Bagaimana perasaanmu saat pacar menyuruhmu pergi berdua dengan laki-laki lain? Sakit. Itu yang dirasakan Jihoon.
#soonhoon #seventeen #yaoi #t
I Trust You
Tik, tik, tik, jam berdetik bosan di dinding, memandang jengah pada meja panjang dikelilingi deretan kursi penuh manusia yang duduk menyibukkan diri dengan kertas serta bolpoin di tangan. Mereka diam, mendengarkan, menyimak, mengangguk-angguk, hanya sesekali bicara ketika ditanya maupun ada kesempatan untuk menyela dan sisanya berubah menjadi sesi ceramah panjang khas rapat tengah malam yang menjenuhkan.
Jihoon menyangga dagu dengan satu tangan sementara tangan yang lain dia sibukkan untuk memutar-mutar pena di atas kertas materi meeting yang entah sejak kapan sudah berubah menjadi buku gambarnya. HVS bertuliskan tentang detil rencana konser tour Asia untuk Seventeen tersebut telah dipenuhi oleh sketsa chibi hasil karya tangan suntuk Jihoon, bahkan beberapa baris puisi juga nampak menghiasi di sela-sela hangul ketikan formal font komputer. Dalam hati Jihoon tidak akan membuang materi rapat ini karena puisi buatannya lumayan jika diproses menjadi lagu.
Namja mungil tersebut menghela napas, memandang jam dinding dan segera merutuk keputusannya barusan sebab menyadari kalau sudah hampir 4 jam dia berada di dalam ruangan, duduk dalam rapat monoton bersama wakil CEO dan staff perusahaan membuatnya benar-benar terihat menyedihkan. Jihoon lebih memilih terkurung di dalam studio selama 4 hari daripada 4 jam berada di posisi pendengar dan tidak melakukan apa-apa seperti ini.
Namja itu mengedarkan pandangan, menelaah satu per satu wajah peserta rapat yang tengah serius menyimak penjelasan mengenai pembagian waktu perform di panggung yang telah sebisa mungkin disesuaikan dengan kemungkinan kondisi 13 anggota nanti, terutama ekspresi Seungcheol yang selama meeting cukup sering memperdengarkan komentarnya, tentu saja karena dia adalah Leader dari tokoh utama konser ini, orang yang paling tahu seperti apa rekan-rekannya. Lalu pandangan mata Jihoon berhenti pada manusia yang tengah duduk menyangga kepala di sampingnya dan senyuman kecil muncul tanpa dapat dia hindari.
Sebuah tusukan lembut di salah satu permukaan pipinya membuat Soonyoung seketika membuka mata terkejut. Dia memandang berkeliling dan menata kertas-kertas materi meeting sambil mengangguk-angguk kecil, mencoba untuk bersikap biasa seolah baru saja dia tidak ketiduran. Namja sipit tersebut menoleh ke samping untuk mengkonfirmasi pelaku yang membangunkan dirinya dan berdecak lirih menemukan Jihoon tengah cekikikan membalas gamang tatapan matanya.
"Kau bisa dimaki-maki kalau tidur di sini," bisik Jihoon sangat pelan, nyaris tak terdengar namun masih bisa dimengerti oleh Soonyoung yang dapat cepat mengumpulkan kesadaran. Si sipit menghela napas sambil melepaskan desisan, "Aku tahu" lantas menguap lebar.
Comeback memang bukan hal yang mudah. Comeback bukan berarti rutinitas latihan menjadi berkurang maupun berhenti, malah sebaliknya. Selagi tetap latihan mereka masih harus mempersiapkan semua keperluan promosi, ikut ribet memikirkan konsep tambahan terutama desain kostum, masih belum termasuk kebiasaan memodifikasi lagu menjadi beberapa versi dan dari semua orang sibuk mungkin Soonyoung yang paling sibuk. Kesibukan Jihoon berhenti begitu lagu sudah rilis, dia tidak perlu lagi begadang mengutak-atik deretan file suara dan membangunkan member bergantian untuk mengulang rekaman. Selama promosi, paling dia hanya akan iseng membuat versi akustik sederhana dari beberapa lagu yang akan cukup diiringi oleh petikan gitar Jisoo maupun permainan pianonya sendiri.
Namun Soonyoung masih punya seabrek tugas yang tidak akan habis hingga era promosi berakhir dan mungkin seterusnya sampai konser berlangsung. Dia harus segera menyusun formasi untuk versi switch lagu mereka, membuat beberapa tambahan pada koreo supaya perform timnya tidak monoton dan membosankan, jangan lupa jika dia juga satu dari tokoh utama untuk acara variety show yang pasti jadwalnya sudah mengantri minta dilakoni. Tidak hanya kekuatan fisik yang diperas, Soonyoung tidak pernah bisa berhenti memikirkan hal-hal baru apa yang harus dia tambahkan pada performa Seventeen maupun pada dirinya sendiri dan percayalah semua itu sangat melelahkan. Jangan salahkan dia jika akhirnya jatuh tertidur di tengah-tengah rapat penting seperti ini.
Jihoon menggeser pelan tangannya ke depan Soonyoung dan ketika telapak mungil itu pergi, sebutir permen tertinggal di meja dengan pesan singkat tertulis di punggungnya. FIGHTING~(dengan gambar hati). Melihat itu Soonyoung hanya tersenyum, tanpa pikir panjang dia membuka bungkus permen lalu memasukkan isinya ke dalam mulut. Menyimpan sesuatu di mulut adalah salah satu cara membuatnya tetap terjaga dan beruntunglah Jihoon mengingat kebiasaan tersebut. Kini Soonyoung bisa kembali fokus pada meeting untuk beberapa menit ke depan.
