Summary : Taehyung (18 tahun) menaruh hati kepada sekretaris Perusahaan besar yang sangat cantik dimatanya, Jungkook(23 tahun) dan inilah cerita Taehyung dan Jungkook yang terlibat dalam satu garis takdir yang sama.
Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc
Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Other Cast : Member BTS, Wanna One, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya
Rate : T – M
Genre : Romance, Friendship
Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. ? kenapa aku
Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…
.
.
-DEAR TAEHYUNG-
(Someone Who Stole My Heart)
.
.
.
Chapter X:
Jungkook tidak mempermasalahkan jika dia dianggap orang yang tidak konsisten, terutama dalam masalah perasaannya. Apalagi setelah diceramahi panjang lebar oleh hyungdeul-nya, Jungkook baru mendapat titik terang atas apa yang ia inginkan. Pemuda Kim, itulah yang Jungkook inginkan.
.
.
Flashback
" Jangan banyak minum Jungkookie, hik. Kau sudah mabuk" tukas Jimin dengan wajah yang memerah. Hari ini mereka memutuskan untuk membuat acara kecil di apartemen Minki dan Jeonghan. Mereka berpesta setelah bekerja seharian, kali ini formasi mereka lengkap. Jin dan Minhyun hanya memandangi teman-temannya yang sudah mulai mabuk.
" Aku bingung hyung!" teriak Jungkook. Jeonghan langsung mengambil gelas yang berisi bir dari tangan Jungkook. Membuat si bungsu merengut tidak suka.
"Hyung, kembalikan!" teriaknya lagi.
" Kau ada masalah apa?" tanya Minhyun. Pemuda cantik kekasih Hyunbin itu mengemili kentang goreng yang ada di depannya. Jungkook menggeleng.
" Tipikal Jungkook sekali, tidak mau bercerita kepada kita" kini Seongwoo yang menyeletuk. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Mengusak rambut yang basah karena harus keramas akibat gerah luar biasa setelah pemotretan diluar ruangan.
" Taehyung.."
" Kenapa dengan Taehyung?" tanya Jeonghan. Jeonghan dan Minki memang bertaruh mengenai siapa yang akan dipilih Jungkook. Jeonghan memegang nama Taehyung. Jadi wajar saja jika dia sesemangat itu mendengar nama Taehyung keluar dari bibir manis Jungkook.
" Dia menjauhiku. Aku tidak suka dengan dia menjauhiku, hyung!"
" Kenapa bisa dia menjauhimu?" pancing Jin.
" A-aku, aku menyakitinya. Aku melukai hatinya" gumam Jungkook.
" Perihal kau ciuman dengan Minwoo-sshi?" tanya Seongwoo.
" Mwo? Jadi kau dan Minwoo-sshi sudah berciuman?" teriak semua yang ada disana, kecuali Seongwoo dan Jungkook. Jungkook mengangguk ragu. Mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa Taehyung menjauhinya.
" Aku tidak mengerti dengan perasaanku. Aku tidak suka seperti ini"
"Hyung, aku tidak tahu jika saat itu Minwoo-hyung akan menciumku. Dia hanya mengatakan akan memberikan hadiah ulangtahun untukku. Dan aku juga tidak tahu jika Taehyung akan menunggu selama itu di bioskop. Harusnya dia pulang saja setelah tahu tidak akan datang"
" Jungkookie, kau tidak apa-apa?" tanya Minki. Jungkook dan mata yang berair saat bercerita bukanlah kombinasi yang baik untuk mereka.
" Aku sadar aku salah, dan aku juga menuduhnya saat ia membawa Hyukjae ke rumah sakit. Padahal Taehyung berniat membantu Hyukjae, tapi aku malah berpikiran yang tidak-tidak tentang Taehyung" lanjut Jungkook bercerita. Kali ini ia meneguk langsung minuman dari botolnya. Jungkook butuh pelampiasan kali ini.
" Kau tidak menyukai Taehyung menjauhimu?" tanya Minki. Jungkook mengangguk. Membuat Minki harus merengut karena ia mendukung Minwoo untuk pasangan Jungkook. Dia hanya main-main dengan Jeonghan, bertaruh mengenai barang branded keinginan dengan dalih hitung-hitung penghematan, tapi ia akan mengembalikan pilihan semuanya kepada Jungkook, kepada orang yang harus memilih tanpa dipaksa atas nama perasaan belas kasihan atau apapun.
" Hyung, aku harus bagaimana?" tanya Jungkook. Ia menenggelamkan kepalanya diantara lipatan tangannya diatas meja. Mereka semua melihat Jungkook, merasa iba dengan adik mereka yang selalu terlibat masalah rumit mengenai perasaan.
