Summary : Taehyung (18 tahun) menaruh hati kepada sekretaris Perusahaan besar yang sangat cantik dimatanya, Jungkook(23 tahun) dan inilah cerita Taehyung dan Jungkook yang terlibat dalam satu garis takdir yang sama.
Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc
Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Other Cast : Member BTS, Wanna One, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya
Rate : T – M
Genre : Romance, Friendship
Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. ? kenapa aku
Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…
.
.
-DEAR TAEHYUNG-
(Someone Who Stole My Heart)
.
.
.
Chapter IX:
.
.
" Aw, aww sakit Noona!" Taehyung berteriak keras saat Jungkook menekan kapas ke lukanya, sementara Daniel sudah santai sambil memakan cemilannya dengan Jaehyun. Mereka sedang berada di dorm sekarang. Taehyung merasa kesal sendiri melihat Daniel yang santai tanpa memikirkan keadaannya, luka yang dibuat Daniel di wajahnya.
" Ya! Kau senang sudah memukul wajahku?" tanya Taehyung kepada Daniel. Daniel hanya menanggapi Taehyung dengan alis yang diangkat, tidak mengerti apa yang ditanyakan pemuda Kim itu.
" Wajahku lecet bangsat! Dan kau senang sekarang?"
" Aku hanya menghayati peran Tae, aku menghayati peran seseorang yang sedang kesal karena kekasihnya selingkuh dengan sahabatnya, kau harus mengerti!"
" Bagian mana yang harus aku mengerti ketika kau sekarang sedang senang, membuat aku tidak tampan lagi? Aku tidak tampan noona?" Jungkook mengangguk menjawab pertanyaan Taehyung. Taehyung merengut.
" Daniel Sialan! Mati kau sana!" umpat Taehyung. Mereka ada istirahat menjelang shoot nanti siang pukul dua. Hal itu dimanfaatkan oleh mereka untuk bersantai sejenak. Taehyung tengah tidur di paha Jungkook, di atas sofa-bed yang memang sudah di klaim oleh Taehyung sebagai daerah kekuasaannya. Di dorm mereka hanya memiliki 3 ruangan, satu ruangan besar tanpa sekat berfungsi sebagai tempat santai merangkap ruang tamu, ruang menonton dan dapur, disana juga ada satu kamar dan satu kamar mandi. Ruangan besar itu mereka gunakan untuk bersantai, ruangan yang memiliki dua set sofa, satu set televisi besar dan konsol game. Di sudut lain terdapat counter dapur dan satu set meja makan panjang.
Sementara di kamar tidur mereka, ada tiga buah King-bed dan sebuah ruangan wardrobe untuk mereka. Mereka tidak protes dengan adanya satu kamar, toh sebelumnya mereka sudah bersama dalam satu kamar di asrama. Taehyung tidur di sofa-bed, malam tadi dia mengajak Jungkook tidur dengannya disana, bermodalkan bantal dan selimut mereka tidur berhimpitan disana, Jimin mendadak ingin tidur di tempat Hyunwoo-hyungnya, membuat Jungkook dipaksa Taehyung dengan alasan tidak ada yang menemani. Lucas juga lebih senang tidur di ruangan besar itu, dia tidur dengan sleeping-bag-nya di depan televisi.
" Hei!" Minhyun masuk ke dalam dorm, bersamaan dengan manager Young blood yang lain membawa beberapa berkas. Sebagian dari mereka tidak peduli, Daniel tetap memakan cemilannya dengan Jaehyun sambil menonton televisi. Lucas, Guanlin dan Mingyu sedang bermain gitar dan bernyanyi di sofa panjang dekat jendela. Sementara Yoongi tidur di dekat Daniel. Woojin sedang berada di sekolahnya.
" ada apa kesini hyung?" tanya Jungkook penasaran, masalahnya jarang sekali hyung-nya yang bekerja di divisi HRD itu meninggalkan tempatnya jika bukan mengenai hal penting.
" Aku ingin klarifikasi data mereka sebentar" ucap Minhyun. Jungkook mengangguk mengerti.
" Tae, bangun sebentar" Jungkook menggoyang-goyangkan lengan Taehyung, hingga pemuda itu terpaksa bangun duduk dengan muka mengantuk. Taehyung menyandarkan kepalanya ke bahu Jungkook yang ada disampingnya.
" Aku sudah mendata dan memasukkannya ke dalam web, coba kalian lihat data kalian" Young blood langsung membuka ponselnya dan membuka web mengenai info personal mereka. Taehyung memberikan ponselnya kepada Jungkook, meminta pemuda manis itu melakukan itu. Jungkook mendengus, tetapi tetap mengambil ponsel Taehyung. Dia sudah hafal pola untuk membuka ponsel Taehyung.
" Tae, kau yakin tidak membuat data dan informasi mengenai orangtuamu?" tanya Minhyun. Jungkook juga sedang membaca data Taehyung, bagian mengenai orangtua memang kosong, tidak ada informasi sedikit pun.
" Kalau hyung ingin mengisinya, isi saja kedua orangtuaku bekerja di luar negeri" jawab Taehyung. Ia tidak mungkin dengan gamblang menginformasikan bahwa ia adalah anak kandung dari Baekhyun si model terkenal dan Daehyun, prosuder yang tengah mendunia. Ia tidak sepicik itu untuk naik daun dengan memakai nama orang tuanya, lagipula ia tidak mau membongkar kabar mengenai ibunya, biarlah ibunya sendiri yang membuka diri kepada publik. Tentang hubungan ibunya dengan Daddy, pernikahan ibunya dengan appa-nya, tentang dirinya dan tentang si kecil Jiwon.
" Padahal yang lain memiliki orangtua yang sangat daebak! Apa kedua orangtuamu juga begitu Tae?" tanya Seungkwan yang duduk di sebelah Minhyun. Para manager yang duduk di dekat Minhyun juga membaca data Young blood, tetapi dalam bentuk hard-copy.
" Orangtuaku hanya orangtua biasa, hyung!" jawab Taehyung. Anggota Young blood ditambah Jungkook melirik ke arah Taehyung, biasa darimana dan bagaimana? Jika ibumu adalah lelaki cantik model terkenal. Untuk ayah Taehyung, hanya Yoongi yang mengetahui di antara anggota Young blood jika ayah Taehyung adalah Daehyun. Yoongi mengetahuinya ketika Taehyung mengajak Yoongi berlibur ke tempat ayahnya di New York saat libur semester dua tahun lalu. Taehyung mengajak Yoongi karena Yoongi memang hanya di asrama saja saat liburan, saat itu Yoongi tidak memiliki tempat untuk pulang. Dan dari sanalah Yoongi mengetahui jika ayah Taehyung adalah orang terkenal, dan bakat terpendam Yoongi menjadi pencipta lagi tiba-tiba bangkit setelah ayah Taehyung memperkenalkan studio kerjanya kepada Yoongi.
" Orangtua kalian semuanya pengusaha terkenal. Bagaimana bisa kalian tidak diliput atau disorot wartawan ketika orangtua kalian menjadi terkenal di bisnis mereka?" tanya Joy.
" Karena memang kami tidak ingin terkenal, dulu" kini Daniel yang menjawab. Joy mengangguk membenarkan. Jika memang tidak siap untuk terkenal, menghadapi sorot kamera ke arahmu adalah hal yang merepotkan.
" Sekarang untuk rekening kalian, aku akan mendatanya untuk data Perusahaan. Chim keluarkan rekening mereka" Jimin mengeluarkan delapan buah rekening dari dalam tasnya. Rekening milik Young Blood. Para manager juga mengambil beberapa rekening yang Jimin letakkan didekat Minhyun, memeriksa jumlah nominal uang yang dimiliki pemuda-pemuda tampan itu.