Rapat sampai pada pembahasan performa di atas panggung, termasuk penampilan OT13, unit dan individu. Seungcheol memberikan penjelasan klise yang sudah sama-sama dihapal oleh ketiga leader dari tiap unit, bahwa mereka akan mempertahankan kualitas performa dan memberikan sedikit sentuhan kreatifitas untuk memperbaharui penampilan supaya tidak membosankan. Jihoon dan Soonyoung kompak menambahi jika ada beberapa member yang sudah mengajukan proposal tentang perform individu, mereka sedang dalam proses menyaring semua ide itu.
Akhirnya meeting tiba di poin terakhir. Perwakilan dari Seventeen untuk ikut rapat lanjutan dengan dewan direksi penyelenggara konser, promotor, serta orang-orang media massa.
"Seungcheol Hyung dan Jihoon yang akan pergi," celetuk Soonyoung mendahului leader-nya yang sudah membuka mulut.
"Huh?" bersamaan Seungcheol dan Jihoon membulatkan mata.
Hanya mereka berdua?
Maksudnya?
"Yang pergi hanya perwakilan 'kan? Berarti tidak perlu semua leader harus pergi. Lagipula jika tidak ada yang mengawasi di ruang latihan, member tidak akan serius latihan. Aku juga masih harus mematangkan koreo switch yang baru, jadi aku menawarkan diri untuk menjadi pengawas ruang latihan saja," jelas Soonyoung yang membuat sebagian besar peserta meeting mengangguk-angguk, kecuali Jihoon.
"Apa kau gila?" desis Jihoon nyaris tanpa suara, memandang tajam pada kekasihnya yang menjanjikan tatapan kita-bicara-setelah-ini-oke?
"Aku tidak mau cuma pergi berdua dengan dia." Jihoon mengetatkan geraham, kesal jelas-jelas menguar dari bola matanya, tidak dapat mengerti jalan pikiran Soonyoung.
Mendadak suara deheman tidak wajar terdengar dari arah Seungcheol duduk. Mungkin dia menyadari makna kerutan tidak enak di dahi Jihoon dan meskipun hal itu benar, Jihoon tidak peduli. Namja mungil tersebut menumpuk kertas-kertasnya dengan kasar dan cuma mendengus gusar saat Soonyoung memanggil namanya dengan pelan, mencoba untuk melunakkannya.
Setelah kesimpulan meeting dibacakan (termasuk Jihoon yang akan pergi dengan Seungcheol sebagai perwakilan dari tim pada rapat lanjutan), meeting ditutup. Tiap orang memberesi berkas dan snack masing-masing sambil menggeliat, menguap, maupun bercengkerama santai. Tapi Jihoon langsung menyambar kertas serta bolpoinnya dan buru-buru berdiri dari kursi.
"Jihoon-ah." Panggilan Soonyoung bahkan tidak dia hiraukan dan tetap berjalan dengan langkah menghentak ke arah pintu. Soonyoung menghela napas, mengumpulkan kertas rapatnya dengan cepat lalu menyusul si mungil setelah tidak lupa menundukkan badan serta mengucapkan salam pada orang yang masih berada di dalam ruangan.
"Jihoon-ah! Lee Jihoon!" suara Soonyoung menggema di lorong kantor staff namun belum cukup menghentikan ayunan penuh kemarahan kaki pendek rekannya. Setengah berlari, Soonyoung berhasil meraih bahu Jihoon di ujung tangga menuju lantai atas.
"Tunggu dulu, dengarkan aku," ujar Soonyoung mencoba membalik badan Jihoon untuk berhadapan dengannya.
"Aish, bullsht!" dengan geram namja mungil itu menepis tangan kekasihnya dan berlari menaiki tangga.
Mulut Soonyoung terbuka, tapi yang kemudian keluar hanya berupa helaan napas. Sekarang sudah tengah malam, dia lelah dan mengantuk, namun dia masih harus memaksakan dirinya berlari naik tangga guna meraih tangan Jihoon-nya yang tengah murka.
.
"Oh, Hyung? Rapatnya sudah selesai? Bagaimana hasilnya? Kapan kita mulai konser?" sambut Leechan dengan ceria begitu melihat Jihoon muncul di ruang latihan. Tanpa menyadari mendung petir yang menggantung di wajah kakaknya, sang Maknae berlari riang mendekati Jihoon yang berjalan dengan langkah lebar menuju studio.
"Hyung, ini tur Asia 'kan? Apa kotanya sudah ditentukan? Dimana saja? Aku ingin ke Indonesia, Hyung~ apa Indonesia masuk hitungan?" cerocos Leechan gembira yang dijawab kebisuan oleh Jihoon.
"Hyung?" Leechan berhenti berjalan mengikuti sang vocal-leader, agaknya dia mulai menyadari aura hitam yang mengelilingi Hyung-nya dan pendapatnya diperkuat oleh tatapan bingung serupa dari beberapa member yang berada di ruang latihan melihat bagaimana alis Jihoon mengerut menakutkan di atas mata kecilnya yang menatap nyalang.
Dengan kasar Jihoon membuka salah satu pintu studio dan membantingnya sekuat tenaga. Untung daun pintu yang terbuat dari kaca tebal kedap suara tersebut dilengkapi oleh lapisan karet di sekelilingnya sehingga ketika Jihoon menutupnya dengan sangat keras tidak membuat kacanya pecah berhamburan.