" Kau pikirkan dengan baik tentang semua ini, tentang siapa yang benar-benar kau cintai. Kami tidak bisa memberi solusi jika ini mengenai hati, tentang posisi siapa yang paling hatimu inginkan" Jin mendekat dan mengelus puncak kepala Jungkook. Dia sangat menyayangi adik kecilnya ini. Semuanya menyusul, ikut menenangkan Jungkook.
" Sekarang kita sebaiknya istirahat" tukas Seongwoo. Istirahat dalam kamus mereka adalah tidur bersama dan bercerita kecil menjelang mimpi menghampiri.
.
.
"Hyung, aku ingin makan siang dengan Jjajangmyeon!" celetuk Taehyung saat Jungkook membersihkan wajah Taehyung. Mungkin orang-orang tidak menyadari, mereka masih melihat Taehyung dan Jungkook tetap bersama, tapi Jungkook jelas mengetahui jika Taehyung menjauhinya. Mereka hanya terlibat masalah pekerjaan, tidak seperti dulu, dulu Taehyung hampir mengikutkan dirinya dalam masalah pribadi Taehyung. Dua minggu setelah insiden yang membuat Taehyung dan Jungkook benar-benar renggang, kini mereka harus berpura demi pekerjaan yang terikat. Kaki Taehyung sudah bisa dikatakan sembuh dari luka yang disebabkan kaca tempo hari.
"Hum, bagaimana jika kita makan di tempat hyung-ku? Disana kita bisa minum kopi" tukas Jungkook. Taehyung hanya mengangguk setuju.
" Ke cafe milik Wonwoo? Aku ikut!" teriak Jimin yang mendengar ucapan Jungkook. Studio mulai lengang, menyisakan Jungkook, Taehyung, Jimin, Yoongi dan Mingyu. Semua anggota staff di tambah anggota Young blood yang sudah memiliki janji dengan kekasih masing-masing sudah pergi untuk makan siang.
" Bagaimana denganmu, Yoon? Kau juga Gyu? Ikut tidak?" tanya Jimin. Keduanya hanya mengangguk. Mereka tidak memiliki alasan untuk menolak, lagipula tidak biasa makan siang sendiri.
" Baiklah, ayo kita pergi!" Jungkook memimpin jalan menuju parkiran.
..
Mereka sampai di tempat yang dikatakan Jungkook. Jungkook membuka pintu kaca sebuah cafe yang terletak di ujung bangunan yang merupakan ruko jajanan.
"Sophia!" anak kecil menoleh saat Jungkook memanggil nama itu. Dengan senyuman merekah, si gadis kecil berlari ke arah Jungkook dan langsung memeluk pemuda Jeon tersebut. Meninggalkan pengasuh paruh baya-nya yang juga tersenyum melihat Jungkook datang.
" Kookie!" Jungkook tertawa riang saat anak kecil itu senang sekali bertemu dengannya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Sophia, gadis kecil berumur dua setengah tahun yang ada di gendongannya saat itu.
" Kookie rindu sekali. Dimana mama dan oppa?" tanya Jungkook.
" Mama di belakang, Oppa cedang belmain" lapor Sophia. Jungkook gemas kepada gadis kecilnya.
" Oh iya, kenalkan ini teman Kookie, ini Taetae-oppa, ini Mingyu-oppa dan ini Yoongi-oppa" Sophia membungkuk di dalam gendongan Jungkook. Tersenyum memperlihat gigi-gigi kecilnya kepada mereka bertiga yang belum tahu si gadis kecil.
" Ini Sophia, keponakanku. Anak Wonwoo-hyung" ucap Jungkook. Mingyu yang langsung jatuh cinta kepada Sophia langsung mengambil gadis itu dari Jungkook.
" Ayo dengan oppa!" Mingyu gemas setengah mati.
" Hyung, aku pesankan makanan dari tempat paman Lim sebentar. Sophia dengan Chimchim dan Oppadeul sebentar ya" Jungkook pergi dari sana. Sementara Jimin membimbing mereka ke salah satu meja di pojok cafe. Cukup ramai pengunjung, apalagi dari lantai atas terdengar suara nyanyian akustik.
" Biasanya Coffee-shop milik Wonwoo menjadi incaran anak sekolahan bersantai sambil mengerjakan tugas atau orang-orang melepaskan stres. Aku ingin menemui Wonwoo sebentar sekalian mengambil minuman di belakang" Mereka hanya mengangguk mengerti. Beberapa gadis muda menatap mereka, saling berbisik dan tersenyum mencari perhatian para pemuda tampan itu.
"Sophi ikut dengan Chim atau tunggu disini?" tanya Jimin.
" Tundu dicini caja" Sophia memainkan ujung jaket Mingyu. Mingyu dengan sayang mengelus pelan surai coklat Sophia. Sophia, si gadis kecil blasteran yang memikat Mingyu saat pertama kali melihatnya, meski mata sipitnya masih dapat diinisialisasi bahwa ada darah korea yang masih melekat pada gadis kecil itu.
