Summary : Taehyung (18 tahun) menaruh hati kepada sekretaris Perusahaan besar yang sangat cantik dimatanya, Jungkook(23 tahun) dan inilah cerita Taehyung dan Jungkook yang terlibat dalam satu garis takdir yang sama.

Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Wanna One, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. ? kenapa aku

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…

.


.

-DEAR TAEHYUNG-

(Someone Who Stole My Heart)

.

.

.


Chapter VI:

.

.

Taehyung masih memeluk Jungkook. Pemuda yang awalnya hanya demam itu kini hidungnya tersumbat, beda dengan Taehyung yang dari malam tadi memang terkena flu karena hujan. Pemuda Kim itu memang tidak bisa terkena hujan sedikit pun. Jujur saja, saat ini kepala Taehyung pusing sekali, malam tadi juga ia tidak bisa tidur memikirkan masalahnya. Masalah yang bersamaan datang dengan masalah Jungkook. Jungkook masih terisak di dalam pelukannya. Entah karena masalahnya dengan Eunwoo atau Taehyung yang enggan lagi memanggilnya noona. Taehyung bingung.

"hiks.. Hiks.." isakan Jungkook masih ada.

"Berhenti menangis hyung" bujuk Taehyung. Sudah 15 menit mereka dengan posisi seperti ini, tapi tangis Jungkook belum juga reda.

"Jangan panggil aku seperti itu hiks.."rengek Jungkook lagi.

"Terus aku harus memanggilmu dengan apa? Padahal kau dulu bersikeras agar di panggil hyung olehku" balas Taehyung. Dia gemas dan kasihan bersamaan dengan Jungkook. Dia kesulitan bernafas, tapi setiap dia menarik nafas yang juga ikut menarik ingusnya naik terlihat menggemaskan oleh Taehyung.

"Anigodeun!" jawab Jungkook.

"Sudah berhenti menangis noona!" bisik Taehyung di telinga Jungkook. Jungkook mencoba berhenti menangis, menahan air matanya agar tidak keluar lagi.

Bel di pintu depan terus berbunyi, Taehyung tidak dapat bergerak karena Jungkook masih memeluk erat Taehyung.

"Noon—"

"Ya! Berisik sek—Jungkookie-hyung kenapa Tae?" tanya Yoongi saat keluar kamarnya yang memang terletak dekat dengan pintu depan. Taehyung tidak bisa menjawab karena Jungkook semakin mengeratkan pelukannya. Kemudian Yoongi membuka pintu untuk orang yang tidak berhenti menekan bel seperti orang gila.

"Gila! Kau pikir orang di dalam rumah tuli?" amuk Yoongi. Jimin hanya memperlihatkan senyuman khasnya, sampai mata sipitnya hilang di telan pipinya.

"Jungkookie disini?" Jimin langsung menyelonong masuk rumah Taehyung, menyingkirkan Yoongi yang berdiri di depan pintu. Dibelakang Jimin juga mengekor seseorang yang belum pernah di lihat oleh Yoongi.

"Kookie!" teriak Jimin. Saat baru bangun di apartemen Hyunwoo, Jimin mendapatkan banyak panggilan tak terjawab dan pesan singkat mengenai Jungkook. Jimin yang kalang kabut langsung minta jemput kepada Taeyong, salah satu sahabatnya yang juga ingin melihat Jungkook. Taeyong bebas sampai jam 9 nanti, sebelum dia ada pemotretan di Busan nanti.

..

Jungkook yang mendengar teriakan Jimin langsung melepaskan pelukan. Dia menghapus cepat air matanya.

"Kookie-ya" Jimin langsung memeluk Jungkook, mengelus pelan punggung dan rambut adiknya itu.

"Hyung tidak kerja?" tanya Jungkook dengan suara seraknya. Taehyung yang melihat itu hanya diam, mengamati Jungkook yang rapi sekali menutupi perasaan dan keadaan diri.

"Aku terlambat bangun, kata Jin-hyung aku ke Perusahaan nanti siang saja" jawab Jimin.

"Taeyong-hyung, tidak kau ajak duduk hyung?" tanya Jungkook lagi. Dia melihat Taeyong sedang mengamati pemuda lain yang baru keluar dari kamar yang sama dengan Yoongi.

"Yong-ah, kau tertarik dengan –siapa nama temanmu Tae?" bisik Jimin kepada Taehyung yang ada disebelahnya.

"Jaehyun" jawab Taehyungg setelah melihat siapa orang yang dimaksud Jimin, tidak mungkin Yoongi karena Jimin sudah hafal betul pemuda pucat itu.

