Bukan sequel dari NO FUN
Ke depannya ini akan jadi kumpulan oneshoot SoonHoon
Salam, #SoonHoonSquad *emot lope*
Jihoon sedang bekerja dan Soonyoung terus-menerus mengganggunya
Based on the latest Seventeen V-App (160323)
#soonhoon #seventeen #t #yaoi
Don't Ever Melt for Others (You're Mine)
Ckiit, terdengar suara engsel pintu studio dibuka tanpa ada sapaan terlebih dulu dan ketika Jihoon menolehkan kepala ke samping untuk melihat siapa yang datang, bibirnya pas berbenturan dengan bibir seseorang.
"Uh?" Soonyoung cepat menarik diri karena terkejut sudah mencium Jihoon, pun dengan namja mungil di depannya yang juga membelalakkan mata. "Targetku pipi, kau sendiri yang menoleh," tudingnya tidak mau disalahkan dan Jihoon hanya bisa mendesis lalu mengalihkan mata kembali pada pekerjaannya, mengolah track lagu di layar komputer.
Soonyoung meraih sebuah kursi, menggesernya dekat dengan tempat duduk sang produser, lalu mendudukkan diri dengan tanpa banyak bicara di sebelah Jihoon.
"Tinggal berapa menit?" celetuk Soonyoung setelah beberapa saat keheningan menguasai jarak dan jeda di dalam studio, hanya berisik suara mouse yang tak berhenti dipencet oleh ujung jari Jihoon yang memberikan tanda masih ada kehidupan di dalam ruangan itu.
"Sedikit lagi," desis Jihoon yang dengan cepat melanjutkan, "Apa kau kemari hanya untuk menciumku dan menanyakan soal lagu?" dia menoleh pada Soonyoung.
"Eoh." Dengan simpel namja sipit tersebut mengiyakan, sekejab membuat Jihoon berdecak tidak percaya.
"Bagus, kalau kau mati aku juga tidak akan menangis untukmu." Si mungil bersungut-sungut. Di sampingnya, suara cekikikan Soonyoung terdengar.
"Cappuccino atau americano?"
Mendengar pertanyaan itu, kepala bulat Jihoon menoleh dengan cepat, matanya langsung berbinar melihat dua cup kopi kegemarannya ternyata sudah nangkring manis di atas telapak tangan Soonyoung. Dia hendak meraih cup americano namun tangan kekasihnya lebih dulu menjauh.
"A-a-a~" Soonyoung menggelengkan kepala, cengiran jahil muncul di wajahnya.
"Yah—" Jihoon mengeluarkan tanda peringatan.
"Wae~" si mata segaris memainkan nada kalimatnya. "Ini punyamu," Soonyoung memajukan cappuccino di tangannya. "Dan ini punyaku," dia memundurkan tangan lain yang memegang americano.
"Kau tahu minuman manis membuatku mengantuk." Jihoon bicara dengan nada suara datar, bukan karena kesal dikerjai Soonyoung tapi lebih ke dia merasa lelah. Lelah dan kurang istirahat, namun sekarang belum waktunya untuk bersantai-santai.
"Lalu?"
"Pekerjaanku masih banyak, jadi berikan americano itu padaku," pinta Jihoon sambil mengulurkan tangan pucatnya.
"Tapi ini punyaku." Soonyoung bersikeras tanpa alasan, membuat kekasih mungilnya kembali berdecak.
"Kalau kau sudah berencana memberiku cappuccino, kenapa sebelumnya kau harus menawariku!?" suara Jihoon melonjak naik, kali ini dia benar-benar kesal.
Soonyoung nyengir. "Karena membuatmu marah itu menyenangkan."
Mata Jihoon melotot tajam, kembali dia mengulurkan tangannya. "Berikan padaku," pintanya. "Atau aku akan memukulmu," dia melanjutkan dengan ancaman.
"Jangan dipukul. Cium saja, mumumu~" Soonyoung memonyongkan bibir yang hanya mendapat balasan dorongan pelan dari permukaan bogem Jihoon membuat kepalanya mundur dan membentur sandaran kursi, sementara sang lead-vocal memajukan badan padanya untuk meraih cup americano dari tangannya.