Hening menggelayut di langit-langit ruang latihan dan baru terkoyak oleh kedatangan Soonyoung yang setengah berlari dari tangga.
"Jihoon mana?" tanyanya terengah-engah yang dijawab Junhui dengan telunjuk mengarah pada pintu studio yang baru saja dimasuki Jihoon.
"Hyuuung~" Leechan datang menghambur pada leader sekaligus Hyung favoritnya. "Bagaimana rapatnya? Kita konser dimana saja? Apa Indonesia termasuk?" Maknae mengulang pertanyaan yang dia ajukan pada Jihoon barusan.
"Sebentar, Chan-ah," ucap Soonyoung menggeser sedikit bahu adiknya ke samping untuk berlari menuju studio yang barusan ditunjuk Junhui.
"Kenapa dengan mereka?" Leechan cemberut melihat Soonyoung bahkan ikut-ikutan tidak mengindahkan dirinya. Bocah itu menoleh pada Junhui dan Minghao yang sedang duduk saling menyender di atas sofa properti koreo.
"Hyung, kenapa dengan SoonHoon Hyung? Kenapa mereka tidak mau menjawab pertanyaanku? Apa aku tanya hal yang susah dijawab?" Maknae melampiaskan kekesalan pada China-line yang hanya saling memandang lantas bersamaan menatap Leechan dalam diam.
"Hansol-ah," panggil Junhui setelah beberapa detik membisu melihat Maknae-nya.
"Ne, Hyung?" jawab Hansol yang duduk bersisian dengan Jeonghan di lantai, mengutak-atik laptop yang dia letakkan di atas bahu Seungkwan yang tertidur di pahanya.
"Ajak bocah ini membeli permen di luar." Junhui menunjuk Leechan yang dibalas delikan mata oleh Maknae.
"Aku tidak mau permen!" protes si bontot. "Aku mau es krim!"
.
Pintu tidak berdecit ketika Soonyoung membukanya dan segera sesosok punggung menyapa begitu dia melangkah masuk ke dalam studio. Namja itu menutup pintu perlahan, meletakkan kertas meeting di atas meja bersebelahan dengan milik Jihoon yang nampak berantakan dengan bolpoinnya berada di lantai. Dia pasti membanting barang-barangnya lagi, kebiasaan buruk si mungil ketika sedang berada di puncak kemarahan.
Soonyoung tidak bicara, berdiri menghadap Jihoon yang membelakanginya dengan tangan terlipat di dada, sikap yang menunjukkan jika dia sudah siap untuk bertengkar dan mempermasalahkan semua hal. Jika sudah begini biasanya Soonyoung akan memeluk kekasihnya itu dari belakang, bicara pelan di sebelah telinganya, memberikan penjelasan sembari membujuk dan memainkan ujung jempolnya di sekitar pusar Jihoon. Jihoon tidak bisa dikasari, terlebih ketika sedang marah. Salah-salah dia malah akan mengamuk lebih hebat dan itu tidak baik bagi Soonyoung yang sejatinya juga bukan orang berkepala dingin.
Soonyoung bergerak pelan mendekati kekasihnya, melakukan apa yang biasa dia lakukan. Memeluk pinggang ramping tersebut dari belakang dan meletakkan dagu di salah satu pundaknya. Terdengar helaan napas gusar dari rongga dada Jihoon, membiarkan Soonyoung tahu seberapa kesal dirinya sekarang dan untuk itu namja yang lebih tua darinya hanya tersenyum.
"Aku pasti ikut pergi kalau rapatnya bukan besok," desis Soonyoung. "Kau tahu aku punya banyak target dan aku belum menyelesaikannya. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu."
Jihoon melengos, hanya memutar mata tanpa menjawab apa-apa membuat Soonyoung mengeratkan pelukannya.
"Ini hanya satu hari, ini juga bukan pertama kalinya kita bekerja terpisah. Lagipula ada Seungcheol Hyung, kau tidak akan bosan—"
Jihoon memaksa lepas dari pelukan Soonyoung dan memutar badan menghadap namja itu. Tatapan matanya tajam, bibirnya terkatup rapat membentuk garis tipis yang tegas.
"Ini bukan masalah satu hari atau bekerja terpisah atau aku akan bosan tanpamu—" Jihoon melekatkan pandangannya pada pusat mata Soonyoung. "—ini soal aku hanya pergi BERDUA dengan Choi Seungcheol." Si mungil menegaskan.
"Bertiga? Manager akan ikut denganmu." Soonyoung salah waktu untuk bercanda yang berimbas pada kemunculan kilat menusuk di mata namja yang lebih muda di depannya.
"KENAPA KAU—"
"Aku percaya padamu," potong Soonyoung dengan cepat memagari ledakan emosi Jihoon. "Aku percaya kau tidak akan melakukan apa-apa dengan Seungcheol. Aku percaya kau bisa menjaga dirimu dan aku percaya Lee Jihoon hanya untukku, makanya aku mengijinkanmu pergi hanya berdua dengan Seungcheol Hyung."
Soonyoung diam sebentar sebelum melanjutkan, "Lagipula ini hanya masalah pekerjaan. Aku bukan sedang membiarkanmu menjadi pacar bohongan Seungcheol atau melakukan syuting bromance dengan dia—"
Plak, telapak tangan yang mendarat di pipinya menghentikan suara Soonyoung. Tamparan yang tidak keras namun cukup menyadarkan dia jika ini bukan masalah sesederhana itu untuk hati Jihoon.