" Daebak! Mwoya ige?" teriak Jeonghan tidak percaya. Dia menghitung nol yang mendampingi tiga buah digit angka di rekening Daniel.
" Annyeong Yeorobun! Pacar tercinta Alin datang!" Jihoon masuk ke dalam dorm itu, berteriak dengan semangat dan senyum cerah di wajahnya. Dibelakangnya mengekor Woojin dan Hyungseob.
" Kenapa berteriak sayang?" tanya Guanlin kepada Jihoon yang ada di pangkuannya, remaja manis itu langsung menuju Guanlin saat baru datang. Woojin duduk di dekat Daniel, sementara Hyungseob menuju kulkas, mengambil air dingin.
" Kenapa cepat pulang?" tanya Daniel kepada Woojin.
" Guru ada rapat dengan yayasan dan kami disuruh pulang cepat" jawab Woojin. Pemuda gingsul itu membuka tas dan mengeluarkan laptopnya, menyicil tugas resume sejarah Korea yang akan dikumpulkan minggu depan. Dia harus pandai mengatur waktu, tidak seperti hyung-nya yang lain, dia harus membedakan jadwal sekolah dan kerja.
" Daebak ! bahkan rekening Woojin banyak isinya!" kini Joy menyeletuk.
" Apa Appa memberimu uang banyak?" tanya Jimin kepada adiknya itu. Woojin langsung menatap kakaknya dengan raut tidak suka, dituduh seenaknya.
" Appa hanya memberiku uang seadanya, hyung! kau dan Jihoon kenapa hobby sekali menyiksaku dengan tuduhan-tuduhan kalian" misuh Woojin. Derita menjadi seme diantara para saudaranya yang uke.
" Habis kenapa isi rekening kalian banyak sekali? Kalian menjual diri kepada Gigolo?" Kini semua anggota Young Blood melotot mendengar pertanyaan Jimin. Lagi-lagi terdengar seperti tuduhan bukan pertanyaan.
" Hyung, Geumanhae! Jangan menuduh mereka sembarang!" ucap Jihoon membela. Dia sudah bersandar nyaman di dada Guanlin.
" Wajar jika Jimin menuduh, kalian sudah menghasilkan uang yang tidak sedikit, kalian semua sudah bisa menghidupi sebuah keluarga kecil dengan kehidupan mewah setidaknya 3 tahun pernikahan. Ini juga lihat, bahkan Taehyung sudah bisa membeli apartemen mewah di Seoul" jelas Jeonghan.
" Sini aku beritahu hyung, mereka selain sekolah juga bekerja. Mereka bekerja sebagai seniman Mural dan Grafiti, mereka mencoret-coret dinding agar cantik dan artistik, mereka mendapatkan uang dari itu. Uang yang mereka dapatkan dari setiap job yang mereka kerjakan tidak sedikit. Dengan sekali job, Alin bisa membawaku makan direstoran mewah hotel ternama di Seoul tiga kali berturut-turut. Apalagi jika mereka memiliki penyewa jasa yang berseni tinggi,mereka tidak dibayar murah untuk keahlian mereka. Rata-rata Mural dan Grafiti tempat terkenal di Seoul adalah hasil tangan mereka" Jelas Jihoon. Dia menjeda sebentar penjelasannya sebelum melanjutkan dari mana uang yang datang dalam rekening Young Blood.
" Selain itu, Yoongi-hyung juga bekerja sebagai pelatih basket. Woojin jelek, Danik-hyung dan Lucas-hyung bekerja sebagai pelatih dance, Mingyu-hyung menjadi asisten koki di Hotel ayahnya, Tae-hyung sebagai freelance photographer di salah satu situs ternama dan Alin tercintaku bekerja sebagai model. Jadi tidak heran jika mereka mendapatkan banyak uang di rekening mereka" jelas Jihoon.
" Ya! Sakit Sialan!" teriak Jihoon saat mendapat lemparan botol minuman dari Woojin.
" Tidak menyebutku jelek juga, Si—"
" Stop! Kalian dimanapun selalu berkelahi" Jimin menengahi, heran melihat kedua adik kembarnya itu, tidak pernah akur kecuali dalam mengerjai Jimin.
'jadi ini pekerjaan yang kau maksud Tae?' batin Jungkook sambil melihat Taehyung yang kembali tidur di pahanya.
.
.
" Tae, aku akan ke rumah sakit, aku mau menjenguk Sejeong" ucap Jungkook serius kepada Taehyung yang sudah selesai shoot. Hari ini mereka memang siap sore, karena tadi juga memulai pagi sekali. Studio juga harus dipakai oleh model lain yang memiliki jadwal setelah mereka.
" Aku ikut noona!" ucap Taehyung. Jungkook melihat Taehyung yang sedang menghapus make-upnya. Dengan senang hati manager manis itu membantu Taehyung, ia mengambil alih tisu yang ada di tangan Taehyung. Jungkook berdiri diantara dua kaki Taehyung, jarak mereka sangat dekat. Jungkook paling senang mengamati wajah tampan Taehyung.
" Lihat mereka, romantis sekali" bisik Jeonghan kepada Seungkwan yang ada disampingnya.
" Aku jadi merindukan Sungjae!" sambung Joy yang ada disampingnya. Dua manusia yang berlabelkan model dan manager-nya itu sudah menjadi salah satu couple favorit staff Big Dream. Mereka sudah hafal betul seorang Taehyung yang selalu menempel kepada Jungkook. Dan Jungkook yang selalu memperhatikan Taehyung dan hal-hal yang berkaitan dengan pemuda tampan itu.
" Noona, kita kapan pergi ke rumah sakit?" tanya Taehyung. Jungkook mengunyeli pipi Taehyung yang sudah bebas dari bedak.
" Sebentar lagi, setelah kau makan. Kau melewatkan makan siangmu demi menyelesaikan pemotretan ini. Teman-temanmu yang lain juga sudah kabur setelah selesai shoot. Ayo kita pergi!" Jungkook menarik tangan Taehyung agar berdiri, pamit kepada orang-orang yang berada di studio untuk pergi dari sana.
..
" Tunggu noona!" Taehyung mengejar langkah Jungkook yang sangat cepat. Meskipun mereka sudah menutupi wajah dan penampilan mereka agar tidak dikenali tapi tetap saja kamera ponsel menyoroti mereka. Jungkook menghindari itu. Dia tidak mau membuat masalah baru, apalagi untuk Taehyung.
" Ayo cepat!" Jungkook menarik tangan Taehyung dan cepat masuk ke dalam lift, Jungkook mengetahui ruang inap Sejeong dari pesan singkat yang kirimkan Mina, manager Sejeong.
" Noona, kau tidak apa-apa bertemu dengan Sejeong?" Jungkook tersenyum dan mengangguk mantap. Dia ingin melihat kondisi Sejeong, Sejeong tidak bersalah dan Jungkook tidak ingin membuat Sejeong jadi merasa terpukul dengan menyalahkan diri sendiri.
Jungkook mengetuk pintu ruang inap Sejeong, Mina membukakannya dan mempersilahkan Jungkook dan Taehyung masuk.
" Jungkook!" seru Sejeong. Dia tidak percaya Jungkook masih sudi melihat keadaannya. Dia tidak berharap banyak, dia akan tetap terima jika Jungkook akan semakin menyalahkannya.