"Kau suka Jaehyun?" tanya Jimin langsung kepada Taeyong yang masih berdiri menatap pemuda tampan yang masih berdiri di depan pintu.

"A-aniyo!" sanggah Taeyong. Pemuda bermata tajam itu langsung duduk di sofa, berseberangan dengan mereka. Jaehyun juga menyusul, duduk disebelah Taeyong, dia tidak tahu jika pemuda disebelahnya sudah merona karena malu.

"Lihat lehermu hyung, kau menghabiskan malam menyenangkan dengan tunanganmu" tanya Jungkook saat melihat ruam-ruam merah di leher Jimin. Salahkan juga baju kebesaran yang di pakai Jimin, menyebabkan lebih banyak kissmark yang terlihat.

"Kau sampai melupakanku"rajuk Jungkook. Wajah merajuk yang sangat menggemaskan di mata Taehyung.

"bukan seperti itu Jungkookie, aku tidak tahu karena ponselku silent dan aku tidak sadar ka—" Jimin tidak melanjutkan ucapannya karena malu.

"Sudahlah hyung, melihatmu bahagia aku turut senang. Kau datang kesini juga aku sangat berterimakasih, bahkan Taeyong-hyung juga sampai meluangkan waktu yang sangat padat untuk kesini" tanggap Jungkook.

"Aku rasanya sangat familiar dengann baju yang dikenakan olehmu hyung" ucap Jaehyun memecah suasana. Dengan santai dia menyadarkan kepalanya ke pundak Taeyong yang duduk disampingnya, tanpa merasa bersalah sedikitpun telah membuat jantung pemuda itu hampir keluar dari dadanya.

Taehyung dan Jungkook mengamati baju yang di pakai Jimin. Baju hitam bermotif sederhana dan terlihat sangat mahal.

"Kau kenal orang yang merancang baju ini?" tanya Jimin.

"Ani! Bukan masalah siapa yang merancangnya, aku sering melihat baju itu, tapi dimana ya?" Ucap Jaehyun sambil berpikir.

"Kau sering melihatnya karena aku yang memakainya bodoh!" Yoongi sudah rapi, selesai mandi dan dia memakai baju kemeja hitam milik Taehyung. Jika mereka menginap, mereka dibebaskan untuk memakai baju si tuan rumah.

" Ah, itu baju kesayanganmu yang tidak pernah mau kau pinjamkan kepada orang lain kan hyung? Kenapa bisa Jimin-hyung memakainya?" tanya Jaehyun. Ia mengamati Yoongi dan Jimin bergantian. Taehyung dan Jungkook sudah hampir tertawa melihat itu, sementara Taeyong masih berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak karuan.

'baju kesayangan katanya?' batin Jimin. Ia memandang baju yang tengah ia kenakan. Baju yang ia ambil sembarangan di lemari calon tunangannya.

" Bisa saja baju seperti ini sangat banyak dipasaran" ucap Jimin. Yoongi terkekeh, entah kenapa menggoda calon kakak iparnya itu sangat menyenangkan untuknya.

" Asalkan kau tahu saja, baju itu di desain oleh teman ibuku setelah ia menawarkan hadiah untukku, dan aku bisa pastikan hanya ada satu di dunia baju seperti itu"ucap Yoongi. Jimin memerah, malu sekali. Lagi pula dari sekian banyak baju di lemari Hyunwoo entah kenapa hatinya jatuh ke baju hitam di rak terakhir lemari.

"Terus kau mau apa? Mau aku kembalikan baju ini?" teriak Jimin. Taehyung sudah menarik Jungkook agar bergeser dan tidak ikut campur pertengkaran konyol itu. Jungkook dan tangannya yang sakit harus diamankan lebih dulu.

"iya dan kau harus telanjang" jawab Yoongi acuh. Semua yang ada disana terkekeh dan Jimin langsung berdiri, berjalan ke arah Yoongi dan memukul pemuda itu tanpa ampun.

"Dasar tanpa pigmen, mesum, kurang ajar! Mati kau! Mati kau Min Yoongi!" teriak Jimin kesal,sementara Yoongi sibuk mengaduh.

"ampun, ampun hyung!" ucap Yoongi, tubuhnya pasti memerah karena di pukul Jimin.

Mereka bercakap sebentar mengenai apa yang terjadi. Mengenai Jungkook, Taehyung dan masalah yang menimpa mereka.

Ponsel Taehyung berbunyi, ia mengarah ke tempat ponselnya berada, di atas nakas sebelah televisi. Taehyung pamit sebentar menjawab video call dari ibunya.