" Ramai sekali!" Taehyung mengangguk setuju dengan apa yang disebutkan Yoongi.
" Hyung, bukankah Jungkookie-hyung anak tunggal?" tanya Mingyu.
" Iya, Wonwoo-hyung kalau tidak salah adalah sepupu Jungkookie-hyung. Dia pernah bercerita kepadaku jika dia ingin menemui sepupunya" jawab Yoongi.
" Dan Sophia adalah anak Wonwoo-hyung? How Cuteee!" Mingyu mencubit pipi Sophia. Beberapa saat kemudian Jimin datang membawa beberapa jenis minuman untuk mereka. Dari mineral dan minuman jenis kopi. Satu botol yang berisi susu untuk Alice.
" Maaf menunggu lama" Jimin duduk di sebelah Mingyu. Dekat dengan Yoongi.
" Sini denganku!" Jimin mengambil alih Sophia dan membantu Sophia minum susunya. Yoongi membantu menyeka susu yang tumpah dengan tisu. Mingyu dan Taehyung hanya menatap interaksi Yoongi dan Jimin terhadap Sophia.
" Seperti keluarga kecil bahagia" sindir Taehyung. Jimin langsung memerah sementara Yoongi tidak acuh.
" Iya sangat bahagia. Appa, eomma dan Ddal" Mingyu juga ikut menyindir.
" Ya! Hentikan!" teriak Jimin.
"Hyung, apa Wonwoo-hyung itu sepupu Jungkookie-hyung? Atau hanya teman biasa?" tanya Mingyu.
" Wonwoo sepupu Jungkook. Dia lama tinggal di luar negeri. Baru dua tahun kembali ke Seoul. Dia sebaya denganku" jawab Jimin. Alice sudah mengantuk di dalam pangkuan Jimin.
" Temanmu saja sudah punya anak, Jiminie. Kau masih saja sibuk berkarir" kini Yoongi yang menyindir.
"Biarkan saja, toh sudah ada yang berjanji akan menikahiku nanti" jawab Jimin. Mereka bercerita random sampai Jungkook datang dengan seorang anak laki-laki di sampingnya. Kali ini lebih kental wajah bule-nya.
" Will, sapa mereka. Dia teman Kookie!" ujar Jungkook.
" Hallo Uncle, aku William!" sapa William dengan semangat.
" Dia kakaknya Sophia" ucap Jungkook kepada mereka. Jungkook mendudukkan William dekat Taehyung.
" Duduk disini sebentar, Okay. Aigoo.. bayiku sudah tidur. Sini hyung! Biar aku bawa Sophia ke Wonwoo-hyung" Jungkook mengambil Alice dan membawanya ke Wonwoo.
" Umur berapa William?" tanya Mingyu. William memperlihatkan satu tangannya dan mengembangkan semua jarinya kepada Mingyu.
" Lima!" seru William semangat.
" William di adopsi Wonwoo saat masih kecil. Wonwoo mengatakan jika dia sudah jatuh cinta kepada William saat melihat William masih bayi di salah satu panti asuhan di Virginia" tutur Jimin. Semuanya takjub, melihat bocah laki-laki yang dirawat dengan baik seperti William. Taehyung spontan mengelus rambut William.
" William, sudah sekolah?" tanya Yoongi. William menggeleng.
" Kata mama, tahun depan Will baru boleh sekolah" jawabnya. Taehyung dan Mingyu gemas kepada anak laki-laki itu.
" Baik sekali Wonwoo-hyung mau mengadopsi William, hyung" ucap Mingyu. William sangat menggemaskan, tidak heran jika Wonwoo mengadopsinya. Mingyu juga akan melakukan hal yang sama jika ia menjadi Wonwoo.
" Will!" Seorang pemuda manis dengan mata sipit berjalan ke arah mereka beriringan dengan Jungkook. Makanan mereka juga di antar salah satu pelayan ke tempat mereka.
" Hyung, ini mereka yang aku ceritakan tadi" Mingyu, Taehyung dan Yoongi membungkuk hormat kepada Wonwoo.
" Mingyu, Taehyung dan Yoongi" Wonwoo mengabsen nama mereka sesuai dengan ciri-ciri yang diceritakan Jungkook. Mereka semua memang tampan seperti yang diucapkan adiknya.
" Silahkan di makan, kalian kemari untuk makan siang, kan?" Wonwoo duduk di sebelah Taehyung, memangku William. Berhadapan langsung dengan Mingyu.
" Ma, Will mau makan juga!" bisik William kepada Wonwoo.
" Will mau makan apa? Mama ambilkan dulu, tunggu disini, Okay?" William mengangguk. Mingyu terus memperhatikan gerak gerik pemuda manis ibu dua orang anak itu.
"Lehermu bisa patah jika terus memperhatikan hyungku, Gyu" ucap Jungkook memperhatikan Mingyu yang memandang Wonwoo dari tadi.
