Summary : Taehyung (18 tahun) menaruh hati kepada sekretaris Perusahaan besar yang sangat cantik dimatanya, Jungkook(23 tahun) dan inilah cerita Taehyung dan Jungkook yang terlibat dalam satu garis takdir yang sama.

Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Wanna One, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. ? kenapa aku

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…

.


.

-DEAR TAEHYUNG-

(Someone Who Stole My Heart)

.

.

.


Chapter VII:

.

.

Management baru sedang mengadakan makan malam bersama merayakan peresmian mereka. Semua orang yang di Perusahaan ikut serta dalam makan malam tersebut.

" Noona, ini!" Jin memberikan jus jeruk kepada Irene. Wanita hamil itu tidak bisa minum bir atau soju. Irene mengucapkan terimakasih kepada wakilnya tersebut.

" Young Blood's kalian senang setelah petisi kalian di setujui?" tanya Irene kepada delapan pemuda yang tengah duduk berbaris dekat dengannya. Terlalu banyak permintaan dari mereka yang di setujui oleh Managemeng. Tapi ada beberapa hal yang tidak di setujui, seperti permintaan Daniel yang meminta jatah libur 3 hari dalam seminggu ataupun permintaan Woojin yang meminta banyak snack yang harus disediakan saat dia melakukan pemotretan.

" Siapa yang tidak senang Ahjumma!" teriak Woojin. Woojin juga ikut memanggil Irene seperti yang dilakukan Taehyung. Jihoon yang berada disampingnya langsung menjitak kepala kembarannya itu.

" Sakit bang—"

" Woojin, bahasamu!" Woojin langsung diam setelah melihat Jimin yang memberikan tatapan tajam kepadanya. Dia harus berhati-hati mulai sekarang, karena dia bekerja sama dengan kakaknya yang merupakan salah satu manager mereka.

" Kita kekurangan snack!" teriak Seungkwan di meja lain. Big memang menyewa satu restoran daging dekat kantor mereka malam ini. Direktur mereka dengan baik hati memberikan fasilitas itu kepada mereka.

" Noona, biar aku yang membeli makanan ringan di seberang. Ada Supermarket disana" Jungkook yang duduk di sebelah Irene menawarkan diri. Irene hanya mengangguk. Jungkook memang selalu seperti itu, baik sekali.

" Pergilah, dan hati-hati!" Jungkook mengangguk. Meninggalkan Taehyung yang sedang membenamkan diri di atas tangannya yang terlipat, dia tidak mau pulang tanpa Jungkook. Dan Jungkook harus ikut makan malam dengan orang-orang Perusahaan. Taehyung memutuskan untuk ikut bergabung, meski kepalanya dari tadi terus berdenyut sakit dan berat.

Riuh sakali malam ini. Beberapa dari mereka juga melakukan karaoke dadakan di dalam restoran. Jimin dan Seulgi sudah menari sesuai irama, Yoongi yang melihatnya langsung tersenyum saat melihat Jimin tertawa tanpa beban. Sungwoon dan Jisung ikut bergabung dengan mereka, kemudian beberapa orang lagi menyusul memecahkan suasana menjadi panas.

" Jungkookie-hyung kemana Ahjumma?" tanya Taehyung. Saat dia mengangkat kepala, dia tidak menemukan Jungkook di sampingnya.

" Dia ke seberang membeli snack" jawab Irene. Wanita anggun itu sedang memakan cumi-cumi dengan lahap.

" Sendiri?"

" Humm, dia pergi sendiri" jawab Irene. Taehyung membelalakkan mata. Tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Irene.

" Shit!" umpat Taehyung. Pemuda Kim itu langsung bangkit dan bergegas keluar dari restoran, mengabaikan panggilan dari teman-temannya.

" Ada apa?" tanya Jimin kepada Yoongi. Yoongi mengidikkan bahu tidak tahu, tiba-tiba saja Taehyung berlari keluar.

" Kenapa dia terburu-buru?" tanya Jin kepada Irene.

" Dia langsung pergi setelah mendengar Jungkook pergi sendiri membeli snack" jawab Irene lagi.

" Astaga! Jungkook!" Namjoon juga ikut berlari keluar restoran, diikuti oleh Yoongi.

" Kenapa memangnya jika Jungkook pergi sendiri?" tanya Seulgi.

" Ya ampun ! Aku lupa kalau Jungkook sekarang sudah terkenal. Kenapa kita biarkan dia pergi sendiri?" Jin menyadarkan mereka semua tentang apa yang terjadi. Mereka semua terdiam. Pantas saja Taehyung, Namjoon dan Yoongi langsung bergegas. Mereka pasti khawatir karena keadaan Jungkook.

..

" Noona!" Taehyung langsung memeluk Jungkook. Menyembunyikan Jungkook dalam pelukannya. Puluhan orang tengah menyerbunya dengan lemparan tomat, telur dan tepung. Jungkook hanya mampu diam saat hujatan datang kepadanya setelah ia keluar dari Minimarket.

" Apa yang kalian lakukan?" teriak Namjoon kepada mereka. Ia ikut melindungi Jungkook. Membantu Taehyung menjadi tameng untuk pemuda yang tengah menitikkan air mata itu.

" Dia pembunuh!" tukas salah satu remaja perempuan, mereka berdiri 3 meter dari Namjoon.