"Kenapa kau tidak pernah mengerti?" Jihoon menyuarakan pertanyaan yang tadi dipotong oleh Soonyoung. Suara sang lead-vocal terdengar bergetar dan saat Soonyoung mengembalikan tatapan pada wajah Jihoon, isi dadanya hancur melumer turun ke perut bersama air bening yang jatuh dari pelupuk mata namja mungil di depannya.
"Kau bukan Kwon Soonyoung. Soonyoung-ku tidak seperti ini. Aku tidak mengenalmu." Jihoon mendorong minggir tubuh kaku Soonyoung dan bergegas menuju ruang rekaman, masuk ke dalam lalu mengunci pintunya. Tubuh mungil itu bersandar di daun pintu dan perlahan merosot terduduk di lantai berkarpet. Dia mengusap air matanya.
Akan lebih baik kalau kau marah dan berteriak menyuruhku menjauhi orang-orang. Aku lebih suka kau marah dan memelukku daripada seperti ini. Percaya apa? Mengijinkan apa? Kau cuma ... sudah bosan dan tidak menginginkan aku lagi 'kan?
Dengan itu air mata Jihoon kembali tumpah, dia tersedu seperti anak kecil sementara di balik pintu Soonyoung sedang memanggil namanya memintanya untuk keluar.
.
Esoknya Jihoon baru menginjakkan kaki di lobi perusahaan saat petang. Meeting berjalan lebih alot dari perkiraan. Pihak promotor tidak mau rugi dan sangat menekan biaya pengeluaran hingga mencapai batas minimal sedangkan sewajarnya semua konser butuh dana cadangan untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi di luar dugaan. Seperti biasa, Seungcheol menjadi vokal utama untuk situasi begini, terlebih dia adalah leader yang paling tahu kondisi timnya. Namja itu mengeluarkan segenap kemampuan negosiasinya membantu para staff agensi dan manager yang sedang mempertahankan hak mereka. Jihoon? Dia lebih banyak diam. Aura tegang dan kolot sukses membuat emosinya meletup perlahan. Dia harus tetap diam karena bisa saja dia akan lepas kontrol dan memaki perwakilan promotor di depan orang-orang suruhan media massa. Berani taruhan, itu tidak akan menjadi headline artikel yang keren.
Haah~ memang yang seharusnya pergi untuk hal seperti ini adalah Kwon Soonyoung dan Choi Seungcheol, keluh Jihoon dalam hati sambil memijit belakang lehernya yang masih terasa tegang.
"Kau mau makan?" tegur Seungcheol sambil menepuk bahu Jihoon. Senyum menghiasi wajah kekanakannya. Namja tinggi tersebut baru saja mengalami adu debat dan tarik urat berjam-jam dengan orang-orang yang jauh lebih tua darinya, setengah mati menekan emosi dan mempertahankan tata krama di tengah perang pendapat yang saling memojokkan satu sama lain. Namun sekarang dia masih bisa memperlihatkan senyuman cerahnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah matahari tetap bersinar seperti biasa di saat Jihoon dalam hati tidak bisa berhenti merapal kutukan supaya-cepat-mati pada pembesar-pembesar berduit yang selalu setengah hati bekerja sama dengan agensi kecil.
"Nanti saja, aku belum lapar," jawab Jihoon. Kemarahan yang tersisa sukses menghilangkan nafsu makannya.
"Baiklah. Kalau ada yang mencariku, aku sedang makan di kantin," ujar Seungcheol kembali menepuk akrab pundak Jihoon dan berlalu sambil bersiul-siul riang ke arah kantin.
Hebat dia masih doyan makan, batin Jihoon. Pantas dia jadi leader.
.
Masih tersisa beberapa anak tangga menuju ruang latihan, namun lantang suara Leechan sudah memperdengarkan gemanya. Jihoon tersenyum, selalu merasa kagum pada semangat serta keceriaan Maknae-nya yang satu itu. Suara Leechan semakin jelas kedengaran seperti sedang memberikan aba-aba gerakan dance, itu berarti koreo switch sudah selesai diperagakan Soonyoung dan sedang diulang oleh para member.
Mengingat Soonyoung, langkah kaki Jihoon terhenti mendadak. Sejak pertengkaran mereka kemarin dia masih menghindari kekasihnya, pura-pura tidak mendengar sapaannya, tidak bicara padanya, bahkan Jihoon memilih untuk tidur di ruang duduk bersama Hansol membiarkan Soonyoung melingkar sendirian di kamar yang juga ditempati berempat bersama Leechan serta Seokmin. Soonyoung tahu diri, dia sudah terlalu mengenal watak pacar mungilnya dan tenang saja meski sadar jika sedang didiamkan. Namja sipit tersebut tidak mau protes yang hanya akan berakibat memperpanjang masalah, dia memberi waktu pada Jihoon untuk memikirkan semuanya dan memberi kesempatan pada dirinya sendiri supaya tetap berkepala dingin menghadapi amarah si mungil.