"eomma, pukul berapa disana sekarang?" tanya Taehyung. Yang Taehyung tahu perbedaan waktu Seoul dengan Paris cukup jauh. Ia dapat memastikan jika matahari belum terbit disana, dan sekarang ibunya tengah melakukan video call dengannya.

" Kau pikir eomma tidak khawatir dengan keadaanmu? Memangnya menurutmu aku eomma yang seperti apa Tae-ya?" tanya Baekhyun di ujung sana. Taehyung dapat melihat ibunya yang tengah memakai piyama berwarna biru langit dan adiknya yang tertidur di sebelah ibunya. Taehyung tersenyum. Ibunya memang ibu terbaik yang ia miliki.

"Eomma yang terbaik, selalu"

" Jadi kau menjadi terkenal sekarang?" Taehyung mengangguk. Ibunya pasti sudah melihat berita di internet perihal dirinya.

" Apa yang kau lakukan setelah ini?" tanya Baekhyun.

" Jeonghan-hyung menawarkan Tae untuk menjadi salah satu model di management model yang baru dibentuk, dibawah naungan Big, eomma"

" bukannya sudah ada CandM disana?" tanya Baekhyun penasaran. CandM adalah salah satu management yang ditolak oleh Baekhyun. Management besar itu berkali-kali merekrut Baekhyun, tapi ia lebih suka lepas, tidak terikat dengan management manapun, lagipula disana ada Ahn Sohee, wanita yang sangat ia jauhi, Baekhyun hanya tidak ingin membuat masalah.

" Mereka sudah memutuskan kontrak. Menurut eomma bagaimana?" tanya Taehyung lagi.

" Semua terserah kepadamu, eomma tidak akan melarang atau memaksamu. Kau yang lebih tahu mana yang terbaik untuk dirimu. Kau selalu tahu baik eomma ataupun appa selalu mendukung keputusanmu" jawab Baekhyun.

" Lalu aku harus bertanya kepada Daddy?"

" Daddy? Siapa itu?" Baekhyun berpikir tentang ucapan Taehyung, sejak kapan anaknya memiliki Daddy.

" Chan-Daddy eomma. Daddy-ku dan Nji, hehe" mendengar ucapan Taehyung, sontak membuat rona merah muncul di pipi Baekhyun.

" Ya! Dasar anak nakal!"

" Eomma merona..." goda Taehyung.

" Terus bagaimana dengan Jungkook? Dia juga bermasalah sama denganmu, pasti sangat berat untuknya" tukas Baekhyun. Ia juga penasaran dengan Jungkook yang sudah berbaik hati membukakan hatinya mengenai hubungannya dengan Chanyeol. Jungkook adalah orang selain Taehyung yang membawakan penerang untuk jalan kemana perasaannya harus memilih.

" Aku tidak tahu harus mengatakan bagaimana eomma. Jungkookie-noona sedang berada disini sekarang. Dia tidak baik saat ini" jawab Taehyung. Baekhyun hampir saja terbahak mendengar ucapan anaknya itu. Masih saja sempat menyebut Jungkook dengan panggilan yang sangat ia suka.

" Kau jaga dia, mengerti?. Ah, bagaimana jika dia kau jadikan Jungkookie sebagai stylist-mu? Kau bisa selalu di dekatnya, setidaknya dari ancaman haters yang nanti akan datang. Eomma cukup tahu bagaimana seluk beluk dunia hiburan Tae"

" Apa itu mungkin?" Baekhyun mengangguk, menjawab keraguan anaknya.

" Jika ia tetap menjadi sekretaris Chanyeol, ia akan sering sendiri nanti. Eomma juga yakin Chanyeol tidak akan dapat sepenuhnya melindungi Jungkook. Jika kau jadikan Jungkook stylist-mu, setidaknya kau akan terus bersamanya. Jika kau menjadi model mungkin bisa meredam skandalmu, tapi bagaimana dengan Jungkook? Eomma bahkan membaca bahwa ia adalah orang ketiga dalam hubungan mereka dan menyebabkan artis itu bunuh diri. Kau bisa membayangkan berapa banyak orang-orang yang menatap kebencian kepadanya" jelas Baekhyun yang diangguki oleh Taehyung. Ucapan ibunya tidak salah.

" Baiklah eomma, aku akan pikirkan nanti" ucap Taehyung.

" Jangan lupa hubungi appa-mu, dia pasti sangat khawatir. Granny-mu biar eomma yang urus. Titip salam untuk Jungkookie"

.


.