" Jungkook bahkan tidak menyentuh artis kesayangan kalian barang secuil pun. Jangan menghakimi orang lain seenak hati kalian" balas Namjoon. Dia sudah sangat marah sekarang. Di tambah Yoongi yang juga menatap tajam mereka.

" Aku akan melaporkan kalian semua!" sambung Yoongi. Dia tidak tahan melihat ketidakadilan yang ada didepannya. Jungkook tidak salah apa-apa. Dan mereka seenaknya mengambil kesimpulan.

" Seharusnya kau melaporkan Jungkook sialan itu. Dia sudah membuat Sejeong-noona menjadi sakit" kali ini pemuda lain menyahuti perkataan Yoongi.

" Bangsat kalian semua!" Namjoon sudah berjalan menuju sekumpulan orang itu, sementara mereka bergerak mundur.

" Sudah hyung. Aku ingin membawa Jungkookie-hyung pulang" ucap Taehyung.

" Taehyung-ah, lepaskan pelukanmu. Aku bau!" Jungkook memegang lengan Taehyung yang dapat dicapainya. Jungkook tidak mempermasalahkan hal ini. Wajar jika mereka marah. Artis kesayangan mereka sakit karena Jungkook.

" Tidak noona. Aku tidak akan melepaskanmu. Ayo kita pulang!" Taehyung membawa Jungkook ke pinggir jalan. Memberhentikan taksi dan pergi dari sana. Namjoon dan Yoongi tidak bercanda untuk melaporkan mereka semua. Mereka harus dapat ganjaran atas apa yang mereka lakukan, apalagi korbannya adalah Jungkook.

"Yoon, biar pengacara ayahku saja yang mengurus mereka. CCTV yang berada di sekitar sini cukup menjadi bukti" Namjoon dan Yoongi meninggalkan mereka yang tengah memandang Namjoon dan Yoongi dengan takut. Yoongi juga mengambil makanan ringan yang berserakan, yang sempat di beli Jungkook untuk mereka.

..

"Bagaimana Joon-ah?" Jin langsung mencerca Namjoon dengan pertanyaan saat melihat tunangannya itu masuk ke dalam restoran. Semua yang disana juga menanti penjelasan.

" Hyung, Jungkookie mana?" tanya Jimin. Dia mengamati Namjoon yang juga kotor terkena tepung.

" Taehyung membawanya pulang. Dia diserang oleh haters. Jungkookie-hyung benar-benar terkenal sekarang" jawab Yoongi. Dia meletakkan plastik yang berisi makanan ringan itu di atas meja.

" Sudahlah, Jungkook akan baik-baik saja. Sampai masalah ini selesai, dia pasti akan di serang terus" ujar Naeun. Dia sayang dengan Jungkook, seperti adiknya sendiri. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri jika Jungkook akan terus di serang oleh orang-orang yang membenci Jungkook.

" Noona, mana bisa kau terlihat santai seperti itu?" Jimin berteriak kepada Naeun. Kenapa Naeun tidak peduli dengan Jungkook.

" Jiminie, aku bukan tidak peduli dengan Jungkook tapi seberapa besar kau memungkiri seolah-olah hidup Jungkook baik-baik saja setelah semua ini terjadi?" tanya Naeun balik. Jimin menatap tajam kepada wanita yang lebih tua satu tahun darinya itu.

" Kenapa kau sangat kejam? Kau tidak mau membela Jungkook?" Jimin terus-terusan menuntut Naeun.

" Apa yang harus aku lakukan sekarang saat semua orang sudah menghujat Jungkook? Bahkan kau, sebagai seseorang yang dia anggap kakak, seseorang yang dekat dengannya. Kau tidak memperdulikannya Jimin!" ucap Naeun.

" Aku memperdulikan Jungkook. Aku khawatir dengan Jungkookie, noona" Jimin benar-benar tidak terima dengan ucapan Naeun. Naeun tidak berhak menyatakan ukuran seberapa besar sayangnya dia kepada Jungkook.

" Jika kau mengkhawatirkan Jungkook, seharusnya kau berada disampingnya. Bukannya menghabiskan malam dengan kekasihmu saat dia tertimpa masalah. Kissmark yang ada di lehermu menjelaskan semua. Dan kau tidak rapat hari ini, justru kau yang terpilih menjadi manager The Young Blood" jelas Naeun lagi. Jimin terdiam sebentar.

" Bangsat! Aku tidak pernah mengira semua ini akan terjadi, kenapa kau menyalahkanku, sialan!" teriak Jimin. Sebelum Jimin berjalan menuju Naeun yang duduk dekat pojok restoran, Yoongi dan Jihoon sudah menahan pemuda sipit itu.

" Berhentilah saling menyalahkan!" celetuk Bambam. Dia jengah dari tadi. Hampir saja Seongwoo juga berbicara, Bambam yang melihat itu langsung berucap menengahi mereka. Jika Seongwoo yang berbicara maka akan semakin rumit. Mulut pemuda itu tajam sekali.

" Geumanhae! Kalian berdua berisik sekali. Naeun, aku tahu kau emosi karena tidak dipilih berdasarkan vote untuk menjadi manager The Young Blood. Tidak seharusnya kau melimpahkannya kepada Jimin. Orang-orang memilih Jimin karena mereka percaya Jimin dapat mengemban tugas itu. Jangan kaitkan masalah persaudaraan Jimin dan Jungkook dengan pekerjaannya" Irene melerai mereka berdua.