Dan seharian penuh agaknya merupakan waktu yang cukup bagi Jihoon—untuk akhirnya—mengerti maksud Soonyoung, memahami alasannya dan menerima kenyataan jika pemikiran sepihak Jihoon itu egois. Terlalu egois dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia berpikir Soonyoung bosan padanya? Bagaimana bisa dia mengira Soonyoung tidak menginginkannya? Bagaimana bisa dia menuduh Soonyoung sudah tidak peduli padanya? Sementara dia sangat tahu, Soonyoung tidak berubah. Namja itu sama sekali tidak berubah dari sejak pertama dia mengatakan menyukainya hingga sekarang. Soonyoung masih tetap menyukainya. Seharusnya Jihoon sadar akan hal itu. Kwon Soonyoung tidak bosan padanya, Kwon Soonyoung bukannya tidak menginginkannya, dia tidak meninggalkannya. Dia menyuruh Jihoon pergi bukan karena alasan bodoh seperti itu. Dan sekarang Jihoon menyesal sudah berteriak, menangis serta menamparnya (meski pelan) seperti anak kecil. Jihoon merasa tidak punya muka sekarang untuk bertemu dengan Soonyoung.
"Aigo aigoo, butt montok siapa ini yang menghalangi jalan di sini? Tabok dulu~plok!" tiba-tiba suara cempreng terdengar dari belakang disusul oleh sebuah telapak tangan yang mendarat beberapa kali menepuk pelan bokong Jihoon.
"Hyung, kau mengagetkanku," desis si vocal leader sambil memegang dadanya, baru saja terlonjak di tempat akibat sapaan kakaknya. Dia menoleh dan langsung menemukan sosok bercahaya Jeonghan bersama Minghao yang tersenyum manis di sebelahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Hyung? Kau tidak masuk?" tegur Minghao mendahului Jeonghan sebelum menyelipkan sedotan di antara kedua bibirnya dan menghisap susu coklat dari kotak kecil di tangannya.
"Aku ... aku baru mau masuk—" jawab Jihoon gugup, sekejab lengan Jeonghan sudah melingkar di atas kedua pundaknya.
"Kalau begitu ayo masuk, kenapa harus berlama-lama berdiri di sini?" namja berambut sebahu tersebut langsung memaksa leader timnya untuk bergerak bersamanya menghabiskan sisa anak tangga menuju ruang latihan. Di belakang mereka, Minghao hanya mengikuti sambil tersenyum-senyum penuh makna.
"Soonyoung ada di studio nomor dua," ujar Jeonghan begitu mereka melangkahkan kaki melewati batas pintu ruang latihan. Jihoon menoleh cepat pada Hyung-nya namun namja yang dijuluki malaikat tim itu hanya tersenyum lantas mendorong pelan punggung adiknya sambil memberi isyarat menyuruhnya untuk pergi. Jihoon tersenyum kecut, perlahan menggumamkan terima kasih dan saat dia mau mengayunkan kaki...
"Hyuuung~" dengan senyuman lebar Leechan berlari menghambur ke arah Jihoon. "Bagaimana rapatnya? Kita kemana saja? Indonesia? Bali? Hyung Hyung, aku sudah mencari di internet dan foto soal Bali itu daebak! Kita akan ke sana 'kan, Hyung? Iya 'kan?" cerocos Maknae tanpa jeda membuat Jihoon mematung dan Jeonghan menepuk jidatnya.
"Chan-ah~ aigoo, bayi siapa kau ini?" dengan cepat Jeonghan mendapatkan Leechan di bawah ketiaknya dan menariknya menjauh dari Jihoon.
"Aish, apa-apaan sih—Hyung, lepaskan aku! Aku mau tanya sesuatu sama Jihoonie Hyung!" berontak Leechan berusaha melepaskan diri dari pelukan paksa Jeonghan.
"Hansol-ah, Hansol-ah!" panggil Jeonghan pada Maknae kedua yang lebih anteng dan penurut jika dibanding dengan si bontot perusuh.
"Ne, Hyung?" Hansol muncul dari sebelah mesin AC, di dekatnya ikut menyembul kepala Seungkwan.
"Pergilah dengan Chan membeli permen di luar," ujar Jeonghan melempar Leechan ke hadapan Hansol.
"Sudah aku bilang aku tidak mau permen!" protes Maknae, langsung merapikan rambut begitu Jeonghan melepaskan pelukannya. "Aku maunya es krim!"
.
Dengan pelan Jihoon membuka pintu studio. Tidak ada suara sapaan. Sambil memandang lantai namja mungil itu menyelipkan badannya masuk ke dalam ruangan dan berdiri menghadap pintu ketika dia menutupnya. Dia masih belum punya keberanian untuk melihat Soonyoung.
Jihoon menunggu sejenak, namun masih tidak ada sapaan. Perlahan dia menoleh ke belakang dan seketika isi dadanya meleleh. Nampak sosok Soonyoung tengah berbaring di sofa, sebelah tangannya berada di atas mata dan tangan lain menggantung melewati lebar kursi. Kedua kakinya dibiarkan selonjoran dengan separuh betis mengawang di udara karena panjang sofa yang tidak sepadan dengan panjang badannya.
Perlahan Jihoon mendekati Soonyoung, suara napas teratur diselingi dengkuran lirih semakin dapat dia dengar dengan jelas keluar dari celah bibir ditemani oleh kedua mata sipit yang nampak terpejam tersembunyi di bawah lengan. Jihoon menghela napas, ada rasa sesak di dadanya melihat orang terdekatnya tersebut nampak begitu kelelahan tapi juga ada rasa sayang yang membuatnya tersenyum karena wajah tidur Soonyoung adalah yang paling lucu dan menggemaskan, tidak ada yang bisa menandingi.