..
Mereka makan dengan hikmat, Taehyung mendapatkan apa yang ia mau. Memang sejak ia sakit, eomma-nya sangat rajin memasak, mengakibatkan ia jarang sekali makan diluar.
" Won-ah, kau ikut pulang lusa?" tanya Jimin. Mereka mendapat kabar jika keluarga mereka mengadakan acara makan bersama, berkumpul bersama. Kali ini paman Jimin ikut, setelah sekian lama menolak ikut makan bersama keluarga besarnya. Chanyeol belum siap menghadapi ayah ibunya untuk pertanyaan mengenai pasangan hidup, tapi kali ini ia sangat optimis.
" Majja, lusa adalah agenda tahunan keluarga kita berkumpul ya, hyung" ucap Jungkook mengingat.
" Iya Kook. Jadwal kita juga free, sepertinya Samchon memang sengaja agar kita bisa ikut berkumpul" jawab Jimin.
" Aku ikut Chim. Eomma dan nenek ribut terus menyuruhku pulang dengan anak-anak. Kau sengaja ya tidak mengangkat telepon nenek, Kookie?" tanya Wonwoo. Jungkook hanya tertawa pelan. Ia memang sengaja mengabaikan telepon dari nenek pihak ayahnya itu.
" Perkumpulan keluarga adalah saat dimana aku didesak untuk menikah. Menyebalkan sekali!" keluh Jimin. Dia sangat benci situasi dimana orang-orang ikut campur dalam masalah percintaannya. Apalagi masalah yang ia punya belakangan ini membuatnya semakin tersudut.
" Kita bicarakan saja besok semuanya, tentang berangkat dan sebagainya" tukas Wonwoo.
.
.
Sepulang dari tempat Wonwoo, mereka kembali ke Dorm.
" Hyung, suami Wonwoo-hyung dimana?" tanya Mingyu. Mingyu sangat penasaran. Dan sekaranglah saatnya ia bertanya kepada Jungkook, pemuda manis yang tengah menyetir. Tiga orang lainnya yang duduk di bangku belakang tidak mengambil pusing dengan keingintahuan Mingyu, orang awam pun tahu jika Mingyu memiliki rasa terhadap kakak sepupu Jungkook tersebut.
Jungkook tersenyum mendengar pertanyaan Mingyu.
" Wonwoo-hyung tidak memiliki suami" jawab Jungkook santai.
" Bagaimana bisa?" tanya Mingyu. Ia sangat terkejut mendengar jawaban Jungkook.
" Wonwoo-hyung sekolah di luar negeri. Aku tidak tahu karena pergaulan atau apa, Wonwoo-hyung pulang dalam keadaan hamil. Kami sekeluarga tidak mau mengungkit masalah siapa ayah atau dimana ayah anak yang dikandung Wonwoo-hyung. Wonwoo-hyung pulang dengan membawa William waktu itu. Ia hanya mengatakan, jika keluarga menerimanya, ia akan tinggal. Dan jika keluarga menolak Wonwoo-hyung dan William maka ia akan pergi. Aku dan keluarga tidak ingin kehilangan Wonwoo-hyung. Lagi pula jika memang Wonwoo-hyung melakukan kesalahan, maka ia bisa memperbaikinya. Wonwoo-hyung melakukannya, ia tidak menghilangkan bayi yang dikandungnya, bahkan ia sangat baik merawat Sophi sampai sekarang" jelas Jungkook. Mingyu hanya mengangguk mengerti. Begitu juga dengan Taehyung dan Yoongi yang duduk disamping kiri dan kanan Jimin.
" Apa Wonwoo-hyung sekarang dalam menjalani hubungan dengan seseorang, hyung?" tanya Mingyu lagi. Mingyu serius, ia telah jatuh cinta dengan Wonwoo, terlepas dari status Wonwoo. Dan ia sangat tidak keberatan dengan dua anak kecil menggemaskan yang dimiliki Wonwoo.
" Eung.. sepertinya tidak ada. Kau coba saja dekati Wonwoo-hyung. Dia sepertinya juga tidak membatasi gerakmu. Biasanya Wonwoo-hyung akan menolak di awal pertemuan" jawab Jungkook, Jungkook sadar jika pemuda menjulang itu memiliki rasa untuk kakak sepupunya. Jungkook tidak mempermasalahkan itu, awalnya jika memang takut jika berhubungan dengan orang yang lebih muda, tapi sekarang sudah ia buang jauh-jauh pemikiran itu. Apalagi Young Blood, semuanya berpikiran dewasa dan memiliki tanggung jawab tinggi.
.
.
Baekhyun mengutus Taehyung untuk menghadari undangan Chanyeol. Chanyeol tidak mempermasalahkan karena ia juga ingin mempertemukan Taehyung kepada keluarga besarnya terutama mengenalkan kembali Taehyung kepada ibunya.