" Bagaimana kabarmu?" Jungkook duduk di samping Sejeong, ia juga meletakkan buah yang ia bawa di atas nakas dekat ranjang Sejeong. Sementara Taehyung sudah menyelonong duduk di sofa yang ada disana.
" Ba-baik, aku baik-baik saja" Sejeong mencoba tersenyum. Jujur saja, ia amat merindukan Jungkook. Dulu, Jungkook adalah orang yang akan selalu mendengarkan masalah Sejeong, si manis itu akan memberikan pendapat, memberikan sudut pandang dan saran untuk masalahnya.
" Aku tidak tahu jika semua ini akan melukai kita semua, tapi aku tidak mau kau semakin larut dan menyalahkan dirimu sendiri. Eunwoo sudah menceritakan semuanya kepadaku" ucap Jungkook. Mina keluar sebentar, meninggalkan mereka bertiga. Taehyung hanya diam di tempat.
" Kau tidak membenciku?" Jungkook menggeleng. Dia langsung memeluk Sejeong yang sudah menitikkan air mata.
" Kau jangan berani melakukan hal bodoh lagi. Hidupmu sangat berharga" ucap Jungkook.
" Kookie-yaa" Sejeong menangis dalam pelukan Jungkook.
Taehyung tidak menyangka jika Jungkook akan melakukan hal itu. Jungkook adalah orang yang sangat baik. Bahkan dia memaafkan semua kesalahan Sejeong dan Eunwoo.
"Jungkook-ah, aku minta maaf atas segala yang sudah terjadi, aku sangat menyesali apa yang telah terjadi. Aku akan berhenti dari dunia hiburan" ucap Sejeong.
"Wae? Kenapa kau melakukan itu? Karirmu sedang naik dan Kenapa kau memutuskan untuk berhenti?"
" aku ti—"
" aku datang!" sahut seorang pemuda yang baru datang.
"Rowon-ah!" Jungkook berdiri dan menyambut pemuda yang baru datang.
"Hei Jungkook!" sapa Rowon dengan baik.
" Jungkook, alasanku berhenti adalah aku ingin menjaga anak kami. Aku tahu semua hal yang ada sangat sulit tapi Rowon membuatku sadar jika aku bisa melalui semua ini" ucap Sejeong.
" apa maksudmu? Kau sedang hamil?" tanya Jungkook tidak percaya. Sejeong hanya mengangguk.
" kemarin aku depresi, semua masalah datang kepadaku, masalah dengan manajemen, mengenai hutang yang harus aku bayar. Dan aku baru tahu jika ada nyawa lain di dalam tubuhku"
" Sejeong mengandung anakku Jungkookie!" lanjut rowon.
" Jinjja?" tanya Jungkook kepada kedua temannya itu. Hanya saja Jungkook tidak percaya bahwa ini akan terjadi. Sejeong Dan Rowon menjalin suatu hubungan. Kedua orang berbeda jenis kelamin itu mengangguk.
" Kalau begitu selamat untuk kalian, aku harap baik kalian baik-baik saja" Jungkook tersenyum kepada Sejeong.
" Jaga kesehatanmu dan Jangan memikirkan masalah yang berat. Oh, Aku tidak bisa lama di sini. Kabarkan aku jika kalian menikah, eoh?" Jungkook memeluk Sejeong, sebelum mengajak Taehyung keluar dari sana.
Mereka tertawa bersama, Jungkook senang setidaknya masalahnya dengan orang lain berkurang.
"Noona, jjang!" Puji Taehyung saat mereka keluar dari ruangan Sejeong.
Dan sore itu juga, mereka melihat Sejeong di acara gosip yang menjelaskan semua apa yang terjadi antara dirinya, Eunwoo dan Jungkook. Dengan begitu, semua cercaan untuk jungkook mulai menghilang.
.
.
Taehyung menyelesaikan shoot single-nya, berganti dengan Yoongi sekarang. Pemuda tampan itu duduk di dekat Jungkook. Jungkook juga dengan cekatan mengelap keringat Taehyung dengan tisu yang ia pegang.
" Ponselmu berbunyi!" ucap Jungkook. Taehyung mengambil ponselnya dari dalam tas yang ia letakkan di atas meja dekat mereka.
" Ini eomma, aku angkat sebentar ya noona!" Jungkook mengangguk. Ia tersenyum, mengamati Taehyung yang menjauh menjawab panggilan dari Baekhyun.
"Eomma!" Taehyung menyapa ibunya saat melihat wajah ibunya di layar canggih miliknya.
" Bagaimana kabarmu?" tanya Baekhyun lembut.
" Sangat melelahkan. Eomma bagaimana?" Baekhyun tersenyum kepada Taehyung, menjawab jika keadaannya baik-baik saja.
" Eomma, cepat kembali!" rengek Taehyung.
" Eomma masih bekerja disini" jawab Baekhyun. Baekhyun sebenarnya juga sangat merindukan anak sulungnya itu. Jiplakan dirinya dan Daehyun.
" Eoh, Aku baru tahu eomma ada di Singapura" ucap Taehyung.
" Kau bicara apa? Eomma sedang di Paris sekarang" jawab Baekhyun.
" Benarkah? Aku rasa Tuan Park yang terhormat kemarin mengatakan jika dia ada pekerjaan di Singapura. Oh, sudah seminggu pula rupanya, kemarin Daddy hanya mengatakan akan pergi tiga hari saja" sindir Taehyung. Dia mengatakan itu karena melihat Chanyeol yang bergelut dengan adiknya di belakang ibunya. Di sofa itu ayahnya sibuk menggelitiki Jiwon.
" Hi Son!" Chanyeol menggendong Jiwon, mendekat ke arah Baekhyun dan menyapa Taehyung.
" Kau melancong ke Paris, Dad?" tanya Taehyung. Chanyeol mengangguk. Dia tersenyum.
" Kau terlihat senang sekali. Aku menderita disini, cepatlah kembali!" Chanyeol dan Baekhyun tertawa melihat Taehyung yang frustrasi.
" Daddy kembali besok, kau tenang saja" jawab Chanyeol.
" Hyung, bogoshipo!" celetuk Jiwon. Dia tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya.
" Hyung juga rindu. Cepat pulang Nji, Ppalli! Ppalli!" Taehyung melambai-lambaikan tangan kepada adiknya.
" Jaga diri baik-baik disana, dan jaga kesehatan. Arra?" ucap Baekhyun. Taehyung hanya mengangguk sebelum mematikan sambungan itu.
Taehyung kembali masuk ke studio, duduk dekat Jungkook yang tengah berbicara dengan Jeonghan.
" Tae, aku pergi dengan hyungdeul makan siang di kantin, kau ikut?" Taehyung mengangguk saat Jungkook mengajaknya.
" Ayo noona!" orang-orang yang melihat Taehyung menggandeng Jungkook adalah hal biasa, meskipun mereka mengaku tidak menjalin hubungan istimewa tetap saja orang-orang studio selalu berpendapat bahwa Taehyung dan Jungkook adalah sepasang kekasih.
" Kookie, kita makan di café seberang Perusahaan saja. Disana ada café baru yang dibuka" Jungkook hanya mengangguk saat Jimin mengatakan itu. Di belakang Jimin, Yoongi juga mengekor. Young blood hanya tersisa Yoongi dan Taehyung, yang ikut makan bersama manager mereka. Yang lainnya sudah pergi menyelesaikan urusan mereka masing-masing.
Minhyun juga sudah mengekor dengan mereka. Pemuda cantik itu langsung mengiyakan ajakan Jeonghan, dia dengan Minki berjalan beriringan.