" Jungkookie, aku pergi dulu. Setelah pulang dari Busan, aku akan mengunjungimu lagi. Chim, kau tinggal disini atau ikut denganku?" tanya Taeyong. Ia sebenarnya ingin berlama disini, tapi ia juga harus pulang dulu ke apartemennya untuk mengambil barang bawaannya sebelum ke Perusahaan.

" Nanti saja. Aku mau membelikan Jungkook obat dan sarapan dulu" tukas Jimin.

" Aku boleh ikut keluar denganmu hyung? Hanya sampai halte" ucap Jaehyun.

" Kau tidak kembali ke asrama dulu?" tanya Yoongi kepada Jaehyun.

" Aku pulang sebentar mengambil mobil dulu, baru nanti ke asrama. Jadi barang yang ada diasrama langsung dibawa dengan mobil saja nanti. Barangmu juga akan aku bereskan. Kau disini saja menjaga mereka, Setelah membereskan semuanya, aku dan anak-anak akan kembali kesini, bagaimana?" tanya Jaehyun. Yoongi mengangguk. Dia tidak masalah sama sekali.

" Hati-hati ya Yong-ah, jangan melamun saat menyetir!" Jimin langsung mendapat lemparan kaleng kosong dari Taeyong. Dia malu setengah mati mendengar ucapan Jimin.

"Yoon, ayo temani aku ke supermarket dan apotik" ucap Jimin kepada Yoongi.

" Pergi saja sendiri" jawab Yoongi acuh. Pemuda Min itu sudah tidur tengkurap di atas sofa panjang di seberang Jimin dan Jungkook duduk.

" Ya! Aku tidak bisa mengendarai motor. Cepatlah! Nanti mereka berdua bisa tambah parah sakitnya" tidak tahan mendengar Jimin yang cerewet, Yoongi langsung bangkit dan menuruti semua perintah pemuda sipit itu. Jungkook hanya geleng-geleng kepala melihat mereka.

"Kemana mereka hyu—noona?" Taehyung berburu mengganti panggilan ketika Jungkook mempelototi Taehyung dengan mata bulatnya.

" Jiminie-hyung dan Yoongi pergi ke apotik dan Supermarket. Taeyong-hyung dan Jaehyun pulang" Taehyung mengangguk mendengar jawaban Jungkook. Ia kembali duduk di samping Jungkook.

"Tanganmu masih sakit, noona?" Taehyung mengamati tangah Jungkook yang masih di bebat. Jungkook mengangguk. Bahkan ia merasakan sakit saat di gerakkan.

" Noona, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Taehyung serius. Ia ingin mendengar jawaban dari Jungkook.

" Aku tidak tahu Tae. Aku pasti tidak akan nyaman setelah ini" ucap Jungkook dengan berat.

" Bagaimana dengan menjadi stylist-ku?" Jungkook menatap Taehyung, tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Taehyung.

" Stylist?"

"Hum, stylist! Aku akan menerima tawaran Jeonghan-hyung untuk bergabung dengan management baru Big. Dan noona harus menjadi stylist-ku. Stylist pribadiku" Taehyung membalas pandangan Jungkook, mengamati wajah cantik yang ada di depannya.

" Aku masih menjadi sekretaris Sajangnim kalau kau lupa" jawab Jungkook.

" Daddy akan mengganti sekretarisnya noona. Noona lupa kalau noona sudah sangat terkenal sekarang" Jungkook berpikir dengan apa yang dibicarakan oleh Taehyung.

Saat mereka terdiam, bel rumah Taehyung kembali berbunyi.

"Daddy ?" Taehyung membuka pintu dan melihat Chanyeol dan seorang pemuda di belakangnya.

" Kau baik-baik saja? Jungkookie mana?" Taehyung mempersilahkan mereka masuk.

" Sajangnim!" Jungkook berdiri dan memberi salam kepada bosnya itu. Jaebum mengekor di belakang Chanyeol.

" Kau tidak apa-apa Jungkookie?" Jaebum langsung mendekat ke arah Jungkook dan memeluk sebentar seseorang yang di anggapnya adik itu.

" Aku buruk hyung!" jawab Jungkook.

" Maaf aku tidak masuk hari ini Sajangnim" ucap Jungkook lagi. Chanyeol mengangguk.

" Bagaimana kau mau masuk, keadaanmu saja seperti ini. Jungkookie, kau akan aku pindahkan ke divisi lain untuk sementara. Kau akan di ganggu jika tetap menjadi sekretarisku" Chanyeol menatap Taehyung. Taehyung percaya, ibunya pasti sudah berbicara dengan Chanyeol soal ini.