"Ah, kau pelit sekali," desis Soonyoung masih bersandar di kursi dengan mata menatap langit-langit studio, sedangkan Jihoon telah kembali duduk di kursinya dan membuka cup kopi dengan gembira.
Soonyoung memperhatikan Jihoon, melihat bagaimana namja mungil itu menyeruput cairan coklat kental dari dalam cup plastik dan bagaimana ekspresi wajahnya kemudian berubah. Sang lead-dancer hanya menahan tawa saat Jihoon memeriksa tulisan order di badan cup dan mengeja jika deretan huruf tersebut benar-benar terbaca 'americano'. Sedetik setelahnya, tatapan tajam kembali mengarah pada Soonyoung.
"Apa lagi?" tanpa rasa berdosa namja sipit itu membalas wajah jengkel Jihoon dengan senyuman cerah.
Jihoon tidak menjawab, sinar matanya sudah cukup membuat Soonyoung mengerti jika dia menuntut penjelasan.
"Aku cuma bilang pada barista-nya kalau pacarku hanya mau minum americano, 'ah, eotteoke~ tapi aku ingin dia minum sesuatu yang manis supaya sedikit rileks' aku bilang. Dan aku diberi saran, 'bagaimana kalau menukar isinya? Cup americano berisi cappuccino dan sebaliknya'." Soonyoung mengakhiri penjelasan dengan senyuman tidak lepas dari wajahnya.
"Tsk!" kembali Jihoon berdecak, dengan gamang dia mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa dilempar maupun dipukulkan pada manusia menyebalkan di depannya tapi pada akhirnya namja tersebut hanya dapat menghela napas panjang sembari menghempaskan punggung ke sandaran kursi.
"Aku tidak percaya aku pacaran denganmu, Kwon Soonyoung," keluh Jihoon seolah merasa miris pada sisa umurnya membayangkan jika dia harus menghabiskannya bersama makhluk satu itu.
Di sisi lain, Soonyoung hanya cengar-cengir menanggapi, "Kenyataannya kau melakukannya." Dengan santai dia membuka cup cappuccino di tangannya dan dengan nikmat menyeruput americano yang seketika membuat kedua matanya terbuka lebar. Sedangkan di sebelahnya, Jihoon hanya dapat menelan ludah dengan iri.
Soonyoung mencecap lidahnya, memandang Jihoon yang tengah memperhatikannya dan namja sipit itu kembali tersenyum. "Nik-mat~" godanya yang hanya membuat sang kekasih mendengus kesal. Merasa menang, Soonyoung tertawa.
"Setelah kau tidur aku akan membelikanmu americano—" kalimat Soonyoung terpotong.
"Tidak perlu!" Jihoon kembali menegakkan punggungnya dan memegang mouse. "Aku bisa membelinya sendiri." Suaranya terdengar sangat judes.
"Eyy~ begitu saja kau marah," desis Soonyoung. "Astaga, pacarku ngambekan."
"Astaga, pacarku sangat menyebalkan dan tidak pengertian," balas Jihoon, kali ini entah kenapa membuat orang di sampingnya malah terkikik geli.
"Kalau aku tidak pengertian, aku tidak akan menyuruhmu tidur." Soonyoung membela diri.
"Kalau kau pengertian, seharusnya kau tahu tinggal berapa lama waktuku sampai deadline!" Jihoon menggunakan tanda seru di suaranya, disempurnakan oleh ekspresi jengkel di wajahnya dan kesemua itu cukup membuat Soonyoung membungkam cekikikannya.
Suasana hening seketika.
"Tidakkah kau seharusnya memelukku sekarang?" celetuk Jihoon membuat Soonyoung langsung membulatkan mata tidak mengerti.
"Apa maksudmu?"
Jihoon menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke samping. "Apa kau tidak mau minta maaf karena sudah mengerjaiku dan membuatku marah barusan?"
Soonyoung terdiam sejenak, dan, "Pfft—" dia menahan tawa. "Bilang saja kau minta dipeluk. Tidak perlu beralasan begitu."
Ting, Jihoon merasa panas merata di kedua pipinya di waktu yang tidak tepat dan membuatnya langsung mengalihkan wajah dari hadapan Soonyoung.
"Kau sangat tidak peka," gerutu namja mungil tersebut.