" Wah, Burgernya enak sekali!" Jungkook melahap gigitan kedua Burger Large miliknya. Minhyun dan Jeonghan sibuk berebut kentang goreng yang ada di atas meja. Sementara Taehyung dan Yoongi hanya diam menikmati makanannya, sesekali mendengar cerita Joy, Seungkwan, Jimin dan Minki yang sibuk membandingkan pasangan mereka.
" Jeon Jungkook?" seseorang memanggil Jungkook. Jungkook dan orang-orang yang ada dimeja itu mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Seorang pria dewasa tampan, berahang tegas dengan usia sekitar tiga puluhan. Taehyung hanya memandang pria itu yang tersenyum lembut melihat keterkejutan noona-nya.
" Ssaem?" gumam Jungkook. Jimin kenal pria itu. Pria yang dulu magang disekolahnya dengan Jungkook di Busan. Pria yang kuliah jurusan pendidikan bahasa inggris tapi beberapa tahun belakangan Jimin mendengar kabar jika pria tampan itu mewarisi Perusahaan besar orangtuanya.
" Apa kabarmu Jungkookie?" tanya pria itu lagi.
" Baik, bagaimana denganmu Ssaem? Kau tinggal di Seoul?" pria yang memiliki nama Minwoo ingin sekali mengajak Jungkook bicara sebentar. Ia merindukan mantan siswa didikannya.
" Iya, aku tinggal di Seoul. Kau keberatan jika bicara sebentar? Aku boleh pinjam teman kalian sebentar?" tanya Minwoo kepada mereka. Mereka tidak keberatan sama sekali. Taehyung sebenarnya ingin melarang, tapi ia sadar ia tidak berhak sama sekali. Melihat noona-nya yang bersemu merah saat bertatap dengan pria itu membuat Taehyung hanya menghela nafas, tidak rela sekali.
" Kembalikan dia secepatnya Ssaem" celetuk Jimin. Dia merasa jika Minwoo masih menyimpan rasa kepada adiknya itu. Sama seperti Jungkook delapan tahun lalu.
" Baiklah Jiminie, terimakasih!" Jungkook berdiri, mengekori Minwoo yang sudah memegang tangannya.
" Siapa dia Chim?" tanya Joy kepada Jimin, sepertinya Jimin mengenal pria itu.
" Dia guru magang di sekolah kami dulu noona, Jungkook mengatakan jika Minwoo-Ssaem adalah cinta pertamanya, Jungkookie jatuh cinta kepada Minwoo-Ssaem yang memang terkenal baik dan tampan di kalangan siswa. Aku mendengar gosip jika Ssaem juga menyukai Jungkook, tapi aturannya adalah Siswa tidak boleh pacaran dengan guru, meski guru magang sekali pun. Apalagi usia mereka terpaut delapan tahun waktu itu. Intinya mereka dulu saling memendam perasaan" jelas Jimin.
'jika berhubungan dengan cinta pertama, apa boleh buat?' batin Taehyung.
" Kau aman, Tae?" tanya Yoongi yang mengaduk-aduk kopinya, jelas Yoongi tahu apa yang dirasakan Taehyung.
" Terus sekarang Ssaem kalian itu kerja apa?" tanya Minki.
" Dia CEO salah satu Perusahaan saham terkenal di Seoul. Dia juga sudah menikah dan memiliki dua orang anak kalau tidak salah" jelas Jimin lagi.
" Oh, dia Lee Minwoo? Aku juga membawa artikel jika dia juga sedang mengurus perceraian dengan istrinya. Apa dia sedang mendekati Jungkookie sekarang?" tanya Minhyun.
" Entahlah, aku harap apapun yang terjadi, tidak menyakiti Jungkook" balas Jeonghan.
..
Mereka kembali ke Gedung Perusahaan tanpa menunggu Jungkook. Yoongi dan Taehyung memutuskan kembali ke dorm mereka. Yoongi tengah tidur di kamar sementara Taehyung hanya duduk di sofa-bednya, bingung ingin melakukan apa. Anggota Young blood yang lain juga belum kembali.
" Tae!" Jungkook datang dengan wajah yang berbinar. Dengan senyuman yang terus merekah di wajahnya, ia mendekat ke arah pemuda Kim yang hanya memandanginya. Suara televisi yang besar sempat membuat kening Jungkook mengernyit tidak suka.
" Kenapa suara televisimu besar sekali?!" omel Jungkook, dia mengecilkan volume dengan remot yang berada di dekat Taehyung.
" Kau tahu Tae, Minwoo-hyung mengatakan ingin dekat denganku. Dia ingin mengenalkanku dengan anak-anaknya" ucap Jungkook bangga. Taehyung juga bertanya kepada Jimin tadi, Minwoo berusia tiga puluh satu tahun yang berarti terpaut tiga belas tahun dari Taehyung.
" Kau senang?" tanya Taehyung. Jungkook mengangguk, dengan senyuman ia mengangguk antusias di samping Taehyung.
" Aku ingin membuka hatiku lagi, aku tidak mungkin berlama-lama dengan kesendirian"
" Kalau aku menyukaimu bagaimana noona?" tanya Taehyung. Jungkook memiringkan kepalanya, menghadap ke arah Taehyung.
" Kau tahu aku juga menyukaimu, aku menyayangimu" jawab Jungkook, senyuman gigi kelincinya membuat orang gemas.
" Konteks sukaku bukan seperti adik sayang kepada kakaknya. Aku menyukaimu sebagai Taehyung yang menyukai Jungkookie" ucap Taehyung. Taehyung memandang lamat mata bulat Jungkook. Cantik sekali, binar yang tidak pernah redup.
" A-aku ti–" ucapan Jungkook terputus saat seseorang meneleponnya. Taehyung juga jelas melihat siapa yang menghubungi noona-nya itu. Nama 'Minwoo-hyung' yang tertera di layar ponsel Jungkook ditambah senyuman manis Jungkook saat menatap nama itu membuat hati Taehyung berdenyut. Taehyung tidak suka.
.
.
Katakan jika Taehyung tidak lagi membahas masalah perasaan sukanya kepada Jungkook. Setelah pengakuannya hari itu, dan Jungkook hanya diam tidak menganggapi, Taehyung memilih bungkam. Kini ia hanya diam menikmati statusnya sebagai model dan Jungkook sebagai managernya.
Dua bulan setelah hari itu, semua berjalan lancar. Meski semua orang yang ada di management jelas mengetahui jika Taehyung menyukai Jungkook. Mata Taehyung tidak bisa lepas dari apa saja yang Jungkook lakukan. Katakanlah jika Taehyung cinta mati dengan Jungkook.
Hubungan Jungkook dengan Minwoo juga sepertinya bergerak maju. Bahkan kedua anaknya, Hyuna yang berumur tujuh tahun dan Hyukjae berumur lima tahun sudah sangat akrab dengan Jungkook. Jungkook juga sering pergi dengan keluarga Minwoo untuk makan siang ataupun jalan-jalan bersama. Taehyung cemburu, sangat. Tapi dia mencoba sadar, mencoba menasehati hatinya, jika cinta tidak harus memiliki.
Taehyung juga tidak suka saat kedua anak Minwoo mengambil alih perhatian Jungkook. Kedua anak itu sering bermain di studio. Minwoo sering menitipkan kedua anaknya kepada Jungkook, Jungkook jelas tidak keberatan. Di tambah orang-orang studio juga menyukai anak-anak itu. Tapi tidak dengan Taehyung. Pemuda itu tidak suka dengan mereka. Mereka nakal dan sering menyentuh barang-barang milik Taehyung. Pernah sekali, Hyukjae hampir saja menabrak Taehyung yang membawa ramen panas di tangannya, hampir saja anak itu tersiram air panas dari kuah ramen. Taehyung lantas membentak anak itu agar hati-hati. Jungkook marah, dan tidak menyapa Taehyung. Sejak saat itu Taehyung merasa ada jarak dari Jungkook.