Sementara Yoongi dan Mingyu terpaksa ikut karena di ajak Jimin, mereka tidak memiliki aktivitas di Dorm. Mingyu tentu saja ingin ikut karena Wonwoo dan anak-anaknya juga ada disana. Dan untuk Yoongi, dengan sedikit ancaman dari Jimin, pemuda pucat itu hanya mengangguk sebelum Jimin membantunya memasukkan pakaian Yoongi untuk dua hari di Busan ke dalam koper Yoongi.
Mereka sampai di Busan setelah beberapa jam melewatkan perjalanan. Jungkook, Yoongi dan Mingyu bergantian menyetir mobil. Tidak mungkin menyuruh Jimin atau Taehyung jika mereka ingin selamat sampai tujuan.
"Akhirnya sampai juga!" Jimin meregangkan badannya. Pegal sekali berada di dalam mobil. Apalagi Yoongi bersandar kepadanya.
" Tae, kenapa Samchon malah berkeras ingin membawamu kemari? Ada apa diantara kalian?. Tae, kau tahu nenekku itu sangat keras. Ketika dia menginginkan sesuatu dia harus mendapatkannya" ucap Jimin lagi. Jimin belum tahu kaitan tentang Taehyung dengan pamannya.
" Aku tahu hyung, tahu sekali. Untuk eomma dan Nji aku akan mendapatkan hati nenek" jawab Taehyung. Jungkook yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, Taehyung tidak menyelipkan namanya di salah satu keinginannya.
"Will!" Mingyu langsung menghampiri bocah laki-laki yang sedang bermain mobil-mobilan di halaman luas mansion itu.
" Uncle!" teriak William sumbringah.
" Sebentar lagi panggilan uncle akan berubah menjadi papa" gumam Jungkook. Ucapan pemuda kelinci itu membuat Yoongi mendengus. Dari awal jelas sekali jika Mingyu menyukai anak-anak itu apalagi ibunya. Yoongi cukup peka terhadap perasaan orang-orang yang sudah dianggapnya saudara itu. Mulai dari Lucas yang dari dulu mencintai Winwin, Taehyung dengan perasaannya untuk Jungkook dan sekarang ketulusan Mingyu untuk Wonwoo dan anak-anaknya.
" Ayo masuk. Jungkook, kau siap?" tanya Jimin. Jungkook mengangguk dan berjalan beriringan dengan Jimin untuk masuk dahulu ke dalam.
"Hyung, kau sudah sampai" Woojin menyapa kakaknya dan yang lain. Woojin dan Jihoon berangkat bersama orangtua mereka, baru sampai tadi siang.
"Cepat masuk hyung! Nenek sudah marah-marah karena kalian terlambat" celetuk Jihoon yang menyembulkan kepala di belakang Woojin.
"Langsung ke ruang makan setelah menaruh barang-barang di kamar ya anak-anak" ucap Yixing, ibu Jimin dan si kembar.
..
Mereka di meja makan kali ini. Aura menegangkan sangat kentara. Taehyung melirik Daddynya yang berada di depannya, di samping Daddynya juga ada Jungkook. Pada jamuan makan malam itu juga hadir kedua orangtua dan nenek kakek Jungkook.
Mereka mengenalkan diri sebelum ikut duduk bergabung dengan orang-orang yang lebih tua dari mereka itu.
"Tae, menegangkan sekali!" bisik Mingyu di samping Taehyung.
Taehyung bukan tegang karena situasi berhadapan dengan orang-orang tua yang memiliki martabat tinggi.
"Semua hidangannya seafood, aku rasa kau tidak baik" ucap Yoongi. Memang itulah yang sangat ia khawatirkan dari tadi. Hidangan itu sangat tidak cocok untuk perutnya.
"Ayo kita mulai acara makannya" ucap Eunhyuk, kepala keluarga tertinggi Park disana.
Jihoon yang duduk disamping neneknya langsung mendapat perhatian dengan neneknya menuangkan makanan yang ada di atas meja kepada cucu bungsunya itu.
Semua orang mulai menyantap makanannya. Beberapa orang disana menatap Taehyung yang mencoba memakan makanan yang ada disana, Jungkook jelas tahu jika Taehyung memaksa diri.
Setelah selesai makan, semua hidangan dibereskan. Mereka masih harus duduk disana, bercerita mengenai apa saja.
"Jadi Jimin, kapan kau akan menikah?" tanya Donghae, nenek Jimin.
" Itulah yang sangat aku benci saat berkumpul keluarga, kalian selalu saja membahas kapan aku akan menikah" rungut Jimin.
"Jiminie, kau tidak boleh seperti itu" bisik Yoongi. Sebebal-bebalnya Yoongi, ia tidak pernah tidak sopan kepada orang yang lebih tua. Dia hanya akan kabur jika semua tidak bisa diterima akal sehat miliknya, Yoongi tidak suka berdebat, mulutnya pedas, ia tidak mau menyakiti orang-orang tersayangnya.