Jihoon melepas jaket yang dia kenakan lantas menyelimutkannya pada tubuh Soonyoung, dia sendiri merebahkan pinggul di lantai berlapiskan karpet, menyandarkan badan serta meletakkan kepala di sofa tepat di sebelah tangan kekasihnya. Selanjutnya, waktu berlalu dalam keheningan. Bibir tipis Jihoon bergerak, mendendangkan lagu tanpa suara sembari ujung jarinya mengelus lembut garis urat yang menonjol di lengan Soonyoung. Namja yang lebih tua beberapa bulan darinya tersebut termasuk kategori heavy sleeper yang tidak akan dengan mudah terbangun karena suara kecil maupun sentuhan ringan, memainkan rambut dan jari Soonyoung saat dia tidur adalah kesukaan Jihoon. Kau bahkan juga bisa menusuk-nusuk pipi chubby-nya maupun menyentil ujung hidungnya jika namja itu sedang dalam kondisi tepar dan capek luar biasa, dia tidak akan bangun pada semua gangguan tersebut kecuali jika kemudian kau berteriak FIGHTING! di dekatnya. Aneh tapi nyata, secapek apapun Soonyoung dan sengantuk apapun dia, leader dari performance team tersebut tetap akan merespon pada seruan FIGHTING! seolah hal itu sudah menjadi bagian dari sistem saraf bawah sadarnya.
Mendadak napas Soonyoung tercekat, tangannya tersentak dan Jihoon dapat melihat pemuda tersebut mengeluh dalam tidur ketika bergerak merasakan otot serta persendiannya masih ngilu didera oleh rasa lelah. Reflek Soonyoung menaikkan jaket Jihoon—mengira itu adalah selimut—untuk menyelimuti dirinya sendiri dan berganti posisi miring, sepasang mata kecilnya bercelah namun belum ada kesadaran di sana. Jihoon menatap Soonyoung yang juga seperti sedang memandangnya, melihat bagaimana mata 10:10 itu berkedip lemah seperti mata anak kucing yang baru terbuka dan tidak ada yang bisa si mungil lakukan kecuali menahan tawa mengakui jika tingkah kekasihnya saat ini sama menggemaskannya dengan anak kucing.
Tangan Soonyoung terangkat, meraih sebelah pipi halus Jihoon dan mengelusnya pelan.
"Kau baik-baik saja?" tanya namja sipit tersebut parau dibalas anggukan oleh Jihoon yang menggenggam hangat telapak besar tangannya dengan jemari kecil yang dia miliki.
"Syukurlah..." desis Soonyoung, benar-benar masih belum sadar dari mimpi, dan kembali menutup mata dengan tangan masih berada di genggaman Jihoon.
"Pfft—" Jihoon kembali menahan tawa melihat leader dance itu ternyata hanya ngelindur. Dengan pelan dia mengembalikan tangan Soonyoung ke sofa dan beberapa saat kemudian sepasang mata monolid tersebut bercelah lagi, kali ini lebih lama dan meskipun masih nampak mengambang, jelas terlihat jika Soonyoung sedang mengumpulkan kesadaran di sana. Sang leader mengeluarkan suara lenguhan pelan, bergerak payah menelentangkan kembali tubuhnya dan menggeliat. Dia meletakkan tangan di atas matanya yang berkedip gamang menatap langit-langit studio. Beberapa menit bergeming seperti itu, baru kemudian Soonyoung menurunkan pandangan mencari wajah Jihoon yang sepertinya tadi ada di sekitarnya.
"Oh? Kau sudah di sini?" desis si sipit, agaknya telah sepenuhnya sadar. Pemuda itu kembali menggeliat sebentar sebelum kemudian bangkit duduk. Soonyoung kembali terdiam di posisinya, isi kepalanya masih dalam tahap akhir loading dan saat dia menguap, itu tandanya dia sudah benar-benar bangun. Soonyoung memutar bagian atas badannya ke kanan dan kiri hingga persendian pinggangnya berbunyi sementara Jihoon sudah beranjak dari lantai untuk duduk di sofa di sampingnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jihoon melihat kelelahan masih menggantung jelas pada wajah di sebelahnya dan dari cara namja tersebut mengacak malas rambut coklatnya.
"Hm? Aku? Aku tidak apa-apa," jawab Soonyoung, memutar badan untuk menurunkan kaki ke lantai serta meletakkan punggung di sandaran sofa. Dia menghela napas panjang, melebarkan kedua pahanya, dan kembali memejamkan mata. Detik kembali berlalu dalam hening hingga tiba-tiba Jihoon merasa sesuatu yang berat mendarat di sebelah bahunya. Namja mungil tersebut menoleh dan langsung menemukan kepala berambut coklat tengah bersandar padanya dengan dua tangan merabai pinggang lalu memeluknya erat. Jihoon tersenyum, mengusap sebelah pipi Soonyoung di pundaknya dan membiarkannya bergelayut bagai anak koala seperti itu.
"Kau sudah tidak marah padaku?" desis Soonyoung di sebelah leher Jihoon.
Jihoon menyunggingkan senyuman kecut yang tidak dilihat oleh kekasihnya, pemuda mungil tersebut menunduk sebelum berbisik, "Tidak." Dia memainkan kesepuluh jarinya, perasaannya tidak karuan. Jihoon ingin minta maaf mengenai insiden kemarin dan mengatakan jika semua ini adalah salahnya. Salah dia yang tidak menangkap maksud Soonyoung dengan benar, salah dia yang langsung dikuasai emosi, salah dia yang bersikap egois, salah dia yang...
"Jangan bilang maaf atau aku akan menidurimu di sini sekarang juga," celetuk Soonyoung seketika membuat sesuatu yang hangat berdesir cepat di dalam dada Jihoon.