" Sudahlah, aku mau pulang. Jika kalian ingin tetap disini tidak apa-apa. Kalau mau pulang juga silahkan" Irene berdiri. Seulgi dan Joy juga mengekor pimpinan mereka. Jimin juga diikuti beberapa orang lainnya pergi keluar restoran. Tidak nyaman untuk tinggal.

..

.

.


Taehyung membawa Jungkook masuk ke dalam taksi. Bau menyengat dari telur tidak membuatnya risih.

"Jalan Ahjusshi!" ucap Taehyung kepada supir taksi.

"Tae, Gwaenchana?" Jungkook yang melihat muka Taehyung semakin pucat. Jungkook memeriksa kening Taehyung, pemuda itu tengah bersandar di bahu Jungkook.

"Panas sekali astaga!"

"Ahjusshi kita ke rumah sakit du—"

"Tidak noona, ada dua mobil yang mengukuti kita di belakang, jangan ke rumah sakit" potong Taehyung. Taehyung memang melihat 2 mobil yang mengikuti mereka sejak masuk restoran tadi. Awalnya Taehyung tidak peduli, tapi sekarang sepertinya memang Jungkooklah sasaran mereka. Bisa jadi itu wartawan yang akan memburu Jungkook untuk berita.

"Kita kemana, Jungkook-sshi?" tanya supir taksi.

"Ahjusshi mengenalku?" tanya Jungkook kepada supir paruh baya itu.

"Semua televisi dan media memasang wajahmu, mana mungkin aku tidak tahu dengan anda" Jungkook mengangguk mengerti.

"Noona telepon daddy noona, Ahjusshi buat sementara mobil ini berjalan kemanapun, jangan berhenti. Takutnya mereka adalah orang jahat" ucap Taehyung. Kepalanya makin pusing. Taehyung tidak tahu kalau demamnya akan semakin parah.

"Sajang-nim!"

"Ada apa Jungkookie?"

"Ada dua mobil yang mengikuti kami, aku tidak tahu mereka wartawan atau bukan. Maaf aku meneleponmu Sajang-nim"

"Dengan siapa kau disana?"

"Aku bersama Taehyung naik taksi. Sekarang Ahjusshi-nya membawa kami berputar-putar dulu. Sajangnim, sakit Taehyung semakin parah, aku harus membawanya ke rumah sakit"

"katakan kepada Ahjusshi supir taksi untuk melewati wilayah Perusahaan, aku akan menyuruh orang-orang June, Hanbin dan Jackson untuk mengurus mereka"

"Baik Sajangnim"

"Pulang ke apartemenku Jungkook, aku akan memanggilkan dokter pribadiku untuk Taehyung. Terlalu beresiko untuk kalian jika ke rumah sakit jika berdua, nanti di lobi Jaebum akan menunggu kalian"

"Baik Sajangnim, saya dan Taehyung akan kesana"

"Oh satu lagi, kirimkan nomor plat taksinya"

"Ne Sajang-nim!" sambungan itu terputus. Jika saja Jungkook tidak mengikuti saran Taehyung untuk menghubungi Chanyeol, pasti mereka akan mendapat masalah baru lagi.

..

Jungkook menatap Taehyung yang memejamkan mata, pasti sangat menderita sekali dia. Jungkook tidak menyangka, Taehyung tetap memegang janjinya untuk selalu berada di samping Jungkook, padahal harusnya Jungkooklah yang selalu harus berada di samping Taehyung. Dan sekarang dia mengerti mengapa Taehyung melakukan itu, Taehyung mencoba melindunginya.

"Gomawo Taehyung-ah" bisik Jungkook sambil menggenggam tangan Taehyung yang dingin.

..

Ucapan Chanyeol tidak main-main, dua mobil yang mengikuti mereka tidak ada lagi sejak mereka melintasi jalan ke arah Perusahaan. Para pengawal dibawah pengawasan June, Hanbin dan Jackson pasti sudah mengurus mereka. Selain menjadi pegawai di Perusahaan, June, Hanbin dan Jackson juga diperintah Chanyeol untuk melatih orang-orangnya agar dapat menjadi pengawal yang kuat.

Jungkook dan Taehyung sampai di gedung apartemen Chanyeol. Jungkook mencoba membangunkan Taehyung yang sedang terlihat menahan sakit itu.

"Jungkook-sshi, semangat! Aku yakin kau tidak berbuat semacam itu" Jungkook tersenyum mendengar perkataan Ahjusshi supir taksi.

"terimakasih Ahjusshi" ucap Jungkook, ia keluar dari mobil sambil memapah Taehyung.

"Astaga Taehyung!" Jaebum langsung membantu Jungkook. Jaebum menggendong Taehyung di punggungnya. Tidak tega melihat pemuda yang hampir pingsan itu. Jungkook sendiri sudah mengambil nafas banyak-banyak karena memapah Taehyung dengan satu tangan yang sehat bukanlah hal yang mudah. Mereka menaiki lift menuju lantai dimana apartemen Chanyeol berada.

"Jadi haters sudah beraksi?" tanya Jaebum. Jungkook mengangguk lucu.

"Mereka sangat cepar beraksi hyung, aku tidak menyangka akan di serang di depan Supermarket. Kalau saja Taehyung tidak cepat datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi hyung" jelas Jungkook.

"Kau harus lebih hati-hati sekarang, mereka bisa semakin buas. Seorang fanatik bisa melakukan apa saja jika idola di ganggu" Jungkook mengangguk mengerti.

..