Grak, mendadak Soonyoung berdiri, membuat Jihoon kembali memandangnya—kali ini dengan muka kaget.
"Mau kemana?"
"Membegal orang," jawab Soonyoung asal. "Aku segera kembali." Dia berjalan ke pintu.
"Seungkwan-ah!" teriak Soonyoung begitu membuka pintu studio. "Boo Seungkwan!" panggilnya lebih keras. "YAH! Lee Seokmin, Boo Seungkwan, dimana kalian!?"
Klep, pintu tertutup, menyisakan punggung Soonyoung yang masih terlihat di kaca transparan nampak celingak-celinguk mencari orang-orang yang barusan dia panggil lalu berjalan menjauh. Perlahan Jihoon menghela napas panjang, sedikit merasa sedih pada kesepian yang kembali terasa di tengah-tengah kesunyian studio. Dipandangnya cup kopi Soonyoung yang tertinggal tak jauh dari letak mouse-nya. Namja itu menatap gelas plastik tersebut beberapa saat sebelum kemudian mengulurkan tangan untuk mengambilnya dan meminum isinya.
-o-
Soonyoung kembali sekitar sepuluh menit kemudian, dengan tangan membawa roti, cemilan, dan kue muffin.
"Di kafe, Chan bilang Seungkwan dan Seokmin sedang pergi ke supermarket. Aku tidak akan pernah membiarkan kecebong-kecebong itu berpesta sendirian seolah Hyung mereka sudah mati," tutur Soonyoung sembari dengan hati-hati meletakkan barang-barang di pelukannya ke atas sofa di belakang tempat Jihoon duduk.
Dengan siulan riang namja sipit tersebut merebahkan pinggul di atas sofa lantas mendongak memandang Jihoon yang hanya menatapnya dari kursi produser.
"Kau mau makan atau tidak?"
Dan Jihoon menjawab dengan senyuman. Dia melompat turun dari kursi, langsung menjatuhkan diri di sebelah kekasihnya dan membuka mulut untuk menerima potongan muffin yang disuapkan ke arahnya.
"Apa kira-kira semua lagu itu bisa selesai sebelum deadline?" tanya Soonyoung setelah susah payah menelan isi mulutnya.
Jihoon mengedikkan bahu, menjilati ujung jarinya yang terkena bumbu keripik kentang. "Aku tidak bisa memastikan apa-apa. Ada apa memang?"
Soonyoung menatap Jihoon. "Apa kau tidak merindukanku?" tanyanya dengan nada suara serius, membuat si mungil menoleh padanya dan langsung tertawa.
"Wae wae wae~" Jihoon mempermainkan irama kalimatnya. "Jangan mulai, Kwon Soonyoung."
Soonyoung berdecak keras. "Apa kau ingat kapan terakhir kali kita tidur bersama? Kau tidak ingat 'kan? Selesai promosi Mansae kita hanya libur beberapa hari, lalu ada meeting soal comeback dan kau langsung mengurung diri di sini melupakan pacarmu yang paling tampan ini," cerocos Soonyoung. "Dan sekarang aku butuh belaian," tutupnya.
"Jab—" Jihoon menahan tawa. "—blay! Hahaha!" dan dia ngakak. Soonyoung hanya bisa berdecak.
"Apa mereka tidak membeli cola? Kenapa kau tidak minta cola?" celetuk Jihoon menyadari ada yang kurang di antara tumpukan makanan di sofa.
"Apa sekarang cola lebih penting daripada aku?" tanya Soonyoung masih memakai nada kesal di suaranya.
"Eoh," jawab Jihoon singkat lalu beranjak ke meja produser dan mengambil cup kopinya juga milik Soonyoung.
"Makan cemilan dengan kopi itu kurang mantap," keluh Soonyoung setelah meminum americano dari gelasnya. "Habiskan punyamu, nanti aku belikan air dingin dan cola."
Jihoon menggelengkan kepala. "Ini manis. Aku mau kopimu saja," tudingnya pada gelas Soonyoung.
"Jangan pemilih," desis namja sipit tersebut.
"Ck, kau menyebalkan," dengus Jihoon.
"Kau menyukaiku karena itu," balas Soonyoung.
"Jangan kepe-dean."