Soonyoung selalu begitu. Dia selalu seperti itu. Selalu bisa menebak dengan tepat apa yang ada di pikiran Jihoon, selalu bisa mendahului namja mungil tersebut mengatakan isi kepalanya, selalu bisa memagari semua emosinya sebelum meledak dengan ceroboh. Meski Soonyoung sendiri bukan tipe orang yang pandai mengendalikan temperamennya, namun dalam hal memahami Jihoon dialah expert-nya. Dan Jihoon masih belum berhenti belajar untuk bisa memahami Soonyoung seperti Soonyoung memahaminya.
Jihoon meremas ujung kemejanya. "Aku tidak mengerti maksudmu kemarin," dia mendesis parau. Kepala bulat itu menunduk.
"Aku pikir kau mengusirku. Aku pikir kau tidak mau melihatku. Aku pikir ... aku pikir aku sudah tidak berharga lagi makanya kau biarkan aku pergi dengan orang lain..." getar menyapa di ujung kalimat Jihoon.
"Mana mungkin," tukas Soonyoung menyimpan senyuman yang tidak dilihat oleh Jihoon. "Tadi pagi setelah kau pergi, aku benar-benar menyesal dan ingin segera menyusulmu. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Apa kau akan baik-baik saja? Apa kau tidak akan bosan? Apa kau tidak akan emosi waktu meeting? Apa kau tidak akan diajak fanservice dengan Seungcheol kalau berpapasan dengan fans? Aku benar-benar ingin ada di dekatmu dan memastikan semua itu sendiri."
Jihoon terdiam, memalingkan wajah dari Soonyoung yang bersandar padanya, menyembunyikan rasa panas di kedua pipinya yang dibarengi oleh sesak di dada dan kabut bening yang melapisi kedua matanya. Namja mungil tersebut menggigit bibir, sebisa mungkin tidak melepaskan isakan dari ujung lidah, pun dengan air hangat yang telah berkumpul di balik pelupuk matanya siap untuk menjebol keluar.
"Aku juga salah karena tidak mengatakan maksudku dengan benar. Maafkan aku," bisik Soonyoung lantas mendekatkan wajah pada leher Jihoon dan mengecup kulit mulus itu singkat. Tak ada tanda Soonyoung di sana karena memang jauh-jauh hari sebelum persiapan comeback dimulai, agensi sudah kembali mengaktifkan peraturan 'Tanda = DENDA' yang berarti jika ada member ketahuan memiliki kissmark—terutama di tempat yang mudah dilihat—siapapun yang terlibat harus membayar denda tanpa pengecualian, termasuk ketiga leader. Soonyoung tidak suka berurusan dengan hal-hal merepotkan begitu makanya dia memilih jalan aman, walaupun tidak puas rasanya kalau membuat lukisan tanpa meninggalkan tanda tangan yang akan memberitahu semua orang jika karya seni itu milikmu.
Studio hening kembali. Soonyoung masih bersandar manja pada Jihoon, memeluk tubuh mungil tersebut dengan wajah menempel pada leher sambil sesekali bibirnya mencuri kecupan-kecupan kecil di sepanjang urat nadi yang menuai desisan tidak nyaman dari mulut kekasihnya.
"Meeting-nya bagaimana?" tanya Soonyoung memindahkan bibir hangatnya ke daun telinga Jihoon, mengemut gemas kuping kecil itu.
"Buruk—ah, Soonyoung!" terkejut, Jihoon reflek menjauhkan kepala dari wajah agresif di sampingnya namun dengan cepat gerakannya ditahan oleh sepasang lengan yang naik dari pinggang dan mendapatkan pundaknya. Soonyoung mendekap erat tubuh Jihoon, tidak membiarkannya menggeliat apalagi berontak, mengunci posisi mereka hingga wajah berhadapan dengan wajah dan dapat Soonyoung lihat bagaimana kedua pipi halus rekan satu grupnya tersebut perlahan berubah warna menjadi merah muda. Soonyoung menelengkan kepala, mengikis jarak antara bibirnya dengan milik Jihoon dan seolah hal itu merupakan perintah, Jihoon memejamkan mata juga ikut menelengkan kepala ke arah yang berlawanan dengan Soonyoung. Di detik permukaan bibir keduanya saling bersentuhan, Soonyoung menggumam.
"Apa yang kau lakukan dengan Choi Seungcheol?"
"Huh?" mata kecil Jihoon sekejab terbuka, langsung berbenturan dengan kilat tajam di manik sipit Soonyoung yang berada sangat dekat di depannya.
"Bau lehermu seperti bau gel rambutnya," desis Soonyoung datar. "Apa yang kau lakukan dengannya?"
Mata Jihoon semakin membeliak. Dia melepaskan diri dari lengan Soonyoung yang kali ini tidak ditahan oleh namja tersebut. Si mungil meraba lehernya lalu mencium telapak tangannya sendiri, dia juga membaui kerah bajunya.
"Jadi kau benar-benar sudah melakukan sesuatu dengan Seungcheol—"
"Yah—" Jihoon menyela, nada suaranya mengeras. "Aku sedang memastikan kau mengada-ada atau tidak—"
"Apa maksudmu aku mengada-ada?" Soonyoung melebarkan matanya. "Kau mungkin tidak bisa menciumnya tapi aku bisa. Jujur saja apa yang kau lakukan dengan dia selama aku tidak ada? Padahal aku mempercayaimu, tapi ini yang kau lakukan—"
"Yah!" Jihoon menaikkan nada suaranya, mulai kesal dengan kebiasaan Soonyoung yang selalu bicara tanpa memberi kesempatan pada orang lain. "Seungcheol Hyung ketiduran di mobil dan tidak sengaja bersandar padaku. Aku bukan orang sejahat itu yang akan melempar kepalanya keluar—"
"Tentu kau harus melemparnya!" kecemburuan Soonyoung mulai tidak masuk akal. "Ada banyak sandaran kursi kenapa dia harus bersandar padamu dan lagi, KAU DIAM SAJA?"