" Tapi Sajangnim, bagaimana dengan persiapan untuk rapat-rapat anda?" tanya Jungkook.

" Ada Jaebum yang akan menggantikanmu"

" Ayolah dongsaeng! Aku butuh uang untuk menikahi Jinyoung dan kau harus membantuku" bujuk Jaebum.

" Kau akan mendampingi Taehyung. Ibunya mengatakan jika dia mau menjadi model, bagaimana?" Jungkook mengangguk dengan pasrah. Menerima nasib untuknya.

" Eomma-mu benar di Paris?" tanya Chanyeol yang masih tidak percaya dengan Taehyung.

" Kenapa tidak percaya sekali denganku? Eomma memang sedang di Paris Daddy. Aku yakin kau juga sudah di hubungi oleh eomma" jawab Taehyung. Chanyeol terkekeh.

" Kalian istirahatlah. Nanti sore datang ke kantor untuk peresmian management baru. Dan kalian harus tampil keren" Chanyeol tidak bisa lama disana, dia ada rapat penting di luar setelah ini. Selain memberitahu Jungkook perihal pekerjaannya, ia juga ingin melihat keadaan sekretaris dan anaknya tersebut.

" Daddy pergi dulu, Tae.. Baik-baik disini dengan Jungkookie" Chanyeol mengelus pelan kepala Taehyung sebelum pergi dari sana.

.

.


" Eomma-mu sangat berpengaruh terhadap Sajangnim. Lihat dia sekarang, sangat bahagia sekali" ucap Jungkook. Taehyung membenarkan. Ada yang lain dari diri Chanyeol yang ia lihat sejak hubungan eomma-nya dan Chanyeol menjadi baik. Lebih hangat dan lebih hidup dari biasanya.

" Noona, aku boleh bertanya?"

" Eung!" Jungkook bergumam tanpa melepaskan pandangan terhadap televisi.

" Bagaimana hubunganmu dengan dia?" Jungkook langsung menoleh ke arah Taehyung. Menghela nafas sebentar.

" Kemarin, dia meminta kembali kepadaku. Tapi aku tidak ingin membuat semuanya menjadi buruk"

" Jadi kembali atau tidak?" tanya Taehyung lagi. Tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Jungkook.

" Tentu saja tidak. Sejak dia mengakui di depan umum tentang dia dan wanita itu, aku tidak ingin kembali lagi kepadanya. Atau menerimanya kembali" Jungkook menjawab dengan senyuman. Ia sudah siap melepaskan semuanya sejak Eunwoo menciumnya kemarin. Dia tidak merasakan cinta lagi terhadap Eunwoo, perasaan yang terus memudar, meski awalnya ia tetap bersikukuh mencintai Eunwoo.

" Terus kenapa kau tidak menolak saat dia menciummu?" ucap Taehyung.

" Aigoo! Lihat siapa yang cemburu disini. Aku tidak sadar jika dia menciumku. Sungguh! Tiba-tiba saja dia menciumku" jawab Jungkook.

" Aku tidak cemburu! Dan kau terlihat sangat menikmati ciuman itu. Kau juga tidak mendorongnya atau melakukan apapun untuk menjauhkan diri darinya" Taehyung cemberut.

" Sudah aku katakan aku tidak sadar Taehyung! semua terjadi begitu saja. Sudahlah! Lagipula sudah terjadi" jawab Jungkook lagi. Dengan satu tangannya dia mencubit pipi Taehyung.

" A—ah, appo noona!" teriak Taehyung. Pipinya terus dijepit oleh jari Jungkook.

..

.

.

" Kenapa bisa Taehyung alergi obat?" tanya mengidikkan bahu tidak tahu. Dia hanya tahu kalau Taehyung tidak bisa meminum obat tanpa di resep dokter pribadinya. Muka Taehyung akan membengkak dan ia kesulitan bernafas jika mengonsumsi obat dengan kandungan tertentu.

" Aku tidak tahu. Jika sakit, dia akan kami biarkan tidur di asrama. Obat ampuh untuk sakit Taehyung adalah tidur" jawab Yoongi. Jimin hanya mengangguk mengerti.

"Jiminie, kau senang dengan Hyunwoo-hyung?" tanya Yoongi. Karena jarak antara apotik dan supermarket hanya dua ratus meter, mereka memutuskan untuk berjalan kaki. Di tangan Yoongi sudah ada tentengan yang mereka beli tadi. Saat ini mereka menuju supermarket lagi untuk mengambil motor di parkiran.