"Baringkan saja dia di kamarku, Jae. Setelah itu kau belikan Jungkook baju, Jinyoung kau temani Jungkook" Jaebum dan kekasihnya Jinyoung mengangguk patuh. Jaebum keluar apartemen, sementara Jinyoung mengambilkan handuk untuk Jungkook mandi.

"Gomawo, hyung" Jinyoung tersenyum melihat Jungkook. Pemuda Jeon itu selalu bisa menyembunyikan bagaimana perasaannya yang sebenarnya.

"bersihkan dirimu, hyung tunggu disini" Jungkook mengangguk lagi, sebelum masuk ke kamar mandi apartemen mewah itu.

..

Jungkook menatap dirinya di depan kaca yang ada di dalam kamar mandi. Menatap dirinya yang terlihat sangat menyedihkan.

"Geumanhae Jungkookie, jangan menangis!" pertahanan dirinya runtuh saat membayangkan nasibnya yang seakan berubah.

"hiks.. Kenapa hidupku sangat menyedihkan? Dosa apa yang aku lakukan dimasa lalu sampai terjadi seperti ini. Jungkookie, kau pasti sangat jahat dimasa lalu, hiks hiks"

"Apa kau pembunuh raja dulu? Kau pasti meracuni raja kan? Eomma... Aku tidak kuat jika lama-lama seperti ini. Aku tidak sanggup eomma!"

"kenapa airmatanya tidak berhenti keluar?" Jungkook menghapus kasar air matanya.

" Jungkook, Gwaenchana?" Jinyoung melihat mata sembab Jungkook sehabis keluar dari kamar mandi. Setengah jam dia di dalam kamar mandi.

" Aku baik-baik saja hyung" jawab Jungkook dengan suara serak.

" Keadaan Taehyung bagaimana hyung?" tanya Jungkook kepada Jaebum yang baru keluar dari kamar Chanyeol.

" Dia di infus. Dokter Minseok memeriksa keadaannya. Demamnya tinggi sekali, kalau kau mau melihatnya masuk saja" ucap Jaebum. Jungkook mengangguk.

Jaebum duduk di sofa. Jinyoung menyusul kekasihnya itu. Mereka melanjutkan tugas menyortir berkas. Jinyoung memang di ajak oleh Jaebum untuk menemaninya, Chanyeol juga sudah mengizinkan Jaebum untuk memanggil kekasihnya itu kesini.

..

" Sajangnim!" Jungkook berdiri di belakang Chanyeol, menatap Taehyung yang tertidur. Wajahnya masih pucat.

" Duduklah Jungkook" Jungkook mendekat ke arah Chanyeol dan duduk di kursi yang berada disamping Chanyeol.

" Eomma dan Appa-nya pasti sangat khawatir jika melihat kondisi Taehyung. Minseok-hyung mengatakan Taehyung hanya bisa meminum beberapa jenis obat tertentu. Proses penyembuhannya mungkin akan lama dari biasanya karena dia alergi obat. Taehyung disuruh istirahat total agar sembuh. Jungkookie, kau rawat dia ya" Chanyeol menghadap ke arah Jungkook. Menatap mata pemuda Jeon itu.

" Baik Sajangnim. Taehyung tanggung jawab saya sekarang" jawab Jungkook.

" Baiklah, kalau begitu aku tinggalkan Jungkook denganmu sekarang. Aku akan mengatakan kepada Irene agar kalian berdua mengambil izin tiga hari kedepan. Aku akan pergi ke Singapura dengan Jaebum. Pakaianmu dan Taehyung akan di urus oleh Jaebum nanti. Jaga dirimu, jaga kesehatan kalian, mengerti?" Jungkook kembali mengangguk.

" Baiklah, aku keluar dulu" Jungkook berdiri dan membungkuk sopan saat Chanyeol melewatinya. Dia duduk kembali di samping Taehyung.

" Cepat sembuh, Kim" bisik Jungkook. Ponselnya berbunyi, Jungkook langsung mengangkat panggilan dari Jimin.

" Hyung!"

"Kau ada dimana sekarang? Bagaimana keadaanmu?"

" Aku baik-baik saja. Sekarang aku ada di tempat aman"

" Dimana Jungkookie? Aku akan kesana"

" Andwe hyung! Aku baik-baik saja, sungguh. Jangan cemaskan aku. Katakan kepada hyungdeul yang lain jangan khawatirkan aku"

" Tap—"

"Hyung, percaya kepadaku. Mungkin tiga hari ini aku dan Taehyung tidak bisa masuk kerja. Taehyung sakit dan aku harus menjaganya. Hyung, jangan memikirkanku berlebihan Okay?"

" Baiklah. Jika terjadi apa-apa, janji katakan kepadaku?"

"Hum, pasti hyung" Jungkook menatap layar ponselnya yang sudah gelap itu.

"Setidaknya masih banyak yang sayang kepadamu Jungkookie" bisik Jungkook.

Setengah jam menunggui Taehyung, Jungkook hampir saja tertidur jika Jaebum tidak berpamitan dengannya. Pesawat Chanyeol akan take off 3 jam lagi, dan mereka harus ke bandara sekarang. Jungkook mengantarkan mereka ke pintu depan, Jinyoung juga pamit pulang. Dia tidak ada lagi keperluan disana. Jungkook kembali ke kamar Chanyeol, duduk di tempat semula, menunggui pemuda Kim yang tengah tidur itu.