"Bukankah kau juga diam saja waktu Minghao tidur memelukmu di mobil!?" Jihoon tidak mau kalah.
"Dia cuma tidur—"
"CUMA!?" suara Jihoon melengking. "Lalu apa bedanya dengan Choi Seungcheol—"
"Kau membela dia!?" Soonyoung menuding geram sedangkan Jihoon mengetatkan gigi habis kesabaran.
"Kalau kau masih begini cemburu seharusnya kau tidak menyuruhku pergi berdua dengan dia—"
"SEKARANG KAU MENYALAHKAN AKU!?"
"YAH, KWON SOONYOUNG!"
.
"Mereka bertengkar?" celetuk Seungcheol yang dijawab anggukan oleh Jeonghan yang masih menempelkan daun telinga pada pintu studio tempat Soonyoung dan Jihoon berada, di sebelahnya berjejer telinga milik Junhui serta Minghao.
"Ada namaku..." desis Minghao. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya melengkung ke bawah. "Ada namaku, Sayang..."
"Bukan, Sayang. Mereka tidak menyalahkanmu. Ini cuma salah paham," hibur Junhui langsung meraih sepasang pipi di sebelahnya yang mulai memerah menahan tangis.
"Tapi mereka bertengkar dan namaku disebut, Junnie Hyung~" Minghao kembali merengek, membuat Junhui buru-buru menyembunyikan isakan sedih kekasihnya ke dalam pelukan. Di sebelah mereka, Jeonghan hanya mendesis, "Dasar romantis."
"Apa namaku disebut juga?" tanya Seungcheol penasaran, di belakangnya muncul sosok Jisoo.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Soonyoung dan Jihoon bertengkar lagi." Jeonghan menjawab pertanyaan Jisoo.
"Yah, apa namaku disebut?" ulang Seungcheol menuntut jawaban atas pertanyaannya.
Jeonghan berdecak. "Tentu saja namamu ada! Kau pikir siapa lagi yang cukup hebat bisa membuat orang seperti SoonHoon bertengkar kalau bukan kau!"
"Huks—" Seungcheol melengkungkan bibirnya ke bawah mirip anak kecil yang permennya direbut paksa. "Padahal aku sudah berusaha untuk tidak membuat masalah. Tapi kenapa namaku masih saja disebut..." namja itu menunduk dengan ekspresi sedih, melihatnya begitu Jeonghan hanya menyeringai lantas tanpa suara melipir pergi meninggalkan Jisoo yang menatapnya dengan pandangan terkhianati.
"Padahal aku sudah tidak pernah mendekati Jihoon lagi kalau ada Soonyoung. Aku juga tidak pernah memeluk ataupun merangkulnya meskipun makin hari dia makin lucu dan menggemaskan seperti adik kecil..."
"Hyung, kenapa berkumpul di sini?" mendadak Leechan datang dengan es krim di tangan dan tatapan polos di kedua matanya. Tanpa menjawab, Jisoo menarik tangan Maknae.
"Jisoo-ya, kau juga tahu 'kan kalau aku sudah berusaha menjauhi Jihoon? Kau tahu 'kan aku sebenarnya sangat menyayangi Jihoon karena dia sangat mungil seperti Leechan, tapi Soonyoung tidak pernah suka aku dekat-dekat dengan dia..." Seungcheol masih mencerocos dengan wajah menunduk sedih menatap lantai. "Tapi sampai sekarang setiap kali mereka bertengkar mereka masih saja menyebut namaku. Aku ... aku sangat sedih. Jisoo, apa yang harus aku lakukaaan?" sang leader menghambur dan menjatuhkan pelukan pada tubuh di depannya. Seungcheol terisak di bahu Jisoo dan setelah beberapa detik baru dia tersadar.
Sejak kapan Jisoo lebih pendek dari dia?
Perlahan Seungcheol melepaskan pelukan dan sepasang mata sipit langsung memberinya tatapan polos.
"Siapa yang menyebut namamu, Hyung?" tanya Leechan.
-END-
"Jangan pernah percaya pada kalimat 'Aku percaya padamu' dari Kwon Soonyoung karena sebuah keajaiban jika dia tidak akan cemburu buta." –Lee Jihoon
Bakal aneh gitu ya rasanya udah biasa dilarang pacar ini-itu mendadak si dia minta kita pergi sama orang lain. Dibanding ngerasa seneng, rasa curiga dan pikiran yang enggak-enggak bakal lebih mengganggu. Dia kenapa? Salah makan apa? Apa aku punya salah?
Iya gak? -renungan/? malam Minggu- sorry not sorry buat jomblo (padahal sendirinya Myka jomblo XD)
Eaaa si Dedek kemaren nyicipin jatoh di panggung sama kakak Hoshi, kakak Jisu. Gak pa-pa, besok-besok bisa disombongin ke kakak-kakak yg lain, "Gue dong udah pernah jatoh. Kalian belum kan? Cemen!" gitu ya, Deek. GWS :*