"Maksudmu? Wah, Panggilanmu terhadapku sangat baik sekali Min Yoongi" tanya Jimin tidak mengerti dan di tambah sindiran mengenai namanya dipanggil seenaknya oleh Yoongi.

"Apa kau bahagia dengan Hyunwoo-hyung? Kau cinta dengannya?" tanya Yoongi serius. Kali ini Jimin tidak melihat Yoongi yang selalu menggodanya saat menatap orang yang ada disampingnya.

"Aku nyaman dengan Hyunwoo-hyung, aku cukup tertarik untuk masuk ke dalam keluarga Min" melihat senyuman sumbringah Jimin, membuat Yoongi tidak bisa melarang hubungan Jimin dengan kakaknya.

"Jika kau ada apa-apa, datang saja kepadaku hyung" ucap Yoongi lagi. Jimin lagi-lagi berhenti dan menatap Yoongi.

"Wah, lihat siapa yang bicara. Berhenti Min Yoongi, kau tidak cocok seperti ini, terlihat lebih tua dariku" tawa Jimin meledak saat melihat Yoongi menatap tajam kepadanya.

"Dari awal aku melihat kau dan Jungkookie-hyung memang lebih muda dariku" Jimin langsung mengejar Yoongi saat pemuda itu sudah dulu berjalan darinya.

"Mworago?! Kemari kau Yoongi!"

Saat perjalanan pulang, Jimin memikirkan apa yang di ucapkan Yoongi. Sebenarnya dia ragu dengan Hyunwoo-hyungnya.


Flashback on

Jimin tentu senang saat di ajak calon tunangan makan malam dengan teman-temannya. Itu berarti Hyunwoo mengenalkannya dengan teman-temannya. Jimin sangat menyukainya.

"terimakasih hyung" Jimin tersenyum saat menyambut tangan Hyunwoo yang besar, pemuda tampan itu juga membukakan pintu untuk Jimin.

"Aku malu hyung, bagaimana jika nanti teman-temanmu tidak menyukaimu?"

"Kenapa pesimis? apa pula alasan mereka tidak menyukai Jiminie-ku?" Hyunwoo berhenti sebentar, menanngkupkan tangannya ke kedua pipi Jimin. Hyunwoo mencium bibir Jimin. Di depan restoran tempat mereka akan makan.

"Hyuuuuung!" Jimin menyembunyikan wajah merahnya di dada Hyunwoo. Dia malu, bisa-bisanya Hyunwoo menciumnya di depan umum seperti ini. Hyunwoo terkekeh melihat Jimin yang bertingkah sangat imut dimatanya.

"Oi oi lihat pasangan baru ini" ucap salah satu pemuda, Jimin langsung melepaskan pelukannya dari Hyunwoo dan menatap orang itu.

"Kau sudah datang? Ayo masuk"Hyunwoi menggandeng Jimin dan mengajak orang itu.

"Namanya Minhyuk, salah satu sahabatku sayang" Jimin mengangguk saat Hyunwoo membisikkan nama pemuda itu kepada Jimin.

Mereka sampai di salah satu meja yang sudah di isi 4 orang, semua wajah disana adalah wajah baru untuk Jimin, dia tidak mengenal satupun selain Hyunwoo.

Hyunwoo mendadak tegang saat melihat seseorang di antara mereka. Jimin merasakan perubahan itu saat genggaman tangan Hyunwoo mengerat kepadanya.

"Oh kalian sudah sampai?" ucap salah satu orang itu. Jimin menyadari Hyunwoo menatap orang itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kenapa lama sekali? Kami sudah lama menunggu, Kihyun uring-uringan dari tadi" ucap pemuda yang di setelahnya. Jimin hanya tersenyum kaku.

" Karena sudah lengkap, bagaimana kalau Hyunwoo langsung saja mengenalkan si manis ini" ucap Minhyuk

" Baiklah, ini Park Jimin, calon tunanganku" ucap Hyunwoo. Tangan Jimin yang masih menggenggam tangan Hyunwoo di bawah meja sudah sangat berkeringat karena gugup.

" Ayo kenalkan dirimu Jiminie" bisik Hyunwoo. Jimin pun mengangguk dan berdiri.

Malam itu menjadi salah satu malam yang sangat berharga karena Jimin di terima baik oleh teman-teman Hyunwoo dan Jimin dapat mengetahui lebih banyak tentang Hyunwoo dari teman-temannya, apalagi dari Kihyun yang lebih banyak tahu dan lebih mengerti Hyunwoo dibanding temannya yang lain.

Flashback Off


.

.

"Jiminie, kau mana boleh cemburu dengan Kihyun-hyung!" ucap Jimin memperingati dirinya.