..
Hari ini Jungkook ulangtahun. Semua orang management merayakannya saat baru sampai di kantor. Biasanya jika orang lain merayakan saat pulang kerja, berbeda dengan mereka, mereka merayakan ulangtahun manager manis itu saat pagi hari. Saat semua anggota staff dan model masih berkumpul dan semangat.
Jungkook senang sekali, perayaan usia dua puluh tiga tahunnya dikelilingi orang-orang yang ia sayang. Jungkook meniup lilin saat semua orang selesai menyanyikan lagu perayaan.
" Make a wish Jeon!" celetuk Namjoon di sebelah Jin. Jungkook mendengus, kekasih hyung-nya itu merusak moment miliknya.
" Aku tahu hyung!"
' aku berharap aku mendapatkan kejelasan untuk hatiku'
Jungkook meniup lilin yang ada di atas kue ulangtahunnya, semua orang bersorak dan menunggu traktiran dari Jungkook.
" Makan siang dan kopi untuk hari ini aku yang tanggung!" teriak Jungkook. Semua orang disana mengangguk dan setuju, bagaimana mungkin menolak sesuatu yang gratis.
..
" Selamat ulangtahun, noona!" Taehyung tersenyum kepada Jungkook, pemuda manis itu sedang membubuhi wajah Taehyung dengan sedikit bedak agar wajah Taehyung terlihat fresh di depan kamera.
" Kado untukku mana?" tanya Jungkook sambil menadahkan kedua tangannya di depan wajah Taehyung. Sudah lama mereka tidak terlibat obrolan seperti ini. Biasanya cenderung kaku semenjak Jungkook sering pergi dengan Minwoo.
" Apapun yang kau minta, kau mau apa?"
" Bagaimana kalau kau traktir aku menonton film di bioskop nanti sore? Film yang aku tunggu hari ini rilis dan aku ingin kau mentraktirku menonton. Itu bisa aku anggap sebagai kado" jawab Jungkook. Sudah lama ia rencanakan untuk menonton film yang ia tunggu. Dan Jungkook ingin menonton dengan Taehyung. Melewati hari ulangtahunnya dengan pemuda Kim tersebut.
" Hanya itu?" tanya Taehyung.
" Eung! Untuk tahun ini aku ingin hadiah itu saja. Untuk tahun berikutnya aku masih belum memikirkannya" Jungkook tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya kepada Taehyung. Apakah Taehyung boleh berharap jika Jungkook ingin melewatkan ulangtahunnya kembali denga Taehyung?
..
Taehyung menunggu di lobi bioskop. Ditangannya sudah ada dua tiket film yang diinginkan Jungkook. Selepas makan siang tadi Jungkook pergi, sebelumnya Jungkook mengatakan akan langsung menemui Taehyung di bioskop. Mereka berjanji bertemu jam setengah tiga, sedikit menunggu untuk film yang akan ditayangkan jam tiga lewat lima belas menit. Taehyung hanya menghembuskan nafas. Menatap sendu ke arah dua tiket yang ia pegang. Sekarang sudah setengah empat dan ia masih berharap Jungkook akan datang. Tadi saat di kantor, Taehyung jelas melihat Jungkook masuk ke dalam mobil Minwoo saat di basemen Perusahaan tadi. Tersenyum riang saat Minwoo membukakan pintu untuk Jungkook.
Taehyung ingin pergi, ia jelas kesal. Tapi sisi lain dari hatinya masih ingin menunggu, bagaimana jika Jungkook datang saat ia pulang? Film ini adalah film yang ditunggu Jungkook, dan ini adalah hari ulangtahun Jungkook. Setidaknya sedikit menunggu masih bisa di toleransi oleh Taehyung dan hatinya.
..
Taehyung masih disana, menunggu Jungkook. Beberapa kali mencoba menghubungi pemuda manis itu tapi tidak dijawab. Taehyung tersenyum miris.
" Membuatku gila!" gumam Taehyung. Ia melirik jam yang melingkari tangannya. Pukul sepuluh malam, dan sebentar lagi adalah tayangan terakhir untuk hari ini, Midnight session. Taehyung kembali membeli sebuah tiket untuk film. Ia ingin menonton sendiri.
" Taehyung!" Daniel menyapa Taehyung. Taehyung tersenyum melihat Daniel, di sebelahnya ada Seongwoo. Di belakang mereka juga ada Jaehyun dan Taeyong.
" Kau menonton juga?" Taehyung hanya mengangguk menanggapi pertanyaan dari Seongwoo.
" Double date?" tanya Taehyung kepada Daniel.
" Aniyo! Kebetulan hanya bertemu di depan dengan mereka" jawab Daniel. Tadi rencananya Daniel memang ingin kencan dengan Seongwoo, menonton film favorit sambil beromantis ria, tapi sepertinya menonton beramai-ramai juga tidak apa-apa.
" Kau sendiri Tae?" tanya Jaehyun. Taehyung kembali mengangguk.
" Harusnya ada Jungkook, anak itu kan memang sudah menunggu film ini rilis sejak lama" celetuk Taeyong.
" Dia pergi makan malam dengan Minwoo-sshi dan anak-anaknya. Minwoo-sshi mungkin menyiapkan kejutan yang menarik untuk ulangtahun Jungkook" jawab Seongwoo. Daniel dan Jaehyun melirik Taehyung, pemuda itu hanya diam dan tanpa ekspresi. Tapi mungkin hatinya sudah terbakar hangus karena sakit hati dan cemburu.
" Sudahlah, biarkan saja dia bahagia hyung! Ayo kita nikmati film malam ini. Kita susah-susah harus mencari jadwal malam untuk menonton karena takut wartawan dan fans ribut dengan kencan kita" ucap Daniel.
.
.
Hampir dua jam film itu diputar, tengah malam mereka kembali ke apartemen. Taehyung ikut dengan mobil Daniel, karena saat pergi tadi dia menggunakan Taksi.
" Ayo!" Daniel mengajak Seongwoo dan Taehyung keluar. Jarak antara tempat parkir mobil dan gedung apartemen sekitar seratus meter. Taehyung berjalan dibelakang pasangan yang bergandengan tangan itu. Lucu saja, melihat Seongwoo yang sedikit agresif kepada sahabatnya itu, dan Daniel akan membalasnya dengan manja yang berlebihan. Pasangan yang serasi dimata Taehyung.
Taehyung berjalan menunduk, hari ini dia total kecewa. Bukan kepada Jungkook, tapi kepada dirinya sendiri yang tidak bisa tegas untuk menjaga perasaannya, dia terlalu menikmati rasa sakit seperti ini.
Taehyung berhenti berjalan, menubruk Daniel yang ada di depannya karena pasangan itu mendadak menghentikan langkah. Taehyung penasaran dengan apa yang mereka lakukan.
" Tae!" gumam Daniel.
" Jungkook!" seruan Seongwoo mengejutkan banyak pihak. Jungkook yang sedang berciuman dengan Minwoo di depan mobilnya dan Taehyung yang melihat adegan itu.
" Hyung!" Jungkook melepaskan tangan Minwoo yang menahan pinggangnya, dia juga terkejut disana ada Taehyung. Orang yang ia kecewakan hari ini.
