwon, dan itu mendapat perhatian dari mereka semua.

" Baiiik!" semangat Jiwon. Chanyeol melihat bagaimana girangnya anak kecil itu diantara mereka.

" Woi sobat! Jangan dilihat terus adik Taehyung" ucap Daehyun.

" Adik Taehyung?" tanya Chanyeol. Taehyung mengangguk.

" Nji, perkenalkan diri kepada Chan-ahjusshi" ucap Taehyung. Jiwon melirik ke arah kakaknya yang mengangguk sambil tersenyum memberi semangat.

" Annyeonghaseyo, Pak Jiwon imnida" bungkuk Jiwon, meski kurang tepat memperkenalkan diri ddengan logat anak kecilnya, mereka semua yang ada disana tersenyum melihat keberanian Nji.

Jungkook sedikit berpikir tapi dia tersenyum setelah itu.

" Pintar sekali Njii" puji Jungkook.

Mereka bercerita sambil menikmati makanan, Jungkook tidak menyangka jika orangtua Taehyung adalah orang terkenal, wajar saja jika dia mengansumsikan jika kemaren Taehyung adalah anak orang kaya.

" Kabar perusahaanmu baik?" tanya Daehyun. Dia dan Chanyeol adalah teman satu kampus saat di New York, mereka kenal karena sama-sama berasal dari Korea.

" Baik, sangat baik" jawab Chanyeol.

" Hatimu yang kurang baik, bukan? Aku rasa kau sudah mendapatkan petunjuk hari ini, berusahalah. Kau tahu kalau aku selalu mendukungmu" ucap Daehyun. Ia melirik anaknya sangat akrab dengan istrinya. Bahkan Nji yang dipangkunya dari tadi tidak rewel sama sekali.

" Aku rasa sudah saatnya kami pulang ke Hotel sekarang" ucapan Daehyun membuat Taehyung dan Jungkook menatap ke arahnya.

" Appa! Kenapa cepat sekali?" rajuk Taehyung.

" Kau tidak malu dengan Jungkook bertingkah seperti itu? Appa harus menyiapkan hal-hal untuk berangkat besok. Bulan depan Appa kesini lagi, dan kita akan bertemu lagi. Kau jaga diri. Chanyeol, Jungkookie, aku titip berandal satu ini. Njii juga, jaga Tae-hyung yang nakal ini ya" Daehyun mengelus pelan pipi Jiwon.

.

.

Jungkook tidak mengerti lagi bagaimana bahagianya dia hari ini. Dia sempat berfoto dan mendapatkan tanda tangan dari Daehyun Jung, Produser terkenal. Ia akan pamer kepada teman-teman satu divisinya besok.

" Wah, bagaimana kau bisa menjadi anak Daehyun-sshi, Tae?" tanya Jungkook penasaran. Mereka tengah berjalan dari halte. Hari ini Taehyung akan mengantar Jungkook pulang lagi.

" Noona kenapa terlihat tidak percaya sekali kalau aku anak Appa?" tanya Taehyung balik.

" Aniyo ! Aku hanya terkejut Taehyung. Its like something unimaginable in my life" tukas Jungkook lagi.

" Like Miracle?"

" Eung, like Miracle"

" Jadi aku adalah kejaiban dalam hidup noona?" goda Taehyung.

" Ya! Itu mimpimu" teriak Jungkook.

" Mianhae, maaf aku hampir saja membangunkan Njii" Jungkook melirik Jiwon yang sedang menggeliat dalam gendongan Taehyung.

..

Jungkook sudah bersiap di belakang Taehyung, di jok penumpang motor Taehyung.

" Tunggu Tae—Yeoboseyo Ahjusshi?"

" Ye? Sajang-nim mabuk dan tidak bisa diajak pulang?"

" Baiklah aku kesana sekarang" Jungkook mematikan sambungannya dan menghela nafas sebentar.

" Tae, bisa kau bantu aku sebentar? Sajang-nim se—"

" Ayo Noona, ayo kita ke tempat Chan-Ahjusshi" Jungkook setidaknya berlega hati karena Taehyung mau membantu.

..

" Sajang-nim!" Jungkook sedikit berteriak, mendapati Direktur yang ia hormati sedang mabuk, tengah hangover di salah satu meja tempat minum. Jungkook langsung membangunkan Chanyeol yang tengah tertidur dimeja itu. Taehyung mengekor dibelakang.

" Oiii, kalian datang lagi, ayo minum bersamaku~" Chanyeol mengangkat kepalanya, menatap Taehyung dan Jungkook secara bergantian. Wajahnya sudah memerah efek minuman alkohol. Di mejanya sudah ada beberapa botol soju yang kosong.

" Tae..Taehyungie.. kenapa eomma-mu sangat jahat kepadaku? Wae~?" teriak Chanyeol kepada Taehyung.

" Hiks..hiks.. dia tidak pernah mengabariku sejak 3 tahun lalu, dia menghilang dariku. Dia menghindariku hiks" tiba-tiba saja Chanyeol menangis. Jungkook dan Taehyung masih belum mengerti ada apa dengan Chanyeol.

" Jiwon, dia anakku.. aku yakin sekali dia anakku" Chanyeol berteriak kepada mereka. Jungkook spontan mundur, menabrak Taehyung yang ada dibelakangnya. Taehyung juga sama terkejutnya dengan Jungkook.

" Noona, maksud Chan-Ahjusshi apa?" lirih Taehyung.

" Baekhyun-ah.." ucap Chanyeol sebelum tak sadarkan diri.

.

.

To Be Continued.

.


.

Maafkan untuk Typo.

Mohon review dan komentar positif untuk membangun cerita. See ya next Chap :)