"Noona!" Taehyung membuka matanya. Jungkook berusaha membantu Taehyung duduk bersandar dengan bantuan bantal di punggungnya.

" Aku haus" ucap Taehyung lagi. Jungkook mengambil air putih yang ada di nakas dan memberikannya kepada Taehyung.

" Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanya Jungkook. Taehyung mengangguk.

" Kita ada dimana?"

" Di rumah Sajangnim. Kau disuruh istirahat tiga hari oleh Sajangnim"

" Noona juga?"

" Bagaimana mungkin aku tidak libur sementara yang aku urus sedang meliburkan diri, Taehyungie" Taehyung tersenyum mendengar ucapan Jungkook.

" Noona, aku lapar! Pesankan aku Pizza" pinta Taehyung. Dia tidak sempat makan saat berada di restoran tadi. Salahkan kepalanya yang terus berdenyut, tidak bisa di ajak bekerja sama di depan banyak makanan lezat.

" Kau sedang sakit. Makan bubur saja ya" Taehyung menggeleng heboh. Tidak mau memakan makanan lembut itu.

" Aniyo noona! Shirreoyo!" ucap Taehyung.

" Pizza saja, Ppalli noona!" ucapnya lagi. Jungkook pasrah. Ia mengambil ponselnya dan menelepon tempat makanan yang menyediakan Pizza sesuai kehendak Taehyung.

..

Taehyung memakan lahap potongan pizzanya yang ketiga. Jungkook menggeleng melihat nafsu makan Taehyung, tidak terpengaruh dengan sakitnya.

" Lidahmu tidak pahit? Aku ragu kau benar-benar sakit Tae" ucap Jungkook.

" Aku harus makan, noona. Aku lapar sekali. Tadi di restoran aku tidak bisa makan"

" Kenapa? Salah kau sendiri, padahal disana makanannya enak-enak"

" Aku tidak suka seafood. Bau amisnya membuatku ingin muntah" jawab Taehyung. Dia terus melahap pizzanya, bahkan dia kembali mengambil potongan baru.

" Kenapa banyak sekali yang tidak cocok dengan tubuhmu?" Taehyung mengidikkan bahunya, tidak acuh. Dia sendiri tidak tahu kenapa tubuhnya begitu pemilih terhadap sesuatu.

" Noona, setelah ini ayo kembali tidur" Jungkook mengangguk dengan ajakan Taehyung. Hari ini cukup melelahkan dan dia butuh istirahat.

.

.

.

.

.


"Mereka ribut" gumam Jungkook. Dia sedang duduk di ruang makan milik Chanyeol. Terbangun tengah malam dan haus mengantarkannya ke ruangan ini. Jungkook menghela nafas, membaca ulang rentetan kalimat karya Bambam yang dikirim kepadanya, membuatnya sakit kepala. Naeun dan Jimin beradu mulut berdasarkan laporan dari Bambam. Satu masalahnya muncul lagi.

"Siapa yang ribut, noona?" suara berat dan wajah tampan hadir di samping tubuh Jungkook, dekat sekali membuat Jungkook terkejut bukan main.

"Kkamjjagiya! Ya! Taehyung-ah, berhenti buat aku mati muda" teriak Jungkook. Tangannya dari tadi sibuk mengusap dadanya, menyuruh dadanya untuk kembali tenang.

"Ayo jantung, nanti kau akan jatuh kalau terus berontak dan aku mati" gumam Jungkook kepada jantungnya sendiri. Taehyung terbahak melihat apa yang dilakukan Jungkook dan mendengar ucapannya.

"Jantungnya noona, jangan nakal"Taehyung ikut duduk di samping Jungkook dan ikut mengelus dada Jungkook. Jungkook langsung menepis tangan Taehyung.

"Ya! Nanti kau salah pegang" Jungkook langsung bergeser agak jauh dari Taehyung. Nyatanya, jantung Jungkook makin heboh berdetak karena perlakuan Taehyung.

"Noona, siapa yang tadi ribut?" Taehyung langsung mengalihkan pembicaraan mereka, karena Taehyung juga merasa apa yang Jungkook rasa.

"Ini!" Jungkook menggeser ponselnya yang ada di atas meja ke arah Taehyung, Taehyung langsung membaca pesan singkat dari Bambam itu. Mengangguk sekilas setelah ia mengerti dengan apa yang ia baca.

"Kenapa kau bisa bangun?" tanya Jungkook. Sekarang baru pukul tiga pagi dan Taehyung sudah bangun.

"Aku terbiasa bangun di jam ini, biasanya aku akan belajar dulu, lari pagi sebelum ada kelas jika di asrama" jawab Taehyung. Dia tidak mengalihkan perhatiannya dari ponsel Jungkook.

"Jinjja? Sepagi ini?" tanya Jungkook tidak percaya. Jungkook beranggapan bahwa pemuda seperti Taehyung adalah remaja yang akan bangun siang, tidak peduli kesehatan dan bisa memainkan perasaan orang yang menyukainya, tapi Jungkook bersyukur sepertinya Taehyung tidak seperti itu, minus point terakhir yang Jungkook belum tahu kebenarannya.

"Noona, jadi mereka berkelahi setelah kita pulang?" tanya Taehyung. Jungkook mengangguk.

"Jangan kau pikirkan mereka noona, mereka sudah berada di luar konteks masalahmu"

"Wae?" tanya Jungkook.