" Danik, Ongie-hyung, aku duluan. Ada yang harus aku kerjakan di dorm" Taehyung berjalan melewati mereka. Jelas sekali tadi Taehyung melihat Minwoo menyeringai kepadanya. Mengejek karena Taehyung bukan apa-apa jika melawan dirinya dalam mendapatkan Jungkook.
" Sepertinya kami juga ada urusan. Ayo sayang!" Daniel menarik tangan Seongwoo, pergi dari sana.
..
Dua hari setelah itu, Taehyung dan Jungkook hanya diam. Tanpa bicara, hanya mengerjakan tugas masing-masing. Taehyung tidak menuntut kejelasan mengenai mengapa Jungkook tidak datang hari itu, dan Jungkook juga entah mengapa tidak berinisiatif menjelaskan.
" Chim-hyung, aku titip Hyuna dan Hyukjae sampai jam makan siang ya, aku ingin bertemu dengan Minwoo-hyung, ada perlu sebelum makan siang" Jimin hanya mengangguk. Sesi pemotretan untuk Young blood memang cepat berakhir hari ini. Jam sepuluh pagi mereka sudah selesai pemotretan.
Semua orang bubar, hanya tinggal beberapa orang disana. Jimin ada keperluan mendadak, rapat manager dengan beberapa pihak iklan.
" Taehyung, Jaehyun, tolong jaga mereka sebentar ya. Aku ada rapat" Jaehyun mengangguk. Sementara Taehyung tidak ingin ambil pusing untuk menjawab. Toh Jimin sudah pergi dari sana tanpa mendengar jawaban darinya.
Hyukjae berlarian keluar dari studio. Dia ingin ke Memory Room, ruangan yang berisi banyak foto. Dua orang beradik kakak itu memang dilarang masuk kesana, karena berbahaya. Mereka masih kecil dan ruangan itu sangat rentan, semua bahan disana banyak terbuat dari kaca.
Jungkook jelas sudah memperingati agar mereka menjaga jarak dari ruangan tersebut sejak mereka pertama kali datang ke Perusahaan tersebut.
" Tae, ayo ke kantin, ajak juga mereka" Hyuna yang mendengar ucapan Jaehyun berseru senang. Ia sangat ingin mencicipi makanan kantin perusahaan itu.
" Ayo Oppa!" ajak Hyuna semangat.
Di lain tempat, ruangan serba kaca, di dalamnya Hyukjae menelusuri semua foto yang terpajang di kaca, sesekali ia tertawa melihat pose orang yang menurutnya lucu.
Anak kecil itu berlari kesana kemari, sampai ia memecahkan beberapa kaca yang menjadi tempat pajangan foto. Beberapa saat kemudian ia terpeleset dan kepalanya terkena sudut meja yang runcing, membuatnya pingsan seketika dengan luka di belakang kepala. Darahnya sudah menggenangi lantai tempat dia terjatuh.
..
"Hyuna, adikmu kemana?" tanya Taehyung, dia sedang membuka sepatunya, tadi baru saja ia shoot untuk merk sepatu terkenal.
Hyuna mengidikkan bahu tidak tahu, adiknya itu tidak bisa diam, wajar saja sekarang hilang.
"Hyun-ah, aku pergi mencarinya sebentar" Taehyung berjalan keluar studio, mengabaikan teriakan Jaehyun yang menyuruhnya untuk memakai alas kaki terlebih dahulu.
Taehyung mencari dan memanggil Hyukjae di lorong lantai itu, tapi perhatian Taehyung mengarah kepada Memory Room yang pintunya terbuka.
"Sial!" umpat Taehyung. Pemuda itu berlari masuk ke dalam ruangan itu. Taehyung terkejut melihat Hyukjae sudah terkapar dengan darah yang banyak.
"Hei, Hyukjae!" Taehyung memeriksa detak jantung anak itu, serpihan kaca yang sudah melukai kakinya total ia abaikan.
"Hei, kau harus baik-baik saja" Taehyung langsung menggendong Hyukjae dan membawanya keluar.
"Jaehyun-ah!"
"Ada apa Tae?" Astaga Hyukjae!"Jaehyun dan Hyuna mendekat ke arah Taehyung yang sudah menggendong Hyukjae dengan panik.
"Ayo kerumah sakit!" mereka semua berlari menuju basemen, Jaehyun menggandeng tangan Hyuna disampingnya. Semua orang yang melihat itu penasaran dengan apa yang terjadi.
..
"Hyuna, cepat hubungi ayahmu, katakan secepatnya ke rumah sakit dekat Jungkookie kerja, katakan adikmu sedang sakit" Hyuna mengangguk mendengar ucapan Jaehyun. Ayahnya memang membekalinya sebuah ponsel jika ada sesuatu yang genting. Jaehyun melirik Taehyung yang duduk dengan gusar di bangku belakang. Hyukjae masih dalam gendongannya. Taehyung pucat dan bergetar.
"Tenang Taehyung!"
"Hyun jika dia, dia –" Taehyung tidak sanggup melanjutkan omongannya, ia terlalu takut saat ini. Ketakutan yang sama saat ia membantu Sejeong dulu.
"Dia akan baik-baik saja"
.
.
Taehyung duduk di bangku tunggu, bersama dengan Jaehyun dan Hyuna. Mereka sedang menunggu dokter memeriksa dan merawat luka di kepala Hyukjae. Minwoo dan Jungkook datang dengan tergesa.
Minwoo langsung menarik Taehyung agar pemuda itu berdiri. Taehyung hanya pasrah dan menurut, tidak memberontak sama sekali.
" Apa yang kau lakukan kepada anakku? Sialan!" satu pukulan Minwoo daratkan ke wajah Taehyung, membuat Taehyung tersungkur. Jaehyun langsung membantu Taehyung berdiri. Dengan mata sayunya Taehyung menatap Jungkook yang seolah menghakiminya. Ternyata noona-nya juga menyalahkannya.
Minwoo mencoba lagi untuk menyentuh Taehyung, tapi Jaehyun sudah menghalanginya. Seenaknya saja sahabatnya di salahkan.
"Sekali lagi kau menyentuh Taehyung, aku akan membuatmu menyesal. Aku tidak peduli kau lebih tua dari kami atau kau orang berpengaruh disini" Jaehyun membawa Taehyung pergi dari sana.
"Satu lagi, harusnya kalian mengucapkan terimakasih bukannya menyalahkan Taehyung" ucap Jaehyun sebelum pergi.
"Oppa!" teriakan Hyuna tidak berpengaruh untuk Taehyung dan Jaehyun untuk berbalik.
"Hyuna, apa yang terjadi dengan Hyukjae? Apa Taehyung yang menyelakainya?" tanya Jungkook yang duduk disamping Hyuna. Hyuna menggeleng dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Harusnya ia dan adiknya makan enak di kantin perusahaan dengan kedua oppa-nya itu, bukan berakhir seperti ini. Jungkook memeluk Hyuna yang mulai terisak.
Jungkook tidak akan memaafkan Taehyung jika ia melakukan semua ini. Ia bersumpah akan membenci Taehyung seumur hidupnya.
..
Taehyung meringis saat seorang perawat mengobati luka di kakinya. Semua telapak kaki Taehyung tidak bisa dikatakan baik karena terkena serpihan kaca. Beberapa dari luka itu ada yang dalam, tidak hanya goresan.
"Apa keadaan Hyukjae baik-baik saja?" tanya Taehyung kepada Jaehyun. Jaehyun langsung memukul kepala Taehyung kesal.
"Dia pasti baik-baik saja, kenapa kau harus memikirkannya? Kau sudah terluka seperti ini" omel Jaehyun.