" Kau mengatakan sesuatu?" tanya Yoongi saat dia sudah mematikan mesin motor. Dia turun dan menatap Jimin yang masih duduk di jok belakang .

"Emangnya aku mengatakan apa?" tanya Jimin kembali.

"Sepertinya kau tadi mengucapkan sesuatu"

"Aniyo, kau salah dengar" Jimin turun dan mendahului Yoongi masuk rumah.

.

.

.

Sore ini Jungkook sibuk membongkar lemari Taehyung. Kamar berukuran sedang itu sangat berantakan dengan baju-baju yang berserakan.

" Sial!" rutuk Jungkook kesal.

" Kenapa noona?" tanya Taehyung. Pemuda Kim itu masih menggunakan bathrobe putihnya. Duduk manis di atas ranjang sesuai perintah Jungkook. Taehyung di larang membantu, padahal ia sangat tidak tega melihat Jungkook yang sibuk dengan satu tangannya.

" Noona, aku bantu ya?" Jungkook tidak menjawab pertanyaan Taehyung, masih sibuk memadukan satu pakaian dengan pakaian lain.

" Kenapa semuanya tampak sesuai dengan Taehyung. Sialan! Kenapa dia harus tampan sekali? Aku jadi susah memilih mana yang baik sekarang" lanjut Jungkook menggerutu. Ia menggigit bibirnya, menandakan ia sedang bingung.

" Noona, kata Jeonghan-hyung temanya harus biru" sahut Taehyung lagi. Ia sedang bermain dengan ponsel Jungkook. Entah kenapa Jungkook tidak melarang Taehyung membuka ponsel Jungkook, yang merupakan privasi untuk sebagian orang.

" Kapan dia mengatakan itu?" tanya Jungkook. Taehyung bernafas lega setidaknya aksistensinya masih dapat dilihat oleh Jungkook.

" Ini dia mengirim pesan dan mengatakan jika temanya memakai warna biru. Baik model ataupun orang-orang management" jawab Taehyung. Jungkook mengangguk.

Jungkook menjatuhkan pilihannya pada baju kemeja dongker dan celana jeans hitam untuk Taehyung. Taehyung menerima semua yang dipilihkan oleh Jungkook.

Pakaian Jungkook sendiri dibawakan oleh Jimin dari kosnya. Dia juga memiliki pakaian warna biru, hanya saja kemeja miliknya berwarna lebih terang dari milik Taehyung.

"Noona!" panggil Taehyung. Jungkook mengalihkan tatapan dari ponsel ke Taehyung. Melihat pemuda yang terlihat semakin tampan setelah berkaca.

" Aku ingin satu permintaan darimu" Jungkook menatap Taehyung dengan alis yang diangkat sebelah.

" Tapi kau harus janji memenuhinya"

" Apa Taehyung?"

" Janji dulu kau harus memenuhinya setelah aku katakan"

" Iya"

" Benar? Kau harus memenuhinya ya" Jungkook mengangguk.

" Nanti dan seterusnya noona harus ada di sampingku. Noona hanya boleh mengurusku"

" Kenapa seperti itu?"

" Ya seperti itu. Aku tidak mau banyak orang yang mengurusku. Wajahku tidak bisa di sentuh oleh sembarang orang" jawab Taehyung. Jungkook memicingkan matanya, menatap Taehyung yang masih memandangnya.

" Baiklah, jika itu maumu" putus Jungkook.

.


.

" Dan aku mengenalkan Management baru yang akan dinaugi oleh Big, Dream Big!" semua orang bertepuk tangan, seiring dengan kilatan flash dan kamera yang menyoroti beberapa orang yang ada di atas panggung. Chanyeol tersenyum kecil ke arah media.

Jungkook yang berdiri di samping Taehyung merasa gugup karena flash yang juga mengarah kepadanya. Media seolah ingin mengulitinya. Taehyung yang paham perihal itu langsung menggenggam tangan Jungkook.

" Selamat sore semuanya, saya selaku pimpinan dari Dream Big berharap agar kami dapat bekerja dengan baik dan di terima oleh semua orang" Irene tersenyum. Dia memang di ajukan menjadi pimpinan Dream Big dan di terima oleh staff lain. Jin dipilih menjadi wakilnya. Sementara The Young Blood, yang terdiri dari Taehyung, Daniel, Jaehyun, Mingyu, Lucas, Guanlin, Yoongi dan Woojin di manageri langsung oleh tim management yang terdiri dari Jimin, Daehwi, Joy, Seungkwan, Jeonghan dan Jungkook. Teristimewa Jungkook memang difokuskan untuk mengurus Taehyung seorang . Selain itu juga ada staff lain yang mengurus management. Divisi Fashion Design sudah di bubarkan dan di sebarkan di beberapa divisi, salah satunya management baru ini.