"Kau lihat, disini Bambam-hyung mengatakan jika Naeun itu iri dengan Jiminie-hyung karena dia berhasil jadi salah satu manager kami, tapi itu bukan masalahmu karena itu tidak ada kaitannya dengamu" Taehyung mencoba mempengaruhi Jungkook agar dia tidak ikut larut dalam masalah teman-temannya.

"Tapi disana mer—"

" Hanya karena Naeun memakai namamu untuk membuat Jimin-hyung emosi, bukan berarti kau juga ikut dalam permasalahan ini, noona. Noona, kau bisa gila jika memikirkan semua permasalahan orang lain. Tidak ikut campur kadang lebih baik noona" Taehyung mengambil satu tangan Jungkook, tangan yang tidak sakit. Mengelus tangan putih dan halus itu.

"Percaya kepadaku noona!" ucap Taehyung. Jungkook menatap Taehyung, kemudian mengangguk. Kenapa bocah yang 5 tahun lebih muda darinya ini lebih dewasa darinya.

"Taehyung!"

"Eung?" dengan wajah polos Taehyung menatap Jungkook. Jungkook memukul kuat kepala Taehyung setelah melepaskan tangannya dari Taehyung.

"Aw—kenapa memukulku, Sial—Aw aw ampun noona, apa salahku? Kenapa melakukan kekerasan dalam rumah tangga kita? Aw noon—"

"Tutup mulutmu, rumah tangga pantatmu! Lihat tanganmu itu, infusmu lepas, sejak kapan?" Taehyung meringis mendengar omelan Jungkook.

"Tidak tahu" jawab Taehyung sambil menundukkan kepala, menatap punggung tangannya yang sudah ada lelehan darah mengalir dari tempat jarum infus ditusukkan. Dia saja heran kapan lepasnya jarum itu, memang dia sejak tadi merasakan perih disana tapi acuh saja tidak peduli.

Jungkook terkikik melihat Taehyung yang seperti anak kecil jika dimarahi. Jungkook memegang dahi Taehyung, panasnya sudah turun, tidak sepanas tadi. Rona wajah Taehyung juga sudah membaik, tidak seperti sebelum istirahat yang sangat pucat.

"Apa sebaiknya dilepas saja ya?" tanya Jungkook. Taehyung langsung mengangguk.

"Lepas saja noona, aku sangat kesusahan membawa infus ini kemana-mana. Aku juga sudah tidak apa-apa"

"Sungguh noona! Aku sudah tidak apa-apa, ya setidaknya lebih baik dari tadi" Taehyung menghindari pandangan mata Jungkook.

"Baiklah, berhubung kita tidak bisa kembali memasangnya, lebih baik di lepas saja" putus Jungkook.

.

.

.

.

.

"Taehyung, kau lapar?" pukul delapan pagi mereka duduk di depan televisi, Jungkook memutuskan untuk membangunkan Taehyung yang tidur di pahanya. Pukul enam pagi mereka sudah mengganjal perut dengan beberapa potong roti yang mereka dapati di balas dekat kulkas, kini mereka duduk di depan televisi. Taehyung mengaku lemas dan tidur di paha Jungkook, sementara Jungkook menonton televisi. Sudah lama tidak menghabiskan waktu santai seperti ini,saat jutaan orang diluar sana memburu dan mencari berita tentangnya, tentu saja Jungkook tidak ingin melewatkan waktu berharganya saat ini.

Taehyung menggeleng, mengubah posisi tidur dengan menghadap ke perut Jungkook. Jungkook tidak bisa bergerak leluasa, terlebih Taehyung menahannya.

"Delivery atau minta saja seseorang mengantarkan makanan untukmu noona" ucap Taehyung dengan suara seraknya. Kepalanya semakin berdenyut.

"Sangat sakit?" tanya Jungkook saat melihat Taehyung tidak nyaman, tangan Jungkook memijit pelan kepala Taehyung, setidaknya dapat mengurangi rasa sakitnya.

"Rasanya ada seseorang yang mengetuk-ngetuk kepalaku dengan batu noona" adu Taehyung. Jungkook tersenyum, ada-ada saja perumpamaan yang dibuat Taehyung.

"Tidurlah lagi" Taehyung tidak lagi menjawab perkataan Jungkook. Jungkook mengambil ponselnya, menimbang siapa sebaiknya yang ia hubungi.

"Kookie!"

"Ya! Berhenti berteriak, kau dimana sekarang?"

"Ada di Perusahaan, management akan rapat sebentar lagi. Staff dan model wajib hadir, tapi kecuali kau dan Jungkook saat ini. Bagaimana keadaanmu di rumah Sajangnim?"

"Kau tahu aku ada dimana? Eoh, aku tahu sekarang, menjaga hubungan baik dengan mantan pacar ada gunanya ya. Jackson-hyung yang memberitahumu dimana aku, benar?"