Orang-orang di luar gaduh, perawat yang mengobati Taehyung menghampiri orang-orang itu, beberapa saat kemudian dia kembali ke dalam ruangan itu. Menyebutkan luka Taehyung hanya perlu sering di bersihkan agar tidak infeksi.
"Noona ada apa diluar tadi?" tanya Taehyung kepada perawat cantik itu.
" Rumah sakit lagi butuh darah, anak kecil yang kalian bawa tadi membutuhkan donor darah, sementara stok darah sesuai golongan miliknya lagi kosong" Taehyung dan Jaehyun cukup terkejut mendengarnya.
" Apa golongan darahnya noona?" tanya Taehyung.
" Golongan darahnya AB" jawab perawat itu.
" Noona, golongan darahku juga AB, aku bisa mendonorkan untuk Hyukjae" tukas Taehyung.
" Andwe! Andwe Tae. Kau melakukan apa? Mereka sudah jahat kepadamu" larang Jaehyun.
" Aku tahu kau sangat mneyukai Jungkookie-hyung, tapi aku tidak ingin kau melakukan ini. Kakimu saja sudah mengeluarkan banyak darah, dan sekarang kau mau memberikan darahmu untuk anak orang yang sudah menuduhmu? Jangan gila!" Jaehyun benar-benar murka sekarang. Taehyung tidak tahu jika sahabatnya sebegitu tidak sukanya dengan Minwoo.
" Aku juga tidak ingin membuat Jungkookie-hyung terkesan Hyun-ah, aku melakukan ini murni karena aku ingin membantu Hyukjae. Dia masih kecil dan dia harus terus hidup, jangan hanya gara-gara kekurangan darah nyawanya jadi terancam. Aku hanya ingin membantunya karena aku merasa aku bisa. Jangan khawatirkan perasaanku. Aku tahu apa yang terbaik untukku" Taehyung tersenyum kepada Jaehyun. Meyakinkan sahabatnya itu jika dia akan baik-baik saja.
" Okay, kalau seperti itu, ayo ikut ke labor darah, kita akan periksa kondisimu sebelum mendonorkan darah" ucap perawat itu. Taehyung duduk di kursi roda, di dorong oleh Jaehyun, mengikuti perawat cantik yang sudah jalan duluan di depan mereka.
" Kim-super-baik-Taehyung!" gumam Jaehyun, membuat Taehyung terkekeh mendengar ucapan Jaehyun. Jaehyun itu sebenarnya orang yang paling tidak tega yang pernah Taehyung kenal, tapi jika sudah tidak ia suka, ia akan menjadi super benci dengan hal itu.
Taehyung masuk ke dalam labor darah tersebut, Jaehyun menunggu diluar, menelepon seseorang untuk dimintai tolong.
" Minjae-ya, ini aku!"
" Iya aku tahu. Kau adalah Jaehyun. Ada apa? Apa ini tentang Taehyung yang menggendong anak di lorong itu?"
" Bagaimana kau tahu?"
" Aku memiliki rekamannya kalau kau lupa, kau mau aku apakan dengan rekaman ini?"
" Kirimkan kepadaku sekarang juga. Dimana kau sekarang? Bisa kau jemput Taehyung?"
" Bisa. Aku sedang di studio musik. Aku akan pergi dengan Yoongi-hyung untuk menjemput Taehyung. Dimana aku jemput dia?"
" Ke rumah sakit dekat Perusahaan. Si bodoh itu tidak bisa berjalan. Nanti tolong suruh Yoongi-hyung tunggu saja di mobil. Aku yakin Yoongi-hyung akan murka jika melihat keadaan Taehyung"
" Baiklah. Aku akan mengirim videonya sekarang kepadamu. Mungkin 20 menit lagi kami akan sampai"
" Okay terimakasih!"
Beberapa saat kemudian Jaehyun membuka ponselnya, membuka kiriman video dari Minjae. Ada dua buah video, satu di lorong dan satu lagi di dalam Memory Room. Jelas disana Taehyung tidak bersalah sama sekali. Harusnya mereka berterimakasih karena Taehyung sudah membantu Hyukjae.
Dan Taehyung keluar dari ruangan serba putih yang penuh alat-alat kesehatan itu dengan wajah pucat.
" Dan kau berhasil mendonorkan darahmu, benar?" tanya Jaehyun. Taehyung hanya memperlihatkan cengiran khasnya.
" Habis ini langsung istirahat ya, Taehyung" ujar perawat dengan lembut. Taehyung mengangguk.
" Aku akan membawa darah ini ke ruangan anak itu. Kau sudah membantunya, terimakasih" Taehyung kembali mengangguk. Perawat itu meninggalkan mereka di depan labor.
" Bagus sekali kau, tidak makan dan sudah membuang darah dengan sia-sia"lagi-lagi Jaehyun mengomel.
" Di dalam tadi aku sudah makan snack sehat dan diberi susu sebelum donor Hyun. Aku mau pulang sekarang" Jaehyun mengangguk, mendorong kursi roda Taehyung.
Sebelum itu Jaehyun mengirimkan dua buah video tadi kepada Jungkook. Dengan beberapa kalimat kekesalannya.
'Semoga kau dengan kekasihmu bahagia telah menyalahkan Taehyung kami'
" Hyun-ah, kau tidak mengantarku pulang?" tanya Taehyung. Jelas sekali di depan rumah sakit Taehyung melihat Minjae dan Yoongi-hyungnya menanti mereka berdua.
" Aku akan kencan dengan Taeyong-hyung. Dia sudah menungguku di tempat pemotretannya. Aku tidak mau membuatnya menunggu dengan mengantarmu dulu. Pulang saja dengan mereka"
" Hyun-ah, Yoongi-hyung ti—"
" Dia sepertinya belum tahu. Orang itu pasti sudah dikejar Yoongi-hyung jika tahu kau seperti ini oleh anaknya, ditambah kau babak belur oleh ayahnya" jawab Jaehyun.
" Minjae.. bawa dia langsung ke dorm ya, aku mau pergi dulu" Minjae mengangguk. Yoongi yang awalnya mengantuk langsung menatap Taehyung yang kesusahan masuk ke dalam mobil.
" Kau kenapa Tae?" tanya Yoongi terkejut. Dia tidak fokus tadi, dan mengangguk saja saat Minjae mengajaknya pergi sebentar.
" Aku tidak apa-apa hyung"
" Jaehyun, Taehyung kenapa?" tanya Yoongi kepada Jaehyun, dia tidak akan mendapat jawaban dari Taehyung.
" Aku tidak bisa menjawabnya sekarang hyung, aku harus pergi sebelum Taeyong-hyung memecatku menjadi calon pacarnya, Bye!" Jaehyun langsung kabur dari mereka. Dia tidak sanggup berhadapan dengan Yoongi-hyungnya sekarang. Yoongi selalu protektif dengan anggotanya.
" Terjadi sesuatu, uh?" tanya Yoongi kepada mereka berdua.
" Kau tidur saja hyung" ucap Taehyung.
" Gurae, aku tidur. Tapi aku akan tahu sebentar lagi apa yang telah terjadi" Yoongi kesal sendiri dengan mereka.
Tak berapa lama, ponsel Taehyung berbunyi. Eommanya menelepon.
" Jangan kau katakan eomma tidak tahu apa yang terjadi"
" Eomma!"
" Dimana kau sekarang?"
" Baru pulang dari rumah sakit, apa Daddy yang memberitahu eomma?"
" Eung! Kau pulang ke rumah sekarang juga. Daddymu sudah membereskan masalah yang ada diruangan itu. Pulang Taehyung!"