-o-
"Hyung! Aku pulang dulu, ya! Aku kemari lagi besok pagi!" terdengar lamat suara Lee Chan berteriak dari celah pintu yang dibuka oleh Soonyoung.
"Eoh, hati-hati. Jangan lupa besok bawa makanan," balas sang leader.
"Sip!" sahut Maknae.
Klep, pintu tertutup.
"Mereka pulang?" tanya Jihoon sembari menerima kantong plastik berisi botol air dingin dan cola dari tangan Soonyoung. Dengan cepat dibukanya tutup air mineral.
"Eum," Soonyoung mengiyakan, menarik kursi ke sebelah tempat duduk Jihoon. "Tapi sepertinya di lantai bawah masih ada orang. Tadi aku mendengar suara Seungcheol Hyung, Wonwoo, dan Hansol."
Jihoon mengangguk-angguk, menelan air di dalam mulutnya dan memberikan botol pada Soonyoung yang menengadahkan tangan.
"Aku ada janji dengan mereka, setelah lagu ini selesai kami akan mendiskusikan lirik rap untuk lagu berikutnya. Mereka mungkin sedang membuat lirik sekarang."
Terdengar Soonyoung mendesis pelan. "Setelah lagu ini selesai, tidurlah. Kau benar-benar harus tidur, kantung matamu mulai hitam."
Jihoon meraba bawah matanya, mengusap kedua pipinya yang mulai tirus dimakan oleh kesibukan yang tidak mengenal waktu. "Aku baik-baik saja."
"Kau baik-baik saja tapi aku tidak," ujar Soonyoung. "Kau tidak cantik kalau mukamu capek."
Dengan cepat Jihoon menoleh.
"Aku serius," Soonyoung melebarkan matanya. "Kalau kau lesu, aku jadi malas mengganggumu."
Kali ini giliran Jihoon yang mendesis. "Yang kau pikirkan hanya menggangguku saja."
"Aku tidak akan membiarkanmu bosan, Gudae-ya," ujar Soonyoung jenaka sambil men-toel ujung dagu Jihoon.
"Jangan genit. Menggelikan," dengus si mungil dibalas cekikikan oleh kekasihnya.
"Oh ya, soal aku butuh belaian—" Soonyoung sengaja menggantungkan kalimatnya, melihat Jihoon meliriknya dengan ekor mata. "—aku juga serius."
Hening. Soonyoung menunggu hingga Jihoon memandangnya, baru melanjutkan bicara.
"Setidaknya beri aku pelukan~" namja itu merengek, memasang wajah melas sambil cemberut persis anak kecil.
"Sepertinya aku duluan yang menyinggung soal itu," ujar Jihoon.
"Jadi maksudmu, aku yang harus memelukmu?" tanya Soonyoung dijawab anggukan simpel namja cantik di depannya.
"Kenapa harus selalu aku yang duluan?"
"Kenapa kau selalu tidak pernah mengiyakan saja permintaanku?" balas Jihoon.
"Kenapa kau selalu tidak pernah mau mengalah?" bantah Soonyoung.
"Kenapa kau selalu mengajakku bertengkar seperti ini? Kenapa kau selalu membuatku marah? Kenapa kau sangat menyebalkan!?" serang Jihoon bertubi-tubi.
Soonyoung tersenyum. "Karena kau terlihat paling manis kalau sedang judes begini. Aigoo, tsundere-ku neomu kyeowoo~" pujinya gemas sambil menarik lembut ujung hidung Jihoon. Kemudian namja tinggi itu berdiri, beranjak dan menghempaskan badan di sofa.
"Kemarilah," Soonyoung mengulurkan tangan, meminta Jihoon untuk mendekat.
Tak ada reaksi, Jihoon masih duduk di kursinya.
"Sebelum aku berubah pikiran—"
Jihoon mendengus, namun tetap saja dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Soonyoung. Dengan sengaja Jihoon menjatuhkan diri di pangkuan Soonyoung, membuat namja sipit tersebut memekik ketika berat tubuhnya berpindah keras ke atas pahanya.
"Aigo, aigoo, aigooo~" keluh Soonyoung. "Ini badan apa batu? Berat sekali~"
"Yah!" dengan kesal Jihoon memukul pelan dada Soonyoung, membuat kekasihnya terkikik kemudian.