"Jimin, bicara yang sopan kepada nenek" suara Yixing menggema disana.
"Eomma, eomma tidak tahu betapa frustrasinya aku saat kalian menyuruhku menikah. Tunggu saja, aku pasti akan menikah" jawab Jimin. Air muka Jimin berubah menjadi suram. Yoongi langsung menggenggam tangan Jimin di bawah meja makan.
"Aigoo, sudahlah Hae-ya, Jiminie akan menikah, jangan desak terus dia" tanggap Jaejong, nenek Jungkook.
" Sayang, benar apa yang dikatakan Jae-hyung" Eunhyukmenghibur istrinya.
" Yeol, bagaimana denganmu ? Kau juga tidak ingjn menikah? Aku sangat ingin memiliki menantu. Aku ingin semua anakku berumah tangga. Yunho-hyung, kita jodohkan saja Chanyeol dengan cucumu bagaimana?" Donghae melempar kekesalannya kepada anak bungsunya, Chanyeol. Cucu Yunho yang dimaksud adalah Jungkook, karena Wonwoo sangat tidak mungkin.
" Eomma!" sanggah Chanyeol.
"Apa kau juga mau membantah? Eomma sudah tua, dan kau belum menikah, kakakmu saja sudah punya anak yang sebentar lagi akan menikah" teriak Donghae.
"Jangan menjodoh-jodohkanku dengan Jungkook. Aku menyayangi Jungkook sudah seperti anakku sendiri" jawab Chanyeol.
"Berlagak punya anak, pasangan hidup saja tidak punya" sindir ayah Chanyeol.
"Lagipula aku sudah punya seseorang" tukas Chanyeol. Jungkook tersenyum mendengar tuturan Chanyeol. Ibu Chanyeol memang sangat ingin menjadikan Jungkook sebagai menantunya. Ini adalah pertama kalinya Jungkook mengetahui jika Nyonya besar Park, ibu Sajangnim-nya adalah nenek Jimin.
"Tapi aku ingin berbesan dengan Yunho dan Jae-hyung" ucap Donghae.
" Bisa saja eomma, tapi tidak dengan menikahkanku dengan Jungkook. Ada cara lain agar eomma tetap berbesan dengan Jae-eomma"
"Bagai—"
"—Dad, aku izin ke belakang!" Taehyung berburu meninggalkan mereka. Isi perutnya meronta minta dikeluarkan.
"Siapa dia? Dia mengatakan apa tadi? Dad? Daddy? Kau bermain dengan anak usia belasan sekarang? Jadi dia yang kau maksud orangnya?" tuntut Donghae. Dia berpegangan kepada suaminya, salah satu tangannya memijit kepalanya yang mendadak sakit.
" Maaf, aku izin sebentar?" Jungkook pergi dari sana, dia khawatir dengan keadaan Taehyung.
" Sayang, kenapa Jungkook juga izin ke belakang?" tanya Sehun. Luhan hanya menggeleng tidak mengerti. Luhan ingat jika Taehyung adalah pemuda yang mengangkat teleponnya tempo hari, pemuda yang ia titipi Jungkook agar dijaga.
" Nek, sebaiknya nenek dengarkan Samchon dulu" ucap Woojin. Junmyeon langsung mendelik ke arah anaknya itu, kenapa anak-anaknya suka sekali mencari masalah dengan kakek-neneknya.
" Aku tidak tahu harus menjelaskannya dari mana, yang pasti aku tidak bisa menikahi Jungkook"
" Eomma, ingat Tata tidak?" tanya Chanyeol.
" Kau ingin mengalihkan pembicaraan dari topik? Agar aku dapat melepaskanmu? Eomma memang merindukan Tata, dia salah satu cucu kesayangan eomma selain mereka. Tapi kali ini eomma ingin kau menikah, Yeol-ah" jawab Donghae.
"Tata itu anak kecil yang bermain dengan kita dulu, Jin?" Woojin mengangguk. Chanyeol memang sering membawa Tata ke tempat orangtuanya. Si kembar juga sering bermain dengan anak laki-laki yang tua satu tahun di atas mereka.
" Aku merindukannya! Pasti dia sudah besar dan tampan sekarang" Donghae gemas sendiri jadinya.
"Antel! Mingming antel help! Ada montel menyelangku!" terdengar suara anak kecil berlarian dan teriakan menuju mereka. Sophia sedang dikejar kakaknya.
"Hei, hei sayang duduk saja ayo" Wonwoo menghampiri anak-anaknya yang berdiri di dekat kursi Mingyu. Sophia sudah bangun tidur dan makan malam bersama William dan pengasuhnya.
"Ma, mau main dengan Antel Mingming, boleh?" Tanya Sophie menatap ibunya. Wonwoo langsung mencubit gemas pipi anaknya itu.