"Hmmm, kau benar sekali. Aku mendengar para pengawal kantor membantu kalian lolos dari wartawan, langsung saja aku tanya dimana kau berada kepada Jack. Susah sekali memaksanya memberitahu dimana kau berada"

"Selain kau siapa yang tahu dimana kami? Selain Jackson-hyung cs"

"Tidak ada yang tahu, aku tahu kau pasti tidak mau membuat Hyungdeul khawatir"

" Kau yang terbaik Bam. Bamie, bantu aku! Aku kelaparan saat ini. Taehyung tidak bisa ditinggalkan, dan disini tidak ada yang bisa di makan"

"Kau juga dilarang bepergian sendiri mulai dari sekarang Jungkookie. Aku akan kesana setelah rapat. Aku mengajak Ongie-hyung tidak apa-apa? Nanti aku akan minta diantarkan sampai lobi saja oleh Youngjae-hyung"

"Terserah kau saja. Rahasiakan sementara dari Hyungdeul yang lain keberadaanku ya, Ongie-hyung tidak apa-apa diberitahu, Ongie-hyung masih bisa ditolerir jika itu menyangkut kontrol emosional Bam"

"Oke. Aku akan Ongie-hyung ada pemotretan diluar ruangan setelah makan siang nanti"

"Hati-hati saat kau kesini, jaga keselamatan"

"Ye, Bye!"

.

.

.

"Jadi ada kabar dari Jungkookie dan Taehyung?" tanya Jimin. Semua yang ada disana menggeleng. Rapat sebentar lagi akan di mulai. Joy yang membuka rapat kali ini. Irene akan mengumumkan suatu hal penting kepada mereka semua.

"Jiminie, Taehyung bukan orang bodoh yang tidak bisa menjaga Jungkookie, tenanglah" bisik Yoongi di samping Jimin. Jimin langsung memukul kepala Yoongi dengan ganas.

"Aku lebih tua darimu bodoh!" ketus Jimin. Daniel yang duduk diseberangYoongi hanya tertawa, dari saat datang, ia tidak pernah lepas dari Seongwoo yang duduk disampingnya. Daniel menatap sahabatnya yang sedang dalam berbagai ekspresi. Mingyu yang terlihat lesu karena dipaksa bangun pagi oleh Seungkwan, dia diteror oleh puluhan kali panggilan telepon dari Seungkwan. Bahkan Jeonghan juga ikut memberinya alarm pagi dengan ikut melakukan hal yang sama dengan Seungkwan. Jaehyun yang tersenyum terus melihat Taeyong, Guanlin yang menghela nafas terus-terusan, Lucas yang sangat pucat dan menghindar saat bertatapan dengan Winwin. Woojin dan Taehyung sedang absen. Taehyung sedang sakit dan Woojin yang sedang sekolah. Itulah penyebab Guanlin yang tidak semangat hari ini, kembaran Woojin belum memberi kabar kepadanya dari pagi.

" Perhatian semua, jangan membuat Bae-sajang sakit kepala saat rapat eoh" pinta gadis manis itu. Semua disana mengangguk. Jin sudah duduk dekat Joy dan Wendy.

Irene masuk dan duduk di kursinya. Dengan matanya, ia melihat semua orang-orang yang ada di managementnya.

" Minus Jungkook, Taehyung dan Woojin. Mereka akan mendapat kabar setelah ini. Jadi aku mengumpulkan kalian disini adalah untuk memberitahu untuk anggota management Big Dream mendapatkan fasilitas apartemen di belakang Perusahaan. Ini untuk memudahkan akses jika ada pemotretan dadakan dan menjaga model dari paparazzi, ini keputusan dari Perusahaan. Lantai satu sampai lantai tiga untuk staff sementara lantai empat sampai lantai enam untuk model dan artis" ucap Irene. Semua yang ada disana bisik-bisik mengenai hal ini. Perusahaan sangat loyal kepada mereka.

"Daebak! Jadi gedung megah yang di belakang perusahaan adalah apartemen untuk kita!" celetuk Chanwoo, seorang model yang cukup lama di bawah naungan perusahaan itu. Jinhwan langsung menyenggol lengan Chanwoo, bukan saatnya takjub sekarang.

" Kapan kami bisa pindah kesana Bae-sajang?" tanya Mingyu. Mendengar apartemen baru, membuat pemuda tinggi itu sedikit semangat, ada Lucas dan Jaehyun yang akan membangunkannya pagi hari seperti saat di asrama, mendapat terror tiap pagi berdampak buruk terhadap mood-nya.

"Hari ini. Kalian bisa pindah hari ini. Khusus Young blood kalian mendapat satu apartemen untuk bersama" ucap Irene.

"Seperti asrama?" tanya Jaehyun. Irene mengangguk.

" Karena konsep kalian memang team, Perusahaan memfasilitasi tempat semacam dorm untuk kalian" anggota Young Blood mengangguk mengerti.

Pagi ini mereka berdiskusi tentang kegiatan baru Management mereka. Beberapa dari mereka ada yang langsung melakukan pemotretan. Bahkan anggota Young Blood yang hadir juga memiliki jadwal pagi ini. Kecuali untuk pemotretan team akan ditunda karena anggota mereka belum lengkap.

Jimin, Seungkwan dan Jeonghan langsung turun tangan mengiringi mereka pemotretan sementara yang lain mengurus persediaan pakaian dan make up mereka.

.

.

Jungkook membukakan pintu apartemen saat beberapa saat yang lalu mendengar suara bel. Paha Jungkook yang awalnya menjadi bantal Taehyung kini sudah digantikan dengan bantal yang sebenarnya. Tidur Taehyung tidak terusik, mungkin karena pengaruh obat yang ia minum membuat pemuda itu tertidur lelap sekali.

" Bam!" Jungkook langsung memeluk Bambam. Setelah itu berganti dengan memeluk Seongwoo yang tengah tersenyum kepadanya.

" Kau baik?" tanya Seongwoo. Jungkook menggeleng.

" Tidak hyung!"