"Selain pertanyaan mengenai management baru dan The Young blood tidak akan di jawab" ucap pembawa acara.

Sepanjang acara Jungkook hanya menunduk, dia tidak tahan dengan kamera dan bisik-bisik orang-orang yang hadir melihat peresmian itu.

" Tenanglah noona!" bisik Taehyung. Jungkook menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba percaya dengan Taehyung.

.

.

Sekarang The Young blood tengah berada di dalam sebuah ruang rapat yang santai. Chanyeol dan Irene duduk di depan, dengan Jaebum yang mengiringi Chanyeol. The Young blood dan staff yang hadir tengah berbincang mengenai rule-rule dan keinginan setiap model yang newbie itu. Setiap keinginan mereka akan di rundingkan, jika memang cocok maka akan diperbolehkan.

" Aku tidak ingin waktu padat Bae-sajang" ucap Daniel. Seongwoo terkekeh melihat kekasihnya yang sedang mengangkat tangan itu. Bagaimana mungkin waktu tidak padat saat kau harus banyak melakukan pemotretan.

" Mana mungkin bisa seperti itu" tanggap Irene. Dia memijit pelipisnya menghadapi anak-anak yang dari tadi banyak mau. Di sudut ruangan Taehyung sedang duduk dengan kepala tersandar ke bahu Jungkook. Jungkook terkekeh melihat banyak sekali aturan yang di tulis Taehyung. Taehyung mengatakan akan lebih mudah di tulis dan dibaca daripada di ucapkan. Jungkook sudah menyuruh Taehyung untuk istirahat setelah acara tadi, badannya mendadak panas. Taehyung yang tidak bisa minum obat menyebabkan flunya semakin berat. Mukanya sudah memerah.

" Taehyung, kau belum selesai?" tanya Irene.

" Belum Ahjumma!" jawab Taehyung. Jika saja tidak mengingat dia atasan yang di segani sekarang, Irene sudah melempar Taehyung dengan spidol yang dia pegang. Semua orang tertawa mendengar panggilan Irene dari Taehyung. Alasan sederhana saat orang lain bertanya mengapa Taehyung memanggil Irene Ahjumma.

" Kerena anak yang Bae-sajang kandung adalah calon adikku, tentu saja aku harus memanggilnya dengan panggilan Ahjumma" jawab Taehyung polos.

Tulisan Taehyung selesai. Joy membawanya ke Irene untuk di bacakan.

" Aku tidak mau di urus selain Jungkookie-hyung. Baik dalam masalah pakaian, make-up atau apapun itu" Irene mengeryit setelah membaca aturan nomor satu Taehyung.

" Jungkookie-hyung harus pergi kemanapun aku pemotretan dan management harus menjamin keselamatan Jungkookie-hyung dan aku. Model dan asistennya adalah aset management"

" Aku tidak mau melakukan pemotretan dengan perempuan, siapapun itu" Irene menghela nafas, kenapa banyak sekali permintaan pemuda tampan itu. Dia menggunakan ketampanannya untuk mengancam management yang akan merekrutnya.

" Aku tidak mau melakukan pemotretan tanpa pakaian" Irene menatap Taehyung. Semua orang yang ada disana juga menatap Taehyung dengan tanda tanya.

" Ya! Tentu saja aku tidak mau. Aku tidak di bayar lebih untuk menjadi model porno, lagi pula tubuhku terlalu berharga untuk dipamerkan" jawab Taehyung. Semua yang ada disana membenarkan.

" Sssttt… Daniel!" bisik Taehyung kepada Daniel yang berjarak dua meter darinya.

" Kau harusnya mengajukan permintaan untuk berkencan dengan sesama model. Kau lupa Ongie-hyungmu adalah model? Kita berada di management yang sama, biasanya management akan melarang ketat modelnya berpacaran" mendengar ucapan Taehyung, Daniel mengangkat tangan kembali.

" Apalagi Daniel?" tanya Irene. Dia harus memeriksa tekanan darahnya setelah ini.

" Aku mau agar kami dibolehkan pacaran dengan sesama model" teriak Daniel.

" Dengan Staff juga Ahjumma!" lanjut Taehyung. Mereka, belum menandatangi kontrak secara resmi sudah banyak sekali aturan yang ingin mereka ciptakan.

.

.

.

To Be Continued.

.

.