"Meski kau sibuk setidaknya berat badanmu tidak banyak berkurang." Soonyoung menepuk-nepuk pantat Jihoon seperti seorang ibu sedang membuai anaknya.
"Benarkah?" tanya Jihoon terkejut.
"Kau meragukanku?" balas Soonyoung. "Aku yang paling tahu soal kau dan tubuhmu."
Mata Jihoon terbelalak. "Kurang ajar. Dasar mesum," ujarnya kembali memukul Soonyoung.
"Mesum pun kau suka," dendang Soonyoung sambil melingkarkan lengan di badan Jihoon, memeluknya dengan erat, sementara kekasih mungilnya meletakkan kepala di permukaan dadanya dan dalam diam mendengarkan irama denyut jantungnya yang lama-kelamaan berubah menjadi seperti lullaby bagi Jihoon.
"Ngomong-ngomong, bisa kau lepas jaketmu?" celetuk Soonyoung.
"Hm?" Jihoon menarik diri dari tubuh tegap sang dancer. "Kenapa?"
"Kau tidak cocok pakai itu."
Jihoon memandang jaket jeans yang sedang dia kenakan. Di syuting V-app barusan Soonyoung juga sudah menegurnya soal jaket dengan aksen sobek-sobek itu.
"Kau tidak suka?" tanya Jihoon, melepas jaketnya. "Ini hangat."
"Pelukanku lebih hangat," gurau Soonyoung membuat wajah di depannya menyeringai.
"Hentikan." Dengan nyaman Jihoon kembali menyandarkan kepala ke dada Soonyoung.
"Aku tidak suka karena kau menyebutnya couple dengan orang lain," bisik Soonyoung, ujung jarinya terasa lembut memijat tulang pinggul Jihoon. Untuk kedua kalinya namja mungil itu menarik diri dari pelukan Soonyoung, kali ini dengan ekspresi kaget di wajahnya.
"Maksudmu..." Jihoon tidak menyelesaikan kata-katanya dan tanpa dia melanjutkan bicara pun Soonyoung tahu apa yang ada di benaknya. Sebelumnya, secara tidak sengaja Jihoon menyadari dirinya memakai code dress yang sama dengan Seungcheol, sang general leader. Mereka berdua sama-sama memakai jaket jeans yang mana membuat member heboh dan mulai meledek soal couple-thing. Jihoon tidak percaya jika Soonyoung ternyata memikirkan hal itu, kalau tidak melihatnya sendiri Jihoon tidak akan pernah percaya seorang Kwon Soonyoung bisa cemburu karena hal seperti itu.
"Aigoo~" senyuman lebar Jihoon membuat kedua matanya tenggelam ke dalam garis cantik di wajahnya. "Apa kau cemburu? Hm? Kyeowoo~" gurau Jihoon, dengan sengaja memegang kedua pipi Soonyoung dan mengusap-usapnya sambil tertawa. Sementara Soonyoung hanya diam tanpa memperlihatkan senyum sedikit pun.
"Apa kau masih memikirkan soal Seungcheolie Hyung? Apa kau masih berprasangka buruk padanya? Yah, kau tidak percaya padaku?" tanya Jihoon bertubi-tubi yang hanya dibalas desisan oleh Soonyoung.
"Aku pikir itu wajar," ujarnya sambil mengalihkan mata.
"Yah, lihat aku." Jihoon membuat wajah Soonyoung kembali mengarah padanya. "Aku tidak ada rasa apa-apa pada Seungcheol Hyung. Begitu pun dia. Kau tahu itu. Semua member tahu. Dan bahkan seluruh dunia sudah tahu, jadi jangan mempermasalahkannya lagi. Oke?"
Soonyoung terdiam. Tak bicara. Tak tersenyum. Hanya menatap lurus Jihoon dengan kedua mata sipitnya yang nampak tajam—menakutkan—jika seperti ini dan entah kenapa hal itu membuat Jihoon gugup, tak ada yang lebih dia cemaskan di dunia kecuali Soonyoung yang sedang marah.
"Aku hanya tidak suka melihatmu dipasangkan dengan orang lain," ujar Soonyoung, nada suaranya terdengar datar. Jihoon menundukkan kepala.
"Kau milikku."