"Coba tanya sendiri dengan Uncle" ujar Wonwoo.
"Antel Mingming? Antel Mingming! Ayo main dengan Phia dan Will-Oppa. Piliiiiissssss Antel!" pinta Sophia kepada Mingyu. Anak kecil dengan rambut dikuncir dan memakai piyama motif kartun itu sedang mengayun-ayunkan tangan Mingyu yang digenggam.
" Iya, ayo!" Mingyu pamit kepada orang-orang disana dengan hormat. Segan sekali rasanya.
" cicitku kenapa bisa dekat begitu dengan pemuda itu?" tanya Yunho. Jaejong langsung melirik ke arah Wonwoo meminta penjelasan.
" Aku tidak tahu Halmeoni. Anak-anak welcome dengannya, jadi aku tidak mempermasalahkannya" jawab Wonwoo.
" Sepertinya aku akan memiliki menantu" ucap Luhan menggoda anaknya itu.
" Eomma!" Wonwoo malu. Sehun ikut tersenyum. Wonwoo sudah mulai terbuka. Sejak kakak Sehun meninggal, Wonwoo memang tinggal dengan mereka. Bahkan ia dan Luhan sudah menganggap Wonwoo sebagai anak pertamanya, kakak Jungkook.
..
"Gwaenchana?" tanya Jungkook. Ia membantu Taehyung mengurut bagian belakang tengkuk Taehyung. Pemuda tampan itu mengeluarkan semua makanannya di kloset.
" Ah !" Taehyung mengambil nafas. Mukanya pucat, membuat Jungkook merasa sangat kasihan dengan pemuda Kim itu. Jungkook membantu Taehyung dengan memapah Taehyung kembali ke ruangan makan.
" Kau baik-baik saja?" tanya Yoongi. Taehyung hanya mengangguk.
" Tae, pergi saja istirahat di kamar. Kau pucat sekali" Taehyung menatap Chanyeol. Ia merasa segan sekali jika ia pergi dari sana.
" Kau terlihat sangat khawatir dengan dia. Siapa dia sebenarnya? Kau benar-benar tidak ada hubungan istimewa dengan pemuda itu, kan?" lagi-lagi Donghae menghakimi Chanyeol.
" Eomma, Taehyung itu ad—"
" Apa? Siapa dia?" tanya Donghae memojokkan Chanyeol. Taehyung ingin sekali menjawab siapa dia, tapi sekarang bukan saatnya. Ia berharap Daddy-nya dapat menjelaskan siapa dia kepada Donghae.
"Tae, pergi istirahat. Jungkook, antarkan Taehyung ke kamar tadi" ucap Chanyeol kepada Jungkook. Jungkook mengangguk. Ia kembali memapah Taehyung. Jungkook tidak keberatan sama sekali, bahkan ia sangat senang karena bisa sedekat ini dengan Taehyung.
" Jadi jelaskan! Dari tadi kau hanya mengulur-ulur waktuku" marah Donghae.
" Aku sudah memiliki istri!" pengakuan Chanyeol membuat orang-orang disana terkejut kecuali Junmyeon dan Yixing.
" Aku tidak pernah merasa menikahkan kau dengan seseorang, Chanyeol!" ucap Eunhyuk.
" Bukan appa, tapi hyung yang menjadi waliku saat menikah" aku Chanyeol.
" Kapan kau menikah? Dengan siapa? Dan dimana sekarang istrimu?" tanya Donghae.
" Jinjja! Kenapa kalian berdua tetap berandal, eoh? Sudah tua malah melakukan hal seperti ini. Kau juga, Junmyeon! Kenapa kau menyembunyikan pernikahan adikmu?" Donghae tidak habis pikir dengan kelakuan kedua anaknya.
" Aku yang meminta hyung melakukannya. Aku tidak ingin eomma melakukan pesta besar untuk pernikahanku. Istriku tidak bisa diliput media saat itu eomma"
" Siapa memangnya istrimu? Anak presiden? Aktris? Model terkenal?" tanya Donghae. Semua yang ada disana hanya diam mendengarkan perdebatan ibu dan anak itu.
" Istri Chanyeol memang terkenal eomma. Dia model terkenal" semua yang ada disana kembali terkejut dengan jawaban Yixing.
" Benarkah? Siapa dia?" kali ini Luhan yang penasaran.
" Bae—"
"Hyung, aku saja yang cerita" Chanyeol buru-buru memotong ucapan kakak iparnya. Ia hanya ingin bercerita sendiri, tentang dia, istrinya dan anak-anaknya.
" Eomma, appa! Aku menikah dengan seseorang yang aku cintai sejak lama. Aku menikah dengannya. Namanya Baekhyun!" jelas Chanyeol. Semua yang ada disana terkejut, mereka jelas tahu siapa Baekhyun. Apalagi Woojin dan Jihoon.