" Tunggu! Kenapa lebab di dekat pelipismu?" Seongwoo mengelus bagian biru dekat mata kiri Jungkook.

" Mungkin terkena telur kemarin. Aku tidak sadar" jawab Jungkook enteng. Ia mengambil bungkusan yang dibawa Bambam dan membawanya masuk. Menyusul Bambam dan Seongwoo menyusul dibelakangnya.

" Apartemen Sajangnim mewah sekali!" ucap Seongwo takjub.

Jungkook membawa makanan yang dibawa mereka ke belakang. Sementara kedua model terkenal itu berkeliling melihat apartemen Chanyeol. Suatu kehormatan untuk mereka dapat masuk secara langsung ke dalam rumah orang nomor satu di Perusahaan mereka.

"Hyung, lihat wajahnya polos sekali saat tidur, Tampan! Sempurna!" puji Bambam saat menatap Taehyung tidur.

"Hum, dia sangat sempurna. Bahkan Daniel saja kalah dengannya" Seongwoo ikut berjongkok disamping Bambam, mereka mengamati Taehyung yang tertidur di sofa.

"Berhenti menggosipi orang yang tengah tertidur" Jungkook membawa sarapannya dekat mereka. Duduk di atas karpet, bersandar di kaki sofa tempat Taehyung tidur.

" Kookie, kau tahu, dengan skandalmu yang saat ini memuncak membuat gosip tentangku dan Bambam hilang" ucap Seongwoo. Dia duduk dekat Jungkook. Ikut membuka mulut saat Jungkook menyendok makanannya, kode minta disuapi.

"Gosip kau yang berkencan dengan Daniel dan Bambam yang tengah dekat dengan pengusaha muda asal Amerika itu?" keduanya mengangguk.

" Semua orang fokus kepadamu sekarang Jungkook. Its like you, Taehyung, Sejeong and Eunwoo in the same circle" tanggap Bambam.

" Entahlah Bam. Very difficult to explain how I am now" jawab Jungkook pasrah. Seongwoo menggenggam tangan Jungkook.

" Kau hanya perlu kuat menghadapi semua ini. Aku, kami semua percaya kepadamu, kau bisa" ucap Seongwoo. Jungkook menyeka airmatanya yang entah sejak kapan sudah mengalir. Ia mengangguk. Semua orang percaya jika ia bisa, ia hanya perlu membuktikannya.

" Hyung, kita tidak bisa lama, Youngjae dari tadi sibuk mengirim pesan agar kita cepat" ucap Bambam menginterupsi.

" Baiklah. Sepertinya kami tidak bisa lama-lama disini" Seongwoo berdiri. Jungkook dan Bambam juga ikut berdiri. Jungkook mengantar mereka sampai pintu.

" Cepat sembuh untuk tanganmu, dan katakan kepada Taehyung tampan untuk juga cepat sembuh jika dia bangun nanti" Jungkook memukul lengan Bambam saat pemuda centil itu berucap.

" Kami pergi Kookie-ya!" ucap Seongwoo. Jungkook mengangguk dan tersenyum melihat mereka melangkah keluar pintu.

.

.

Saat hari terakhir libur Taehyung dan Jungkook, keadaan keduanya sudah membaik. Taehyung sudah hampir sembuh dan tangan Jungkook tidak perlu dibebat lagi. Sudah bisa digerakkan meski harus hati-hati. Minseok juga datang untuk memeriksa mereka kemarin, memastikan kondisi mereka berdua.

" Tae, ponselmu berbunyi" ucap Jungkook. Ponsel Taehyung dari tadi berbunyi sangat berisik. Taehyung tengah memakan ramen yang dibuatkan Jungkook untuknya. Mereka tengah makan siang saat ini. Karena kesal Taehyung langsung mengangkat panggilan itu.

" Wae?"

" Kau dimana? Kenapa tidak ada di Perusahaan? Tadi aku juga mencarimu di Dorm"

" Aku sedang ada di rumah. Ada apa?"

" Aku sedang di Perusahaan sekarang"

" Wae? Kenapa kau ada disana? Kau sedang bermasalah dengan siapa di Big?"

" Aniyo, seenaknya saja menuduhku. Aku bekerja sekarang?"

" Jinjja? Bekerja di Big? Kau mencurigakan Jae-ya"

"Astaga! Kenapa tidak percaya. Sudah dua hari aku masuk dan aku terus mencarimu tapi tidak pernah bertemu. Aku diterima disini"

" Bagaimana caranya kau diterima di Big?"

" Aku menjual namamu kepada Sajangnim. Aku mengatakan kalau aku sahabatmu dan aku butuh pekerjaan"

" Sialan kau! Bang—aw! Berhenti memukul kepalaku noona" rintih Taehyung

" Hahaha rasakan. Aku juga sudah di tes oleh June-hyung dan aku berhasil masuk ke dalam tim keamanan server dan data Perusahaan"

" Baiklah, terserah kau saja"

" Tae, ada hal penting yang aku ingin bicarakan. Ini mengenai Eunwoo dan Sejeong. Aku rasa kau dan Jungkookie-hyung perlu tahu"

" Apa itu Jae?"

" Lebih baik kita bertemu, ini sangat penting. Semuanya kesalahan Tae, Eunwoo dan Sejeong"

.

.

.

To Be Continued.

Maaaf slow update banget yaaa…. Mianhae !

Semoga Chapter depan cepat Up yaaa... dicepetin aja ga ya alurnya? Biar cepat end hehehe