" Iya eomma. Aku akan pulang"
" Baiklah, eomma tunggu dirumah"
" Iya eomma, bye!"
.
.
" Taehyung tidak bersalah" gumam Jungkook. Pemuda manis itu merasa sangat menyesal telah berpikiran jika Taehyung tega melakukan itu, menyakiti Hyukjae.
" Apa maksudmu dia tidak bersalah? Dia telah mencelakai Hyukjae, Jungkookie" geram Minwoo saat mendengar gumaman Jungkook.
" Ani! Justru Taehyung yang telah menyelamatkan Hyukjae. Hyukjae jatuh sendiri di dalam Memory Room, dan Taehyung datang menolongnya, hyung" jawab Jungkook. Jungkook jadi tersulut emosi saat Minwoo menyalahkan Taehyung.
" Maaf Tuan, Anak anda sudah baik-baik saja. Rumah sakit sudah mendapatkan darah yang dibutuhkan anak anda" tukas dokter yang keluar dari ruang Hyukjae. Perawat cantik yang mengurus Taehyung tadi jelas mendengar perdebatan mereka. Sebelum pergi dari sana, dia sempat berceletuk kepada mereka berdua. Membuat Minwoo terdiam dan Jungkook yang merasa bersalah.
" Taehyung yang mendonorkan darah untuk membantu anak itu"
.
.
Taehyung tidak ikut shoot malam ini. Yoongi memberitahu kepada Joy jika Taehyung sakit dan pulang ke rumah ibunya. Taehyung melewatkan pemotretan untuk pakaian dari sebuah merk ternama. Dia harus absen karena selain kakinya sakit, eommanya juga melarang keras untuk pergi. Bahkan Daddynya sibuk menenangkan ibunya yang terus mengomel. Malam ini Daddy-nya memang menginap di rumah eomma Taehyung.
" Jaehyun, Taehyung dimana?" tanya Jungkook yang baru datang langsung kepada Jaehyun. Terakhir Taehyung bersama Jaehyun, Jungkook juga mencari ke dorm Young blood tapi dia tidak menemukan Taehyung tadi. Di dalam studio hanya tersisa Young blood, para manager di tambah Seongwoo, Jihoon, Hyungseob, Taeyong, Jin dan Minhyun.
" Masih memperdulikan Taehyung rupanya, hyung?" tanya Jaehyun sarkas. Mereka semua diam melihat situasi yang memanas itu. Jaehyun malam ini memang terlihat sangat tidak suka dengan Jungkook.
" Aku bertanya kepadamu Jaehyun! Kau harusnya menjawab dimana Taehyung berada, aku ingin meminta maaf" jawab Jungkook, dia tidak ingin ikut tersulut emosi.
" Meminta maaf? Semudah itu? Aku masih memaafkanmu karena sudah membuat Taehyung menunggu lama di bioskop, menunggu delapan jam untuk seseorang yang bersenang-senang dengan orang lain pasti sangat menjengkelkan, kan? Tapi hari ini, aku benar-benar membencimu hyung! Taehyung terluka dan kau menuduhnya seenaknya. Kau bahkan tidak membelanya. Okay, jika kau tidak bisa membelanya di depan Minwoo-sshi, seharusnya kau bisa mempercayai Taehyung. Taehyung hanya membantu Hyukjae, bukan mencelakainya. Kau menyakitinya,hyung" jelas Jaehyun. Daniel tahu permasalahannya. Tadi Jaehyun memberitahu semuanya. Daniel sedikit melirik ke arah Yoongi yang sudah mengeraskan rahangnya. Mendengar Taehyung terluka gara-gara masala ini cukup membuat darahnya mendidih.
" Hyung? kau baik?" tanya Daniel.
" Apa setelah mendengar Taehyung diperlakukan tidak adil perasaanmu baik Dan?" tanya Yoongi dingin.
" Sudahlah, kalian tidak harus menyelesaikan masalah seperti ini" Seungkwan mencoba menenangkan mereka.
" Aku tidak tahu jika Taehyung membantunya, selama ini Taehyung terlihat tidak menyukai Hyuna dan Hyukjae, semua orang juga berpikiran sama denganku" ucap Jungkook.
" Ani! Taehyung bahkan punya adik kecil, bagaimana mungkin dia menyakiti anak kecil" balas Jaehyun. Jungkook harus menerima pelajaran dari semua ini.
" Aku tidak tahu jika akan terjadi seperti ini Jaehyun-ah, sekarang dimana Taehyung?"
" Dia ada di rumahnya Kookie!" Taeyong memberitahu Jungkook. Jungkook langsung mengambil kunci mobil Seongwoo yang sudah dipinjamnya tadi di atas meja.
" Aku akan menyelesaikan masalahku Jaehyun. Terimakasih kau sudah memberi fakta yang sebenarnya" ucap Jungkook sebelum pergi.
.
.
Jungkook memencet bel rumah Baekhyun. Rumah yang sudah ia datangi sebelumnya.
" Jungkookie?" Baekhyun membukakan pintu untuk Jungkook. Baekhyun memeluk Jungkook sebentar sebelum menyilahkan Jungkook masuk. Di depan televisi, Chanyeol sedang bercanda dengan Jiwon, Jungkook tersenyum melihatnya.
" Eoh, Jungkook!" Jungkook menunduk sopan saat Direktur perusahaannya menyapanya.
" Apa aku boleh bertemu dengan Taehyung, Baekhyun-sshi?" tanya Jungkook sopan. Baekhyun mengangguk.
" Eomma! Susu coklatku mana?" teriak Taehyung dari dalam kamar. Saat sakit, hal yang sangat menyenangkan untuknya adalah bermanja ria dengan eomma-nya.
" Aku akan membuatkan susu anak nakal itu sebentar, kau temui saja dia di kamarnya"
" Aku akan membawakan susu untuk Taehyung sekalian Baekhyun-sshi"
..
Jungkook membawa segelas susu untuk Taehyung. Dia membuka pintu, tapi Taehyung tidak memperdulikannya, dia masih sibuk dengan game yang ada di ponselnya.
" Eomma! Letakkan sa—hyung?" Taehyung terkejut saat Jungkook tersenyum kepadanya. Jungkook meletakkan susu itu di atas nakas di sebelah ranjang Taehyung. Taehyung menghentikan permainannya. Menatap Jungkook yang duduk di samping ranjangnya.
" Kakimu pasti sakit sekali" ucap Jungkook membuka percakapan di antara mereka. Taehyung masih diam.
" Aku minta maaf karena secara tidak langsung sudah menghakimimu. Aku seharusnya meminta penjelasanmu alih-alih menatapmu dengan sinis tadi. Aku juga berterimakasih karena kau sudah membantu Hyukjae. Keadaannya membaik meski harus tetap berada di rumah sakit" jelas Jungkook.
" Aku memaafkanmu, hyung. Perihal Hyukjae, aku membantunya murni karena aku ingin membantunya, tidak ada hal yang lain"
"Taehyung, masalah kau dan aku, aku ra—"
"Hyung, aku hanya memberitahu satu hal kepadamu, terlepas dari masalah Hyukjae dan ayahnya. Aku menyerah atas perasaanku kepadamu. Aku tidak mau menyakiti diriku sendiri lebih dalam lagi dan membuatmu tidak nyaman. Semenjak hari ulangtahunmu kemarin lusa, aku menyadari jika aku harus menyerah untuk perasaanku kepadamu" ucap Taehyung tenang. Entah mengapa ucapan Taehyung itu membuat jantung Jungkook berdetak tidak karuan. Dia merasa tidak senang dengan hal itu.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