"Eomma-nya Tae-hyung?" teriak mereka berdua. Chanyeol mengangguk. Yoongi hanya menatap Jimin yang masih berpikir, pemuda Mochi itu sangat menggemaskan dimata Yoongi.
" Astaga, Baekhyun yang sangat terkenal itu? Dia sudah punya anak? Taehyung?" tanya Luhan. Ia baru mengerti kenapa pemuda tampan itu ada disini.
" Iya hyung, itulah kenapa aku mengajak Taehyung kemari. Eomma pasti sangat merindukan Taehyung juga" jelas Chanyeol lagi. Ia mencoba tenang, kabar yang ia bawa pasti akan membuat orang-orang yang tidak tahu di ruangan itu cukup terkejut.
" Apa maksudmu? Aku merindukannya? Yang benar saja" ejek Donghae, ia hanya mencoba menutupi diri dari rasa senang setelah mendengar kabar Chanyeol telah memiliki istri, terlebih pria cantik terkenal seperti Baekhyun.
" Jadi eomma tidak merindukan Tata?" tanya Chanyeol lagi. Donghae membulatkan mata, mencoba memahami apa yang diucapkan anaknya.
" Tata? Dimana dia sekarang?" tanya Donghae. Chanyeol terkekeh. Eommanya sangat addict kepada Tata, Taehyung kecil tiga belas tahun yang lalu. Taehyung kecil saat itu masil cadel, kesulitan memanggil diri sendiri, yang seharusnya Taetae berubah menjadi Tata.
" Eomma, aku berhasil menikahi eomma Tata, Baekhyun. Ibu Kim Taehyung. Pemuda yang memanggilku Daddy tadi, yang sekarang sedang istirahat di kamar tamu" Lagi, semua yang ada disana terkejut.
" Astaga! Ommo! Ommo!" teriak Donghae heboh.
" Tenang eomma! Taehyung sedang istirahat. Jangan ganggu anakku" ucap Chanyeol, menahan ibunya yang ingin menemui Taehyung. Chanyeol sangat bangga dan senang ketika memperkenalkan kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya bahwa Taehyung adalah anaknya.
" Jadi Chanyeol berhasil menikahi cinta pertamanya, Yeobo?" Sehun mengangguk, menjawab pertanyaan istrinya.
" Jadi Tae-hyung adalah teman kecil kita, Jin-ah?" Woojin juga mengangguk menjawab pertanyaan kembarannya.
" Dan Taehyung adalah sepupuku, Yoon!" ucap Jimin tidak percaya. Pantas saja pamannya itu sangat dekat dengan Taehyung. Ia pikir hanya sebatas sayang yang biasa, seorang direktur kepada artisnya.
" Jadi maksudmu agar aku bisa berbesan dengan Jae-hyung adalah dengan menikahkan Tae-hyung dengan Jungkookie? Astaga! Aku sangat setuju!" ucap Donghae semangat. Jaejong tertawa melihat Donghae yang sangat semangat kali ini.
" Itu semua terserah Taehyung dan Jungkook sebenarnya" jawab Chanyeol. Donghae masih sibuk membayangkan apa yang terjadi jika keluarga besar Park dan Jeon itu bersatu.
" Hae-ya, sebaiknya kau urus saja masalah Chanyeol dengan istrinya dulu. Bukankan kau harus bertemu dengannya? Dengan menantumu" ucap Jaejong mengingatkan.
" Hum, benar. Dimana menantuku itu sekarang?" tanya Donghae.
" Baekhyun masih sibuk shoot kemaren eomma, makanya ia tidak bisa datang kemari. Lagipula Jiwon sedang tidak enak badan kemarin, dia tidak bisa bepergian jauh"
" Jiwon? Nugu?" tanya Eunhyuk penasaran. Ada saja tokoh baru yang disebutkan oleh anaknya itu dalam cerita yang sampaikan.
" Jiwon, Park Jiwon. Anak bungsuku dengan Baekhyun" jawab Chanyeol.
" Oh God! Chanyeol, berhenti membuat eomma jantungan!"
.
.
To Be Continued.
.
.
Selesaikan konflik satu-satu dulu ya.
This is very annoying! Tiga chapter yang sudah aku ketik tahun kemarin hilang, lupa back up, laptop hang dan mesti di instal ulang.
Sempat greget, mau berhenti nerusin ff ini.. , jadi sedih.
By the way, mau ucapin selamat buat KJN couple, udah bikin shock terapy di awal tahun yaaa..
Buat Dispatch yang bikin shock Army karena berita Dating member BTS. Apapun yang terjadi, personal-life mereka tidak bisa kita atur seperti kita mengatur mereka di ff yaaa...
Jadilah penggemar yang bijak, dukung semua karya mereka.
Bye, sampai bertemu di Chapter berikutnya. Doakan cepat Up yaaaa...
.
.