Dengan itu Jihoon mendongak cepat, mencari pusat mata Soonyoung dan sebuah senyuman tidak bisa disembunyikan oleh bibir tipisnya.
"Sekarang aku tahu kenapa para gadis sangat suka membuat pacarnya cemburu dengan sengaja," desis Jihoon.
Soonyoung mengerutkan alis tidak mengerti.
"Ternyata kata-kata 'kau milikku' itu sangat manis." Jihoon kembali menunduk, kali ini dengan wajah yang sudah memerah matang. Dan di detik berikutnya dia menjatuhkan diri di pelukan Soonyoung, menyembunyikan senyuman bahagia serta mukanya yang terasa panas maksimal.
"Yah," tegur Soonyoung. "Awas saja kalau kau sengaja membuatku cemburu, aku tidak akan melepaskanmu," ancamnya.
Terdengar Jihoon terkekeh. "Tapi kau benar-benar kyeowo kalau sedang cemburu," dia merengek. Dalam hati melanjutkan, Meski lumayan seram juga sih.
"Yah!" Soonyoung pura-pura marah, menjatuhkan ujung jemari di pinggang Jihoon dan menggelitikinya hingga tubuh mungil tersebut menggelinjang dibarengi suara keras tawa yang menggema hingga ke sudut studio yang memiliki lapisan tebal peredam.
Beberapa menit kemudian Jihoon menjatuhkan kepala dengan lemas di dada Soonyoung. Napasnya terengah-engah setelah tertawa begitu keras mendapat hukuman tanpa ampun dari kekasihnya.
"Kau menyebalkan," bisik Jihoon sambil memukul lemah lengan Soonyoung.
"Kau juga," balas namja sipit itu, senyuman sudah kembali di wajahnya.
"Kau membuatku lelah," desis Jihoon.
"Istirahatlah." Soonyoung meletakkan tangan di kepala Jihoon, mengusap lembut rambutnya yang sudah berubah warna menjadi gelap.
"Aku ngantuk..." perlahan Jihoon menutup mata.
"Tidurlah."
"Kau tidak pernah membantuku," bisik Jihoon. "Kau hanya selalu menggangguku..."
"Kau tidak suka?" tanya Soonyoung.
Jihoon menggeleng, mempertemukan tangannya dengan tangan Soonyoung dan mengkaitkan kelima jari mereka. "Aku suka."
Soonyoung tersenyum, mengangkat tangannya yang menyatu dengan tangan Jihoon. "Aku juga senang kau bersamaku," bisiknya lantas mengecup lembut setiap jari Jihoon yang terselip di antara jemarinya.
Jihoon tersenyum, "Kau tidak cocok mengucapkan kata-kata mesra begitu. Menggelikan."
"Kau sendiri selalu bilang 'menggelikan' pada hal romantis tapi malah membuat lirik lagu paling romantis. Aneh," balas Soonyoung.
"Kau lebih aneh, membuat dance dari tisu."
"Aku pikir tidak ada yang bisa mengalahkan keanehan orang yang membuat musik dari menjentikkan jari."
"Hentikan." Jihoon mencubit pelan kekasihnya. "Jangan mengajakku bertengkar, aku sedang tidak bisa berpikir sekarang."
Soonyoung terkekeh. "Kalau begitu tidurlah."
"Bangunkan aku sejam lagi." Jihoon menguap lebar, menyamankan diri bersandar di dada Soonyoung dan menutup mata, membiarkan dirinya melemah di dalam perlindungan orang yang paling dia sayangi.
"Eum, selamat tidur," desis Soonyoung, menyandarkan kepala ke sofa dan ikut memejamkan mata.
-END-
GAJE
Myka tahu -_- gak perlu diperjelas T_T
Soonyoung dan semua ke-posesif-annya
Pengen tukeran posisi sama Jihoon biar bisa deket Jisoo /\*-*)
Sampe detik terakhir gak dapet ide mau dikasih judul gimana, nonton engsub-nya Mansae dan tralala~ tapi ini judul yang panjang betewe
Semua oneshot SoonHoon di hari mendatang akan Myka posting di sini, udah kebiasaan sih gabung2 oneshot jadi satu
Buat yang nemu momen SoonHoon terbaru, BAGI KE MYKA JUCEYOOO~ uname di bio, muach~:*
